Wakaf Qur`an di Lereng Merapi, Abadikan Jariyah Lintas Generasi

Pembagian wakaf qur`an Tanmia Foundation di Kawasan lereng Merapi tiba di Masjid Al-Amin Dusun Kinah Kinahrejo, Kelurahan Umbulharjo, Cangkringan , Sleman Yogyakarta pada  15/08/2023. Sebanyak 40 paket mushaf Qur`an dibagikan langsung ke titik Masjid, TPQ dan  dusun perkampungan warga di Umbulharjo Cangkringan.

Kendati tidak bertemu langsung dengan pihak pengurus Masjid setempat, namun pihak Tanmia menyerahkan langsung dengan Ibu Ngatinem ( 87 tahun ) yang merupakan keponakan langsung Mbah Maridjan. Saat ini Ibu Ngatinem bersama putra dan cucu cicitnya yang mengurus kemakmuran masjid yang bersejarah tersebut.

Masjid yang dikenal dengan masjid di atas pasir tersebut sudah kesekian kalinya dibangun ulang hingga saat ini setelah hancur luluh lantah pasca erupsi 2010 lalu bersamaan dengan meninggalnya mendiang Mbah Maridjan selaku juru kunci Merapi yang diangkat resmi oleh pihak Kesultanan Keraton Sultan Hamengku Buwono IX.

Saat ini Ibu Ngatinem bersama sekitar 85 KK warga lainya bermukim tempat tinggal di Dusun Karangkendal Umbulharjo sebagai Kawasan Huntap ( Hunian Tetap ) warga dusun Kinahrejo pasca erupsi Merapi tahun 2010. Baru setiap hari aktivitas bersama warga lainya berjualan dengan membuka warung berjualan di samping masjid.

“Alhamdulillah nak, tindak panjenengan saking tebih dugi Masjid Mbah Maridjan paring Al-qur`an mugi berkah urusanipun sedanten saking urusan dunyo lan akhirat, lancar urusanipun mbenjang dugi kapundut tilar dunyo”, ngendikan Mbah Ngatinem.

Artinya : ( Alhamdulillah nak, kedatangan kalian dari jauh kesini di Masjid Mbah Maridjan memberikan Al-Qur`an semoga berkah, dari semua urusan dunia dan akhirat, lancar semua urusanya hingga hidup ini kita tinggalkan karena meninggal dunia nanti”, ucap Mbah Ngatinem pada segenap rombongan Tanmia Foundation di lokasi.
Saat ini bangunan Masjid yang dominan dari material kayu menjadi tempat yang nyaman untuk para jama`ah setempat maupun musafir yang hendak melawat ke petilasan Mbah Maridjan meski bangunanya tak sesempurna saat sebelum diamuk awan panas erupsi Gunung Merapi.

Wakaf Qur`an Tanmia Foundation juga dibagikan di TPQ Taman Hati yang berada di Dusun Gondang, Umbulharjo. Belasan Anak-anak TPQ yang diasuh oleh Bapak Irsyadul Ibad dengan putra-putrinya secara langsung gegap gempita bahagia ketika menerima mushaf wakaf. Kawasan Umbulharjo yang berjarak 5 KM saja dari puncak Merapi merupakan Kawasan siaga bencana vulkanik setiap saat, apalagi status Level III Siaga hingga saat ini belum dicabut.

Menelisik lebih jauh bangunan masjid-masjid dikawasan lereng Merapi adalah status masjid wakaf yang sangat bermanfaat untuk kemakmuran dakwah dan ummat di Kawasan rawan bencana vulkanik dengan segala peluang dan tantangan di dalamnya. Tak jauh berbeda dengan pembagian wakaf mushaf al-quran sebagai ladang amal jariah juga akan menjadi syi`ar yang akan menghidupkan dakwah yang akan mengalirkan pahala-pahala yang tak pernah habis. Harta yang menjadi simpanan abadi dan menjadi saksi bagi para pewakaf ( yang memberikan harta ) baik ketika masih hidup maupun sudah meninggal. Ia akan bermanfaat bagi banyak orang, bahkan lintas generasi ketika mampu mewariskan dengan ilmu yang bermanfaat. Layaknya masjid Merapi yang sudah turun temurun lintas generasi, maka mushaf wakaf pun setidaknya bisa menjadi ladang lahirnya para kader da`i-da`I ilallaah yang lahir di tiap jengkal tanah dimana lintas generasi itu dilahirkan.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Beasiswa untuk 30 Santri baru Al Itqan

Alhamdulillah tahun ajara baru ini yayasan Islam Attanmia mendapatkan anak didik baru sebanyak 30 orang santri terdaftar yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia dengan semangat mereka melangkahkan kaki untuk menghafal Al Quran dan menuntut ilmu syari, besar harapan kami mereka kelak akan menjadi tokoh – tokoh dakwah yang hebat di masa yang akan datang.

Para ustadz, dai, guru ngaji dll yang hari ini menghiasi layar kaca anda baik televisi maupun online, baik media cetak maupun elektronik, yang menggetarkan minbar – minbar masjid atau suara mereka bergema di mana saja majlis itu ada, mereka bukanlah orang yang datang muncul secara tiba-tiba atau turun dari langit, tidak…. mereka adalah hasil didikan selama belasan atau bahkan puluhan tahun lalu, dimulai dari pesantren hingga mereka melanjutkan di perguruan tinggi.

Hari ini kita dapat mendengar dan nikmati ceramah, kajian atau tablig akbar mereka, bahkan kita bisa mendengarkan ceramah dari beberapa orang yang berbeda yang dapat menawan hati masyarakat luas, namun pertanyaannya ialah apakah anak keturunan kita nanti akan dapat mempelajari islam dan menikmati kajian islam seperti kita hari ini?!

Mereka yang hari ini berdakwah di berbagai tempat itu adalah jeripayah dari orang tua kita dulu, mereka yang mempersiapkan generasi itu, sehingga kita anak keturunannya mendapatkan pendidikan agama yang baik, barangkali hari ini mereka sudah tiada namun dai, ustadz yang mereka siapkan masih teguh berdakwah hingga saat ini.

Mari kita ambil peran untuk mempersiapkan dai, guru Al Quran, ustadz, muballigh dll untuk masa yang akan datang, mudah – mudahan dari tangan kita kelak akan muncul dai – dai yang hebat, ustadz yang handal dan tangguh berdakwah di berbagai medan dan keadaan.

Kami dari yayasan Islam Attanmia mengajak bapak dan ibu untuk menjadi orang tua asuh dengan cara berpartisipasi dalam pembiayaan kebutuhan pendidikan anak – anak yang sedang menuntut ilmu di pesantren Al Itqan, Jatisampurna, Bekasi, besar harapan kami kita semua dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang mulia ini, atas perhatian dan partisipasinya kami sampaikan Jazakumullah khairan, barakallahu fiekum.

