Hadiah Istimewa Itu Bernama Ramadhan

Dosa, kesalahan, kekhilafan serta kealpaan adalah salah satu sebab yang merusak kebahagiaan manusia, membuat manusia hidup susah, dada terasa sumpek, hidup jauh dari kebahagiaan,
sudah barang tentu bahwasanya dosa yang diperbuat oleh manusia akan menggerus kebahagian yang selama ini mendiami hati manusia, hati yang bersih dan dada yang lapang serta kebahagiaan yang sempurna hanya bisa di dapat dalam ibadah dan ketaqwaan.

Bulan Ramadhan bulan mulia, di dalamnya disyariatkan Puasa dan ibadah sunnah lainnya agar manusia lebih dekat dengan dzat yang telah menciptakan dirinya untuk meraih kebahagiaan dunia sebelum akhirat, ini adalah satu bentuk kasih sayang dari Allah untuk hambaNya, ia memberikan solusi bagi mereka yang khilaf dan tenggelam dalam keburukan agar segera balik arah menuju ridha Allah, serta kasih sayang Allah pula bagi hambaNya yang shaleh untuk memperbanyak kebaikan dan tabungan amal akhiratnya.

Salah satu bentuk keistimewaan pula dari Ramadhan adalah Allah ta’ala mengurangi faktor – faktor yang biasanya selalu menghambat manusia dari ketaatan kepadaNya, yaitu setan, setan dikurung, diikat agar tidak mengganggu manusia yang sedang beribadah, sungguh besar kasih dan sayang Allah kepada manusia di bulan Ramadhan, Amalnya dilipat gandakan, gangguannya dihilangkan, dan diberi bonus Lailatul Qadar yang setara dengan kerja ibadah manusia 83 tahun, tabaarakallahu rabbul alamin.

Diantara keistimewaan Ramadhan sesuai dengan hadits – hadits Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam adalah sebagai berikut:

1/ Keberuntungan bagi orang yang berpuasa

عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ ، أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ ثَائِرُ الرَّأْسِ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنَ الصَّلاةِ ؟ قَالَ : ” الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ إِلا أَنْ تَطَوَّعَ شَيْئًا ” ، فَقَالَ : أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنَ الصِّيَامِ ؟ قَالَ : ” صِيَامُ رَمَضَانَ إِلا أَنْ تَطَوَّعَ شَيْئًا ” ، قَالَ : أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنَ الزَّكَاةِ ؟ قَالَ : فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَرَائِعِ الإِسْلامِ ، قَالَ : وَالَّذِي أَكْرَمَكَ لا أَتَطَوَّعُ شَيْئًا ، وَلا أَنْتَقِصُ مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ شَيْئًا ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَفْلَحَ وَأَبِيهِ إِنْ صَدَقَ ” أَوْ ” دَخَلَ الْجَنَّةَ وَأَبِيهِ إِنْ صَدَقَ ” .

Dari Thalhah radhiyallahu anhu ia berkata: Ada seorang Arab badui yang rambutnya acak – acakan datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang shalat yang diwajibkan Allah kepadaku.” Beliau menjawab, “Shalat lima waktu kecuali jika kamu ingin menambah sholat yang lain sebagai tambahan.” Lalu dia berkata, “Beritahukanlah kepadaku puasa yang diwajibkan Allah kepadaku”. Beliau menjawab, ”Puasa di bulan Ramadhan, kecuali apabila kamu mau melakukan puasa lain sebagai tambahan.” Lalu dia berkata, “Beritahukanlah kepadaku zakat yang diwajibkan Allah kepadaku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberitahukan kepadanya syari’at-syari’at Islam. Lalu lelaki itu berkata, “Demi Tuhan yang memuliakanmu. Aku tidak akan menambah dan mengurangi apa yang Allah wajibkan kepadaku barang sedikit pun.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia pasti beruntung jika dia jujur.” atau “Dia pasti masuk surga jika dia jujur.”

2/ Pahala puasa diberikan Allah tanpa batas

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ: الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِلَّا الصَّوْمَ. فَإِنَّهُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ؛ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي. لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. ولَخَلُوف فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ ، وَالصَّوْمُ جُنَّة. وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سابَّه أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صائم” متفق عليه.

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:  ‘Semua amalan manusia dilipatgandakan. Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kalinya sampai tujuh ratus kali lipat, Allah Azza wa Jalla berfirman,  kecuali puasa maka sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Saya akan membalasnya. Dia meninggalkan tuntutan syahwatnya, tidak makan dan dia tidak minum demi Aku. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan, kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya. Sungguh disisi Allâh, aroma mulut orang yang sedang berpuasa itu lebih wangi daripada aroma kasturi, Puasa itu adalah perisai. Saat salah diantara kalian sedang berpuasa, janganlah ia berbuat keji dan jangan menyalakan api permusuhan. Jika dia dihina atau diperangi oleh orang lain, hendaknya dia mengatakan, ‘Aku sedang berpuasa. (Muttafaqun alaih).

3/ Kekhilafan sehari – hari terhapus dengan puasa

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : ” فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ ، يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ ، وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ ” .

Dari Hudzaifah radhiyallahu anhu ia berkata: aku mendengar Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: Fitnah (ujian dan kesalahan) seseorang dari keluarganya, hartanya, anaknya, dirinya dan tetangganya ditebus dengan puasa, shalat, sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar. [Muttafaqun’alaih].

4/ Pintu surga Arrayyan khusus hanya untuk yang berpuasa

Sahal radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ (رواه البخاري، رقم  1763 ،  ومسلم، رقم 1947)

“Sesungguhnya di surga ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa di hari kiamat masuk dari pintu itu. Tidak dibolehkan seorang pun memasukinya selain meraka. Lalu dikatakan, ‘Dimana orang-orang yang berpuasa?’ Mereka pun bangkit, tidak ada seorang pun yang masuk kecuali dari mereka. Ketika mereka telah masuk, (pintunya) ditutup dan tidak seorang pun masuk lagi.” (HR. Bukhari, 1763. Muslim, 1947)

5/ Bulan dimana setan diikat agar orang yang sedang beribadah bisa lebih nyaman

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ( إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ من شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فلم يُفْتَحْ منها بَابٌ ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فلم يُغْلَقْ منها بَابٌ …) الحديث ، رواه الترمذي (682) ، وابن ماجه (1642) ، وحسَّنه الألباني في ” صحيح الجامع ” (759).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika telah datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu” (Muttafaqun ‘alaihi).

6/ Malaikat Allah menyambut mereka yang berpuasa dengan mulia

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam juga bersabda :

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِرَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ. وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَ ذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Apabila datang awal malam dari bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin yang sangat jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup tidak ada satu pintupun yang terbuka, sedangkan pintu-pintu surga dibuka tidak ada satu pintupun yang ditutup. Dan seorang penyeru menyerukan: ‘Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah. Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.’ Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, yang demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 682 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya no. 1682, dihasankan Asy-Syaikh Albani rahimahullahu dalam Al-Misykat no. 1960).

7/ Dosa yang telah lalu akan dihapus oleh Allah ta’ala.

Dari Abu Hurairah, ia berkata,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

8/ Shalat taraweh juga menghapus kesalahan

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang shalat tarawih karena iman dan mengharap pahala, maka dia diampuni dosanya yang telah lewat” (muttafaq alaih).

