Semangat Menulis Yang Telah Pudar

758 Views

Menulis adalah salah satu tradisi para Ulama zaman dahulu dan juga para intelektual,
Menulis memiliki pengaruh besar untuk kebangkitan peradaban Islam dan dunia,
Menulis adalah cara untuk mendokumentasikan ilmu dan kelak menjadi amal jariyah meskipun tubuh sudah terkujur tanah,

Banyak sekali Ulama dahulu yang produktif menulis kitab, seperti halnya Imam Nawawi rahimahullah yang memiliki karya tulis melebihi jumlah umurnya, dan Imam Nawawi memiliki 3 macam kategori tulisan,
Yang pertama, karya tulis beliau yang selesai ditulis, seperti Syarh Muslim, Arrhaudoh, riyadhussholihin, dll.
Yang kedua, karya tulis beliau yang belum selesai karena beliau telah wafat lebih dulu, seperti Al-Majmu’Syarh AlMuhadzab, Syarh Al-wasith, dan syarh Al-Bukhari,
Dan ketiga adalah karya tulis beliau yang dihapus kembali, karena dengan alasan tertentu. Seperti alasan beliau menghapus karyanya itu karena takut tidak ikhlas ketika menulisnya, ada beberapa tulisan yang belum matang, dan karena tidak ada waktu luang untuk mengulang karya tulisnya.

Begitu juga Imam Suyuthi rahimahullah, yang tak kurang beliau memiliki 600 kitab karya beliau. Dan masih banyak lagi ulama-ulama lain yang memiliki karya tulisnya, seperti Imam Adz-Dzahabi, Imam Bukhori, ibnu taimiyah, dll.

Tidak sama seperti yang kita kira, bahwa satu kitabnya mereka itu berbeda dengan satu kitab zaman sekarang. Dan jangan kira bahwa satu kitab karya mereka itu terdiri hanya satu jilid buku saja, namun sangat banyak dan tebal, berkisar 4 jilid hingga 30 jilid, dan setiap jilid total halaman kurang lebih 600-700 halaman.
Sungguh luar biasa bukan??

Zaman dahulu yang penuh dengan keterbatasan, baik itu keterbatasan fasilitas atau informasi dan lain sebagainya, namun mereka melebihi mampu melahirkan jutaan karya tulis yang mungkin tidak kita temui pada zaman sekarang ini.

Dahulu mereka menulis dengan manual, yaitu dengan tangan mereka sehingga yang tersisa adalah sebuah manuskrip kuno, yaitu tulisan asli dari penulisnya. Dan pena yang mereka punya tidak seperti yang kita bayangkan, mereka menggunakan tinta yang sangat jauh berbeda dengan pena sekarang.

Dan sekali lagi, mereka melebihi mampu.. Bagaimana dengan kita??

Semua fasilitas ada, informasi mudah, media merajalela, namun sangat sedikit sekali karya yang tertuai. Apa karena kemudahan itu sehingga kita meng-gampangkan dan meremehkan sebuah tradisi yang hampir terlupakan ini.?

Apa sebabnya…? Sehingga sekarang kita lemah dalam menulis?

Kita merasa sangat susah sekali untuk memulai menulis, entah memulai dari mana, apa karena memang masih belum ada ilmu dalam otak kita, sehingga kita butuh banyak referensi, kemudian baru kita bisa menulis…??

Ulama zaman dahulu memiliki cara belajar tersendiri, sebelum mereka belajar apapun, pertama kali yang mereka lakukan adalah menghafal Al-Quran, karena Al-Quran adalah sumber Informasi yang sangat autentik hingga akhir zaman kelak, kemudian mereka belajar Adab dan menghafal matan-matan ilmiyah.

Jadi, rahasia sukses belajar Ulama dahulu yang mungkin sudah dikesampingkan oleh orang-orang zaman sekarang adalah dengan cara menghafal, yaitu (Al-Hifdzu qoblal fahmi) menghafal sebelum memahami. Dan setelah menghafal mereka bisa merenungi dan memahami matan-matan yang mereka hafal dan kemudian dijabarkan menjadi ilmu yang luas. Setelah mereka menemukan luasnya ilmu dari petikan-petikan syair itu kemudian mereka tuangkan dalam tinta pena, tertulis dalam goresan penanya dan lahir menjadi jutaan karya tulis.

Marilah kita hidupkan kembali tradisi para Ulama ini,
Hidupkan kembali ilmu yang lama terpendam,
Bangkitkan peradaban Islam dan dunia dengan menulis.

Allahul Musta’an
Wallahu a’lam bisshowab

Muhammad Munib
Mahasiswa Al Azhar
Cairo – Mesir

  1. Teruslah mengasah kemampuan dengan menulis, karena pena bisa lebih tajam dari pedang tapi juga bisa lebih terang daripada lentera. Tulislah tulisan yang cerdas dan mencerahkan untuk kemajuan ummat….

2 comments

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id

    × Ahlan, Selamat Datang!