Bukhari Abdul Muid
Ketua Yayasan

Tahun Baru Hijriyah: Jariyah Qur`an di Kaimana, Hidupkan Kembali Lentera Hidayah Yang Padam

Semburat senja di Kaimana menanti datangnya tahun baru hijriah 1445 H memang sudah dinanti-nantikan. Tutup tahun bukanlah usai harapan. Selamat datang bahagia dan menjadi lebih baik ! Inilah bahagia memasuki tahun baru hijriah 1445 H yang memang sudah dinantikan setiap kaum muslimin se-tanah air. Menyeruak rasa gembira hati pun dirasakan oleh segenap anak-anak dan pengurus TPQ di Kota Senja Kaimana, Papua Barat pada ( 20/7/2023). Kali ini, Tanmia Foundation membagikan wakaf qur`an untuk TPQ Nurul Ukhuwah Amatu untuk belasan santri TPQ dari berbagai jenjang usia baik SD maupun SMP. Pembagian berlangsung cukup semarak disaat suasana menikmati tahun baru hijriah.

Rute yang cukup panjang perjalanan distribusi wakaf qur`an Tanmia Foundation menghabiskan waktu sebulan lamanya melalui ekspedisi panjang perjalanan laut. Beruntun singgah dari satu dermaga ke dermaga mercusuar pelabuhan hingga akhirnya tiba di pelabuhan Kota Senja Kaimana, Papua Barat. Diawal tahun hijriah ini pula mushaf-mushaf wakaf akan di distribusikan ke berbagai TPQ di distrik-distrik di Kaimana. Mushaf yang akan menjadi lentera penyemangat dan penerang hidayah untuk anak-anak TPQ yang sudah lama menunggu kedatangan mushaf penantianya.

“Terimakasih atas perhatiannya untuk anak-anak santri kami disini. Disinilah anak-anak memulai belajar dan menerima Pendidikan belajar baca tulis al-quran untuk wilayah pusat kota Kaimana,“Jawab senyum Ahmadi, selaku pengurus TPQ Nurul Ukhuwah jantung kota Jl. Trikora yang hadir dalam serah terima wakaf mushaf Tanmia Foundation di lokasi.

Selain wakaf mushaf al-qur`an yang didistribusikan dalam program wakaf ini, ada juga buku-buku pembelajaran Tartila Arba`in sebagai salah satu bekal metode pembelajaran untuk pembebasan buta huruf al-qur`an . Dominan wilayah perairan menjadikan wilayah antar distrik di Kaimana berjauhan dan harus dijangkau dengan perahu / longboard yang tentunya selain waktu dan jarak juga biaya operasional yang tinggi ketika harus terjun berdakwah dari satu tempat ke tempat lainya.

Begitu juga tenaga da`i di berbagai distrik yang terbatas dan terpaut jarak menjadi keprihatinan tersendiri yang mendalam. Adanya wakaf mushaf qur`an Tanmia Foundation menjadi bagian syi`ar yang menguatkan kembali semangat masa-masa peradaban kerajaan islam ketika itu bersemi kembali sembari berikhtiar menelisik kembali sisa-sisa sejarah perjuangan yang pernah diraih para pendahulu bangsa.

Eksotisme alam Kaimana menyimpan banyak sejarah berdirinya kerajaan-kerajaan islam dan juga saksi sejarah pertempuran trikora era perjuangan kemerdekaan masa itu. Menelisik Kaimana, Papua barat bukan soal warisan keindahan alamnya yang tersohor sejak perang kolonial Belanda tapi jauh dari itu sudah menyimpan banyak perbendaharaan sejarah sisa-sisa peradaban kerajaan islam yang lebih dikenal dengan wilayah pertuanan yang masing-masing dipimpin oleh seorang Raja.

Jejak langkah peninggalan-peninggalan sejarah di bumi Papua terutama Kaimana amatlah beragam , baik Tugu, Bunker dan Benteng-benteng Meriam Kolonial masa itu. Semua telah menjadi saksi abadi pula tentang pertama kalinya sang saka merah putih dikibarkan di atas Tugu Untea ( United Nation Temporary Executive Authority ). Monumen tugu yang menjadi tanda perjuangan ketika pembebasan wilayah Irian Barat dari Kolonial Belanda masa itu.

Menurut statistik tahun 2021 lalu, Kaimana terbagi menjadi 7 wilayah Distik/Kabupaten jumlah pulau sebanyak 675 banyaknya. Sementara ini muslim adalah jumlah mayoritas penduduk di Kaimana dengan disusul kedua oleh Protestan. Kaimana adalah kawasan penduduk muslim yang memang sudah turun temurun sejak adanya kerajaan islam dimasa awalnya, pertumbuhan penyebaran islam di Kaimana terus berkembang seiring dengan hubungan kawin mawin dan perniagaan antar pulau dari pada pedagang muslim dari berbagai wilayah, Aceh, Arab, Bugis, Ternate dan Tidore.

Posisi Kaimana secara geografis memang cukup strategis untuk wilayah Papua Barat. Berada tepat di leher peta Papua yang menyerupai burung cendrawasih disanalah pusat jantung ibukota pemerintahan berjalan. Antar distrik yang tersekat terpisah oleh kawasan perairan menjadikan kawasan ini dominan dengan wilayah maritim. Warisan geografis bentang alam Kaimana begitu beragam dari Kawasan daerah teluk, rawa, hutan yang lebat, bukit, pegunungan dan hamparan pesisir pantai yang memanjang yang berhadapan dengan Laut menjadikan juga Kaimana sebagai kerajaan surganya ikan.

Bila selama ini hanya sebatas senja indah di Kaimana orang terlalu ramai memperbincangkanya, maka sudah sepantasnya kaum muslimin ummat ini berandil mengulurkan tangan dan jiwa kedermawananya untuk menyiapkan terangnya lentera fajar hidayah dari ujung ufuk timur tanah cendrawasih. Maka kelak asa harapan itu tak ada yang mustahil, kenangan masa lalu kejayaan Kaimana akan terbit kembali bersama para pewaris generasi gemilang ummat ini. Wallahu Musta`an.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Wisuda Santri Pesantren Al-Itqan Tahun 2023, Ingatkan Sejarah Air Mata Perjuangan

Hari penuh sejarah dan makna dalam acara wisuda yang digelar di halaman Pesantren Al-Itqan angkatan ke-IV pada (11/06/2023).

Membuka pengantar acara istimewa wisuda Pesantren Al-Itqan Angkatan ke-IV periode 2019-2023, Ketua Yayasan Tanmia Foundation, Ustadz Bukhari Abdul Muid,Lc dengan penuh syukur bahagia menyampaikan petuah pesan-pesan bermakna sebagaimana nasihat emas yang ditinggalkan para salaf.

