Wakaf Peralatan Shalat Untuk Muallaf dan Muslim Pedalaman.

Shalat merupakan salah satu sarana yang paling utama dalam menjaga hubungan antara manusia dengan Allah ta’ala, hubungan yang sangat dibutuhkan oleh jiwanya.

Shalat mempunyai kedudukan yang sangat mendasar dalam Islam, yang tidak bisa disejajarkan dengan ibadah-ibadah yang lain. Shalat bukan hanya sekedar kewajiban, yang apabila tidak dilaksanakan akan berdosa dan masuk neraka, melainkan juga merupakan kebutuhan secara rohani maupun jasmani, individu maupun masyarakat.

Hanya saja dalam realitas kehidupan, banyak saudara-saudara kita yang tidak dapat menjalankan ibadah shalat secara maksimal dikarenakan keterbatasan peralatan shalat, alias peralatan yang mereka gunakan kurang memadai, terutama saudara-saudara kita yang berada di daerah pedalaman sangat butuh uluran tangan kita untuk menyediakan keperluan peralatan shalat bagi mereka.

Oleh karena itu, kami dari Yayasan Islam At-Tanmia mengajak kepada kaum muslimin dimanapun berada untuk berkenaan ikut serta dalam progam kami “Donasi Wakaf Peralatan Shalat” bagi para Muallaf dan saudara-saudara muslim kami yang tinggal di pedalaman.

Atas donasi dan support dari para donatur, kami ucapkan beribu-ribu terimakasih, Jazakumullah Khairan Katsiran. Mudah-mudahan wakaf yang antum salurkan melalui kami dibalas dengan pahala berlipat ganda di sisi Allah ta’ala.

Bukhari Abdul Muid
Ketua Yayasan

🗳 Informasi
🌐 www.tanmia.or.id
📮 info@tanmia.or.id
📞 085215100250
💰 Bank Syariah Mandiri
7117833447
YAYASAN ISLAM ATTANMIA

Ikat Nikmat Dengan Syukur

Nikmat Allah yang diberikan kepada manusia tidaklah terhingga, karunia yang tidak ada habis – habisnya itu diberikan Allah begitu saja kepada seluruh makhluqNya, manusia, hewan, tumbuhan, jin juga malaikat Allah semua menikmatinya.

Mensyukuri nikmat bukanlah hal mudah, karena godaan dan kelalaian manusia seringkali menghanyutkan manusia sehingga mereka sulit untuk mencari tepian untuk berpegang meraih kesyukuran lalu memegangnya dengan erat agar tidak tenggelam dibawa kencangnya arus dunia.

Derasnya arus ketamakan manusia sudah menjadi rahasia umum faktor besar yang melalaikan manusia dari kesyukuran, syukur yang berarti ‘Terima kasih’ adalah ucapan sekaligus pengakuan kepada Dzat yang telah melimpahkan nikmat tersebut.

Seringkali para ulama memberikan tamsil (permisalan) tentang nikmat, nikmat itu ibarat “Hewan Liar” maka syukur adalah tali pengikatnya, hewan liar memang sukar ditangkap kalau pun ia tertangkap susah pula kita pegang, begitu pula nikamt Allah, ia liar dan sangat – sangat mungkin pergi meninggalkan tuannya pindah kepada orang lain.

Makanya kita tidak hairan bila Umar bin Abdul Aziz pernah berkata:

قال عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ: قَيِّدُوا النِّعَمَ بِالشُّكْرِ

Ikatlah Nikmat dengan Syukur.

Para ulama dan hukama (ahli Hikmah) telah jauh – jauh hari mengingatkan kita semua bahwa tipu daya syaitan sangat kuat wa bil khusus soal mensyukuri nikmat Allah, karena umumnya manusia lupa bersyukur dan tidak menggunakan nikmat sesuai dengan keinginan Allah ta’ala.

Tanpa terasa kita sudah berada di salah satu Bulan Haram, bulan yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, kita sudah masuk di bulan Dzul Hijjah, sebagaimana sudah kita ketahui bersama bahwa di bulan ini ada ibadah hebat dan mulia, yaitu berqurban, sebuah syariat yang terbilang sangat tua, telah diamalkan dari zaman Nabi Adam Alaihi salam, Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad Shallahu alaihi wasallam.

Allah ta’ala berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ (37) الحج.

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS Al Hajj:37).

Imam Ibnu Katsir berkata:
Makna ayat ini ialah, Sesungguhnya Allah mensyariatkan Qurban bagi manusia agar manusia menyebut nama Allah saat menyembelihnya, karena Dia lah Allah yang Maha Memberi rizki kepada manusia, Allah tidak memerlukan daging dan darah hewan tersebut, karena Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan apapun dari manusia. (Tafsir Ibnu Katsir).

Dari penjelasan ahli tafsir di atas dapat kita fahami bahwasanya salah satu tujuan Qurban ialah untuk mensyukuri nikmat Allah ta’ala.

Imam Qurthuby dalam tafsirnya menyebutkan bahwasanya Allah lah yang telah menundukkan seluruh hewan- hewan yang ada di bumi untuk fasilitas hidup manusia, sehingga manusia dapat memanfaatkannya, sebagai kendaraan, angkutan bahkan sebagai sumber bahan makanan yang lezat bagi mereka, padahal tidak jarang hewan – hewan itu lebih kuat dan lebih besar fisiknya dibandingkan manusia, namun demikian Allah telah menundukkan kekuatan mereka agar dapat manfaatkan dan dinikmati oleh manusia, Allah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa melakukan itu semua untuk manusia, sehingga atas nikmat ini pula manusia harus bersyukur kepada Allah ta’ala. (Tafsir Qurthubi).

