3000 Porsi Makanan Dalam Satu Pekan Untuk Warga Sekumur, Lubuk Sidup dan Desa Banai

Sekumur adalah salah satu wilayah di Tamiang Hulu yang terkena dampak banjir bandang cukup parah, hanya beberapa rumah dari 300 unit rumah yang masih bertahan dari terjangan banjir dahsyat itu, namun rumah yang masih bertahan itu pun kondisinya sangat memprihatinkan, yang lebih sulitnya lagi sumur-sumur mereka tidak dapat mereka gunakan lagi karena di dalam sumur-sumur itu tercium aroma gas sehingga tidak ada seorangpun yang sanggup membersihkan sumur mereka yang sudah tertutup lumpur, setiap mereka masuk ke dalam sumur mereka sulit bernapas dan badan mereka terasa lemas sehingga mereka segera keluar dan tidak mampu membersihkannya.

Masih banyak warga yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian meski sudah lebih 2 bulan dari awal terjadinya bencana banjir bandang tersebut, mereka bertahan di samping tumpukan kayu-kayu besar yang dibawa oleh air bah, kondisi mereka masih sangat sulit karena sawah dan ladang mereka juga ikut hancur terbenam lumpur, sehingga mereka tidak dapat berkerja mencari nafkah untuk keluarga mereka.

Desa Lubuk sidup Aceh Tamiang juga mengalami hal serupa betapa sulit dibayangkan rumah masyarakat yang berjumlah ratusan unit tersebut hanya 3 unit saja yang tersisa, jembatan penghubung desa mereka dengan desa sebelah juga putus namun sungguh ajaib Allah menyelamatkan masjid mereka meski daerah mereka terendam banjir hingga 7 meter, masjid masih berdiri kokoh tidak ada kerusakan yang berarti, Allah taala memperlihatkan kepada manusia bahwa jalan selamat itu adalah masjid Allah, rumah Allah.

Alhamdulillah kami dapat bersilaturahmi dengan penduduk kedua daerah bersebut, berbincang dengan mereka, membuat dapur umum, menggali sumur serta mendistribusikan sembako, sarung dan kelambu, iqra, juz amma dan pula Al Quran alhamdulillah seluruh masyarakat dapat menikmati hidangan masakan dari yayasan Tanmia, kegiatan tersebut disambut antusias oleh masyarakat setempat tak lupa mereka juga berterima kasih kepada para donatur yang telah peduli, mendukung serta memberikan bantuan kepada mereka. Semoga Allah subhanahu wata’ala meringankan beban saudara-saudara kita yang tertimpa bencana banjir dan mudah-mudahan Allah memberikan ganjaran yang berlipat ganda kepada para donatur yang telah membantu mereka serta semua pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan sosial ini.

Dampak Banjir Bandang, Yayasan Islam Tanmia Bangun Dua Sumur Bor di Kampung Sekumur

bantuan-banjir-acehAceh Tamiang — Ahad, 1 Februari 2026

Sebagai respon atas dampak banjir bandang yang melanda kawasan pinggiran Sungai Aceh Tamiang, Yayasan Islam Tanmia melaksanakan program pembangunan dua unit sumur bor di Kampung Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, pada Ahad, 1 Februari 2026.

Banjir bandang yang terjadi sebelumnya menyebabkan sumber-sumber air bersih warga tercemar, rusak, dan tidak lagi layak digunakan. Sebagian sumur warga tertimbun material lumpur dan pasir, sementara aliran air yang biasa dimanfaatkan menjadi terbatas dan tidak stabil.

Kondisi ini membuat masyarakat Kampung Sekumur mengalami kesulitan serius dalam memenuhi kebutuhan air bersih untuk keperluan sehari-hari, termasuk minum, memasak, dan ibadah.
Melihat kondisi tersebut, Yayasan Islam Tanmia mengambil langkah nyata dengan membangun dua sumur bor sebagai solusi jangka panjang agar masyarakat memiliki akses air bersih yang lebih aman, higienis, dan berkelanjutan, khususnya bagi warga yang bermukim di wilayah pinggiran sungai.

Program ini merupakan bagian dari ikhtiar kemanusiaan dan wakaf produktif Yayasan Islam Tanmia dalam mendukung pemulihan pascabencana serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat terdampak.

