Tebar Qurban untuk masyarakat Muslim Pedalaman NTT dan Nias

Mengingat sudah dekatnya hari raya Idul Adha 1440 H, maka kami dari Yayasan Islam Attanmia mengajak Bapak dan Ibu untuk ikut berpartisipasi dalam Ibadah Qurban yang kami selenggarakan dan akan di sebar ke wilayah pelosok yang dihuni minoritas muslim seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Pulau Nias untuk membantu mereka, memberi perhatian serta bagian dari syiar – syiar agama islam untuk menebar rahmat dan manfaat bagi kaum muslimin, in syaa Allah program tebar Qurban ini sangat bermanfaat dan tepat sasaran karena wilayah – wilayah tersebut sudah pernah kami datangi dan kami adakan kegiatan dakwah dan sosial di sana.

Dari pengalaman tahun lalu alhamdulillah sambutan masyarakat sangat baik dan partisipasi masyarakat dalam program ini juga sangat baik, hewan Qurban juga kami kirim ke pulau – pulau dengan menggunakan perahu yang dihuni oleh masyarakat muslim di wilayah NTT, beberbekal dengan pengalaman tahun lalu kami berencana untuk mengadakannya kembali pada tahun ini, mudah – mudahan Allah memberikan taufiq, kemudahan dan keberkahan dalam kegiatan mulia ini.

Dengan demikian kami mengajak bapak dan ibu untuk kembali ikut berpartisipasi dalam program ini, untuk rincian harga hewannya adalah sebagai berikut:

🐏 Kambing type A Rp 2.500.000,-

🐏 Kambing type B Rp 3.500.000,-

🐂 Patungan Sapi Rp 3.000.000,-

Atas partisipasi dan perhatiannya kami sampikan Jazakumullah khairan, barakallahu fiekum.

Bukhari Abdul Muid

Ketua Yayasan

🗳 Informasi
🌐 www.tanmia.or.id
📼 info@tanmia.or.id
📞 085215100250
💰 Bank Syariah Mandiri
7117833447
YAYASAN ISLAM ATTANMIA

Potret Pembuat Arang Kayu di Dusun Muallaf Sonyo Jatimulyo Kulon Progo

Perjalanan ke kampung muallaf Sonyo Kulon Progo tak luput dari pemandangan aktivitas sehari-hari mata pencaharian masyarakat, salah satunya pembuat arang kayu dan buruh pengakut batu. Memang sebagian besar warga adalah sebagai pekerja lepas dan buruh serabutan kalau pun bertani hanya sebagian saja yang memiliki lahan.

Perkembangan zaman terus berjalan namun bukan berarti produksi pembuatan arang secara tradisional itu lenyap seketika. Di Dusun Sonyo Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo masih bisa dijumpai sedikit warga yang memproduksi arang secara tradisional di pekarangan rumahnya.

Sebutlah Mbok Ijah saat ini, nenek yang boleh dibilang cukup tua asal Sonyo Jatimulyo ini sehari-harinya mengumpulkan ranting dan batang kayu untuk dibakar dijadikan arang kayu. Sampai saat ini arang kayu masih digunakan digunakan masyarakat sebagai bahan bakar untuk berbagai keperluan.

Semak belukar pegunungan Menoreh yang terjal bukan menjadi halangan bagi si nenek yang usianya telah lanjut untuk sabar menapaki jalanan lereng perbukitan demi mengumpulkan ranting demi ranting tiap harinya. Asa menyambung kehidupan bukan hal mudah karena jalanan bukit berbatu sudah digelutinya bertahun-tahun.

Proses pembuatan arang yang dilakukannya terbilang sederhana dan sangat tradisional. Dengan kayu-kayu ranting-ranting mentah disusun sedemikian rupa dan berjarak rapat membentuk semacam bentuk balok persegi lalu dibawahnya diberi celah sebagai tungku pembakaran tempat api berkobar. Waktu pembakaran pun cukup panjang dan mengharuskan api tetap menyala tanpa jeda.

Bila musim kemarau tiba menjadi kesempatan untuk membuat arang sebanyak-banyaknya karena bila musim hujan tiba, pekerjaannya terganggu karena kayu cenderung basah dan menyulitkan proses pembakaran.

“Kalo musim kering dua hari sudah jadi tapi kalau musim hujan jadi lebih susah, prosesnya semakin lama. Rata-rata bikinnya dua hari tapi kalau hujan sering turun ya mungkin bisa lebih lama,” kata Mbok Ijah.

