Ketika Kayu-Kayu Itu Menjadi Saksi: Alam Yang Berbicara, Manusia Yang Lalai

banjir-bandang-aceh

Perjalanan kami menuju Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, menyuguhkan pemandangan yang menggugah nurani. Sepanjang jalur, tampak tumpukan kayu gelondongan dengan ukuran yang beragam, seakan terdiam, namun menyimpan pesan mendalam.

Sebagian kayu memiliki diameter sekitar 30–40 cm, kira-kira seukuran paha orang dewasa. Ada pula yang mencapai 60–80 cm, setara lingkar badan orang dewasa. Bahkan tidak sedikit kayu raksasa berdiameter ±150–200 cm, sebanding dengan tiga hingga empat badan orang dewasa yang berdiri sejajar. Ukuran-ukuran ini menunjukkan bahwa kayu tersebut berasal dari pohon-pohon besar yang telah tumbuh puluhan bahkan ratusan tahun.

Fakta Media: Dugaan Penyebab Kayu Gelondongan

 

kayu glondongan banjir

Mengutip pemberitaan KASTANANEWS.COM (6 Januari 2026), Bareskrim Polri tengah mengusut keberadaan kayu gelondongan yang diduga menjadi salah satu penyebab bencana alam di Aceh Tamiang.
Irhamni menyampaikan bahwa penyelidikan mengarah pada aktivitas pembukaan lahan di kawasan hutan lindung, hutan lindung serbaguna dan hutan lindung Simpang Jernih.

Penyelidik berupaya mengumpulkan bukti dan informasi guna menaikkan perkara ke tahap penyidikan.
Selain itu, Bareskrim juga mendalami dugaan sedimentasi yang memperparah dampak bencana. Sedimentasi tersebut diduga terjadi karena ketidaktaatan terhadap prosedur lingkungan, khususnya tidak adanya dokumen UKL-UPL.
Dalam ketentuan UKL-UPL ditegaskan bahwa lahan dengan kemiringan di atas 40 derajat dilarang dibuka, karena berisiko tinggi menyebabkan longsor ketika hujan, memicu sedimentasi, dan menimbulkan bencana alam besar.

kayu glondongan banjir

Refleksi Qur’ani: Bisa Jadi Pohon Itu Tidak Ingin Ditebang

Pohon-pohon yang kini menjadi kayu gelondongan sejatinya telah memberi manfaat besar: menguatkan tanah, menahan air, mencegah longsor, dan menjaga keseimbangan alam. Dalam pandangan iman, alam bukan benda mati tanpa makna.
Allah ﷻ berfirman:

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ

“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka.”
(QS. Al-Isrā’: 44)

Ayat ini menegaskan bahwa seluruh makhluk—termasuk pepohonan—memiliki tasbih kepada Allah, meskipun manusia tidak memahami bahasa mereka.

Hadits Pelepah Kurma dan Ibārat Imam an-Nawawi

Rasulullah ﷺ pernah melewati dua kuburan, lalu bersabda bahwa penghuninya sedang disiksa. Beliau kemudian membelah pelepah kurma menjadi dua dan menancapkannya di atas masing-masing kubur, seraya bersabda:

“Semoga diringankan azab keduanya selama pelepah ini belum kering.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, Imam an-Nawawi menjelaskan ibārat-nya sebagai berikut (makna penjelasan):
Bahwa pelepah kurma selama masih basah senantiasa bertasbih kepada Allah, dan tasbih tersebut menjadi sebab diringankannya azab.

Dari sini dipahami bahwa setiap makhluk hidup memiliki bentuk tasbih dan ketaatan, meskipun tidak dapat dipahami oleh manusia.
Ibārat ini menunjukkan, bahwa:
Tasbih makhluk hidup bernilai di sisi Allah,
Tumbuhan bukan sekadar benda mati,
Selama ia hidup dan basah, ia berada dalam keadaan dzikrullah.

Penutup

Jika pelepah kurma saja memiliki tasbih yang membawa keringanan azab, maka pohon-pohon besar yang ditebang tanpa tanggung jawab bisa jadi menjadi saksi atas kelalaian manusia. Kayu-kayu gelondongan itu seakan mengingatkan bahwa alam bukan hanya objek eksploitasi, tetapi amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.
Ketika keseimbangan dilanggar, alam pun berbicara—meski manusia sering kali tidak memahami bahasanya.

