Sirih Pinang Rahasia Kekuatan dan Kekeluargaan Orang Suku Timor

Merangkai perjalanan di daratan pulau Timor belumlah cukup sebelum mengenal sesuatu yang khas di Pedalaman Timor Tengah Selatan yakni budaya makan sirih pinang (Bahasa Dawan: puah manus). Ini bagian dari warisan turun-temurun dari orang Timor yang masih dilakukan sampai hari ini. Makan sirih pinang sudah menjadi bagian yang melekat dari beberapa kegiatan adat yang ada di Timor, seperti di upacara besar gotong royong antar perkampungan, acara pernikahan keluarga maupun upacara kedukaan dan acara-acara lainnya.

Siapapun yang pertama kali menginjakkan kaki di Timor pasti akan mengenal Soe dengan suasana khas hawa dinginnya perbukitan yang bergulung-gulung. Soe juga merupakan pusat ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan sebagai pusat pemerintahan kabupaten tersebut berada. Soe menjadi bagian wilayah terdingin di daratan Pulau Timor dan menjadi kota terdingin ke-3 di Nusa Tenggara Timur setelah Bajawa dan Ruteng yang keduanya berada di Pulau Flores. Wilayahnya yang berada di ketinggian 900-1000 meter dari permukaan laut, sehingga Soe oleh banyak orang dijuluki kota dingin. Dengan udara yang lumayan sejuk, hingga kini Soe adalah penghasil jeruk lokal yang biasa dijumpai sepanjang kanan-kiri jalanan.

Ciri khas utama yang mudah dikenali dari Suku Timor atau Suku Dawan dalam interaksi sosial adalah kebiasaan mengenakan kain tenun ikat daerah berupa selempang atau selimut, serta tradisi mengunyah sirih pinang.

Dalam kebudayaan masyarakat setempat makna kebiasaan mengunyah sirih pinang memiliki pengaruh yang besar yang juga menandakan tanda keakraban dan keramahan lingkungan. Ketika berkunjung bertamu ke rumah-rumah orang misalnya, suguhan paling pertama dari tuan rumah sebelum teh atau kopi adalah sirih pinang. Sehingga Sirih Pinang hal yang tidak bisa dipisahkan dari corak kehidupan masyarakat Timor. Sirih pinang hampir dapat dijumpai di pasar-pasar tradisional yang ada setiap jadwal hari-hari pasar dalam sepekan , adapun sirih pinang pun dihargai dari 5000-an hingga belasan ribu rupiah.

Di perhelatan acara hajatan, pesta, kedukaan, suguhan pertama menyambut para tamu undangan, pastilah sirih pinang. Setelah jamuan makan, tanda pamit pun pun kembali dengan makan sirih pinang.

“Keberadaan sirih pinang sangatlah nampak ketika warga menggelar hajatan seperti pesta pernikahan. Prosesi sebelum benar-benar sampai pada tahap pernikahan, keluarga kedua calon mempelai biasanya mengadakan pertemuan makan sirih pinang. Salah satu tujuan acara ini yaitu saling mengenalkan dan mengakrabkan sanak keluarga laki-laki dan perempuan” jelas Ustadz Masrin da’i setempat yang menemani perjalanan kami ketika di pedalaman Timor.

Bahkan ketika hari akad pernikahan akan digelar, cara tuan rumah yang akan mengadakan pesta akan mengundang para tamu juga unik, yakni dengan mengirim sepaket sirih pinang kepada setiap calon undangan. Jika calon undangan menerima paket tersebut, maka undangan itu dianggap sah dan si penerima berkewajiban menghadiri pesta pernikahan.

Menjumpai sirih pinang akan mengingatkan pada tradisi kekeluargaan yang sangat kuat bagi masyarakat Timor sekalipun tidak sedikit cahaya hidayah islam telah menerangi warna perkampungan di ujung-ujung lereng bukit namun pertalian kekeluargaan tetap dibangun dengan saling mengundang dan menghargai ketika acara pesta namun tetap berpegang pada prinsip-prinsip norma keyakinan masing-masing.

Menurut Ustadz Masrin, beberapa orang tetangga sebagian besar mengganggap sirih pinang sebagai candu karena begitu kecanduan makan sirih dan pinang mengatakan bahwa bagi mereka tidak masalah kalau tidak makan nasi asalkan tetap makan sirih dan pinang, karena itu mereka rela menghabiskan puluhan ribu rupiah setiap hari untuk bisa mengkonsumsi hal ini sepanjang hari demi menemani hari-hari mereka bekerja di ladang.

Dalam hal kebiasaan sirih pinang ini, banyak terkandung makna penting bukan sekedar mengunyah isi daging buah pinang dan sirih sebagai pemerah bibir, atau sebagai penguat stamina, tapi bahan-bahan itu merupakan bagian yang mampu mempererat hubungan sosial, membuat orang merasa sebagai satu kesatuan satu sama lain, saling memberi dan menerima, dan terutama saling menghargai baik besar maupun kecil.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Suamiku Awam, Tidak Faham Agama

Kali ini saya hanya menceritakan ulang sebuah kisah yang disampaikan oleh Dr Mustafa Abu Sa’ad dalam acara yang kerab dinantikan oleh kaum muslimin di berbagai belahan dunia, termasuk saya sendiri juga ikut menunggu kehadiran acara tersebut.

Acara yang sudah berjalan 8 tahun ini diberi nama Sawaid Al-Ikha’ Alhamdulillah saya mengikuti semua episodenya dari awal untuk acara yang sangat bermanfaat tersebut, tanyang hanya pada bulan Ramadhan saja, 30 episode sekali musimnya selalu saya download dan disimpan videonya di rumah juga di mobil sebagai salah satu sarana thalabul ilmi saat di jalan atau safar.