Semoga Allah memberikan kesehatan dan taufiqNya kepda kita agar kita mampu memanfaatkan bulan Ramadhan untuk beramal shaleh dan mandapatkan ridha Allah ta’ala, aamiin ya rabbal alamin.

Menggeluti Perkerjaan dan Usaha untuk mencari ridha Allah ta’ala

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada manusia sebagai salah satu rahmat (kasih sayang) Allah kepada manusia, kehadirannya membawa risalah ilahy untuk mengatur kemaslahatan hidup manusia agar manusia hidup dalam kebaikan dan jauh dari kesulitan, baik dunia maupu akhirat, sehingga sahabat Abu Daz Al Ghifary berkata:

وقال أبو ذر رضي الله عنه: لقد توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم وما طائر يقلب جناحيه إلا ذكر لنا منه علماً
Tidak ada satu ilmu pun yang tidak diajarkan oleh Rasulullah kepada kami, bahkan burung yang terbang di langit pun Rasulullah telah mengajarkan ilmu tentangnya. (HR Ahmad).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ .

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. (HR Muslim).

Dari hadits ini nampak jelas perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ummatnya agar berusaha, berkerja untuk mendapatkan apa saja yang bermanfaat bagi kehidupannya, juga memberi isyarat lampu merah bagi orang – orang yang enggan bekerja, mengandalkan orang lain untuk memenuhi hajat hidup sehari – hari.

Meminta – minta dalam kaca mata syariat sangat lah buruk dan dibenci.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( إِنَّ الْمَسْأَلَةَ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلاَّ أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِى أَمْرٍ لاَ بُدَّ مِنْهُ.))

“Sesungguhnya meminta-minta adalah cakaran yang seseorang mencakar sendiri wajahnya, kecuali seseorang yang meminta kepada pemimpin atau pada urusan yang harus untuk meminta.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi).

(( مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ.))

“Senantiasa seseorang meminta-minta kepada manusia, sampai nanti di hari kiamat wajahnya tidak memiliki daging sedikit pun.” (HR Al Bukhari).

إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ ، وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يُعِفُّهَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ رِيَاءً وَمُفَاخَرَةً فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ.

Beliau bersabda, “Kalau dia keluar mencari nafkah buat anaknya yang masih kecil maka dia juga di jalan Allah, kalau dia bekerja mencukup kedua orang tua yang sudah renta maka dia juga di jalan Allah, kalau dia bekerja mencukupi kebutuhannya sendiri agar terjaga kehormatan maka dia juga di jalan Allah. Tapi kalau dia bekerja untuk riya` dan membanggakan diri maka dia di jalan setan.” (HR Thabrany).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا سَبِيلُ اللَّهِ إِلا مَنْ قُتِلَ ؟ مَنْ سَعَى عَلَى وَالِدَيْهِ فَفِي سَبِيلِ اللَّهِ، ومن سعى على عياله ففي سبيل الله، وَمَنْ سَعَى مكاثِرًا فَفِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ.

“Memangnya jihad di jalan Allah itu hanya yang terbunuh (dalam perang) saja? Siapa yang bekerja untuk menghidupi orang tuanya maka dia di jalan Allah, siapa yang berkerja menghidupi keluarganya maka dia di jalan Allah, tapi siapa yang bekerja untuk bermewah-mewahan (memperbanyak harta) maka dia di jalan thaghut (Setan)” (HR Al Bazzar).

Kedua hadits ini menjelaskan kepada kita bahwasanya mereka yang berkerja untuk membiayai hidupnya, keluarganya, orang tuanya mereka semua dianggap fi sabilillah (di jalan yang diridhai Allah), maka upaya manusia untuk memenuhi hajat kebutuhan keluarga dan dirinya adalah bagian dari ibadah yang diridhai Allah, dengan catatan ia mencari rizki tersebut dengan cara yang halal serta tidak mencari rizki dengan cara – cara yang dilarang terlebih dimurkai Allah ta’ala.

Kemudian Rasulullah juga menganjurkan agar berusaha maksimal untuk mencari kemaslahatan hidup manusia

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا»

“Bila kiamat hendak terjadi, dan di tangan salah seorang di antara kalian ada tunas kurma, sekiranya bisa menanamnya sebelum kiamat itu (benar-benar) terjadi, hendaknya ia melakukannya.” (HR Ahmad).

Seluruh perkerjaan harus dikerjakan manusia dengan kulitas yang terbaik.

عن أم المؤمنين عَائِشَةَ بنت الصديق رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وعن أبيها أنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah taala menyukai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu perkerjaan dengan sempurna.” (HR Muslim).

Berusaha dan berkerja dengan baik juga sempurna, menunaikan semua akad perjanjian dan perkerjaan dengan baik adalah ciri manusia yang dicintai oleh Allah ta’ala, semoga Allah menjadikan kita manusia yang bertanggungjawab dalam segala hal sehingga dapat meraih ridha Allah ta’ala.

Jangan Suka Nyinyir

1. Salah satu kata yang viral akhir-akhir ini adalah Nyinyir, dalam KBBI Nyiyir artinya mengulang-ulang perintah atau cerewet, kata lain yang sepadan adalah suka berkomentar dengan konotasi yang kita rasakan selama ini adalah negatif, cenderung merendahkan dan tidak menghargai.

2. Cukup menjadi Syahid akan ketidakbolehan nyinyir adalah Kalam Allah yang begitu agung dalam Surat Al-Hujurat ayat 11 sbagai berikut :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

3. Sesungguhnya kita telah diingatkan dalam perjalanan umat di kolong langit ini tentang sikap nyinyir yang dicontohkan oleh orang-orang munafiq yang hadir bersama Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa ketika ayat Shadaqah turun, para sahabat mengamalkannya, maka ada seseorang yang bersedekah dengan sesuatu yang banyak, orang-orang munafiq nyinyir dengan berkata :
مرائي
(Muroo-ii), artinya :
“Ah, palingan dia Riya“.

Ada juga yang bersedekah satu sha. (4 Mudd, 1 Mud adalah 3/4 Liter), artinya sahabat ini bersedekah dengan sesuatu yang sedikit, maka orang-orang munafiqpun tetap saja Nyinyir dgn berkata :

إن الله لغني عن صدقة هذا

Artinya :
“Sungguh Allah benar-benar kaya dan tidak butuh sedekah satu sha yang sedikit ini“

Maka turunlah Ayat Allah, Surat At-Taubah ayat 79 :

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya :
“Orang-orang munafik yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu dan untuk mereka adzab yang pedih.

Lihat Tafsir Ibn Katsir, Surat At-Taubah ayat 79

4. Sangat cocoklah kiranya kita juga merenungkan kata-kata bijak dari Imam Syafii dalam Diwannya yang menasehati kita agar melihat segala sesuatu secara objektif dan rela untuk mengapresiasinya walaupun hal itu berada pada kawan kita yang berpakaian berbeda dengan kita.

وعين الرضا عن كل عيب كليلة كما أنّ عين السخط تبدي المساويا

Artinya :
“Dan pandangan mata cinta akan menutupi segala keburukan, sebagaimana pandangan mata benci akan menampakan kebaikan menjadi keburukan”.