Reportase:
Iqbal Subhan Nugraha
Aceh Tamiang, Rabu, 28 Januari 2026

Bazar Pakaian Layak Pakai Tanmia Sukses, Pakaian Terserap Hampir 100%

Wakaf pakaian layak pakai memang susuatu yang sangat diperlukan untuk kondisi – kondisi berat dan sulit pada saat masyarakat tertentu mengalami musibah atau hal lainnya.

Kegiatan ini adalah bagian dari ta’awun saling tolong menolong sesama, seyogyanya barang yang disumbangkan adalah yang masih bagus, baru atau bekas namun masih sangat layak untuk digunakan, sehingga saudara – saudara kita yang mendapatkan kesulitan dapat memanfaatkannya dengan baik dan dengan senang hati, bukan pakaian yang tidak layak sehingga menambah kesedihan mereka yang menerimanya.

Barangkali dari pihak donatur, pakaian baik baru maupun layak pakai tersebut sudah dipersiapkan dengan rapi, bersih bahkan wangi saat dikirim ke lokasi bencana atau lainnya namun panitia di lapangan barangkali kurang cerdik dalam melakukan proses distribusinya, sehingga panitia hanya meletakan karung – karung pakain itu di atas tanah atau di tempat umum tanpa atap sehingga warga yang membutuhkan satu persatu menarik pakaian itu mencari mana yang sesuai dengan dia, anak atau sanak saudaranya, pakaian pun berhamburan keluar dari wadahnya, pakaian yang sudah berhamburan itu akhirnya menjadi tumpukan besar diinjak – injak, menjadi kotor akhirnya ditinggalkan begitu saja, dari pengamatan kami pakaian yang ditinggalkan dipinggir jalan itu bukanlah pakaian buruk atau tidak layak pakain lagi namun siapa yang mau mengambil pakaian yang begitu tampilannya?!

 

Warga yang datang belakangan melihat pakaian yang sudah berhamburan itu tak lagi berminat hilang sudah selera, barangkali melihatnya saja sudah membuat bulu kuduk berdiri karena geli dan jijik, padahal pakaian yang diambil baru 10% saja dari total yang tersedia, bisa jadi biaya kirim dari donatur/ yayasan penampung pakaian itu ke tempat bencana memerlukan uang yang tidak sedikit, namun sayang seribu sayang manfaat tidak sebanding dengan biaya yang sudah dikeluarkan, di sini panitia di lapangan mesti melihat fenomena ini dengan baik, mesti berusaha sebaik mungkin meminimalisir tindakan tabdzir dan berupaya agar manfaatnya maksimal.

Memang kalau yang dibagikan itu pakaian baru maka peminatnya sangat banyak dan in sya Allah tidak ada yang terburai berantakan di pinggir jalan, mudah-mudahan para donatur diberikan Allah rizki yang melimpah sehingga suatu hari nanti dapat berdonasi dengan pakaian baru, meskipun alhamdulillah sudah ada beberapa yang memberikan pakaian baru.

Yayasan tanmia alhamdulillah berhasil mengirimkan pakaian dari donasi sebanyak 2,5 ton untuk gelombang pertama, demi meminimalisir pakaian terbuang tidak bermanfaat maka kami membuat pakaian tersebut tersusun rapi seakan di dalam toko, kami meminjam sebuah toko dari warga lalu kami buatkan gantungan, pakaian-pakaian itu kita gantung dengan hanger layaknya di toko baju, lalu kita buatkan tulisan yang bersifat himbauan agar setiap orang mengambil baju seperlunya tidak mubazir dan tidak rebutan, kami memerlukan tiga hari untuk persiapan bazar pakaian gratis ini dengan 5 orang kru yang bertugas, memilih pakaian laki-laki, wanita dan anak-anak, menggantung baju, menjaga bazar serta melayani bila ada pengunjung, kebetulan para kru anak-anak pesantren yang sedang menghadapi banjir juga.

