Kunci Menggapai Keberkahan Ilmu Menurut Imam Syafi’i -rahimahullah-

1 View

 

Manusia merupakan sebaik-baik makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT, salah satu keistimewaan yang dimiliki manusia dan tidak dimiliki oleh makhluk lain adalah akal. Sehingga akal menjadikan manusia lebih mulia dibandingkan makhluk yang lainnya. Maka hendaknya akal ini digunakan semaksimal mungkin di jalan yang diridhoi-Nya, sebagai salah satu karunia Allah SWT.

Terkhusus bagi ummat Islam, yang mana wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah “Iqra’..” , yaitu bacalah. Membaca merupakan salah satu perantara untuk mendapatkan ilmu dan kebahagiaan di dunia juga akhirat. Imam Baihaqi mengutip perkataan Imam Syafi’i –rahimahumallah- di dalam kitab Manaqib as-Syafi’i.

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ

 “Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.” (Manaqib Asy Syafi’i, 2/139)

Banyak sekali ulama terdahulu memberikan nasihat maupun kiat-kiat agar mendapatkan keberkahan ilmu. Seperti yang dikatakan Imam Syafi’i dalam Diwan-nya ada enam syarat agar seseorang mendapatkan keberkahan ilmu,

أَخي لَن تَنالَ العِلمَ إِلّا بِسِتَّةٍ         سَأُنبيكَ عَن تَفصيلِها بِبَيانِ
ذَكاءٌ وَحِرصٌ وَاِجتِهادٌ وَبُلغَةٌ       وَصُحبَةُ أُستاذٍ وَطولُ زَمانِ

“Wahai saudaraku, kalian tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam syarat,

Akan saya beritahu rinciannya dengan jelas,

Kecerdasan,  ambisi, bersungguh-sungguh, modal,

bimbingan guru, dan waktu yang lama.”

Selaras dengan nasihat ulama-ulama yang lain, mereka memberikan motivasi dalam menuntut ilmu dengan esensi yang sama seperti nasihat imam Syafi’i di atas. Ketika sudah diketahui faktor-faktor agar mendapatkan berkahnya ilmu yang bermanfaat, maka harus diketahui pula faktor-faktor penghalang ilmu masuk ke dalam hati seseorang.

Suatu ketika imam Syafi’i mengeluhkan hafalannya yang sulit sekali masuk kepada gurunya, yaitu imam Waki’. Kisah ini disebutkan juga melalui sya’irnya di dalam Diwan­-nya yang berbunyi:

شَكَوتُ إِلى وَكيعٍ سوءَ حِفظي
فَأَرشَدَني إِلى تَركِ المَعاصي
وَأَخبَرَني بِأَنَّ العِلمَ نورٌ
وَنورُ اللَهِ لا يُهدى لِعاصي

“Saya mengeluhkan kepada (guruku) yaitu imam Waki’ tentang buruknya hafalanku,

Maka ia menasihatiku untuk meninggalkan maksiat,

Ia memberitahuku bahwa ilmu itu cahaya,

Dan cahaya Allah SWT tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.”

Maka maksiat inilah, merupakan penghalang terbesar bagi para penuntut ilmu. Sebagai penuntut ilmu, sepatutnya untuk menjauhi segala macam maksiat. Apabila sudah terlanjur melakukan maksiat, hendaknya untuk memperbanyak taubat kepada Allah SWT. Suatu hal yang mustahil apabila manusia tidak melakukan maksiat selama hidupnya, dan ketika kita menyerah dalam menghadapi maksiat, tidak melawannya dengan ketaatan, maka hal itupun termasuk kemaksiatan. Ulama terdahulu menawarkan dua solusi agar tidak terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan bagi para penuntut ilmu, yaitu; 1.) menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, dan 2.) bergaul dengan orang-orang yang solih.

Tatkala, dosa kita sudah menggunung tinggi dan seluas samudera, maka ingatlah bahwa Rahmat Allah SWT Maha Luas. Satu hal yang perlu kita lakukan adalah memperbanyak istighfar kepada Allah SWT, dan waktu terbaik untuk istighfar adalah ketika di waktu sahur. Sebagaimana firman Allah dalam surat adz-Dzariyat ayat ke 17-18,

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Mereka (orang yang bertaqwa) sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan (istighfar) di waktu pagi sebelum fajar.”

Menjadi suatu aib yang besar bagi penuntut ilmu yang meninggalkan solat tahajjud, hal ini karena pada waktu-waktu tahajud ini merupakan waktu terbaik untuk ber-istighfar, agar dosa-dosa kita diampuni Allah SWT dan ilmu yang kita pelajari dengan mudah masuk ke dalam hati. Wallahu a’lam.

Oleh: Mohamad Munib Asmuni

No comments

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id

    × Ahlan, Selamat Datang!