5. A negative mind will never give you a positive life.

Jangan Benci Saudaramu

Sudah menjadi lumrah dalam perjalanan bahtera kehidupan manusia saat mengarungi luasnya lautan kehidupan mendapatkan berbagai macam gelombang yang seringkali tidak sesuai harapan para pelayar, namun inilah realitas kehidupan yang harus diterima dengan lapang oleh setiap insan, ada senang, susah, benci, cinta, permusuhan, maaf, dendam, ikhlas, dll.

Hidup bersama masyarakat umum, berinteraksi, bersosialisasi dan bergaul dengan manusia tentu lebih baik daripada menyendiri, menyepi dan menghindari mereka dalam pergaulan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam,

عَنْ يَحْيَى بْنِ وَثَّابٍ عَنْ شَيْخٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا كَانَ مُخَالِطًا النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الْمُسْلِمِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ ».

“Yahya bin Watsab meriwayatkan dari seorang alim dari shahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang muslim, jika ia bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada seorang muslim yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar atas gangguan mereka.” HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 939.

Hadits ini secara gamblang memberikan gambarang kepada kita bahwasanya bergaul dengan masyarakat dan sabar terhadap gangguan yang barangkali akan ditemui saat berinteraksi dengan mereka jauh lebih baik daripada menyendiri, tidak bergaul dengan dengan mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam hidup dalam lingkungan masyarakat yang majemuk, dari sisi agama, bangsa, sosial dan budaya, namun dengan cantik beliau telah memperlihatkan akhlaq yang baik lagi mulia serta menjadi contoh bagi manusia hingga akhir masa, hingga Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam dicintai oleh Bilal bin Rabah asal Ethiopia, Hudzaifah dari Yaman, Suhaib dari Romawi, Salman dari Persia, dll.

Sudah menjadi rahasia internal manusia, bahwasanya manusia tidak dalam satu akhlaq, budi pekerti, sopan santun, tabiat, adat istiadat serta pemahaman agama, namun di sinilah barangkali ujian manusia dalam pergaulan bermula, akibat sikap dan tingkah laku orang lain yang tidak sesuai dengan yang ia harapkan terjadi pada dirinya maka terjadilah pertengkaran, keributan, dll.

Namun Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam telah pun memberikan arahan bila terjadi hal – hal seperti itu dalam kehidupan manusia dalam sabdanya:

Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin benci kepada seorang wanita mukminah (istrinya), jika ia membenci  sebuah sikap (akhlak) istrinya maka ia akan ridha dengan sikapnya (akhlaknya) yang lain” (HR Muslim).

Meskipun hadits ini berbicara tentang akhlaq dalam rumah tangga, namun cakupan dan hikmahnya tentu multi dimensi, tidak hanya dalam masalah keluarga namun berlaku dalam hubungan sesama manusia, hadits ini seperti rumus dalam bergaul, bila kita tidak menyukai seseorang karena satu sikap dan tingkah lakunya pasti kita akan menyukai sifat dan akhlaqnya yang lain.

Menjauhi, membelakangi, tidak bertegur sapa bukanlah pilihan sikap yang baik, tentu sangat jauh dari tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam, barangkali sikap demikian terjadi akibat salah faham, buruk sangka, dan lainnya, namun bermusuhan tentu dilarang Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ.

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, dan saling memusuhi. Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berjual beli sesuatu yang masih dalam penawaran muslim lainnya dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara tidak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun menghina. (HR Muslim).

Bersikap lapang dada, memberi maaf, membersihkan hati adalah tuntunan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam dalam pergaulan, karena sikap seperti ini memiliki keagungan yang tinggi, Radulullah saw bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ:صلى الله عليه وسلم أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: ” كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ “، قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ، قَالَ: ” هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ.

Dari sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu ’anhu ia berkata, suatu ketika ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Siapakah manusia yang paling mulia?” beliau menjawab, “Setiap Makhmumul Qalbi dan orang yang lisannya jujur,” para sahabat berkata, “Orang yang jujur lisannya kami telah mengerti, namun siapakah Makhmumul Qalbi itu wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Dia adalah seorang yang yang memiliki  hati yang bertakwa yang suci hatinya dari dendam, permusuhan, dan kedengkian. (HR Ibnu Majah).

Dan ternyata bagi manusia yang memiliki sifat lapang dada, pemaaf, tidak dendam serta menyimpan amarah adalah sifat para penghuni surga, Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda:

Diriwayatkan dari Anas bin Malik dia berkata, “Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau bersabda, ‘Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian seorang laki-laki dari Anshar lewat di hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.

Esok harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya.
Besok harinya lagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga!!’ Tidak berapa lama kemudian orang itu masuk sebagaimana kondisi sebelumnya; bekas air wudhu masih memenuhi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal .

Setelah itu Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Sementara Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti lelaki tersebut, lalu ia berkata kepada lelaki tersebut, ‘Aku sedang punya masalah dengan orang tuaku, aku berjanji tidak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengijinkan, maka aku akan menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu.’

Dia menjawab, ‘Silahkan!’
Anas berkata bahwa Amr bin Ash setelah menginap tiga hari tiga malam di rumah lelaki tersebut tidak pernah mendapatinya sedang qiyamul lail, hanya saja tiap kali terjaga dari tidurnya ia membaca dzikir dan takbir hingga menjelang subuh. Kemudian mengambil air wudhu.

Abdullah juga mengatakan, ‘Saya tidak mendengar ia berbicara, kecuali yang baik.’
Setelah menginap tiga malam, saat hampir saja Abdullah menganggap remeh amalnya, ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku tidak sedang bermasalah dengan orang tuaku, hanya saja aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga.’ Selesai beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau.
Terang saja saya ingin menginap di rumahmu ini, untuk mengetahui amalan apa yang engkau lakukan, sehingga aku dapat mengikuti amalanmu. Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar. Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah berkata demikian?’

Kemudian lelaki Anshar itu menjawab, ‘Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.’

Abdullah bin Amr berkata, ‘Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya’.” (Az-Zuhdu, Ibnul Mubarak, hal. 220).

Mari bersihkan hati dari penyakit dan kotorannya, lapangkan dada, maafkan dan berbaik sangka terhadap sesama saudara seiman kita, mudah – mudahan Allah memberikan kasih sayangNya dan memasukkan kita dalam surgaNya.

Keindahannya Tak pernah Dilihat Oleh Mata

Siang hari waktu dhuha kami berniat silaturahim ke rumah teman – teman masa nyantri dahulu, suasana sejuk dan menentramkan hati saat melihat tempat mereka bermukim.

Tempat tinggal terlihat sangat sederhana, hidup dilalui sekedarnya saja, akhirat tujuan utama dan cita – cita tertinggi sebagai destinasi kebahagiaan abadi, mengunjungi rumah orang shaleh membuat hati semakin bersyukur dan yakin akan kebahqgiaan abadi serta tidak tertipu dengan kebagiaan sementara.

Sementara itu, di seberang tempat itu berdiri rumah megah, mewah dan memukau setiap orang yang mencuri pandang ke arahnya bak pemuda belia yang masih nampak sempurna di berbagai aspek fisiknya.

