Pewaris Nabi Yang Terdzolimi

Akhir-akhir ini, dunia maya tengah dihebohkan oleh berita kriminalisasi yang dialami beberapa ulama kita di tanah air. Tidak nanggung-nanggung, selain fitnah chat mesum yang dialami salah satu diantara mereka yang hingga saat ini tak kunjung usai, bahkan dewasa ini sudah ada yang berani main fisik. Bukan hanya wajah yang menjadi lebam dan tubuh yang berdarah-darah, salah satu diantara mereka pun bahkan ada yang sampai meregang nyawa.

Keadaan seperti ini tentu suatu hal yang sangat patut disayangkan. Bagaimana tidak, ulama yang merupakan pewaris para nabi, yang keutamaanya demikian banyak allah dan rasul-Nya sebutkan di dalam al-qur’an dan al-hadits, harus mengalami kriminalisasi sedemikian rupa di negeri mereka sendiri. Sebuah negeri yang sudah merdeka sejak tahun 1945 yang lalu, bahkan sebuah negeri yang diklaim sebagai negara dangan populasi muslim terbesar di dunia.

Kalau kita mau membuka kembali lembaran sejarah hidup ulama kita terdahulu, maka kita akan mendapati bahwa sebenarnya hal seperti itu bukanlah hal baru. Pada masa awal kenabian, rasulullah saw diajak khadijah ra untuk berkunjung ke rumah salah satu pamannya yang bernama Waroqoh bin Naufal. Disana, beliau mendapat kabar bahwa siapapun yang membawa kebenaran, maka akan ada saja orang yang menolaknya, menentangnya, bahkan mengusirnya dari kampung halamannya. Terbukti setelah itu, selama kurang lebih 13 tahun lamanya beliau mengalami intimidasi dari masyarakat sekitar. Beliau yang sebelumnya merupakan orang yang paling dipercaya yang bahkan mendapat gelar “al-amin”, saat itu langsung dikriminalisasi dengan dituduh sebagai orang gila, tukang sihir, diludahi, bahkan pernah terjadi beberapa kali percobaan pembunuhan terhadap beliau saw.

Kemudian pada masa tabiin. Pada masa itu, Sa’id bin al-musayyib pernah dicambuk sebanyak 60 kali. Lebih kejam dari itu, bahkan sa’id bin jubair yang juga merupakan salah seorang tabiin terkemuka sampai dipenggal kepalanya oleh Al-Hajjaj bin yusuf al-Tsaqofi, seorang panglima bertangan besi dari kekhilafahan umawi.

Begitu juga pada masa khilafah abbasiyah. Kita akan mendapati bagaimana seorang imam Abu Hanifah dan imam Malik bin Anas pernah dicambuk dan imam syafii pernah dirantai dari yaman hingga Baghdad. Keadaan menyedihkan seperti itu juga tidak luput dialami oleh imam ahmad bin hambal. Beliau dicambuk kemudian dipenjara selam 30 bulan gara-gara tidak mau mengakui kemakhlukan qur’an sebagaimana yang diyakini mu’tazilah.

Kemudian di negeri kita sendiri, Indonesia. Kita semua tau, yang banyak berkontribusi atas kemerdekaan Indonesia adalah ulama dan santri. Sebagai pejuang, tentu tidak selalu berjalan mulus. KH. Hasyim Asy ‘Ary sendiri, yang merupakan pendiri Nahdatul Ulama, pernah juga mendekam di dalam penjara. Banyak siksaan fisik yang didapatkan beliau selama berada di dalam tahanan. Bahkan, salah satu jarinya patah dan tidak bisa digerakkan. Kemudian KH Ahmad Dahlan, pendiri muhammadiyah. Da’wah yang beliau lakukan pun tidak selalu berjalan mulus. pertentangan, penolakan hingga ancaman pembunuhan pun dialami beliau di dalam menyebarkan da’wahnya.

Melihat sejarah yang seperti itu, kita sepakat dengan bapak Taufik Ismail yang berpendapat bahwa apa yang terjadi di negara kita akhir-akhir ini merupakan pengulangan. Kaidah sendiri mengatakan, “at tarikhu yu’idu nafsahu; sejarah itu mengulang dirinya”. Akan selalu ada yang menyuarakan kebenaran, sebagaimana akan selalu ada juga yang menentang mereka.
Lantas, apa yang harus kita lakukan? Ulama kita dikriminalisasi sedemikian rupa. Apakah kita hanya akan berdiam diri saja? Tentu tidak. Masalah apa yang harus dilakukan, itu menjadi PR kita masing-masing, sesuai dengan kemampuan yang kita punya. Ada kekuasaan, gunakan itu sebaik mungkin untuk membela kebenaran. Kalau tidak, gunakan lisan kita untuk menyuarakan kebenaran itu. Kalau tidak mampu juga, paling tidak kita membenci hal itu dengan hati kita, kata nabi. Dan itulah selemah-lemahnya iman.

*dari berbagai macam sumber

by Ahmad Akbar Hakiki
Mahasiswa Al Azhar Cairo, Mesir

Semangat Menulis Yang Telah Pudar

Menulis adalah salah satu tradisi para Ulama zaman dahulu dan juga para intelektual,
Menulis memiliki pengaruh besar untuk kebangkitan peradaban Islam dan dunia,
Menulis adalah cara untuk mendokumentasikan ilmu dan kelak menjadi amal jariyah meskipun tubuh sudah terkujur tanah,

Banyak sekali Ulama dahulu yang produktif menulis kitab, seperti halnya Imam Nawawi rahimahullah yang memiliki karya tulis melebihi jumlah umurnya, dan Imam Nawawi memiliki 3 macam kategori tulisan,
Yang pertama, karya tulis beliau yang selesai ditulis, seperti Syarh Muslim, Arrhaudoh, riyadhussholihin, dll.
Yang kedua, karya tulis beliau yang belum selesai karena beliau telah wafat lebih dulu, seperti Al-Majmu’Syarh AlMuhadzab, Syarh Al-wasith, dan syarh Al-Bukhari,
Dan ketiga adalah karya tulis beliau yang dihapus kembali, karena dengan alasan tertentu. Seperti alasan beliau menghapus karyanya itu karena takut tidak ikhlas ketika menulisnya, ada beberapa tulisan yang belum matang, dan karena tidak ada waktu luang untuk mengulang karya tulisnya.

