Bisa Mengajar Ngaji, Bekal Masa Depan Untuk Anak Di Pelosok Negeri

“Saya bahagia bisa meringankan beban orang tua, “ kata Nafsia, lulusan SMP Muhammadiyah Warsawe yang sekarang melanjutkan ke jenjang Pesantren disekitar Jabodetabek dengan beberapa teman-temannya tahun ajaran 2023/2024 ini. “Kami atas nama orang tua walisantri juga mengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya atas jasa para asatidz dan pengajar pesantren yang sudi mendidik, mengasuh anak-anak kami dengan segala perhatian dan pengorbanan,”tutur Ayah Ananda Amin walisantri Pesantren Al-Itqan yang tinggal di Dusun Ndewel, Desa Golo Ndoal, Mbeliling Manggarai Barat, NTT. Dalam beberapa tahun terakhir ini, sebagian besar murid SMP Muhammadiyah Warsawe adalah santri yang selama 24 jam bermukim di Asrama TPQ Uswatun Karima, Warsawe yang dominan dari desa-desa pelosok di Kecamatan Mbeliling dan Sano Nggoang di Manggarai Barat, NTT.

Belasan anak-anak santri yang notabene dari daerah-daerah 3T mengikuti program ala pesantren di TPQ Uswatun Karima dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, pasca beberapa alumnus program kaderisasi guru dan da`i yang dikirimkan dari daerah tersebut kembali pulang untuk mengabdi di daerah asalnya untuk kurun waktu selama satu tahun lamanya. Tidak semua daerah 3T beruntung. Banyak yang masih tertinggal baik akses pendidikan maupun kesehatan. Begitu pun anak-anak santri TPQ sebenarnya adalah anak-anak yang tidak bisa mengenyam bangku pendidikan. Menilik dari fenomena tersebut hadirnya para alumnus sebagai pengajar yang bekhidmat sebagai santri wiyata bhakti pengabdian merupakan medan laga perjuangan dan arena menyalakan api jiwa-jiwa gelora pengorbanan.

Hari-hari rihlah bersama santri misalnya, adalah jeda kegiatan sederhana yang membuat suasana hati riang gembira kendati suasana hening pedalaman membuat gejolak gelisah yang membosankan bagi anak-anak. Sangatlah sederhana dengan menggunakan kendaraan truk bak terbuka para santri bisa bertamasya meluapkan riang gembira dengan kawan-kawanya. Melepas canda berbagi dengan apa yang bisa dibawa untuk bekal merupakan modal kesederhanaan dan gaya bersahaja yang bisa ditanam untuk melatih kebiasaan gaya hidup. Dengan kata lain, keadaan memaksa harus bisa bertahan dan menyesuaikan agar bisa terus tumbuh dan berkembang. Inilah proses tarbiyah yang sedang berjalan dari waktu ke waktu untuk dapat mematangkan sebuah proses demi hasil yang dinanti-nantikan.

Menyiapkan keberlangsungan pendidikan yang berkelanjutan di titik-titik pelosok tanah air bukanlah hal yang mudah dan instan bisa terwujud tanpa adanya kolaborasi dan sinergi dengan berbagai pihak agar terjawab semua permasalahan yang terjadi. Selama ini, kawasan 3T menjadi momok yang termarjinalkan luput dari perhatian khalayak untuk memperjuangkan generasi-generasi penerus yang sarat dengan ilmu dan budi pekerti. Estafet kaderisasi SDM ( sumber daya manusia ) melalui para utusan santri daerah yang belajar ke kota adalah upaya menjawab kendala dan tantangan krisisnya da`i/guru yang bisa berkiprah di pelosok tanah air. Menggenjot semangat baru untuk menuntut ilmu dan menyiapkan para kader tunas-tunas baru tidak serta merta menjadi hal menarik dan disokong banyak pihak, karena memerlukan proses panjang bertahun-tahun. Tapi pada realitasnya, wujud peran nyatanya bisa dirasakan seperti halnya jejak perjalanan anak-anak TPQ Uswatun Karima Warsawe, Manggarai Barat, NTT.

Masih teringat Ustadz Ramli, penggagas berdirinya sekolah SMP Muhammadiyah dan TPQ Uswatun Karima Warsawe yang kini menampung sebanyak 40 anak-anak santri dari pelosok Manggarai Barat, NTT. TPQ yang secara alamiah lahir dari kegundahan hatinya melihat kegelisahan pendidikan anak-anak yang jauh dari kata layak ketika itu. Sejak tahun 2016/2017 jerih keringat payahnya hingga saat ini mulai bersemi, membuka senyum lebar bahagia kendati naik turun tangga ujian ada saja menghampiri pahit getirnya merintis pendidikan dan mengasuh pesantren di pedalaman.

Tahun ini adalah tahun kedua, pengiriman alumni pesantren Al-Itqan dibawah naungan Tanmia Foundation yang ditugaskan di Flores, Nusa Tenggara Timur setelah dua tahun berturut-turut anak-anak setempat mulai beranjak pulang bertugas untuk mengabdi ke kampung asalnya usai lulus belajar. Bekal-bekal ilmu yang telah diraih dibangku pesantren selama 4 tahun akan segera mereka ajarkan kembali kepada para anak-anak santri yang telah sekian lama menunggu kehadiran mereka beberapa saat. Hari-hari yang akan mulai padat dengan belajar dengan materi-materi baru seolah membangunkan tidur panjang impian dan harapan. Riuh semarak kebersamaan anak-anak yang tekun mengeja huruf-huruf ayat-ayat suci kalamullah akan membangkitkan inspirasi untuk melompat lebih maju sebagai bekal masa depan anak-anak membangun kampung daerah asalnya lebih baik.

Menyiapkan kader generasi hari ini untuk sungguh-sungguh belajar bukanlah hal yang sia-sia tanpa makna. Apa yang menjadi sulit bagi pendidikan anak-anak pedalaman menjadi energi kuat untuk solid melawan segala keluh kesah. Apa kurangnya perhatian dengan membiarkan anak-anak tertinggal adalah modal kegelisahan untuk segera bangkit bisa mendapatkan hak yang sama untuk nyaman mendapatkan pendidikan. Mereka adalah buah hati yang digadang- gadang menjadi pewaris generasi emas negeri ini. Mutiara penerang bangsa yang akan melanjutkan syi`ar dakwah untuk menguatkan tauhid dengan kalam ilahi yang paling mulia. Berdo`a sepenuh harap mengeja takdir-takdirNya untuk kejayaan ummat ini sebagai rahmatallil’alamiin rahmat seluruh alam. Wallahu Musta`an.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Kehormatan Keluarga Para Syuhada

Orang – orang yang berjuang mempertahankan Islam, masjid dan tanah air kaum muslimin mereka memiliki tempat dan derajat yang sangat agung di sisi Allah taala, karena mereka telah mengorbankan yang paling berharga yang dimiliki oleh manusia yaitu harta dan nyawa.

Mereka keluar dari rumah meninggalkan anak, istri, orang tua serta keluarga besar mereka demi mempertahankan kehormatan kaum muslimin, mereka mewakili ummat untuk berjuang merebut kembali kejayaan Islam dan kaum muslimin yang kini diinjak – injak oleh kaum penjajah di negeri kaum muslimin.

Orang – orang yang berjuang itu memiliki kehormatan yang harus selalu dijaga oleh kaum muslimin, kehormatan istri dan anak mereka serta keluarga mereka, kaum muslimin yang tidak berangkat jihad bertanggung jawab atas kehormatan keluar para mujahid itu, tidak boleh diganggu, dijadikan bahan omongan, apa lagi menyakiti atau menzalimi mereka, bahkan kehormatan istri para mujahid sama dengan kehormatan ibu kandung kita sendiri.

Hal ini lah seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu alaihi wasallam berikut ini:

عن بريدة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «حُرْمَةُ نساء المجاهدين على القَاعِدِين كَحُرْمَةِ أُمَّهَاتِهِم، ما من رَجُلٍ من القَاعِدِين يَخْلِف رجُلا من المجاهدين في أهله، فَيَخُونُهُ فيهم إلا وقَف له يوم القيامة، فيأخذ من حسناته ما شاء حتى يَرْضى».

