Derai Air Mata Tak Bisa dibendung Untukmu Aceh

Tampak diam dalam raut yg lelahnya disembunyikan dalam-dalam. Tatapan raut mukanya terasa membersamai rakyat Aceh yang masih berkalung duka saat ini. Ada setia dalam hati sebagai pemimpin yang disegani rakyatnya.
Dialah Muzakir Manaf atau lebih dikenal Mualem Gubernur Nangroe Aceh Darussalam tiba-tiba tak kuasa menahan isak tangis keringat air mata sedihnya saat sesi wawancara dg jurnalis senior Najwa Shihab saat bertanya belum ditetapkanya Aceh sebagai Bencana Nasional.
Apa jawab Mualem sosok Gubernur yang nampak dingin pendiam itu.
“Saya hanya bisa berusaha dan berdo’a ,”kata Mualem , yang sejak terjadi bencana siang malam tanpa lelah menjenguk rakyatnya.

Hari-harinya tanpa jeda harus berkeliling mengunjungi rakyatnya yang masih patah luluh lantah, salah satunya ketika helikopter yg dia gunakan mendarat di Aceh Tamiang beberapa hari lalu.
Tak akan berhenti berderai air mata ini setiap melihat langsung kondisi di lapangan tentang setiap hati yang sedang perih dirundung lara.
Hati yang patah berkeping-keping bukan saja tentang apa yg dimiliki hilang lenyap dalam sekejap, dari harta, nyawa, bahkan sanak keluarga dari orang-orang tersayang terdekat dengan kita selama ini.
Setiap langkah kaki siapapun yang masih terpanggil hatinya ia akan kembali untuk menginjakkan kaki di Bumi Rencong Aceh pasca banjir bandang dan longsor yang terjadi dahsyat akhir 26 November 2025 ini.
Mereka yg berdatangan dari berbagai penjuru tanah air ke Aceh bukan hanya untuk sekedar relawan dan sukarela membawa bantuan tapi panggilan jiwa layaknya saudara setubuh yang satu sama lain saling merasakan apalagi saudaranya dirundung sakit maka yang lain ikut merasakan sakit pula. Tak bisa dipisahkan.
Ujian dahsyat bak tsunami kedua bagi Aceh, melihat terjangan lautan banjir yg memporak-porandakan bangunan bercampur hantaman gelondongan kayu yang berserak berhamburan yang tak terhitung lagi jumlah nilai jutaan kubiknya dan tonasenya mampu dihalau.

Air mata siapa yang mampu ditahan bila setiap kali menatap setiap wajah-wajah masyarakat yang sedang susah bingung berkecamuk hebat. Tatapan kosong yang disana terkenang segala apa yang pernah dilewati musnah hilang dalam sekejap. Keluh air mata warga yg tak bisa dibendung lagi disembunyikan dalam-dalam.
Tatapan yang telah menceritakan segalanya, dari lenyapnya harta, kebingungan yang merajalela, hati pikiran beradu berkecamuk dan jiwa yang terguncang hebat tak bisa lagi diceritakan berulang kecuali hanya mengundang rasa pilu air mata yang deras mengalir terus tertumpah bercucuran.

“Kita hanya berserah diri kepada Allah, apa yang ada kita terima dan kita usaha. Kalau kita bergantung ke manusia, kita kecewa. Tapi kalau kita bergantung kepada Allah, ya kita terima semua apa adanya”, tegas Mualem
Pecah tangis Mualem malam itu bukan hanya tangis seorang gubernur. Melainkan itu adalah tangis seorang anak Aceh yg melihat tanah tumpah lahirnya terluka parah, tapi mencoba terus memilih berdiri tegar, memeluk setiap harapan tanpa berhenti menyerah berusaha dan berdo’a dg kesungguhan sebaiknya-baiknya.

Banjir bandang dahsyat yg terjadi memang bukan keinginan dan inilah ujian takdirNya yang pasti banyak hikmahnya. Inilah ujian agar jangkar iman ini harus kuat tertambat di hati tak boleh luluh dan hanyut biarpun seolah langit kehilangan kesabaran menahan gumpalan setiap awan gelap yang sudah berhari-hari menggantung di atas kepala untuk turun menghanyutkan seluruh harta dan nyawa tanpa sisa. Dan apapun yg disapu bersih tanpa sisa di hamparan bumi milikNya semoga Allah ganti dengan berlipat-lipat pengganti yang lebih baik.

Mengawali jalanan ke Aceh hari ini semoga belum terlambat untuk membasuh setiap luka dengan segenap hati yang pilu dan masih patah.
Setiap raut wajah-wajah sedihmu masyarakat Aceh, sedihmu terasa sampai kesini mengiringi sepanjang perjalanan kami menuju Aceh Tamiang. Aceh cepatlah pulih, janganlah menangis lagi. Ayo tolong bantu kuatkan Aceh bangkit kembali. [ Relawan Tanma, Ali Azmi ]








