Dr Mustafa Abu Sa’ad adalah tokoh terkenal asal Maroko yang sangat tersohor, beliau pakar psikologi dan menangani banyak sekali konsultasi keluarga dan berbagai masalah lainnya, menguasai beberapa bahasa asing serta memiliki acara televisi di maroko dan timur tengah.

Musim Ramadhan lalu acara Sawaid Al-Ikha’ tetap seperti biasa diadakan di turki dengan mengundang para ulama, para pakar dalam berbagai bidang ilmu syar’i untuk menyampaikan ilmu mereka dalam kegiatan yang hanya beberapa hari ini, kali ini mengangkat tema tentang biografi istri – istri Rasulullah shallahu alaihi wasallam ibunda kaum muslimin.

Di sela – sela kegiatan yang sangat dinantikan itu, Dr Mustafa menceritakan tentang ada beberapa orang wanita yang datang menemui beliau untuk konsultasi mengeluhkan suami – suami mereka yang tidak faham agama, padahal waktu awal ingin menikah dahulu sang istri ingin mendapatkan suami yang mengerti agama, begitu keluh wanita di hadapan Dr Sa’ad, sang penanya benar – benar semangat menunggu jawaban beliau.

Sebelum menjawab pertanyaan yang barangkali mewakili banyak para wanita di dunia ini, beliau balik bertanya, bagaimana orang yang faham agama menurut anda para istri?! Apa ciri – ciri mereka?! menurut kami suami yang faham agama selalu shalat malam, puasa senin kamis, berdzikir setiap waktu, banyak shalat sunnah dan lain-lainnya, sedangkan suami saya cuma shalat 5 waktu sehabis itu langsung keluar masjid membaca kitab, menjawab pertanyaan banyak orang, mengajar. Begitu jawab sang wanita penanya itu.

Wanita lainnya mengeluhkan hal yang sama, suaminya tidak terlihat seperti ahli ibadah, shalat dan puasa yang wajib – wajib saja, setelah itu dia sibuk mencari, menggalang dana dan mendata fakir miskin, menyantuni janda dan anak yatim, jarang terlihat duduk lama di masjid.

Untuk penanya pertama beliau menjawab bahwasanya ilmu dan mengajarkan ilmu jauh lebih baik dan lebih hebat dari pada shalat Sunnah, memang kalau kita lihat dalil – dalilnya sangat banyak, begitu juga dengan uncapan para ulama.

Mari kita lihat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: Mempelajari ilmu di sebahagian malam lebih aku sukai dari pada menghidupkan seluruh malam untuk ibadah.

Imam Syafii rahimahullah berkata: Menuntut ilmu lebih utama dari pada shalat nafilah (sunnah).

Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: aku duduk sejenak mencari ilmu itu lebih aku sukai daripada berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari.

Kita lihat pula Sabda Nabi shallahu alaihi wasallam:

عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أَبِى الدَّرْدَاءِ فِى مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ إِنِّى جِئْتُكَ مِنْ مَدِينَةِ الرَّسُولِ -صلى الله عليه وسلم- لِحَدِيثٍ بَلَغَنِى أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَا جِئْتُ لِحَاجَةٍ. قَالَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ »

Dari Katsir bin Qais, ia berkata, aku pernah duduk bersama Abu Darda’ radhiyallahu anhu di Masjid Damasqus, lalu datang seorang pria yang lantas berkata, “Wahai Abu Ad Darda’, aku sungguh datang dari kota Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- (Madinah Nabawiyah) karena ada suatu hadits yang telah sampai padaku di mana engkau yang meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku datang untuk maksud mendapatkan hadits tersebut. Abu Darda’ lantas berkata, sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan purnama di malam hari dari bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” (HR. Abu Daud no. 3641. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Apa lagi kalau keutamaan orang yang mengajarkan ilmu, ini tentu lebih utama lagi, seperti dalam sabda Nabi shallahu alaihi wasallam berikut ini:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ البَاهِلِيِّ رضي الله عنه، قَالَ: ذُكِرَ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا عَابِدٌ وَالآخَرُ عَالِمٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: «فَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ»، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ.

Dari Abu Umamah radhiyallahu anhu. bahwasanya Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: “Keutamaan orang alim atas orang yang beribadah -ahli ibadah namun tidak berilmu- ialah seperti keutamaanku atas orang yang terendah di antara engkau semua.” “Selanjutnya Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya, juga para penghuni langit dan bumi, sampaipun semut yang ada di dalam liangnya, bahkan ikan yang ada di dalam lautan, sesungguhnya semuanya mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada para manusia.”(HR Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadis hasan).

Adapun pertanyaan wanita yang ke dua yang mengatakan suaminya tidak mengerti agama sibuk mengurusi faqir miskin, janda dan anak yatim, tentu suaminya telah beribadah yang paling tinggi, kalau pun ahli ibadah maka ini adalah ahli ibadah yang paling tinggi.

Mari kita lihat hadits berikut ini:

أخرجه البخاري في “صحيحه” (5353) ، ومسلم في “صحيحه” (2982) ، من حديث أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:( السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالمِسْكِينِ ، كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، أَوِ القَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ ).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: Orang yang berusaha memberi nafkah untuk Janda dan orang miskin adalah seperti Mujahid yang berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang shalat semalam suntuk atau seperti orang yang berpuasa di siang hari (HR Al Bukhari dan Muslim).

عَنْ سَهْلٍ بْنِ سَعْدٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

Dari Sahal bin Sa’ad radhiyallahu anhu ia berkata: “Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: “Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya serta merenggangkan keduanya.” (HR Al Bukhari).