Pemandangan rumah megah dengan berbagai keindahan desain interior dan exteriornya bukanlah hal baru, barangkali sebagian besar di antara kita sudah penah melihatnya atau bahkan memilikinya, hiasan bagian dalam dibuat sedemikian rupa, berikut dengan lampu penerang yang cantik memukau, bagian luarnya juga tak kalah memikat, selain tanaman bunga yang harum semerbak lagi indah juga air mancur dari balik celak – celah batu pula tidak ketinggalan, barangkali secara sepontan muncul dari benak kita sebuah pertnyaan penasaran “seperti inikah istana di Surga”?

Musim liburan akhir tahun seperti ini sebagian besar masyarakat ingin mengahabiskan waktu dengan keluarga, anak – anak, sahabat dan handai taulan, pilihan menuju ke tempat wisata nampaknya sudah disepakati secara aklamasi tanpa ada sedikit pun khilaf (beda pendapat), tujuannya untuk refreshing, mencari suasana baru, udara segar serta pemandangan yang indah, Bila dataran tinggi tentu yang tawarkan adalah Mountain View, bila sungai – sungai bening tentu River View katanya….

Sambil berbincang hangat dengan karib kerabat menikamati kopi kesayangan, makanan khas dan ber – selfi ria hati bertanya apakah indahnya surga seperti ini?!

Untuk menjawab pertanyaan ini
Rasulullah shallahualaihi wasallam bersabda, Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu,

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Allah ta’ala berfirman, ‘Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang belum pernah mata melihatnya, belum pernah telinga mendengarnya, dan belum pernah pula terbetik dalam kalbu manusia’.” (Hadits Qudsi ruwayat Al Bukhari).

Dalam hadits ini Rasulullah shallahualaihi wasallam menjelaskan bahwa surga yang disiapkan oleh Allah tidak bisa dibayangkan keindahannya dan hati dan akal manusia tidak mampu untuk melakukan imaginasi tentang indah dan menawannya surga tersebut.

Rasulullah bersabda:

وَأَمَّا أَوَّلُ طَعَامٍ يَأْكُلُهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَزِيَادَةُ كَبِدِ الْحُوتِ

“Adapun hidangan pertama yang dimakan ahlul jannah adalah bagian terlezat dari hati ikan.”

Seorang Yahudi datang menghadap Rasulullah dan mengajukan beberapa pertanyaan yang tidak mungkin ada yang bisa menjawabnya selain seorang nabi. Ia berkata:

فَمَا تُحْفَتُهُمْ حِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: زِيَادَةُ كَبِدِ النُّونِ. قَالَ: فَمَا غَذَاؤُهُمْ عَلَى إِثْرِهَا؟ قَالَ: يُنْحَرُ لَهُمْ ثَوْرُ الْجَنَّةِ الَّذِي كَانَ يَأْكُلُ مِنْ أَطْرَافِهَا. قَالَ: فَمَا شَرَابُهُمْ عَلَيْهِ؟ قَالَ: مِنْ عَيْنٍ فِيهَا تُسَمَّى سَلْسَبِيلًا

“Suguhan apakah yang diberikan kepada penduduk jannah ketika memasukinya?” Beliau menjawab, “Bagian terlezat dari hati ikan.” Si Yahudi bertanya lagi, “Hidangan apakah yang diberikan setelahnya?” Rasul menjawab, “Disembelihkan untuk mereka sapi jannah yang mencari makan di tepi-tepi jannah.” Si Yahudi berkata, “Apakah minuman mereka?” “Dari mata air bernama Salsabil.” (HR. Muslim dari Tsauban maula Rasulullah).

Selamat menikmati liburan, hindari ujub, takabbur dan tabdzir, semoga Allah memberikan kesehatan, keberkahan dan kebahagiaan dunia dan akhirat, menikmati surga yang sebenarnya, di dalam surga yang sesungguhnya ada Hidup tanpa Mati, Muda tanpa Tua, Sehat tanpa Sakit dan Bahagia tanpa sedih selamanya.

Sempurnakan Shalat Anda

Hudzaifah ibnu Alyaman adalah sahabat spesial, ia diberi amanah untuk menyimpan rahasia – rahasia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, banyak berita rahasia hanya ia yang tau, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, hanya menceritakan kepada beliau dan tidak memberi tahu sahabat – sahabat yang lain.

Umar bin Khathab pernah meminta para sahabat untuk berandai – andai, di antara para sahabat ada yang berkata “seandainya rumah ini penuh dengan emas, maka aku akan sedekahkan semuanya di jalan Allah“ ada juga yang berkata “sendainya rumah ini berisi penuh mutiara maka semua akan aku belanjakan di jalan Allah”, Umar bin Khatab berkata “namun aku berandai bila satu rumah ini penuh dengan pemuda seperti Abdullah bin Rawahah, Muaz bin Jabal dan Khuzaifah ibnu Alyaman untuk aku beri tugas guna kemaslahatan kaum muslimin.

Umar bin Khathab melihat sosok Hudzaifah seorang yang sangat penting sehingga Rasulullah menjadikan beliau sebagai orang menyimpan rahasia – rahasia beliau tentang ummat ini, sehingga Umar bin Khathab bertanya kepada Hudzaifah “apakah namaku disebut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bagian dari orang munafiq”?.

Hudzaifah menjawab tidak, namun setelah engkau aku tidak dapat menjamin seorang pun dari mereka.

Dalam satu kesempatan Hudzaifah melihat orang yang sedang shalat namun tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, ia berkata kepada orang itu “Shalat engkau tidak sah, bila engkau mati maka engkau mati bukan dalam agama fitrah (islam) yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. (Fathul baari, bab shalat).

Melihat orang yang gerakan shalatnya tidak sempurna mendapat perhatian yang besar dari sahabat Hudzaifah berarti masalah shalat yang ruku’ dan sujudnya tidak sempurna adalah masalah besar, bisa jadi orang yang shalat dengat cara seperti itu tidak mendapatkan pahalanya.

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إن الرجل ليصلي ستين سنة وما تقبل الله له صلاة، لعله يتم الركوع ولا يتم السجود، ويتم السجود ولا يتم الركوع. فقد ذكره المنذري في الترغيب والترهيب، وقال: رواه أبو القاسم الأصبهاني، وينظر سنده ـ وحسنه الألباني في سلسلة الأحاديث الصحيحة.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bersabda: Sesungguhnya ada orang yang melaksanakan shalat selama 60 tahun namun Allah tidak menerima shalatnya, bisa jadi ruku’nya sempurna namun ia tidak menyempurnakan sujud, atau bisa jadi sujudnya sempurna namun ruku’nya tidak sempurna. (Dinilai hasan oleh Albany).

وعن أبي عبد الله الأشعري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا لا يتم ركوعه, وينقر في سجوده وهو يصلي فقال : ” لو مات هذا على حاله هذه مات على غير ملة محمد !

Dari Abu Abdillah Al Asy’ari ra ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, melihat seseorang yang tidak menyempurnakan ruku’nya dan sujud seperti ayam mematuk makanan, lalu beliau bersabda: seandainya ia mati dalam kondisi seperti ini maka ia mati bukan dalam agama Muhammad shallallahu alaihi wasallam. (Dinilai shahih oleh Albani).