*Keutamaan Membangun Sumur dan Sedekah Air*
Dalam ajaran Islam, sedekah air memiliki kedudukan yang sangat mulia. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ سَقْيُ الْمَاءِ

“Sedekah yang paling utama adalah memberi minum (air).”
(HR. Ahmad)

Ketika Sa‘ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang sedekah terbaik untuk ibunya yang telah wafat, beliau bersabda:

احْفِرُوا لَهَا بِئْرًا

“Galilah sumur untuknya.”
(HR. Abu Dawud)

Sedekah air termasuk amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ…

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah…”
(HR. Muslim)


Yayasan Islam Tanmia berharap pembangunan dua sumur bor ini dapat menjadi solusi nyata pascabencana, meringankan beban masyarakat, serta mengembalikan akses air bersih yang layak bagi warga Kampung Sekumur.


Terima kasih kepada para donatur dan seluruh pihak yang telah berkontribusi. Semoga setiap tetes air yang mengalir menjadi pahala yang tidak terputus, serta membawa keberkahan, keselamatan, dan kebaikan bagi semua pihak.

Reportase : Iqbal Subhan Nugraha
Aceh Tamiang, Ahad, 01 Februari 2026

dapur-umum-banjir-bbandang-aceh-tamiang

Tujuh Kambing, Satu Kebersamaan: Yayasan Islam Tanmia Gelar Makan Bersama Warga

dapur-umum-banjir-bbandang

Yayasan Islam Tanmia menggelar kegiatan makan bersama warga di Desa Banai, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, sebagai wujud penguatan ukhuwah dan kebersamaan antara yayasan dan masyarakat.

Kegiatan ini berlangsung penuh kehangatan dan kekeluargaan, dengan melibatkan warga dari berbagai lapisan.
Dalam kegiatan tersebut, tujuh ekor kambing dimasak dan dihidangkan bersama, menjadi simbol kebersamaan dan berbagi kebahagiaan.

Sejak pagi, suasana gotong royong tampak jelas—warga dan pengurus yayasan saling bahu-membahu, menyiapkan hidangan hingga acara berlangsung.

dapur-umum-banjir-bbandang-aceh
Acara diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh salah satu pengurus Yayasan Islam Tanmia, K.H. M. Aniq, Lc., S.S.I., M.Pd. Dalam doanya, beliau memohon agar kebersamaan ini menjadi sebab turunnya keberkahan, mempererat persaudaraan, serta menguatkan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.

Kegiatan makan bersama ini tidak hanya menghadirkan hidangan, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan dan rasa persaudaraan. Dalam Islam, kebersamaan dalam kebaikan adalah amalan yang sangat dianjurkan. Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.”
(QS. Al-Mā’idah: 2)

Rasulullah ﷺ juga menegaskan nilai kebersamaan dalam makan, sebagaimana sabdanya:

طَعَامُ الْوَاحِدِ يَكْفِي الِاثْنَيْنِ، وَطَعَامُ الِاثْنَيْنِ يَكْفِي الْأَرْبَعَةَ

“Makanan satu orang cukup untuk dua orang, dan makanan dua orang cukup untuk empat orang.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

dapur-umum-banjir-bbandang-aceh-2026
Hadis ini mengajarkan bahwa berkumpul dan berbagi makanan bukan sekadar urusan jasmani, tetapi sarana memperluas keberkahan dan menumbuhkan kasih sayang di tengah masyarakat.

Melalui kegiatan makan bersama ini, Yayasan Islam Tanmia berharap nilai kebersamaan, kebahagiaan, dan kepedulian sosial terus tumbuh dan mengakar di Desa Banai. Kebahagiaan yang lahir dari kebersamaan semacam ini menjadi penguat persaudaraan, sekaligus pengingat bahwa Islam hadir membawa rahmat, kedamaian, dan kebahagiaan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Reportase : Iqbal Subhan Nugraha
Aceh Tamiang, Sabtu, 31 Januari 2026

Ketika Kayu-Kayu Itu Menjadi Saksi: Alam Yang Berbicara, Manusia Yang Lalai

banjir-bandang-aceh

Perjalanan kami menuju Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, menyuguhkan pemandangan yang menggugah nurani. Sepanjang jalur, tampak tumpukan kayu gelondongan dengan ukuran yang beragam, seakan terdiam, namun menyimpan pesan mendalam.