مَنْ ضَمَّ يَتِيْمًا بَيْنَ أَبَوَيْنِ مُسْلِمَيْنِ فِيْ طَعَامِهِ وَ شَرَابِهِ حَتَّى يَسْتَغْنِيَ عَنْهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Thobrani, Shahih At Targhib Al Albani bahwa: “Barang siapa yang mengikutsertakan seorang anak yatim di antara dua orang tua Muslim, dalam makan dan minumnya, sehingga mencukupinya maka ia pasti masuk surga.” (HR Tabrani).

Ibadah itu adalah rizki, Allah ta’ala yang membagi – bagikannya kepada manusia, ada yang diberi Puasa, Shalat tapi tidak diberi pintu sedekah, ada yang diberi haji dan umrah tapi tidak ibadah lainnya, begitu lah Allah berikan setiap orang cara ibadahnya masing – masing sesuai dengan keahlian dan kemampuan manusia itu sendiri, namun pada akhirnya semua manusia itu tadi dalam koridor ibadah kepada Allah ta’ala.

Jangan sampai seseorang terlalu rajin menilai negativ orang lain, yang lebih parah kalau ia menganggap orang yang tidak sama jenis ibadahnya dengan dia berarti orang itu tidak ibadah atau tidak faham agama, fokus pada diri sendiri jangan sibuk menghitung kesalahan orang lain, barakallahu fiekum.

Wakaf Qur’an Menyinari Mayoritas Muslim di Kojadoi Seiring Nyala Listrik Yang Baru Terpasang Baru-baru Ini

Ekspedisi Paket Wakaf Qur’an dan Pakaian Layak Pakai dari Tanmia Foundation tiba di Pulau Kojadoi , Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur pada ( 25/08/2020). Paket Wakaf ini sampai setelah menempuh perjalanan ekspedisi panjang selama hampir sebulan lamanya.

Puluhan mushaf dan beberapa paketan pakaian akan ditujukan langsung untuk beberapa TPQ di sekitar Sikka Maumere dan sebagian langsung di bawa ke TPQ Baabussalam Kojadoi dimana lokasi berada di dusun Koja Besar Desa Kojadoi Kecamatan Alok Timur.

TPQ Baabussalam ini berdiri sejak tahun 1993 dimana sekarang ini ada 30 anak didik yang sekarang masih belajar bersama Aludin Muhammad salah satu pengurus TPA yang telah dihubungi sebelumnya untuk menerima paket Wakaf.

“Wakaf qur’an dan pakaian sangat antusias disambut oleh tokoh setempat dan kalangan penduduk yang mayoritas adalah nelayan dan berladang”, tutur Rashid da’i setempat yang mengantarkan kiriman dari Tanmia Foundation.

Suku Buton dan Suku Bajo hampir mendominasi keberadaan penduduk setempat yang sudah lama berpuluh-puluh tahun tinggal di Kojadoi. Ada 170-an KK yang mayoritas muslim tinggal di Kojadoi yang juga belum lama ini mendapatkan aliran listrik. Panel-panel surya baru saja menyinari kepulauan yang terletak di utara Maumere ibukota Kabupaten Sikka yang sudah sejak lama dinantikan.

“Sekarang sumber listrik berasal dari panel matahari yang terpasang di hampir setiap rumah penduduk. Dulu hanya sebagian saja yang masih menggunakan genset diesel untuk sumber listrik. Sehingga ketika siang hari, listrik tidak menyala di pulau ini. Listrik hanya bisa dinikmati ketika malam hari saja”, tutur Muhammadong warga setempat pada relawan Tanmia Foundation di lokasi.

Adanya aliran listrik setidaknya lika-liku perjalanan kehidupan muslim di Kojadoi menjadi lebih maju dan berkembang dengan pembangunan sarana yang ada baik fisik dan non-fisik. Menurut da’i setempat seringnya “memaksa” anak-anak untuk bersekolah dari kebiasaan mereka memilih berlabuh buruh ke laut. Dan salah satu faktor yang masih terkendala juga karena minimnya kesadaran orang tua mereka tentang pentingnya pendidikan yang lebih tinggi di sekolah.

Untuk sampai ke Kojadoi ada dua jalur yakni melalui Nangahale, Kecamatan Talibura menggunakan perahu dengan jarak tempuh 45 menit dan bisa melalui Pelabuhan Lorens Say Maumere dengan jarak tempuh 1,5 jam perjalanan.

Secara geografis, Desa Kojadoi terletak di kawasan pulau-pulau kecil di sebelah utara Laut Flores, terpisah dari sebagian besar wilayah Kabupaten Sikka yang terletak di daratan Pulau Flores. Pulau Kojadoi yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Alok Timur yang berjarak 25 KM dari pusat kota serta harus ditempuh dengan jalur laut.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Tanmia Distribusikan Buku Wakaf di Rumah Tahfizh Alfurqon Darul Ikhlas Pringsewu Lampung

Era new normal untuk adaptasi kebiasaan baru yang saat ini menjadi perbincangan publik berlaku juga untuk dunia pendidikan informal. Hal tersebut juga dirasakan sebagaimana para pendidik di rumah Qur’an Al-Furqon Darul Ikhlas Sidoharjo Pringsewu Provinsi Lampung.

Kegiatan belajar mengajar dibuka kembali setelah diliburkan sejak pandemi pertengahan April lalu, hingga akhirnya mereka bisa masuk kembali dengan syarat protokol kesehatan dijalankan. Kegiatan pun dimulai saat usai Iedul Adha tiba yang semuanya dirancang oleh pihak pengurus rumah Qur’an.

Ustadz Harun, selaku Mudir Rumah Qur’an Al-Furqon Darul Ikhlas telah memulai aktivitas belajar dan menghafal Al-Qur’an dengan membuat sistem protokol bertahap, mulai dari pembagian jadwal hari masuk yang bergantian sampai akhirnya bisa aktif sepenuhnya saat ini.

