Wakaf Lampu Tenaga Surya, Cahaya Syi’ar Dakwah Untuk Pulau Simuk Nias Selatan

Merasakan sebagai masyarakat urban perkotaan dengan melesatnya perkembangan teknologi dan informasi serba digital menjadikan perubahan jaman dan lingkungan terus berubah sangat cepat bahkan tanpa harus menunggu berlama-lama sehari 24 jam. Pusaran detik dan menit pun bisa berubah tanpa jeda sehingga hiruk pikuk kehidupan populasi manusia dan semua isinya bisa di ibaratkan dengan mudahnya dapat diakses dan digenggam dalam satu klik sentuhan tangan.

Menelisik lebih jauh kedalam masih sangat prihatin dengan kondisi beberapa daerah pelosok tanah air yang masih belum beranjak dari kategori daerah 3T ( Terdepan, Terluar, Tertinggal ). Sebagian besar kondisi berbagai daerah tersebut memang terpisahkan oleh lautan luas karena tanah air nusantara ini dominan kawasan maritim. Jumlah ribuan pulau satu sama lainnya terpaut jauh jaraknya sehingga menjadi faktor kendala dan tantangan dalam proses pemerataan pembangunan yang timpang hingga saat ini. Inilah realita pelosok tanah air yang tidak serta merta mudah membalikkan telapak tangan dalam proses pembangunannya baik fisik wilayahnya maupun penduduk setempat sebagai sumber daya manusia pengisinya.

Dalam rangka mendukung laju kegiatan dakwah di wilayah pelosok tanah air kali ini Tanmia Foundation mengirimkan 3 paket wakaf panel surya LTSHE ( Lampu Tenaga Surya Hemat Energi ) pada penghujung Januari (30/01/2023).

Daerah yang ditujukan masing-masing ialah Pulau Simuk Nias Selatan, Hulu Sungai Batang Gansal Suku Talang Mamak Riau dan Pulau Halmahera Maluku Utara. Diharapkan wakaf panel surya tersebut dapat sampai di lokasi sebelum datangnya bulan Ramadhan tahun 1444 H ini tiba.

Adanya program wakaf perangkat lampu tenaga surya yang masih bergulir dari tahun ke tahun dari Tanmia Foundation diharapkan ikut menyambung kontribusi untuk menunjang kemajuan fasilitas pendukung pendidikan dan syi’ar dakwah di pelosok dengan segenap kemampuan yang ada. Bersama dengan elemen ummat bergerak bahu membahu membangun jalanya dakwah di pelosok tanah air adalah salah satu bagian mensukseskan program pembangunan baik fisik maupun non fisik demi terwujudnya perbaikan masyarakat dan peradaban yang lebih baik untuk izzul Islam wal muslimin.

Daerah khusus yang diprioritaskan pengiriman lampu panel surya Tanmia Foundation kali ini terbilang daerah-daerah terisolir di tengah lautan, inilah salah potret kehidupan pelosok Pulau Simuk, sebuah pulau di tengah Samudera Hindia di penghujung bagian Nias Selatan. Program wakaf panel surya ini juga melanjutkan kegiatan Tanmia Foundation yang sudah sejak 2019 telah mengadakan kegiatan Safari Dakwah di Pulau Nias ketika itu sebagai salah satu pulau terluar Indonesia di wilayah bagian Provinsi Sumatera Utara.

Menelisik lebih dalam kegiatan mata pencaharian warga pribumi asli Pulau Simuk yang sudah turun temurun adalah nelayan dan petani. Tatanan kehidupan sosial masyarakat satu sama lain masih saling bertautan tali kekerabatan kendati disini dalam satu keluarga masih beragam berbeda keyakinan agama. Kaum muslimin termasuk minoritas di Simuk akan tetapi kehidupan antar umat beragama tetap berjalan dengan harmonis menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dg batasan-batasannya. Dan baru saja beberapa tahun terakhir ini juga Pulau Simuk menjadi wilayah kecamatan pemekaran baru menjadi Wilayah Kecamatan Pulau Simuk setelah sebelumnya menjadi wilayah Kecamatan Pulau-pulau Batu Nias Selatan.

Masih ada sebagian besar warga asli tidak memilih hidup di tengah hiruk pikuk kota besar, padahal bukan tidak mungkin lebih menjanjikan ekonomi dengan pendapatan yang lebih besar, dan kehidupan lebih layak berdasarkan standar umum. Sebutlah, Ismail Garamba salah satu guru pewaris TPQ Masjid At-Taqwa Pasar Biduk Pulau Simuk ia lebih memilih untuk menetap dan menjadi guru sukarela di kawasan pedalaman Simuk.

Diluar kegiatannya mengajar sebagai honorer sekolah ia membuka TPQ untuk pendidikan anak-anak. Perkembangan pendidikan masih terbilang sangat sederhana dan bisa terbilang tertinggal untuk ukuran saat ini. Bangunan sekolah terlihat tua termakan usia. Sekolah hanya ada beberapa saja dan sarana ibadah pun terbatas. Belum lagi jaringan listrik disini hanya mengandalkan genset dalam hitungan jam saja setelah itu sunyi gelap gulita. Akses komunikasi pun terkadang muncul tenggelam hilang jaringannya.

Berdasarkan kondisi lapangan kadang timbul rasa miris keprihatinan dan kepedulian, merasa prihatin dengan sarana dan prasarana penunjang kegiatan dakwah dan pendidikan yang belum memadai.

Selama ini, memang masih banyak daerah di Indonesia, khususnya pulau-pulau terluar dan terpencil yang masih belum mendapatkan akses jaringan listrik dan komunikasi. Salah satunya di Pulau Simuk Nias Selatan. Pulau Nias sendiri termasuk salah satu bagian kabupaten di provinsi Sumatera Utara yang memiliki daerah kepulauan, yang mana ada puluhan pulau tak berpenghuni.

Salah satu kendalanya di Simuk untuk mendapatkan jaringan sinyal terpaksa harus berjalan jauh ke pesisir atau menaiki tempat yang lebih tinggi dulu, untuk bisa berpesan berkomunikasi dengan seseorang yang berada di wilayah lain ataupun sebaliknya saat menerima pesan.

Ismail, sebagai pengajar TPQ, berharap kondisi ini menjadi perhatian khusus berbagai pemegang kebijakan pemerintah daerah, juga semua pihak. Setidaknya, semangat anak-anak Simuk dalam menggapai impian bisa didukung dengan sarana dan prasarana belajar yang memadai.

“Saya sangat berterimakasih pada Tanmia Foundation dan berharap untuk ke depannya, kegiatan TPQ ini terus bertahan dan menjadi pondasi pendidikan bagi anak-anak, sehingga mendorong adanya SDM yang unggul, sarana dan prasarana yang memadai, sehingga visi, misi, dan cita-cita pendidikan bisa tercapai,” ungkap Ismail dalam pesan singkatnya lewat seluler.

