Ketika Kayu-Kayu Itu Menjadi Saksi: Alam Yang Berbicara, Manusia Yang Lalai

Perjalanan kami menuju Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, menyuguhkan pemandangan yang menggugah nurani. Sepanjang jalur, tampak tumpukan kayu gelondongan dengan ukuran yang beragam, seakan terdiam, namun menyimpan pesan mendalam.
Sebagian kayu memiliki diameter sekitar 30–40 cm, kira-kira seukuran paha orang dewasa. Ada pula yang mencapai 60–80 cm, setara lingkar badan orang dewasa. Bahkan tidak sedikit kayu raksasa berdiameter ±150–200 cm, sebanding dengan tiga hingga empat badan orang dewasa yang berdiri sejajar. Ukuran-ukuran ini menunjukkan bahwa kayu tersebut berasal dari pohon-pohon besar yang telah tumbuh puluhan bahkan ratusan tahun.
Fakta Media: Dugaan Penyebab Kayu Gelondongan

Mengutip pemberitaan KASTANANEWS.COM (6 Januari 2026), Bareskrim Polri tengah mengusut keberadaan kayu gelondongan yang diduga menjadi salah satu penyebab bencana alam di Aceh Tamiang.
Irhamni menyampaikan bahwa penyelidikan mengarah pada aktivitas pembukaan lahan di kawasan hutan lindung, hutan lindung serbaguna dan hutan lindung Simpang Jernih.
Penyelidik berupaya mengumpulkan bukti dan informasi guna menaikkan perkara ke tahap penyidikan.
Selain itu, Bareskrim juga mendalami dugaan sedimentasi yang memperparah dampak bencana. Sedimentasi tersebut diduga terjadi karena ketidaktaatan terhadap prosedur lingkungan, khususnya tidak adanya dokumen UKL-UPL.
Dalam ketentuan UKL-UPL ditegaskan bahwa lahan dengan kemiringan di atas 40 derajat dilarang dibuka, karena berisiko tinggi menyebabkan longsor ketika hujan, memicu sedimentasi, dan menimbulkan bencana alam besar.

Refleksi Qur’ani: Bisa Jadi Pohon Itu Tidak Ingin Ditebang
Pohon-pohon yang kini menjadi kayu gelondongan sejatinya telah memberi manfaat besar: menguatkan tanah, menahan air, mencegah longsor, dan menjaga keseimbangan alam. Dalam pandangan iman, alam bukan benda mati tanpa makna.
Allah ﷻ berfirman:
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ
“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka.”
(QS. Al-Isrā’: 44)
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh makhluk—termasuk pepohonan—memiliki tasbih kepada Allah, meskipun manusia tidak memahami bahasa mereka.
Hadits Pelepah Kurma dan Ibārat Imam an-Nawawi
Rasulullah ﷺ pernah melewati dua kuburan, lalu bersabda bahwa penghuninya sedang disiksa. Beliau kemudian membelah pelepah kurma menjadi dua dan menancapkannya di atas masing-masing kubur, seraya bersabda:
“Semoga diringankan azab keduanya selama pelepah ini belum kering.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, Imam an-Nawawi menjelaskan ibārat-nya sebagai berikut (makna penjelasan):
Bahwa pelepah kurma selama masih basah senantiasa bertasbih kepada Allah, dan tasbih tersebut menjadi sebab diringankannya azab.
Dari sini dipahami bahwa setiap makhluk hidup memiliki bentuk tasbih dan ketaatan, meskipun tidak dapat dipahami oleh manusia.
Ibārat ini menunjukkan, bahwa:
Tasbih makhluk hidup bernilai di sisi Allah,
Tumbuhan bukan sekadar benda mati,
Selama ia hidup dan basah, ia berada dalam keadaan dzikrullah.
Penutup
Jika pelepah kurma saja memiliki tasbih yang membawa keringanan azab, maka pohon-pohon besar yang ditebang tanpa tanggung jawab bisa jadi menjadi saksi atas kelalaian manusia. Kayu-kayu gelondongan itu seakan mengingatkan bahwa alam bukan hanya objek eksploitasi, tetapi amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.
Ketika keseimbangan dilanggar, alam pun berbicara—meski manusia sering kali tidak memahami bahasanya.
Reportase:
Iqbal Subhan Nugraha
Aceh Tamiang, Rabu, 28 Januari 2026






