Dan dari Buraidah -raḍiyallāhu ‘anhu-, ia berkata: Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Kehormatan istri-istri para mujahidin bagi orang-orang yang tidak berjihad itu seperti kehormatan ibu-ibu kandung mereka. Tidak ada seorang pun yang tidak pergi berjihad yang diamanahi untuk menjaga keluarga para mujahidin, lalu ia mengkhianatinya melainkan ia akan berdiri di hadapannya pada hari kiamat, lalu ia akan mengambil kebaikan-kebaikannya sekehendak hatinya hingga ia rida.” (HR Muslim).

Imam Nawawi berkata:
Kehormatan istri para mujahid bagi orang – orang yang tidak berangkat jihad terdiri dari dua hal:
1. dilarang mengganggu dan melecehkan kehormatan mereka baik dengan sikap, tingkah laku, perbuatan atau ucapan.
2. Membantu mereka untuk memenuhi kebutan hidup mereka dan anak – anak mereka.

Maka posisi kita kaum muslimin dalam perang melawan yahudi laknat itu yang status kita tidak berangkat menuju medan jihad maka sudah merupakan kewajiban bagi kita segenap ummat islam untuk membantu istri dan keluarga para mujahid itu agar mereka merasa bahagia karena ada kepedulian dari kaum muslimin di berbagai belahan dunia, sehingga mereka tidak merasa hidup sendirian di muka bumi ini, terlebih apa yang terjadi di Palestina ini bahkan keluarga para mujahid pun ikut menjadi korban secara langsung, karena rumah, sekolah, rumah sakit mereka juga ikut kena bom dasyat sehingga hingga saat ini lebih dari 9000 orang mati syahid.

Yang sedang kita upayakan ini adalah bantuan kemanusiaan, untuk kebutuhan makan, minum, obat, kesehatan anak – anak, tenda dan lain – lainnya yang berkaitan dengan kebutuhan pokok.

Dengan membantu keluarga saudara – saudara kita yang kini berjuang mudah – mudahan kita mendapatkan pahala jihad fie sabilillah, Semoga Allah mengampuni kealpaan, kelalaian kita dari memperhatikan keadaan saudara kita di Palestina.

Lelang Baju Pantas Pakai Yang Ditunggu-Tunggu Jama`ah Muallaf Di Perdesaan

Puluhan koli baju layak pakai seberat 1 ton lebih yang dikumpulkan atas inisiasi Tanmia Foundation sebulan terakhir akhirnya ludes dikirimkan menuju sejumlah titik daerah pembinaan muallaf di Lereng Merapi dan Merbabu ( Rabu, 4/10/2023). Keberangkatan ekspedisi pengiriman yang sudah tiba di lokasi sejak pekan lalu menjadi kabar bahagia yang sudah ditunggu-tunggu dari mulut ke mulut oleh warga yang jauh-jauh hari sudah mendengar ihwal kabarnya. Titik-titik lokasi yang dominan di perdesaan yang dituju adalah daerah binaan dari Ukhuwah Muallaf Indonesia, sebuah lembaga yang concern sejak 2017 untuk pembinaan baca qur`an para muallaf di lereng-lereng pegunungan terutama Merapi dan Merbabu. Lembaga yang berpusat di Turi Sleman Yogyakarta ini memiliki aktivitas padat hari-harinya untuk secara rutin terjun ke lorong-lorong kampung masjid perdesaan dengan segenap niat lillah panggilan nurani mengajarkan al-qur`an bagi warga yang membutuhkan.

Dalam sepekan terakhir ini, lokasi yang menjadi tempat kegiatan mengaji dan bazar berada di Magelang Jawa Tengah, tepatnya di Masjid Al-Islam Gejayan Kecamatan Sawangan dan Masjid Ash-Shohabah Tanen Ngargomulyo Kecamatan Dukun. Jarak tempuh 1 jam untuk menuju lokasi sudah menjadi hari-hari biasa yang dilalui. Semangat baru dengan harapan berlimpahnya keberkahan akan niat lillah mengajarkan para jama`ah yang rata-rata para orang tua dan lansia berhasil mengalahkan setiap lelah yang datang karena sudah bertahun-tahun lamanya sebagian besar ( jama`ah ) yang ada sekarang ini masih buta huruf al-qur`an.

Sebutlah, Ibu Ngatirah ( 85 tahun ) di Dusun Tanen Ngargomulyo seorang nenek yang sudah memiliki belasan cucu dalam beberapa bulan terakhir masih istiqomah mengikuti program baca qur`an tingkat iqra` kelas 2. Sedangkan Ibu Wasilah ( 70 tahun ) masih harus memulai tingkat iqra kelas 1 sudah sejak 6 bulan terakhir. Hari-hari berladang dan berkebun mereka harus ditinggalkan sejenak setiap ada jadwal mengaji setiap pekan. Tak sedikit warga yang sudah berpuluh-puluh tahun menyandang status sebagai muallaf terkatung-katung tanpa pembinaan dan perhatian. Tanpa hidayah Allah yang menyapa mereka sebenarnya sesuatu yang absurd ( sesuatu yang mustahil ) akan tetapi hidayah bukan milik siapapun karena gerak bolak-baliknya hati kita ini Allah yang menguasainya.

“Alhamdulillah, senajan wis tuwo aku tetep pengen melu ngaji sebisone wae.( Alhamdulillah, biarpun saya sudah usia tua, saya tetap ingin ikut mengaji sebisanya saja ). Bismillah, Lillahi Ta`ala’’, tutur Nenek Ngatirah pada tim Tanmia Foundation di lokasi, Masjid Ash-Shohabah Tanen Ngargomulyo Dukun Magelang.

Puluhan koli baju layak pakai ini juga akan di distribusikan ke lokasi-lokasi tempat para jama`ah di tempat lainya dengan mengadakan bazar pakaian layak pakai ala kadarnya. Agar tidak tadzir dalam pelaksanaanya pakaian-pakaian ini sudah disortir sebelum dikirim, kemudian usai pengajian selesai kegiatan bazar dimulai guna merekatkan ukhuwah dan persaudaraan sesama jama`ah lainya. Kegiatan ini bisa disebut terbilang dikatakan gratis bersyarat karena pakaian layak pakai yang dilelang dinominalkan dengan harga yang sangat terjangkau, mulai dari Rp. 500, – ( lima ratus rupiah ) sampai dengan Rp. 5000,-( lima ribu rupiah tergantung dari jenis kondisi pakaianya. Bila ada pakaian yang tergolong masih baru pun akan dilelang seharga Rp. 10.000,- ( sepuluh ribu rupiah ) sampai dengan Rp. 15.000,- ( lima belas ribu rupiah ). Hasil dari semua penjualan juga akan dikumpulkan untuk menunjang operasional setiap kegiatan-kegiatan yang tetap rutin berlangsung.

Kegiatan mengaji pun cuma-cuma tanpa pungutan biaya karena fasilitas sudah disediakan bahkan seringnya ada saja para muhsinin yang tergerak hati membantu kegiatan dalam berbagai bentuk dukungan baik moril maupun materiil. Hal yang tidak bisa dinilai dengan penilaian materi dan benar-benar nyata Allah-lah yang menjadikan semua perjalanan lika-liku dakwah di perdesaan kampung itu mudah dengan keridhaan-Nya.

Selain pakaian layak pakai kegiatan juga diadakan bazar sembako kebutuhan sehari-hari ( seperti: beras, minyak goring, gula pasir, kopi dan teh ) dengan nilai dibawah harga pasaran. Sistem yang digunakan ialah subsidi silang dari penjualan pakaian layak pakai untuk menutup sisa kekurangan dari harga sembako-sembako yang dijajakan. Semisal, sembako senilai Rp. 65.000,- ( enam puluh lima ribu ) dijual dengan harga senilai Rp. 50.000,- ( Lima puluh ribu ) saja.

