Tanmia Foundation : Tabligh Akbar dan Penyerahan Wakaf Qur’an Untuk Pulau Nias 2019

Teluk Dalam – Tanmia Foundation menyerahkan Wakaf Al Quran untuk masyarakat Nias, turut diundang tokoh MUI, berbagai nadzir Masjid, pengurus TPQ, majelis taklim, lembaga keagamaan dan termasuk madrasah. Acara dilaksanakan di Masjid Taqwa Teluk Dalam Kabupaten Nias Selatan. Penyerahan tersebut diawali dengan kegiatan tabligh akbar oleh Ustadz Muhammad Aniq Lc, MPdI yang hadir bersama rombongan Tanmia Foundation.

Ratusan jama’ah kaum muslimin dan undangan turut semarak membawa sanak keluarganya untuk menghadiri kajian usai shalat isya.

Sebelum usai, acara simbolis penyerahan wakaf Qur’an bertajuk “Tebar Qur’an Hingga Pelosok Negeri Untuk Pulau Nias” langsung diserahkan langsung oleh Ustadz Bukhari Abdul Muid selaku pihak Tanmia Foundation kepada H Abdul Gani sekretaris MUI Nias Selatan bersama Ust Dedi Iswandi ketua BKM Masjid Taqwa Teluk Dalam, Ahad (20/10/2019).

Pada kesempatan itu, sekretaris MUI Nias Selatan mengucapkan rasa terimakasih dan berharap Al-Quran yang diwakafkan dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mendukung syi’ar dakwah Islam khususnya di Nias Selatan. “Semoga mengalir pahala jariyah bagi yang berwakaf dan terimakasih atas perhatiannya kepada ummat Islam di Nias”, ucap H Abdul Gani sekretaris MUI Nias Selatan kepada pihak Tanmia Foundation.

Sementara itu pihak Tanmia Foundation Ust Bukhari menjelaskan, jumlah keseluruhan Al Quran dan Iqra yang berhasil dihimpun untuk diwakafkan untuk Pulau Nias masing -masing sejumlah 2500 eksemplar dengan berbagai jenis mushaf. Adapun sasaran penerima wakaf sambung Ustadz Bukhari lebih diutamakan pada juru da’i, asatidz, penyuluh agama, masjid, TPQ, lembaga keagamaan dan pendidikan yang memiliki program Al-Quran.

Lebih lanjut Ustadz Bukhari mengungkapkan, jumlah Al Quran yang telah diwakafkan hari ini adalah partisipasi dari kaum muslimin dari berbagai kalangan yang Alhamdulillah ikut andil mengambil bagian amal jariyah dalam rangka tebar Qur’an hingga pelosok negeri mendukung syi’ar dakwah.

Pendistribusian akan dilakukan ke seluruh wilayah daratan Nias dan kepulauan yang berada di seberang lautan sesuai tingkat jumlah kebutuhan. “Iqra masih ada lagi yang belum kami distribusikan karena sedang dalam pengiriman dari ekspedisi sekitar 2500 eksemplar” jelas Ustadz Bukhari sekaligus mengakhiri sambutannya pada para hadirin.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Pulau Nias

Ya’ahowu Gerbang Dakwah di Tano Niha Pulau Nias

Salam Ya’ahowu Bang, itulah sapaan khas pertama kali terdengar ketika kami menginjakkan kaki Pulau Nias. Ternyata kata Ya’ahowu tertulis bertebaran hampir di pelosok sudut Nias. Ya’ahowu adalah salam dalam arti bahasa Nias. Kata sapaan Ya’ahowu selalu digunakan untuk mengawali dan mengakhiri suatu pembicaraan, baik di acara formal maupun non formal yang bertujuan mengakrabkan antara satu dengan yang lain.

Apabila berbicara tentang Pulau Nias, hal yang terbesit ada dipikiran kita adalah tradisi asli Lompat Batu Nias Selatan di Bawomataluo. Pulau Nias ini merupakan pulau terbesar di antara gugusan pulau-pulau Nias yang berjumlah ratusan di lautan lepas samudera Hindia lepas pantai barat Sumatra.

Asal Masyarakat Nias

Asal usul mayoritas masyarakat Nias (Bahasa Nias : Ono Niha) adalah masyarakat adat yang yang masih kuat dengan tradisi leluhur megalitik ( peradaban batu besar ). Pada mulanya masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik sehingga kuat akan dihubungkan dengan tradisi megalitik yang hingga kini masih terlihat keberadaannya di berbagai tempat daerah tersebut. Tinggalan megalitik tersebar di berbagai pelosok kampung pedalaman di wilayah Pulau Nias. Kebanyakan tinggalan megalitik tersebut berada di area peninggalan Raja Nias diatas bukit-bukit dan di pegunungan pedalaman. Tak heran perkampungan di Nias berada di pedalaman-pedalaman semak rimba yang jaraknya berjauhan satu sama lain. Megalitik Nias adalah tinggalan masa lalu yang berasal dari batu dengan beragam jenis bentuk dan namanya. Namun sejak gempa dahsyat berkekuatan 8,7 SR pada Maret 2005 banyak yg rusak dan berubah.

Berdasar dari situs rumah peninggalan Raja Nias di Bawomataluo memang unik dan klasik bertahan sampai saat ini, namun belum ada sumber pasti yang mengetahui sejak kapan suku Nias mendiami pulau Nias. Sementara peninggalan situs ini sudah turun temurun sampai generasi kelima menurut penduduk asli yang tetap mempertahankan adat dan kebudayaan termasuk atraksi lompat batu dihalaman rumah raja.