يقول عمر بن الخطاب رضي الله عنه
إن الرجل ليشيب في الاسلام ولم يكمل لله ركعة واحدة , قيل : كيف يا أمير المؤمنين قال : لا يتم ركوعها ولا سجودها

Umar bin Khathab berkata: ada seseorang yang rambutnya sampai beruban di dalam islam, namun shalatnya satu rakaat pun tidak sempurna, para sahabat bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Amirul mukminin? Umar berkata : ia tidak sempurnakan ruku’ dan sujudnya.

Melihat keterangan dari riwayat – riwayat yang telah kami kemukakan menunjukkan bahwasanya shalat dengan baik adalah sebuah tuntutan yang tidak bisa dielakkan, karena itu menentukan kualitas shalat tersebut, maka sudah semestinya kita belajar gerakan dhalat dengan baik seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, seperti sabda beliau:

“Shalatlah seperti kalian melihat aku shalat”.

Mari kita sampaikan hadits – hadits ini dan ajarkan pada anak – keturunan kita shalat yang baik dan benar, dengan kualitas yang baik seperti yang diajarkan oleh beliau, bagi yang sudah baik mari kita tingkatkan, bagi yang belum mari kita sempurnakan, dimulai dengan belajar shalat lalu diamalkan dengan baik pula.

Berusahalah…. Selanjutnya Terserah Allah

Nabi ibrahim pun harus bersusah payah mencari 4 ekor burung kemudian mencincangnya dan masih dilanjutkan menaruhnya di 4 gunung di 4 arah yg berbeda, setelah semua kerja keras itu dilakukan, maka tinggallah beliau menanti keajaiban, maka tatkala beliau memanggil burung-burung tersebut, berdatanganlah mereka dalam keadaan hidup seperti sebelum dicincang.

Sebenarnya untuk sekedar menunjukkan bagaimana kehidupan itu tercipta, Allah cukup hanya mengucapkan “jadilah” tetapi hikmah kehidupan yg Allah gariskan dalam sejarah manusia mengharuskan Nabi ibrahim bekerja dan berusaha keras sebelum melihat apa yg telah Allah persiapkan.

Ibunda Ismail, Siti Hajar pun demikian, harus pontang panting lari kesana kemari untuk mencari air, ia yakin sebagaimana pernah disampaikan kepada sang suami bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yg beriman. Tetapi keyakinan ini harus ia tebus dg kerja keras, harapan itu harus ia kejar dg keyakinan yg tak boleh surut. Fisiknya sebagai seorang wanita benar-benar dimaksimalkan hingga titik tertinggi untuk usaha menemukan …air. Maka muncullah air zam-zam di bawah kaki ismail setelah tujuh putaran antara shafa dan marwa.

Sebenarnya Allah bisa saja mengeluarkan air zam-zam sblm hajar berlarian antara shafa dan marwa, tetapi demikianlah sunatullah kehidupan  ” bekerjalah maka engkau akan menuai hasilnya” , ternyata hasil berlarian kesana kemari membuahkan hasil, air zam-zam muncul secara ajaib di bawah kaki ismail, bukan hasil ia berlarian antara shafa dan marwa. Itulah cara Allah menguji hambaNya . Solusi tidak mesti sesui dengan harapan manusia, tidak mesti berasal dari usaha manusia tetapi usaha harus tetap ada agar mendapat solusi.

Ketika Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke laut merah, maka terbelahlah lautan itu membentuk jalan yang membawa Bani Israel keluar dari Mesir. Apakah Allah tidak mampu membelah lautan secara langsung tanpa harus Nabi Musa memukulkan tongkatnya? Subhanallah… Allah yang Maha Kuasa tentu saja mampu, namun disinilah pelajaran yang hendak ditanamkan dalam sejarah dari kejadian ini, bahwa ikhtiar manusia dituntut untuk sebuah perubahan. Sebab harus dilakukan sebagai syarat munculnya musabbab. Dan apa yang terjadi selanjutnya maka itu urusan Allah.=

Begitulah keajaiban itu datang, tak mesti terletak dalam usaha dan ikhtiar kita, boleh jadi ia datang dari jalan lain. Tidak harus sama dengan kehendak kita, boleh jadi dengan hal yang sama sekali tidak kita duga.

Intinya….

Jika punya obsesi, harapan dan cita-cita yang baik… lakukan sebab yang mengarah kepadanya.

Jika hidup sedang didera masalah maka berusahalah mencari solusinya dengan gigih.

Adapun setelahnya…. serahkan semuanya kepada Allah karena anda telah selesai dengan tugas anda, selanjutnya urusan Allah. Berharaplah yang terbaik yang datang kepada anda.

Bekerjalah… Bergeraklah…berjibakulah…karena keajaiban akan datang dg cara yg ajaib, tidak terduga…dari arah yang tiada disangka.

Karena bekerja dan beramal adalah bentuk kesyukuran dan kesyukuran yg mengiringi amalan akan memberkahi hasil usahanya.

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. (QS. As saba’: 13)

Hafalan Al Quran Dapat Mencegah Berbagai Penyakit

Sebuah kajian baru membuktikan bahwa semakin banyak hafalan seseorang terhadap Al-Qur’an Al-Karim, maka semakin baik pula kesehatannya. Dr. Shalih bin Ibrahim Ash-Shani’, guru besar psikologi di Universitas Al-Imam bin Saud Al-Islamiyyah, Riyadh, meneliti dua kelompok responden, yaitu mahasiswa/i Universitas King Abdul Abdul Aziz yang jumlahnya 170 responden, dan kelompok mahasis Al-Imam Asy-Syathibi yang juga berjumlah 170 responden.

Peneliti mendefinisikan kesehatan psikologis sebagai kondisi dimana terjadi keselarasan psikis individu dari tiga faktor utama: agama, spiritual, sosiologis, dan jasmani. Untuk mengukurnya, peneliti menggunakan parameter kesehatan psikis –nya Sulaiman Duwairiat, yang terdiri dari 60 unit.

Penelitian ini menemukan adanya korelasi positif antara peningkatan kadar hafalan dengan tingkat kesehatan psikis, dan mahasiswa yang unggul di bidang hafalan Al-Qur’an itu memiliki tingkat kesehatan psikis dengan perbedaan yang sangat jelas.

Ada lebih dari tujuh puluh kajian, baik dari agama Islam atau asing, yang seluruhnya menegaskan urgensi agama dalam meningkatkan kesehatan psikis seseorang, kematangan dan ketenangannya. Sebagaimana berbagai penelitian di Arab Saudi sampai pada hasil yang menegaskan peran Al-Qur’an Al-Karim dalam meningkatkan keterampilan dasar siswa-siswa sekolah dasar, dan pengaruh yang positif dari hafalan Al-Qur’an untuk mencapai IP yang tinggi bagi mahasiswa.

Kajian tersebut memberi gambaran yang jelas tentang hubungan antara keberagamaan dengan berbagai bentuknya, terutama menghafal Al-Qur’an Al-Karim, dan pengaruh-pengaruhnya terhadap kesehatan psikisi individu dan kepribadiannya, dibanding dengan individu-individu yang tidak disiplin dengan ajaran-ajaran agama, atau tidak menghafal Al-Qur’an, sedikit atau seluruhnya.