“Semua kegiatan yang berjalan ini, bukan untuk mencari keuntungan profit begitu juga dari kegiatan bazar -bazar ini, tapi peran sedekah inilah yang menjadikan kita bisa berjalan sampai saat ini. Berbagi bukan hanya materi tapi dengan apa yang kita miliki termasuk ilmu yang kita dapat hari ini, bisa kita ajarkan kepada orang yang membutuhkanya”, pungkas Umi Dosmauli selaku ketua UMI pada Tanmia Foundation di lokasi.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Melepas Khidmat Santri Ke Pelosok Negeri, Merawat Syi`ar Dakwah Yang Tak Boleh Padam

Hari mulai senja sirine keberangkatan kapal dibunyikan tanda semua pintu ABK kapal menutup semua akses pintu agar semua penumpang standby bersiap untuk berangkat. Setiap air mata rindu dan salam perpisahan bercampur aduk dikeluarkan bagi siapa saja yang berpisah senja sore itu. Tak ubahnya seorang Ibu yang akan melepas anak-anak tercintanya yang akan berlabuh merantau jauh. Biarlah air mata menetes deras tapi setiap tetesnya akan menjadi keberkahan do`a yang akan bersemi dikemudian hari untuk membawa kebahagiaan.

Seluas mata memandang area pelabuhan Tanjung Priok di pesisir Pantai Jakarta Utara. Dua pekan telah berlalu santri tugas pengabdian Pesantren Al-Itqan, Kranggan Bekasi diberangkatkan lewat pelabuhan laut Dermaga Terminal Nusantara Pura menuju Ternate, Maluku Utara. Antrian hilir mudik kawasan sibuk pelabuhan Tanjung Priok hari itu bergemuruh berjejalan para calon penumpang kapal PELNI Dorolonda yang sudah bersandar di anjungan untuk menunggu keberangkatan para calon penumpang.

Sebanyak 2 orang alumni angkatan ke-IV Pesantren Al-Itqan berstatus sebagai alumni tugas wiyata bhakti yang akan bertugas selama satu tahun akan ditempatkan di Pesantren dan Masyarakat tepatnya di Halmahera Tengah, Maluku Utara. Menuju tempat pengabdian yang penuh perjuangan akan dilewati melalui jalur laut selama 5 hari perjalanan laut.

Pesantren Al-Itqan dalam perjalananya telah mengirimkan alumni-alumninya ke berbagai daerah pelosok penjuru tanah air sebagai bentuk khidmat melayani ummat dan kewajiban setiap alumninya untuk tugas kewajiban syi`ar dakwah di setiap jengkal tanah air. Dari Ujung Aceh Pulau Sumatera hingga Ujung Timur Halmahera Maluku Utara bahkan Papua nantinya diharapkan menjadi bagian syi`ar yang berperan membantu kinerja para pengampu ummat dan lembaga-lembaga dakwah maupun pendidikan agar terus berkembang maju lebih baik.

“Biasanya melalui kegiatan safari dakwah kita ingin mengetahui sejauh mana realita ummat dan sikon perkembanganya agar kegiatan pendidikan kaderisasi guru dan da`i di dalam pesantren relevan terhadap dinamika perkembangan ummat yang terupdate. Sehingga para alumni-alumni ini bisa membantu mengurai persoalan dan permasalahan ummat akan krisisnya tenaga pengajar dan sumber daya manusia dalam bidang keagamaan di pelosok masyarakat yang kurang diperhatikan,” ujar petuah Ustad Rofiq Hidayat selaku Pimpinan Pesantren saat melepas keberangkatan para santri wiyata bhakti, Selasa ( 5/09/2023 ).

Menurutnya, kegiatan pendidikan di Pesantren bukan semata-mata mentrasfer ilmu syar`i akan tetapi mendidik memberikan tarbiyah akan pentingnya menyiapkan kaderisasi generasi yang mampu memberikan kemanfaatan dan kemaslahatan untuk mampu berdakwah dan istiqomah dalam kebaikan dan menjangkau daerah-daerah pelosok pinggiran yang masih minim perhatianya.

“Harapanya tidak tinggi-tinggi akan tetapi para alumni diharapkan dapat menghidupkan syi`ar keislaman dan menghidupkan kembali ruh-ruh perjuangan membina anak-anak umat ini untuk kembali kepada indahnya kalam al-qur`an sebagai bentuk pertanggung jawaban akan ilmu yang telah dipelajari di pesantren untuk diamalkan di masyarakat,” tambah Ust Rofiq dalam nasehatnya.

Jadwal kapal yang hanya ada 1 kali sebulan menuju Ternate menjadi pemandangan yang luar biasa setiap calon penumpang dan para pengunjung pelabuhan yang hendak mengantarkan sanak famili keluarganya yang hendak bepergian jauh.

Dua tahun berlalu setelah pandemi akses transportasi laut kembali menggeliat tumbuh menjadi incaran setiap orang yang hendak bepergian maupun pulang kampung bagi mereka yang berasal dari daerah-daerah jauh ditengah kepulauan seperti kawasan Indonesia timur.

Toh,selain biaya yang hemat juga akan menambah rasa pengalaman akan luasnya tanah air ibu pertiwi sebagai daerah maritim dunia. Perjalanan ke Ternate dengan Kapal PELNI Dorolonda akan singgah di beberapa pelabuhan besar seperti : Tanjung Priok Surabaya, Makassar, Bau-Bau, Namlea Maluku, Ambon dan terakhir tiba di tujuan Ternate sebagai eks Ibukota Maluku Utara sebelum diganti di Sofifi yang berada di Pulau Halmahera.

Terakhir, bagi para alumni yang bertugas wiyata bhakti dimana pun berada dengan segala situasinya menjadi rangkaian perjuangan kesabaran dan keikhlasan dalam medan amal yang tak bisa diremehkan dan disepelekan. Karena menanamkan jiwa kesabaran dan keikhlasan menjadi kunci dan modal yang tak pernah habis dalam rangkaian suksesnya kegiatan amal jama`i dalam syi`ar dakwah. Permintaan tenaga alumni pesantren untuk menjadi tugas wiyata bhakti mengalami kondisi yang timpang, antara permintaan tenaga alumni yang disana-sini meminta masih membutuhkan namun disaat yang sama masih minimnya anak-anak ummat ini yang belum berminat untuk masuk meniti pendidikan pesantren khususnya kaderisasi guru dan da`i dengan mengharap keridhaan-Nya semata. Wallahu Musta`an.

Datang Ke Jogokaryan, Rindu Lahirnya Masjid Kebangkitan Ummat

Malam purnama bulan Safar baru saja menampakkan sinarnya yang terang benderang. Fajar shubuh pun baru menyingsing di ufuk timur Masjid Kauman yang tepat bersebelahan dengan alun-alun utara kesultanan Yogyakarta. Jalanan Paris pun sudah mulai padat merayap dengan rombongan becak kayuh yang berlalu-lalang para pedagang yang mengangkut barang dagangan ke pasar-pasar pagi buta. Jalanan rindu pagi-pagi menembus pintu Jokteng Langenastran pun bukanlah untuk melancong Kawasan Taman Sari Keraton.
Semangat berkah pagi menuju Masjid Jogorkaryan akhirnya pun sampai. Hanya berjalan kaki santai sejauh ratusan meter saja dari Pojok Benteng Alun-Alun Kidul Keraton pun bisa dijangkau. Lokasi Masjid yang tepat berada di Kalurahan Mantrijeron, Kapanewon ( Kecamatan ) Mantrijeron ini terbuka 24 jam bagi para jama`ah dan musafir yang tidak pernah sepi hari-harinya. Miniatur fungsi masjid yang kini tengah merubah tatanan masyarakat sebagai sumber kesejahteraan masyarakat benar-benar tengah dirasakan warganya.


Berawal dari sebuah langgar kecil di Kampung Pinggiran Selatan Kota Yogyakarta, Masjid Jogokariyan terus berusaha membangun ummat dan mensejahterakan masyarakat. Masjid sebagai agen perubahan masyarakat berjalan dengan baik seiring dengan proses berkembangnya dakwah berbasis Masjid. Konon Kawasan kampung yang dulu “Abangan” Komunis kini menjadi masyarakat Islami melalui dakwah berbasis Masjid.