Begitu juga Imam Suyuthi rahimahullah, yang tak kurang beliau memiliki 600 kitab karya beliau. Dan masih banyak lagi ulama-ulama lain yang memiliki karya tulisnya, seperti Imam Adz-Dzahabi, Imam Bukhori, ibnu taimiyah, dll.

Tidak sama seperti yang kita kira, bahwa satu kitabnya mereka itu berbeda dengan satu kitab zaman sekarang. Dan jangan kira bahwa satu kitab karya mereka itu terdiri hanya satu jilid buku saja, namun sangat banyak dan tebal, berkisar 4 jilid hingga 30 jilid, dan setiap jilid total halaman kurang lebih 600-700 halaman.
Sungguh luar biasa bukan??

Zaman dahulu yang penuh dengan keterbatasan, baik itu keterbatasan fasilitas atau informasi dan lain sebagainya, namun mereka melebihi mampu melahirkan jutaan karya tulis yang mungkin tidak kita temui pada zaman sekarang ini.

Dahulu mereka menulis dengan manual, yaitu dengan tangan mereka sehingga yang tersisa adalah sebuah manuskrip kuno, yaitu tulisan asli dari penulisnya. Dan pena yang mereka punya tidak seperti yang kita bayangkan, mereka menggunakan tinta yang sangat jauh berbeda dengan pena sekarang.

Dan sekali lagi, mereka melebihi mampu.. Bagaimana dengan kita??

Semua fasilitas ada, informasi mudah, media merajalela, namun sangat sedikit sekali karya yang tertuai. Apa karena kemudahan itu sehingga kita meng-gampangkan dan meremehkan sebuah tradisi yang hampir terlupakan ini.?

Apa sebabnya…? Sehingga sekarang kita lemah dalam menulis?

Kita merasa sangat susah sekali untuk memulai menulis, entah memulai dari mana, apa karena memang masih belum ada ilmu dalam otak kita, sehingga kita butuh banyak referensi, kemudian baru kita bisa menulis…??

Ulama zaman dahulu memiliki cara belajar tersendiri, sebelum mereka belajar apapun, pertama kali yang mereka lakukan adalah menghafal Al-Quran, karena Al-Quran adalah sumber Informasi yang sangat autentik hingga akhir zaman kelak, kemudian mereka belajar Adab dan menghafal matan-matan ilmiyah.

Jadi, rahasia sukses belajar Ulama dahulu yang mungkin sudah dikesampingkan oleh orang-orang zaman sekarang adalah dengan cara menghafal, yaitu (Al-Hifdzu qoblal fahmi) menghafal sebelum memahami. Dan setelah menghafal mereka bisa merenungi dan memahami matan-matan yang mereka hafal dan kemudian dijabarkan menjadi ilmu yang luas. Setelah mereka menemukan luasnya ilmu dari petikan-petikan syair itu kemudian mereka tuangkan dalam tinta pena, tertulis dalam goresan penanya dan lahir menjadi jutaan karya tulis.

Marilah kita hidupkan kembali tradisi para Ulama ini,
Hidupkan kembali ilmu yang lama terpendam,
Bangkitkan peradaban Islam dan dunia dengan menulis.

Allahul Musta’an
Wallahu a’lam bisshowab

Muhammad Munib
Mahasiswa Al Azhar
Cairo – Mesir

Penasehat terbaik di Dunia

Siang ini Senin 15 Januari 2018 menjelang zhuhur kami sudah berjalan menuju masjid kebanggan kami di bilangan cibubur, langit terlihat mendung menutupi keindahan cahaya matahari, namun langit masih menahan beratnya kandungan hujan dan enggan menurunkannya, menunggu perintah Zat Yang mengendalikannya.

Di halaman masjid terlihat pemandangan yang tidak biasa, banyak mobil masuk ke halaman masjid, banyak pula orang lalu lalang dan berjalan agak terburu – buru, bapak – bapak, ibu – ibu, muda – mudi kelihatannya sibuk melangkahkan kalinya sambil berbicara dengan rekan – rekan mereka kelihatannya sangat serius, kami mengira mungkin ada orang yang ingin masuk islam, karena masjid ini terkenal sebagai tempat yang banyak dipilih orang sebagai tempat ikrar syahadat.

Habis berwudhu kami masuk ke dalam masjid seperti biasa selalu memilih tempat favorit di bagian masjid yang terkenal dengan kemegahan dan kemakmuran kajian ilmunya itu, duduk sebentar maksud hati ingin istirahat sambil mendengarkan indahnya suara adzan yang berkumandang memenuhi sanubari, namun saat kami menoleh ke sisi kanan kami melihat sebuah benda yang menghilangkan penasaran kami sejak tadi, ia adalah satu tempat yang diselimuti dengan kain hijau dengan kaligrafi kalimat tauhid berwarna kuning emas, iya, itu adalah keranda jenazah.

Sambil menunggu iqamah, pengurus masjid pun segera mengumumkan kepada jamaah bahwa ada seorang jamaah atas nama fulan bin fulan telah dipanggil Allah untuk menghadapNya, dari pengumuman itu terdengar jelas bahwa jenazah berusia 40 tahun, meninggalkan beberapa orang anak dan istri, pengurus meminta kesediaan jamaah untuk ikut menshalatkan jenazah tersebut, usia muda memang tidak menjamin seseorang akan hidup lebih panjang, semua telah ditentukan Dzat Yang menciptakan kehidupan dan kematian.

Selesai shalat zhuhur sang datok imam langsung meminta jamaah untuk memberikan jalan bagi keranda jenazah untuk diletakkan di hadapan imam, shalat jenazah segera dilaksanakan dipimpin seorang imam hafizh Al Quran yang juga menerangkan kaifiyah (tata laksana) shalat jenazah kepada makmum, Alhamdulillah dari jamaah yang hadir ratusan orang ikut meshalatkan jenazah tersebut.

Kami teringat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lantas dishalatkan (shalat jenazah) oleh 40 orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun melainkan Allah akan memperkenankan syafa’at (do’a) mereka untuknya.” (HR. Muslim).

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

مَا مِنْ مَيِّتٍ يُصَلِّى عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلاَّ شُفِّعُوا فِيهِ

“Tidaklah seorang mayit dishalatkan (dengan shalat jenazah) oleh sekelompok kaum muslimin yang mencapai 100 orang, lalu semuanya memberi syafa’at (mendoakan kebaikan untuknya), maka syafa’at (do’a mereka) akan diperkenankan.” (HR. Muslim).