Dalam ibadah Qurban terdapat banyak fadhilah (keutamaan) secara ringkas ada 3:
– Qurban bentuk ketaatan dan ketundukan manusia pada perintah Allah
– Qurban bentuk kesyukuran atas nikmat Allah.
– Qurban adalah kepedulian terhadap masyarakat yang sedang diuji Allah dengan kesulitan rizki, bahan makanan, dll.

Semoga kita diberikan kesempatan oleh Allah ta’ala untuk selalu mensyukuri nikmat Allah ta’ala sehingga nikmat tersebut menjadi langgeng dan awet dalam kehidupan kita dan anak keturunan kita, jangan sampai lalai bersyukur sehingga nikmat menjadi bencana dan musibah, lihat ucapan Imam Hasan Al Basri:

قال الْحَسَنُ: إِنَّ اللَّهَ لَيُمَتِّعُ بِالنِّعْمَةِ مَا شَاءَ، فَإِذَا لَمْ يُشْكَرْ قَلَبَهَا عَلَيْهِمْ عَذَابًا.

Sesungguhnya Allah melimpahkan nikmat kepada siapa saja yang Ia kehendaki, namun bila Manusia itu tidak bersyukur atas nikmat tersebut maka nikmat itu akan berbalik menjadi Azab (siksa dan musibah).

Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita semua untuk beramal shaleh dan menerima amal tersebut sebagai bekal hidup bahagia di akhirat nanti, Aamiin ya rabbal alamin.

Puyang, Inspirasi cahaya islam dan Wakaf Qur’an di Lereng Merbabu

Tidak kalah dengan kota Semarang yang sudah dikenal sebagai ibukotanya Jawa Tengah, sebenarnya kabupaten Semarang menyimpan sekelumit kisah perjalanan perkembangan ummat islam tepatnya di dusun Puyang Desa Tajuk Kecamatan Getasan Lereng Merbabu.

Tanmia Foundation dalam rangka program tebar Qur’an kali ini  menyerahkan wakaf buku Iqra’ sebanyak 200 Eksemplar dan buku referensi lainnya kepada da’i dan para pengurus TPQ yang masih berada di titik-titik wilayah lereng Merbabu. Dusun Puyang Desa Tajuk Getasan adalah salah satu titik diantaranya yang menjadi tujuan.

Muslim di dusun ini hanya sekitar belasan jiwa saja yang terdiri dari 4 KK dan 2 KK nya pun (kepala keluarga) merupakan warga pendatang sedangkan selebihnya beragama Kristen.

Perkembangan Islam di Puyang tidak terlepas dari peran Mbah Panut Mujari (84th), seorang kakek yang sudah lebih dari setengah abad berdiam disini bersama keluarganya.

“Sebuah kebahagiaan bagi saya dan keluarga dikunjungi oleh saudara sesama muslim yang masih memperhatikan keberadaan kami disini”, tutur Mbah Panut Mujari dengan senyum merekah sembari mengelus dadanya menyambut kedatangan kami.

Mushola Baitul Ummah adalah satu-satunya tempat dimana ia bisa banyak berharap untuk menghidupkan syiar Islam dan berkumpul bersama warga muslim Puyang lainya untuk memakmurkannya dg kegiatan belajar dan menguatkan keislamannya.

Suasana shalat berjamaah pun menjadi hal istimewa yang berkesan dan cukup membekas bagi siapapun yang menginjakan kaki disana.

Musholla yang dibangun sejak 2015 adalah swadaya masyarakat dan tidak luput dari peran Ustadz Utsaimin yg dengan buah kesabarannya mendirikan tempat ibadah tersebut selama penantian berpuluh-puluh tahun lamanya.

Ustadz Utsaimin adalah da’i asli setempat yang kesehariannya berkeliling mengajar majelis taklim dan TPQ di wilayah Lereng Merbabu. Tidak berhenti disitu saja, keahliannya juga sebagai mekanik elektronik menjadi profesi pelengkap yang sangat bermanfaat dan semakin mendukung kegiatan perjalanan dakwahnya.

Mengupas perjalanan dakwah di Tajuk yang memiliki sebelas dusun yang letaknya cukup berjauhan menjadi tantangan tersendiri. Seperti kisah Mbah Panut,  dengan  berbagai tawaran yang akan meruntuhkan imanya tak sesekali datang berlalu saja  tapi atas kekuatan-Nya dan kegigihannya ia pertahankan keluarga dan warga muslim lainya untuk terus bertahan dan tidak menyurutkan ghirah para da’i setempat untuk terus bertahan disana. Dusun-dusun tersebut diantaranya adalah Pulihan, Banaran, Kaliajeng, Ngroto, Puyang, Macanan, Tajuk, Cingklok, Sokowolu, Gedong  dan Ngaduman. Pemandangan di dusun-dusun ini didominasi dengan perkebunan sayuran warga dan ternak sapi perah yang menjadi mata pencaharian sehari -hari warga di lereng gunung Merbabu yang masih berdiri dengan tinggi gagahnya.

Berdoa pula semoga sekokoh pasak bumi dan setinggi gunung yang menjulang ke angkasa itulah iman yang kita pertahankan hingga perjumpaan dengan Allah Rabbul’allamiin Rabb seluruh alam jagad semesta. Aamiin..