Tahun ini sebanyak 18 santri wisudawan dari berbagai daerah asal wilayah, mulai dari Aceh Tamiang NAD, Tanjung Balai Sumatera Utara, Bekasi Jawa Barat, Banyumas dan Pekalongan Jawa Tengah, Lamongan Jawa Timur, Sumenep Jawa Timur, Poso Sulawesi Tengah,
Mataram dan Bima NTB, dan Labuan Bajo NTT.

Mengawali pembukaan sambutan wisuda kali ini, Ustadz Bukhari Abdul Mu’id mewasiatkan beberapa nasihat untuk para wisudawan, pertama untuk terus menuntut ilmu bahwa ilmu bak lautan yang tak bertepi sehingga bagi santri maupun siapapun tidak ada kata berhenti untuk terus belajar. Tetap memiliki azzam kuat untuk melanjutkan perjalanan belajar hingga nantinya ketika selesai ia mampu menjadi sosok da’i yang hebat harapan ummat untuk memberi kepada ummat ini dari ilmu yang bermanfaat.

Jangan merasa cukup dengan apa yang sudah dihafalkan dan didapatkan apalagi baru saja sebait dan sebaris yang baru didapat di Pesantren. Sebagaimana pepatah, kalau tidak memiliki sesuatu bagaimana mampu bisa memberi ? sebagaimana bila kita fakir bagaimana kita bisa mampu memberi sesuatu dari harta kita terbaik untuk ummat ini.

Ke-dua, ilmu yang didapat berusaha untuk dapat mengamalkanya secara istiqomah. Kerena keberkahan ilmu adalah dengan mengamalkannya. Ke-tiga, menjaga nama baik diri sendiri dimana pun dan kapanpun dirinya berada ditempatkan. Sebagaimana perkataan Ulama Imam Hasan Al-Bashri Rahimahullah, barangsiapa menuntut ilmu dan Qur’an ikhlas semata-mata karena Allah maka akan terlihat kekhusyukan pada pribadinya, zuhud sederhana dalam hidupnya, bisa mengontrol emosinya dan berhati tawadhu’ rendah hati sikapnya.

Adapun yang terakhir ke-empat, menjaga nama baik pesantren. Bahwasanya berdiri menjulang kokohnya tiang-tiang bangunan pesantren ini telah dibangun atas jerih payah perjuangan para muhsinin donatur dan juga cucuran keringat air mata para santri serta para asatidzah pengasuhnya. Berapa banyak pengorbanan yang telah dikorbankan dari keringat yang mengucur ketika gotong-royong mengecor tiang beton, belum lagi berapa keluh kesah berapa pasang sandal yang putus ketika jalan bahu-membahu mengangkat material dan menahan demam rasa sakit ketika harus sabar dalam semua prosesnya belajar di pesantren. Hal inilah yang selalu tak bisa dilupakan dalam merintis impian dan tangga perjuangan membangun kemajuan pesantren selama ini.

“Pesantren ini telah dibangun dengan keringat dan air mata perjuangan para donatur juga para santri. Semoga dengan menjaga nama baik pesantren ini adalah batu loncatan kemajuan pesantren ini lebih baik di masa depan”, pungkas harapan Ustadz Bukhari Abdul Muid mengakhiri sambutanya.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Wakaf buku

Wakaf Referensi Buku Da`i Untuk Kaderisasi Peduli Generasi

 

Wakaf bukuPermasalahan keterbatasan koleksi referensi buku untuk para da`i di pelosok tanah air masih menjadi kendala dilema klasik. Kendati dunia digital dan informasi hari ini memudahkan untuk pencarian sumber referensi namun tidak serta merta bisa menggantikan peran utama fungsi dari keutamaan referensi buku yang sebanding.
Sejak beberapa tahun terakhir, Tanmia Foundation melalui program wakaf buku referensi da`i telah mengirimkan beberapa paket literasi da`i ke berbagai daerah di tanah air, dengan melewati berbagai proses dan rentang waktu yang panjang. Penutup diujung Syawal 1444 H ini paket wakaf buku referensi da`i dan al-qur`an tiba di berbagai daerah diantaranya, Pesawaran Lampung dan Toraja Sulawesi Selatan.

Wakaf ini menyasar para da`i untuk mendukung proses kegiatan pembelajaran yang sebagian besar mengelola pendidikan di daerah masing-masing seperti Taman Pendidikan Qur`an (TPQ) atau semisalnya. Salah satu tujuan di daerah Lampung tepatnya di Rumah Belajar Bimbingan Al-Qur`an (Rumbelqu) Negeri Sakti, Kabupaten Pesawaran yang sudah berdiri sejak 2019.

“Buku referensi da`i sangat penting dibutuhkan para da`i untuk membantu kegiatan majelis ta`lim di masyarakat dan kegiatan dinniyah anak-anak TPQ yang kami selenggarakan. Berdirinya rumah belajar bimbingan al-quran (Rumbelqu) ini juga dalam rangka membiasakan budaya gemar membaca dan semangat menuntut ilmu sehari-hari”, kata Ustadz Saif Hidayatullah saat menerima buku wakaf dari Tanmia Foundation (17/05/2023).

Wakaf buku

 

“Peran kebiasaan keluarga sangat penting untuk melatih kebiasaan anak-anaknya gemar membaca,” tambah Saif pengasuh Rumbelqu. Saif juga mengatakan, peran penting buku dan da`i /pengajar sangat menunjang keberadaan Rumbelqu ( Rumah Bimbingan Belajar Al-Qur`an) dalam menyelenggarakan beberapa kegiatan diantaranya : belajar baca tulis al-qur`an, tahsin, tahfidz, bimbingan bahasa arab dan inggris dan dinniyah dasar keislaman yang semuanya dalam rangka memfasililitasi masyarakat agar terbentuk generasi qur`ani dan lingkungan kehidupan masyarakat yang berakhlaq.

Di tempat yang lain, kondisi serupa di TPQ Nur Hidayah yang berada Tana Toraja tepatnya di Dusun Gandang Batu Silanan juga mengalami keterbatasan buku referensi dan koleksi buku bacaan . Hal ini berdampak pada pasang surutnya kegiatan TPQ yang saat ini masih terus berjalan. TPQ Nur Hidayah yang berjarak 1 jam perjalanan dari Makale, pusat ibukota Tana Toraja ini berada di dusun perbukitan yang saling berjauhan satu sama lain antar pemukiman warga.

Sebagian besar TPQ yang ada juga berjalan secara turun-temurun, hanya mengandalkan kaderisasi berbasis masyarakat sekitar. Begitu juga animo perhatian masyarakat akan belajar di TPQ makin menurun sehingga menyebabkan kaderisasi ini makin terseok. Mirisnya juga, anak-anak sekarang hidup di zaman yang berbeda dengan dihadapkan pada lebih banyak godaan. Saat ini, kehadiran gawai, internet, game, dan produk-produk teknologi digital menghadang di depan mata 24 jam sehingga semakin menggiurkan. Nur Hidayah juga menilai semangat orang tua untuk memberikan pendidikan agama yang lebih baik pada anak-anaknya masih sangat minim. Artinya, ada banyak motif yang menyebabkan kaderisasi anak-anak terlambat bahkan tergerus.