Kayu yang sering digunakannya sebagai bahan pembuatan arang adalah jenis-jenis kayu keras seperti ranting jati, mahoni dan sonokeling. Kayu keras macam itu akan menghasilkan arang yang awet dipakai dan bara nyala apinya cukup bagus. Dalam sekali pembuatan biasanya dibutuhkan sekubik kayu dan menghasilkan hingga 5-6 karung besar arang. Kayu bisa diperoleh dengan mencari dahan ranting-ranting yang jatuh namun sekarang seringnya harus membeli dikebun warga dengan beraneka variasi harga. Harga arang hanya mencapai Rp.50 ribu per karung yang biasanya dibawa ke para pengepul di wilayah Wates.

“Sebulan dua kali saja bisa membawa arang ke pasar. Biasanya dijual lagi ke pedagang-pedagang yang membutuhkan arang,” ujar Mbok Ijah.

Mbok Ijah adalah salah satu potret warga Sonyo sebagai pembuat arang tradisional di Jatimulyo. Masih banyak warga muallaf Sonyo lainya dan tetangganya yang menekuni pekerjaan yang berbeda. Usianya yang sudah berumur menitipkan pesan bahwa bekerja keras dan perjuangannya tak pernah surut sekalipun membuat arang sudah semakin susah dan arang jarang dipakai karena tergusur oleh jenis bahan bakar minyak maupun gas. Baginya, membuat arang sudah seperti urat nadi yang terus menyambung keperluan hidupnya dan mengasapi dapur rumahnya.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Tanmia Foundation survey wilayah distribusi hewan Qurban di Desa Giyombong, Purworejo

Desa ini berada di ujung paling utara Purworejo dan merupakan desa tertinggi yang ada di Purworejo. Desa Giyombong namanya, merupakan desa yang berada di Kecamatan Bruno tepatnya di lereng Gunung Lanang dan berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Wonosobo.

Butuh waktu sekitar dua jam dari Purworejo Kota untuk mencapai desa tersebut, bisa melalui jalur Maron maupun Brunorejo. Masyarakat Desa Giyombong selama ini mengandalkan ekonomi dari hasil berkebun panen umbi-umbian, ketela pohon dan beternak. Keadaan masyarakat pun beragam pencaharianya namun beberapa orang dusun yang kami temui di dusun Mentasari dan Sidorejo tidak selamanya setiap Idul adha menyelenggarakan kurban.

Giyombong terdiri dari enam pedukuhan, Mentasari, Sidorejo, Kaligede, Giyombong Lor, Giyombong Kidul dan Rejosari.

“Setiap tiba hari Raya Idul Adha sama seperti tahun sebelumnya, apalagi tahun ini, kurban di dusun Sidorejo belum ada,” kata Yamin masyarakat setempat yang berbincang dengan pihak Tanmia, Sabtu (13/7/2019).

Selain Lemahnya kesadaran dan kondisi ekonomi warga dinilai sebagai salah satu latar belakang belum adanya kurban di dukuh Sidorejo Giyombong tersebut. Beberapa puluhan rumah-rumah warga juga dibangun pihak aparat TNI melalui program TMMD ( TNI Manunggal Masuk Desa ) beberapa tahun lalu.

Tahun ini mudahan masyarakat Sidorejo bisa bersuka cita dengan adanya bantuan hewan kurban yang dikumpulkan dari sejumlah donatur kepada masyarakat Dusun Sidorejo Giyombong dan menggugah dari berbagai kalangan untuk dapat memajukan suasana keislaman di daerah tersebut.

“Memang Giyombong Sidorejo dan Mentasari memang jarang pernah ada pemotongan hewan kurban. Meskipun dari sisi ekonomi ada sebagian mereka mampu untuk mulai berkurban, namun kesadaran berkurban belumlah terbangun,” ujar Heri warga Mentasari yang sehari-hari piket bekerja di puncak Kayangan Sigendol , Giyombong Lor.

“Semoga dengan datangnya hari Raya Idhul Adha yang sebentar lagi tiba beberapa jamaah masjid khususnya masyarakat di Giyombong tergugah kesadarannya untuk berkurban,” ujar Ali dari Tanmia Foundation yang menemui beberapa warga di Sidorejo dan Mentasari.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Jawa Tengah

Tanmia Kunjungi Daerah Pelosok Kulon Progo, Jamaahnya Antusias Tapi Mubalignya Kurang

Syi’ar dakwah laju keislaman hari ini tidak sesempit antara mimbar ke mimbar saja. Era digitalisasi dalam revolusi industri 4.0 mengharuskan syiar dakwah kini dilakukan dengan beragam cara dan metode seperti saat ini misalnya, dengan mengandalkan luasnya jaringan internet yang kuat agar dakwah dilakukan via jaringan dunia maya dan media sosial.

Namun faktanya tidak seideal begitu, belum semua daerah terjangkau dengan jaringan internet, sehingga metode lama juga tetap perlu dilakukan dalam pembinaan jamaah di masjid-masjid, wabilkhusus lagi di daerah terpencil.