Kehidupan dan Mata Pencaharian sehari-hari
Kehidupan mata pencaharian sehari-hari penduduk Nias cukup beraneka ragam, adapun mayoritas masyarakat beraktivitas bertani dan juga mayoritas beternak babi. Hampir diberbagai sudut masyarakat bercocok tanam daun umbi jalar untuk pakanya sehingga populasi babi menjadi populasi ternak terbesar di Nias. Selain itu juga aktivitas membuka ladang hutan untuk berkebun karet, kopra dan coklat adalah ragam pencaharian masyarakat. Adapun masyarakat Nias yg tersebar berada di kepulauan sebagian besar mengandalkan menjadi nelayan tradisional.

Mengenal Nias akan lebih dekat dengan sistem sosial dan sistem marga yang mengikuti garis ayah (patrilineal). Marga-marga berjumlah puluhan itu umumnya menandakan identitas asal seseorang dari kampung-kampung itu berasal. Misal Laoli, Waruwu, Harefa, Fau,Lafau, Saniago, Halawa dll. Sampai sekarang Suku Nias adalah masyarakat yang hidup secara turun temurun dalam lingkungan adat dg warisan budaya megalitik yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran, sosial, perkawinan sampai kematian.

Muslim di Pulau Nias
Pulau Nias dihuni hampir 1.000.000 jiwa memiliki luas sekitar 5.625 km² dengan penghuni mayoritas Kristen Protestan dan Katolik mencapai 95% sedangkan sisanya beragama islam sebesar 5 % untuk seluruh pulau Nias. Muslim terdiri dari suku Nias asli dan berbagai pendatang lainya seperti Suku Batak, Suku Padang dan Suku Jawa.

Penduduk muslim pada umumnya berada di wilayah-wilayah pesisir dan di seberang kepulauan. Keberadaan Masjid pun sangat jarang dan hanya berada di pusat kecamatan dengan jarak tempuh yang jauh dengan tempat tinggal muslim satu sama lain.
Kendati demikian, jumlah muslim terbesar masih berada di pusat Kota Gunung Sitoli dan sebagian lainya tersebar di beberapa tempat di Nias. Nias terbagi menjadi Nias Utara, Nias Selatan, Nias Barat dan Nias Induk yang sekarang mekar menjadi kota Gunungsitoli.

Nias memang unik dengan segala isi pernak-perniknya, tapi pekerjaan rumah besar yang harus menjadi perhatian besar ialah tantangan perjuangan dakwah Islam dengan segala lika-likunya. Bismillah Ya’ahowu Dakwah di Tano Niha.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Pulau Nias

Tanmia tebar 2500 al Quran di pulau Nias

Ahad 20 Oktober jam 3 pagi sudah terlihat aktifitas dari team tanmia bersiap – siap untuk menuju bandara, dengan mengendarai taxi ojol Alhamdulillah perjalanan lancar hingga tiba di bandara sebelum fajar menyingsing.

Barang – barang untuk kebutuhan di lokasi sudah dikirim beberapa hari sebelumnya melalui jasa expedisi ke Pulau Nias dan Alhamdulillah sudah sampai di lokasi dengan selamat, team survey lokasi sudah berada di Nias tiga hari sebelum kedatangan kami, untuk mapping lokasi acara, serah terima al Quran, silaturahim kepada para Muallaf, tablig akbar, dll, dia lah ustadz Ali yang selalu menjadi team sukses di lapangan untuk seluruh wilayah yang selama ini di kunjungi oleh tanmia, baik di Pulau jawa atau pun di luar pulau jawa.

Alhamdulillah tiba di bandara Binaka Gunung Sitoli sesuai jadwal, 30 menit setelah kedatangan kami mobil jemputan pun tiba, siapa lagi yang menjemput kalau bukan ustadz Dedi Ismayadi, beliau adalah salah seorang tokoh dakwah di wilayah kabupaten teluk dalam Nias Selatan, memiliki kegiatan dakwah yang sudah cukup lama, 20 tahun sudah beliau berdakwah di wilayah ini, berbagai halangan dan rintangan sudah beliau cicipi.

perjalanan dari bandara menuju teluk dalam kurang lebih 2 jam 30 menit, menyisir pesisir pantai hingga menuju kabupaten teluk dalam tempat ustadz dedi tinggal, sampai di rumah beliau kami langsung disambut dengan berbagai hidangan makan siang yang sangat istimewa, berbagai menu makanan seafood terhampar di hadapan kami, sambil kami makan siang beliau memperkenalkan kepada kami orang – orang muallaf yang ada di sekitar beliau dari orang tua hingga anak – anak.

Di Pulau Nias ini in syaa Allah kita akan distribusikan 2500 Al Quran, 2500 Buku Iqro, pakaian layak pakai, buku islam, dll. Dari pulau nias kami sampaikan Jazakumullah khairan atas partisipasi bapak dan ibu serta seluruh team yang bertugas. Semoga Amal ini diterima oleh Allah taala, dan menjadi pintu keberkahan bagi kita dan anak keturunan kita, aamiin ya rabbal alamin.

Wakaf Quran Untuk Muallaf & Muslim Pulau Nias

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Puji dan syukur hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan keharibaan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan pengikutnya hingga akhira zaman.