Para pengunjung bazar sangat antusias memilih pakaian, bazar selalu ramai dari hari pertama dibuka, keluar bazar para pengunjung menenteng kresek masing-masing yang berisi baju hasil pilihan mereka, kru sering kwalahan mengadapi para peminat yang begitu banyak namun mereka bahagian karena telah banyak memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menyelenggarakan bazar pakaian seperti ini sangat besar manfaatnya, meminimalisir pakaian terbuang, para peminat tidak merasa malu memilih pakaian karena suasananya seperti mereka berbelanja di toko pakaian, pakaian yang mereka terima juga bersih lengkap dengan kresek belanjanya.

Memang hal ini memakan biaya, tenaga dan tempat namun demi menyampaikan amanah dengan baik, memaksimalkan manfaat wakaf donatur serta mengangkat derajat para penerima wakaf pakaian tentu kegiatan ini tidaklah berlebihan dan barangkali acara seperti sangat diperlukan untuk penyaluran pakaian wakaf.

Tim Tanmia

rumah tersapu kayu banjir aceh

Banjir Bandang Mengambil Segalanya Kecuali Keikhlasan

rumah rusak akibat banjir bandang aceh tamiang

Saya kira beliau sedang bercanda.
Nada suara takmir masjid ini begitu tenang, bahkan sambil tersenyum kecil.

“Alhamdulillah ustadz, banjir bandang kali ini saya nggak perlu repot bersihkan rumah.”

Saya ikut bersyukur, tanpa curiga apa-apa.

“Alhamdulillah, bapak nggak kena banjir, pak?”

Beliau menatap sebentar ke arah genangan air dan lumpur tebal di sekeliling Masjid Asy-Syuhada Gampong Benua Raja.

“Kena, ustadz,” katanya pelan.
“tapi alhamdulillah rumah saya dan semuanya sudah hanyut dibawa air, sudah nggak ada lagi.”

Kalimat itu mengalir begitu saja, tanpa nada mengeluh.

“Jadi nggak ada yang perlu saya bersihkan, ustadz. Semua sudah Allah ambil dibawa air.”

lanjutnya, seolah sedang bercerita tentang hal biasa.

Kalimat yang diucapkan membuat dada saya terasa sesak.
Tak ada rumah, tak ada tempat pulang.
Yang tersisa hanya kalimat alhamdulillah yang terucap untuk bisa tetap tegak berdiri.

Saya ingin berkata sesuatu,
tapi hanya bisa menunduk, sambil menahan mata ini agar tidak berkaca-kaca apalagi meneteskan air mata.

Sungguh hebatnya seorang mukmin yang masih bisa bersyukur ketika seluruh hidupnya disapu habis oleh banjir.

Beliau melanjutkan,

“Kalau semuanya Allah ambil, saya ikhlas.”

Lalu suaranya sedikit turun.

“Cuma kadang malam kepikiran juga, besok mau tidur di mana?”
ungkapnya sambil tertawa.

Di situlah butiran kaca di mata ini tak bisa tertahan.
Bukan karena rumah yang hanyut, tapi karena ketegaran yang lahir dari kehilangan total.

Saya menunduk.
Tak ada kalimat yang pantas selain doa untuknya dan untuk saudara2 lainnya di Tamiang, doa yang mampu menembus langit.

Dan saat itulah hati ini benar-benar terenyuh, bukan sekadar sedih,
melainkan remuk melihat keikhlasan mereka yang sedang diuji paling berat.


Renungan Hadits

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Perkara seorang mukmin itu sungguh mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain seorang mukmin, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.”
(Shahih Muslim 5318)


Khairul Hikmah, S.S., MCE (Relawan Tanmia).
(Kisah ini dikutip di sela-sela distribusi sumber air bersih di Masjid Asy-Syuhada, Gampong Benua Raja, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang)

titik-banjir-aceh-tamiang3

Tragedi Banjir Aceh Tamiang: 111 Rumah di Rimba Sawang Hanyut Terbawa Arus

titik-banjir-aceh-tamiang

Desa Rimba Sawang: Titik Terparah Dampak Banjir

Sebuah pemandangan memilukan terlihat saat tim relawan mengunjungi Desa Rimba Sawang, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang pada 24 Desember 2025. Desa yang terletak di perbukitan tengah hamparan perkebunan sawit ini menjadi salah satu wilayah paling terdampak akibat banjir besar yang melanda kawasan tersebut.

