Pelajaran Yang Dapat Diambil Dari Sekolah Ramadhan

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Waktu semakin cepat berputar, tak terasa kita kembali berjumpa dengan bulan Ramadhan padahal rasanya baru kemarin sore kita berjumpa dengan Ramadhan, kaum muslimin bersuka cita dengan kedatangan bulan suci tersebut, mereka berlomba-lomba dalam keta’atan dan bersegera dalam kebaikan.

Maka sudah barang tentu bulan yang istimewa ini terkumpul di dalamnya berbagai peristiwa agung, pelajaran, nasehat, ibadah yang tidak ada di bulan-bulan selain Ramadhan.

Maka di bulan suci ini adalah Bulan permulaan wahyu turun, artinya bahwa awal hidayah turun kepada umat ini adalah di bulan Ramadhan, dan Hidayah adalah sebaik-baiknya nikmat Allah secara mutlak, maka kita tidak akan mendapatkan hidayah iman ini kecuali dari jalur permulaan wahyu yang turun kepada Nabi saw di bulan Ramadhan, sehingga Ramadhan disebut Sebagai Syahrul Hidayah. maka renungkanlah baik-baik!

Sudah sepatutnya bagi setiap muslim yang mendapati bulan Ramadhan untuk mengambil pelajaran dan memetik hikmah dibalik keistimewaan bulan Ramadhan, supaya ia tidak menyia-nyiakan keagungan dan kebaikannya serta tidak terhalang dari keutamaan dan pahala yang besar di dalamnya.

Nah, Pelajaran apa saja yang bisa kita dapatkan selama bulan Ramadhan? Diantaranya adalah:

1. Ramadhan adalah Syahrut Tarbiyah,

Yaitu mendidik dan menggembleng kaum muslimin me jadi insan-insan yang mulia, yaitu dengan pembekalan ibadah yang maksimal, pengajaran akhlak mulia, penyucian jiwa dan pelaksanaan ibadah yang bervariasi. Maka proses pendidikan ini akan melahirkan sifat serta tabiat yang terpuji diantaranya adalah belajar mengendalikan diri, disiplin dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, belajar menghargai, membiasakan diri berbagi dan lain sebagainya.
Maka dibulan Ramadhan ini Allah menyuguhkan berbagai macam ketaatan dan amal shalih yang harus kita kerjakan, supaya kita terbiasa dengan amal-amal kebaikan tersebut sehingga pengaruh pendidikan itu tidak hanya dirasakan dibulan Ramadhan saja tetapi buah positif pendidikan Ramadhan tersebut juga akan kita rasakan seusai bulan Ramadhan.

2. Ramadhan adalah Syahru at-Taqwa.

Bulan Ramadhan akan melatih diri kita untuk menjadi pribadi yang bertakwa, karena segala ibadah yang dilakukan dibulan Ramadhan pada hakikatnya dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah sehingga dari situlah memudahkan seseorang untuk menggapai prestasi ketakwaan kepada Allah, termasuk diantaranya adalah puasa,

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَیۡكُمُ ٱلصِّیَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ)

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, [Surat Al-Baqarah 183]

Maka puasa hakikatnya mendidik seorang muslim untuk menjadi pribadi yang bertakwa, dan diantara bagian dari sifat takwa adalah menjauhi perkara yang haram dan dosa.
Tidaklah kita tahu bahwa hamba Allah yang sedang berpuasa itu meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena Allah swt, takut akan azab-Nya dan berharap pahala dari-Nya, ini adalah contoh kecil dari pelajaran takwa.
Karena hakikat takwa pada dasarnya adalah

طاعة الله بامتثال أمره و اجتناب نهيه على علم و بصيرة

“Mentaati Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya diatas ilmu (ilmu syar’i).
Maka dari itu sebagian ulama menafsirkan makna Taqwa dengan:

أن تعبد الله على نور من الله ترجو ثواب الله و أن تترك ما حرم الله على نور من الله و تخشى عقاب الله

Artinya: “Engkau sembah Allah diatas cahaya dari Allah lalu engkau mengharap pahala dari Nya, dan engkau tinggalkan setiap perkara yang diharamkan Allah diatas cahaya dari Allah lalu engkau merasa takut akan hukuman dari Nya.”