Menimbang dan melihat kebutuhan saudara – saudara seiman kita di Pulau Nias kepada Al Qur’an yang sangat tinggi dan sarana untuk belajar Islam sangat minim di tempat mereka tinggal, karena memang jumlah kaum muslimin di sana kurang dari 10% maka kami dari Yayasan Islam Attanmia terpanggil untuk mengadakan Wakaf Al Qur’an untuk kemudian di distribusikan kepada mereka serta membuat program pengentasan buta huruf Al Qur’an di Pulau Nias.

Selain Wakaf Al Qur’an in syaa Allah akan diadakan Daurah dan pelatihan baca Al Qur’an dan ilmu dasar agama islam serta melatih Pendidik lokal agar mereka nantinya bisa membantu masyarakat dalam membaca Al Qur’an.

Berkenaan dengan hal ini maka kami mengajak kaum muslimin dan muslimat di seluruh bumi Allah untuk ikut berpartisipasi dalam program Dakwah dan Wakaf ini, sebagai salah satu wujud kepedulian kita kepada kaum muslimin agar mereka mengenal islam lebih baik dan mengenal kitab Allah subhanahuata’ala.

Demikian surat ini kami sampaikan semoga Allah memudahkan kita untuk berdakwah dan beramal Jariyah, atas partisipasinya kami sampaikan Jazakumullah khairan.

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Bukhari Abdul Muid
Ketua Yayasan Attanmia

🗳 Informasi
🌐 www.tanmia.or.id
📮 info@tanmia.or.id
📞 085215100250
💰 Bank Syariah Mandiri
7117833447
YAYASAN ISLAM ATTANMIA

Informasi tentang pulau Nias, Sumatra Utara.

>> PULAU NIAS

nias mengaji

Husen Laba keluarga muslim satu-satunya di Nggodimeda Rote Tengah

Rote Ndao – Terik panas matahari musim panas di daratan pulau Rote makin menyengat kulit tapi inilah cuaca adanya setiap tahun. Kali ini bertepatan dengan hari tasyrik terakhir Iedul Adha 1440 H tepat pada Rabu ( 14/08/19 ).

Dedaunan lontar yang tinggi di semak-semak tak mengurangi sinar matahari yang menyorot di sepanjang jalanan utama dari Labalain menuju Rote Timur .

Panas tetaplah saja menyengat. Walhasil topi yang menutupi kepala tertinggal sehingga tanpa topi helm pun bisa serbaguna dikenakan. Selain perjalanan ke Oenggae tanpa terlewatkan untuk singgah di Nggodimeda Rote Tengah. Ada apa gerangan ?

“Pulangnya dari Oenggae bisa lewat jalan Rote Tengah tadi, nanti sebelum pasar Nggodimeda tengok kanan. Sebelum jembatan, nanti akan ketemu rumah kayu cat hijau dengan atap seng dan ada penampung air di samping rumahnya,” kata Ahmad Koso ketua MUI Rote yang jumpa di Masjid Nurul Ikhwan Ba’a Lobalain. Beliau menjelaskan proses muallaf keislaman istri Bapak Husen satu-satunya keluarga muslim di Nggodimeda Rote Tengah. Ahmad Koso adalah ketua MUI Rote yang juga masih dalam satu kecamatan Rote Tengah dengan Bapa Husen. Muslim di Rote Tengah hanya ada belasan KK saja dengan jumlah kurang dari 90 jiwa dan tinggal saling berjauhan.

Mengikuti arahan ketua MUI Rote bersama Ust Zul kordinator penyuluh agama di wilayah Rote Ndao akhirnya singgahlah di kediaman Bapak Husen, satu-satunya keluarga muslim yang tinggal di Nggodimeda Rote Tengah. Dari jalanan kejauhan tampaklah tiang bendera dengan rumah cat hijau bertembok kayu.

Sembari meletakan kendaraan dan melepas penutup kepala karena cuaca yang menyengat akhirnya tibalah kami di depan rumah Bapak Husen tempat kami singgah.

Raut wajahnya berseri bahagia ketika mendengar salam kami yang sudah mengucapkan dari halaman rumah.

Memasuki rumahnya begitu sederhana, dengan pembatas dinding dari bambu yang sudah lusuh karena sudah sangking lama nampaknya.

Bapa Husen Laba berasal dari Ende daratan Flores yang sejak tahun 1988 menetap di Rote. Mulanya 1978 beliau tinggal di Kupang tapi seiring waktu karena pekerjaannya sebagai perantau sampailah akhirnya ia mempersunting putri Raja Amalo Rote hingga dengan kesadaran sepenuh hati keyakinanya akhirnya memeluk islam. Sebutlah Mama Vira yang kini bernama Halimah setelah masuk islam. Mulanya banyak tantangan bertahun-tahun ketika istrinya memilih masuk islam dari keluarga besar orang tuanya yang notabenenya trah kerajaaan Amalo Rote namun seiring dengan keteguhan hati istri dan keyakinanya sampai saat ini masih bertahan sekaklipun menjadi muslim satu-satunya di Nggodimeda. Walhasil ketika seiring waktu berjalan menantu-menantunya pun tergerak untuk masuk Islam sebelum menikahi putri-putrinya.

Berjumpa silaturahim di kediamannya seakan menguatkan hati bahwa bisa bertahan hidup ditengah -tengah kondisi seperti itu bukanlah hal yang mudah. Boleh terbilang rawan dan penuh tantangan kita menganggapnya tapi tidak seperti Bapak Husen utarakan sembari menikmati hidangan minum ala kadarnya dirumahnya. Kita bisa membayangkan bagaimana selain menjadi kepala keluarga muslim satu-satunya juga kondisi mata pencaharian nafkahnya yang masih serabutan karena sebelumnya sejak tahun 2000 ia di PHK dari penjaga hutan sebuah perusahaan yang entah bagaimana alasanya sehingga ia diberhentikan sepihak.