Bagi Ismail, mengajar di sekolah dan TPQ seperti menjawab penggilan hatinya. Ia pun mengungkapkan keluh kesahnya sebagai pengasuh TPQ masjidnya, banyak anak-anak di daerah pedalaman yang membutuhkan pendidikan dan bimbingan, tetapi sayangnya masih belum banyak pihak yang datang menjawab solusi kebutuhan mereka.

Salah satu yang menjadikan pendidikan berkembang di suatu daerah ialah kesadaran masyarakat untuk menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dengan di dukung oleh sarana dan prasarana memadai. Inilah bagian realita dakwah di tanah air yang memerlukan sumbangsih nafas panjang. Semoga Allah mudahkan.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Daurah-quran-aceh

Daurah Al Quran Aceh Oleh Yayasan Tanmia

Daurah-quran-aceh-tanmia2

Sebuah kebanggan bagi kami dapat bertemu dengan para guru Al Quran Aceh Tamiang, bagaimana tidak mereka adalah Ahlul Quran, mereka sehari – hari berkutat dengan Al Quran, persiapan acara ini sudah dilaksanakan jauh – jauh hari demi mensukseskan kegiatan tersebut, tanggal 16-17 January 2023 lalu acara pun terlaksana dengan baik di aula kantor camat Banda Mulia Aceh Tamiang.

Daurah di aceh kali ini mengusung tema Al Quran, tepatnya menjadi guru Al Quran yang berkualitas, Alhamdulillah acara kali ini disambut sangat antusias oleh para peserta, peminat daurah tergolong tinggi karena dari 60 peserta yang kami batasi demi mendapatkan kualitas dan agar lebih maksimal namun permintaan hadir hingga 80 orang, 95% pesertanya adalah dari kalangan pemuda dan pemudi, ini sekaligus mengisyaratkan semangat kaula muda untuk bangkit dengan Al Quran untuk memperbaiki generasi.

Daurah-quran-aceh-tanmia

Berbagai macam hadiah sudah kami siapkan untuk para peserta yang sengaja kami bawa dari jakarta, hadiah berupa mushaf Al Quran, buku doa dan buku hafalan Al Quran untuk anak, alhasil para peserta dengan antusias mengikuti kegiatan, para peserta yang aktif akan mendapatkan hadiah.

Daurah kali ini terbilang sangat istimewa karena acara Pelatihan kali ini diisi oleh Al Ustadz Arham Ahmad Yasin Lc, MH beliau tokoh guru Al Quran yang sudah tidak asing lagi di kalangan dunia pesantren dan Tahfizh, kiprahnya dalam dunia Al Quran sangat beragam, diantaranya sebagai guru ngaji, Menyusun Mushaf Ash Shahib, Al Itqan, Al Imam, juga penulis buku.

Daurah-quran-aceh

Di akhir acara para peserta meminta kepada yayasan Islam Attanmia sebagai penyelenggara kegiatan untuk mengadakan kegiatan serupa untuk mereka agar kemampuan mereka terhadap Al Quran lebih baik sehingga hasil didikan mereka lebih berkualitas, kami berterima kasih kepada pihak – pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Mata Air Berkah Untuk Perjuangan Dinniyah Hidayatul Muttaqin

Awal tahun 2023 ini, Tanmia Foundation melalui program wakaf sumur melakukan pengeboran sumur di Pesantren Dinniyah Hidayatul Muttaqin, Kapongan Situbondo ( 5/01/2023). Hal ini dalam rangka memfasilitasi ketersediaan air untuk keberlangsungan kegiatan tahun ajaran baru dan persiapan menyambut bulan Ramadhan tahun 1443 H ( 2023 ) tahun ini.

Perjalanan kegiatan dinniyah yang selama ini berlangsung masih bersifat kekeluargaan karena sejumlah santri yang sekarang berjumlah 50-an anak berasal dari sanak keluarga yang masih tinggal berdekatan dusun lingkungan bersebelahan.

“Adanya dinniyah Hidayatul Muttaqin adalah salah satu tempat yang nyaman bagi anak-anak santri dan orang tua untuk mengikuti program pendidikan dinniyah dan ruang berinteraksi mendalami ilmu agama sejak dini”, ujar Ustadz Fathollah pada pihak Tanmia.

Cikal bakal kegiatan dinniyah Hidayatul Muttaqin sudah melewati generasi masa ke masa, dengan di awali berdirinya bangunan mushola sejak tahun 1980 oleh mendiang Ayah Rasyidi yang sudah beberapa tahun lalu wafat. Adapun kini, penerus pengelola dinniyah diteruskan oleh ahli waris penerusnya Ustadz Fathollah sebagai generasi penerus selanjutnya.

Jenjang masa pendidikan dinniyah bermula dari tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah yang berjalan selanjutnya santri rata-rata melanjutkan ke jenjang pendidikan pesantren untuk menuntaskan materi dinniyahnya. Sekilas materi dinniyah pun sederhana, hafalan dan panduan fiqih ibadah sehari-hari dan selama ini kegiatan bersifat cuma-cuma tanpa ada pungutan biaya pendidikan.

Kendati tanpa biaya aspek kualitas pun tidak jomplang karena memang kebiasaan untuk ikutan kegiatan mengaji dinniyah sudah berlangsung di masyarakat secara turun-temurun. Hanya saja ditengah arus disrupsi digitalisasi modern saat ini tak bisa dihindari adanya arus negatif pasang surutnya baik sisi kualitas dan kuantitasnya.

Adanya fasilitas sumur bor untuk Dinniyah Hidayatul Muttaqin menjadi salah satu lahirnya jariyah kebaikan bagi muwakifnya dan tanggapan positif untuk peningkatan kemajuan para santri yang akan dicapai ditahun-tahun yang akan datang dengan berbagai tantangan dan rintangan yang masih dihadapi.

Sisi lain yang perlu digaris bawahi adalah dominan etnis Jawa Madura Kepulauan ( Pulau Sapudi ) masih mendominasi sebagian besar wilayah Situbondo dengan corak kehidupan khas dialek Madura sehari-hari menjadi warna tradisi yang sangat khas melekat dalam sisi pergaulan dan kehidupan lingkungan kaum santri. Begitu juga hubungan darah dan tali kekeluargaan sangat erat satu dengan yang lainnya menjadi hubungan kekerabatanya menjadi kokoh tak terpisahkan sehingga menjadi rumpun yang terus berkembang dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Sisi lain Situbondo sebagai salah satu kota bersejarah santri di Jawa Timur tidak terlalu berlebihan untuk mengingat kembali landmark sejarah simbol kota Santri Situbondo dengan Ribuan jejak santri sudah terlahir dan terus membekas hampir lebih satu abad dari sejak jaman kolonial Belanda dengan jejak perjuangan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo yang kala itu diasuh oleh Kiai Kharismatik Pahlawan Nasional, KHR As’ad Syamsul Arifin menjadi tonggak sejarah berdirinya cikal bakal Pesantren yang masih berdiri hingga saat ini. Berharap semoga dari berkah mata air yang memancar lahirlah para santri yang siap melanjutkan perjuangan untuk izzul Islam wal muslimin.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Tanmia dirikan Mushalla darurat di Cianjur

Tim Tanmia kembali lagi ke lokasi gempa Cianjur, Kali ini kami dan kawan-kawan membawa bantuan seperangkat alat ibadah dan musholla.