Dari Malik bin Hubairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيُصَلِّى عَلَيْهِ ثَلاَثَةُ صُفُوفٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ إِلاَّ أَوْجَبَ

“Tidaklah seorang muslim mati lalu dishalatkan oleh tiga shaf kaum muslimin melainkan do’a mereka akan dikabulkan.” (HR. Tirmidzi no. 1028 dan Abu Daud no. 3166. Imam Nawawi menyatakan dalam Al Majmu’ 5/212 bahwa hadits ini hasan).

Jenazah yang berbaring di hadapan seluruh jamaah bahkan termasuk imam, adalah pemberi nasehat terbaik bagi manusia yang masih hidup, lisannya paling fasih, bahasa tubuhnya paling mengena, dan pelajaran yang akan diterima benar – benar sangat membekas dalam hati, mengenai hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Cukuplah kematian yang menjadi penasehat”. (Alhadits).

Nasehat dari jenazah itu begitu kuat, kata – katanya sangat kuat dan melembutkan hati, dalam satu riwayat dari Shafiyyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan, ada seseorang yang datang kepada Aisyah radhiyallahu anha berkata: Wahai ibu sesungguhnya hatiku terasa sangat keras, sulit tersentuh dengan ayat – ayat Al Quran dan nasehat, Aisyah berkata: Hendaklah engkau mengingat mati, karena mengingat mati akan melembutkan hati.

Menghadiri jenazah, menshalatkan dan mengantar jenazah ke kuburan merupakan amal shaleh yang pahalanya sangat besar.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّىَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ  . قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ  مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai ia menyolatkannya, maka baginya satu qiroth. Lalu barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga dimakamkan, maka baginya dua qirath.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qirath?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Dua qirath itu semisal dua gunung yang besar.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

« مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ ». قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ « أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ ».

“Barangsiapa shalat jenazah dan tidak ikut mengiringi jenazahnya, maka baginya (pahala) satu qirath. Jika ia sampai mengikuti jenazahnya, maka baginya (pahala) dua qirath.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qirath?” “Ukuran paling kecil dari dua qirath adalah semisal gunung Uhud”, jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim).

Dalam Riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu anhu saat mendengar hadits tentang pahala orang yang menghadiri shalat dan mengantarkan jenazah ke kuburan sangat besar maka ia sangat menyesal, karena seringkali kesempatan ibadah ini terlewatkan, kala itu ia memegang benerapa kerikil di tangannya, ia membanting kerikil – kerikil itu sebagai bentuk kekesalannya seraya berkata: berapa banyak Qirath yang sudah kita baikan?!

Mudah – mudahan Allah merahmati seluruh jenazah kaum muslimin dan mengampuni kesalahan – kesalahan mereka, serta menempatkan mereka di taman – taman surga.

Peristiwa di Subuh Hari

Sayup-sayup indahnya suara ayam berkokok mulai terdengar bersahut -sahutan mengusir sepinya malam menyambut datangnya fajar, fajar datang ditandai dengan azan subuh yang menggema menggulung tabir kesunyian malam, tanda – tanda kehidupan mulai nampak, satu – persatu manusia pilihan Tuhan semesta alam (Rabbul Alamin) mulai menggeser palang pintu rumahnya keluar menelusuri jalan mengusik kerikil – kerikil yang sedang asyik bertasbih menuju asal suara indah yang terdengar jelas dari corong penghantar suara masjid.

Sungguh Allah azza wajalla sangat memuliakan mereka, hayunan langkah demi langkah menuju masjid mengangkat derajat dan menggugurkan karatan kesalahan yang telah memenuhi catatan amal manusia, Tanah yang diinjak manusia saat mereka berjalan menuju masjid akan menjadi saksi yang akan membela mereka pada hari kiamat nanti.

Bani Salimah yang perkampungan mereka berada agak jauh dari Masjid Nabawi membuat mereka sering terlambat menghadiri panggilan Allah setiap kali waktu shalat, mereka mulai berencana untuk membuat lapak baru sebagai tempat hunian mereka di wilayah yang tidak begitu jauh dari Masjid Nabawi, desas – desus ingin eksodus sudah mulai tercium di tengah masyarakat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin melakukan konfirmasi kepada Bani Salimah perihal itu, saat informasi itu sudah terkonfirmasi maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasehat kepada mereka

يَا بَنِي سَلِمَةَ دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ
“Wahai bani salimah, hendaklah kalian tinggal di kampung kalian, sesungguhnya perjalananmu menuju masjid dinilai pahala oleh Allah”. (HR Muslim).

Namun apa kabar mereka yang masih terlelap dalam samudera lautan mimpi dan hangatnya belaian lebut selimut, semakin menjelang waktu subuh kelihatannya tidur semakin menjadi – jadi nikmatnya, perangkap empuknya tempat tidur dan lembutnya selimut seakan menyandera mereka dari shalat subuh berjamaah, suara azan seakan tidak terdengar, barangkali inilah yang disebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang telinganya dikencingi setan.

Dari Ibnu Mas’ud ia pernah berkata, “Di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan tentang seorang laki-laki yang tidur semalaman sampai datang waktu pagi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِى أُذُنَيْهِ – أَوْ قَالَ – فِى أُذُنِهِ
“Laki-laki itu telah dikencingi oleh setan pada kedua telinganya -dalam riwayat lain: di telinganya-” (Muttafaqun ‘alaih).

Kejadian dikecingi setan seperti ini selalu terulang setiap pagi kala orang tidak sadarkan diri saat adzan berkumandang, ada pula kemungkinan banyak orang yang sudah berlangganan di setiap paginya.

Memang shalat subuh termasuk shalat yang harganya sangat mahal, karena harganya mahal banget maka sedikit orang yang bisa beli apa lagi berlangganan, bagaimana tidak mahal, pengantar Shalat Subuh (sunnah fajar) saja harganya lebih mahal dari pada dunia dan se-isinya, ibarat seorang masuk Restoran mewah, baru makanan pembuka, snak kecil saja harganya sangat mahal, apa lagi makanan intinya.

Shalat subuh berjamaah adalah salah satu penentu kualitas iman seseorang, orang yang menghadirinya dijamin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang tidak ada benih kemunafikan dalam hati mereka.

Semoga Allah menjaga kita dan keluarga, mudah – mudahan mereka menjadi orang – orang yang mendirikan shalat.

Tadzkirah….