Sebagian kayu memiliki diameter sekitar 30–40 cm, kira-kira seukuran paha orang dewasa. Ada pula yang mencapai 60–80 cm, setara lingkar badan orang dewasa. Bahkan tidak sedikit kayu raksasa berdiameter ±150–200 cm, sebanding dengan tiga hingga empat badan orang dewasa yang berdiri sejajar. Ukuran-ukuran ini menunjukkan bahwa kayu tersebut berasal dari pohon-pohon besar yang telah tumbuh puluhan bahkan ratusan tahun.

Fakta Media: Dugaan Penyebab Kayu Gelondongan

 

kayu glondongan banjir

Mengutip pemberitaan KASTANANEWS.COM (6 Januari 2026), Bareskrim Polri tengah mengusut keberadaan kayu gelondongan yang diduga menjadi salah satu penyebab bencana alam di Aceh Tamiang.
Irhamni menyampaikan bahwa penyelidikan mengarah pada aktivitas pembukaan lahan di kawasan hutan lindung, hutan lindung serbaguna dan hutan lindung Simpang Jernih.

Penyelidik berupaya mengumpulkan bukti dan informasi guna menaikkan perkara ke tahap penyidikan.
Selain itu, Bareskrim juga mendalami dugaan sedimentasi yang memperparah dampak bencana. Sedimentasi tersebut diduga terjadi karena ketidaktaatan terhadap prosedur lingkungan, khususnya tidak adanya dokumen UKL-UPL.
Dalam ketentuan UKL-UPL ditegaskan bahwa lahan dengan kemiringan di atas 40 derajat dilarang dibuka, karena berisiko tinggi menyebabkan longsor ketika hujan, memicu sedimentasi, dan menimbulkan bencana alam besar.

kayu glondongan banjir

Refleksi Qur’ani: Bisa Jadi Pohon Itu Tidak Ingin Ditebang

Pohon-pohon yang kini menjadi kayu gelondongan sejatinya telah memberi manfaat besar: menguatkan tanah, menahan air, mencegah longsor, dan menjaga keseimbangan alam. Dalam pandangan iman, alam bukan benda mati tanpa makna.
Allah ﷻ berfirman:

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ

“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka.”
(QS. Al-Isrā’: 44)

Ayat ini menegaskan bahwa seluruh makhluk—termasuk pepohonan—memiliki tasbih kepada Allah, meskipun manusia tidak memahami bahasa mereka.

Hadits Pelepah Kurma dan Ibārat Imam an-Nawawi

Rasulullah ﷺ pernah melewati dua kuburan, lalu bersabda bahwa penghuninya sedang disiksa. Beliau kemudian membelah pelepah kurma menjadi dua dan menancapkannya di atas masing-masing kubur, seraya bersabda:

“Semoga diringankan azab keduanya selama pelepah ini belum kering.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, Imam an-Nawawi menjelaskan ibārat-nya sebagai berikut (makna penjelasan):
Bahwa pelepah kurma selama masih basah senantiasa bertasbih kepada Allah, dan tasbih tersebut menjadi sebab diringankannya azab.

Dari sini dipahami bahwa setiap makhluk hidup memiliki bentuk tasbih dan ketaatan, meskipun tidak dapat dipahami oleh manusia.
Ibārat ini menunjukkan, bahwa:
Tasbih makhluk hidup bernilai di sisi Allah,
Tumbuhan bukan sekadar benda mati,
Selama ia hidup dan basah, ia berada dalam keadaan dzikrullah.

Penutup

Jika pelepah kurma saja memiliki tasbih yang membawa keringanan azab, maka pohon-pohon besar yang ditebang tanpa tanggung jawab bisa jadi menjadi saksi atas kelalaian manusia. Kayu-kayu gelondongan itu seakan mengingatkan bahwa alam bukan hanya objek eksploitasi, tetapi amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.
Ketika keseimbangan dilanggar, alam pun berbicara—meski manusia sering kali tidak memahami bahasanya.