Wakaf buku

Selain memberikan paket wakaf buku referensi da`i Tanmia Foundation juga menyerahkan wakaf qur`an yang diterima langsung oleh Nur Hidayah, pengelola TPQ setempat pada (16/05/2023). “Alhamdulillah, wakaf buku dan al-qur`an ini sebagai bagian amal shalih dan dapat diartikan sebagai ilmu jariyah yang bermanfaat karena akan berguna untuk sarana belajar dan insyaallah pahalanya terus mengalir selama buku tersebut bermanfaat,” tandas Nur Hidayah.

Hari-hari sebagai petani kopi Nur Hidayah tak segan-segan untuk meluangkan sebagian waktunya untuk mengajar ngaji bagi anak-anak dusun disekitarnya. Kegiatan rutinitas mengajar TPQ yang sudah berjalan bertahun-tahun ini adalah bagian yang tidak bisa terpisahkan dari nafas perjuanganya mengajar anak-anak.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Sekolah Al Huffazh

Wakaf Qur’an Untuk Sekolah Al Huffazh, Jadikan Anak-anak Shalih Itu Prioritas

Sekolah Al Huffazh

Memperluas kebaikan dengan mengalirkan jariyah lewat wakaf qur’an adalah kemuliaan yang tak berulang lagi datang bila kesempatan itu terlewat.

Jelang penghujung Syawal ini Tanmia Foundation menyalurkan wakaf qur’an untuk para peserta didik di SDIT Al-Huffazh Kota Payakumbuh, Sumatera Barat diawal mulai masuk sekolah usai lebaran hari raya pada ( 09/05/2023).

Ustadz Hasby, salah satu staff pengajar sekolah yang menerima simbolis pembagian wakaf qur’an menjelaskan bahwa semua proses pendidikan terhadap anak-anak peserta didik berdasarkan nilai-nilai Qur’an. Visi dan misi yang dimaksudkan untuk menanamkan akhlak yang mulia pada setiap jiwa anak-anak.

Kegiatan belajar mengajar selama ini cukup komprehensif yang memadukan kurikulum antara pendidikan berbasis keislaman dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan pendidikan sains umum yang relevan.
Wakaf al-quran
“Alhamdulillah, kepedulian dan dukungan perhatian terhadap pendidikan Qur’an terus tumbuh berkembang berdatangan untuk anak-anak peserta didik kami salah satunya dengan wakaf Qur’an yang diberikan dari para muhsinin Tanmia Foundation untuk penyelenggaraan pendidikan di sekolah Al-Huffazh tempat kami. Semoga menjadi ladang jariyah yang tak pernah putus sampai jannah ,” ucap syukur Ustadz Hasby.

Ia mengatakan, nilai-nilai agama harus menjadi dasar pondasi untuk anak-anak sejak dini. Dimanapun dan kapanpun harus bisa diamalkan semampunya nilai keagamaan yang telah didapatkan baik dari sekolah maupun lingkungan keluarganya yang terdekat.

Anak-anak yang dididik dan dilatih mengaji serta beragam kegiatan lainnya dalam rangka melahirkan anak yang sholeh, cerdas dan terampil. Ini bagian dari menyiapkan mental pendidikan anak-anak bangsa ditengah krisis degradasi akhlak yang kian memburuk di tanah air yang sering terdengar berseliweran di beranda media informasi.

Sekolah Al Huffazh 2

Ia menambahkan, jika dasar agama anak-anak sejak dini kuat, maka mereka juga diharapkan akan lebih kuat menghadapi beragam masalah nantinya.Ia penuh doa berharap, setiap nilai-nilai Qur’an yang diajarkan di sekolah menjadi pijakan utama sebagai pendidikan karakter. Dengan pendidikan qur’an dan iman yang diberikan para guru, anak-anak akan menjadi anak yang lebih santun beradab, menghargai orang lain, serta menghormati yang lebih dewasa.

Sekolah Al Huffazh

“Saya berharap, menjadikan anak-anak yang shalih adalah program prioritas. Jika tidak, maka percuma anak-anak diberikan berbagai fasilitas dan dukungan kemajuan teknologi tinggi-tinggi tapi pada akhirnya tidak berbakti kepada kedua orangtua baik semasa hidup hingga meninggal tutup usia tidak mampu didoakan. Jadi, nilai-nilai Al-Qur’an adalah unsur prioritas pilihan utama yang didahulukan untuk ditanamkan pada anak yang kita cintai,” pungkasnya.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Wakaf quran

Syawal Berkah, Berbagi Wakaf Quran Untuk Anak-Anak Sekolah Nunusan

Atmosfir suasana Ramadhan baru saja beranjak pergi sesaat. Sepekan Syawal yang terlewat seyogyanya menjadi bekal energi semangat kebaikan agar istiqomahnya hati semakin menyuburkan rindangnya pohon keimanan dalam taman-taman ketakwaan. Lembaran- lembaran baru amal kebaikan juga semakin kokoh tersusun usai datangnya malam-malam Ramadhan yang penuh kemuliaan. Acara berbagi bingkisan lebaran dan wakaf quran Tanmia Foundation sejenak memecah jeda keheningan suasana anak-anak sekolah di Kelas Filial SDN 004 Rantau Langsat, Dusun Nunusan pedalaman Suku Talang Mamak, Indragiri Hulu Riau pada ( 29/04/2023 ).

Suasana bahagia anak-anak pun pecah tertumpah di suasana Syawal usai liburan lebaran. Sepotong baju baru dan bingkisan quran menjadi hadiah yang berkesan. Memang nilainya tidak seberapa tapi sedikit niat kebaikan telah mampu mempertemukan raut-raut wajah bahagia anak-anak Nunusan yang biasanya diselimuti sunyi di pinggiran Sungai Batang Gansal.

Kondisi sekolah yang sederhana ala kadarnya adalah tempat istimewa untuk anak-anak tetap semangat belajar. Meskipun keberadaan sekolah terbilang terisolir di Kawasan rimba Taman Nasional Bukit Tiga Puluh tapi tak menghalangi siapapun yang datang untuk sudi terpanggil nuraninya bersedia mengajar ke sekolah. Kendati guru yang ada datang pun silih berganti-ganti dari tahun ke tahun, karena hanya sedikit saja guru yang bisa betah untuk tinggal dalam waktu yang cukup lama.

