Mi Aceh: Cita Rasa Sejarah, Identitas Tanah Rencong

53 Views

Aceh bukan hanya dikenal sebagai Serambi Mekkah, tetapi juga sebagai tanah yang kaya akan khazanah budaya dan kuliner. Salah satu ikon kuliner yang paling lekat dengan Aceh adalah Mi Aceh—hidangan sederhana, namun sarat rasa dan sejarah.

Mi Aceh memiliki jejak panjang dalam perjalanan peradaban Aceh. Kehadiran para pedagang Arab, India, dan Tiongkok pada masa lalu memberi pengaruh kuat pada racikan bumbu dan rempahnya. Berbeda dengan mie daerah lain, Mi Aceh dikenal dengan rempah yang pekat, kuah kental, rasa gurih-pedas, serta pilihan isian seperti daging, ayam, atau seafood. Inilah yang menjadikan Mi Aceh bukan sekadar makanan pengganjal lapar, tetapi sajian bercita rasa kuat dan berkarakter.

Tak berlebihan jika banyak orang mengatakan, belum sah ke Aceh jika belum mencicipi Mi Aceh. Sebagaimana rendang di Minangkabau atau gudeg di Yogyakarta, Mi Aceh menjadi “pintu masuk” untuk mengenal Aceh lebih dekat—melalui rasa.

Selama beberapa hari berada di Aceh Tamiang dalam rangka kegiatan kemanusiaan pasca banjir bandang, Pengurus Yayasan Islam Tanmia menjumpai Mi Aceh sebagai bagian dari suasana perjalanan. Di sela-sela mobilitas antar lokasi, rapat lapangan, dan waktu istirahat yang terbatas, Mi Aceh hadir sebagai pelengkap perjalanan—sekadar pengisi tenaga dan penanda bahwa setiap daerah memiliki cerita dan rasa yang khas.

Dalam pandangan syariat Islam, menikmati Mi Aceh sejalan dengan perintah Allah untuk bertebaran di muka bumi serta menikmati rezeki-Nya dengan penuh syukur. Allah Ta‘ala berfirman:

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًا فَٱمْشُوا۟ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا۟ مِن رِّزْقِهِۦ ۖ وَإِلَيْهِ ٱلنُّشُورُ
(QS. Al-Mulk: 15)

Artinya:
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu akan kembali.”

Ayat ini mengajarkan bahwa perjalanan dan menikmati rezeki Allah—termasuk makanan khas daerah—adalah bagian dari syukur, selama yang dikonsumsi halal dan baik (ṭayyib).

Adapun faidah makan makanan khas seperti Mi Aceh tidak hanya terletak pada nilai gizi dan tenaga, tetapi juga pada penguatan rasa syukur, pengenalan terhadap budaya lokal, serta kesadaran akan keluasan nikmat Allah di setiap sudut negeri.

Mi Aceh, pada akhirnya, bukan sekadar sepiring mie. Ia adalah pelengkap perjalanan, pengingat akan kekayaan budaya, dan tanda bahwa di setiap langkah dakwah dan kemanusiaan, Allah tetap menghadirkan rezeki-Nya.

Reportase: Iqbal Subhan Nugara
Aceh Tamiang, Kamis, 29 Januari 2026

No comments

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id