Salah satu hikmah keutamaan penghafal Al Qur’an adalah karena kedekatannya dengan Al Qur’an. Kemuliaannya karena tingginya itensitas interaksinya dengan Al Qur’an. Keistimewaannya karena hati dan pikirannya yang selalu terpaut dg Al Qur’an, serta lisannya yang senantiasa basah dengan bacaan Al Qur’an.

Dalam Hadits Rasulullah saw disebutkan bahwa penghafal Al Qur’an layak di-iri karena aktifitasnya membaca Al Qur’an siang dan malam.

Hikmah dijadikannya hafalan Al Qur’an mudah lepas jika tidak dijaga adalah agar hati, pikiran, dan lisan senantiasa terpaut & disibukkan dengan Al Qur’an.

Maka amat sangat aneh kalau ada seseorang ingin menghafal Al Qur’an tapi malas mengulang2 bacaan. Sama anehnya juga dengan yg sudah hafal tapi malas memuraja’ah hafalannya.

Sering kita mendengar ada yang mengatakan :”menghafalnya sih cepet, tapi menjaganya itu lho yg susah.”
Atau mengatakan setelah dapat tips praktis menghafal :”bagus sih tipsnya, tapi ujung2nya sih ya harus diulang2 juga..” atau mengatakan “tapi kalau nggak diulang2 susah juga ya..” atau “tapi kalau g dimuraja’ah ternyata tetap hilang juga ya..” dan ucapan2 lain yg sejenis.

Apakah ia berharap hafal tanpa proses mengulang2 bacaan, atau berharap hafalan terjaga tanpa capek2 murajaah?!!

Jika demikian, maka kemuliaan seperti apa yang dicarinya dengan ingin menjadi penghafal Al Qur’an?!!. Sedangkan kemuliaan penghafal Al Qur’an karena kedekatan dan interaksinya yg tinggi dengan Al Qur’an!.

Patutlah kita senantiasa bertanya pada diri ; “Apa yang kita cari???

اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِالْقُرْآنِ وَاجْعَلْهُ لَنَا إِمَامًا وَنُوْرًا وَهُدًى وَرَحْمَةً
اللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نُسِّيْنَا وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا
وَارْزُقْنَا تِلاَوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي يُرْضِيكَ عَنَّا
وَاجْعَلْهُ لَنَا حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Ya Allah, kasihanilah kami dengan Al Qur’an, dan jadikan Al Qur’an bagi kami sebagai pemimpin, petunjuk, dan rahmat. Ya Allah, ingatkanlah kami apa yang kami lupa darinya(Al Qur’an ), dan ajarkan kami apa yang kami tidak tahu darinya, dan karuniakan pada kami untuk membacanya siang dan malam dengan cara yang membuatMu ridlo kepada kami. Dan jadikanlah Al Qur’an hujjah bagi kami wahai Robb semesta alam.

– Arham Ahmad Yasin –

Tadabbur Surat Yasin : 12

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ (12)

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS Yasin : 12).

Awal dari pada ayat ini menjelaskan tentang hari kebangkitan, hari dimana manusia semuanya dibangkitkan dari kuburan mereka, lalu mereka digiring dan dikumpulkan pada satu hamparan yang sangat luas yang kemudian sebut dengan mahsyar, di tempat ini manusia akan menyaksikan pengadilan akbar yang dihadiri oleh seluruh manusia dan jin, lintas abad, generasi dan negara, di sinilah manusia akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya selama ia hidup di dunia, baik dan buruknya, saat itu tidak ada satupun manusia yang terzhalimi, teraniaya atau terabaikan haknya, semua mendapatkan haknya masing – masing, baik atau pun buruk, ini merupakan awal pembukaan ayat untuk masuk dalam lubuk hikmah dan iman untuk menyelami keindahan samudera qurani.

Di antara mutiara yang terkandung dalam surat Yasin adalah bahwasanya Allah swt akan menulis amal perbuatan manusia di dunia baik dan buruknya serta dampak daripada perbuatan mereka itu sendiri setelah manusia meninggal dunia.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu ia berkata: bahwasanya ayat ini turun berkenaan dengan keluarga Bani Salimah yang ingin pindah dan tinggal di dekat Masjid Nabawi, karena mereka menganggap posisi perkampungan mereka agak jauh dari masjid, mereka melihat ada tempat yang mereka gunakan dekat masjid yang bisa gunakan sebagai tempat tinggal, mendengar desas desus Bani Salimah ingin pindah maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kepada salah seorang tokoh mereka, apa benar kalian ingin pindah dekat dengan masjid? Mereka menjawab, benar wahai Rasul Allah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada mereka: “wahai Bani Salimah hendaklah kalian tetap tinggal di perkampungan kalian, tidak perlu pindah dekat dengan masjid, karena perjalanan dan bekas telapak kaki kalian menuju masjid akan dicatat sebagai amal shaleh di sisi Allah subhanahuata’ala”. Setelah mendengar sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tersebut mereka membatalkan niat mereka untuk pindah dari perkampungan mereka.

Mengenai perbuatan dan bekas yang ditinggalkan manusia semasa hidup mereka di dunia para ulama memberikan banyak uraian, minimal ada dua bekas yang ditinggalkan oleh manusia, antara lain:
>>Amalan manusia secara langsung, seperti ibadah shalat, berjalan menuju masjid, puasa, zakat, haji, umrah, membantu anak yatim dll. Ini tercatat rapi disisi Allah swt.
>>Dampak dari amalan manusia (tidak langsung) seperti membangun sekolah tempat manusia belajar, membangun ibadah seperti masjid, mushalla, surau, langgar, dll. Atau berupa ilmu yang mereka wariskan dan ajarkan kepada manusia. Meskipun manusianya sudah meninggal, namun hasil pekerjaan dan usaha mereka tetap berjalan meski mereka sudah tiada, royalty tetap mereka peroleh sebagai tambahan bekal hidup di akhirat.

Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah telah bersabda, “Tiada sesuatu yang lebih disukai Allah melainkan dua tetes dan dua bekas; Tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah dalam mempertahankan agama Allah. Adapun dua bekas adalah bekas perjuangan fi sabilillah dan bekas yang timbul karena memperjuangkan hal-hal yang diwajibkan Allah. (HR. Turmidzi).

Begitu juga dengan teladan yang baik dari kita yang ditiru oleh banyak orang, akan membuahkan hasil pula.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barangsiapa yang mencontohkan suatu amalan kebaikan di dalam islam ini lalu diikuti oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran serupa dengan ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu keburukan lalu diikuti oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa serupa dengan dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim).