Kemudian sebagian ulama lainnya ada yang menafsirkan makna Taqwa dalam untaian bait syair:

خل الذنوب صغيرها # و كبيرها ذاك التقى
و اعمل كماش فوق#أرض الشوك يحذر ما يرى
لا تحقرن صغيرة # إن الجبال من الحصى

Artinya:
Tinggalkanlah bagian terkecil dari dosa,
Dan dosa besar, itulah hakekat taqwa.
Beramallah bagai pejalan kaki diatas bumi,
Yang dipenuhi duri, maka dengan pengelihatannya ia pun berhati-hati.
Jangan kau remehkan dosa kecil,
Karena sesungguhnya gunung itu tersusun dari batu kerikil.

Sahabat Ali ra ketika menjelaskan tentang taqwa beliau berkata,

اَلتَّقْوَى: الخوف من الجليل والعمل بالتنزيل والقناعة بالقليل والإستعداد ليوم الرحيل

Bahwa Takwa adalah takut kepada Allah yang bersifat Jalal, dan beramal dengan dasar Al Qur’an (At Tanjil), dan menerima (Qona’ah) terhadap yang sedikit dan bersiap-siap menghadapi hari akhir (hari perpindahan)

Tentang takwa pula terdapat percakapan indah dua sahabat Umar bin Khattab RA dan Ubay bin Ka’ab ini. Umar yang meriwayatkan atsar ini bertanya kepada Ubay, “Wahai Ubay, apa makna takwa?” Ubay yang ditanya justru balik bertanya. “Wahai Umar, pernahkah engkau berjalan melewati jalan yang penuh duri?”

Umar menjawab, “Tentu saja pernah.” “Apa yang engkau lakukan saat itu, wahai Umar?” lanjut Ubay bertanya. “Tentu saja aku akan berjalan hati-hati,” jawab Umar. Ubay lantas berkata, “Itulah hakikat takwa.”

Percakapan yang sarat akan ilmu. Bukan hanya bagi Umar dan Ubay, melainkan juga bagi kita yang mengaku manusia bertakwa ini. Menjadi orang bertakwa hakikatnya menjadi orang yang amat berhati-hati. Ia tidak ingin kakinya menginjak duri-duri larangan Allah SWT.

(Kitab Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullahu-).

Maka Bulan Ramadhan melatih diri kita untuk menjadi pribadi yang bertakwa.

3. Ramadhan adalah Syahrul Ikhlas.

Salah satu pelajaran penting yang bisa kita ambil dari bulan Ramadhan, di dalamnya dilatih untuk selalu ikhlas dalam beramal. Yang dimaksud ikhlas adalah memurnikan ibadah hanya untuk Allah semata. Maka pantaslah Ramadhan disebut Madrasah ikhlas.
Maka Ikhlas dalam beramal merupakan salah satu faktor dimana amal itu diterima oleh Allah,
Para ulama menjelaskan bahwa syarat amal ibadah diterima Allah ada dua,
1. Ikhlas semata mata karena Allah
2. Ittiba’ atau Mengikuti Petunjuk Rasulullah saw.

Hakikat puasa adalah amalan rahasia antara dia dengan Allah, yang mana pahala puasa tidak diketahui seorangpun kecuali Allah swt. Sebagaimana Hadits Nabi Riwayat Abu Hurairah ra, beliau bersabda,

كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به » [رواه الإمام البخاري في صحيحه)

“Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung ”. (HR Bukhari dalam Shahihnya: 7/226)

Maka puasa melatih diri untuk selalu ikhlas dalam beribadah hanya karena Allah, ia rela meninggalkan makan, minum dan syahwatnya semata mata ingin meraih ridho dan maghfirah Allah swt.

4. Ramadhan adalah Syahru As-Shabr.

Ramadhan melatih diri kita menjadi pribadi yang sabar. Sabar merupakan salah satu sifat orang yang bertakwa kepada Allah SWT. Sabar merupakan kunci kesuksesan seorang mukmin dalam mengarungi kehidupan. Secara langsung, puasa mengajarkan dan melatih kita bersabar. Bersabar untuk menahan lapar dan dahaga dari waktu fajar hingga terbenamnya matahari; sabar menahan diri dari segala bentuk perbuatan yang membatalkan puasa; sabar dalam menjaga lisan dan menahan diri dari perbuatan yang sia-sia. Dengan demikian, puasa secara garis besar melatih seorang Muslim untuk bersabar dalam segala hal. Hal ini sesuai sabda Rasulullah SAW, “Puasa itu separuh sabar.” (HR. Ibnu Majah)