Kegiatan dakwah yang luar biasa mulianya mengharuskan totalitas keikhlasan dengan diiringi samudera kesabaran pengorbanan karena sejatinya dakwah memang tak memandang tempat dan situasi sosial, di Dusun Sonyo pelosok desa Jatimulyo Girimulyo Kulon Progo ini misalnya, potensi jamaah muallaf dan antusias semangat masyarakat dalam kegiatan pengajian dan amal kebaikan lainnya sangatlah besar, namun hal itu tidak berbanding lurus dengan kuantitas mubalig dan akses pendukung dakwah lainnya di daerah tersebut.

Ketua Kordinator Da’i BaitulMaqdis Kulon Progo, Bapak Haryono, mengungkapkan berdakwah di Sonyo Jatimulyo ini penuh dengan tantangan karena akses jalannya terjal dengan penurunan yang sangat membahayakan nyawa. Selain itu juga mubalig yang siap turun lapangan ke daerah ini masih kurang.

Manyambung Haryono, da’i rutin pembina lain ialah Ust Rosyidi yang sehari-hari mengajar majelis taklim di beberapa pedukuhan Jatimulyo mengungkapkan masih minimnya dukungan operasional dakwah sehingga masih harus benar-benar survive untuk tetap bertahan padahal semangat bermajelis taklim para muallaf yang mayoritas dari agama Buddha itu terus berkembang dari waktu ke waktu.

“Apapun tantangannya, kita harus ikhlas dan karena ridha Allah-lah yang kita inginkan,” pungkasnya usai mengajar TPQ di Masjid Arrahman.
Jatimulyo adalah desa terluas diujung barat Kulon Progo yang berbatasan langsung dengan Kaligesing Purworejo yang didalamnya terdapat Dusun Sonyo dan Dusun Branti Gunung Kelir berada. Kegiatan sosial dan toleransi cukup baik selama ini sekalipun dihuni mayoritas muallaf yang semulanya menganut buddha. Kegiatan rutin akhir pekanan masih berjalan sampai saat ini antara lain kajian Ahad Shubuh, majelis taklim keliling rumah dan TPQ untuk anak-anak dan remaja.

Pembinaan berbasis Al-Qur’an itu semua dimaksudkan agar menguatkan keislaman mereka dalam kehidupan sehari-hari berhubung masih banyak kerabat berlainan agama dalam satu keluarga, kendati demikian antusiasme jamaah pun tetap menghargai baik akan hal tersebut.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Kulon Progo Jogyakarta

Lantunan Al Quran Semakin Menggema di Pesantren Al Itqan

Ketika Nabi Adam Alaihi Salam diturunkan Allah ke Bumi, kali pertama Adam merasakan hidup di bumi ia menangis, suasana tenang dan bahagia di surga tidak lagi ia rasakan dĂŹ Bumi, yang paling berat bagi Nabi Adam adalah ketika ia tidak lagi mendengarkan indahnya Dzikir para Malaikat yang bertahmid, bertasbih dan memuji Allah setiap waktu, ternyata suasana ini yang selalu dirindukan oleh beliau saat mengenang hidup di dalam surga.

Suasana indah ini sekarang semakin menawan hati ketika datang ke Pesantren Al Itqan, Jatirangga, Bekasi yang sedang kita asuh, begitu memasuki area gerbang Pesantren sudah terdebgar lantunan indah ayat – ayat suci Al Quran menggema di dalam pesantren, mulai dari Mushalla, ruang kelas dan begitu pula ruang asrma santri, mereka yang sedang khusyu’ membaca Kalam Ilahy itu untuk menghafalnya sebagai bekal hidup di Akhirat dan pula bekal mereka sebagai Dai yang harus siap mengabdikan ilmunya di dalam dakwah di kemudian hari nanti keteka mereka telah menyelesaikan pendidikan mereka di pesantren ini.

Semoga Allah memberikan kemudahan, keberkahan serta keikhlasan kepada mereka untuk mempelajari Al Quran dan Ilmu syari, sehingga cita – cita mereka sebagai ahli Quran bisa tercapai sekaligus terciptanya secara berkesinambungan amal jariyah dari para donatur dan dewan guru yang membina dan mendidik mereka.

Gema tilawah Al Qur’an itu semakin mantab ketika datang santri baru yang berjumlah 28 orang dari berbagai wilayah di tanah air, perjuagan mereka hingga sampai di pesantren pun berbeda – beda, 9 orang NTT, 2 orang dari Nias, 2 orang dari Kalimantan, 2 dari Aceh, dari sulawesi, Bima, Lombok, Pulau Jawa, dll, santri yang dari Pulau Nias baru masuk islam ketika sampai pesantren, ia anak Yatim yang beruasaha menuntut ilmu syari di pesantren, kebanyakan santri baru ini adalah yatim dan dhuafa, sehingga mereka membutuhkan sokongan dana untuk bisa menuntut ilmu di perantauan ini.