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Salatiga, Jawa tengah

Wakaf Senter untuk Guru Ngaji dan Jamaah dusun Sonyo, lereng Bukit Manoreh

Maghrib belum tiba, segenap Tim Tanmia Foundation tiba di Kulon Progo (24/6/2020). Dari kejauhan gelap sudah menyelimuti perbukitan lereng Menoreh dan rumah-rumah di Dusun Sonyo Girimulyo Kulon Progo. Pelita lentera minyak tanah yang ada tak dapat menghilangkan pekatnya gulita sekalipun nyala listrik sudah menyala. Listrik jalanan setapak kampung belum mampu menyinari sepenuhnya kegiatan da’i dan aktivitas warga dan anak-anak mengaji saat gelapnya malam tiba. Jarak pemukiman antar warga berjauhan dan masjid setempat juga cukup terjal medanya untuk dijangkau apalagi suasana malam yg gelap tersekat semak-semak pepohonan .

Lampu jalanan menjadi solusi pengganti lentera minyak tanah yang sudah berjalan bertahun-tahun pada masa sebelumnya, tapi seiring dengan harga minyak tanahnya semakin mahal dan sering kali langka ini semakin menyulitkan keadaan. Apalagi kemampuan masyarakat yg mayoritas buruh tidak sepenuhnya mampu lebih-lebih kondisi saat ini. Belum usai disini, lampu penerang jalan setapak kampung pun masih berjauhan jaraknya dan terkadang aliran listriknya dapat menimbulkan masalah baru, yaitu lampu jalanan sering putus dan peralatan  berulangkali rusak.

Berangkat dari keadaan realita yang ada inisiatif untuk membantu dengan hal sederhana melalui wakaf senter penerang jalan.

“Senter penerang jalan sangatlah bermanfaat bagi para da’i dan guru ngaji ketika dibawa ke tempat mengajar di lereng perkampungan Sonyo”, ungkap Haryono dengan senyuman bahagia menerima amanah perlengkapan tersebut.

Tanmia Foundation menyerahkan sejumlah paket senter penerang untuk membantu kegiatan para pengurus masjid, da’i dan warga jamaah majelis taklim untuk menuntut ilmu agar lebih bermanfaat. semoga wakaf tersebut menjadi kebahagiaan amal shalih yang dapat menjadi penerang di yaumil akhir. Aamiin.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Yogyakarta

Tanmia Foundation : Salurkan Wakaf Quran Motivasi Pembinaan Muallaf Sepanjang Musim

Wakaf Quran ke Penjuru Negeri dari Tanmia Foundation untuk membantu kegiatan pembinaan para Muallaf di pelosok-pelosok masih berlangsung. Beberapa titik daerah di Kulonprogo dan Lereng Merbabu masih menjadi prioritas.

Sebagian daerah baru saja perlahan memulai babak baru “new normal” setelah dilanda masa pandemi sejak awal April lalu.

“Wakaf quran untuk mendukung kegiatan pembinaan muallaf dan kegiatan anak-anak santri mengaji di TPQ diharapkan mampu menjadi bagian syiar merawat keimanan dalam mempelajari Islam dan menjaga keistiqomahan,” ujar Haryono pada pihak Tanmia Foundation.

Haryono yang hari-harinya berprofesi sebagai guru pengajar dan pembina kegiatan muallaf merupakan sosok pemerhati sosial yang tergerak membantu memikirkan nasib khalayak kaum muslimin disekitarnya.

Sebanyak 250 eksemplar Qur’an dan 300 Iqra didistribusikan langsung ke lokasi oleh segenap tim Tanmia Foundation.

Kegiatan wakaf ini adalah jalinan kerja sama merajut perjalanan dakwah dan pembinaan muallaf khususnya di Kulonprogo yang tengah berjalan beberapa tahun terakhir.

Kegiatan wakaf quran yang terus berjalan sepanjang musim setidaknya menghadirkan ruh semangat baru bagi kaum muslimin. Ada nikmat dan rindu yang lama terpendam karena aktivitas beribadah berjamaah di tempat umum sangat terbatas dan harus melewati prosedur yang berlaku dimasa pandemi.

Kegiatan ibadah di ruang umum memang sedikit terbatas namun merawat keimanan dalam rangka lebih mendekatkan diri terus beribadah kepada-Nya adalah proses yang tak boleh ditawar dan berhenti oleh seorang hamba karena semua berada dalam genggaman kuasa dan pengawasan-Nya.

Upaya kegiatan wakaf quran dari Tanmia Foundation setidaknya memotivasi pembinaan muallaf dan kegiatan anak-anak TPQ untuk tetap berlangsung di pelosok-pelosok daerah. Mengalirkan kembali jariyah ilmu dan pahala seluas-luasnya ke daerah-daerah prioritas dan masih membutuhkan perhatian.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Yogyakarta

 

Tebar Qurban untuk masyarakat Muslim Pedalaman NTT

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). QS Al Kautsar:2).

Mengingat sudah dekatnya hari raya Idul Adha 1441 H, maka kami dari Yayasan Islam Attanmia mengajak Bapak dan Ibu untuk ikut berpartisipasi dalam Ibadah Qurban yang kami selenggarakan dan akan di sebar ke wilayah pelosok yang dihuni minoritas muslim seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk membantu mereka, memberi perhatian serta bagian dari syiar – syiar agama islam untuk menebar rahmat dan manfaat bagi kaum muslimin, in syaa Allah program tebar Qurban ini sangat bermanfaat dan tepat sasaran karena wilayah – wilayah tersebut sudah pernah kami datangi dan kami adakan kegiatan dakwah dan sosial di sana.

Dari pengalaman tahun lalu alhamdulillah sambutan masyarakat sangat baik dan partisipasi masyarakat dalam program ini juga sangat baik, hewan Qurban juga kami kirim ke pulau – pulau dengan menggunakan perahu yang dihuni oleh masyarakat muslim di wilayah NTT, berbekal dengan pengalaman tahun lalu kami berencana untuk mengadakannya kembali pada tahun ini, mudah – mudahan Allah memberikan taufiq, kemudahan dan keberkahan dalam kegiatan mulia ini.