Hal ini semua dilakukan untuk menyesuaikan dengan era new normal ini, sehingga para santri rumah Qur’an harus memperhatikan sejumlah protokol kesehatan. Ustadz Harun pun menyebutkan protokol kesehatan tersebut wajib diikuti oleh seluruh elemen di rumah Qur’an, baik pengasuh, pengajar hingga santri.

“Ada sekitar 200-an santri yang sekarang belajar di rumah Qur’an Al-Furqon Darul Ikhlas yang belajar disini, mulai dari jam 15.30 sore sampai menjelang waktu maghrib”, jelas Ust Harun ketika dihubungi.

Melalui Rumah Qur’an Al-Furqon ini Tanmia Foundation mendistribusikan paket literasi buku perpustakaan yang dikirimkan langsung ke lokasi. Program ini memiliki salah satu tujuan untuk menambah suasana khasanah keilmuan dan kegiatan anak-anak yang baru-baru ini memasuki adaptasi kebiasaan baru sehingga benar-benar dalam kondisi suasana yang baru penuh semangat.

Selain antisipasi lainnya seperti menggunakan masker di area rumah Qur’an, juga menjaga kesehatan dan kebersihan pun diterapkan, terutama pengajar,” imbuh Ustadz Harun.

Pola hidup bersih dan sehat yang diberlakukan
harapannya, agar kegiatan rumah qur’an dapat berjalan sebagaimana biasanya dan terhindar dari segala hal yang tidak diinginkan apalagi dengan kegiatan literasi dengan buku-buku yang baru “Mudah-mudahan bisa bermanfaat, jadi kebiasaan baru,” pungkas Ustadz Harun.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

 

Renovasi Toilet Pesantren Baiturrahmah, Tanmia Foundation Dukung Pengkaderan Da’i di Pesantren

Tanmia Foundation menyalurkan bantuan renovasi fisik untuk membantu proses renovasi toilet di pondok pesantren Baiturahmah Dellap Jatisari Situbondo Jawa Timur (22/08/2020).

Renovasi mulai berlangsung dengan memperbaiki bangunan dan atap yang sebagian sudah lapuk hingga terjatuh dimakan usia. Sejumlah toilet dan ruangan memang sudah tidak layak lagi seperti kamar santri, kamar mandi dan dapur.

Alkisah perjalanan dakwah di wilayah Dellap Jatisari Arjasa ini pada awal tahun 1990 inilah tahun-tahun pertama ia menyelami geliat dakwah membuka lahan masyarakat Arjasa yang notabene dominan Suku Madura yang berasal dari seberang Kepulauan. Bertahun-tahun lamanya akhirnya tidak sedikit masyarakat Kepulauan memilih untuk menetap di pesisir dan membuka lahan perkampungan di wilayah Arjasa Situbondo. Perjalanan menuju lokasi bisa diakses dari arah barat dari Surabaya lanjut ke Arjasa Situbondo atau dari arah timur yakni dari Terminal Pelabuhan Ketapang Banyuwangi lanjut ke lokasi.

Masjid Mabdaul Hikam adalah simbol sejarah yang pertama kali didirikannya tahun 1990 sebelum bangunan Pesantren Baiturrahmah yang berdiri belakangan sejak 2006. Semuanya dirintis oleh Achmad Jufri bersama Siti Misriyati
istrinya. Dengan tetesan air keringatnya di tanah rantau dakwahnya selepas ia lulus pesantren Sumber Bunga Seletreng Kota Santri Situbondo tahun 1980-an silam.

Pesantren khas ala kampung ini menaungi kegiatan pendidikan dari Raudhatul Athfal, Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah dengan jumlah anak didik sebanyak 300-an saat ini.

Tanmia Foundation berharap, dari bantuan renovasi tersebut dapat memberikan nilai kualitas bertambah kepada pondok pesantren. Selain itu juga untuk meningkatkan motivasi belajar sekitar 300 santri baik mukim ( tinggal ) maupun non-mukim ( pulang-pergi ) tersebut dalam proses belajar mengajar nantinya.

“Bantuan ini adalah salah satu bagian kepedulian yang menunjukkan keinginan kuat memperkokoh bangunan ukhuwah sesama muslim dan sesama pesantren sebagai pengkaderan da’i yang terus bersinergi guna memakmurkan pendidikan berbasis pesantren”, ujar relawan Tanmia dilokasi ( 24/08/2020).

Wajah dunia pesantren dengan segala warna-warninya dan segala penyediaan fasilitasnya menjadi lingkungan yang ramah untuk pendidikan generasi islam. Sehingga adanya dukungan berupa renovasi toilet Pesantren Baiturrahmah merupakan bentuk wasilah kebaikan para muhsinin yang telah mengamanahkan kepercayaan dan komitmen pada Tanmia Foundation untuk berserikat menghasilkan generasi terbaik melalui sektor pendidikan di berbagai pelosok daerah sebagai sinergi antarkan kebaikan. Barakalallahufiekum.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Tantangan Dakwah di Lereng Gunung

Awal perjalan relawan Tanmia Bekasi bermula pada hari Kamis 13 Agustus 2020. Dan yang menjadi pilihan pertama kami adalah dengan bersilaturahim kepada Ustadz UT.

Beliau adalah salah seorang da’i di lereng gunung merapi yang consent dalam menangani masyarakat minoritas yang ada di sana.

Selain itu beliau juga penemu metode Tsaqifa yaitu metode belajar membaca Al-Quran untuk orang yang “buta” huruf Al Quran. Dan beliau founder dari KPQN (Komunitas Penghafal Qur’an Nusantara), yang visi misinya adalah memberantas buta huruf Al Quran di Nusantara.