Dengan demikian mari kita lakukan perbuatan baik terutama yang dapat memberikan bekas atau dampak positif kepada orang lain sehingga kita akan mendapatkan pahala yang lebih sebagai bekal di hari akhirat, dan hindari perbuatan buruk apalagi kalau perbuatan buruk itu ditiru oleh orang lain, sehingga keburukan itu akan menjadi tanggungjawab kita pula.

Istiqamah Dalam Kebaikan Dan Taqwa

 

وَأَنْفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ

Bersedekahlan di jalan Allah dan janganlah kamu mencampakkan dirimu dalam kehancuran (QS Al Baqarah: 195).

Diriwayatkan bahwa ada seorang laki – laki dari kalangan Anshar yang diangkat oleh teman – temannya lalu dilemparkan ia ditengah – tengah kumpulan tentara Romawi, lalu orang – orang berteriak “maa syaa Allah ia telah mencampakkan dirinya dalam kehancuran”.

Abu Ayyub Al Anshari radhiyallahu anhu berkata: Kalian telah manafsirkan ayat ini bukan pada tempat (makna) yang sebenarnya, Sesungguhnya ayat ini turun berkenaan tentang kami kaum Anshar, memberikan peringatan kepada kami, pada saat kami telah dimuliakan Allah dengan islam dan kemenangan dan pengikut yang banyak, kami berkata: bagaimana kalau kita urus harta benda kita yang telah lama tidak sempat kita urus, lalu Allah turunkan ayat ini:

وَأَنْفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ

Bersedekahlan di jalan Allah dan janganlah kamu mencampakkan dirimu dalam kehancuran (QS Al Baqarah:195).

Maka yang dimaksud “kehancuran atau kebinasaan” adalah menyibukkan diri mengurus harta benda dan meninggalkan Jihad fie sabilillah, setelah ayat ini turun Abu Ayyub tetap terus berjihad hingga ia menemui kesyahidan di negeri romawi kala itu dan dikuburkan pula di sana.

Barangkali ayat ini juga menyindir para Dai, Ust, Ustadzah, Muballigh, Pengurus kegiatan dakwah dan sosial yang meninggalkan kegiatan Dakwah dan sosialnya lalu menyibukkan diri dengan perniagaan dan mencari dunia sebanyak banyaknya, serta enggan lagi untuk kembali terlibat dalam dakwan dan sosial…

Lihat tafsir Ibnu Katsir

Ayat Yang Paling Terakhir Turun

 {وَٱتَّقُواْ يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ}، البقرة : ٢٨١.

Dan berhati – hatilah dengan suatu hari kalian akan dikembalikan kepada Allah, lalu setiap jiwa akan diberi balasan atas apa yang mereka kerjakan, sedangkan mereka tidak dianiaya (dizhalimi). ( QS Al Baqarah : 281).

Ibu Abbas berkata: Ayat ini adalah ayat yang paling terakhir turun, dengan wafatnya Rasulullah saw hanya berselang 9 malam saja, ayat ini turun di malam sabtu kemudian Rasulullah saw wafat pada malam senin, Rabiul Awwal tahun 11 Hijriyah.

Posisi ayat ini pula terletak diakhir ayat yang menceritakan tentang riba, sebelum ayat riba Allah swt menceritakan tentang sedekah, setelah ayat 281 Allah menyebutkan ayat yang menetapkan soal hutang piutang.
Bila dilihat secara sekilas, ayat – ayat ini mencerikan masalah kezhaliman yang dilakukan manusia dengan hartanya, diantaranya, manusia yang enggan membayar zakat, atau enggan bersedekah, jahatnya Riba dan jahatnya orang yang menunda atau enggan membayar hutang.

Yang pada semua ayat ini menyebutkan kata – kata “وَاتَّقُوْا” yaitu ” berhati – hatilah”, hal ini dapat kita lihat pada ayat, yang bercerita soal Riba QS Albaqarah: 278, Pada akhir ayat yang menceritakan tentang Hutang piutang, QS Albaqarah: 282.

Sebagaimana kita ketahui kata “واتقوا” yang bermaksud “berhati – hatilah” dalam makna yang lain berarti jangan sampai engkau melakukan itu, dan jagalah dirimu dari perbuatan itu dan berhati – hatilah dengan ancaman keras di akhirat bila engkau melakukan perbuatan buruk tersebut.

Soal Riba Allah memberi ancaman yang sangat keras, diantaranya firman Allah:

{الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسّ } (البقرة: 275).

Sesungguhnya orang yang makan Riba mereka tidak akan bangun dari kubur kecuali seperti orang yang kesurupan (QS Albaqarah: 275).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَرْبَعَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ أَنْ لا يُدْخِلَهُمُ الْجَنَّةَ وَلا يُذِيقَهُمْ نَعِيمَهَا : مُدْمِنُ الْخَمْرِ ، وَآكِلُ الرِّبَا ، وَآكِلُ مَالِ الْيَتِيمِ بِغَيْرِ حَقٍّ ، وَالْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ ” هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الإِسْنَادِ , وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Ada 4 macam manusia yang pasti tidak akan dimasukkan ke dalam syurga, dan mereka tidak akan merasakan kenikmatannya, Pecandu Minuman keras, Pemakan Riba, orang yang makan harta anak Yatim dengan alasan yang tidak dibenarkan secara syar’i dan prang yang durhaka pada orang tuanya, kecuali apabila mereka bertaubat (HR Thabrany dengan sanad yang shahih), lihat pula kitab Al Kabair, oleh Imam Adz Dzahaby, no 140. beliau berkata Hadits ini Shahih.

Soal Hutang Rasulullah saw menyebutkan :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ ». رواه مسلم

Artinya: “Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Diampuni untuk seorang syahid seluruh dosa kecuali hutang.” (HR. Muslim)

Tentang Mereka Yang Enggan Membayar Zakat Rasulullah saw bersabda:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ، مُثِّلَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيْبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, ثُمَّ يَأْخُذُ بِلَهْزَمَتَيْهِ -يَعْنِى شَدَقَيْهِ- ثُمَّ يَقُوْلُ: أَنَا كَنْزُكَ، أَنَا مَالُكَ, ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ اْلآيَةَ: وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ

Barangsiapa yang diberikan karunia harta oleh Allah dan ia tidak menunaikan zakat harta tersebut, maka pada hari Kiamat kelak hartanya tersebut akan diwujudkan dalam bentuk ular yang memiliki dua bisa kemudian dikalungkan di leher-nya, lalu ular itu menggigit dua tulang rahang bawahnya, sambil berkata, ‘Aku adalah harta simpananmu.’” Kemudian Rasulullah membaca ayat, “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya (HR Al Bukhari).

Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

اِتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Artinya: Janganlah kalian berbuat zhalim, karena sesungguhnya kezaliman adalah Kegelapan di hari Kiamat (HR Muslim).
Semoga Allah menyelamatkan kita dari berbagai kezhaliman di dunia ini agar Allah memberikan keselamatan kepada kita di hari kiamat.

Kenali Siapa Mahram Anda

Istilah yang benar adalah mahram bukan muhrim. Karena muhrim artinya orang yang melakukan ihram (niat ibadah) untuk Haji atau Umrah, Sedangkan mahram.istilah yang benar adalah mahram bukan muhrim. Karena muhrim artinya orang yang melakukan ihram (niat ibadah) untuk Haji atau Umrah, Sedangkan mahram.

Apabila ia adalah seorang Mahram bagi anda maka anda boleh bersalaman dengannya, duduk – duduk ngobrol, safar, menemani jalan-jalan, dll.

Ayat Al Quran yang menjelaskan perihal siapq saja mahram kita adalah firman Allah swt

وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آَبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا (22) حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (23) وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.” (QS. An Nisa’: 22-24).

Adapun wanita yang tidak boleh dinikahi (mahram) untuk selamanya ada 11 orang ditambah karena faktor persusuan. Tujuh (7) diantaranya, menjadi mahram karena hubungan nasab, dan empat (4) sisanya menjadi mahram karena hubungan pernikahan.
Pertama, (7) tujuh wanita yang tidak boleh dinikahi karena hubungan nasab (garis keturunan).

  1. Ibu, nenek, buyut perempuan dan seterusnya ke atas.
  2. Anak perempuan, cucu perempuan, dan seterusnya ke bawah.
  3. Saudara perempuan, baik saudari kandung, sebapak, atau seibu.
  4. Keponakan perempuan dari saudara perempuan dan keturunannya ke bawah.
  5. Keponakan perempuan dari saudara laki-laki dan keturunannya ke bawah.
  6. Bibi dari jalur bapak (‘ammaat).
  7. Bibi dari jalur ibu (Khalaat).

Kedua, empat (4) wanita yang tidak boleh dinikahi karena hubungan pernikahan:

  1. Ibu istri (ibu mertua), nenek istri dan seterusnya ke atas, meskipun hanya dengan akad
  2. Anak perempuan istri (anak tiri), jika si lelaki telah melakukan hubungan dengan ibunya
  3. Istri bapak (ibu tiri), istri kakek (nenek tiri), dan seterusnya ke atas
  4. Istri anak (menantu perempuan), istri cucu, dan seterusnya kebawah.

Demikian pula karena sebab persusuan, bisa menjadikan mahram sebagaimana nasab. (Taisirul ‘Alam, Syarh Umdatul Ahkam, hal. 569)

Catatan:

Pertama, saudara ipar apakah mahram (muhrim):Saudara ipar bukan termasuk mahram. bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan agar berhati-hati dalam melakukan pergaunlan bersama ipar. Dalilnya: Ada seorang sahabat yang bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana hukum kakak ipar?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saudara ipar adalah kematian.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maksud hadits: Interaksi dengan kakak ipar bisa menjadi sebab timbulnya maksiat dan kehancuran. Karena orang bermudah-mudah untuk bebas bergaul dengan iparnya, tanpa ada pengingkaran dari orang lain. Sehingga interaksinya lebih membahayakan daripada berinteraksi dengan orang lain yang tidak memiliki hubungan keluarga. Kondisi semacam ini akan memudahkan mereka untuk terjerumus ke dalam zina.

Kedua, Sepupu bukan mahramKarena itu, dalam islam kita dibolehkan menikahi sepupu.
Terkait masalah ini, saudara sepupu bukanlah mahram. Karena Allah menghalalkan untuk menikahi saudara sepupu. Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالاتِكَ“

Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu.” (QS. Al-Ahzab: 50)

Ketiga, istri paman atau suami bibi, bukan mahram. Mahram Muaqqat (Semenatara/ tidak permanen)
Artinya, mahrom (dilarang dinikahi) yang sifatnya sementara. Wanita yang tidak boleh dinikahi sementara waktu ada delapan.
Pertama: Saudara perempuan dari istri (ipar).

Tidak boleh bagi seorang pria untuk menikahi saudara perempuan dari istrinya dalam satu waktu berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun jika istrinya meninggal dunia atau ditalak oleh si suami, maka setelah itu ia boleh menikahi saudara perempuan dari istrinya tadi.

Keempat: Bibi (dari jalur ayah atau ibu) dari istri.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ عَلَى عَمَّتِهَا وَلاَ عَلَى خَالَتِهَا“Tidak boleh seorang wanita dimadu dengan bibi (dari ayah atau ibu) -nya.” (HR. Muslim no. 1408). Namun jika istri telah dicerai atau meninggal dunia, maka laki-laki tersebut boleh menikahi bibinya.

Kelima: Istri yang telah bersuami dan istri orang kafir jika ia masuk Islam.Allah Ta’ala berfirman,
وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ“

Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu.” (QS. An Nisa’: 24).

Jika seorang wanita masuk Islam dan suaminya masih kafir (ahli kitab atau agama lainnya), maka keislaman wanita tersebut membuat ia langsung terpisah dengan suaminya yang kafir. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ وَآَتُوهُمْ مَا أَنْفَقُوا وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا آَتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya.” (QS. Al Mumtahanah: 10).

Keenam: Wanita yang telah ditalak tiga, maka ia tidak boleh dinikahi oleh suaminya yang dulu sampai ia menjadi istri dari laki-laki lain.
Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ

“Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.” (QS. Al Baqarah: 230).

Ketujuh: Wanita musyrik sampai ia masuk Islam.
Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (QS. Al Baqarah: 221).

Kemegahan Surat Al Baqarah

Surat Al Baqarah turun di Madinah, kisah penyembelihan sapi yang terjadi pada zaman Nabi Musa Alaihissalam dijadikan sebagai nama surat ini, sudah umum dikalangan para sahabat Nabi bahwa sahabat yang dapat menghafal Surat Al Baqarah bukanlah orang biasa, namun ia dianggap seorang yang memiliki kedudukan istimewa dan bahkan layak diangkat sebagai pemimpin atau amir safar, ketua rombongan, dll. Dalam satu kesempatan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutkan amatlah rugi bagi orang yang tidak membacanya.