Dengan demikian kami mengajak bapak dan ibu untuk kembali ikut berpartisipasi dalam program ini, untuk rincian harga hewannya adalah sebagai berikut:

🐏 Kambing type A Rp 3.500.000,-

🐏 Kambing type B Rp 2.500.000,-

🐂 Patungan Sapi Rp 3.000.000,-

Atas partisipasi dan perhatiannya kami sampikan Jazakumullah khairan, barakallahu fiekum.

Bukhari Abdul Muid

Ketua Yayasan

🗳 Informasi
🌐 www.tanmia.or.id
📮 info@tanmia.or.id
📞 085215100250
💰 Bank Syariah Mandiri
7117833447
YAYASAN ISLAM ATTANMIA

tebar qurb

Potret Salafus Shalih Ketika Berpisah Dengan Ramadhan

Oleh: Kholid Mirbah, Lc

Tinggal menunggu hitungan jam, kita akan berpisah dengan Ramadhan, bulan suci itu akan pergi meninggalkan kita, kita tidak tahu apakah tahun depan kita bisa kembali bertemu lagi bulan Ramadhan. Setiap detik hari-harinya begitu berharga, setiap hembusan nafas kita bernilai kebaikan di sisi Allah swt, menjaga amalan yang sunnah meningkat status pahalanya seperti menjaga amalan yang wajib, dan banyak sekali manfaat yang kita raup, serta pahala Allah yang dapat kita raih jikalau kita maksimal beribadah di dalamnya. Telah berakhir Bulan Shiyam dan Qiyam, berakhir pula bulan penuh rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka, berakhir pula nikmat yang sangat agung dalam hidup ini, yang belum tentu bulan suci tersebut kembali ke pangkuan kita. Sungguh datangnya bulan tersebut merupakan kabar gembira bagi para pendosa untuk meraih ampunan, pengabulan doa, pembebasan api neraka serta curahan kasih sayang Allah begitu terasa pada bulan tersebut.

Sungguh, berpisah dengan Ramadhan meninggalkan kesedihan dalam hati, duka serta nestapa yang mendalam, Bagaimana tidak sedih? Seseorang berpisah dengan kekasihnya untuk selama-lama nya, dan ia tidak tahu apakah nanti akan berjumpa lagi dengannya. Seolah-olah kepergiannya menjadi musibah besar sehingga tak jarang ia merasa sedih, pilu dan kehilangan.
Apakah kita sambut perpisahan itu dengan sikap futur dan malas atau kita sambut perpisahan tersebut dengan sikap yang dicontohkan oleh manusia-manusia terbaik, mereka adalah para salafus shalih kita, generasi terdepan di dalam kebaikan, mereka adalah generasi yang menyelaraskan antara kesungguhan amal dengan ilmu dan perhatian agar diterimanya amal setelah itu serta khawatir jikalau amalan mereka tertolak.

Maka, para salafus shalih telah menunjukkan sebuah kepribadian yang istimewa serta semangat yang membara tatkala mereka memasuki bulan Ramadhan, diantara buktinya sebagaimana yang di jelaskan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali ra,

كانوا يدعون الله ستة أشهر أن يبلغهم شهر رمضان، ثم يدعون الله ستة أشهر أن يتقبله منهم

Enam bulan sebelum Ramadhan menjelang, mereka berdoa dengan giat agar disampaikan kepada bulan agung ini. Sedangkan enam bulan sesudahnya, mereka sangat gigih berdoa agar segenap amalan mereka diterima Allah Subhanahu Wata’ala (Lathâ`ifu al-Ma’arif, 209).

Sungguh mereka menunjukkan kesedihan dan duka yang mendalam ketika ramadhan berada di penghujung bulan, mereka berusaha saling menasehati agar tidak kendor dalam ibadah dan senantiasa istiqomah diatas ketaatan pada bulan-bulan setelahnya, karena semua bulan di sepanjang tahun bagi setiap mukmin adalah musim-musim ibadah, bahkan seluruh umur kita adalah musim-musim untuk melaksanakan ketaatan.

Disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali ra, ketika berkisah tentang kesedihan para salafus shalih yang akan berpisah dengan Ramadhan,

خرج عمر بن عبد العزيز -رحمه الله- في يوم عيد فطر، فقال في خطبته: “أيها الناس، إنكم صمتم لله ثلاثين يومًا، وقمتم ثلاثين ليلة، وخرجتم اليوم تطلبون من الله أن يتقبل منكم”. وكان بعض السلف يظهر عليه الحزن يوم عيد الفطر، فيقال له: إنه يوم فرح وسرور. فيقول: صدقتم، ولكني عبد أمرني مولاي أن أعمل له عملاً، فلا أدري أيقبله مني أم لا؟

Suatu saat, Umar bin Abdul Aziz RA keluar rumah di hari Idul Fitri. Dalam khutbahnya beliau menandaskan, “Wahai rakyatku sekalian! Kalian telah berpuasa karena Allah Subhanahu Wata’ala selama tiga puluh hari. Demikian juga telah menunaikan shalat malam tiga puluh hari. Hari ini kalian keluar untuk memohon kepada Allah agar semua amalan diterima.” Pada momen demikian, ada seorang salaf yang menampakkan kesedihan. Kemudian ia ditanya, “Bukankah ini hari kegembiraan dan kesenangan?” Ia menjawab, “Benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba yang Allah perintahkan melakukan amalan. Sedangkan aku tidak tahu apakah amalan itu diterima atau tidak? Itulah yang membuatku sedih.”