Bersamaan dengan munculnya gerakan komunis tahun 1965 di Jogjakarta lahirlah cikal bakal legenda masjid Jogokaryan. Komunis yang sedang diatas angin di tanah air tahun 1965, ibarat usia kandungan “hamil tua” yang sudah mau lahir ingin unjuk kekuatan digdayanya. Kampung Jogokaryan mungkin salah satu titik target Kawasan kampung untuk berkembangnya politik dan gerakan ideologi komunis jaman itu. Setiap gangnya memiliki latar arti perjalanan sejarah kelam yang bisa selalu teringat oleh para saksi yang masih hidup.

Masjid fenomenal yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari pegiat dakwah di Jogjakarta menjadi tempat yang ramah untuk setiap tamu yang ingin datang. Sudut demi sudut menjadi inspirasi simbol akan kemakmuran masjid sebagai embrio lahirnya kesejahteraan bagi ummat dan jamaahnya. Suasananya menjadi panggilan semangat untuk terpanggil menguatkan hati dan kaki-kaki ini berlama-lama beribadah di dalamnya. Menjadi tempat yang menyimpan energi penyemangat gerakan dakwah untuk terus jalan berkembang maju. SIapapun akan merasa betah bermunajat di dalam rumahNya yang suci untuk menjawab setiap pinta doa hamba-hambaNya.

Alhamdulillah, ahlan wa sahlan atas kedatangan rombongan dari segenap pengurus Yayasan Tanmia Jakarta di sekretariat utama Masjid Jogokaryan dengan sepenuh hati menyambut gembira ramahnya kedatangan para tamu , Ujar Gita Welli Ariadi salah satu pengurus Masjid yang hari itu piket sekretariat di tempat.

“Program-program Masjid berderet begitu banyak dan inilah miniatur kepemimpinan yang ideal terbilang sudah berjalan sampai saat ini. Struktur bagian-bagian kepengurusan masjid yang terbagi dalam belasan biro-biro bagian yang selama ini berjalan menunjukan kegiatan masjid yang begitu padat selama ini telah berjalan”, jelas Gita Welli Ariadi selaku pengurus harian Masjid Jogokariyan ( 14/08/2023 ).

Sejarah panjang masjid yang terus berjalan sampai saat ini bukanlah instan dibangun dalam bilangan hari. Lahirnya sistem kepengurusan masjid dengan sederet visi yang mencerahkan ummat menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Masjid Jogokaryan yang sebenarnya hanya sebuah masjid kampung sederhana saja, namun memiliki program-program terobosan yang kreatif dan memiliki asas manfaat yang akhirnya membangunkan lelap nyenyak tidurnya para takmir masjid pada umumnya untuk berduyun-duyun berlomba-lomba mengikutinya.

“Terimakasih atas perhatian dan jamuan tamu serta telah menerima kedatangan rombongan dengan ramah sepenuh hati”, ucap Ust Bukhari Abdul Mu`id sembari saling beramah-tamah. Selain kantor sekretariat juga ruangan aula yang seringnya sibuk dari waktu ke waktu untuk belajar para tamu yang datang. Mereka adalah para tamu pengurus takmir yang hendak akan belajar tentang manajemen pengelolaan masjid. Suasana masjid pun akhirnya menjadi pemandangan layaknya kerumunan tempat wisata dan Kawasan pendidikan.

Lagi-lagi uniknya juga pemberdayaan program setiap RT ( rukun tetangga ) kampung yang memiliki struktur kepengurusan dalam rangka memonitor setiap jamaah setiap kali kedatangan shalat adalah salah satu bentuk absensi dan kontrol sosial yang jarang ditemukan ditempat lainya. Bagaimana jama`ah satu sama lain saling memperhatikan tentang artinya persaudaraan seiman sesungguhnya. Ia ikut tersadar merasa senasib dan sepenanggungan dalam bingkai ukhuwah keislaman. Bagaimana tidak bila salah satu saudara merasakan sakit maka tetangga kerabat hingga pihak masjid bersegera untuk datang membesuk dengan tangan yang penuh kedermawanan membawa bingkisan santunan. Ini bukan apa dan berapa, tetapi tentang arti hak bertetangga dan peran masjid yang juga penting ada di hati setiap warga dan ummatnya dengan merasakan keberadaanya.

Pandemi yang setahun terakhir berlalu telah menggulung semua kantong-kantong laju ekonomi mata pencaharian masyarakat hingga pada kondisi titik nadir yang memprihatinkan namun justru Menara masjid jogokaryan menjadi mercusuar sosial yang sangat berperan aktif menjadi sumber poros energi yang menyediakan setiap solusi masyarakat dimasa pandemi. Penanganan kasus darurat hingga protocol kesehatan yang sedemikian ketatnya waktu itu telah dilaluinya. Masjid selalu memiliki pintu yang sangat lebar untuk hati para jamaah setianya. Belum lagi hadirnya pasar rakyat setiap akhir pekan menjadi animo warga untuk tetap bangkit masa pandemi itu dengan peran permodalan masjid ikut berperan serta didalamnya. Ditambah lagi pendampingan dan upgrading setiap usaha jamaah agar menjadi partner berkembangnya usaha menjadi peran masjid juga ikut membersamainya.

Inilah yang menjadi lahan dakwah yang tak pernah habis dan samudera yang tak akan pernah kering untuk digali agar kehadiran masjid bukan hanya fisik bangunan semata tetapi menjadi solusi setiap permasalahan umat warga yang bernaung di dalamnya. Membuka masjid bukan soal luas dan megahnya, namun para peran nyata pada ummatnya. Inilah fungsi yang berperan di Jogokaryan.

Rindu pun pasti membekas bila Ramadhan tiba, Kampung jogokaryan menjadi lautan manusia yang ingin datang untuk menikmati rasanya berbuka puasa di jalan utama Masjid dengan ribuan jama`ah dan aneka menu kuliner yang datang berduyun-duyun berbaris di kanan kirinya. Mari bersegera mengambil peran untuk lahirnya Jogokariyan-Jogokariyan baru untuk ikut membangun ummat.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Temu Sinergi Jejaring Si Bulan Indonesia, Estafet Mengisi Hari-Hari Kemerdekaan

Riuh semarak hari kemerdekaan belumlah usai, baru saja sepekan berlalu peringatan detik-detik proklamasi dirgahayu kemerdekaan ke-78 digelar dari ujung Sabang sampai Merauke serentak berdiri tegak pusaka merah putih berkibar mengangkasa. Tanda hari suci atas Rahmat Allah akan kemerdekaan yang ke-78 telah berlangsung khidmat untuk disyukuri sebaik-baiknya. Terus melaju untuk Indonesia maju menjadi denyut penyemangat agar tanah air terus maju untuk keadilan dan kemakmuran rakyat didalamnya. Inilah harapan setiap realita demi juang kebebasan sejati agar terbebas dari segala sekat-sekat keterbatasan setelah sekian lama menikmati udara kemerdekaan.

Semangat juang mengisi kemerdekaan pun tak luput di-isi oleh jajaran pengurus Tanmia Foundation yang baru-baru ini temu sinergi dengan jejaring komunitas Si Bulan ( Siaga Ambulance ) Indonesia yang menginisiasi adanya antar jemput pasien dhuafa gratis tanpa pungutan biaya pada ( 15/08/2023).  Jejaring komunitas yang berpusat di Kebumen Jawa Tengah ini sudah ada sejak 2015 lalu yang di inisiasi Kang Fikri dkk, sapaan akrabnya. Berawal dari banyaknya kasus penanganan pasien gawat darurat yang harus ditangani secara cepat dan tepat untuk segera dirujuk menjadi cikal bakal tergeraknya jejaring komunitas ini.