Reportase:
Iqbal Subhan Nugraha
Aceh Tamiang, Rabu, 28 Januari 2026

Bazar Pakaian Layak Pakai Tanmia Sukses, Pakaian Terserap Hampir 100%

Wakaf pakaian layak pakai memang susuatu yang sangat diperlukan untuk kondisi – kondisi berat dan sulit pada saat masyarakat tertentu mengalami musibah atau hal lainnya.

Kegiatan ini adalah bagian dari ta’awun saling tolong menolong sesama, seyogyanya barang yang disumbangkan adalah yang masih bagus, baru atau bekas namun masih sangat layak untuk digunakan, sehingga saudara – saudara kita yang mendapatkan kesulitan dapat memanfaatkannya dengan baik dan dengan senang hati, bukan pakaian yang tidak layak sehingga menambah kesedihan mereka yang menerimanya.

Barangkali dari pihak donatur, pakaian baik baru maupun layak pakai tersebut sudah dipersiapkan dengan rapi, bersih bahkan wangi saat dikirim ke lokasi bencana atau lainnya namun panitia di lapangan barangkali kurang cerdik dalam melakukan proses distribusinya, sehingga panitia hanya meletakan karung – karung pakain itu di atas tanah atau di tempat umum tanpa atap sehingga warga yang membutuhkan satu persatu menarik pakaian itu mencari mana yang sesuai dengan dia, anak atau sanak saudaranya, pakaian pun berhamburan keluar dari wadahnya, pakaian yang sudah berhamburan itu akhirnya menjadi tumpukan besar diinjak – injak, menjadi kotor akhirnya ditinggalkan begitu saja, dari pengamatan kami pakaian yang ditinggalkan dipinggir jalan itu bukanlah pakaian buruk atau tidak layak pakain lagi namun siapa yang mau mengambil pakaian yang begitu tampilannya?!

 

Warga yang datang belakangan melihat pakaian yang sudah berhamburan itu tak lagi berminat hilang sudah selera, barangkali melihatnya saja sudah membuat bulu kuduk berdiri karena geli dan jijik, padahal pakaian yang diambil baru 10% saja dari total yang tersedia, bisa jadi biaya kirim dari donatur/ yayasan penampung pakaian itu ke tempat bencana memerlukan uang yang tidak sedikit, namun sayang seribu sayang manfaat tidak sebanding dengan biaya yang sudah dikeluarkan, di sini panitia di lapangan mesti melihat fenomena ini dengan baik, mesti berusaha sebaik mungkin meminimalisir tindakan tabdzir dan berupaya agar manfaatnya maksimal.

Memang kalau yang dibagikan itu pakaian baru maka peminatnya sangat banyak dan in sya Allah tidak ada yang terburai berantakan di pinggir jalan, mudah-mudahan para donatur diberikan Allah rizki yang melimpah sehingga suatu hari nanti dapat berdonasi dengan pakaian baru, meskipun alhamdulillah sudah ada beberapa yang memberikan pakaian baru.

Yayasan tanmia alhamdulillah berhasil mengirimkan pakaian dari donasi sebanyak 2,5 ton untuk gelombang pertama, demi meminimalisir pakaian terbuang tidak bermanfaat maka kami membuat pakaian tersebut tersusun rapi seakan di dalam toko, kami meminjam sebuah toko dari warga lalu kami buatkan gantungan, pakaian-pakaian itu kita gantung dengan hanger layaknya di toko baju, lalu kita buatkan tulisan yang bersifat himbauan agar setiap orang mengambil baju seperlunya tidak mubazir dan tidak rebutan, kami memerlukan tiga hari untuk persiapan bazar pakaian gratis ini dengan 5 orang kru yang bertugas, memilih pakaian laki-laki, wanita dan anak-anak, menggantung baju, menjaga bazar serta melayani bila ada pengunjung, kebetulan para kru anak-anak pesantren yang sedang menghadapi banjir juga.

Para pengunjung bazar sangat antusias memilih pakaian, bazar selalu ramai dari hari pertama dibuka, keluar bazar para pengunjung menenteng kresek masing-masing yang berisi baju hasil pilihan mereka, kru sering kwalahan mengadapi para peminat yang begitu banyak namun mereka bahagian karena telah banyak memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menyelenggarakan bazar pakaian seperti ini sangat besar manfaatnya, meminimalisir pakaian terbuang, para peminat tidak merasa malu memilih pakaian karena suasananya seperti mereka berbelanja di toko pakaian, pakaian yang mereka terima juga bersih lengkap dengan kresek belanjanya.