Dengan demikian kami kembali membuka peluang bagi bapak dan ibu di mana pun berada untuk menjadi orang tua asuh santri tahfizh kami dengan cara menjadi donatur untuk biaya pendidikan mereka selama di pesantren, besar harapan kami bapak dan ibu dapat berpartisipasi dalam program beasiswa pendidikan ini, semoga Allah menerima amal shaleh kita dan menjadikan ini sebagai amal jariyah bagi kita semua, atas partisipasinya kami sampaikan, Jazakumullah khairan.

Bukhari Abdul Muid Lc
Ketua Yayasan

🗳 Informasi
🌐 www.tanmia.or.id
📼 info@tanmia.or.id
📞 085215100250
💰 Bank Syariah Mandiri
7117833447
YAYASAN ISLAM ATTANMIA

 

Wakaf Tunai Pembangunan Pesantren Tahfizh Al Itqan Lantai 2 Jatirangga – Bekasi

Pada bulan yang penuh berkah, ampunan dan rahmat Allah ini kami pengurus Yayasan Islam Attanmia mengajak bapak, ibu, saudara, saudari seiman dimana pun berada untuk sama – sama berpartisipasi dalam amal jariyah wakaf tunai pembangunan pesantren kami yang kami beri nama Al Itqan.

⚠ Pesantren ini didirikan untuk mengkader Dai dan Hafizh yang siap untuk menyampaikan ilmu yang telah dimilikinya di berbagai wilayah di tanah air, mengingat kebutuhan Dai, guru Al Quran, imam masjid dan mushalla, masih sangat tinggi maka kami berusaha untuk fokus dalam bidang kaderisasi ini, agar kebutuhan ummat kepada para guru dan imam lambat laun dapat terwujud meskipun pelan – pelan sesuai dengan kemampuan kami.

đŸ„‡ Tugas mulia ini tidak mungkin dapat terlaksana dengan baik tanpa ada bantuan, sokongan dan partisipasi dari seluruh lapisan masyarakat muslim dimanapun mereka berada.

🧰 Dengan demikian kami mengajak bapak, ibu, saudara dan saudariku untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini, bersama meraih keberkahan amal jariyah pahalanya mengalir hingga ke akhir masa.

✅ Atas perhatian dan partisipasinya kami sampaikan Jazakumullah khairan, Barakallahu fiekum.

🗳 Informasi
🌐 www.tanmia.or.id
📼 info@tanmia.or.id
📞 085215100250
💰 Bank Syariah Mandiri
7117833447
YAYASAN ISLAM ATTANMIA

Ketua Yayasan Attanmia
Bukhari Abdul Muid

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
NB.
Mohon bantu share kepada teman, saudara, group, agar semakin banyak yang dapat ikut, raih pula pahala jariyah mengajak orang lain untuk kebaikan, Jazakumullah Khairan.

Sumur Wakaf Tanmia Foundation Untuk Nenek Bahraeni bersama Dua Cucunya Yang Yatim

Dampak bencana gempa bumi yang mengguncang Lombok akhir Juli 2018 tahun lalu masih saja disusul dg gempa beruntun meskipun dalam skala magnitudo kecil hingga saat ini. Tanmia Foundation sejak awal sudah hadir menyapa dg menyalurkan bantuan apa yang dirasakan warga Lombok yang terkena dampak dengan pelbagai program dari bantuan kemanusiaan darurat hingga bantuan recovery yang masih berlangsung hingga saat ini.

Program wakaf sumur bor Tanmia Foundation sudah berjalan dan dirasakan manfaatnya untuk warga Lombok khususnya di Sambelia Lombok Timur. Pasca Guncangan gempa bermagnitudo 7 beberapa waktu silam banyak mata air sumur yang terganggu sehingga tak sedikit debit air bersih dari sumur-sumur warga atau sumber-sumber air yang dialirkan dari puncak pegunungan dibeberapa wilayah masih belum sepenuhnya normal kembali dan masih membutuhkan waktu normalisasi yang berangsur sebagaimana sediakala.

Pasca gempa sudah hampir 8 bulan dilewati oleh warga namun belum sepenuhnya keadaan yang dihadapi warga sesuai yang diharapkan.
Salah satunya misalnya, pembangunan sumur bor Tanmia Foundation di halaman rumah Ibu Bahraeni Labu Pandan Sambelia yang sampai saat ini belum mendapatkan bantuan rehabilitasi dari pemerintah padahal nyata-nyata keadaanya cukup memprihatinkan.

Rumah panggung sederhana ala kadarnya sudah mulai miring sejak diterpa gempa dan kini hanya bisa tinggal di gubug berugak ( gazebo ) disetiap malamnya. Minimnya kepedulian dan bantuan pun semakin menambah ujian ditengah krisis hidup yang sehari-hari dilaluinya. Ibu Bahraeni hidup bersama anak lelakinya dan juga masih mengasuh kedua cucunya yang yatim karena putra keduanya ( nelayan ) yang meninggal baru-baru ini.