Ditambah dalam surat ini ada ayat yang paling agung dan paling mulia ditinjau dari seluruh ayat Al Quran yang ada yaitu ayat kursi, begitu juga dengan dua ayat terakhir dari surat ini.

Sebagaimana yang ada pada pertanyaan yang diajukan oleh Rasulullah kepada Ubay bin Ka’ab, “Ayat mana yang paling agung dalam kitabullah?” Ubay menjawab, “Ayat kursi.” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menepuk dada Ubay kemudian berkata, “Wahai Abu Mundzir, semoga engkau berbahagia dengan ilmu yang engkau miliki.” (Muslim).

Disebutkan dalam hadits dari Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ بِالآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِى لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

“Siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada malam hari, maka ia akan diberi kecukupan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Nawawi sendiri menyatakan bahwa maksud dari memberi kecukupan padanya –menurut sebagian ulama- adalah ia sudah dicukupkan dari shalat malam. Maksudnya, itu sudah pengganti shalat malam. Ada juga ulama yang menyampaikan makna bahwa ia dijauhkan dari gangguan setan atau dijauhkan dari segala macam penyakit. Semua makna tersebut kata Imam Nawawi bisa memaknai maksud hadits. Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 83-84.

Khalid bin Ma’dan (wafat 103 H) berkata: Surat Al Baqarah adalah payungnya Al Quran, karena keagungan dan kemegahannya, banyak hukum – hukum dan nasehat – nasehat yang terkandung di dalamnya.

Umar bin Al Khathab radhiyallahu anhu mempelajari surat ini selama 12 tahun lengkap dengan seluruh isi kandungannya, putranya Abdullah mempelajari surat ini selama 8 tahun lamanya.

Ibnu Al Araby (wafat 543 H) berkata: Aku mendengar guru – guruku berkata: pada surat Al Baqarah ada 1000 perintah, 1000 larangan, 1000 hikmah dan 1000 (khabar) informasi.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus beberapa orang utusan ke suatu wilayah, lalu beliau menunjuk seseorang yang paling muda di antara mereka sebagai Amir (pimpinan) karena ia memiliki hafalan surat Al Baqarah (HR Tirmidzi). Tirmidzi berkata: hadits ini shahih.

Dari Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu anhu ia berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: bacalah surat Al Baqarah sesungguhnya ia penuh berkah, meninggalkannya adalah kerugian, setan dan tukang sihir tidak mampu mengganggumu (HR Muslim).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Janganlah engkau jadikan rumahmu seperti kuburan sesungguhnya syaitan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al Baqarah (HR Muslim).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، مرفوعا وموقوفا ، ولفظه : ( إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ سَنَامًا وَسَنَامُ الْقُرْآنِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ تُقْرَأُ خَرَجَ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي يُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ ) . وحسنه الألباني في ” الصحيحة ” (588) .

Dari Ibnu Masud Radhiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya segala sesuatu memiliki puncak, puncaknya Al Quran adalah surat Al Baqarah, sesungguhnya syaithan saat mendengar surat Al Baqarah dibacakan maka ia akan keluar dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al Baqarah (HR Al Hakim) dihasankan AlBany dalam Ashahihah no 588.

Ibnu Abdil barr menyebutkan kisah Lubaid bin Rabiah dalam kitabnya Al Istiab, Lubaid adalah seorang yang terkenal sebagai ahli syair sejak zaman jahiliyah, ia mengenal islam lalu ia memeluk islam dan mengamalkan ajarannya dengan sempurna, saat Umar bin Al Khathab menjadi khalifah ia diminta oleh Umar untuk melantunkan dan memperlihatkan kebolehannya dalam bersyair, Ia pun meyanggupinya, Lubaid kemudian membaca Surat Al Baqarah, lalu Umar berkata: Aku ingin mendengar syair – syair mu, bukan surat Al Quran, Lubaid berkata: aku tidak pernah lagi bersyair saat Allah telah mengajarkan aku surat Al Baqarah dan Ali Imran, Umar pun sangat kagum dengan dirinya lalu ia memberikan hadiah 2500 dirham kepada Lubaid.

Sejak ia masuk islam ia tidak pernah melantunkan syair – syairnya lagi kecuali satu bait saja.

Alhamdulillah sebelum ajal menjemputku
Aku telah dikaruniakan pakaian islam nan indah

Sudah menjadi maklum bahwa seluruh penyair dan para penikmatnya mereka sangat terpana dengan keindahan bait – bait syair, namun hal itu semuanya sirna pada saat mereka mendengarkan lantunan dan keindahan Al Quran.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya setan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim no. 780).

Abu Umamah Al-Bahili radhiallahu anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ

“Bacalah Al Qur`an, karena ia akan datang memberi syafa’at kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti. Bacalah Az-Zahrawain, yakni Al-Baqarah dan surah Ali Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat nanti, seperti dua tumpuk awan menaungi pembacanya, atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang dalam formasi hendak membela pembacanya. Bacalah surah Al-Baqarah, karena membacanya adalah berkah dan tidak membacanya adalah kerugian Dan para penyihir tidak akan dapat menyakitimu.” (HR. Muslim).

Dari Abu Mas’ud Al-Anshari radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ هَاتَيْنِ الْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

“Barangsiapa yang membaca dua ayat ini, yakni akhir surat Al-Baqarah di suatu malam, maka keduanya telah mencukupinya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dari An-Nawwas bin Sam’an radhiallahu anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يُؤْتَى يَوْمَ الْقِيامَةِ بِالْقُرْآنِ وَأَهْلِهِ الَّذِيْنَ كانُوا يَعْمَلُوْنَ بِهِ فِي الدُّنْيا تَقَدَّمَهُ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ وَآلِ عِمْرانَ تَحاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا

“Pada hari kiamat akan didatangkan Al-Qur`an bersama mereka yang mengamalkannya di dunia. Yang terdepan adalah surah Al-Baqarah dan Ali Imran, keduanya akan membela mereka yang mengamalkannya.” (HR. Muslim no. 805).