Wakaf quran

Keluh kesah bersama ujian dan tantangan kesulitan bercampur aduk menghadang setiap para guru pengajar yang datang tanpa jeda. Itulah realita dan ujian pengabdian mengajar di pedalaman bak peribahasa “Tetaplah tegar meski yang lain berguguran. Tetaplah tersenyum meskipun perjuangan ini terasa pahit dan berliku.” Medan tempuh yang sulit dan letak dusun yang terpencil menjadi alasan utama banyaknya guru undur diri untuk absen tidak datang. Mereka yang bertahan adalah pilihan satu-satunya jalan keikhlasan dan kesabaranlah yang membuat tekad dan yakin itu kuat sehingga teranglah cahaya asa harapan.

“Jika tiap hari berjalanya proses belajar dan mengaji menyenangkan, anak-anak akan cinta untuk belajar, dan harapan ke depan anak-anak menjadi rajin dan semangat belajar,” jelas Asep salah satu guru pembantu ngaji anak-anak di Nunusan.

Untuk menuju dusun Nunusan, jalur yang mudah bisa dilewati yakni hanya jalur sungai. Perjalanan pun bisa ditempuh dengan sampan mesin. Jika air sedang tinggi, perjalanan bisa ditempuh dalam waktu 1-1,5 jam. Akan tetapi saat surut musim kemarau, ketika debit air sedang berkurang, maka dibutuhkan waktu sekitar 3-4 jam untuk sampai ke dusun tersebut. Sedangkan jika harus terpaksa jalan kaki harus melewati jalanan tengah hutan selama 4-5 jam.

Hanya ada belasan anak-anak saja yang masih mengenyam bangku belajar di sekolah kelas Filial ( Jarak Jauh ) ini yang terbagi dua, yakni kelas atas dan kelas bawah. Mereka adalah yang belajar dari kelas 1 sampai kelas 5 saja disini, setelah itu ditahun terakhir kelas 6 mereka harus pindah bergabung ke SD Induk untuk mengikuti ujian terakhir hingga lulus. Semoga jarak yang terpaut tak menyurutkan mereka untuk berhenti terus belajar dan bersama ujian kesabaran terbukalah jalan kemudahan seiring dengan ruh quran yang terus ditanamkan. Wallahu Musta’an.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Ramadhan Semaikan Pilar-pilar Dakwah Di Pedalaman Suku Talang Mamak

Lebatnya hamparan rimba di sepanjang aliran sungai Batang Gansal yang membelah kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh menyambut rombongan safari kafilah dakwah Ramadhan Senyumkan Talang Mamak, tepatnya di Dusun Air Bomban dan Sadan, Kecamatan Batang Gansal Kabupaten Indragiri Hulu, Riau (3/4/2023).

Hening dan sunyi bersama gemericik aliran sungai mengiring perjalanan ke pedalaman pemukiman penduduk Suku Talang Mamak. Curah hujan tropis yang sering turun membuat bagian kanan-kirinya membentang kawasan rimba pegunungan dengan pepohonan liar tinggi menjulang.

Menuju pemukiman warga Suku Talang Mamak bolehlah dikatakan tidaklah mudah dan sarat perjuangan. Hanya ada 2 pilihan, akses transportasi sungai dengan menggunakan perahu kayu (board )selama 3-4 jam atau kedua menyusuri jalanan kaki setapak selama 7 jam perjalanan.

Belum ada jalanan kendaraan yang menyambungkan secara khusus ke perkampungan ini jika benar-benar ingin ke pusat keramaian seperti pasar dan kota kecamatan, sehingga pilihan jalur sungai menjadi sebuah pilihan yg memudahkan daripada berjalan kaki menyusuri rimba seharian berjam-jam lamanya.

Bersama mengisi keutamaan hari-hari Ramadhan Tanmia Foundation menyerahkan bantuan wakaf Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) untuk menerangi masjid dan rumah da’i di Dusun Air Bomban Suku Talang Mamak (5/04/2023).

Bertahan hidup turun-temurun generasi tanpa listrik adalah hal yang biasa. Apalagi saat malam tiba, mereka hanya mengandalkan sebatang lilin atau pelita lampu minyak seadanya.

Sejauh apa pun perkampungan Suku Talang Mamak, seberat apapun kehidupan mereka, mereka tak berbeda dengan kita yang tinggal di perkotaan atau pulau lainnya. Mereka tetap diatas tanah air Indonesia. Bertahan hidup tanpa penerangan dan jaringan tak membuat mereka lantas menyerah begitu saja untuk merengkuh cita-cita dan impian. Mereka dengan penuh keyakinan untuk bangkit dengan asa menyemai benih pendidikan, inilah awal mula berdirinya sanggar belajar Sadan, sekolah pertama satu-satunya anak-anak Talang Mamak yang berdiri sejak tahun 2007.

Anak-anak dan masyarakat yang bahu-membahu berjuang mendirikan masjid dan sekolah demi mendapatkan pendidikan dan berharap setiap waktu agar anak-anak mereka bisa duduk belajar untuk mereguk ilmu sebagaimana di tempat lainya yang mengeyam bangku belajar ke sekolah tiap harinya. Tak banyak memang jumlah guru yang bertahan maupun da’i yang bisa membersamai, tetapi lewat nyala semangat perjuangan sampai saat ini tetaplah ada saja berdatangan silih berganti kendati untuk sementara waktu saja. Semua itu tidak lain atas panggilan keimanan dan ghirah membangun tali persaudaraan.

“Alhamdulillah atas karunia nikmat-Nya, kehadiran para guru dan da’i untuk berbagi ilmu sangat membantu perkembangan perkampungan kami dalam membangun impian cita-cita harapan anak-anak kami selama ini “, ucap Abah Yahya salah satu tetua Suku Talang Mamak akrab dipanggilnya.

Berharap optimis syi’ar dakwah di pedalaman tanah air dapat melaju bak sinar mentari pagi yang menyinari lapisan tanah bumi seutuhnya. Perlahan bertumbuh seiring dengan pesatnya kemajuan globalisasi dan digitalisasi.

Ramadhan kali ini telah menggerakkan kebaikan setiap pribadi untuk meraih keutamaan nilai-nilai ibadah istimewa bersama naungan berkah Ramadhan yang tiada habisnya. Saatnya sekarang ini untuk mengisi hari-hari amaliyyah Ramadhan sebagai sebaik-baiknya bulan tanpa ada lagi kata menunda maupun terlambat. Inilah saatnya menyemai benih menanamkan pondasi iman dalam menguatkan pilar-pilar syi’ar dakwah di pedalaman. Barakallahufiekum.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Santri Pesantren Al-Itqan Semarakkan Kegiatan Ramadhan di Banjarnegara Jateng

Mengawali semarak Ramadhan tahun 1444 H segenap santri kelas akhir pesantren al-Itqan, Kranggan Bekasi mengadakan kegiatan serambi Ramadhan diberbagai Masjid di wilayah Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah pada (23/03/2022. Para santri pun telah tiba di lokasi beberapa hari sebelum Ramadhan tiba untuk mempersiapkan kegiatan yang akan berlangsung selama sebulan penuh.