Usai shalat dzuhur di Oenggae yang berjarak sekitar 15 KM, di sanalah masjid Arrahman Oenggae biasa ia shalat Jum’at bersama anak lakinya beserta menantunya. Silih berganti ujian tidak menyurutkan semangat keislaman Bapak Husen, seringkali ia wasiatkan pesan Bapaknya ( Muallaf ) sebelum wafat kepada anak-anaknya.
“Kalian harus ingat wasiat kakek-nenek kalian bahwa jangan sampai islam itu terputus dari keluarga kita bagaimanapun keadaannya”, terang Bapak Husen kepada kami. Wasiatnya kepada keluarga dan anak-anaknya untuk tetap memegang ajaran islam adalah wasiat yang tidak bisa ditawar lagi dan benteng yang kokoh terhadap ujian yang datang menerpa.

Kali ini sebelum pulang amanah hewan kurban berupa kambing dari Tanmia Foundation diserahkan untuk disembelih di tempat Bapak Husen dan keluarganya.

Belum usai pengulitan hari sudahlah menjelang senja sudah sampai di sini pertemuan kami dengan Bapa Husen, satu-satunya keluarga muslim di Nggodimeda Rote Tengah.

Mengunjungi kediaman Bapak Husen memang seperti berpijak pada sejengkal “tanah halal” di Nggodi Meda, karena tak sedikit ternak babi berkeliaran di sekitar rumah tetangganya ketika singgah di Nggodi Meda. Bila berkunjung ke Rote Tengah yang wajib dikunjungi para da’i dan asatidz atau pegiat dakwah lainya adalah Bapak Husen. Tetapi tak kalah pentingnya untuk mengunjungi masjid-masjid di seluruh Rote yang sekarang ini berjumlah 11 saja.

Sejak 2003 Pulau Rote memang menjadi kabupaten bagian tersendiri dengan nama Rote Ndao dengan pusat ibukota di Ba’a Lobalain. Dengan terbagi menjadi 10 wilayah kecamatan. Menyapa Bapa Husen di Nggodimeda Rote Tengah seolah mengingat kuatnya kalimat syahadat yang pernah diucap Halima istrinya dihadapan Ketua MUI Rote berapa puluh tahun silam sehingga silaturahim kali ini juga dipertemukan diatas dasar keyakinan iman makna tauhid La Ilaha Illallah, Muhammad Rasulullah.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
NTT

Tanmia Bagikan Nikmat Qurban Untuk Perkampungan Oenggae Muslim Pesisir Pulau Rote

Fajar menyingsing dengan cuaca angin yang masih dingin mulai terasa dan tampak dari kejauhan nyala lampu menara mercusuar Dermaga Pelabuhan laut Ba’a di Pulau Rote pada 14/08/2019. Ini adalah hari tasrik terakhir ke-3 pada bulan Dzulhijjah 1440 H dimana distribusi hewan qurban Tanmia Foundation menyasar pulau Rote. Titik lokasi penyembelihan hewan qurban dipusatkan di warga muslim Oenggae Kecamatan Pantai Baru berada di arah timur dan ditempuh sejauh 25 KM dari pusat dermaga Ba’a pusat kota Kabupaten Rote Ndao.

Haji Laode Mailing selaku imam Masjid Arrahman Oenggae Pantai Baru bersama penduduk bajo pesisir sudah bersiap-siap sejak pagi untuk bergotong royong melakukan penyembelihan qurban sapi dari Tanmia Foundation.

Oenggae adalah pemukiman muslim yang berada diantara mayoritas Kristen Protestan di Kecamatan Pantai Baru.

“Muslim di sini lebih kurang sejumlah 116 KK dengan jumlah mencapai 400 jiwa”, ucap Mahmud salah seorang muallaf yang sejak 1990 tinggal di Oenggae. Mata pencaharian penduduk Oenggae sebagian besar adalah melaut karena sudah turun temurun sejak dulu. Melaut dilautan lepas bukan dalam hitungan hari lagi mereka melainkan berminggu-minggu bahkan bulan karena mereka berburu ikan maupun hasil laut lainya berpindah-pindah. Naasnya bila cuaca buruk tak sedikit dari mereka yang tak kembali pulang entah bagaimana nasibnya.
Usai prosesi penyembelihan hewan bersama warga langsung dibagikan ke warga Oenggae hingga menjelang waktu Dzuhur tiba.

Sebelum pulang meninggalkan Oenggae tak lupa kami mengunjungi rumah Mama Zaini Casova ( 70th ) dan Mama Hanija Lembang ( 70th), keduanya adalah janda yang ditinggal sudah bertahun-tahun melaut oleh suaminya yang belum tahu keberadaannya.

“Alhamdulillah terima kasih sudah mampir di gubug kami membawakan daging kurban, ucap Mama Zaini dengan wajah senyum merekah sembari kami pamit pulang.

Pada umumnya warga muslim di pulau Rote memilih tinggal di pesisir-pesisir daripada warga Kristen atau Katolik yang tinggal di daratan atau pegunungan. Warga Muslim di Rote diperkirakan hanya 5 % dengan jumlah tertinggi berada di Lobalain dan terendah di Rote Tengah dan Selatan.