Pasca gempa dan kondisi rumah Ibu Bahraeni yang sampai saat ini masih rawan untuk digunakan dan keadaan sumur yg ala kadarnya kembali menjadi prioritas Tanmia Foundation untuk membantu mengikhtiarkan melalui wakaf sumur bor. Sebelumnya untuk keperluan sehari-hari selama ini mengandalkan air sumur tetangga maupun dari air hujan yang ditampung.

Diharapkan, sumur dapat menjadi sumber air baru bagi keluarga Ibu Bahraeni bersama anak dan cucu-cucunya dan tetangganya.

Sumur bor yang dibuat oleh Tanmia Foundation adalah sumur bor yg kesekian kalinya digali di Kecamatan Sambelia Lombok Timur. Perlu diketahui bahwa daerah kecamatan Sambelia bagian Utara adalah daerah bebatuan dan kering sehingga bila musim kemarau panjang tiba tak sedikit banyak yang mengalami kekeringan dan kekurangan air.

Sampai saat ini, Alhamdulillah pembangunan sumur sudah selesai dan siap digunakan untuk keperluan sehari-hari baik untuk konsumsi maupun kegiatan mengaji anak-anak di rumah Ibu Bahraeni.

“Atas nama keluarga kami mengucapkan terimakasih dan hanya Allah-lah yang dapat membalas semua kebaikan para dermawan yang telah membantu pembangunan sumur bor ini”, ucap Zainal anak sulung Ibu Bahraeni pada tim Tanmia Foundation.

Sumur bor yang telah dibangun adalah ladang pahala yang terus mengalirkan keberkahan disetiap karunia sebagian rezeki yang diniatkan dalam program sumur wakaf tersebut. Mari salurkan amal shaleh kebaikan dalam wakaf sumur. Barakalallahufiekum

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Lombok Timur, NTB

Dedikasi Perjuangan Guru Anak-anak Muallaf Kampung Kaliuda Pahunga Lodu

Dedikasi Perjuangan Guru Anak-anak Muallaf Kampung Kaliuda Pahunga Lodu

Jauh panggang dari api. Potret kondisi pendidikan yang bisa diperibahasakan untuk membandingkan gambaran sekolah di perkotaan dan pedalaman. Terlebih potret pendidikan anak-anak muallaf di Sumba sebagai kaum minoritas. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi yang mau diharapkan? Sebanyak puluhan anak-anak muslim yang diantaranya banyak yang hidup dibawah garis kemiskinan serta sangat memprihatinkan.

Alhamdulillah Tanmia Foundation berhasil mengunjungi salah seorang sosok Guru bagi anak-anak muallaf di MIS Al-Jihad Kaliuda Pahunga Lodu.
Mas’ud namanya, terbilang cukup ikhlas dan sabar. Sudah berjalan delapan tahun mengajar di satu-satunya sekolah Madrasah Islam Swasta ( MIS) Al-Jihad di Desa Kaliuda Kecamatan Pahunga Lodu, Kabupaten Sumba Timur, itu dengan upah ala kadarnya.

Mengajar bukan lagi tentang masalah gaji tapi panggilan hati yang membuatnya terus kuat bertahan. Masa depan anak-anak muallaf di pedalaman berada di tangannya. Itu yang jadi pelecut semangat. Menyertai hari-harinya memberi ilmu kepada puluhan murid Madrasah Ibtidaiyah Al-Jihad Kaliuda Pahunga Lodu.

“Mau bagaimana lagi, kalau saya berhenti gara-gara honor gaji, siapa yang nantinya ajar mereka semua. Sementara semangat mereka untuk bersekolah sangat tinggi,” kata Mas’ud, sepekan lalu.

Pengorbanannya tak hanya sampai di situ. Selain diupah ala kadarnya, ia justru harus rela mengeluarkan uang pribadinya untuk menjemput tim Tanmia yang datang untuk membawa pakaian layak pakai untuk dibagikan murid-muridnya.

Mas’ud yang tinggal bersama istrinya memang luarbiasa, bagaimana tidak menjadikan rasa iba terharu bagi Tim Tanmia karena, bertahun-tahun tinggal dibekas masjid lama yang mulai reot bangunannya itu, sementara pihak sekolah belum mampu menyediakannya sampai saat ini.

Sebaliknya, Mas’ud merasa sangat bersyukur karena anak-anak itu masih mau bersekolah, meski kondisinya sehari-harinya seperti itu.⠀
“Saya juga ikhlas menjalani dan tetap bersyukur karena saya yakin tak ada yang mustahil, impian besar masa depan akan terwujud satu hari kemudian, ikhtiar ini tidak akan sia-sia,” urainya lirih sembari tersenyum. Kalimatnya mengandung harap.
Anak-anak muallaf pribumi Kaliuda memang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota tapi selalu menyajikan semangat kebahagiaan tersendiri dalam senyum dan canda tawa riangnya.