Beliau memulai dakwah sekitar tahun 1998 di lereng gunung Sumbing, merbabu dan Merapi. Banyak sekali lika-liku dakwah yang beliau alami salah satunya adalah sulitnya medan untuk mencapai tempat ngaji.

Dalam perbincangan dengan beliau, kami dapat banyak sekali pelajaran. Salah satunya adalah tentang dakwah. “Selamanya dakwah itu dibutuhkan, maka dimanapun dan kapanpun kita harus siap” Ujar beliau.

Beliau menyambut baik bagi siapapun ikwah yang ingin bersinergi dalam dakwah, dalam hal ini dengan yayasan Tanmia. Beliau siap bersinergi demi kemajuan islam dan kaum muslimin.

Dan sesi terakhir beliau menerima waqaf al Qur’an titipan para donatur untuk diberikan kepada masyarakat jama’ah binaan beliau.

Relawan Tanmia
Abu Khanif, Fadl Kamil

Setelah 75 Tahun Diubah Menjadi Museum, Erdogan Membuka Kembali Masjid Bersejarah Untuk Beribadah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengeluarkan dekrit untuk membuka kembali Masjid Carre yang bersejarah untuk beribadah, setelah digunakan sebagai museum dan gudang selama 75 tahun, di negara bagian Istanbul.

Koran resmi pemerintah turki menerbitkan keputusan presiden baru pada hari Jumat, yang mulai berlaku secara langsung. Keputusan tersebut menetapkan bahwa masjid, yang terletak di distrik Fatih di Istanbul, diserahkan kepada Kepresidenan Urusan Agama dan dibuka kembali untuk beribadah sesuai dengan hukum yang relevan.

Sejarawan mengatakan bahwa “Carré” dibangun pada era Bizantium atas dasar bahwa itu adalah sebuah gereja, dan itu menyandang nama “Gereja Chora” atau “Gereja Juru Selamat”.

Sejarawan menunjukkan bahwa bangunan gereja itu tetap seperti dahulu tidak berubah sampai setelah penaklukan kota Konstantinopel (negara bagian Istanbul sekarang, yang dibuka oleh Sultan Mehmed sang Penakluk pada tahun 1453), selama hampir 50 tahun, ketika Atiq Pasha memerintahkan Menteri Sultan Bayezid II untuk menjadikannya masjid untuk ibadah.

Pada Agustus 1945, Kabinet Turki memutuskan untuk mengalokasikan masjid tersebut kepada Kementerian Pendidikan Nasional, untuk digunakan sebagai museum dan gudang. Pada November 2019, Dewan Negara memutuskan untuk membatalkan keputusan tersebut dengan alasan bahwa bangunan tersebut adalah salah satu wakaf Sultan Utsmaniyah.

Patut dicatat bahwa pada 24 Juli, Masjid Agung Mulia Hagia Sophia diresmikan, tempat shalat Jumat pertama diadakan setelah terputus selama 86 tahun setelah diubah menjadi museum pada tahun 1934.

Sholat Jumat dilakukan oleh Presiden Erdogan dan sejumlah pejabat Turki, selain ribuan warga Turki, Arab dan negara lainnya, yang datang dari berbagai daerah untuk berpartisipasi dalam acara bersejarah ini.

Wakaf Qur’an & Bahagia Yang Dinantikan Anak-anak TPQ Pesantren Baiturahmah Situbondo Menyambut Tahun Baru Hijriyah

Sejumlah anak-anak TPQ Pesantren Baiturahmah Dellap Jatisari Arjasa Situbondo nampak bahagia jelang malam pergantian tahun Hijriyah 1442 H. Mereka akan melakukan acara pawai lampu obor untuk menyambut 1 Muharram tahun baru islam atau tahun baru hijriyah. Kebahagiaan pun tambah memeriahkan suasana setelah kedatangan paket wakaf buku dan mushaf qur’an dari Tanmia Foundation untuk mereka.

Tanmia Foundation mengirimkan 2 buah paket yakni paket wakaf buku bacaan dan paket mushaf qur’an yang dikirim langsung ke lokasi pesantren lewat ekspedisi. Suasana menjelang pawai obor pun makin menghibur kebahagiaan anak-anak yang seketika itu diikuti para ibu dan orang tua, remaja masjid, dan anak-anak pengajian di dusun Dellab Jatisari, Situbondo.

Dari informasi pantauan relawan Tanmia di lokasi, penyerahan wakaf buku dan mushaf qur’an memang dinanti-nanti oleh pengurus pesantren. Kendati sebagian besar santri masih berdiam belajar di rumah masing-masing namun masih ada belasan santri yang tinggal berdekatan dengan pesantren tetap datang untuk belajar.

Persiapan pawai lampu obor memang sudah disiapkan santri dan orang tua karena kegiatan akan dimulai habis Maghrib sampai isya’ dimulai dari Masjid Mabdaul Hikam, Pesantren Baiturahmah (20/8/2020). Masing-masing anak-anak pun didampingi orang tuanya dg mereka mengenakan busana muslim lengkap.

Pengasuh pesantren, Achmad Jufri pun mengungkapkan rasa syukur terimakasih atas bantuan wakaf buku dan mushaf terlebih lagi bertepatan dengan acara pawai lampu obor datangnya 1 Muharram 1442 H.

Salah satu tujuan pawai obor ini diadakan untuk menggerakkan kembali semangat belajar anak-anak ditengah pandemi dan mengingatkan akan pentingnya makna hijrah 1 Muharram sebagai tahun baru ummat Islam bagi setiap anak-anak generasi muslim saat ini dan masa depan.