Apalagi notabene sebagian besar pasien adalah kalangan dhuafa yang mengalami kesulitan baik dari segi biaya dan aksesnya saat akan dirujuk dari satu tempat ke tempat lain yang cukup jauh ribuan kilometer jaraknya. Ini yang  menjadikan jejaring komunitas Si Bulan ( Siaga Ambulance ) Indonesia menjadi pintu wasilah penolong, yang keberadaanya bermanfaat di tengah-tengah masyarakat.

“Terus terang, kami tidak memiliki tarif khusus ketentuan. Silahkan bagi keluarga pasien yang mampu memberi infak semampunya, yaa silahkan saja tidak memberi pun tidak masalah. Kalau pun ada juga untuk mengisi kas operasional saja,” jelas Kang Fikri Ketua Jejaring Si Bulan Indonesia dalam obrolan santai saat silaturahmi dengan  segenap jajaran pengurus Tanmia Foundation.

Ia pun menambahkan hadirnya jejaring Si Bulan ( Siaga Ambulance ) saat ini telah memiliki lebih dari 200 unit ambulance yang tergabung dari ujung Provinsi Banten Pulau Jawa sampai Lombok Timur di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang menjadi rantai tali-temali bagian solusi untuk melayani antar jemput pasien secara gratis bagi kalangan dhuafa di tanah air. Ini bukan semata-mata untuk mengambil alih fungsi peran birokrasi pemerintah namun lebih kepada membantu penanganan dan memudahkan permasalahan di lapangan yang sering timbul dihadapi oleh masyarakat itu sendiri sehari-harinya.

Sinergi jejaring yang terbangun lintas komunitas ini mengalir secara alami begitu saja karena berdasarkan kesamaan visi misi dan frekuensi kemanfaatan tolong menolong. Sistem pengantaran pasien pun dilakukan estafet dari satu kota ke kota lainya yang bertetanggaan terdekat menuju tujuan. Sedangkan mengenai biaya operasional akan dibebankan pada pihak masing-masing jejaring si Bulan titik daerah setempat sesuai dengan situasi dan kondisinya.

Adapun di sisi yang lain, sekilas profil pendidikan kaderisasi guru dan da’i yang dilakukan oleh Pesantren saat ini juga diutarakan oleh Ustadz Rofiq Hidayat, selaku pimpinan pesantren Al-Itqan yang hadir dalam acara temu silaturahmi tersebut.

Pertemuan hampir satu jam menjadi tak terasa, dibuai dengan semilir angin persawahan dan perkampungan dimana sejenak kesempatan duduk bersua bertukar pikiran dan pandangan dengan santai dihabiskan sejenak waktu itu.

Kedua Lembaga ( Tanmia Foundation dan Si Bulan Indonesia ) memang memiliki concern kompetensi bidang masing-masing tapi tak mustahil akan saling mengisi ruang-ruang sinergi yang akan menggugah lahirnya berbagi ruang kebaikan dan kepedulian.

Langkah nyata dalam memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan yang dilakukan segenap elemen anak bangsa dengan segala potensi dan kontribusinya tidak bisa diabaikan dan diremehkan sekecil apapun nilainya. Karena 2 hal, antara Pendidikan dan kesehatan, dua hal yang tak terpisahkan sebagai sebuah prioritas pembangunan utama suatu bangsa dalam mengisi kemerdekaan.

Jalan panjang merengkuh kemerdekaan sejati berbagai cara dilakukan sesuai peran masing-masing segenap anak bangsa karena tidak mudahnya membangun di-era yang kian rumitnya dan ditimpa beratnya dekadensi moral. Juga pengaruh tranformasi digital yang secepat kilat berubah-ubahnya dari waktu ke waktu. Apalagi geliat dalam kiprah dalam bingkai dakwah dan sosial kemanusiaan akan sangat dipengaruhi dengan kultur daerah kebiasaan tempat masing-masing. Memang membangun lahan daerah tidaklah mudah dan instan. Ia pun membutuhkan seni tersendiri. Ibarat perumpamaan “Lain lubuk lain ikanya, lain padang lain belalang, lain daerah lain pula kebiasaan seni membangunya”.

Belum cukupkah sudah hari merdeka dilewati dengan berkali-kali yel-yel teriakan itu berkumandang, menggema di cakrawala, dipentaskan dalam berbagai ajang pentas heroik dan atraksi lomba?

Dari ujung pelosok negeri hingga belantara kota, harapan makna kemerdekaan itu sepertinya rangkaian kata doa dan harapan yang bersambung-sambung satu rasa satu perasaan akan nasib yang sama akan perjalanan bangsanya yang masih tertatih-tatih. Karena setiap tenaga dan peluh sudah tidak bisa mengeluh lagi diungkapkan.

Lantas, merdeka dari apa yang kita cari ? Kemudian, merdeka untuk apa ? Satu kata dalam kemerdekaan hakiki rangka jalan pengabdian mencari keridhaan-Nya tanpa pamrih dan meninggikan syi`ar kalimat Allah tertinggi. Sungguh seluruh ibadah, hidup dan mati kita untuk Allah Rabbul Izzati semata.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Silaturahmi Di Rumah Qur`an Al-Husna Kutoarjo, Cita-Cita Rumah Perekat Hati Masyarakat

Suasana heroik hari kemerdekaan di perkampungan menyeruak semarak. Tiang-tiang bendera merah putih berdiri tegak berkibar disetiap sudut dusun. Jalanan sunyi desa tampak bersih dan indah dengan slogan-slogan penyemangat hari kemerdekaan. Suasana yang bergulir tiap tahun di seantero tanah air menjadi rindu akan jasa para pahlawan yang tanpa pamrih dalam berjuang dalam setiap tempat dan waktu.

Kedatangan rombongan safari dakwah Tanmia Foundation tibalah saat senja sudah tenggelam di jalanan kota tua Kutoarjo Jawa Tengah pada ( 10/08/2023 ). Malam itu akan digelar pengajian umum rutin dan temu warga dengan mengkaji tema-tema kitab Riyadushalihin yang secara rutin sudah berjalan selama ini. Rumah Qur`an yang sederhana tegak berdiri diatas lahan wakaf masyarakat menjadi bagian agenda silaturahmi pengurus Tanmia Foundation untuk ikutserta menyemarakkan kegiatan bersama dengan warga kendati dalam bingkai acara temu sederhana.

Penyerahan simbolis wakaf qur`an Tanmia Foundation ke pengurus Rumah Qur`an Al-Husna menghangatkan suasana malam itu sebelum acara pengajian warga dimulai. “Jazakumullahkhairan atas perhatian dan pembagian wakaf qur`an dari Tanmia Foundation untuk para jama`ah majelis taklim rumah qur`an Al-Husna semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baiknya balasan kepada segenap muhsinin semuanya”, tutur Ust Saif pengurus majelis taklim sembari menerima wakaf Qur`an.

Sebelum pamit, rombongan Tanmia Foundation dijamu makan malam oleh pihak pengurus rumah Qur`an. “Semoga berkenan di hati dan berkah bisa merasakan makan bersama ala kadarnya dari kami. Menikmati suasana desa yang teduh dan penuh kehangatan bersama warga dalam malam pengajian,” kata salah satu warga sembari melepas rombongan melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Rumah Qur`an Al-Husna Desa Pacor menjadi tujuan untuk bertemu para tokoh dan warga dusun yang telah menanti kedatangan untuk bersilaturahmi bertegur sapa. Seperti layaknya kegiatan kampung yang akrab dengan kekeluargaan dan kebersamaan. Berdirinya rumah qur`an Al-Husna sejak tahun 2018 menjadi wasilah tempat untuk merekatkan persaudaraan warga dan masyarakat untuk berkumpul dan belajar. Tempat yang diharapkan nyaman untuk memecahkan masalah dan bercengkerama keluh kesah akan dilema dakwah masyarakat untuk mencari solusi jalan keluar setiap masalah. Tempat  untuk saling asah, asih, asuh belajar mendalami kegiatan pengajian majelis taklim dan berbagi tentang manfaat dan peran sosial dalam bermasyarakat.