Setiap orang yang menghafal sebagian dari Al-Qur’an dan mendengar bacaan Al-Qur’an secara kontinu itu pasti merasakan perubahan yang besar dalam hidupnya. Hafalan Al-Qur’an juga berpengaruh pada kesehatan fisiknya. Melalui pengalaman dan pengamatan, dipastikan bahwa hafalan Al-Qur’an itu dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh pada seseorang, dan membantunya terjaga dari berbagai penyakit.

Berikut ini adalah manfaat-manfaat hafalan Al-Qur’an, seperti yang penulis dan orang lain rasakan:

1. Pikiran yang jernih.
2. Kekuatan memori.
3. Ketenangan dan stabilitas psikologis.
4. Senang dan bahagia.
5. Terbebas dari takut, sedih dan cemas.
6. Mampu berbicara di depan publik.
7. Mampu membangun hubungan sosial yang lebih baik dan memperoleh kepercayaan dari orang lain.
8. Terbebas dari penyakit akut.
9. Dapat meningkatkan IQ.
10. Memiliki kekuatan dan ketenangan psikilogis.

Karena itu Allah berfirman, “Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang lalim.” (QS Al-‘Ankabut [29]: 49)

Ini adalah sebagian dari manfaat keduniaan. Ada manfaat-manfaat yang jauh lebih besar di akhirat, yaitu kebahagiaan saat berjumpa dengan Allah, memperoleh ridha dan nikmat yang abadi, mendapatkan tempat di dekat kekasih mulia Muhammad

Tidak sama penghuni Surga dengan penghuni Neraka

Judul artikel ini merupakan penggalan makna ayat 18 dari surat ke 59, Al-Hasyr namanya, yang menyatakan bahwa tidak lah sama antara penghuni Surga dengan penghuni Neraka, ayat ini sekilas memberitahu kita semua bahwa Neraka dan Surga adalah ciptaanNya, keduanya adalah tempat yang berbeda serta fasilitas dan tawaran kenikmatannya juga beda, dari ayat – ayat dan hadits Nabi shallahu alaihi wa sallam, secara detail disebutkan perbedaan itu, maka orang – orang yang cerdik akan melihat jelas perbedaan itu lalu mengambil pilihan yang tepat, dengan melaksanakan jalan yang menghantarkan mereka ke surga tersebut, sungguh beruntung orang yang telah menentukan pilihan yang benar.

Berikut ini kami sebutkan sedikit perbedaan yang disebutkan di dalam Al Quran atau Sunnah tentang perbedaan keduanya.

Pakaiannya BEDA

a. Pakaian Ahli Surga

عَالِيَهُمْ ثِيَابُ سُنْدُسٍ خُضْرٌ وَإِسْتَبْرَقٌ ۖ وَحُلُّوا أَسَاوِرَ مِنْ فِضَّةٍ وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا

Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih (QS Al Insan: 21).

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖوَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

(Bagi mereka) surga `Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. (QS Fathir: 33).

b. Pakaian Ahli NERAKA

فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ

Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. (QS Al Hajj: 19).

وَتَرَى الْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ مُقَرَّنِينَ فِي الْأَصْفَادِ (49) سَرَابِيلُهُمْ مِنْ قَطِرَانٍ وَتَغْشَى وُجُوهَهُمُ النَّارُ (50)

Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu, Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka, (QS. 14:50).

Makanan dan minumannya BEDA

a. Makanan Ahli surga

“Di dalam surga itu mereka diberi minum (segelas minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan Salsabila.” (QS Al-Insan: 17-18).

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata air-mata air. Dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka inginkan. (Dikatakan kepada mereka). ‘Makan dan minumlah kalian dengan enak karena apa yang pernah kalian perbuat.” (QS Al-Mursalat: 41-43).

“Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka inginkan.” (QS Ath-Thuur: 22).

Di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, dan sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya, Dan sungai-sungai madu yang murni. (QS.Muhammad:15).

b. Makanan penghuni neraka

– Buah Zaqum
“Sungguh pohon zaqqum itu adalah makanan bagi orang-orang yang berbuat dosa. Rasanya seperti lelehan logam yang mendidih di dalam perut, seperti air mendidih yang amat panas.” (QS Adhukhan: 43-46).

– Hamim
Orang-orang kafir dan musyrik itu akan memakan sebagian dari buah pohon zaqum itu. Namun tidak menjadikan mereka kenyang. Kemudian orang-orang kafir itu akan mendapatkan hamim; minuman air mendidih yang sangat panas.” (QS Ashaffat: 66-67).

– Dhari’
“Mereka tidak akan mendapat makanan selain dari pohon yang berduri (Dhari). Yang tidak menggemukan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (QS Al Ghasiyah: 6-7).

– Ghislin
“Maka tiada seorang teman pun baginya pada hari ini, di sini. Tiada pula makanan sedikit pun (baginya) kecuali dari ghislin (nanah penghuni neraka). Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.” (QS Al Haaqqah : 35-37).

Tempat duduknya juga BEDA

a. Tempat duduk penghuni surga

“Mereka bertelekan (duduk dengan santai) di atas permadani yang sebelah dalamnya terbuat dari sutra yang tebal. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat.” (QS. Ar-Rahmaan: 54).

“Di atas sofa bertahtakan emas dan permata. mereka bersandar di atasnya, berhadap-hadapan.” (QS. Al-Waaqia’ah:15-16).

“Mereka bersandar pada bantal yang berwarna hijau dan permadani yang sangat indah.” (QS. Ar-Rahmaan: 76).

b. Tempat duduk Ahli NERAKA

“Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu, Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka, (QS. 14:50).

ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api (QS Al Mukmin 71-72).

Salam sambutan mereka juga BEDA

a. 1. Salam Orang Mukmin Diantara Mereka

دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلاَمٌ
Doa mereka di dalamnya ialah, Maha Suci Engkau, ya Tuhan kami, dan salam penghormatan mereka ialah “salam sejahtera”. (QS.Yunus:10).

2. Salam Malaikat Kepada Orang Mukmin

وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

“Penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masuklah, kamu kekal di dalamnya.” (QS.Az-Zumar:73).

3. Salam Allah kepada Hamba-Nya

سَلَامٌ قَوْلاً مِن رَّبٍّ رَّحِيمٍ

“(Kepada mereka dikatakan), “Salam,” sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (QS.Yasiin:58).

b. Salam dan sambutan di Neraka

Pada hari mereka didorong ke neraka Jahannam dengan sekuat-kuatnya.
(Dikatakan kepada mereka): “Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya”. (QS Athuur : 13-14).

Lalu diperintahkan malaikat penjaga neraka: “Tangkaplah orang yang berdosa itu serta belenggulah dia, Kemudian bakarlah dia di dalam neraka Jahiim, Selain dari itu, masukkanlah dia dalam (lingkaran) rantai besi yang ukuran panjangnya tujuh puluh hasta, (dengan membelitkannya ke badannya)! (QS Alhaaqqah: 30-32).

Mudah – mudahan Allah memberikan kepada kita istiqamah sehingga wafat dalam ketaatan dan kebaikan.

Perjalanan Hidup Manusia

Wahai saudaraku…
Ketahuilah bahwa Allah menjadikan umur manusia berpindah-pindah dari satu fase ke fase berikutnya, dan tentang ini Allah ta’ala telah menjelaskannya di dalam kitabNya yang mulia bahkan Allah ta’ala menjelaskan hal ini dari asal mula pencinptaan manusia tersebut dari sebelum ia keluar ke dunia ini.