Meskipun lokasinya cukup jauh dari jalan lintas Medan-Banda Aceh, dampak banjir di sini sangat masif. Hingga saat ini, beberapa dusun di Desa Rimba Sawang masih terisolir akibat akses yang terputus.

titik-banjir-aceh-tamiang6

Data Kerusakan: 111 Rumah Hilang Dibawa Banjir

Dalam pertemuan singkat dengan Datok Penghulu (Kepala Desa) Rimba Sawang, Sayyid Arrajali Al Habsi, terungkap data kerusakan yang sangat memprihatinkan. Desa ini kini ditetapkan sebagai zona merah oleh pemerintah karena tingkat kerusakannya yang ekstrem.

Berikut adalah rincian kerusakan bangunan akibat terjangan banjir:

  • Rumah Hilang/Hanyut: 111 unit

  • Rusak Berat: 54 unit

  • Rusak Sedang: 47 unit

  • Rusak Ringan: 54 unit

Ketinggian air banjir dilaporkan mencapai 7 meter dan merendam pemukiman selama sepekan penuh. Beruntung, keberadaan bukit di sekitar desa menjadi penyelamat bagi warga untuk mengevakuasi diri saat air mulai naik dengan cepat.

titik-banjir-aceh-tamiang7

Kondisi Terkini Pengungsi dan Penyaluran Bantuan

Meski air telah surut di beberapa titik, penderitaan warga belum berakhir. Hingga hari ini, banyak warga yang masih bertahan di tenda-tenda darurat di pinggir jalan. Kondisi diperparah dengan:

  1. Aliran listrik yang masih padam total.

  2. Krisis bahan makanan karena akses logistik yang sulit.

  3. Kehilangan tempat tinggal bagi ratusan kepala keluarga.

titik-banjir-aceh-tamiang2

Merespons kondisi tersebut, relawan telah menyalurkan bantuan logistik darurat berupa 1,5 ton beras, 300 kg gula, dan 300 kg minyak goreng. Datok Sayyid Arrajali Al Habsi menyampaikan apresiasi mendalam kepada para donatur yang telah peduli terhadap nasib korban banjir di Rimba Sawang.

Mari terus kirimkan doa dan dukungan terbaik kita untuk saudara-saudara kita di Aceh Tamiang yang tengah berjuang bangkit pasca bencana banjir ini.

titik-banjir-aceh-tamiang5

Relawan Tanmia

banjir bandang

Banjir Bandang Aceh Tamiang 2025: Bencana yang Berbeda Dari Biasanya

Warga Aceh Tamiang sejatinya tidak asing dengan banjir. Setiap musim hujan tiba, wilayah ini kerap mengalami genangan akibat curah hujan tinggi. Namun, banjir bandang Aceh Tamiang kali ini sangat berbeda dari banjir tahunan yang biasanya hanya berlangsung 2–3 hari dan kemudian surut dengan sendirinya.

Pada kondisi normal, banjir yang terjadi hanyalah limpahan air hujan dengan debit lebih besar dari biasanya. Sementara banjir besar diyakini warga datang setiap sekitar lima tahun sekali, tetap dengan karakter banjir air hujan. Namun banjir bandang Aceh Tamiang 2025 menghadirkan ancaman yang jauh lebih serius dan mematikan.

banjir aceh tamiang 2025


Kemiripan Banjir Bandang Aceh Tamiang 2025 dengan Tragedi 2007

Banjir bandang kali ini mengingatkan warga pada peristiwa tragis tahun 2007, di mana banjir bandang Aceh Tamiang menelan banyak korban jiwa. Pola bencananya hampir serupa: kayu-kayu gelondongan dari kawasan hutan gunung hanyut menyusuri Sungai Tamiang hingga ke laut lepas, dengan jarak sekitar 30 kilometer dari hulu hingga muara.

Pada banjir bandang 2007, pemulihan berlangsung relatif cepat. Dalam tujuh hari, aktivitas penangkapan kayu hanyut sudah kembali terlihat. Perahu bermesin menyusuri Sungai Tamiang, mengumpulkan kayu-kayu gelondongan untuk dibawa ke kilang-kilang kayu di sepanjang bantaran sungai, kemudian dipotong dan dijual.

banjir bandang


Dugaan Praktik Berbahaya di Balik Banjir Bandang Aceh Tamiang

Di tengah masyarakat berkembang asumsi bahwa kayu-kayu dari gunung tersebut sengaja dihanyutkan dan dijegat di kawasan Kuala Simpang untuk menghemat biaya angkut. Jika benar, praktik ini sangat berbahaya dan menjadi salah satu faktor penyebab banjir bandang Aceh Tamiang yang merusak.