Program serambi Ramadhan ( Semarak Ramadhan Dengan Berbagi ) ini terselenggara atas kerjasama antara pihak pesantren dengan Balai Dakwah Al-Qomar Banjarnegara Jawa Tengah. Kegiatan santri kelas akhir ini cukup beragam dari menjadi imam tarawih, mengajar TPQ, pesantren kilat , kultum dan pengajian serta khatib jum`at yang akan ditempatkan di berbagai titik-titik lokasi masjid masyarakat dan perkampungan.

Tujuan diadakanya kegiatan ini adalah bagian pendidikan tarbiyah untuk para santri dalam rangka membersamai ummat dengan terjun ke masyarakat langsung untuk membumikan syi`ar nilai-nilai akhlak dan al-qur`an terlebih didalam keutamaan bulan suci Ramadhan sebagai bulan diturunkanya Al-Qur`an. Kegiatan ini juga menjadi sarana mendidik mental dan kepribadian para santri dengan nilai-nilai keshalihan, keimanan, kemandirian, kepemimpinan dan bertanggung jawab serta penghubung komunikasi kepada masyarakat untuk mengenal dunia pesantren.

“Alhamdulillah, kegiatan Serambi Ramadhan adalah kegiatan rutin tahunan Balai Dakwah Al-Qomar Banjarnegara yang pada kali ini bersama para santri kelas kelas akhir Pesantren Al-Itqan. Semoga kegiatan ini berjalan lancar sesuai dengan yang diharapkan,” ucap Ustadz Yudhistira sebagai panitia Serambi menerima kedatangan rombongan santri di lokasi.

Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 18 santri kelas akhir dimana sebelum diberangkatkan ke lokasi tugas masing-masing para santri telah mengikuti program pelatihan dan pembekalan agar memudahkan kelancaran kegiatan dan kordinasi selama acara berlangsung. Santri yang ditugaskan ditiap masjid berjumlah 1 atau 2 orang dengan secara bergilir akan ditemani pendamping dari pihak panitia.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Di Blitar Kota Bersejarah Bung Karno, Peran Da’i dan Pesantren Mengisi Sejarah Dakwah

“Tujuan saya pulang kampung setelah kuliah hanya ingin mencerahkan dan melihat anak-anak penerus dapat mengenyam dunia pendidikan agama lebih baik dengan memiliki akhlak mulia, sekalipun di daerah pelosok.” Begitu ucapan yang keluar dari seorang sosok guru sekaligus da’i bernama Ustadz Amin asal Blitar saat kunjungan safari dakwah jajaran pengurus Tanmia Foundation di Blitar, tepatnya di Kanigoro (2/3/2023).

Selesai menyelesaikan jenjang pendidikan syari’ah di LIPIA pada 2003, Ustadz Amin panggilan akrab disapanya mengabdikan diri untuk menjadi guru di Pesantren Nurussalam, tepatnya di Lodoyo Sutojayan Kabupaten Blitar.
Selain mengajar di pesantren ia pun aktif kegiatan dakwah di masyarakat dengan rutin mengajar masyarakat terutama di beberapa daerah binaan di wilayah Blitar bagian selatan.

Lebih lanjut, Ustadz Amin menuturkan perkembangan dan perubahan masyarakat setelah masuknya dakwah di titik-titik daerah pelosok Blitar bagian Selatan juga telah mengubah tingkat kesadaran akan pentingnya pendidikan terlebih pada nilai-nilai keimanan dan keislaman. Begitu juga kesenjangan kesejahteraan ekonomi pun berubah dimana daerah yang dulunya tandus dan kering kini berubah menjadi lahan produksi tanaman perkebunan seperti tebu misalnya, itu juga telah mengubah nasib penghidupan masyarakat menjadi lebih baik.

Dari pertemuan singkatnya tentang kelamnya proses perjalanan dakwah di wilayah bagian selatan Blitar tak luput juga dari sisa-sisa sejarah kelam gerakan PKI tahun 1965 yang pernah terjadi di kawasan daerah itu. Basis masyarakat awam yang dijadikan titik pengumpulan simpatisan dan dukungan gerakan laten komunisme anti NKRI oleh oknum sisa-sisa PKI yang melarikan diri ke daerah tersebut. Daerah Blitar Selatan menjadi daerah tujuan persembunyian dan membangun basis massa tentu telah melewati berbagai pertimbangan pihak mereka.

Kondisi geografis Blitar bagian Selatan yang berupa perbukitan dan tandus dirasa sesuai untuk digunakan sebagai tempat aman untuk persembunyian. Keadaan masyarakat yang jauh tertinggal secara ekonomi waktu itu dirasa membuat masyarakat tidak terlalu menganggap hidup dengan tatanan beragama menjadi sebuah keyakinan yang sakral secara ritual menjadi suatu prioritas utama yang dipegang kuat dalam kehidupan sehari-hari. Istilah ini boleh dibilang identik dengan dominan lingkungan kaum
abangan.

Kiprah santri dan da’i pesantren yang berlangsung bertahun-tahun membina masyarakat di kawasan Blitar bagian selatan berangsur-angsur memberikan pencerahan tentang kesadaran beragama dan tentunya juga membersihkan dari sisa-sisa paham komunisme. Kendati perkembangan zaman telah berubah lebih baik dari masa-masa sebelumnya akan tetapi tantangan akan tetap terus ada sebagaimana kepercayaan masyarakat yang telah dulu ada mereka anut sebelum-sebelumnya seperti tradisi, ritual, adat, dan budaya warisan nenek moyang. Memang sulit untuk menghilangkan pengaruh dari keyakinan-keyakinan sebelumnya secara total dalam kehidupan sehari-hari karena sudah mengakar turun-temurun, akan tetapi dalam praktiknya, proses dakwah para da’i dan santri pesantren yang terus berkembang telah memberikan warna hidup babak baru untuk mengenalkan islam secara positif tahap demi tahap prosesnya.

Kiprah da’i dan pesantren di Blitar yang secara kultural memiliki kedekatan dengan titah para Kyai Pesantren sejak jaman dahulu merupakan unsur penting dalam dinamika historis perkembangan dakwah terutama di daerah Blitar sebagai kota bersejarah dengan merekam berbagai peristiwa penting baik sosial budaya, ekonomi maupun politik. Begitu juga dengan sejarah mendiang Sang Proklamator Presiden RI pertama Ir Soekarno juga memiliki catatan sejarah yang diabadikan dalam museum hingga makam terakhir peristirahatannya.

Perkembangan kiprah da’i dan pesantren di Blitar memiliki peran utama, terutama dalam menyelenggarakan kegiatan pendidikan berbasis keislaman kepada para santri maupun juga menjalankan peran-peran dakwah di dalam kehidupan sosial masyarakat di sekitarnya. Memang awal perjalanan dakwah yang terjal bagi para da’i dan guru agama Islam di
madrasah, langgar ataupun masjid dari satu kampung ke kampung lainya belum lagi target ancaman misi misionaris dari pihak luar seiring
berjalannya waktu.