Sabar bukanlah hal yang mudah, oleh karena itulah Allah menyediakan pahala yang tak terbatas bagi hamba hamba Nya yang senantiasa bersabar.
Firman Allah,

(قُلۡ یَـٰعِبَادِ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمۡۚ لِلَّذِینَ أَحۡسَنُوا۟ فِی هَـٰذِهِ ٱلدُّنۡیَا حَسَنَةࣱۗ وَأَرۡضُ ٱللَّهِ وَ ٰ⁠سِعَةٌۗ إِنَّمَا یُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَیۡرِ حِسَابࣲ)

Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.
[Surat Az-Zumar 10]

Nah, para ulama membagi sabar itu ada tiga macam yaitu:

a- Sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah,
b- Sabar dalam meninggalkan yang haram dan
c- Sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan.

Ketiga macam bentuk sabar ini, semuanya terdapat dalam amalan puasa. Dalam puasa tentu saja di dalamnya ada bentuk melakukan ketaatan, menjauhi hal-hal yang diharamkan, juga dalam puasa seseorang berusaha bersabar dari hal-hal yang menyakitkan seperti menahan diri dari rasa lapar, dahaga, dan lemahnya badan. Itulah mengapa amalan puasa bisa meraih pahala tak terhingga sebagaimana sabar. (Lihat Lathoiful Ma’arif karya Ibnu Rajab, hal. 268-269)

5. Ramadhan adalah Syahrul Quran.

Ramadhan mengajarkan kita untuk rajin berinteraksi dengan Al Quran, karena Ramadhan adalah bulan Al Quran, dimana Al Quran diturunkan pada bulan suci tersebut, Sebagaimana firman Allah,

(شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِیۤ أُنزِلَ فِیهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدࣰى لِّلنَّاسِ وَبَیِّنَـٰتࣲ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ )

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)
[Surat Al-Baqarah 185]

Al-Qur’an merupakan sumber kemuliaan dan kekuatan bagi umat Islam. Melalui Al-Qur’anlah manusia mendapatkan kemuliaannya dan menemukan kebahagiaannya; baik di dunia maupun di akhirat. Adapun bentuk kemuliaan yang terpancar dari Al-Qur’an sangatlah jelas; karena ia sebagai kitab yang disucikan dan kitab yang dimuliakan, seperti yang disebutkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya : “Dan demi Al-Qur’an yang Mulia,” (QS. Qaf:1),

Oleh karena Segala hal yang bersinggungan dengan Al Quran pasti akan memperoleh kemuliaan.

Kita bisa lihat Rangkaian kemuliaan yang terpancar dari Al-Qur’an itu sendiri dapat kita lihat melalui beberapa hal berikut;

a. Bahwa Zat yang menurunkan Al-Qur’an adalah Zat yang Karim, Zat yang Mulia yaitu Allah SWT;

b. Manusia pertama yang menerima Al-Qur’an adalah sosok paling mulia, dijuluki sayyidul anbiya wal mursalin (penghulu para nabi dan Rasul), bahkan beliau juga sebagai manusia yang paling mulia dari para nabi dan rasul serta seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini sehingga wajar beliau mendapatkan predikat khairul basyar (sebaik-baik manusia) yaitu Nabi Muhammad saw;

c. Tempat diturunkannya Al-Qur’an adalah tempat yang paling mulia di muka bumi ini, yang diberi julukan sebagai tanah haram (tanah yang disucikan), dan sebagai ummul qura (yaitu Makkah Al-Mukarramah.

d. Bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an adalah bulan yang paling mulia; yaitu bulan Ramadhan yang memiliki julukan sayyidus syuhur (penghulu bulan)

e. Malam diturunkannya Al-Qur’an juga merupakan malam yang paling mulia disisi Allah SWT yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan) seperti yang disebutkan dalam surat Al-Qadar: ayat 1-5; yaitu kemuliaan dan lailatul mubarakah (malam penuh keberkahan) seperti yang difirmankan Allah dalam surat Ad-Dukhan ayat 3, dan menjadi malam yang sangat mulia yang disebut dengan lailatul qadar (malam kemuliaan) dan malam seribu bulan.