Akibatnya sangat fatal: rumah warga, sekolah, masjid, hingga harta benda hancur, bahkan merenggut korban jiwa. Keuntungan segelintir pihak dibayar mahal oleh penderitaan masyarakat luas.

banjir aceh tamiang


Kondisi Korban Banjir Bandang Aceh Tamiang Belum Pulih

Hampir satu bulan pasca bencana, kondisi korban banjir bandang Aceh Tamiang masih sangat memprihatinkan. Dari pantauan lapangan, sekitar 90% masyarakat belum pulih. Banyak warga belum bisa kembali ke rumah karena tertutup lumpur tebal atau bangunan yang hancur tak berbentuk.

Sebagian warga masih menanyakan kebutuhan paling dasar: tikar untuk tidur karena semua peralatan hanyut, sepatu boot untuk melindungi kaki dari lumpur bercampur benda tajam, kelambu karena nyamuk yang sangat banyak, serta kebutuhan sembako untuk bertahan hidup.

banjir bandang aceh


Jeritan Kemanusiaan di Tengah Banjir Bandang Aceh Tamiang

Pemandangan pilu terlihat di sepanjang wilayah terdampak. Banyak warga berdiri di pinggir jalan, meminta makanan sambil berteriak, “Kami lapar, Pak.” Kondisi ini menyayat hati siapa pun yang melihatnya.

Selain sebagai takdir Allah SWT, banjir bandang Aceh Tamiang juga menjadi akibat dari ulah manusia yang serakah—eksploitasi alam tanpa mempertimbangkan keselamatan dan masa depan orang banyak.

banjir bandang aceh


Peran Pemerintah dalam Mencegah Banjir Bandang Aceh Tamiang Terulang

Pemerintah harus bertindak tegas terhadap semua pihak yang melakukan eksploitasi hutan dan tambang secara ilegal. Jika tidak, banjir bandang Aceh Tamiang dan bencana serupa akan terus berulang di berbagai daerah Indonesia.

Bila tsunami Aceh 2004 saja membuat negara kewalahan hingga membutuhkan bantuan internasional, maka banjir kali ini yang berdampak pada tiga provinsi tentu memiliki kerusakan yang tidak kalah besar dan kompleks.


Ajakan Bersama Membantu Korban Banjir Bandang Aceh Tamiang

Mari kita bahu-membahu membantu saudara-saudara kita yang terdampak banjir bandang Aceh Tamiang. Semoga Allah SWT menerima setiap amal kebaikan yang kita lakukan dan melindungi kita semua dari berbagai musibah di masa mendatang.

 

bendera putih aceh

Angkat Bendera Putih Untuk Aceh

bendera putih aceh

Awan kelabu masih gelap menggantung dilangit Aceh Tamiang. Begitu juga mendung sendu kelabu masih gelap menggelayut diatas awan berkumpul di langit Kecamatan Banda Mulia, tepatnya di ibukotanya Telaga Meuku, Tanjung Keramat.  Di rumah kediaman Tengku Abdul Mu’id dimana Posko Tanmia Foundation dibuka untuk merespon penanggulangan bencana Banjir Alam yang melanda Aceh Tamiang pada tanggal 25 November beberapa pekan lalu.

Sampai saat tulisan ini ditulis sisa-sisa material banjir masih pecah berserak di setiap sudut jalanan. Lumpur pekat yang terbawa arus banjir masih banyak tertinggal dalam rumah-rumah warga, sekolah, masjid, meunasah (mushola) dan tak sedikit yang makin mengeras bila tak segera dibersihkan. Material Banjir yg menerjang masih tertinggal begitu saja dimana-mana kian menambah parahnya situasi yang tak kunjung membaik sampai hari yang ke-22 pada hari ini, Rabu 17 Desember 2025.

bendera putih aceh

Aliran listrik masih padam dan jaringan sinyal seluler pun masih hilang sehingga susah untuk berkomunikasi. Tiang listrik dan jaringan internet yg bertumbangan berantakan dimana-mana ini yg kian menyulitkan warga masyarakat untuk  berkomunikasi alih-alih menghubungi relawan untuk membantu bergotong-royong bahu membahu warga.