Rumah Qur`an Al-Husna menjadi salah satu bagian penting membangun kegiatan berbasis masyarakat dengan pilar-pilar program utama memberantas buta huruf al-qur`an di Kutoarjo Jawa Tengah selama ini. Dari rumah ke rumah, antar dusun dan komunitas warga yang tidak pilih kasih untuk saling belajar tanpa membedakan status sosial satu sama lainya. Kedekatan yang erat akhirnya tumbuh kuat untuk saling membangun kepercayaan dan membangun kemajuan masyarakat yang lebih baik inilah harapan sederhana yang sedang dinanti-nantikan.

Padahal Kutoarjo sendiri pada asal mulanya merupakan salah satu pusat kota sendiri sejak kerajaan Mataram Islam yang sekarang secara administratif menjadi bagian utama kecamatan penting di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Keberadaanya Kutoarjo jauh sudah ada awal berdiri dahulu sebelum Kabupaten Purworejo itu sendiri.

Malam yang sunyi akhirnya membelah jalanan Kutoarjo untuk menjadi bagian rangkaian kegiatan perjalanan Safari Dakwah Tanmia Foundation kali ini.  Tempat dimana miniatur kota tua ala kolonial yang sudah familiar sejak kerajaan Mataram Islam berdiri tahun 1800-an. Daerah hiruk pikuk yang menjadi pusat perniagaan di jalur lintas utama kereta api selatan Jawa dengan dengung lonceng kereta dan peron-peron jalur rel lintasan. Dering suara lonceng kereta api sudah membahana sejak Belanda membangun jalur lintas kereta tahun 1800-an. Dan tak dapat dipungkiri bahwa jalur pembangunan lalu lintas kereta adalah bagian dari kepentingan era kolonial masa itu untuk memudahkan pengangkutan komoditas hasil tanam paksa, sehingga sisa-sisa miniatur peninggalan kota tua pun tampak dari setiap sudut bangunan yang masih berdiri saat ini.

Layaknya pentingnya keberadaan Kutoarjo sebagai poros keramaaian di wilayah jalur lintas selatan pulau Jawa maka Rumah Qur`an Al-Husna merupakan rumah impian cita-cita kebersamaan masyarakat yang nantinya akan menjadi rumah berkembangnya pendidikan umat dan syi`ar dakwah yang akan berkelanjutan di Kutoarjo Jawa Tengah. Wallahu musta`an.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Wakaf Qur`an di Lereng Merapi, Abadikan Jariyah Lintas Generasi

Pembagian wakaf qur`an Tanmia Foundation di Kawasan lereng Merapi tiba di Masjid Al-Amin Dusun Kinah Kinahrejo, Kelurahan Umbulharjo, Cangkringan , Sleman Yogyakarta pada  15/08/2023. Sebanyak 40 paket mushaf Qur`an dibagikan langsung ke titik Masjid, TPQ dan  dusun perkampungan warga di Umbulharjo Cangkringan.

Kendati tidak bertemu langsung dengan pihak pengurus Masjid setempat, namun pihak Tanmia menyerahkan langsung dengan Ibu Ngatinem ( 87 tahun ) yang merupakan keponakan langsung Mbah Maridjan. Saat ini Ibu Ngatinem bersama putra dan cucu cicitnya yang mengurus kemakmuran masjid yang bersejarah tersebut.

Masjid yang dikenal dengan masjid di atas pasir tersebut sudah kesekian kalinya dibangun ulang hingga saat ini setelah hancur luluh lantah pasca erupsi 2010 lalu bersamaan dengan meninggalnya mendiang Mbah Maridjan selaku juru kunci Merapi yang diangkat resmi oleh pihak Kesultanan Keraton Sultan Hamengku Buwono IX.

Saat ini Ibu Ngatinem bersama sekitar 85 KK warga lainya bermukim tempat tinggal di Dusun Karangkendal Umbulharjo sebagai Kawasan Huntap ( Hunian Tetap ) warga dusun Kinahrejo pasca erupsi Merapi tahun 2010. Baru setiap hari aktivitas bersama warga lainya berjualan dengan membuka warung berjualan di samping masjid.

“Alhamdulillah nak, tindak panjenengan saking tebih dugi Masjid Mbah Maridjan paring Al-qur`an mugi berkah urusanipun sedanten saking urusan dunyo lan akhirat, lancar urusanipun mbenjang dugi kapundut tilar dunyo”, ngendikan Mbah Ngatinem.

Artinya : ( Alhamdulillah nak, kedatangan kalian dari jauh kesini di Masjid Mbah Maridjan memberikan Al-Qur`an semoga berkah, dari semua urusan dunia dan akhirat, lancar semua urusanya hingga hidup ini kita tinggalkan karena meninggal dunia nanti”, ucap Mbah Ngatinem pada segenap rombongan Tanmia Foundation di lokasi.
Saat ini bangunan Masjid yang dominan dari material kayu menjadi tempat yang nyaman untuk para jama`ah setempat maupun musafir yang hendak melawat ke petilasan Mbah Maridjan meski bangunanya tak sesempurna saat sebelum diamuk awan panas erupsi Gunung Merapi.

Wakaf Qur`an Tanmia Foundation juga dibagikan di TPQ Taman Hati yang berada di Dusun Gondang, Umbulharjo. Belasan Anak-anak TPQ yang diasuh oleh Bapak Irsyadul Ibad dengan putra-putrinya secara langsung gegap gempita bahagia ketika menerima mushaf wakaf. Kawasan Umbulharjo yang berjarak 5 KM saja dari puncak Merapi merupakan Kawasan siaga bencana vulkanik setiap saat, apalagi status Level III Siaga hingga saat ini belum dicabut.

Menelisik lebih jauh bangunan masjid-masjid dikawasan lereng Merapi adalah status masjid wakaf yang sangat bermanfaat untuk kemakmuran dakwah dan ummat di Kawasan rawan bencana vulkanik dengan segala peluang dan tantangan di dalamnya. Tak jauh berbeda dengan pembagian wakaf mushaf al-quran sebagai ladang amal jariah juga akan menjadi syi`ar yang akan menghidupkan dakwah yang akan mengalirkan pahala-pahala yang tak pernah habis. Harta yang menjadi simpanan abadi dan menjadi saksi bagi para pewakaf ( yang memberikan harta ) baik ketika masih hidup maupun sudah meninggal. Ia akan bermanfaat bagi banyak orang, bahkan lintas generasi ketika mampu mewariskan dengan ilmu yang bermanfaat. Layaknya masjid Merapi yang sudah turun temurun lintas generasi, maka mushaf wakaf pun setidaknya bisa menjadi ladang lahirnya para kader da`i-da`I ilallaah yang lahir di tiap jengkal tanah dimana lintas generasi itu dilahirkan.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Beasiswa untuk 30 Santri baru Al Itqan

Alhamdulillah tahun ajara baru ini yayasan Islam Attanmia mendapatkan anak didik baru sebanyak 30 orang santri terdaftar yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia dengan semangat mereka melangkahkan kaki untuk menghafal Al Quran dan menuntut ilmu syari, besar harapan kami mereka kelak akan menjadi tokoh – tokoh dakwah yang hebat di masa yang akan datang.

Para ustadz, dai, guru ngaji dll yang hari ini menghiasi layar kaca anda baik televisi maupun online, baik media cetak maupun elektronik, yang menggetarkan minbar – minbar masjid atau suara mereka bergema di mana saja majlis itu ada, mereka bukanlah orang yang datang muncul secara tiba-tiba atau turun dari langit, tidak…. mereka adalah hasil didikan selama belasan atau bahkan puluhan tahun lalu, dimulai dari pesantren hingga mereka melanjutkan di perguruan tinggi.

Hari ini kita dapat mendengar dan nikmati ceramah, kajian atau tablig akbar mereka, bahkan kita bisa mendengarkan ceramah dari beberapa orang yang berbeda yang dapat menawan hati masyarakat luas, namun pertanyaannya ialah apakah anak keturunan kita nanti akan dapat mempelajari islam dan menikmati kajian islam seperti kita hari ini?!