ورأى وهب بن الورد قومًا يضحكون في يوم عيد، فقال: إن كان هؤلاء تقبل منهم صيامهم فما هذا فعل الشاكرين، وإن كان لم يتقبل منهم صيامهم فما هذا فعل الخائفين. وعن الحسن قال: إن الله جعل شهر رمضان مضمارًا لخلقه يستبقون فيه بطاعته إلى مرضاته، فسبق قوم ففازوا، وتخلف آخرون فخابوا، فالعجب من اللاعب الضاحك في اليوم الذي يفوز فيه المحسنون، ويخسر فيه المبطلون.

Fenomena lain yang tak kalah menarik, ketika Wahab bin al-Warad melihat suatu kaum yang tertawa di hari Idul Fitri, ia berkomentar, “Jika puasa mereka diterima, bukan seperti ini kondisi orang yang bersyukur. Jika tidak diterima, maka bukan demikian perbuatan orang yang takut.”
Diriwayatkan dari Al-Hasan ia berkata :”Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadhan sebagai Arena Pacuan, siapa saja yang finish duluan dia yang menang, sedangkan yang tertinggal mereka pasti kalah, maka sangat mengherankan peserta lomba yang hanya tertawa dihari kemenangan bagi orang-orang yang baik dan kekalahan bagi orang-orang jahat.”

Bayangkan! Tertawa di bulan kemenangan saja, menjadi aib tersendiri bagi ulama salaf. Bagi mereka, Idul Fitri bukanlah momentum untuk meluapkan kegembiraan, justru untuk evaluasi diri apakah amalan sepanjang Ramadhan diterima Allah Subhanahu Wata’ala.

Beliau melanjutkan,

وروي عن علي رضي الله عنه أنه كان ينادي في آخر ليلة من شهر رمضان: يا ليت شعري من هذا المقبول فنهنِّيه، ومن هذا المحروم فنعزِّيه! وعن ابن مسعود أنه كان يقول: من هذا المقبول منا فنهنِّيه، ومن هذا المحروم منا فنعزيه، أيها المقبول، هنيئًا لك! أيها المردود، جبر الله مصيبتك”

Khalifah Keempat Ali RA memiliki kebiasaan unik. Pada akhir malam bulan Ramadhan beliau berseru, “Duhai, siapakah yang diterima amalnya lalu kita beri ucapan selamat kepadanya. Siapa pula yang tidak diterima amalnya, lalu kita berkabung untuknya.”
Begitupula Ibnu Mas’ud berkomentar “siapakah orang yang diterima amalnya lalu kita ucapkan selamat kepadanya? Dan siapa yang tidak diterima amalnya lalu kita berkabung untuknya. Wahai orang yang diterima, selamat dan sukses untuk kalian. Wahai orang yan tertolak? Allah telah memperbaiki musibah kalian.” (Lathaiful Ma’arif, Ibnu Rajab Al-Hanbali, 209, 210).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa saat Ramadhan berakhir, mereka merasa sangat kehilangan. Mereka berada dalam kondisi harap-harap cemas apakah amalan-amalan selama Ramadhan diterima Allah. Di samping itu, akhir Ramadhan dijadikan momentum introspeksi diri dan wahana untuk saling menasehati agar tetap beramal kebaikan walau di bulan-bulan lain. Wallâhu a’lam

Potret Kampung Muallaf di Kutuh Kintamani Bangli Bali

Kutuh Kintamani Bangli adalah salah Sudut perkampungan penduduk asli Bali yang sudah turun temurun sejak nenek moyang pendahulunya. Geografisnya yang terjal di lereng pegunungan gunung Batur menjadikan akses ke wilayah tersebut lumayan menyulitkan. Beberapa tahun terakhir ini seiring berjalannya waktu daerah ini bisa mudah untuk menjangkaunya. Secara administratif wilayah ini berada di kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli Provinsi Bali wilayah utara.

Namun beriringan waktu bukan mustahil bagi Allah untuk menurunkan RahmatNya menaunginya dalam pangkuan Islam. Tahun 1982 adalah tahun bersejarah bagi keluarga besar Mustaqim ( nama seorang tokoh muallaf ) yang beserta segenap keluarganya masuk Islam. Berawal dari Irasun ( kakek Mustaqim ) yang sakit menahun tak kunjung sembuh mulanya sampai segala macam cara dilakukan untuk berusaha melepaskan sakit yang dideritanya. Walhasil Qadarullah atas kebesaran Allah, suatu waktu kesembuhan menghampiri kakeknya atas jasa seorang tabib yang notabene masih bergaris keturunan islam dari perkampungan sasak KarangAsem. Singkatnya keluarga besar Irasun bersama Wayan Warsa ( Ayah Mustaqim ) memutuskan untuk masuk Islam.

Prosesi masuk Islamnya pun tergolong luarbiasa, mendiang KH. Habib Adnan Tokoh MUI Bali langsung turun gunung ketika itu. Tahun 1982 masih jalan setapak dilereng pegunungan Batur untuk menuju kampung AnganSari Kutuh sehingga beliau harus ditandu sejauh 15 KM dari jalan utama menuju perkampungan dibalik bukit Gunung Batur Kintamani. Yang juga tak kalah luarbiasa ialah prosesi sunatan massal yang dilakukan setelah mereka masuk islam yakni dengan bersamaan dg putra mereka yang tergolong masih anak-anak ketika itu.

“Alhamdulillah sampai saat ini ada 26 KK yang sudah masuk Islam dengan jumlah lebih dari 80 jiwa”, jelas Mustaqim di Masjid Nurul Iman satu-satunya masjid yang dibangun diatas tanah keluarga besarnya.