Begitu juga air bersih menjadi sangat urgen kebutuhannya ditunggu-tunggu mendesak untuk keperluan konsumsi sehari-hari. Air seperti kebutuhan yg sangat mendesak untuk konsumsi dapur untuk keperluan masak memasak maupun keperluan MCK yang tak bisa ditunda lagi berlama-lama. Sebagaimana kata warga,”untuk sekedar minum pun kami kesulitan apalagi untuk mencuci”,tutur warga yang banyak kami jumpai.

bendera putih aceh

Pasca banjir yang dahsyat kondisi saluran air PDAM lumpuh mati total dan belum ada tanda-tanda kapan bisa mengalir seperti semula. Sumur warga pun masih terendam lumpur yang tebal sampai 1 meter. Dg perlengkapan seadanya warga hanya menunggu bisa bertahan dengan apa yang mereka butuhkan dan mereka miliki dengan jerigen air yang mereka bisa dapatkan dg membeli air bersih atau mengais air-air berlumpur yang sekedarnya bisa digunakan.

Banjir bandang memang menghapus kenangan segalanya, tapi tidak dengan solidaritas. Ketika hendak memasuki Aceh Tamiang maka siapapun terlebih relawan harus siap untuk berjalan dalam gelapnya lorong-lorong kampung yg masih becek dg kubangan lumpur, berjam-jam dalam sunyinya malam yang gelap tanpa listrik. Sunyi sepi bak seperti perkampungan yang hilang dari riak tawa anak-anak bermain-main

bendera putih aceh

Duka warga belumlah berlalu, warga harus bertahan hidup dg mengolah bahan makanan apa yang ada dirumah selama putus sementara mata pencaharian. Hampir berhari-hari mie instan menjadi makanan yg sering dimakan. Ia sebagai bahan makanan pengganti nasi demi bertahan hidup. Bahkan banyak warga yg memilih mengkonsumsi ubi dan singkong ketika tak terjangkau bantuan seperti di beberapa titik terisolir yg jauh dari jangkauan dan terputus aksesnya. Karena berdasarkan kondisi lapangan Aceh Tamiang, kerusakan hampir merata 95 % dengan jumlah pengungsi hampir 290.000 jiwa. Yang tersebar di 12 Kecamatan dari ujung Tamiang Hulu di Babo Bandar Pusaka hingga di Pesisir Telaga Meuku Kecamatan Banda Mulia dan Pesisir Batang Lawang Kecamatan Bendahara.

Semalam bingkisan paket yang berisi sekerat roti dan secuil bingkisan kami semoga dapat mengobati doa dalam harapnya,  Semoga bantuan segera sampai itulah doa yang ditunggu-tunggu para penyintas dan muhsinin melalui langkah tertatih kami mengantarkan bantuan yg diamanahkan lewat Tanmia Foundation ke titik-titik penyintas yang luput dari jangkauan bantuan. Semoga meringankan dan panjang umur kebaikan membantu rakyat Aceh cepat pulih dan bangkit. [ Ali Azmi ]

banjir bandang sumtaera aceh

Derai Air Mata Tak Bisa dibendung Untukmu Aceh

banjir bandang aceh

Tampak diam dalam raut yg lelahnya disembunyikan dalam-dalam. Tatapan raut mukanya terasa membersamai rakyat Aceh yang masih berkalung duka saat ini. Ada setia dalam hati sebagai pemimpin yang disegani rakyatnya.

Dialah Muzakir Manaf atau lebih dikenal Mualem Gubernur Nangroe Aceh Darussalam tiba-tiba tak kuasa menahan isak tangis keringat air mata sedihnya saat sesi wawancara dg jurnalis senior Najwa Shihab saat bertanya belum ditetapkanya Aceh sebagai Bencana Nasional.