Mereka yang hari ini berdakwah di berbagai tempat itu adalah jeripayah dari orang tua kita dulu, mereka yang mempersiapkan generasi itu, sehingga kita anak keturunannya mendapatkan pendidikan agama yang baik, barangkali hari ini mereka sudah tiada namun dai, ustadz yang mereka siapkan masih teguh berdakwah hingga saat ini.

Mari kita ambil peran untuk mempersiapkan dai, guru Al Quran, ustadz, muballigh dll untuk masa yang akan datang, mudah – mudahan dari tangan kita kelak akan muncul dai – dai yang hebat, ustadz yang handal dan tangguh berdakwah di berbagai medan dan keadaan.

Kami dari yayasan Islam Attanmia mengajak bapak dan ibu untuk menjadi orang tua asuh dengan cara berpartisipasi dalam pembiayaan kebutuhan pendidikan anak – anak yang sedang menuntut ilmu di pesantren Al Itqan, Jatisampurna, Bekasi, besar harapan kami kita semua dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang mulia ini, atas perhatian dan partisipasinya kami sampaikan Jazakumullah khairan, barakallahu fiekum.

Bukhari Abdul Muid
Ketua Yayasan

Tahun Baru Hijriyah: Jariyah Qur`an di Kaimana, Hidupkan Kembali Lentera Hidayah Yang Padam

Semburat senja di Kaimana menanti datangnya tahun baru hijriah 1445 H memang sudah dinanti-nantikan. Tutup tahun bukanlah usai harapan. Selamat datang bahagia dan menjadi lebih baik ! Inilah bahagia memasuki tahun baru hijriah 1445 H yang memang sudah dinantikan setiap kaum muslimin se-tanah air. Menyeruak rasa gembira hati pun dirasakan oleh segenap anak-anak dan pengurus TPQ di Kota Senja Kaimana, Papua Barat pada ( 20/7/2023). Kali ini, Tanmia Foundation membagikan wakaf qur`an untuk TPQ Nurul Ukhuwah Amatu untuk belasan santri TPQ dari berbagai jenjang usia baik SD maupun SMP. Pembagian berlangsung cukup semarak disaat suasana menikmati tahun baru hijriah.

Rute yang cukup panjang perjalanan distribusi wakaf qur`an Tanmia Foundation menghabiskan waktu sebulan lamanya melalui ekspedisi panjang perjalanan laut. Beruntun singgah dari satu dermaga ke dermaga mercusuar pelabuhan hingga akhirnya tiba di pelabuhan Kota Senja Kaimana, Papua Barat. Diawal tahun hijriah ini pula mushaf-mushaf wakaf akan di distribusikan ke berbagai TPQ di distrik-distrik di Kaimana. Mushaf yang akan menjadi lentera penyemangat dan penerang hidayah untuk anak-anak TPQ yang sudah lama menunggu kedatangan mushaf penantianya.

“Terimakasih atas perhatiannya untuk anak-anak santri kami disini. Disinilah anak-anak memulai belajar dan menerima Pendidikan belajar baca tulis al-quran untuk wilayah pusat kota Kaimana,“Jawab senyum Ahmadi, selaku pengurus TPQ Nurul Ukhuwah jantung kota Jl. Trikora yang hadir dalam serah terima wakaf mushaf Tanmia Foundation di lokasi.

Selain wakaf mushaf al-qur`an yang didistribusikan dalam program wakaf ini, ada juga buku-buku pembelajaran Tartila Arba`in sebagai salah satu bekal metode pembelajaran untuk pembebasan buta huruf al-qur`an . Dominan wilayah perairan menjadikan wilayah antar distrik di Kaimana berjauhan dan harus dijangkau dengan perahu / longboard yang tentunya selain waktu dan jarak juga biaya operasional yang tinggi ketika harus terjun berdakwah dari satu tempat ke tempat lainya.

Begitu juga tenaga da`i di berbagai distrik yang terbatas dan terpaut jarak menjadi keprihatinan tersendiri yang mendalam. Adanya wakaf mushaf qur`an Tanmia Foundation menjadi bagian syi`ar yang menguatkan kembali semangat masa-masa peradaban kerajaan islam ketika itu bersemi kembali sembari berikhtiar menelisik kembali sisa-sisa sejarah perjuangan yang pernah diraih para pendahulu bangsa.

Eksotisme alam Kaimana menyimpan banyak sejarah berdirinya kerajaan-kerajaan islam dan juga saksi sejarah pertempuran trikora era perjuangan kemerdekaan masa itu. Menelisik Kaimana, Papua barat bukan soal warisan keindahan alamnya yang tersohor sejak perang kolonial Belanda tapi jauh dari itu sudah menyimpan banyak perbendaharaan sejarah sisa-sisa peradaban kerajaan islam yang lebih dikenal dengan wilayah pertuanan yang masing-masing dipimpin oleh seorang Raja.

Jejak langkah peninggalan-peninggalan sejarah di bumi Papua terutama Kaimana amatlah beragam , baik Tugu, Bunker dan Benteng-benteng Meriam Kolonial masa itu. Semua telah menjadi saksi abadi pula tentang pertama kalinya sang saka merah putih dikibarkan di atas Tugu Untea ( United Nation Temporary Executive Authority ). Monumen tugu yang menjadi tanda perjuangan ketika pembebasan wilayah Irian Barat dari Kolonial Belanda masa itu.

Menurut statistik tahun 2021 lalu, Kaimana terbagi menjadi 7 wilayah Distik/Kabupaten jumlah pulau sebanyak 675 banyaknya. Sementara ini muslim adalah jumlah mayoritas penduduk di Kaimana dengan disusul kedua oleh Protestan. Kaimana adalah kawasan penduduk muslim yang memang sudah turun temurun sejak adanya kerajaan islam dimasa awalnya, pertumbuhan penyebaran islam di Kaimana terus berkembang seiring dengan hubungan kawin mawin dan perniagaan antar pulau dari pada pedagang muslim dari berbagai wilayah, Aceh, Arab, Bugis, Ternate dan Tidore.

Posisi Kaimana secara geografis memang cukup strategis untuk wilayah Papua Barat. Berada tepat di leher peta Papua yang menyerupai burung cendrawasih disanalah pusat jantung ibukota pemerintahan berjalan. Antar distrik yang tersekat terpisah oleh kawasan perairan menjadikan kawasan ini dominan dengan wilayah maritim. Warisan geografis bentang alam Kaimana begitu beragam dari Kawasan daerah teluk, rawa, hutan yang lebat, bukit, pegunungan dan hamparan pesisir pantai yang memanjang yang berhadapan dengan Laut menjadikan juga Kaimana sebagai kerajaan surganya ikan.

Bila selama ini hanya sebatas senja indah di Kaimana orang terlalu ramai memperbincangkanya, maka sudah sepantasnya kaum muslimin ummat ini berandil mengulurkan tangan dan jiwa kedermawananya untuk menyiapkan terangnya lentera fajar hidayah dari ujung ufuk timur tanah cendrawasih. Maka kelak asa harapan itu tak ada yang mustahil, kenangan masa lalu kejayaan Kaimana akan terbit kembali bersama para pewaris generasi gemilang ummat ini. Wallahu Musta`an.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Wisuda Santri Pesantren Al-Itqan Tahun 2023, Ingatkan Sejarah Air Mata Perjuangan

Hari penuh sejarah dan makna dalam acara wisuda yang digelar di halaman Pesantren Al-Itqan angkatan ke-IV pada (11/06/2023).

Membuka pengantar acara istimewa wisuda Pesantren Al-Itqan Angkatan ke-IV periode 2019-2023, Ketua Yayasan Tanmia Foundation, Ustadz Bukhari Abdul Muid,Lc dengan penuh syukur bahagia menyampaikan petuah pesan-pesan bermakna sebagaimana nasihat emas yang ditinggalkan para salaf.