Allah telah menjelaskan penciptaan manusia ketika ia masih dalam perut ibunya ketika ia hanyalah setetes mani yang hina kemudian menjadi tulang dan segumpal darah kemudian menjadi segumpal daging. Dan Rasulullah telah menjelaskan hal ini didalam haditsnya yang mulia beliau bersabda :

(( إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذلِكَ، ثمَّ يُرْسَلُ إلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فيهِ الرُّوحَ، وَيُؤمَرُ بأرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أوْ سَعِيدٌ.
” Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya”(H.R. Al Bukhari dan Muslim)

Kemudian Allah menjadikan masa muda adalah masa terpenting dalam kehidupan manusia. Pemuda adalah bersatu kekuatan diantara dua kelemahan, Allah subhanallah wa ta’ala berfirman ”

{۞ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ} [الروم : 54]

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”

Maka Allah subhanallah wa ta’ala menjadikan masa muda adalah kekuatan bagi manusia, kekuatan di dalam badannya kekuatan dalam pikiranya kekuatan didalam keberaninya.

Renungkanlah, ketika anda di masa kecil apa yang bisa anda lakukan? Masa itu hanyalah masa dimana anda hanya bisa bergantung terhadap orang lain hanya memikirkan main makan dan minum, kekuatan fisik pun masih lemah, tidak banyak yang bisa anda perbuat ketika anda berada pada masa itu.

Kemudian coba renungkanlah ketika dimasa anda tua nanti apa yang bisa anda lakukan? Jalan sudah susah, badan banyak yang sakit, rambut sudah beruban hanya tinggal nunggu waktu saja, tidak banyak kekuatan lagi yang bisa anda lakukan ketika anda tua nanti.

Akan tetapi ketika dimasa muda anda seperti saat ini lihatlah semua hal anda sanggup lakukan karena ketika dimasa muda itulah puncaknya masa bagi manusia, jangan sia-siakan masa muda anda hanya dengan istirahat, jangan buang masa muda anda hanya dengan bermain atau tidur, jangan anda sia-siakan masa muda anda hanya dengan sebatas handpone dan internet, bergeraklah! Lakukan apa yang perlu anda lakukan! Cari ilmu sebanyak mungkin dari sekarang. Tanam dari sekarang niscaya anda akan memetik hasilnya nanti dimasa tua.

Mari kita kembali sesaat ke sejarah, sejarah nabi yang kita cintai Muhammad shalawallahu alaih wa sallam. Ketika nabi Muhammad shalawallahu alaih wa sallam mengajak manusia ke agama islam dan melarang mereka dari melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah ta’ala seperti menyembah berhala dan lain sebagainya tidak ada yang menghiraukan dakwah beliau kecuali para pemuda, adapun mereka yang sudah melewati masa mudanya kebanyakan dari mereka menolak, ingkar dan membangkang seperti Umayyah bin Khollaf, Abu lahab dll, akan tetapi ketika anda melihat para pemudannya seperti Abu bakar beliau masuk islam ketika berumur 38 tahun, Umar bin Khottob beliau masuk islam ketika berumur 26 tahun, atau seperti Ustman bin Affan beliau masuk islam ketika berumur 25 tahun, adapun Ali bin Abi Tholib beliau masuk islam ketika berumur 9 atau 10 tahun dan lain sebagainya.

Ketahuilah mereka semua adalah pemuda, mereka tumbuh dalan ketaatan kepada Allah ta’ala, Maka Allah pun memuji mereka didalam kitabnya yang mulia

({مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ))

“Muhammad adalah utusan Allah, dan yang bersamanya”,

siapakah mereka yang bersama rasul? Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali para pemuda yang tubuh mereka dipakai untuk ketaatan dijalan Allah. Mereka berjalan dijalan orang-orang yang mengajak mereka kepada keharaman mereka melihat segala jenis kemungkaran disemua tempat akan tetapi mereka mampu menjaga diri mereka, Maka Allah memuji mereka dan meyebutkan sifat-sifat mereka:

({مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ )

” Muhammad adalah utusan Allah dan yang bersama mereka keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang kepada sesama mereka”,

kemudian Allah menjelaskan bagaimana mereka memakai waktu mereka dan kemampuan mereka, Allah berfiman ( رُكَّعًا سُجَّدًا تَرَاهُمْ) ” Kamu mendapatkan mereka dalam keadaan bersejud dan rukuk kepada Allah”. Kalian melihat mereka selalu dekat dengan Allah dan mereka tidak terjatuh didalam kemungkaran disebabkan jiwa mudanya dan kekuatannya.

Semoga kita selalu dijaga oleh Allah dan selalu dilindungi dari kemaksiatan dan marabahaya.

by Alfath Syamsuna
Mahasiswa Al Azhar University
Cairo – Mesir

Pewaris Nabi Yang Terdzolimi

Akhir-akhir ini, dunia maya tengah dihebohkan oleh berita kriminalisasi yang dialami beberapa ulama kita di tanah air. Tidak nanggung-nanggung, selain fitnah chat mesum yang dialami salah satu diantara mereka yang hingga saat ini tak kunjung usai, bahkan dewasa ini sudah ada yang berani main fisik. Bukan hanya wajah yang menjadi lebam dan tubuh yang berdarah-darah, salah satu diantara mereka pun bahkan ada yang sampai meregang nyawa.

Keadaan seperti ini tentu suatu hal yang sangat patut disayangkan. Bagaimana tidak, ulama yang merupakan pewaris para nabi, yang keutamaanya demikian banyak allah dan rasul-Nya sebutkan di dalam al-qur’an dan al-hadits, harus mengalami kriminalisasi sedemikian rupa di negeri mereka sendiri. Sebuah negeri yang sudah merdeka sejak tahun 1945 yang lalu, bahkan sebuah negeri yang diklaim sebagai negara dangan populasi muslim terbesar di dunia.

Kalau kita mau membuka kembali lembaran sejarah hidup ulama kita terdahulu, maka kita akan mendapati bahwa sebenarnya hal seperti itu bukanlah hal baru. Pada masa awal kenabian, rasulullah saw diajak khadijah ra untuk berkunjung ke rumah salah satu pamannya yang bernama Waroqoh bin Naufal. Disana, beliau mendapat kabar bahwa siapapun yang membawa kebenaran, maka akan ada saja orang yang menolaknya, menentangnya, bahkan mengusirnya dari kampung halamannya. Terbukti setelah itu, selama kurang lebih 13 tahun lamanya beliau mengalami intimidasi dari masyarakat sekitar. Beliau yang sebelumnya merupakan orang yang paling dipercaya yang bahkan mendapat gelar “al-amin”, saat itu langsung dikriminalisasi dengan dituduh sebagai orang gila, tukang sihir, diludahi, bahkan pernah terjadi beberapa kali percobaan pembunuhan terhadap beliau saw.

Kemudian pada masa tabiin. Pada masa itu, Sa’id bin al-musayyib pernah dicambuk sebanyak 60 kali. Lebih kejam dari itu, bahkan sa’id bin jubair yang juga merupakan salah seorang tabiin terkemuka sampai dipenggal kepalanya oleh Al-Hajjaj bin yusuf al-Tsaqofi, seorang panglima bertangan besi dari kekhilafahan umawi.