“Tujuanya juga agar anak-anak dan para walisantri lebih mengingat syi’ar islam tentang tanggal hijriah itu lebih penting daripada tanggal masehi, walaupun memang penanggalan masehi atau umum lebih dikenal, tapi kita sebagai umat Islam harus mengetahui dan paham sejarah Hijriah,” kata Achmad Jufri pengasuh pesantren usai memimpin do’a diserambi Masjid. Acara do’a pun berlangsung khusyu’ ditengah-tengah keheningan kebahagiaan para santri dan walisantri di lokasi.

Dalam doanya Achmad Jufri juga berharap di tahun 1442 Hijriah ini banyak mendapat perlindungan dan keberkahan yang berlimpah dari Allah SWT ditengah simpang siurnya pandemi yang juga menyasar ke kegiatan belajar mengajar di lingkungan pesantrenya.

“Senang, karena sebelumnya belum pernah dapat buku dan qur’an sebelum ikut pawai gini”, tutur Olif salah satu santri yang berasal disekitar pesantren Baiturrahmah.

Acara pawai obor ini berjalan cukup lancar dengan rute mengelilingi jalanan kampung Dellab Jatisari, kemudian kembali menuju ke arah Masjid Mabdaul Hikam sebagai titik awal di Pesantren Baiturahmah.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Ujian Dakwah di Lereng Merapi

Pada hari Kamis malam tanggal 13 Agustus 2020, Allah pertemukan kami dengan seorang Da’i utusan dari DDII (dewan dakwah islam indonesia).

Beliau memulai tugas mulia ini sejak pasca erupsi merapi 2010 hingga saat ini beliau masih istiqomah dalam dakwah. Kita sebut beliau adalah Ustadz AR asal Padang. Meski hanya mendapat 2m “maturnuwun mas”, ujar beliau, bahkan sering pula mendapat olok-olok, adu domba dan lain – lain tapi beliau masih setia membersamai masyarakat yang masih awam tentang islam di lereng merapi itu.

Menurut beliau ini baru sebagian kecil tantangan dakwah di lereng merapi sana dibandingkan tahun-tahun awal pasca erupsi Merapi 2010, dan beliau tetap bersabar di jalan dakwah ini. Tak sedikitpun kaki bergetar ketika ada yang menghadang perjuangan dakwah ini.

Dengan sekelumit masalah yang beliau hadapi, fokus beliau tetap berdakwah di daerah minoritas muslim, semampu dan sekuat tenaga. Hanya membawa satu misi besar, yaitu demi menegakkan kalimat Allah di muka bumi. Beliau juga sangat bahagia dan welcome dengan kedatangan kami. “Kami sangat senang dan bahagia ketika ada kepedulian dari ikhwah yang datang kemari” Ujar beliau. Dan juga beliau siap bersinergi dengan Yayasan Tanmia dalam dakwah dan perkembangan Islam di daerah beliau.
Kami bertanya, “Program besar kedepan di sini apa ustadz?”. Beliau menjawab, “Program besar kami adalah ingin membuat muallaf center”.
Sungguh mulia cita-cita Da’i dua anak ini.

Kami relawan Tanmia berharap kedepannya bisa ikut berkiprah dan membangun sinergi dalam mewujudkan cita-cita mulia “Menegakkan Kalimat Allah Di muka bumi” dengan seluruh kaum muslimin. Memberikan dukungan para Da’i pelosok negeri dalam bentuk apapun.

Hari ini yang bisa kami lakukan hanya memberikan dukungan dengan penyaluran wakaf Al-Qur’an. Dan Kami sangat bahagia ketika bisa berjumpa dengan beliau, karenanya kami mendapat banyak nasehat dan pengalaman.

Jazakumullah donatur yang sudah mempercayakan amanah ini kepada kami.

Relawan Tanmia
Abu khanif, Fadl Kamil

 

Kaya Raya Tapi Tidak Wajib Zakat

Zakat adalah salah satu mekanisme syariat untuk menghilangkan ketimpangan antar si kaya dan si papa, satu cara yang sangat sempurna untuk membantu meningkatkan taraf hidup saudara sesama muslim, ia juga merupakan salah satu wasiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada sahabat Mua’dz bin Jabal radhiyallahu anhu saat beliau mengutusnya ke Yaman sebagai Dai untuk mendakwahkan islam, beliau berpesan:

“Sampaikan kepada penduduk Yaman bahwasanya Allah mewajibkan zakat pada harta mereka, yang diambil dari orang kaya kemudian dikembalikan kepada orang miskin di antara mereka”. (HR Albukhari dan Muslim).

Memang zakat harus diambil dari orang kaya lalu dikembalikan kepada orang miskin, seperti juga firman Allah ta’ala:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka (QS Attubah:103).

Dari hadits dan ayat di atas dapat disimpulkan bahwasanya zakat diambil dari orang kaya dan kemudian dikembalikan kepada orang miskin, demi menjaga hubungan baik antar si kaya dan si miskin serta untuk mewujudkan kesetaraan dan kesempatan untuk mendapatkan modal dan usaha, bila syariat ini dapat ditegakkan dengan baik maka in syaa Allah masalah kemiskinan sedikit demi sedikit akan terkikis habis.

Namun bila syariat zakat tidak terlaksana dengan baik maka akan terjadi ketidak stabilan dalam masyarakat, sehingga muncul percurian, perampokan, perjudian dll. Ini adalah salah satu dari sekian banyak dari pada akibat tidak melaksanakan syariat Zakat.

Redaksi ayat dan hadits di atas yang menggunakan lafaz “ambil” dan “kembalikan” memberikan isyarat kuat bahwasanya dalam harta si Kaya ada harta si Miskin yang harus diambil, lalu dikembalikan pada si Miskin, secara tegas bahwa bagian harta yang kena zakat bukanlah milik si kaya, konsekwensinya kalau si Kaya tidak mengeluarkan harta zakat itu berarti ia mengambil harta yang bukan milik dirinya.