Tahun ini sebanyak 18 santri wisudawan dari berbagai daerah asal wilayah, mulai dari Aceh Tamiang NAD, Tanjung Balai Sumatera Utara, Bekasi Jawa Barat, Banyumas dan Pekalongan Jawa Tengah, Lamongan Jawa Timur, Sumenep Jawa Timur, Poso Sulawesi Tengah,
Mataram dan Bima NTB, dan Labuan Bajo NTT.

Mengawali pembukaan sambutan wisuda kali ini, Ustadz Bukhari Abdul Mu’id mewasiatkan beberapa nasihat untuk para wisudawan, pertama untuk terus menuntut ilmu bahwa ilmu bak lautan yang tak bertepi sehingga bagi santri maupun siapapun tidak ada kata berhenti untuk terus belajar. Tetap memiliki azzam kuat untuk melanjutkan perjalanan belajar hingga nantinya ketika selesai ia mampu menjadi sosok da’i yang hebat harapan ummat untuk memberi kepada ummat ini dari ilmu yang bermanfaat.

Jangan merasa cukup dengan apa yang sudah dihafalkan dan didapatkan apalagi baru saja sebait dan sebaris yang baru didapat di Pesantren. Sebagaimana pepatah, kalau tidak memiliki sesuatu bagaimana mampu bisa memberi ? sebagaimana bila kita fakir bagaimana kita bisa mampu memberi sesuatu dari harta kita terbaik untuk ummat ini.

Ke-dua, ilmu yang didapat berusaha untuk dapat mengamalkanya secara istiqomah. Kerena keberkahan ilmu adalah dengan mengamalkannya. Ke-tiga, menjaga nama baik diri sendiri dimana pun dan kapanpun dirinya berada ditempatkan. Sebagaimana perkataan Ulama Imam Hasan Al-Bashri Rahimahullah, barangsiapa menuntut ilmu dan Qur’an ikhlas semata-mata karena Allah maka akan terlihat kekhusyukan pada pribadinya, zuhud sederhana dalam hidupnya, bisa mengontrol emosinya dan berhati tawadhu’ rendah hati sikapnya.

Adapun yang terakhir ke-empat, menjaga nama baik pesantren. Bahwasanya berdiri menjulang kokohnya tiang-tiang bangunan pesantren ini telah dibangun atas jerih payah perjuangan para muhsinin donatur dan juga cucuran keringat air mata para santri serta para asatidzah pengasuhnya. Berapa banyak pengorbanan yang telah dikorbankan dari keringat yang mengucur ketika gotong-royong mengecor tiang beton, belum lagi berapa keluh kesah berapa pasang sandal yang putus ketika jalan bahu-membahu mengangkat material dan menahan demam rasa sakit ketika harus sabar dalam semua prosesnya belajar di pesantren. Hal inilah yang selalu tak bisa dilupakan dalam merintis impian dan tangga perjuangan membangun kemajuan pesantren selama ini.

“Pesantren ini telah dibangun dengan keringat dan air mata perjuangan para donatur juga para santri. Semoga dengan menjaga nama baik pesantren ini adalah batu loncatan kemajuan pesantren ini lebih baik di masa depan”, pungkas harapan Ustadz Bukhari Abdul Muid mengakhiri sambutanya.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Wakaf buku

Wakaf Referensi Buku Da`i Untuk Kaderisasi Peduli Generasi

 

Wakaf bukuPermasalahan keterbatasan koleksi referensi buku untuk para da`i di pelosok tanah air masih menjadi kendala dilema klasik. Kendati dunia digital dan informasi hari ini memudahkan untuk pencarian sumber referensi namun tidak serta merta bisa menggantikan peran utama fungsi dari keutamaan referensi buku yang sebanding.
Sejak beberapa tahun terakhir, Tanmia Foundation melalui program wakaf buku referensi da`i telah mengirimkan beberapa paket literasi da`i ke berbagai daerah di tanah air, dengan melewati berbagai proses dan rentang waktu yang panjang. Penutup diujung Syawal 1444 H ini paket wakaf buku referensi da`i dan al-qur`an tiba di berbagai daerah diantaranya, Pesawaran Lampung dan Toraja Sulawesi Selatan.

Wakaf ini menyasar para da`i untuk mendukung proses kegiatan pembelajaran yang sebagian besar mengelola pendidikan di daerah masing-masing seperti Taman Pendidikan Qur`an (TPQ) atau semisalnya. Salah satu tujuan di daerah Lampung tepatnya di Rumah Belajar Bimbingan Al-Qur`an (Rumbelqu) Negeri Sakti, Kabupaten Pesawaran yang sudah berdiri sejak 2019.

“Buku referensi da`i sangat penting dibutuhkan para da`i untuk membantu kegiatan majelis ta`lim di masyarakat dan kegiatan dinniyah anak-anak TPQ yang kami selenggarakan. Berdirinya rumah belajar bimbingan al-quran (Rumbelqu) ini juga dalam rangka membiasakan budaya gemar membaca dan semangat menuntut ilmu sehari-hari”, kata Ustadz Saif Hidayatullah saat menerima buku wakaf dari Tanmia Foundation (17/05/2023).

Wakaf buku

 

“Peran kebiasaan keluarga sangat penting untuk melatih kebiasaan anak-anaknya gemar membaca,” tambah Saif pengasuh Rumbelqu. Saif juga mengatakan, peran penting buku dan da`i /pengajar sangat menunjang keberadaan Rumbelqu ( Rumah Bimbingan Belajar Al-Qur`an) dalam menyelenggarakan beberapa kegiatan diantaranya : belajar baca tulis al-qur`an, tahsin, tahfidz, bimbingan bahasa arab dan inggris dan dinniyah dasar keislaman yang semuanya dalam rangka memfasililitasi masyarakat agar terbentuk generasi qur`ani dan lingkungan kehidupan masyarakat yang berakhlaq.

Di tempat yang lain, kondisi serupa di TPQ Nur Hidayah yang berada Tana Toraja tepatnya di Dusun Gandang Batu Silanan juga mengalami keterbatasan buku referensi dan koleksi buku bacaan . Hal ini berdampak pada pasang surutnya kegiatan TPQ yang saat ini masih terus berjalan. TPQ Nur Hidayah yang berjarak 1 jam perjalanan dari Makale, pusat ibukota Tana Toraja ini berada di dusun perbukitan yang saling berjauhan satu sama lain antar pemukiman warga.

Sebagian besar TPQ yang ada juga berjalan secara turun-temurun, hanya mengandalkan kaderisasi berbasis masyarakat sekitar. Begitu juga animo perhatian masyarakat akan belajar di TPQ makin menurun sehingga menyebabkan kaderisasi ini makin terseok. Mirisnya juga, anak-anak sekarang hidup di zaman yang berbeda dengan dihadapkan pada lebih banyak godaan. Saat ini, kehadiran gawai, internet, game, dan produk-produk teknologi digital menghadang di depan mata 24 jam sehingga semakin menggiurkan. Nur Hidayah juga menilai semangat orang tua untuk memberikan pendidikan agama yang lebih baik pada anak-anaknya masih sangat minim. Artinya, ada banyak motif yang menyebabkan kaderisasi anak-anak terlambat bahkan tergerus.

Wakaf buku

Selain memberikan paket wakaf buku referensi da`i Tanmia Foundation juga menyerahkan wakaf qur`an yang diterima langsung oleh Nur Hidayah, pengelola TPQ setempat pada (16/05/2023). “Alhamdulillah, wakaf buku dan al-qur`an ini sebagai bagian amal shalih dan dapat diartikan sebagai ilmu jariyah yang bermanfaat karena akan berguna untuk sarana belajar dan insyaallah pahalanya terus mengalir selama buku tersebut bermanfaat,” tandas Nur Hidayah.

Hari-hari sebagai petani kopi Nur Hidayah tak segan-segan untuk meluangkan sebagian waktunya untuk mengajar ngaji bagi anak-anak dusun disekitarnya. Kegiatan rutinitas mengajar TPQ yang sudah berjalan bertahun-tahun ini adalah bagian yang tidak bisa terpisahkan dari nafas perjuanganya mengajar anak-anak.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id

    × Ahlan, Selamat Datang!