Di beberapa lokasi masyarakat terdampak sudah mulai mendirikan musholla darurat dengan inisiatif pribadi namun dikarenakan kurangnya alat bahan dan tenaga tukang hasilnya pun sangat tidak memungkinkan untuk digunakan warga sholat.

Kp gunung lanjung 2 Rt 05 rw 7 Desa Cijedil Kec. Cugenang merupakan salah satu lokasi yang akan kita buatkan musholla, Dan insya Allah akan di manfaatkan oleh 37 kk 150 jiwa muslim.

Kami mengajak sahabat Tanmia sekalian ikut andil dalam kebaikan ini.

Semoga Allah balas kebaikan dengan keberkahan. Aamiin

Relawan Tanmia
Fadhl Kamil
Cianjur, 03 Desember 2022

 

Peduli Rumah Allah pasca gempa Cianjur

Tim Tanmia dan beberapa relawan bergegas berkunjung ke lokasi bencana gempa Cianjur, banyak hal yang kami dapatkan disana, dari kesedihan, kehawatiran, kepanikan sampai kebahagiaan ada disana ( 25/11/2022 ).

Antusiasme masyarakat Indonesia dalam penggalangan donasi kali ini sangatlah tinggi. Bagaimana tidak, perjalanan kami dari Bekasi hingga Cianjur sepanjang jalanan dipenuhi mobil-mobil dengan misi kemanusiaan yang membawa bahan logistik dari sandang, papan dan pangan.

Sekilas kami bercengkerama dengan salah satu warga di Desa Longkewang RW 05 RT 05 Kec. Cugenang. “Alhamdulillah pak, untuk kebutuhan konsumsi dua pekan kedepan insya Allah masih aman”, beliau sembari bercerita sambil tersenyum bahagia.

Yang menarik adalah hari ini mereka tetap tersenyum bahagia meski sebenarnya mereka tengah berduka. Di desa ini adalah salah satu lokasi dengan kerusakan terparah, rumah hancur, masjid pun ikut hancur, tak luput listrik pun ikutan padam dan menuju lokasi pun harus dengan penuh perjuangan.

Kali ini kami tertarik dengan satu kisah si bapak tadi. “Masjid kami habis pak, di wilayah RW 5 ada 7 musholla dan 1 masjid. Semuanya habis tak tersisa”, ucap si Bapak.

Insya Allah kami beserta kawan-kawan relawan akan membangun masjid sementara disini, kita peduli korban bencana Cianjur, kami Peduli terhadap agama dan jiwa mereka. Kami mengajak sahabat dermawan sekalian untuk membantu dalam pengadaan masjid ini. Saling bahu membahu dalam kebaikan, bersatu dalam pengadaan tempat ibadah kaum muslimin.

Semoga kebaikan sahabat dermawan Allah balas dengan pahala jariyah, keberkahan serta kelapangan rizki.

Relawan Tanmia
Fadhl Kamil
Cianjur, 28 Nov 2022

Hari Santri di Warsawe, Mengembalikan Semangat Ruh Pengabdian dan Perjuangan

Hari santri2

Puncak peringatan hari Santri 22 Oktober 2022 ini diperingati segenap para Kyai pengasuh pelbagai pimpinan pesantren. Tak luput juga para pengemban amanah rakyat dari aparatur pemerintah baik pejabat dan rakyat ikut serentak suka cita menyambutnya sebagai pengingat dan pembangkit juang untuk dikabarkan ke penjuru tanah air.

Hari bersejarah yang mengusung makna penting “Berdaya menjaga martabat kemanusiaan’, menjadi slogan pesan utama pada peringatan Hari Santri Nasional tahun 2022 yang diperingati kemarin ini, Sabtu, 22 Oktober 2022.

Isi mandat Resolusi Jihad adalah tunas cikal bakal yang melahirkan adanya momentum heroik lahirnya Hari Santri Nasional yang akan dikenang sepanjang sejarah perjalanan bangsa ini. Ide gagasan sosok seorang kiai kharismatik KH. Hasyim Asy’ari seketika itu menyulut semangat perjuangan kaum santri melawan penjajah seantero belahan negeri. Ruh jihad yang membangkitkan ruh patriotisme terhadap tanah air dengan menghidupkan kembali denyut nadi keberanian melawan tirani para penjajah. Para pejuang yang sebagian besar adalah kiai dan alim ulama kaum santri di masa membela kemerdekaan masa itu setia mengikuti titah para Kiai dimana pun berada harus tampil menjadi garda barisan terdepan dalam kebenaran.

Di hari momentum heroik ini pun kabar dari pedalaman pelosok Manggarai Barat Flores NTT pun menyibak kiprah jejak kiprah para alumni Pondok Pesantren Al-Itqan, yang masih mengeyam masa bertugas. Hari-hari rutinitas menjadi status pengajar muda merupakan bagian penting dari tugas selama pengabdian. Kelak akan tiba suatu saatnya nanti akan teringat abadi dalam catatan ingatan pengalaman yang tak mungkin berulang kenanganya pengabdian dengan segala proses lika-liku pahit manisnya.

Da’i pedalaman Warsawe Flores Nusa Tenggara Timur, Ustadz Muhammad Ramli mengatakan bahwa salah satu terpenting upaya untuk memahami makna ghirah perjuangan Hari Santri adalah dengan mengerti sejarah yang menjadi proses latar belakang berjuangnya. “Sehingga kita dapat merasakan bagaimana perjuangan santri untuk diteladani dan diteruskan” tuturnya pada Tanmia.

Ia menjelaskan juga, saat ini kegiatan rutinitas program utama di Masjid Uswatun Karima yaitu pembinaan pendidikan anak-anak pedalaman yang masih dalam tahapan rintisan saat ini. Sekitar belasan orang tua santri yang berasal dari pelbagai perkampungan pedalaman menaruh harapan besar agar hari-hari anak-anaknya bisa mengikuti kegiatan belajar dan pembinaan yang diselenggarakan oleh Masjid dan TPQ Uswatun Karima.

Pada waktu pagi sampai siangnya mereka belajar di madrasah sementara pulangnya mereka tinggal di asrama pesantren masjid. Nampaknya sangat ideal untuk diterapkan di saat kemajuan zaman sudah terus berubah mengikuti modernisasi digital, tapi walhasil pembinaan pendidikan anak-anak tetap berjalan alamiah dengan penuh kesederhanaan dan bermodal nekad semangat kesungguhan “man jadda wa jada” karena disinilah ruh-ruh perjuangan kader santri ditempa dibentuk disiapkan.