Dalam perjalanan sejarah hidup manusia tercatat orang – orang yang hartanya melimpah ruah namun tidak kena kewajiban Zakat, sebut saja salah satunya adalah Allaits bin Sa’ad, pendiri madzhab fikih, Seorang ulama besar asal Mesir, beliau adalah kebanggaan orang Mesir.

Beliau lahir tahun 94 H dan wafat tahun 175 H pada usia 81 tahun, beliau adalah guru dari Imam Syafii, imam Syafii berguru kepada imam Malik di Madinah dan berguru pula pada Imam Allaits bin Sa’ad di Mesir, Imam Syafii berkata: Allaits bin Sa’ad lebih faqih (Alim) dari Imam Malik, hanya saja murid-murid Allaits bin Sa’ad tidak menyebarkan ilmu guru mereka sehingga madzhad Allaits bin Sa’ad tidak tersebar luas seperti madzhab Imam Syafii dan Imam Malik.

Allaits bin Sa’ad belajar islam dari para Tabi’in di Mesir, pada usianya yang 20 beliau melakukan safar ke Madinah untuk belajar hadits langsung dari pakarnya pada zaman itu, yaitu Imam Ibnu Syihab Azzuhri.

Allaits bin Sa’ad terkenal dengan kekayaan dan kedermawanannya, sehingga ia memberi makan faqir miskin sepanjang tahun, bahkan dikisahkan selama 40 tahun beliau selalu makan dengan orang – orang yang selalu beliau jamu, juga membiayai para ulama, guru agama di berbagai wilayah, bukan hanya di Mesir saja namun kebaikan Allaits bertabur hingga Bagdad, ia memberikan bantuan untuk para ulama, Dai dan para sahabatnya hingga di berbagai daerah.

Dalam satu riwayat disebutkan penghasilan Allaits tiap tahun ada 50.000 dinar emas, bila harga Dinar hari ini Rp 3.500.000/ keping maka total penghasilan beliau 175.000.000.000 (175 Milyard) per tahun, namun penghasilan sebegitu besarnya tidak membuat beliau silau dengan kehidupan dunia, beliau lebih memilih hidup sederhana, dan makan dengan menu ala kadarnya Roti dan minyak Zaitun saja, ini menu favourite dari hidangan makan beliau sehari – hari.

Punya penghasilan 170 M per tahun tentu penghasilan yang sangat besar, namun di akhir tahun ia tidak kena kewajiban zakat, karena sebelum haul tiba dana 170 M itu sudah ia bagikan pada mereka yang membutuhkan, sehingga bila haul datang hartanya tidak sampai nishab (batas minimal kelayakan) zakat, pernah suatu hari beliau bertamu ke rumah Imam Malik di Madinah, Imam Malik sang Sahibul bait memberikan suguhan kepada Allaits satu mangkuk ruthab (kurma segar), Allaits menerima satu mangkuk ruthab itu lalu mengembalikan magkuk tersebut dengan diisi penuh dengan uang dinar.

Seorang wanita datang ke rumah Allaits bin Sa’ad mengadukan bahwa putranya sedang sakit, putranya sedang ingin minum madu, lalu Allaits meminta pembantunya untuk mengirim madu ke rumah wanita itu hampir 200 Kg.

Imam Malik di Madinah adalah sahabat Imam Allaits, meskipun ada silang pendapat masalah fikih di antara mereka, namun hal itu tidak membuat mereka bertengkar, suatu ketika Imam Malik mengirim surat kepada Allaits di Mesir meminta minyak wangi untuk acara pernikahan putri beliau, lalu Allaits mengirim minyak wangi ke Madinah di bawa oleh 30 ekor unta, melihat minyak wangi sangat banyak itu imam malik membagikannya kepada sahabat, tengga, acara nikahan putri beliau, dan sisanya masih sangat banyak, kemudian Imam Malik menjual minyak wangi tersebut 500 dinar emas (500 X 3.500.000= 1.750.000.000).

Ini adalah sekelumit dari potret kehidupan manusia hebat, ulama besar, saudagar kaya, pengusaha sukses yang namanya masih harum hingga sekarang, ilmu beliau dinikmati kaum muslimin hingga hari ini.

Namun Allah Yang Rahman dan Rahim menciptakan manusia seperti ini ada di setiap zaman, barangkali orang seperti ini di zaman ini juga ada, bisa saja ada di lingkungan kita, mungkin saja kita kurang gaul sehingga belum mengenal mereka, semoga Allah memperbanyak manusia seperti ini untuk kejayaan islam dan kaum muslimin.

 

Lopo Ruangan Serba Guna Khas Suku Timor

Satu lagi bangunan khas timor yang pasti ditemui di setiap sudut pemukiman Suku Timor ialah Lopo. Rumah ini mirip rumah bulat namun tidak memiliki dinding. Rumah ini didirikan di depan halaman rumah induk atau rumah kotak atau disamping kanan kirinya, yang pasti terletak di depan.

Lopo merupakan buah hasil kebudayaan tangan masyarakat Timor yang sudah sudah turun -temurun sejak masa silam. Lopo juga memiliki fungsi utama sebagai ruangan khusus pertemuan, pernikahan atau penyambutan tamu. Seringnya juga dimaknai sebagai salah satu sarana tempat yang dimanfaatkan untuk berkumpulnya masyarakat karena hampir semua proses pengambilan keputusan atau mengadakan musyawarah tentang berbagai aspek permasalahan yang terjadi dalam masyarakat. Semua hasil musyawarah disepakati sampai kata mufakat dan diputuskan dalam bangunan Lopo ini.

Lopo selain juga menjadi tempat bagi warga membahas setiap persoalan yang dihadapi juga sebagai berkumpulnya warga ketika gotong-royong di desa, biasanya segala persiapan dibahas bersama di Lopo.