Pulau Rote adalah bagian kepulauan Rote yang masuk dalam wilayah Kabupaten Rote Ndao. Dengan Pulau Ndana Rote Barat Daya sebagai wilayah tugu perbatasan paling selatan perbatasan Indonesia dengan Australia.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
NTT

Distribusi hewan qurban untuk warga pesisir Nangahale Talibura Maumere

Distribusi hewan qurban Tanmia Foundation pada hari tasrik ke 2 Iedul Adha 1440 H untuk Nusa Tenggara Timur tidak berhenti sampai di ujung barat pulau Flores di Komodo Manggarai Barat saja tapi menyasar juga ke Maumere Sikka, bagian wilayah timur daratan Flores.

Menempuh lintas trans Flores selagi pagi masih buta tim Tanmia Foundation menuju jalanan trans Flores untuk mengejar waktu agar sampai di Ende lanjut Maumere. Medan berkelok menanjak inilah jalanan khas Flores yang membentang membelah pegunungan rimba yang lebat.

Titik-titik rawan longsor harus dilewati tapi mau apalagi inilah jalan satu-satunya trans daratan Flores dari ujung Labuan Bajo hingga Larantuka.

Ajaib Subhanallah perjalanan menuju Maumere, usai melewati Bajawa-Ende yang dikenal berkelok terjal melintasi pegunungan tinggi danau Kelimutu Wolowaru semua terasa terbayar sekalipun harus terlewatkan moment untuk singgah karena kendaraan kami harus berpacu dengan waktu agar sampai di Maumere sebelum gelap.

Walhasil Alhamdulillah, singkatnya bersama Tim Kompak Maumere menuju lokasi pemotongan hewan kurban di Masjid Baitul Muhajirin, Dusun Likong Gete Desa Nangahale Kecamatan Talibura Kab. Sikka Flores NTT.

Syukur alhamdulillah dua ekor kambing super dapat dipotong di lokasi dan dibagikan untuk masyarakat muslim yang sebagian besar nelayan yang mendiami pesisir “,ucap Hainul Rashid da’i yang hari-harinya mengajar di sekitar Maumere.

Distribusi hewan qurban Tanmia Foundation kali ini adalah untuk pertama kalinya di Maumere Sikka. Hal ini sekaligus momen keberkahan yang bisa menguatkan ukhuwah dan memperkokoh benteng keimanan sesama kaum muslimin yang notabenenya tinggal sebagai minoritas di wilayah Kabupaten Sikka.

Berdasarkan data BPS Sikka 2018 hanya 12 % saja jumlah warga muslim yang berada di semua wilayah Sikka.

Semoga Allah menerima amal shalih disetiap niat dan derap langkah para shohibul qurban dan semua yang terkait dengan lautan nikmat keberkahan. Aamiin

Ali Azmi
Relawan Tanmia
NTT

Warga Bajo Pesisir Pulau Longos NTT Menikamati Daging Qurban

Salah satu sasaran distribusi Qurban Tanmia Foundation selain daerah daratan pedalaman juga daerah pesisir kepulauan yang minim akses. Berdasarkan kriteria tersebut, distribusi hewan juga menjangkau Pulau Longos Manggarai Barat dengan melangsungkan penyembelihan tiga ekor kambing untuk warga kampung Bajo pesisir yang mayoritas nelayan.

Musim angin dan cuaca yang tak menentu membuat para nelayan tidak melaut dan biasanya lebih memilih bekerja serabutan atau menggunakan waktu untuk memperbaiki perahu sampan kayu atau bercocok tanam berladang di semak belukar pulau sebisanya.

Kampung Bajo yang terletak di pesisir pulau Longos ini tergolong minim. Listrik hanya hidup beberapa jam saja semalam sehingga siangnya padam, air kebutuhan konsumsi pun payau dan asin terkadang di beberapa titik pemukiman warga, begitu juga akses jaringan selular hanya ada titik-titik tertentu bisa didapat sehingga komunikasi agak terhambat.

Demikian kondisi masyarakat bajo yang notabene nelayan pesisir yang hidup ala kadarnya, tampak dari rumah penduduk masih terbuat dari belahan bambu yang sudah terkikis lapuk dan lusuh. Selain itu, kesadaran masyarakat akan pendidikan pun sangat rendah. Anak-anak usai sekolah dasar tak jarang membantu melaut kebanyakan dan tidak melanjutkan sekolah setelah  lulus sekolah dasar. Sehingga mereka sudah bekerja untuk membantu orang tua memenuhi nafkah kebutuhan ekonomi keluarga.

Penyembelihan berlangsung mulai ba’da ashar hingga menjelang maghrib. Anak-anak pesisir pun dengan kepolosannya ikut antusias membantu penyembelihan sampai pendistribusian.

” Kaum ibu terbiasa ketika ada idul kurban menyiapkan bumbu untuk selanjutnya memasak daging bersama-sama di tungku tradisional dengan bahan bakar kayu kering lalu mengundang tetangga pesisir makan bersama”, terang Amran kepada crew Tanmia Foundation.

Bagi warga pesisir Bajo Pulau Longos menikmati masakan dari daging kurban bersama-sama adalah suatu kebahagiaan yang mereka nantikan. Teriring doa semoga senyum mereka adalah senyum yang mengantarkan kita bertemu di surgaNya. Aamiin Ya Rabbal alamin.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
NTT

Nikmat Hewan Kurban Sapa Muslim Pedalaman di Rahak Poco Golo Kempo Sano Nggoang

Usai Shalat ‘Ied di pedalaman Warsawe Mbeliling Tim Tanmia Foundation bergerak untuk mendistribusikan hewan kurban ke dusun-dusun yang berada di bukit-bukit pedalaman Sano Nggoang dan Mbeliling. Kali ini jalur distribusi menuju dusun Rahak dusun Desa Poco Golo Kempo yang merupakan daerah perbukitan terjal di wilayah Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat. Di desa ini sekitar 25 KK warga muslim asli yang termasuk dalam merupakan salah satu rumpun suku Rahak Kempo bermukim.