Realitas peran para santri pengabdian pun tidak bisa dianggap sepele dimana pun posisi dirinya berada ditempatkan akan memberikan sumbangsih peran sebaik-baiknya dengan segenap ruh jiwanya dan semangat juang kemandiriannya. Apalagi ketika harapan dan kenyataan timpang tidak serta merta meruntuhkan tekad kesungguhan dengan apa yang sudah diniatkan.

Tidak ada rasa syukur yang paling tepat ditunaikan di tempat pengabdian santri selain mengajarkan ilmu dan mengalirkan pahala kebaikan dengan menyiapkan generasi rabbani yang sempurna karena iman dan takwanya. Ilmu dan ketakwaan yang saling menguatkan dan menyempurnakan. Sungguh, Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat bagi siapapun yang dikehendaki-Nya.

Kiprah sejarah keteladanan santri dan ulama terdahulu tidaklah instan seketika diraih. Proses perjalanan narasi panjang penuh pengorbanan dan perjuangan. Tidaklah ada makan siang gratis. Tidak bisa menunggu durian runtuh, bila belum menyemai tanaman dengan sungguh-sungguh. Berkarya mesti diraih dengan mujahadah bukan berlenggang berpangku tangan tanpa berbuat apapun yang bermanfaat untuk maslahat.

Anugerah yang besar momentum Hari Santri ini bisa menjadi refleksi santri di masa sekarang sebagai lampu obor penerang yang tak lekang oleh waktu dan tergilas tertindas oleh lajunya zaman. Inilah nilai-nilai yang bisa diwariskan tentang pentingnya nilai-nilai iman yang membuahkan akhlaqul karimah yang tinggi yang harus menjadi ruh spirit utama santri.

Sebagaimana petunjuk ayat suci firman-Nya :
“Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. [ Qs. Al Ankabuut : 69 ].

 

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Sumur Nurul Barokah Telah Mengalir, Berkah Untuk Anak-anak TPQ Manarul Falah

sumur bor wakaf

Kebutuhan Air menjadi fasilitas penting di Mushola Nurul Barokah dan TPQ Manarul Falah Tanjung Kamal Timur Kecamatan Mangaran, Kabupaten Situbondo Jawa Timur dalam mendukung pengembangan pendidikan dan dakwah Alquran kini semakin lengkap.

Lembaga pendidikan TPQ Manarul Falah yang yang berdiri secara resmi sejak 2013 ini bernaung di bawah asuhan Ustadz Masnawi dengan dikelola secara swadaya bersama masyarakat setempat. Baru-baru ini Tanmia Foundation telah mewakafkan sumur bor guna mendukung pengembangan pendidikan TPQ mushola tersebut, sehingga kini telah dilengkapi dengan fasilitas baru, guna mendukung pengembangan berlangsungnya pendidikan. Metode Qiroati menjadi kurikulum utama dalam pembelajaran para santri selama ini.

Serah terima wakaf sumur bor untuk Mushola Nurul Barokah telah diterima langsung oleh para pengurus mushola bersama para santri dan juga pengasuh TPQ, Ustadz Masnawi ( 18/10/22 ).

Sumur bor yang sudah siap beroperasi akan mendukung kegiatan rutinitas TPQ yang berlangsung tiap hari dari mulai sebelum Ashar hingga menjelang waktu Maghrib, kecuali hari Jum’at saja yang libur tiap pekannya.

Berdirinya pendidikan TPQ waktu itu adalah semangat inisiatif dari para pengurus serta para pengajar yang melihat kegelisahan akan keadaan pendidikan anak-anak di lingkungan masyarakatnya.

“Maka Alhamdulillah, ini luar biasa dengan diberikannya program wakaf sumur untuk tempat anak-anak TPQ mengaji karena selama ini semua swadaya kami usahakan dari awal memulai dengan merintis pendidikan Alquran, semoga bermanfaat dunia akhirat menjadi percontohan. Sehingga semuanya mendapatkan banyak jariyah dari kebaikan semua ini,” terang Ust Masnawi pada pihak Tanmia.

wakaf-sumur-bor-tanmia

Masnawi menambahkan, sesuai visi misi pendidikanya TPQ, ini memang gratis sejak awal didirikan, adapun anak-anak santri berasal dari berbagai latar belakang dari kalangan dhuafa hingga yatim ikut bersama-sama dalam pembelajaran Alquran selama ini. Sehingga masih terus berupaya untuk bertumbuh dan mengembangkan lagi konsep pengelolaan pendidikan TPQ yang lebih baik lagi ke depan. Sekarang masih ada sejumlah 40 santri TPQ yang hari ini masih mengikuti belajar secara rutin tiap pekannya.

Sesudah tamat TPQ ini juga mendorong para wali santri maupun para wali murid untuk melanjutkan pendidikan putra- putri mereka di pesantren sebagai pilihan utama mendidik anak-anak.

“Saat ini kami juga sudah menyiapkan anak-anak untuk minimal hafal Juz Amma melalui metode Qiroati sebelum mereka masuk ke jenjang Tsanawiyah maupun masuk Pesantren,” tambah Masnawi.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Sumur Wakaf Telah Mengalir, Kuatkan Kebersamaan Masyarakat di Pondok Pesantren Muadz bin Jabal

Masyarakat Dusun Simo Kidul menyambut dengan antusias dengan berdirinya tahap pembangunan area Pesantren Muadz Bin Jabal Kebak Kramat Karanganyar yang terus berikhtiar membangun dalam memajukan pendidikan yang berbasis islam.

Baru-baru ini Tanmia Foundation juga melakukan pengeboran sumur wakaf untuk Masjid Pesantren Muadz Bin Jabal tepatnya di Desa Kebak Dusun Simo Kidul Kecamatan Kebak Kramat Karanganyar Jawa Tengah yang baru selesai finishing pembangunannya.( 18/09/2022)

Pengeboran sumur relatif tergolong mudah karena menggunakan alat bor spesialis sumur dalam yang bisa menembus lempengan batu keras sehingga seketika mendapatkan sumber mata air bisa menemukan kualitas sumber mata air yang paling bagus. Pada prosesnya memang selama seharian pengeboran menemui kerja berat untuk menembus batu keras. Tapi akhirnya setelah pengeboran di hari berikutnya, akhirnya didapatkan sumber mata air di kedalaman 30 meter dimana merupakan pusat cekungan sumber air dibawah lempengan bebatuan.

Sejak tahun 2020 komplek pesantren yang mulai didirikan belum ada tanda-tanda pembangunan fisik, tempat belajar masih numpang berada di rumah-rumah warga dan fasilitas utama seperti tempat belajar dan sumber air sumur untuk kegiatan para santri pun belum ada di lokasi.

Area pesantren seluas 1.650 m² adalah amanah wakaf yang sudah diserahkan para muwakifnya untuk dapat dikembangkan dan diharapkan dapat memajukan pendidikan untuk para santri dan masyarakat di sekitar pesantren. Saat ini para peserta didik masih berjumlah 24 santri yang berasal dari lingkungan sekitar dan dusun desa tetangga dan terus bertambah berdatangan satu per satu.