Dalam perjalanan ke lokasi kali ini MUI Provinsi Bali, KH Mustafid Amna, LC MA bersama para remaja masjid selain rihlah silaturahim juga mengadakan kajian serta santunan sosial dalam rangka menguatkan ukhuwah tali keimanan.

Melihat wajah keislaman di Kutuh Kintamani Bangli adalah bagian potret kampung muallaf yang masih banyak membutuhkan perhatian dan pembinaan terlebih jauh dari akses lingkungan perkampungan islam sekitarnya.

Bukan mustahil juga seiring dengan gigihnya para da’i dan pemerhati keislaman yang concern untuk menebarkan dakwah islam di pulau Bali akan ada kampung-kampung muallaf baru yang tersinari dengan cahaya kebenaran islam sebagai Rahmatallil’alamiin.

Nurhamida, Merasa Terharu dan Meneteskan Air Mata Menerima Santunan Dari Donatur Tanmia Foundation

Arti kebahagiaan memang tak bisa disamakan satu sama lain. Bagi masyarakat metropolitan akan berbeda menilai kebahagiaan itu sendiri dibanding dengan kalangan masyarakat yang masih tinggal di pedalaman. Bukan saja secara geografis tapi juga tingkat pendidikan yang mempengaruhi tingkat sumber daya manusia itu sendiri baik langsung maupun tidak. Bagi masyarakat pedalaman tentu menikmati arti kebahagiaan biasanya ketika merayakan Idul Fitri atau pun Idul Adha tiba. Sedangkan di hari lain bisa jadi mereka harus berjuang sekuat tenaga demi mempertahankan hidup dan keluar dari himpitan ujian masalah sosial dan ekonomi. Program Tebar Wakaf Qur’an ke Pelosok Negeri Tanmia Foundation yakni di pedalaman kepulauan Nias beberapa waktu lalu berhasil menyisir ke berbagai lapisan kalangan-kalangan muslim pedalaman.

Mereka memang telah berpuluh-puluh tahun berjuang ekstra keras namun atas kebesaran Allah tetap tegar dengan keislamannya, salah satunya Nurhamida (56) adalah janda sebatang kara pengajar ngaji di Kampung Koto Pulau Tanah Masa.

Pada Ahad (15/12), Tanmia Foundation melalui utusan da’i lokal setempat menyerahkan santunan bagi Ibu Nurhamida, satu-satunya guru ngaji di kampung Koto.

Kedatanganya ke kediaman Ibu Nurhamida memang tidak ada pemberitahuan sebelumnya karena memang akses komunikasi ke Koto Tanah Masa tergolong sulit, sehingga Ustadz Mizani bersama rombongan lainya nekad tak berpikir panjang lagi langsung menerabas laut pulau-pulau batu dengan menyeberang menggunakan kapal kayu dari dermaga pulau Tello.

Mizani yang datang berlima bersama rombongan dengan tiba-tiba membuat Ibu Nurhamida merasa terheran, ada apa gerangan kedatanganya kali ini, ungkap Nurhamida dalam hatinya.

“Semenjak menjadi guru ngaji sudah lebih 20 tahun lamanya baru kali ini saya merasa sangat bahagia bercampur rasa terharu dengan kedatangan ustadz yang menyampaikan amanah dari donatur Tanmia Foundation kepada saya”, tutur Nurhamida sembari meneteskan air mata didepan kediamannya.

Pemberian santunan yang diberikan kepada Ibu Nurhamida adalah amanah dari donatur Tanmia Foundation yang secara langsung ditujukan khusus untuk Ibu Nurhamida. Entah angin apa yang menggerakkan seorang donatur untuk berbagi pada sikon ibu Nurhamida yang memprihatinkan ala kadarnya dan sama sekali tidak saling mengenal sebelumnya. Perempuan yang hari itu mengenakan kerudung berwarna hitam ini juga menyampaikan, syukur alhamdulilah dan rasa terimakasih kepada Tanmia Foundation atas perhatian donaturnya kepada kami yang sudah rela membesuk berlelah-lelah mengunjungi kami yang tinggal di pelosok kampung pedalaman.

Meski kedatanganya yang direncanakan terbilang sangat singkat, pada dasarnya Tanmia Foundation ingin membantu meringankan beban sesama muslim semampunya. “Melihat mereka tersenyum bahagia adalah suatu kebahagiaan kami yang saat ini masih bertugas menjadi da’i di wilayah pulau-pulau Batu ,” ujar Mizani. Ia juga mengatakan, kegiatan ini menjadi salah satu tujuan sasaran dakwah yang diharapkan agar dapat menguatkan dakwah dan persaudaraan ummat.

Selain mengunjungi Ibu Nurhamida, kegiatan juga berlanjut dengan menyerahkan bingkisan kepada para muallaf dan dhu’afa di perkampungan Koto amanah dari para warga muslim di Tello.

“Alhamdulillah Senang sekali. Biasanya nggak pernah ada kegiatan santunan seperti sekarang ini masuk di kampung kami” ujarnya.

Salah seorang penerima bingkisan sebut saja adalah Ibu Aminah. Ibu tua yang tergolong dhu’afa ini tinggal tidak jauh dari masjid Nurul Huda Koto berpuluh-puluh tahun. Ia mengaku senang akan ada acara ini setelah mengetahui dari pengurus Masjid bahwa akan ada acara santunan dari jama’ah Masjid Tello.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Adzan menggema dari lembah bukit Manoreh Kulon Progo

Kamis 21 November 2019 terdengar seruan adzan zhuhur di masjid Baiturrahman desa Sonyo, kami dari tim Distribusi Al Quran wakaf pun bersiap dan bergegas mendatangi seruan adzan tersebut. Pada shalat zhuhur yang istimewa ini Alhamdulillah sholat jama’ah kami ditemani oleh seorang kakek tua dan ustadz Farosyid, total jamaah kami pada dhuhur itu hanya berempat saja.
“Kalau hari lain apakah seperti ini ust?”tanya kami. “Iya, kakek ini yang adzan 5 waktu setiap hari, dan hanya dia satu-satunya makmum di sholat subuh, dhuhur, asar dan maghrib, dan mulai ramai di sholat Isya’ ” jawab ust Farosyid, beginilah kondisi masyarakat sekitar masjid Baiturrahman di desa Sonyo Kulon Progo Yogyakarta.