Di Desa Poco Golo Kempo, muslim menjadi minoritas. Hanya ada berkisar 25 KK kepala keluarga muslim sampai saat ini. Namun kendati demikian, jumlah tersebut tak mengurangi semangat keislaman dalam laju perkembangan zaman. Subhanallah banyak santri hafidz-hafidz Qur’an berprestasi yang berasal dari Rahak Poco Golo Kempo ini muncul.

“Tak sedikit murid putra-putri kami beberapa tahun terakhir berhasil menjadi hafizh di beberapa pesantren, syukur alhamdulillah kendati kondisi keberadaan kami disini cukup jauh untuk dijangkau dan sebagian besar keluarga asli yang merupakan asal Suku Kempo dan Lembor ,” terang Bapak Nurman bersama istrinya, selaku imam masjid.

Hewan kurban yang didistribusikan untuk warga Rahak Sano Nggoang dan dusun Wae Lambor Golo Tantong Mbeliling sebelumnya diangkut dengan kendaraan menuju lereng perbukitan di mana akan dilakukan penyembelihan di Masjid Hidayatullah, Rahak. Masjid ini memang dijadikan pusat kegiatan ibadah warga muslim di Poco Golo Kempo Sano Nggoang.

Nurman selaku imam Masjid Hidayatullah, menerima kedatangan tim Tanmia dan menghubungi para warga lain untuk membantu proses penyembelihan hingga selesai.

“Kami jadikan Masjid Hidayatullah sebagai pusat tempat pemotongan dan distribusi daging hewan kurban di Poco Golo Kempo. Hal ini mengingat satu-satunya masjid yang ada sekalipun ala kadarnya ketersediaan fasilitas” jelas Nurman Imam Masjid dirumahnya.

Hewan kurban yang di distribusikan tim Tanmia di Mbeliling dan Sano Nggoang ini adalah milik warga lokal yang notabene juga beternak dalam menyambung mata pencaharian mereka sehari-hari. Hewan di sini diternak liar di alam bebas oleh tuan-nya sehingga pada mulanya kami harus menempuh perjalanan melintasi lereng bukit untuk menjerat menangkapnya. Walhasil kebiasaan warga yang sudah bertahun-tahun berinteraksi dengan hewan ternak liar cukup membuat kami terperanjat.

Namun demikian inilah adanya kebiasaan masyarakat pedalaman flores. “Dengan Qurban untuk muslim minoritas di pedalaman kita dapat membantu memberdayakan warga peternak lokal karena kebutuhan hewan saat musim kurban lumayan tinggi, tapi hewannya skalanya terbatas” tambah Arman yang juga ikut membantu menangkap hewan qurban kami yang lepas.

Distribusi daging kurban untuk warga muslim dhuafa di dusun-dusun pedalaman setidaknya mampu memberikan kebahagiaan hingga secercah do’a terbaik bagi para Shohibul Qurban yang mendermakan niat mulia untuk berkurban untuk saudara seimanya yang berada pelosok negeri, khususnya Pedalaman Pulau Flores NTT. Kebahagiaan akan hewan kurban adalah kebahagiaan yang tak ternilai yang dirasakan masyarakat pedalaman yang hidup dengan berbagai corak kondisi perekonomian. Kurban Anda bahagiakan mereka. Baarakallahu fiekum.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
NTT

Lebaran Idul Adha 1440 H : Asa Kebahagiaan di Warsawe Pedalaman Mbeliling Flores NTT

Hari Lebaran Idul Adha 1440 tim distribusi Qurban Tanmia Foundation menyambung asa harapan kaum muslimin di pedalaman Warsawe Mbeliling Manggarai Barat. Malam hari raya serasa bermakna karena esok akan merayakan kebahagiaan bersama-sama melaksanakan shalat Ied di Warsawe Mbeliling.

Malam yang gulita menjadi berkesan betapa nyala listrik sangat berarti disini, karena belum terjangkau dengan aliran listrik. Sehingga genset tenaga surya menjadi benda berharga untuk membantu aktivitas dan ibadah terutama bagi kaum muslimin pedalaman Warsawe yang berjumlah 27 KK dari sekian ratusan mayoritas Katolik dan Protestan.

Pagi shubuh nyala listrik dari tenaga surya menerangi Masjid Uswatun Karima satu-satunya masjid di Warsawe. Alhamdulillah kumandang takbir hari raya bersemarak menggema dari bahagia kaum muslimin yang tinggal di pelosok Warsawe. Serasa mengharukan berjumpa tatap muka bersama kaum muslimin yang notabene minoritas dan bertahan tinggal di pedalaman. Lagi-lagi inilah realita kondisi kaum muslimin yang tinggal di pedalaman dan minoritas.

Kali ini Khotib Iedul Adha, Ustadz Ramly yang memang sehari-hari nya menjadi imam Masjid di Warsawe. Berjumpa dengan raut wajah berseri bahagia kala bertemunya serasa saudara yang lama tak bersua. Ada haru dan rasa yang tak pernah tergantikan. Inilah nikmatnya iman yang luar biasa. Terbayang hari-harinya harus ia jalani menjadi da’i demi dakwah yang ia yakini di pedalaman.