f. setiap hamba Allah banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an; baik dengan membaca, memahami, menyimak, mentadabburi, menghafal dan mengamalkan kandungan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, serta mengajarkannya kepada orang lain akan meraih kemuliaan yaitu menjadi Khairun Nas (Manusia terbaik).
Sebagaimana sabda Rasulullah saw bersabda:

خيركم من تعلم القرآن وعلمه

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mau belajar Al-Qur’an dan mau mengajarkannya”.(HR Bukhari)

Maka agar kita meraih kemuliaan dan keutamaan yang banyak dari Allah mari kita perbanyak interaksi dengan Al Quran, khususnya di bulan Ramadhan ini.
Maka Ramadhan mendidik kita di bulan suci ini agar kita menjadi Ahlul Quran.
Semoga Allah swt menjadikan diri kita, keluarga kita, masyarakat kita sebagai pribadi yang Qurani, Sehingga dapat memberikan manfaat dimanapun dan kapanpun kita berada.

Cibubur, Ahad 3 Mei 2020

Keutamaan Memberi Makan Orang Yang Berbuka Puasa

oleh : Kholid Mirbah, Lc

Sifat dermawan adalah salah satu sifat terpuji, ia merupakan salah satu sifat yang dapat mengundang kecintaan Allah dan Rasul-Nya yang merupakan salah satu sebab pemilik nya meraih segala kemudahan di dalam sendi Kehidupan, mudah rizkinya, mudah meraih kesembuhan, mudah meraih jalan keluar dalam menghadapi persoalan hidup.
Sebaliknya sifat kikir dan pelit dalam kebaikan adalah sifat yang mendatangkan kebencian dari Allah dan Rasul-Nya, menyumbat aliran rizki serta dapat memutuskan rantai keberkahan yang Allah turunkan untuknya.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما من يوم يصبح العباد فيه إلا ملكان ينزلان فيقول أحدهما اللهم أعط منفقا خلفا ويقول الآخر اللهم أعط ممسكا تلفا

Artinya: “Tidak satu hari pun dimana seorang hamba berada padanya kecuali dua Malaikat turun kepadanya. Salah satu di antara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang kikir.” (H.R. Bukhari).

Ketika berbicara tentang kedermawanan Nabi saw, sahabat Anas ra pernah bercerita,

مَا سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الإسْلامِ شَيْئًا إلا أعْطَاهُ. قَالَ: فَجَاءَه رَجُلٌ (وفي رواية : سأل النبي صلى الله عليه وسلم غنما بين جبلين) فَأعْطَاهُ غَنمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ، فَرَجَعَ إلَى قَوْمِهِ، فَقَالَ: يَاقَوْمِ، أسْلِمُوا، فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِى عَطَاءً لا يَخْشَى الْفَقر،وإنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إلا الدُّنْيَا، فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإسْلامُ أحبَّ إلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا

“Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diminta sesuatu –demi untuk masuk Islam- kecuali Rasulullah berikan. Maka datang seseorang (dalam riwayat yang lain : Orang ini meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kambing sepenuh lembah diantara dua gunung) maka Nabi memberikan kepadanya kambing sepenuh lembah, lalu iapun kembali kepada kaumnya dan berkata, “Wahai kaumku, masuklah kalian ke dalam Islam, sesungguhnya Muhammad memberi pemberian tanpa takut kemiskinan sama sekali, Sungguh seseorang masuk Islam tujuannya hanyalah untuk mendapat harta duniawi, maka tidaklah ia masuk Islam hingga akhirnya Islam lebih ia cintai daripada dunia dan seisinya” (HR. Muslim).

Begitu pula para Sahabat Nabi saw, meskipun mereka mendapatkan jaminan surga, mereka adalah generasi terdepan di dalam kebaikan terutama dalam memiliki Sifat kedermawanan.

Dikisahkan bahwa Thalhah bin Ubaidillah menceritakan suatu hari datang pembagian harta dari Hadhramaut sebesar 700 ribu dirham (senilai 70.000 dinar/29,75 Kg emas). Malam itu, Thalhah tidak bisa tidur karena gelisah. Melihat kondisi Thalhah, sang istri Ummu Kultsum binti Abu Bakar Al-Shiddiq bertanya, “Ada apa denganmu?”