Apa jawab Mualem sosok Gubernur yang nampak dingin pendiam itu.
“Saya hanya bisa berusaha dan berdo’a ,”kata Mualem , yang sejak terjadi bencana siang malam tanpa lelah menjenguk rakyatnya.

banjir bandang aceh 2

Hari-harinya tanpa jeda harus berkeliling mengunjungi rakyatnya yang masih patah luluh lantah, salah satunya ketika helikopter yg dia gunakan mendarat di Aceh Tamiang beberapa hari lalu.

Tak akan berhenti berderai air mata ini setiap melihat langsung kondisi di lapangan tentang setiap hati yang sedang perih dirundung lara.

Hati yang patah berkeping-keping bukan saja tentang apa yg dimiliki hilang lenyap dalam sekejap, dari harta, nyawa, bahkan sanak keluarga dari orang-orang tersayang terdekat dengan kita selama ini.

Setiap langkah kaki siapapun yang masih terpanggil hatinya ia akan kembali untuk menginjakkan kaki di Bumi Rencong Aceh pasca banjir bandang dan longsor yang terjadi dahsyat akhir 26 November 2025 ini.

Mereka yg berdatangan dari berbagai penjuru tanah air ke Aceh bukan hanya untuk sekedar relawan dan sukarela membawa bantuan tapi panggilan jiwa layaknya saudara setubuh yang satu sama lain saling merasakan apalagi saudaranya dirundung sakit maka yang lain ikut merasakan sakit pula. Tak bisa dipisahkan.

Ujian dahsyat bak tsunami kedua bagi Aceh, melihat terjangan lautan banjir yg memporak-porandakan bangunan bercampur hantaman gelondongan kayu yang berserak berhamburan yang tak terhitung lagi jumlah nilai jutaan kubiknya dan tonasenya mampu dihalau.

banjir bandang aceh sumtaera

Air mata siapa yang mampu ditahan bila setiap kali menatap setiap wajah-wajah masyarakat yang sedang susah bingung berkecamuk hebat. Tatapan kosong yang disana terkenang segala apa yang pernah dilewati musnah hilang dalam sekejap. Keluh air mata warga yg tak bisa dibendung lagi disembunyikan dalam-dalam.

Tatapan yang telah menceritakan segalanya, dari lenyapnya harta, kebingungan yang merajalela, hati pikiran beradu berkecamuk dan jiwa yang terguncang hebat tak bisa lagi diceritakan berulang kecuali hanya mengundang rasa pilu air mata yang deras mengalir terus tertumpah bercucuran.

banjir bandang sumtaera aceh

“Kita hanya berserah diri kepada Allah, apa yang ada kita terima dan kita usaha. Kalau kita bergantung ke manusia, kita kecewa. Tapi kalau kita bergantung kepada Allah, ya kita terima semua apa adanya”, tegas Mualem

Pecah tangis Mualem malam itu bukan hanya tangis seorang gubernur. Melainkan itu adalah tangis seorang anak Aceh yg melihat tanah tumpah lahirnya terluka parah, tapi mencoba terus memilih berdiri tegar, memeluk setiap harapan tanpa berhenti menyerah berusaha dan berdo’a dg kesungguhan sebaiknya-baiknya.

banjir bandang aceh sumtaera

Banjir bandang dahsyat yg terjadi memang bukan keinginan dan inilah ujian takdirNya yang pasti banyak hikmahnya. Inilah ujian agar jangkar iman ini harus kuat tertambat di hati tak boleh luluh dan hanyut biarpun seolah langit kehilangan kesabaran menahan gumpalan setiap awan gelap yang sudah berhari-hari menggantung di atas kepala untuk turun menghanyutkan seluruh harta dan nyawa tanpa sisa. Dan apapun yg disapu bersih tanpa sisa di hamparan bumi milikNya semoga Allah ganti dengan berlipat-lipat pengganti yang lebih baik.

banjir bandang aceh sumtaera

Mengawali jalanan ke Aceh hari ini semoga belum terlambat untuk membasuh setiap luka dengan segenap hati yang pilu dan masih patah.

Setiap raut wajah-wajah sedihmu masyarakat Aceh, sedihmu terasa sampai kesini mengiringi sepanjang perjalanan kami menuju Aceh Tamiang. Aceh cepatlah pulih, janganlah menangis lagi. Ayo tolong bantu kuatkan Aceh bangkit kembali. [ Relawan Tanma, Ali Azmi ]

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id