“Belajar dari Nabi Ibrahim Alaihissalam yakin bahwa Allah tidak akan menelantarkan umatnya yang berpegang pada ajaran Tauhid Laa Ilaaha Ilallaah sebagaimana yang dialami sang kekasih Allah dan bapaknya para Nabi. Beliaulah teladan dalam pengorbanan, teladan dalam dakwah, teladan dalam keteguhan dan teladan dalam ketaatan hingga sampailah pada Rasulullah Muhammad Saw”, jelas khutbah Ustadz Ramly dalam khutbah di Masjid Uswatun Karima satu-satunya masjid di Warsawe .

Hari raya Idhul Adha adalah momen yang paling tepat untuk mengambil pelajaran berharga dari kisah-kisah ketauhidan, keyakinan akan sebuah prinsip Nabi Ibrahim Alaihissalam.

Dan tentu bersyukurlah para ustadz dan dai yang berdakwah di tengah-tengah metropolitan kota-kota besar. Mereka bisa merasakan hidup di tengah fasilitas yang bisa dijangkau.

Tapi tidaklah demikian dengan para dai yang berdakwah di daerah terpencil hingga pedalaman. Jangankan berpikir rupiah, kendaraan mewah, atau penghargaan, seringkali usap air mata menemani mereka ketika melihat langsung kondisi umat Islam di pedalaman.

Bahkan, nyawa pun siap dipertaruhkan demi tegaknya Islam. Singkat cerita pengalaman Ustadz Ramly yang yang berdakwah di Warsawe Mbeliling Manggarai Barat.

Tim Tanmia Foundation dalam Idul Adha 1440 H ini juga mendistribusikan hewan kurban ke polosok-pelosok desa pedalaman pulau Flores Nusa Tenggara Timur. Salah satunya, distribusi dilakukan di Pulau Flores, tepatnya di desa-desa pedalaman Manggarai Barat dan Sikka Maumere juga kawasan pemukiman muslim dhuafa yang masih berada di pulau-pulau terpencil.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
NTT

Kiprah Ukhuwah Muallaf Indonesia, Mengajar Qur’an di Lereng Merapi Merbabu

Ukhuwah Muallaf Indonesia atau disingkat UMI adalah komunitas yang berdiri atas prakarsa Ibu
Desmauli Simbolon yang berpusat di Magelang Jawa Tengah.
Desmauli Simbolon atau lebih dikenal dengan Ibu Ully adalah salah satu potret muallaf yang kini berprofesi sebagai guru ngaji untuk para lansia di lereng Merapi Merbabu.

Perjalananya bertahun-tahun sejak usia belianya sebagai seorang misionaris gereja akhirnya berbalik arah menjadi seorang muallaf atas ijin Allah. Niat keinginanya untuk masuk islam terdetik ketika hidayah menghampirinya yang ketika itu sedang melakukan misi penginjilan di sebuah wilayah di pulau Jawa. Namun tanpa disangka dirinya semakin menyakini bahwa orang islam menyakini pepatah “Allah Mboten Sare” ( Allah Tidak Pernah Tidur ) Dialah Allah sang Maha Hidup yang terus menerus mengurus makhluk-Nya, yang tak lupa dan tak pernah mengantuk dan tak pernah tidur.

Hingga akhirnya tergerak hatinya untuk memutuskan memeluk islam pada tahun 2015. Tidak berhenti disitu saja, setelah masuk Islam justru ia makin rajin untuk mempelajari islam hingga ia merasa prihatin dengan kondisi kaum muslimin yang mayoritas orang tua belum bisa membaca Alquran dan itu berada di sekitar pedesaan pelosok di lingkunganya.
Pada perjalananya, dakwah UMI berawal dari Paguyuban Muallaf Magelang ( PMM ) yang juga concern dalam pembinaan muallaf dalam setiap kegiatannya.

“Ukhuwah Muallaf Indonesia atau lebih dikenal dengan UMI memiliki visi agar terbentuknya muallaf dan muslim yang kuat sejak lahir, mandiri lahir dan batin, sehingga terwujud masyarakat Islam yang Kaffah”, jelas Ully usai mengajar para orang tua di Merapi Sari Lereng Merbabu.

UMI juga sebagai wadah untuk merangkul dan membina para mualaf agar terwujud muallaf yang kaffah, istiqomah dan sejahtera sehingga dengan terbentuknya pribadi muallaf yang mandiri dan muslim yang bertaqwa dapat mewujudkan program aksi bina muallaf mandiri dan bertaqwa yg bisa dilaksanakan secara bersinergi dengan berbagai pihak umat islam yg peduli dan punya keterkaitan dengan Pembinaan Mualaf.
Dalam jadwal kegiatanya UMI tak hanya sekali atau dua kali dalam sepekan. Ada sekitar 12 lokasi yang harus mereka datangi, sehingga harus dijadwal hampir setiap hari dalam sepekan. Bahkan, dalam sehari kadang mereka harus mengajar di dua lokasi. Lokasinya pun berjauhan dengan medan jalan yang cukup menantang.

“Kehadiran UMI diharapkan mampu menjadi wadah para muallaf yang bisa saling komunikasi dan menguatkan hati satu sama lain sehingga semakin mantaplah rasa iman mereka didalam Islam”, jelas Muhyiddin ( 65 tahun ) warga dusun Cuntel Merbabu kepada Tanmia Foundation saat ditemui di lokasi.