Kedatangan Tim Tanmia Foundation untuk membagikan baju layak pakai menjadi hal yang sangat berharga. Padahal disaat sisi yang lain kita tentu menginginkan baju baru yang layak dan bagus buat anak anak kita. Baju yang bersih dan indah. Dan banyaknya pilihan untuk bergonta-ganti karena saking banyaknya. Apalagi sedikit kotor saja terkadang sudah tak terpakai lagi. Bagi kita, kebahagian terhadap anak kita yang memiliki baju bersih dan bahkan sudah terhitung berlebihan.

Namun tidak begitu bagi anak anak muallaf Pedalaman Kaliuda Sumba Timur. Walaupun baju yang terbatas dan juga beberapa terlihat kumal, mereka tetap ingin mengenakan baju identitas muslim selain itu juga untuk menutup aurat mereka bagi anak-anak perempuan.

Meski belum sepenuhnya maksimal, Mas’ud mengapresiasi Tanmia Foundation yang telah turut memberikan perhatianya untuk berbagi ke sekolahnya itu. Dia berharap, dimasa datang akan ada banyak berdatangan dukungan berbagai pihak pada pihak yayasan bisa membantu meningkatkan kualitas termasuk sarana dan prasarana sekolah agar lebih layak, termasuk nasib kesejahteraan para guru yang kini berjumlah 12 orang dan murid sebanyak 65 siswa. Mari kita mudahkan urusan orang lain, semoga Allah mudahkan urusan kita. Aamin

Ali Azmi
Relawan Tanmia

PROSESI KHATAMAN AL-QURAN 30 JUZ

Alhamdulillah wa sholatu wa salaamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du.

Dengan Izin Allah, Ma’had At tanmia kembali melaksanakan KHATAMAN AL-QUR’AN untuk 3 orang santri yang akan membacakan hafalan terakhirnya dihadapan para Asatidzah dan teman-teman seperjuangannya.

Dengan tiada henti memuji Allah, bahwa
Pada hari Kamis,14 Rojab 1440 H
Waktu : pukul 16.00-17.00 wib.
Ananda :
1. Fazlur Fallad Al Farabi (14 thn )

2. Milzam Al-Wafi (15 thn )

3. Yazid Farhan Na’im (15 thn )

Ke tiganya telah menyelesaikan bifadhlillah hafalan Al Qur’an 30 Juz dalam kurun waktu kurang lebih 2,5 thn.

Hari ini rasa bahagia dan haru disaksikan oleh para Wali ananda santri,mengantarkan mereka ketitik sebuah perjuangan yang cukup berat dan melelahkan, namun Allah balas dengan kebahagiaan yang tiada ternilai dengan Harta dunia apapun.

Ananda Milzam yang dikenal sebagai sosok yang paling dewasa bahkan menjadi ketua ORGANISASI OSMIA di Ma’had at Tanmia dengan kesibukan membantu para asatidzah lainnya, sangat teladan dan tekun dalam mengatur waktu belajar serta menghafalnya. Termasuk Ananda Fazlur dan Yazid adalah anggota dari kepengurusan OSMIA yang nyatanya mampu membuktikan bahwa mereka adalah sosok yang patut diteladani oleh adik-adiknya.

Kami berdo’a semoga kemuliaan akan senantiasa melekat pada diri mereka,kapan dan dimanapun mereka belajar , Semoga Allah berikan kemuliaan kepada para Ayahanda dan Ibunda Ananda atas kesabaran dan jerih payahnya
“ Mahkota dan Jubah kemuliaan semoga kelak Ayahanda dan Ibunda dapatkan di Surga”

Semoga Allah memuliakan para Asatidzah yang telah ikhlas membimbing mereka,
Hanya kepada Allah lah kita memohon segala balasan.

Demikian semoga acara ini dapat memotivasi para Santri serta Ayah dan Bunda sekalian semoga kelak semuanya mendapatkan kemuliaan dari Allah berkat Anak-anak Shalih para penghafal al-Qur’an.

Aamiin yaa Rabbal aalamiin.

Situs Kampung Adat Tarung dan Prai Ijing di Sumba Barat

Puluhan rumah adat yang berderet masih asli terbilang magis, karena kepercayaan mereka menganggap roh leluhur mereka masih ada di sekitar mereka dan menjaga serta mengawasi mereka. Banyak juga dijumpai kubur batu ( megalitikum) yang sudah ratusan tahun berada di depan rumah-rumah di situs kampung adat desa ini. Secara turun temurun mereka menyakini bahwa kubur batu itu adalah leluhur nenek moyang mereka dan setiap yang mati akan di kuburkan satu lubang atau berdekatan berdasarkan keturunan leluhurnya.