“Adanya wakaf sumur yang dibangun oleh muhsinin Tanmia Foundation ini sangat membantu kemajuan kegiatan belajar para santri di Pesantren Muadz Bin Jabal yang sedang dalam tahapan perintisan”, ujar Ustadz Fajri pimpinan pesantren Mu’adz bin Jabal memiliki keunggulan program pesantren dinniyah tahsin – tahfidz setiap Sabtu – Ahad.

“Alhamdulillah, ini rasa syukur yang luar biasa karena pertama kali tahu datang kesini tahun 2020, belum ada bangunan dan fasilitas seperti ini. Karena yang namanya Pondok Pesantren dalam membangun tidak selalu menunggu ada biaya uang dulu baru mulai membangun,” terang Bapak Saman tokoh warga setempat yang memberi apresiasi saat proses pembangunan sumur di lokasi.

Ia menambahkan bahwa daerahnya tersebut sering terjadi kekeringan air waktu musim kemarau sehingga sangat bersyukur dengan adanya wakaf air, harapannya air di pesantren bisa juga dimanfaatkan warga sekitar dikarenakan sering terjadinya kekeringan saat musim kemarau tiba.

Ustadz Muhammad Fajri, atau lebih akrab disapa dengan Ustadz Fajri sebagai pimpinan pesantren menambahkan, sedari awal pembangunan Pondok Pesantren ini modal utamanya adalah memiliki niat yang kuat dan kekompakan para jama’ah masyarakat setempat yang telah membantu kemudahan proses perjalanannya bahkan seketika adanya kesulitan – kesulitan ditengah jalanya juga.

“Membangun fasilitas pendidikan ummat tidak ada istilah ruginya karena akan terus mengalir jariyah kebaikan-kebaikan yang telah disumbangkan walaupun kita sudah tiada,” terang Joko Supriyanto yang juga selaku salah satu pendiri Pesantren Muadz Bin Jabal.

Meski ditengah perkampungan pedesaan penuh kesederhanaan, harapan dengan adanya kehidupan di pondok pesantren akan menambah arti lebih dari kebahagiaan makna hidup masyarakat setempat. Keadaan masyarakat dan dakwah kampung sekarang setelah adanya pesantren semakin menambah antusias warga untuk kebaikan sangat terlihat. Hal tersebut dibuktikan dengan tidak sedikit yang ikut kontribusi dalam kelancaran kegiatan Pesantren baik pembangunan maupun kegiatan belajar mengajar. Inilah potret kecil harapan yang mulai terlihat di Pesantren Tahfizh Mu’adz Bin Jabal Kebakkramat Karanganyar, Jawa Tengah.

Ali Azmi
Relawan tanmia

Wakaf Buku Referensi Untuk Da’i, Menggugah Semangat Merdeka Berjuang Di Batas Negeri


Hari kemerdekaan tahun 1945 itu telah berlalu bagi segenap bangsa Indonesia. Wajah yang penuh berbinar-binar dan hati yang bahagia menggelora itulah gambaran semangat para pejuang di hari kemerdekaan itu. Rasa sakit dengan peluh keringatnya lelah seketika sirna terbayar dengan suara lantang takbir kemerdekaan. Mungkin itu sedikit mewakili gambaran perasaan dan suasana waktu itu.

Suasana haru juga mewarnai hari kemerdekaan di Pedalaman Papua Barat, di Distrik Bintuni, Kab.Teluk Bintuni. Alhamdulillah, penyerahan Paket Wakaf Buku Referensi Da’i dari Tanmia Foundation tiba untuk para da’i dan imam masjid tepatnya di Masjid Al-Ma’un kampung Argosigeremai Bintuni Timur. (17/08/2022)


Jalan panjang kebaikan menuju pedalaman Papua Barat tidaklah semudah yang dibayangkan, ada doa dan harapan ikhtiar yang menyertai panjangnya perjalanan. Menuju lokasi harus melewati medan yang menguji nyali dan membutuhkan biaya materi yang cukup besar.

“Rasa syukur kepada Allah atas semua nikmat Maha Pemurahnya sehingga atas ijin Allah semua urusan pengiriman wakaf buku referensi ini dimudahkan. Alhamdulillah pengiriman wakaf buku tiba jelang momentum hari-hari kemerdekaan setelah sekian lamanya,” terang Ust Busran pada pihak Tanmia.

Hari-hari perjalanan da’i pedalaman di Teluk Bintuni sudah dilewati Ust Busran (sapaan akrab memanggilnya) sejak tahun 2012. Menjadi seorang da’i sekaligus pengasuh Panti Asuhan Muhammadiyah menjadi bagian penting dalam proses pendidikan masyarakat dan anak-anak pedalaman Teluk Bintuni hingga saat ini. Pendidikan yang dipersiapkan dari tingkat TK-SD dan SMP dari tahun ke tahun berjalan bersemi seiring berjalannya waktu kendati banyak onak dan duri menyertainya.

Kegiatan pendistribusian wakaf buku referensi Tanmia Foundation untuk para da’i ini sekaligus menjadi momentum motivasi dan apresiasi mengisi hari-hari kemerdekaan dalam rangka menjalin ukhuwah persaudaraan dan meningkatkan kemampuan skill para da’i juga kecerdasan anak-anak tanah air dimana pun berada. Apalagi di era digitalisasi 4.0 membuka mata setiap kita tentang pentingnya sebuah kemajuan perubahan dalam segala bidang kehidupan tak lain demi maju dan jayanya syi’ar dakwah untuk izzul Islam walmuslimin.

Literasi untuk da’i menjadi bagian penting untuk membangun dunia pendidikan yang menjadi ujung tombak maju mundurnya sebuah lingkungan atau maju mundurnya peradaban suatu bangsa apalagi buta aksara masih menjadi tantangan pekerjaan rumah yang belum ada tanda-tanda berakhirnya di penjuru tanah air.

 

Kemerdekaan yang ke-77 bagi NKRI ini akan terisi penuh makna dengan sejarah dari waktu ke waktu bahkan jejak perjalanan perjuangan akan penuh semangat berkobar-kobar seiring dengan kebenaran catatan sejarah yang dibingkai dalam literasi yang mewariskan nilai-nilai mulia untuk bekal pondasi pendidikan untuk para generasi penerus.

Menelisik kembali sejarah kemerdekaan adalah sebuah napak tilas perjalanan yang tidak akan pernah lepas dari tinta emas para Kyai dan Santri juga perjuangan nyawa dan tubuh berdarah-darah pengorbanannya. Jasa para pejuang kaum santri tidak akan terlupakan dari fatwa KH Hasyim Asy’ari dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan mengeluarkan fatwa jihadnya, atau yang lebih dikenal sebagai Resolusi Jihad. Fatwa Jihad yang seketika itu mengobarkan perlawanan pada kaum penjajah sampai darah penghabisan. Tetesan semangat darah perjuangan menimbulkan dampak besar dalam menggerakkan umat Islam untuk berjihad melawan tentara penjajah sekalipun berbekal bambu runcing dan mengangkat bilah senjata seadanya. Tentara penjajah sekutu yang disokong berbagai persenjataan yang canggih seketika itu pun tetap tidak mampu memadamkan nyala perjuangan yang membara dan membendung semangat Jihad yang telah dikobarkan oleh ribuan Kyai dan Santri. Bahkan, tak sedikit jenderal pimpinan penjajah sekutu pun tewas di tangan-tangan pekik takbir para santri.