Ali Azmi
Yogyakarta

Gigihnya Belajar Qur’an Para Lansia Muallaf di Lereng Merapi Merbabu

Perjalanan silaturahim team Tanmia Jakarta ke warga muslim muallaf dusun Cuntel Kopeng harus menempuh jarak 60 KM dari kota Yogyakarta. Dusun terakhir ini berada di lereng pendakian Merbabu yang pada kesempatan ini menuju lokasi bersama tim rombongan Ukhuwah Muallaf Indonesia ( UMI ) pimpinan Ibu Dosmauli Simbolon, mantan pendeta yang akhirnya menjadi muallaf.

Berikut ini menyimak kisah para lansia muallaf yang masih gigih untuk belajar Alquran.

Dinomo. 79 tahun, memulai belajar Iqra’ setahun ini di Masjid Baiturrahman dusun Cuntel Desa Kopeng Kabupaten Semarang. Keinginan untuk bisa membaca Al-Qur’an pada usianya yang sudah lanjut sungguh menakjubkan. Cita-citanya untuk bisa mengkhatamkan Qur’an memang tidaklah mudah dan instan, berbagai hal harus dilaluinya dengan kesabaran dan juga pengorbanannya yang tidaklah ringan.

Motivasi yang kuat mendorong Kakek Dinomo sampai sekarang ini masih gigih belajar Al-Qur’an. Sebenarnya diumur yang sudah lanjut keinginan saya untuk bisa membaca Al-Qur’an tetap masih ada. Sudah lama menunggu-nunggu tapi terkendala banyak hal, disamping belum ada guru yang siap menjadi pengajar juga faktor fisiknya yang makin membungkuk menjadi kendala tersendiri yang dihadapinya.

“Jejak masalalu pernah bertahun-tahun menjadi ketua gereja Pantekosta dan gereja Bethel di wilayah Cuntel, Alhamdulillah atas ijin Allah akhirnya tergerak untuk memeluk islam menjadi muallaf akhirnya”, jelas sang kakek dengan senyum polosnya usai belajar membaca iqra.

Keinginanya untuk belajar Alquran terus membara padahal fisiknya makin menua. Usia bukan lagi menjadi halangan dirinya untuk tidak memulai belajar, hingga kondisi keadaan tidak membuatnya menyerah begitu saja.Berikut singkat kisah bagaimana awal perjalanan Mbah Dinomo belajar membaca Qur’an ?

Saya mulai belajar ketika awalnya Ibu Ully bersama tim Ukhwah Muallaf Indonesia datang meluangkan waktu setiap Jumat sore mengajar kami. Ketika itu tahunya mengaji sebatas ikut menghadiri ceramah di pengajian itupun jarang sekali. Belum tentu setiap bulan itu ada.

Seiring waktu kehadiran rutin para pengajar UMI lambat laun terdorong semangat untuk belajar bersama para lansia yang lain. Dari sinilah, saya dan para lansia yang lain memulai belajar Al-Qur’an, setiap Jum’at sore berlatih dengan Iqra’.

Bagaimana langkah yang kakek gunakan untuk bisa belajar ?

Setiap hari, setelah belajar hari Jum’at bersama tim UMI kami membukanya lagi dirumah dan mengulanginya lagi baris demi baris hingga satu halaman. Keesokan harinya, sebelum berangkat ke ladang mengulangi ayat-ayat tersebut. Tak cukup itu saja, saya pun sering bertanya pada imam atau tetangga muslim yang sudah bisa.

Tim UMI memang menetapkan jadwal setiap hari Jum’at sore khusus untuk mengajar warga lansia di dusun Cuntel Kopeng dan Merapi Sari. Sehingga apa yang sudah diajarkan akan kembali diulanginya lagi selama satu pekan.

Demikian seterusnya, para warga yang mayoritas lansia selalu berlatih belajar membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan Iqra’ tersebut. Jadwal kegiatan ini sudah berjalan selama tiga tahun hingga sekarang.

Mbah Tilah, Dusun Merapi Sari ( 96 tahun ) Selain kakek Dinomo tak mau ketinggalan ada Mbah Tilah ( 96 tahun ) asal dusun Merapi Sari Ngablak lereng Merbabu Magelang juga masih sabar belajar membaca Iqra’ demi keinginanya bisa membaca Qur’an. Keseharian nenek juga masih seperti biasanya beraktivitas berkebun sayur dan mencari rumput untuk ternaknya padahal usianya sudah cukup lanjut. Kini Mbah Tilah tengah belajar sampai Iqra’ jilid II kendati usianya terbilang sangat lanjut ia masih tetap berkeinginan belajar tanpa malu, bahkan cucu cicitnya terkadang yang menuntunya ketika belajar.

Awalnya mustahil bisa ikut belajar karena usia tetangga-tetangganya yang jauh lebih muda darinya. Tapi justru mereka malah berbalik menyemangati Mbah Tilah untuk tetap membulatkan tekad pantang menyerah sekalipun usianya sangat berpengaruh pada daya ingatnya yang semakin melemah. Tetapi ketika mereka melihat kebulatan tekadnya, akhirnya mereka pun tersulut untuk tak mau kalah untuk terus giat belajar dan sedikit demi sedikit hafalannya pun mulai bertambah.

“Ketika Mbah Tilah mulai beranjak bisa perlahan para lansia yang lain pun merasa takjub sangat bahagia bahkan tak sesekali air mata menetes di pipi mereka karena rasa bersyukurnya”, jelas Siti yang juga ikut belajar bersama-sama Mbah Tilah.

Selain belajar rutin Iqra setiap sekali sepekan, terkadang juga diisi dengan acara mabit dan pemberian santunan kepada warga yang kurang mampu.

Ali Azmi
Yogyakarta

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id