Magis dan mengerikan bukan ? Sekali waktu perjalanan kami mendapati upacara adat kematian di kampung ternyata sangatlah sakral dan sarat akan ritual kurban penyembelihan hewan ternak seperti sapi, kerbau, kuda dan tak luput juga babi yang semuanya ditikam sambil diiringi dengan suara genderang musik-musik khas adat Sumba.

Bahkan ternak yang dihabiskan dalam acara kematian mencapai puluhan tergantung dengan adat dan garis keturunanya. Rumah adat Sumba terdiri atas tiga bagian, bagian tingkat pertama untuk hewan peliharaan, bagian tingkat kedua untuk penghuni rumah dan bagian ketiga, atap yang menjulang tinggi untuk menyimpan bahan makanan sekaligus tempat bersemayamnya Marapu yang dipercayai mereka.

Tanah Humba ( Tanah Asli ) masyarakat Sumba pada mulanya dibagi dalam empat golongan yaitu : imam (ratu,) bangsawan (Maramba), orang merdeka (Kabihu), dan hamba (Ata) namun dalam perkembangan golongan imam (ratu) disatukan dengan golongan bangsawan, sehingga hanya ada tiga golongan.
Masing-masing golongan dalam masyarakat Sumba memiliki gelar-gelar tertentu dan gelar tersebutlah yang menunjukan status sosialnya, serta masing-masing golongan memiliki tugas-tugas tersendiri, yakni:

1.   Para bangsawan memakai gelar Umbu atau Tamu Umbu (laki-laki) dan Rambu atau Tamu Rambu (perempuan), mereka mempunyai tugas dan kewajiban untuk melindungi dan memberi kesejahteraan terhadap warga kampungnya.

2.   Orang merdeka memakai gelarKabihu Bokulu (orang merdeka besar) dan Kabihu Kudu (orang merdeka kecil), mereka merupakan rekan kerja para bangsawan, penasihat bangsawan dan juga pemimpin perang.

3.   Hamba memiliki tugas melayani para bangsawan dan juga orang merdeka. Mereka biasa digelar dengan Ata Bokulu (hamba besar) dan Ata Kudu (hamba kecil).

Sumba memang unik dan magis dengan warisan budaya leluhurnya. Islam datang segala keramahan dan konsep rahmatalil’alamin sehingga dengan perlahan berjalan menelusuri lika-liku dakwah di Sumba yang begitu luas jelaslah sentuhan dakwah belum banyak menjangkau disetiap jengkal tanah Marapu ini.

Dakwah membedah pulau Sumba penuh tantangan dan rintangan serta perjuangan lintas generasi. Apalagi di setiap sudut kota dan kampungnya tersimpan persembahan dan pujian para abdi yang sudah ada turun temurun. Namun inilah tugas estafet dakwah Islam yang sebenarnya bahwa kelak cahaya dakwah akan bersinar terang benderang di tanah humba. Biidznillah Allahu Musta’an.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Pulau Sumba, NTT

Menyapa Da’i Para Muallaf di Kaliuda Pahunga Lodu Sumba Timur

Pahunga Lodu adalah kecamatan paling timur di Sumba Timur. Sesuai namanya Pahunga Lodu menurut arti kata masyarakat Sumba adalah tempat dimana matahari terbit. Pahunga Lodu bisa ditempuh dengan perjalanan darat sekitar 4 jam dari Waingapu Ibukota Sumba Timur dengan jarak 140 KM.

Hamparan padang savana dan pohon lontar yang tumbuh di sela bebatuan kapur bisa terlihat sepanjang perjalanan.

Masjid Al-Jihad Kaliuda adalah salah satu tujuan Tanmia Foundation untuk bertemu silaturahim dengan Ustadz Syufatan, tokoh masyarakat dan sekaligus da’i para muallaf di Sumba Timur.

Sudah sejak 1978 Ustadz Syufatan merintis dakwah di pedalaman timur Sumba yang masih jalan setapak dan dipenuhi semak belukar.

“Bumi Marapu” adalah sebutan lain bagi Tana Humba atau ‘Sumba’. ‘Marapu’ merupakan merupakan kepercayaan asli yang bersumber pada unsur pemujaan arwah nenek moyang yang dianggap sebagai hal yang sangat penting bagi orang Sumba.

Tantangan medan dakwah yang dihadapi ganda selain geografis yang tak bersahabat juga sistem kepercayaan pada leluhur “Marapu” dan adat istiadat kehidupan asli Sumba yang masih mengenal sistem kasta antara kaum hamba dan kaum bangsawan.