Kabar dunia pun sontak bergolak menggelegar dengan ghirah para pejuang santri, rakyat dan ulama di medan laga pertempuan tahun 1945-an yang sangat heroik. Bahwa semangat membela kebenaran suci untuk merebut kemerdekaan hakiki yang dilandaskan kepada “ghirah rasa cemburu” untuk membela agama Allah bisa menjadi energi yang sangat besar dan sanggup mengalahkan segala kekuatan yang mustahil dikalahkan bila diperhitungkan diatas kertas saat itu.

Serasa menikmati hari kemerdekaan bagi da’i di pedalaman nun jauh disana menjadi rindu yang bisa menggugah hari-hari perjuangan kita untuk terus bergerak abaikan halangan dan rintangan demi meraih ridhoNya semata. Manfaatkan secuil apapun peluang kebaikan dengan mengirimkan doa terbaik pada para da’i dan siapapun yang tengah berjuang di tanah rantau pedalaman di sana.

Terselip harapan agar hari kemerdekaan hari ini kelak menjadi hari kemenangan dihari hisab-Nya. Bersahabat lewat kokohnya tali iman di dunia yang mengeratkan lagi berjumpa di JannahNya untuk menuntaskan rindu yang tengah bersarang. Merdeka dengan ridho-Mu Yaa Rabb.

 

Ali Azmi
Relawan tanmia

sumur wakaf 4

Sumur Wakaf Membantu Kegiatan Anak-anak TPQ Telah Mengalir

sumur wakaf 4

Tanmia Foundation berhasil melakukan pengeboran sumur wakaf di TPQ Nurunnisa dan Mushola Al-Amin Dukuh Krajan Pokaan Kecamatan Kapongan Situbondo Jawa Timur (3/08/2022).

Tahun hijriah yang baru saja berjalan dalam hitungan hari sekaligus menambah bahagia karena adanya tambahan fasilitas sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk para santri TPQ dan jama’ah. Hadirnya sumur wakaf ini sudah lama dinantikan oleh pihak pengurus selama ini.

TPQ Nurunnisa, berdiri atas inisiatif Ummi Hasanah dan Abah Hasan sejak tahun 1997, berawal dari keinginan keduanya untuk mengajar ngaji anaknya sendiri dan anak para tetangganya karena dimasa itu TPQ pun belum ada di kampungnya.

Sejak tahun berdirinya hingga saat ini tempat mengaji pun cukup sederhana hanya menggunakan sepetak tanah halaman rumah lalu dibangunnya dengan papan kayu ala kadarnya. Kendati demikian yang cukup menggembirakan ialah tidak sedikit para santri yang sudah lulus sudah selesai masuk ke bangku kuliah dan kembali mengajar santri-santri TPQ kembali.

sumur wakaf 2

Untuk berjalannya kegiatan TPQ dimulai hari Senin sampai Ahad setiap hari ba’da maghrib, hanya hari Kamis saja yang biasanya diliburkan. Operasional kegiatanya pun gratis tidak memungut biaya sama sekali dari para peserta santri didiknya mengingat sejak awal berdirinya TPQ diniatkan untuk berjuang mendidik anak-anak agar bisa mengaji sejak dini.

Meskipun sedari awalnya TPQ Nurunnisa masih kecil dan sederhana sekali, tak mengubah bangunan yang ada seperti sekarang. Tidak seperti lain pada umumnya, tentu saja berganti tahun berlalu banyak pula perbaikan dan pembangunan. Sederhana tetaplah sederhana hanya kini mulai ada warna kreasi kegiatan karena generasi dan berubahnya zaman.

“Tiap malam tiba, suasananya TPQ ini akan dipenuhi anak-anak. Mereka akan ikut belajar mengaji dan tadarus dari usai Maghrib hingga Isya bahkan seperti pada hari tahun baru islam, 1 Muharram 1444 H ini kadang bisa hingga larut malam dengan acara perlombaan,” terang Abah Hasan saat dihubungi lewat seluler.

Bangunan arsitektural TPQ sederhana ini tidak lagi ingin dibangun untuk dijadikan mushola karena sudah ada mushola khusus disebelah samping utaranya yang berjarak hitungan meter saja biasa digunakan untuk shalat berjamaah.

sumur wakaf 3

Lain halnya juga dengan TPQ Mushola Al-Amin yang dirintis oleh Ust Rejo Rizal, seorang alumni pesantren salafiyah Sukorejo Situbondo di tahun 1981. Usai lulus dari pesantren bersama dengan mendiang ayah dan sanak keluarganya ia dirikan Mushola dan TPQ yang turut juga melanjutkan perjalanan perjuangan pendidikan mengaji anak-anak di kampungnya.

“Alhamdulillah, tak terucap rasa syukur bahagia tempat mushola yang sederhana ini mendapatkan wakaf sumur dari perhatian segenap muhsinin yang menyerahkan melalui Tanmia Foundation. Sungguh terharu begitu pemurahnya Allah Ta’ala memberikan kenikmatannya membantu kemajuan para santri kami,” pungkas Ust Rejo Rijal saat serah terima wakaf sumur pada pihak Tanmia.

Sesuai dengan namanya Mushola Al-Amin, posisi letaknya berada di halaman depan rumahnya. Lokasi tersebut adalah berstatus tanah yang telah diwakafkan. Untuk menjangkau lokasinya bisa ditemukan hanya 1 KM saja arah utara jalur poros utama Situbondo – Banyuwangi, tepatnya di utara alun-alun Kapongan .

Anak-anak kampung dukuh Krajan Pokaan disanalah anak- anak Mushola Al-Amin menghabiskan sore hari untuk mengaji TPQ. Bermain-main seketika guru belum datang dan mengaji hingga menjelang petang. Dari beberapa mushola (mungkin) yang saat ini masih ada yang mempertahankan anak-anak santri untuk mengaji. Mushola kenangan yang meninggalkan kesan dan pesan yang mendalam dalam bagi anak-anak santri untuk memulai mengenal belajar agama.

Ali Azmi
Relawan tanmia

Tahun Baru Hijriah, Pesantren Melahirkan Para Kader Da’i

Dalam bahagia datangnya tahun baru hijriah 1444 H sebait harapan setiap walisantri memiliki doa untuk anak-anak tercintanya kelak mereka menjadi pribadi yang shalih untuk dirinya, berbakti pada orang tuanya dan bermanfaat bagi ummat. Berbahagia hati juga para orang tua yang memiliki anak-anak bercita-cita menjadi da’i yang mewariskan tugas dakwah menyiapkan generasi penerus ummat dimana pun ia berpijak.