Begitu juga pada masa khilafah abbasiyah. Kita akan mendapati bagaimana seorang imam Abu Hanifah dan imam Malik bin Anas pernah dicambuk dan imam syafii pernah dirantai dari yaman hingga Baghdad. Keadaan menyedihkan seperti itu juga tidak luput dialami oleh imam ahmad bin hambal. Beliau dicambuk kemudian dipenjara selam 30 bulan gara-gara tidak mau mengakui kemakhlukan qur’an sebagaimana yang diyakini mu’tazilah.

Kemudian di negeri kita sendiri, Indonesia. Kita semua tau, yang banyak berkontribusi atas kemerdekaan Indonesia adalah ulama dan santri. Sebagai pejuang, tentu tidak selalu berjalan mulus. KH. Hasyim Asy ‘Ary sendiri, yang merupakan pendiri Nahdatul Ulama, pernah juga mendekam di dalam penjara. Banyak siksaan fisik yang didapatkan beliau selama berada di dalam tahanan. Bahkan, salah satu jarinya patah dan tidak bisa digerakkan. Kemudian KH Ahmad Dahlan, pendiri muhammadiyah. Da’wah yang beliau lakukan pun tidak selalu berjalan mulus. pertentangan, penolakan hingga ancaman pembunuhan pun dialami beliau di dalam menyebarkan da’wahnya.

Melihat sejarah yang seperti itu, kita sepakat dengan bapak Taufik Ismail yang berpendapat bahwa apa yang terjadi di negara kita akhir-akhir ini merupakan pengulangan. Kaidah sendiri mengatakan, “at tarikhu yu’idu nafsahu; sejarah itu mengulang dirinya”. Akan selalu ada yang menyuarakan kebenaran, sebagaimana akan selalu ada juga yang menentang mereka.
Lantas, apa yang harus kita lakukan? Ulama kita dikriminalisasi sedemikian rupa. Apakah kita hanya akan berdiam diri saja? Tentu tidak. Masalah apa yang harus dilakukan, itu menjadi PR kita masing-masing, sesuai dengan kemampuan yang kita punya. Ada kekuasaan, gunakan itu sebaik mungkin untuk membela kebenaran. Kalau tidak, gunakan lisan kita untuk menyuarakan kebenaran itu. Kalau tidak mampu juga, paling tidak kita membenci hal itu dengan hati kita, kata nabi. Dan itulah selemah-lemahnya iman.

*dari berbagai macam sumber

by Ahmad Akbar Hakiki
Mahasiswa Al Azhar Cairo, Mesir

Semangat Menulis Yang Telah Pudar

Menulis adalah salah satu tradisi para Ulama zaman dahulu dan juga para intelektual,
Menulis memiliki pengaruh besar untuk kebangkitan peradaban Islam dan dunia,
Menulis adalah cara untuk mendokumentasikan ilmu dan kelak menjadi amal jariyah meskipun tubuh sudah terkujur tanah,

Banyak sekali Ulama dahulu yang produktif menulis kitab, seperti halnya Imam Nawawi rahimahullah yang memiliki karya tulis melebihi jumlah umurnya, dan Imam Nawawi memiliki 3 macam kategori tulisan,
Yang pertama, karya tulis beliau yang selesai ditulis, seperti Syarh Muslim, Arrhaudoh, riyadhussholihin, dll.
Yang kedua, karya tulis beliau yang belum selesai karena beliau telah wafat lebih dulu, seperti Al-Majmu’Syarh AlMuhadzab, Syarh Al-wasith, dan syarh Al-Bukhari,
Dan ketiga adalah karya tulis beliau yang dihapus kembali, karena dengan alasan tertentu. Seperti alasan beliau menghapus karyanya itu karena takut tidak ikhlas ketika menulisnya, ada beberapa tulisan yang belum matang, dan karena tidak ada waktu luang untuk mengulang karya tulisnya.

Begitu juga Imam Suyuthi rahimahullah, yang tak kurang beliau memiliki 600 kitab karya beliau. Dan masih banyak lagi ulama-ulama lain yang memiliki karya tulisnya, seperti Imam Adz-Dzahabi, Imam Bukhori, ibnu taimiyah, dll.

Tidak sama seperti yang kita kira, bahwa satu kitabnya mereka itu berbeda dengan satu kitab zaman sekarang. Dan jangan kira bahwa satu kitab karya mereka itu terdiri hanya satu jilid buku saja, namun sangat banyak dan tebal, berkisar 4 jilid hingga 30 jilid, dan setiap jilid total halaman kurang lebih 600-700 halaman.
Sungguh luar biasa bukan??

Zaman dahulu yang penuh dengan keterbatasan, baik itu keterbatasan fasilitas atau informasi dan lain sebagainya, namun mereka melebihi mampu melahirkan jutaan karya tulis yang mungkin tidak kita temui pada zaman sekarang ini.

Dahulu mereka menulis dengan manual, yaitu dengan tangan mereka sehingga yang tersisa adalah sebuah manuskrip kuno, yaitu tulisan asli dari penulisnya. Dan pena yang mereka punya tidak seperti yang kita bayangkan, mereka menggunakan tinta yang sangat jauh berbeda dengan pena sekarang.

Dan sekali lagi, mereka melebihi mampu.. Bagaimana dengan kita??

Semua fasilitas ada, informasi mudah, media merajalela, namun sangat sedikit sekali karya yang tertuai. Apa karena kemudahan itu sehingga kita meng-gampangkan dan meremehkan sebuah tradisi yang hampir terlupakan ini.?

Apa sebabnya…? Sehingga sekarang kita lemah dalam menulis?

Kita merasa sangat susah sekali untuk memulai menulis, entah memulai dari mana, apa karena memang masih belum ada ilmu dalam otak kita, sehingga kita butuh banyak referensi, kemudian baru kita bisa menulis…??

Ulama zaman dahulu memiliki cara belajar tersendiri, sebelum mereka belajar apapun, pertama kali yang mereka lakukan adalah menghafal Al-Quran, karena Al-Quran adalah sumber Informasi yang sangat autentik hingga akhir zaman kelak, kemudian mereka belajar Adab dan menghafal matan-matan ilmiyah.

Jadi, rahasia sukses belajar Ulama dahulu yang mungkin sudah dikesampingkan oleh orang-orang zaman sekarang adalah dengan cara menghafal, yaitu (Al-Hifdzu qoblal fahmi) menghafal sebelum memahami. Dan setelah menghafal mereka bisa merenungi dan memahami matan-matan yang mereka hafal dan kemudian dijabarkan menjadi ilmu yang luas. Setelah mereka menemukan luasnya ilmu dari petikan-petikan syair itu kemudian mereka tuangkan dalam tinta pena, tertulis dalam goresan penanya dan lahir menjadi jutaan karya tulis.

Marilah kita hidupkan kembali tradisi para Ulama ini,
Hidupkan kembali ilmu yang lama terpendam,
Bangkitkan peradaban Islam dan dunia dengan menulis.

Allahul Musta’an
Wallahu a’lam bisshowab

Muhammad Munib
Mahasiswa Al Azhar
Cairo – Mesir

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id