Kisah perjalanan dakwah masa kemerdekaan hingga sekarang ini tentu saja tak pernah lupa dengan tragedi tahun
1965 yang menorehkan luka mendalam diharapkan tidak terulang kembali lagi. Cukup menjadi rekaman sejarah yang bisa diambil hikmahnya oleh seluruh elemen bangsa. Sentimen pertentangan ideologi anti NKRI dan anti islam bisa dilewati dengan benteng perjuangan dakwah kiprah da’i dan pesantren
sebagai proses memasukkan keutamaan nilai-nilai islami dalam kehidupan masyarakat.

Salah satu keberkahan dan tolak ukur keberhasilan ialah tolak dengan didirikannya pesantren Nurus Salam Lodoyo Sutojayan juga Pesantren cabang Lirboyo di Bakung bersama masyarakat setempat. Masuknya nilai-nilai keislaman atau Islamisasi secara kultural melalui pondok pesantren diharapkan dapat menguatkan akidah masyarakat sehingga mampu memfilter ideologi-ideologi yang bertentangan dengan ajaran Islam dan juga bertentangan dengan sisa-sisa laten komunisme masa itu. Inilah salah satu peran penting pesantren dalam sejarah perjalanan bangsa ini adalah keterlibatannya dalam perjuangan melawan penjajah.

Lebih lanjut, Ustadz Amin menuturkan kegiatan pendidikan dan dakwah yang mengedepankan kualitas ilmu dan adab juga telah mengubah keadaan suasana kesadaran masyarakat perkampungan di wilayah Bagian Blitar Selatan. “Peran da’i dan guru kampung biar sederhana ini sangat penting dalam menjaga umat,” pungkas Ustadz Amin sembari menerima wakaf mushaf Al-Qur’an dari Tanmia Foundation.

 

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Pesantren Ar-Royyan 4

Perkuat Silaturahmi, Tanmia Foundation Adakan Kunjungan Ke Pondok Pesantren Ar-Royyan dan Tremas Pacitan

Pesantren Ar-Royyan 4

Segenap jajaran pengurus Tanmia Foundation bersama Pengasuh Pesantren Al-Itqan Bekasi Ust Rofiq Hidayat, Lc mengadakan safari dakwah ke wilayah jalur lintas selatan Jawa Timur, salah satunya ke Pesantren Ar-Royyan Gunung Cilik Kebon Agung, Pacitan ( 1/03/2023 ).

Kedatangan rombongan disambut oleh pengasuh pesantren Ar-Royyan Ust Herry Trisdiyanto, Lc dengan segenap pengurus pesantren setempat. Dalam beberapa poin kesempatan silaturahim tersebut yaitu bertujuan menjalin sinergi kerjasama tentang perkembangan pendidikan pesantren dan dinamika problematika dakwah di lapangan. Dunia dakwah dan pendidikan pesantren adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan karena secara mendalam salah satu program unggulan yang bisa diwujudkan ialah bentuk khidmat untuk ummat dengan pengabdian kepada masyarakat. Inilah pentingnya pesantren dan lembaga dakwah menjalin sinergitas dengan berbagai kalangan.

“Menjalin Silaturahmi ke pelosok daerah bertemu para alim ulama dan da’i lapangan adalah bentuk menguatkan ukhuwah dan ruang mempererat sinergitas dalam membangun jalan dakwah bersama pesantren sebagai basis pendidikan non formal dan secara nyata bisa menjadi solusi dalam banyak hal salah satu diantaranya melalui santri pengabdian yang ditugaskan di masyarakat”, jelas Ustadz Rofiq dalam prolog muqaddimah ta’aruf pembicaraan nya.

Sementara Ust Herry Trisdiyanto, selaku pengasuh Pesantren Ar-Royyan mengungkapkan salah satu sisi menarik tentang program dakwah di wilayahnya dimana kiprah pesantren yang tengah berjalan ialah dakwah berbasis pada pembinaan masyarakat melalui program Ta’limul Quro’ ( mengajar ngaji ke desa-desa ). Berbagai jenjang usia yang antusias mengikuti selama kurun 3 tahun terakhir ialah mulai dari anak-anak, remaja, dewasa dan lansia yang sudah tersebar di berbagai titik pedesaan di wilayah Pacitan. Tenaga pengajar yang siap diterjunkan ialah para santri yang sedang mengikuti program pendidikan dengan jadwal yang sudah disesuaikan waktunya.

Kilas kegiatan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pesantren Ar-Royyan adalah program pendidikan selama 2 tahun dengan jenjang pesantren tinggi yang fokus pada menghafal Al-Qur’an dan dan konsentrasi pada ilmu syar’i khususnya Fiqih Madzab Syafi’i.

Strategi pendekatan dakwah islam pada masyarakat yang bertumpu pada ilmu dan adab sangat penting untuk menjadi ciri khas pesantren dan berikut para santrinya. Dengan keikhlasan dan perjuangan para ulama sebagai pewaris dakwah para nabi memiliki visi dan misi yang sama yaitu dakwah islamiyah untuk satu kata tujuan yang sama yakni keridhoan Allah semata bukan untuk kepentingan golongan maupun kekuasaan apapun.

Agenda penutupan waktu safari dakwah Tanmia Foundation di Pacitan juga tak luput untuk singgah di Pesantren Tremas, Arjosari.
“Tremas itu adalah salah satu pondok pesantren tertua di Indonesia yang sudah berdiri sejak 1820. Kawasan desa kecil bernama Tremas Arjosari kini menjadi kawasan lingkungan pesantren yang bersejarah melegenda. Begitu juga Pesantren Tremas juga tak luput dari banyak karya literatur kitab peninggalan Syaikh Mahfudz at-Tarmasi ulama kharismatik asal Tremas ini yang berkiprah di Timur Tengah dengan segudang ilmunya yang sampai saat ini pun karya-karyanya masih digunakan disana.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Wakaf Lampu Tenaga Surya, Cahaya Syi’ar Dakwah Untuk Pulau Simuk Nias Selatan

Merasakan sebagai masyarakat urban perkotaan dengan melesatnya perkembangan teknologi dan informasi serba digital menjadikan perubahan jaman dan lingkungan terus berubah sangat cepat bahkan tanpa harus menunggu berlama-lama sehari 24 jam. Pusaran detik dan menit pun bisa berubah tanpa jeda sehingga hiruk pikuk kehidupan populasi manusia dan semua isinya bisa di ibaratkan dengan mudahnya dapat diakses dan digenggam dalam satu klik sentuhan tangan.