Di tahun kelulusan angkatan ke-3 tahun 2022 ini pesantren Al Itqan Jatisampurna Bekasi meluluskan sebanyak 7 santri dari berbagai asal daerah tanah air. Dari ujung timur Flores Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur, Alas Pulau Sumbawa dan Mataram Lombok Nusa Tenggara Barat, dan Aceh Tamiang Nangroe Aceh Darussalam.

Masa dimana setelah lulus pendidikan pesantren setelah itu ada kewajiban santri untuk menjalani masa pengabdian selama 1 tahun. Ikrar wisuda santri pengabdian pun telah diucapkan dihadapan mudir pesantren dan khalayak hadirin sebagai panggilan mulia dan latihan memikul pundak tanggung jawab. Pengabdian juga panggilan keyakinan untuk setia mengabdi tanpa ragu meski harus dikirim ke kampung – kampung pedalaman orang nan jauh bahkan sebagian juga harus pulang mengabdi di kampung halaman sendiri.

Warsawe Manggarai Barat, Lembah Santri Pengabdian
Warsawe adalah salah satu diantara tempat tugas dan kampung halaman santri pengabdian yang berada di Manggarai Barat NTT. Warsawe tentu berbeda dengan Warsawa yang menjadi ibukota negara Polandia di Eropa. Warsawe merupakan cikal bakal ibukota kecamatan Mbeliling yang merupakan daerah pemekaran pedalaman Manggarai Barat, Flores NTT. Daerah yang berada di kawasan lembah perbukitan yang berada di tengah hutan Flores dengan segala alami hijau alamnya. Warsawe hari ini tidak seperti dibandingkan 5 tahun lalu untuk menuju Warsawe ketika itu bisa membutuhkan waktu 2 jam dengan kondisi jalanan tanah berbatu. Namun saat ini seiring berjalannya waktu pembangunan untuk ke lokasi membutuhkan waktu 1 jam perjalanan darat dari dermaga Labuan Bajo Komodo.

Masjid Uswatun Karima, Tempat Santri Mengabdi
Masjid Uswatun Karima Warsawe menjadi saksi bersejarah dimana hidup suasana belajar dan mengajar dengan tumbuhnya generasi anak-anak dari berbagai pedalaman Flores khususnya Manggarai Barat. Masjid yang dibangun swadaya masyarakat setempat menjadi tempat tinggal yang nyaman untuk sejumlah belasan santri yang bersekolah dan sekaligus mengikuti program diniyah Masjid Uswatun Karima sejak tahun 2016 lalu. Tahun ini bersama pasang surutnya waktu tahun ini ada 25 murid baru yang mukim di asrama masjid yang datang dari berbagai pedalaman Flores.

Datangnya santri pengabdian Ma’had Al Itqan menjadi energi dan animo semangat baru yang diharapkan membantu tugas mengajar juga menjadi partner yang baik bermanfaat untuk membersamai ummat dan tangguh dalam melewati medan dunia pengabdian, in sya Allah.

Selain Masjid Uswatun Karima juga adanya kiprah SMP Muhammadiyah Warsawe menjadi pionir dalam babat alas menyemai bibit generasi anak-anak pedalaman untuk mengeyam pendidikan di bangku sekolah di tengah sepi sunyinya Warsawe masa itu. Semak-semak hutan yang lebat nan sunyi tak menyurutkan nyala semangat untuk membangun generasi harapan dengan sejuta impian yang boleh dibilang terjal mendaki perjalananya. Namun dengan segala izin-Nya tak ada kata mustahil bila segala ikhtiar dan doa kesungguhan telah ditempuhnya.

Dari Masjid Kembali Mengabdi Di Masjid
Lewat gerak para da’i dan syi’ar dakwah Masjid Uswatun Karima dengan segala dinamika programnya di tahun 2018 lalu telah mengantarkan anak-anak dari pedalaman untuk melanjutkan jenjang pendidikan di berbagai pesantren salah satunya di pesantren Al-Itqan. Dari memori yang teringat tertulis sejak 3 Agustus 2018, sebut saja Rizal dan Jihad adalah keduanya putra Manggarai Barat NTT yang berhasil lulus selama di pesantren dan kembali bertugas kembali mengabdi di kampung halaman tepatnya di Warsawe.

 

 

Berputarnya waktu 4 tahun terasa sangat singkat melumat semua kenangan dan menjadi salah satu catatan bersejarah bahwa keduanya menggenggam tekad untuk masuk pesantren dengan segala lika-likunya pengorbanan demi menuntut ilmu. Keduanya masuk pesantren ditahun 2018 hingga usai ditahun 2022. Alhamdulillah, dengan segala ikhtiar untuk betah dan sabar dilalui meski baru pertama kali merantau kala itu untuk menuntut ilmu bukanlah hal yang mudah dilewati prosesnya.

Mulai dari dorongan semangat orang tua dan usaha mengikhlaskan niat memperbaiki diri melanjutkan perjalanan menuntut ilmu di pesantren adalah hal yang luar biasa tanpa terbayang akan seperti apa gambaran diujung masa depannya. Akan tetapi juang tekad telah bulat diputuskan bahwa inilah alasan untuk sebuah perubahan generasi penerus masa depan yang harus abaikan halangan yang menghadang. Menatap kembali mengabdi untuk misi dakwah di kampung halaman impian memang terlihat sederhana tapi dibaliknya banyak keutamaan dan manfaat tentang sebuah perubahan yang lebih baik untuk diwariskan nilai-nilai syi’ar islam dengan segala kemuliaan akhlaknya dalam membangun sebuah lingkungan hidup bermasyarakat.

Pesantren Al-Itqan, Pendidikan Kaderisasi Da’i
Unit pesantren Al-Itqan sebagai wadah lembaga pendidikan kaderisasi da’i setingkat aliyah dengan masa program pendidikan selama 4 tahun diharapkan mampu melahirkan para alumni calon da’i yang telah mendapatkan bekal kurikulum Tahfidz, kurikulum Ilmu Syar’i dan kurikulum kepesantrenan nantinya dapat mengirimkan alumni kadernya untuk mengabdi menjadi da’i dan pengajar di berbagai daerah.

Dari rangkaian kisah dari berbagai tempat pengabdian semua memiliki latar belakang dan motivasi perhatian tersendiri. Sama halnya dengan Warsawe di pedalaman Nusa Tenggara Timur, saat ini juga di Lawang Awu Kalitengah Perbatasan Banjarnegara – Kebumen juga sebagai daerah tugas santri pengabdian pernah mengatakan bahwa daerahnya tersebut masih cukup banyak yang masih tergolong kering dengan adanya syi’ar dakwah islam kepada masyarakat. Kendalanya, satu diantara yang paling jumlah da’inya masih sangat jarang.