عن أُسيدِ بن حضيرٍ رضي الله عنه أنه قال : يا رسول الله ، بينما أنا أقرأُ الليلةَ سورة البقرةِ إذ سمعتُ وجبةً من خلفي ـ يعني سمعت صوتاً عالياً ـ فظننت أن فرسي انطَلَقَ ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( اقرأ أبا عتيكٍ ) يقول أسيد : فالتَفَتُّ ، فإذا مِثلُ المصباحِ مُدَلَّى بينَ السماء والأرضِ ، ورسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( اقرأ أبا عتيك ) ، فقال : يا رسول الله ، فما استطعت أن أمضيَ ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ( تلك الملائكة تَنزَّلت لقراءة سورة البقرة ، أما أنك لو مضيت لرأيت العجائب ).

Dari Usaid bin Hudhair radhiyallahu anhu berkata: wahai Rasulullah tadi malam saat aku membaca surat Al Baqarah aku mendengar suara yang keras dari belakangku, aku mengira bahwa kuda tungganganku terlepas dari ikatannya, lalu Rasulullah bersabda : bacalah wahai Abu Atiek, Usaid berkata: lalu aku melihat kebelakang tiba – tiba aku kelihat ada lampu yang bergantungan di antara langit dan bumi, Rasulullah bersabda: bacalah wahai Abu Atiek, Usaid berkata: wahai Rasulullah aku tidak bisa bangun, Rasulullah saw bersabda: seandainya engkau bisa bangun pasti engkau akan melihat banyak keajaiban. (HR Ibnu Hibban, Thabrany, Al Hakim dan Al Baihaqy).

Pada saat sebagian sahabat mengalami kesulitan pada perang Hunain, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berteriak “Wahai para penghafal Surat Al Baqarah, wahai penghafal surat Al Baqarah….” pada saat para sahabat mendengar seruan Nabi mereka berkumpul di sekitar Nabi, kemudian Allah memberikan kemenangan kepada mereka….

Disebutkan pula oleh Imam Ibnu Abi Syaibah bahwasanya syiar (selogan) para sahabat dalam perang dengan pengikut Musailama Al Kadzab juga “wahai penghafal surat Al Baqarah”.

Kisah nyata

Dikisahkan oleh seorang ulama bahwasanya ada seorang laki – laki dengan kondisi semangat berislam tidak terlalu baik, biasa saja, ingin melamar seorang wanita yang terkenal dengan kecantikan, keshalihan dan kekayaannya.

Saat sang laki – laki tiba di rumah sang wanita, ia kemukakan maksud dan tujuannya, setelah itu ia ingin melihat wanita yang dilamarnya, saat sang wanita keluar bertemu dengan sang laki – laki, wanita ini benar – benar membuat sang lekaki menjadi gugup, tak mampu berucap terpana dengan kecantikan sang wanita, namun sang wanita rupanya tidak tertarik dengan laki – laki itu, pertimbangannya adalah masalah komitmen sang laki – laki yang tidak terlalu baik dengan islam, menurut penilaian sang wanita sang pelamar semangat agamanya masih belum baik, belum sesuai dengan harapannya.

Mendengar bahwa lamarannya belum diterima, alias ditolak, maka ia mulai gelisah, harap – harap cemas, jangan sampai wanita itu jatuh dalam pelukan lelaki lain, ia mencari akal bagaimana caranya agar ia dapat menikahi wanita pujaannya itu, ia diskusi dengan teman – temannya untuk mencari solusi permasalahannya, salah seorang temannya memberi solusi ampuh cepat dan mujarab, yaitu datang ke dukun yang ia kenal, dan selama ini diyakini telah banyak hajat yang terpenuhi lewat perantaraan sang dukun.

Tanpa pikir panjang, hatinya girang berbunga – bunga ingin segera dapatkan wanita pujaan hatinya, sesampainya di rumah dukun, tanpa basa basi ia ceritakan hasrat dan citanya, namun apa nyana sang dukun mengatakan, saya belum mampu melakukan itu, tapi saya punya teman yang derajat dan kesaktiannya lebih hebat dari pada saya, saya yakin dia mampu melakukannya untukmu, sang pemuda ambil alamat dan no telephon sang dukun yang lebih sakti, ia cukup senang meskipun belum dapat tujuan yang ia harapkan.

Ia lanjutkan pertualangan menyusuri gunung dan hamparan gurun pasir sahara yang luas mencari dukun pujaan, beberapa gunung dan kampung telah ia lewati hingga tiba di alamat yang ia cari, setibanya di tempat sang dukun, kembali ia ceritakan maksud dan tujuannya ingin menikahi sang wanita pujaan hati, namun wanita itu tidak menyukainya, tolong beri ajian, mantra, dan amalan agar si dia mau menjadi istrinya, namun sang dukun katakan kalau dirinya belum mampu mewujudkan keinginannya, ia tak punya kuasa lakukan itu, namun saya punya guru yang lebih sakti, ia yang ajarkan ilmu perdukunan dan sihir kepada kami, saya yakin beliau mampu wujudkan keinginanmu, begitu pesan dukun yang ke dua, sang dukun harapan pun memberikan alamat gurunya dukun tertinggi dan terjahat di tempat itu.

Tidak menunggu lama ia langsung cabut, tancap gas mengejar alamat yang sudah menjadi bekal yang ia peroleh dari murid sang dukun tertinggi, singkat cerita ia tiba di alamat itu dan bertemu pula dengan guru semua dukun, dukun segala dukun, yang dianggap sakti madra guna, ia tak sanggup menahan diri untuk menceritakan tujuan kehadirannya di hadapan sang dukun, langsung saja sang dukun mengutus setan pujaannya untuk melakukan survey lokasi, di mana wanita itu tinggal dan bagaimana kepribadiannya, biasanya setan ini yang bisa memprediksi berhasil tidaknya sebuah misi, setelah melakukan survey lokasi sesaat, setan pun kembali membawa laporan, bahwa fulanah atau wanita yang dimaksud memiliki benteng yang sangat buat, setiap malamnya ia membaca surat Al Baqarah, meteor seakan siap memburu setan dan tukang sihir yang berani menyakitinya, berbekal laporan itu, dukun segala dukun pun tak kuasa mewujudkan kehendak sang pemuda, ia kembali dari dari rumah dukun dengan kepala tertunduk, sedih, kecewa menghiasi hatinya di hari itu….

Benteng Al Baqarah sangat kuat, mari kita baca, tadabburi, amalkan dan pelajari perintah dan larangannya, selami hikmah dan khabar beritanya, sebagai bekal hidup kita di dunia sebelum akhirat.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id

    × Ahlan, Selamat Datang!