Ustadz Farosyid dan kawan-kawan sudah menginjak di tahun keempatnya berdakwah di desa ini, dengan penuh semangat dan kesabaran sehingga hasil dakwahnya pun semakin meluas ke desa-desa dan masjid-masjid sekitar. Mulai berdatangan satu demi satu bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak dan bahkan kakek nenek yang ingin belajar mengaji, di buatlah halaqah-halaqah Al Qur’an di masjid tersebut.
Yang semula para ustadz melihat masjid Baiturrahman dalam keadaan sangat kumuh, kotor, tidak di tegakkan sholat, Alhamdulillah dengan izin Allah hari ini sudah ditegakkan sholat Jum’at (meski khotib jum’at hanya dia-dia saja), adzan 5 waktu meski hanya ada 1 makmum di 4 sholat fardhu, mulai ramai di sholat Isya’, di adakannya kajian-kajian keislaman rutin dan dibuatnya halaqah -halaqah Al Qur’an bagi para pemula dan muallaf yang jumlah mereka dari hari ke hari Alhamdulillah semakin bertambah, karena ada perhatian dan kepedulian dari segenap kaum muslimin dan muslimah yang telah ikut andil dalam membantu mereka dan memberikan bimbingan keislaman untuk mereka.

Ustadz Farosyid mengucapkan, “Jazakumullah khoiron kepada segenap muhsinin yang telah memberikan bantuan dan dukungan kepada kami melalui tim Tanmia Foundation berupa Al-Qur’an dan buku bacaan, insya Allah kami akan terus berjuang demi kebangkitan islam.”

Fadhil Kamil
Relawan Tanmia
Kulon Progo, Yogyakarta

Al Quran menggema di Duson Sonyo, Kulon Progo

Tanggal 21 November 2019 setelah beberpa jam mengendarai bis umum akhirnya tim Tanmia tiba di desa Bujidan, RT 33/ RW 17, Tawangsari, Pengasih, Kulonprogo, Yogyakarta.

Pak Haryono menjemput tim pada pukul 03.00 dini hari diterminal Wates, rumah beliau menjadi tempat singgah tim Tanmia. Dan jarak rumah pak Haryono dengan lokasi yang dituju oleh tim kurang lebih sekitar 20 Km jalan pegunungan dengan waktu tempuh 1 jam .

Desa sonyo adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, dengan kondisi masyarakat yang mayoritas adalah non muslim, dengan kondisi masyarakat desa sonyo, ustadz Farosyid, ustadz Abdur Rasyid, ustadz Hammami dan ustadz Nurwanto saling berkolaborasi bahu membahu menggerakkan roda perjuangan dakwah di pedalaman gunung Manorek tepatnya di desa sonyo tanpa imbalan dunia apa pun apalagi gaji, walau tanpa memgharap imbalan, mereka rela mengorbankan segalanya demi berdakwah di desa sonyo.

Tim Tanmia Insya Allah akan mendistribusikan sejumlah Al-Qur’an berukuran besar dan buku bacaan guna mendukung perjuangan dakwah para ustadz di desa Sonyo yang makin hari makin terus bertambah jamaah binaan mereka.

Hari ini desa sonyo masih sangat membutuhkan dukungan dan bantuan kita semua, berupa fasilitas operasional dakwah yang dapat membuat jamaah nyaman seghingga bisa menarik simpati masyarakat.
Mudahan- mudahan Allah mudahkan segala urusan kita semua. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

Fadhil Kamil
Relawan Tanmia
Kulon Progo, Yogyakarta

Menembus Belantara Dakwah Pedalaman, Dengan Kemuliaan Wakaf Qur’an

Lampu menara navigasi barulah menyala berkedip-kedip dari kejauhan senja yang mulai berangsur gelap. Sang kapten pun segera menatap tajam kemana arah kompas agar tidak salah mengarahkan titik haluan kapal ke dermaga tujuan bersandar. Sebaris doa perjalanan terus berulang diucapkan berharap Allah mudahkan setiap langkah agar segera sampai di tujuan tanpa halangan dan rintangan. Inilah kilas sepotong perjalanan ke belantara lautan Pulau Simuk yang masih sunyi untuk sebagian orang mengunjunginya.

Ucapan syukur Alhamdulillah setitik nyala perkampungan Lorong Pasar Biduk pun terlihat dibalik buta gelapnya malam Simuk. Memang bukan untuk pertama kalinya menjumpai daerah pedalaman seperti ini di Kepulauan Nias. Misi pendistribusian wakaf Qur’an di kepulauan Nias memakan rentetan waktu yang cukup panjang. Bermula dari daratan Nias sampai Simuk pungkasnya menyudahi agenda “Tebar Qur’an Hingga Pelosok Negeri” Tanmia Foundation di penghujung tahun 2019.

Jangkar kapal pun telah ditancapkan dan tali kendali pun telah ditambatkan pertanda kami sampai di dermaga tujuan. Tujuan jauh untuk ke sekian kalinya bukan tanpa arah melainkan lewat wakaf qur’an inilah perjalanan dibimbing diarahkan.