Biasanya dalam sebuah dusun ada beberapa kepala keluarga memiliki Lopo, atau masih dalam satu Suku keluarga terdapat satu Lopo. Di beberapa daerah Timor yang lainya, masing-masing rumah malah memiliki Lopo sendiri-sendiri.

Bentuk arsitektur Lopo terbilang sederhana, ia merupakan rumah beratap bulat tak berdinding dengan 4 tiang utama yang berfungsi sebagai sarana tempat pertemuan. Beberapa warga, atau pemuda biasanya memanfaatkan lopo untuk bercengkrama santai sambil menikmati semilir udara sejuk. Lopo juga terkadang digunakan para kaum perempuan Suku Timor untuk menenun kain ketika ada acara khusus. Kain tenun songket ikat yang biasanya akan diberikan pada tamu yang datang dan dihadiahkan pada setiap acara penyambutan tamu.

Seiring perkembangan zaman pada prakteknya Lopo adalah bangunan serbaguna yang biasa digunakan siapa saja. berbeda dengan Ume Kbubu ( rumah bulat ) dan rumah kotak sebagai rumah privat setiap keluarga, adapun Lopo menjadi ruang publik untuk umumnya. Kehidupan masyarakat Timor dengan segala kebudayaan kearifan lokalnya membuat mereka tetap ada hingga saat ini.

“Lopo sudah menjadi bagian warisan nenek moyang kami. Gunanya sebagai tempat berkumpul musyawarah dan juga menyimpan hasil panen”, ujar Arifin Nobisa Ketua Suku Timor di Dusun OeUe Mauleum Kecamatan Amanuban Timur.

Jejak perjalanan di Timor masih membekas dengan mengunjungi Lopo di Kecamatan OeEkam dan Lopo milik Arifin Nobisa ketua Suku Timor dusun OeUe Mauleum Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sebagai orang Timor, Ume Kbubu, Lopo, sirih pinang dan kain tenun khas Timor sudah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Bersahabat dengan alam menjadi bagian yang terus dipertahankan sebagai upaya
mempertahankan budaya kearifan lokal dari gempuran lingkungan modern yang kadang tak bersahabat.

Walhasil, Cahaya Islam yang telah masuk dalam sanubari hidayah masyarakat suku Timor OeUe juga menjadi bagian yang terus mengokohkan pilar keimanan mereka sekalipun berada dipelosok jauh pedalaman.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Warga Antusias Dengan Kiprah TPQ At-Ta’awun Kampung Sawah

Menaruh perhatian untuk terciptanya lingkungan yang Qur’ani adalah bagian pembangunan karakter yang paling tepat sepanjang masa.

Usia kanak-kanak masa yang tak pernah lagi terulang masa emasnya dan inilah cara yang paling tepat untuk mendidik mereka dengan Qur’an sebagai bibit tanaman iman bersama tilawah maupun tadabbur atau segala sesuatunya bersama Al-Qur’an.

Perangkat dusun Pabuaran, Kelurahan Jatirangon, Kampung Sawah, Kecamatan Jatisampurna Kota Bekasi, bersama warga setempat adalah bagian elemen yang menaruh perhatian untuk pendidikan anak-anak TPQ. Hal ini dengan diselenggarakanya TPQ At-Ta’awun di tempat tersebut.

“Gedung dua lantai yang baru ditempati belum lama ini adalah wujud perhatian dan kepedulian dukungan terhadap proses pembelajaran anak-anak disini”, jelas Umrawi salah satu pengasuh TPQ At-Ta’awun .

” Berawal mulai tahun 2014 dari sepetak kontrakan yang disulap menjadi tempat mengaji dan berlangsung bertahun-tahun untuk kegiatan belajar mengajar bagi anak-anak didik TPQ dari TK-SD-SMP-SMA, jelas Widodo selaku penanggung jawab TPQ At-Ta’awun.

“Awalnya, hanya ada segelintir belasan anak yang bergabung. Sekarang sudah mencapai 60 anak. Dari jenjang TPQ ala kampung ini kemudian tak jarang anak-anak mereka bisa meraih prestasi masuk ke berbagai tingkat sekolah yang cukup favorit di Kota Bekasi bahkan Jabodetabek ” ujar Widodo yang akrab bersama warga menjamu kehadiran para asatidz pengajar dari Ma’had Al Itqan Bekasi.

Kegiatan TPQ At-Ta’awun bukanlah kegiatan sederhana biasa-biasa saja tapi ada visi dan misi yang bertujuan untuk terciptanya lingkungan pendidikan masyarakat yang berbasis karakter, sosial, dan berkualitas yang bermula dari lingkup kecil lingkungan dan keluarga.

Bukan menafikan pesatnya kemajuan teknologi yang mampu mempengaruhi pada anak-anak hari ini namun ada masa dimana anak-anak dimasanya mendapatkan porsi bersahabat karib dengan Al-Qur’an dan iman sebagai basic landasan kokoh dasarnya.

Masalah pengaruh kenakalan anak dan remaja diharapkan bisa diminimalisasi dengan sinergi kerja sama dan koordinasi semua pihak. Di antaranya dengan kiprah langsung Lembaga Dakwah Yayasan Tanmia inilah bertahun-tahun berjibaku langsung dengan menerjunkan pada da’i pengajarnya untuk terlibat aktif kegiatan TPQ dan pendidikan bagi warga di kelurahan setempat.

Program positif tersebut pun mendapatkan antusiasme dari warga sekitar. Salahsatunya kegiatan taklim warga Majelis At-Ta’awun pun, mengatakan, bahwa program tersebut membawa banyak dampak positif, khususnya langsung untuk anak-anak dan para warga di lingkungan tersebut serta adanya nilai sosial kebersamaan antar warga terjalin.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Kampung Sawah

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id