Kiprah dakwah Ustadz Syufatan telah menjadi bagian penting banyaknya para orang asli Sumba menjadi muallaf yang akhirnya masuk islam hingga saat ini. Garis keturunan istri beliau adalah orang bangsawan Kalawai Sumba Timur asli yang memiliki peranan cukup penting. Seiring berjalannya waktu Kaliuda menjadi bagian titik umat islam terbesar di kecamatan Pahunga Lodu Sumba Timur.

Mayoritas Sumba baik dari Sumba Barat Daya hingga Sumba Timur terbilang kuat akan situs etnik leluhur dan kaya adat budayanya.

Secara administrasi statistik penduduk asli asli Sumba mayoritas Kristen Protestan dan Katolik tapi sebagian besar masih menganut kepercayaan Marapu yang sudah turun temurun.

Marapu adalah sistem keyakinan yang berdasarkan keyakinan pada pemujaan arwah-arwah nenek moyang leluhur. Marapu artinya ” yang dipertuan atau dipermuliakan”. Melihat lebih dekat tentang orang asli Sumba yang masih menganut Marapu salah satunya bisa mengunjungi situs kampung adat yang sarat akan budaya dan magisnya ini.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Pulau Sumba, NTT

Jilbab Tanda Cinta Buat Saudariku Yang Muallaf

Bantuan memang tak selamanya berupa materi atau berbentuk uang tunai tapi sekedar bersilaturahim dan mendengarkan keluh kesah sesama saudara seiman adalah kunci dalam menguatkan ukhuwah keislaman.

Apalagi jauh dan tak saling mengenal sebelumnya. Ada yang unik dalam pendistribusian bantuan pakaian syar’i di Sumba Tengah. Kali ini bersama-sama dalam acara di majelis taklim muallaf muslimah majelis taklim Syifa’ul Qulub dan majelis taklim binaan Miftahul Khoir.

Alhamdulillah, kali ini menggelar acara yang berbeda seperti biasanya yakni berbagi “Jilbab Tanda Cinta Untuk Saudariku Muslimah Muallaf”, tutur Nur Asiah S.pd selaku ketua majelis taklim Syifa’ul Qulub di Mananga Atas Mamboro.

Ada sekitar puluhan anggota dari berbagai majelis taklim ikut hadir dalam acara majelis ilmu dan kepedulian yang dilakukan oleh Tanmia Foundation dengan berbagi macam pakaian muslimah dan hijab.

“Alhamdulillah kami keluarga besar majelis taklim Al Jihad sangat berterima kasih atas undangan dari Tanmia Foundation yg telah memberi kami sumbangan pakian layak pakai dan peduli terhadap keislaman muallaf muslimah yang berada di daratan Sumba”, ungkap Fatimah Spd. ketua majelis Taklim Al Jihad dari Wendewa Utara Mamboro.

Maksud lain dari acara kajian dan silaturahim itu tidak lain adalah memberikan dukungan moral bagi para mualaf muslimah dan menguatkan keislaman di kehidupan sehari-hari mereka agar lebih siap dengan berhijab. Kilas balik cerita sebelum keislaman mereka luar biasa dari berbagai latar belakang, banyak yang memutuskan untuk mengucap dua kalimat syahadat dan menjadi muslimah, mereka dulunya suka mengenakan rok mini, baju lengan pendek dan lainnya. Setelah masuk Islam mereka harus bisa menutup auratnya tapi terkendala kondisi ini itu dan sebagainya.

“Karena setelah menjadi muallaf muslimah harus wajib menutup auratnya. Selain itu sebagai identitas bahwa hijab adalah wajib bagi seorang muslimah yang tetap berperilaku baik apalagi hidup di tempat minoritas “, ungkap Haryani Mbepa dari kampung Muallaf Watuasa.

“Sebelum usai ditutup para anggota majelis taklim berharap agar masa datang ada perhatian lainya dari semua pihak untuk membantu mukena dan hijab syar’i sekaligus sebagai syiar Islam antar muallaf muslimah lainya dengan cara saling silaturahim gethok tular”, pungkas Ibu khadijah Said salah satu pengurus majelis taklim yang hadir dalam acara tersebut.

Banyak hal yang belum diketahui permasalahan sebagai seorang muallaf muslimah yang hidup di minoritas tapi tekad tetaplah tekad dan karena hidayah Allah lah semua yang berkehendak sehingga menguatkan niat mereka bernaung dibawah Islam dan kalimat tauhid.

Sekali pun sudah menjadi muallaf yang beragama muslim, tapi juga tidak serta merta meninggalkan saling bersilaturahmi dengan saudara sesama Merapu atau non muslim Kristen maupun Katolik. Peduli muallaf dan membumikan syi’ar islam di tanah Sumba adalah bagian penting dari kerja dakwah Islam yang harus diperjuangkan dengan niat ikhlas semata-mata demi meninggikan kalimat Allah dan meraih ridho Allah Ta’ala. Barakalallahufiekum.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Pulau Sumba, NTT

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id