Wakaf Qur’an bukan sekedar seberapa banyak eksemplar kemana akan di bawa ? Jauh dari itu melainkan menguatkan misi luasnya cakrawala dakwah dalam Al Quran. Sehingga Al-Qur’an memberi arah, dan sasaranya pun tepat agar tak salah karena menerka-nerka dari jarak yang berjauhan. Wakaf Qur’an penuh dengan lika-liku makna dan cerita. Selain pahala jariyah yang mulai mengalir ke para muhsinin yang telah mendermakan harta terbaiknya atas dasar keyakinan imanya saja semata. Bahkan tak saling mengenal satu sama lainnya sebelumnya dan kepada tangan siapakah akan ditujukan sebagai pertanggung jawaban yang dapat dirasakan langsung oleh ummat yang membutuhkan di keterasinganya pedalaman.

Tanpa menyisakan sesal dan kecewa bagi siapapun yang telah ikut bahu-membahu membersamai amal kebaikan ini dari awal hingga akhirnya, hanya berharap kepada Allah sajalah keridhoan itu ditujukan.

Niat dan kesungguhan beramal lewat wakaf Qur’an itu bisa jadi bukan hal sepele yang bisa diremehkan, karena betapa banyak amalan besar menjadi kecil biasa saja karena masalah niat dan tidak sedikit pula amalan kecil biasa saja menjadi besar nilainya karena perihal niatnya, jadi nilai wakaf qur’an yang bisa jadi hanya sepotong kecil saja yang diberikan namun seketika manfaatnya berhasil menyalakan suasana keislaman yang mulanya padam menyala kembali. Bila dirasakan hingga detik ini maka disetiap bacaanya, baris demi barisnya dan lembar demi lembarnya sesungguhnya menjadi tabungan pahala yang terus mengalir kepada seluruh muhsinin dimanapun berada.

Menjaring pahala kebaikan memang tak selamanya harus berhimpun dalam satu pertemuan dan satu golongan tapi ketika bersatu padu dalam panggilan iman maka amal kebaikan pun menyatu dalam kekuatan sekalipun berlainan tempat dan terpaut jarak yang jauh memisahkan.

Disisi lainya wakaf Al Qur’an juga menambah pundi-pundi amal ibadah kita yang jauh dari kata sempurna. Inilah bagian andil dalam menguatkan syi’ar dakwah semampu kita dengan mengambil peran atas pilihan niatan ibadah yang ikhlas tanpa pamrih. Keridhoan ilahi menjadi tujuan prioritas utama yang hendak diraih dengan segenap fasilitas dan materi dunia yang begitu luas murahnya Allah berikan. Setidaknya inilah salah satu kemudahan wasilah yang menjadi sarana penyambung amal kebaikan yang menguatkan kebersamaan amal jama’i dalam kerja dakwah yang terus lebih baik melintas batas.

Sebagian ibadah apapun memang dirasa berat jika dipikul sendirian apalagi amal dakwah yang pasti memerlukan kebersamaan bahu membahu, bersinergi dan berkolaborasi bergandengan dengan berbagai pihak. Disinilah ghirah dakwah terbangun dari kesadaran jiwa yang tergugah tersemai perlahan sejak dari pribadi, keluarga hingga khalayak tetangga sehingga keberkahanya dirasakan sampai mengangkasa di ujung langit pedalaman.

Seiring waktu disudut-sudut masjid pun riuh menggema dengan jamaah dan anak-anak untuk tilawah dan menghafalkannya sehingga Al-Qur’an mencetak para penghafal alquran yang mampu menghayati setiap kenikmatan ayat ayat yang terlantun saat shalat, maka sebaris kalimat harapan dan keberkahan pun terus mengalirkan pahala dari sang Khaliq.

Semakin banyak hafalan, semakin lama ia menghayatinya. Semakin indah perangai tingkah lakunya. Sejenak bersedih, ketika membaca potongan ayat tentang adzab dan seketika bergembira, saat terlantun ayat ayat yang menggambarkan kenikmatan. Sungguh inilah ruh Qur’an yang telah memberikan pengaruh pada setiap jiwa yang bahagia mewarnai jiwanya dengan hiburan kalimat-kalimat indah-Nya yang tak pernah membosankan. Qur’an terwujud dalam suasana kehidupan nyata bukan hanya sekedar mushaf yang dibaca saja tapi akhirnya semua sisi bernaung dalam bimbingan Qur’an yang begitu bermakna dan berguna.

Perlahan qur’an akan menguatkan kerja dakwah berjamaah agar tidak hanya sebatas mengarahkan pada rutinitas memakmurkan masjid saja akan tetapi Qur’an menjadi “the way of life” pilihan istimewa sebelum memulai hal apapun yang menembus segala ruang dan waktu dalam dinamika kehidupan.

Akhirnya qur’an mengantarkan pada kebersamaan tujuan ke dermaga kebahagiaan yang hakiki dan berbagi manfaat kepada sesama. Bermula dari Qur’an yang sederhana hingga kerja dakwah yang tidak hanya sebatas tugas da’i atau sebagian kalangan berilmu atau lainya atau dakwah bisa ditinggal kapan saja ketika kita sibuk, tapi akhirnya dakwah selalu hadir setia menemani keseharian waktu hari-hari kita sebagai ikatan kesatuan hamba yang bersyukur dengan ketaatan kepada-Nya tanpa memandang profesi dan potensi seseorang. Sehingga dibalik gelap gulitanya tabir pedalaman sebenarnya ada kemuliaan Qur’an yang telah mampu menjadi penerang menyalakan dakwah menerangi suasana kegelapaan. Kemuliaan Qur’an itu Menggerakkan Kebaikan.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Pulau Nias

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id