Menelisik lebih jauh kedalam masih sangat prihatin dengan kondisi beberapa daerah pelosok tanah air yang masih belum beranjak dari kategori daerah 3T ( Terdepan, Terluar, Tertinggal ). Sebagian besar kondisi berbagai daerah tersebut memang terpisahkan oleh lautan luas karena tanah air nusantara ini dominan kawasan maritim. Jumlah ribuan pulau satu sama lainnya terpaut jauh jaraknya sehingga menjadi faktor kendala dan tantangan dalam proses pemerataan pembangunan yang timpang hingga saat ini. Inilah realita pelosok tanah air yang tidak serta merta mudah membalikkan telapak tangan dalam proses pembangunannya baik fisik wilayahnya maupun penduduk setempat sebagai sumber daya manusia pengisinya.

Dalam rangka mendukung laju kegiatan dakwah di wilayah pelosok tanah air kali ini Tanmia Foundation mengirimkan 3 paket wakaf panel surya LTSHE ( Lampu Tenaga Surya Hemat Energi ) pada penghujung Januari (30/01/2023).

Daerah yang ditujukan masing-masing ialah Pulau Simuk Nias Selatan, Hulu Sungai Batang Gansal Suku Talang Mamak Riau dan Pulau Halmahera Maluku Utara. Diharapkan wakaf panel surya tersebut dapat sampai di lokasi sebelum datangnya bulan Ramadhan tahun 1444 H ini tiba.

Adanya program wakaf perangkat lampu tenaga surya yang masih bergulir dari tahun ke tahun dari Tanmia Foundation diharapkan ikut menyambung kontribusi untuk menunjang kemajuan fasilitas pendukung pendidikan dan syi’ar dakwah di pelosok dengan segenap kemampuan yang ada. Bersama dengan elemen ummat bergerak bahu membahu membangun jalanya dakwah di pelosok tanah air adalah salah satu bagian mensukseskan program pembangunan baik fisik maupun non fisik demi terwujudnya perbaikan masyarakat dan peradaban yang lebih baik untuk izzul Islam wal muslimin.

Daerah khusus yang diprioritaskan pengiriman lampu panel surya Tanmia Foundation kali ini terbilang daerah-daerah terisolir di tengah lautan, inilah salah potret kehidupan pelosok Pulau Simuk, sebuah pulau di tengah Samudera Hindia di penghujung bagian Nias Selatan. Program wakaf panel surya ini juga melanjutkan kegiatan Tanmia Foundation yang sudah sejak 2019 telah mengadakan kegiatan Safari Dakwah di Pulau Nias ketika itu sebagai salah satu pulau terluar Indonesia di wilayah bagian Provinsi Sumatera Utara.

Menelisik lebih dalam kegiatan mata pencaharian warga pribumi asli Pulau Simuk yang sudah turun temurun adalah nelayan dan petani. Tatanan kehidupan sosial masyarakat satu sama lain masih saling bertautan tali kekerabatan kendati disini dalam satu keluarga masih beragam berbeda keyakinan agama. Kaum muslimin termasuk minoritas di Simuk akan tetapi kehidupan antar umat beragama tetap berjalan dengan harmonis menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dg batasan-batasannya. Dan baru saja beberapa tahun terakhir ini juga Pulau Simuk menjadi wilayah kecamatan pemekaran baru menjadi Wilayah Kecamatan Pulau Simuk setelah sebelumnya menjadi wilayah Kecamatan Pulau-pulau Batu Nias Selatan.

Masih ada sebagian besar warga asli tidak memilih hidup di tengah hiruk pikuk kota besar, padahal bukan tidak mungkin lebih menjanjikan ekonomi dengan pendapatan yang lebih besar, dan kehidupan lebih layak berdasarkan standar umum. Sebutlah, Ismail Garamba salah satu guru pewaris TPQ Masjid At-Taqwa Pasar Biduk Pulau Simuk ia lebih memilih untuk menetap dan menjadi guru sukarela di kawasan pedalaman Simuk.

Diluar kegiatannya mengajar sebagai honorer sekolah ia membuka TPQ untuk pendidikan anak-anak. Perkembangan pendidikan masih terbilang sangat sederhana dan bisa terbilang tertinggal untuk ukuran saat ini. Bangunan sekolah terlihat tua termakan usia. Sekolah hanya ada beberapa saja dan sarana ibadah pun terbatas. Belum lagi jaringan listrik disini hanya mengandalkan genset dalam hitungan jam saja setelah itu sunyi gelap gulita. Akses komunikasi pun terkadang muncul tenggelam hilang jaringannya.

Berdasarkan kondisi lapangan kadang timbul rasa miris keprihatinan dan kepedulian, merasa prihatin dengan sarana dan prasarana penunjang kegiatan dakwah dan pendidikan yang belum memadai.

Selama ini, memang masih banyak daerah di Indonesia, khususnya pulau-pulau terluar dan terpencil yang masih belum mendapatkan akses jaringan listrik dan komunikasi. Salah satunya di Pulau Simuk Nias Selatan. Pulau Nias sendiri termasuk salah satu bagian kabupaten di provinsi Sumatera Utara yang memiliki daerah kepulauan, yang mana ada puluhan pulau tak berpenghuni.

Salah satu kendalanya di Simuk untuk mendapatkan jaringan sinyal terpaksa harus berjalan jauh ke pesisir atau menaiki tempat yang lebih tinggi dulu, untuk bisa berpesan berkomunikasi dengan seseorang yang berada di wilayah lain ataupun sebaliknya saat menerima pesan.

Ismail, sebagai pengajar TPQ, berharap kondisi ini menjadi perhatian khusus berbagai pemegang kebijakan pemerintah daerah, juga semua pihak. Setidaknya, semangat anak-anak Simuk dalam menggapai impian bisa didukung dengan sarana dan prasarana belajar yang memadai.

“Saya sangat berterimakasih pada Tanmia Foundation dan berharap untuk ke depannya, kegiatan TPQ ini terus bertahan dan menjadi pondasi pendidikan bagi anak-anak, sehingga mendorong adanya SDM yang unggul, sarana dan prasarana yang memadai, sehingga visi, misi, dan cita-cita pendidikan bisa tercapai,” ungkap Ismail dalam pesan singkatnya lewat seluler.

Bagi Ismail, mengajar di sekolah dan TPQ seperti menjawab penggilan hatinya. Ia pun mengungkapkan keluh kesahnya sebagai pengasuh TPQ masjidnya, banyak anak-anak di daerah pedalaman yang membutuhkan pendidikan dan bimbingan, tetapi sayangnya masih belum banyak pihak yang datang menjawab solusi kebutuhan mereka.

Salah satu yang menjadikan pendidikan berkembang di suatu daerah ialah kesadaran masyarakat untuk menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dengan di dukung oleh sarana dan prasarana memadai. Inilah bagian realita dakwah di tanah air yang memerlukan sumbangsih nafas panjang. Semoga Allah mudahkan.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id

    × Ahlan, Selamat Datang!