“Sejak tadi malam aku berpikir dan berkata kepada diriku sendiri. Apa pikiran hamba kepada Tuhannya, jika malam ini dia tidur dengan harta sebanyak ini ada di rumahnya? Jawab Thalhah.

“Bukankah engkau memiliki banyak saudara. Jika pagi telah terbit, letakkan harta tersebut di atas nampan dan wadah, lalu bagikan,” kata sang istri memberikan jalan ke luar.
“Engkau benar, Muwafiqah binti Muwafiq, semoga Allah merahmatimu.”
Maka ketika pagi menjelang, Thalhah pun membagi-bagikan harta tersebut kepada kaum Muhajirin dan Anshar.
Subhanallah begitu luar biasa para Sahabat Nabi saw, ketika mereka mendapatkan kelebihan harta, mereka tidak memperkaya diri sendiri, justru mereka ingat bahwa dalam harta mereka terdapat hak bagi yang membutuhkan untuk di salurkan.

Khususnya bulan Ramadhan ini kita dianjurkan untuk menjadi pribadi yang dermawan, dan diantara bentuk dari sifat kedermawanan adalah memperbanyak Sedekah makanan bagi orang orang yang buka puasa.

Begitu banyak pintu-pintu kebaikan di bulan Ramadhan, dan tidak ada sedekah terbaik yang lebih agung dibulan suci ini selain memberi makan orang yang berbuka puasa, khusunya bagi kalangan fakir dan orang-orang yang membutuhkan. Oleh karenanya, Allah swt memotivasi kita untuk memperbanyak panen kebaikan dengan cara banyak bersedekah di bulan Ramadhan, karena diantara karakteristik bulan ini adalah bulan cinta dan kasih sayang.
Mengenai keutamaan memberi makanan berbuka puasa Rasulullah saw bersabda :

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا) . صححه الألباني في صحيح الترمذي .

“Siapa yang memberi makan berbuka kepada orang yang sedang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikitpun juga.” (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Tirmizi)

Hadits ini berlaku umum, baik yang berpuasa itu orang kaya atau miskin, termasuk apakah dia kerabat atau selainnya.(Faidhul Qadir, Al-Munawi, penjelasan hadits no. 8890.)

Dan memang memberi makan kepada pihak yang membutuhkan memiliki kedudukan yang tinggi di dalam islam. Allah menjadikan amalan memberi makan merupakan salah satu cara penebusan kaffarat dan bentuk pembayaran fidyah, maka orang sakit yang tidak dapat diharapkan kesembuhannya, Orang yang berusia lanjut yang tidak mampu berpuasa maka ia wajib membayar fidyah dengan cara memberi makan orang miskin disetiap harinya. Sebagai mana firman Allah :

وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين

“Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” (Al Baqarah 184).

Begitu pula melakukan hubungan intim suami istri di siang hari bulan Ramadhan, maka pelakunya wajib membayar kaffarat dengan cara memberi makan 60 orang miskin jika ia tak mampu menebus nya dengan puasa dua bulan berturut-turut, dan juga kaffarat sumpah palsu diantara bentuk tebusan nya adalah memberi makan sepuluh orang miskin atau memberi pakaian untuk mereka.
Bahkan memberi makan kepada orang lain salah satu amalan yang memudahkan seseorang masuk ke dalam surga. Nabi Saw bersabda :

يا أيها الناس أفشوا السلام أطعموا الطعام وصلوا الأرحام وصلوا بالليل والناس نيام تدخلوا الجنة بسلام

Wahai manusia, tebarkalah salam, dan berikanlah makan, sambung tali Rahim, sholat malamlah ketika manusia tidur, maka engkau pun kan masuk surge dengan keselamatan (HR. Tirmidzi)

Dan diantara keutamaan memberi makan orang lain adalah bahwa ia termasuk amalan yang paling dicintai Allah swt. Nabi Saw bersabda :

عن عبد الله بن عمرو أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه وسلم : أي الإسلام خير ؟ قال : ” تطعم الطعام وتقرأ السلام على من عرفت ومن لم تعرف ” .

Artinya: Dari Abdullah bin Amr, bahwa seorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Islam yang bagaimana yang lebih utama? Maka beliau menjawab, “Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal. (HR. Bukhari).

Dan yang paling penting diantara keutamaan memberi makan kepada orang lain adalah memperoleh keselamatan dari malapetaka di hari kiamat. Allah swt ingatkan hal tersebut di dalam Al-Quran.

(وَیُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسۡكِینࣰا وَیَتِیمࣰا وَأَسِیرًا إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِیدُ مِنكُمۡ جَزَاۤءࣰ وَلَا شُكُورًا إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا یَوۡمًا عَبُوسࣰا قَمۡطَرِیرࣰا فَوَقَاهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَ ٰ⁠لِكَ ٱلۡیَوۡمِ وَلَقَّاهُمۡ نَضۡرَةࣰ وَسُرُورࣰا)

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan,(sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.Sungguh, kami takut akan (azab) Tuhan pada hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan.
Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan.” (Surat Al-Insan 8-11)

Dan diantara potret kehidupan Salafus Shalih di dalam kebaikan adalah mereka generasi yang bersemangat di dalam memberi sedekah makanan kepada orang lain, khususnya di bulan suci ramadhan, bahkan diantara mereka ada yang mendahulukan kebutuhan makanan saudaranya dibanding kebutuhan makanan pribadinya sendiri, padahal ia sendiri sangat membutuhkan nya, mereka lakukan hal itu semata mata mengharap ridho dan pahala dari Allah swt.

Diantara mereka adalah Abdullah ibnu Umar, Malik bin Dinar, Ahmad bin Hanbal, bahkan Ibnu Umar ra tidaklah mau berbuka kecuali bersama anak-anak yatim dan orang-orang miskin bahkan bisa jadi tak mau berbuka jika keluarganya menolak mereka pada malam itu. (Ibnu Rajab dalam kitab Ikhtiyarul Aula fi syarhi haditsi ikhtishamil mala’il a’la, 78)

Diantara mereka ada yang ada yang berbuka bersama pembantu pembantu mereka dan memberikan keringanan beban pekerjaan kepada mereka khusus di bulan Ramadhan, diantara nya adalah Hasan dan Abdullah Ibnu Mubarak. (Tadzkirotul Ikhwan bi Hadyi an-Nabi saw was Salaf fi Ramadhan, 21).

Abu Siwar Al Adawi berkata : Ada beberapa orang dari bani Adi yang sholat di masjid, salah seorang dari mereka tidak mau berbuka sendirian, kecuali ia berbuka bersama orang lain, atau ia orang lain berbuka bersamanya. (Ibnu Rajab, Ikhtiyar Aula fi syarhi haditsi ikhtishamil mala’il a’la, 79)

Yunus bin Yazid berkata : Dulu Ibnu Shihab Az-Zuhri ketika tiba bulan Ramadhan maka aktivitasnya hanya membaca Al-Quran dan memberi makan orang berbuka. (Ibnu Abdil Bar dalam kitab At-tamhid, 6/111)

Dulu Imam Hammad bin Sulaiman (Guru Abu Hanifah) biasa memberikan makanan iftar dibulan Ramadhan sebanyak 500 orang, dan ketika tiba hari raya idul fitri beliau memberi sedekah setiap dari mereka sebanyak 100 dirham. (Siyar alam Nubala 5/334)

Dan perlu diingat bahwa sedekah yang kita keluarkan tadi tidak akan mengurangi harta kita, bahkan diganti Allah dengan harta dan pahala yang berlipat ganda, karena
terkadang Allah membuka pintu rizki yang luas dari harta yang disedekahkan. Sebagaimana terdapat dalam hadits,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim).

Maksud hadits di atas sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah:

1) Harta tersebut akan diberkahi dan akan dihilangkan berbagai dampak bahaya padanya. Kekurangan harta tersebut akan ditutup dengan keberkahannya. Ini bisa dirasakan secara inderawi dan kebiasaan.

2) Walaupun secara bentuk harta tersebut berkurang, namun kekurangan tadi akan ditutup dengan pahala di sisi Allah dan akan terus ditambah dengan kelipatan yang amat banyak. (Syarh Shahih Muslim, 16: 128).

Mudah-mudahan kita diberikan kemudahan oleh Allah swt untuk mendermakan sebagian harta kita dibulan Ramadhan, khususnya dalam memberikan sedekah makanan bagi orang yang sedang berbuka, dengan harapan kita pahala dan surga di sisi Allah swt.

Cibubur, 1 Mei 2020

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id

    × Ahlan, Selamat Datang!