Pendidikan pesantren saat ini masih menjadi pilihan dan tumpuan solusi sebagai salah satu pencetak lahirnya kader-kader da’i ilallah untuk menempa keikhlasan dan kesungguhan dalam memperoleh kemampuan dan keterampilan berdakwah membina masyarakat.

“Berawal dari banyak motivasi para orang tua hingga akhirnya berbagai santri datang dari berbagai daerah menimba ilmu di sini ( Pesantren Al-Itqan —Red). Insya Allah kalau besok mereka kembali ke rumah kampung halaman masing-masing, mereka bisa mengaplikasikan ilmu yang di dapat selama ini di pesantren,” ujar Ust Burhan salah satu da’i penggerak dari Pedalaman Sulawesi ketika datang mengantarkan para santri didiknya.

Pesantren Al-Itqan dengan berkembangnya waktu terus menyiapkan peserta didiknya agar mampu berdakwah di masyarakat nantinya. “Karena itu juga ada program pengabdian (untuk berdakwah di daerah) selama satu tahun. Melalui program baik ini saya berharap bisa mengirimkan peserta didik dari anak-anak daerah pedalaman untuk bisa ikut belajar dan memaksimalkan ilmu yang nantinya dapat bermanfaat ketika mereka selepas lulus nantinya selama empat tahun,” tutur Ust Ramli da’i yang merintis dakwah di Warsawe.

“Kegiatan santri pengabdian cukup beragam mulai dari mengajar TPA, mengisi kajian di majelis taklim ibu-ibu, dan melakukan silaturahim ke berbagai lapisan masyarakat dan berbaur dengan masyarakat dalam kegiatan kemasyarakatan”, tambah Ust Ramli.

Proses pengabdian dan dakwah juga memerlukan kesiapan mental agar terkikis rasa khawatir bila nantinya harus mengemban amanah untuk berdakwah di daerah terpelosok dan berpisah sejenak dengan sanak keluarganya. Akan ada juga saatnya waktu akan berpisah dengan orang tua atau keluarga terdekat dalam menunaikan tugas dakwah yang tak ada batas akhirnya.

Untuk itu tujuan pesantren dengan beragam program tujuanya bisa dikatakan ini dibangun untuk melahirkan para da’i. Sehingga program pengabdian ini memang dibentuk sendiri oleh pesantren agar bisa tetap mengirimkan dai-dai ke berbagai daerah.

Selain itu juga untuk memberikan wadah kepada para alumni santri pengabdian untuk mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah mereka pelajari di pesantren. Sehingga diharapkan dengan program pengabdian ini mereka bisa semakin tergerak menjiwai dan menghayati teori dan praktik yang telah mereka dapatkan di masa bangku pesantren. Memang ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan calon da’i sebelum mengemban tugas dakwah ke daerah pedalaman. Tentunya persiapan paling pokok adalah meluruskan niat dengan membersihkan hati diiringi pemahaman dan penguasaan ilmu agama.

Sehingga ketika terjun nanti, para calon dai tidak lagi gagap menghadapi berbagai pertanyaan tentang agama, mulai dari pertanyaan sederhana hingga pertanyaan yang cukup rumit untuk dijawab. Itulah mengapa perlunya kedalaman dan pemahaman ilmu agama ini sangat penting dengan disertai metode yang paling ringan memudahkan.

Metode pun turut serta menjadi faktor kesuksesan karena ia akan mengarakan kepada siapa (berdakwah), dimana, bagaimana cara mengajarkannya, juga bekal fikih dakwah ini juga penting untuk dikuasai seorang da’i sehingga seiring berjalannya waktu bisa membaca situasi dan kondisi serta kultur masyarakat agar lebih mudah diterima. Semoga jariyah kebaikan mengalir kepada siapapun yang ikut dalam setiap proses lahirnya calon kader-kader da’i ilallah. Barakallahufiekum.

Ali Azmi
Relawan tanmia

Awal Ajaran Baru, Tanmia Foundation Bagikan Seragam dan Perlengkapan Shalat Pada Keluarga Dhu’afa

Ada beberapa murid di MIN 2 Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur mendapat bantuan seragam dan peralatan shalat dari Tanmia Foundation sejak awal dimulainya tahun ajaran baru sekolah tahun 2022 ini.

Bantuan tersebut langsung diserahkan langsung relawan Tanmia Foundation ke lokasi rumah-rumah para murid MIN 2 Timor Tengah Selatan yang membutuhkan, Ust Zulkifli, dampingi bersama jama’ah Masjid An-Nur OeUe, Rabu ( 20/07/22) di Dusun OeUe Desa Mauleum Amanuban Timur.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari kegiatan di lapangan, bantuan seragam dan perlengkapan shalat ini merupakan amanah dari para muhsinin yang menyerahkan langsung lewat Tanmia Foundation yang sudah dari beberapa bulan sebelumnya dihimpun. Mulai dari seragam baru maupun layak pakai dan berbagai alat perlengkapan shalat lainya.

Kebutuhan tiap tahun murid di sebagian besar sekolah di pelosok negeri sangat berbeda-beda akan tetapi seragam sekolah menjadi kebutuhan utama yang kadang sulit di dapat terutama bagi mereka yang masih tergolong dhu’afa, sehingga tanpa harus memakai seragam sekolah yang masih baru-baru yang masih layak pakai pun masih sangat bermanfaat apalagi diberikan seragam secara cuma-cuma gratis dan ditambah alat-alat shalat.

Ustadz Zulkifli bersama salah satu wali murid  yang dihubungi mengatakan, sangat bersyukur bantuan yang diberikan sifatnya cuma-cuma berupa seragam sekolah lengkap, sajadah dan kain sarung.  Sedangkan untuk perempuan ditambah mukena.

Selain tujuannya untuk meringankan beban orangtua murid yang dhu’afa,  bantuan ini juga bisa diharapkan bisa memotivasi para murid dan berbagai pihak agar lebih giat lagi dalam beribadah.

“Kami bersama segenap wali murid akan terus mendoakan para pendukung dakwah dan segenap muhsinin Tanmia Foundation dari berbagai kalangan yang telah mendukung dan mengupayakan agar program ini terlaksana secara kontiniu dan berkesinambungan”, terang Ust Zul. Pihaknya juga berharap agar bantuan ini bisa bermanfaat bagi Santri baru.

Sedangkan M. Anwar Nobisa salah seorang orang tua murid yang mendapat bantuan ini mengaku cukup gembira. Diakuinya, saat anaknya mendaftarkan diri menjadi murid baru, belum ada pakaiannya.  Ia masih memakai pakaian seragam Tsanawiyah/SMP padahal ia sudah tingkat Aliyah/ SMA.

”Kita cukup bahagia bergembira,  selain diberikan seragam juga anaknya diberikan perlengkapan shalat. Alhamdulillah, sangat bersyukur bantuan seperti ini sangat membantu kondisi kami saat ini”, ujarnya.

Ali Azmi
Relawan tanmia

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id

    × Ahlan, Selamat Datang!