Memang hal ini memakan biaya, tenaga dan tempat namun demi menyampaikan amanah dengan baik, memaksimalkan manfaat wakaf donatur serta mengangkat derajat para penerima wakaf pakaian tentu kegiatan ini tidaklah berlebihan dan barangkali acara seperti sangat diperlukan untuk penyaluran pakaian wakaf.

Tim Tanmia

rumah tersapu kayu banjir aceh

Banjir Bandang Mengambil Segalanya Kecuali Keikhlasan

rumah rusak akibat banjir bandang aceh tamiang

Saya kira beliau sedang bercanda.
Nada suara takmir masjid ini begitu tenang, bahkan sambil tersenyum kecil.

“Alhamdulillah ustadz, banjir bandang kali ini saya nggak perlu repot bersihkan rumah.”

Saya ikut bersyukur, tanpa curiga apa-apa.

“Alhamdulillah, bapak nggak kena banjir, pak?”

Beliau menatap sebentar ke arah genangan air dan lumpur tebal di sekeliling Masjid Asy-Syuhada Gampong Benua Raja.

“Kena, ustadz,” katanya pelan.
“tapi alhamdulillah rumah saya dan semuanya sudah hanyut dibawa air, sudah nggak ada lagi.”

Kalimat itu mengalir begitu saja, tanpa nada mengeluh.

“Jadi nggak ada yang perlu saya bersihkan, ustadz. Semua sudah Allah ambil dibawa air.”

lanjutnya, seolah sedang bercerita tentang hal biasa.

Kalimat yang diucapkan membuat dada saya terasa sesak.
Tak ada rumah, tak ada tempat pulang.
Yang tersisa hanya kalimat alhamdulillah yang terucap untuk bisa tetap tegak berdiri.

Saya ingin berkata sesuatu,
tapi hanya bisa menunduk, sambil menahan mata ini agar tidak berkaca-kaca apalagi meneteskan air mata.

Sungguh hebatnya seorang mukmin yang masih bisa bersyukur ketika seluruh hidupnya disapu habis oleh banjir.

Beliau melanjutkan,

“Kalau semuanya Allah ambil, saya ikhlas.”

Lalu suaranya sedikit turun.

“Cuma kadang malam kepikiran juga, besok mau tidur di mana?”
ungkapnya sambil tertawa.

Di situlah butiran kaca di mata ini tak bisa tertahan.
Bukan karena rumah yang hanyut, tapi karena ketegaran yang lahir dari kehilangan total.

Saya menunduk.
Tak ada kalimat yang pantas selain doa untuknya dan untuk saudara2 lainnya di Tamiang, doa yang mampu menembus langit.

Dan saat itulah hati ini benar-benar terenyuh, bukan sekadar sedih,
melainkan remuk melihat keikhlasan mereka yang sedang diuji paling berat.


Renungan Hadits

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Perkara seorang mukmin itu sungguh mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain seorang mukmin, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.”
(Shahih Muslim 5318)


Khairul Hikmah, S.S., MCE (Relawan Tanmia).
(Kisah ini dikutip di sela-sela distribusi sumber air bersih di Masjid Asy-Syuhada, Gampong Benua Raja, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang)

dapur umum banjir aceh tamiang

Dapur Umum Tanmia Bantu 2.000 Warga Terdampak Banjir Bandang di Aceh Tamiang

banjir bandang

Banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang meninggalkan luka mendalam bagi ribuan warga. Bencana alam ini tidak hanya menghancurkan rumah dan harta benda, tetapi juga mengguncang kondisi psikologis masyarakat yang terdampak. Hampir seluruh isi rumah rusak, perabotan hancur, dan kasur-kasur terpaksa diletakkan di pinggir jalan karena tidak lagi bisa digunakan.

Dampak banjir bandang Aceh Tamiang terasa begitu dahsyat. Sawah dan ladang rusak, tempat usaha lumpuh, bahkan sebagian warga kehilangan sanak saudara. Hingga kini, banyak korban masih terlihat linglung dan belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan pahit akibat bencana tersebut.

banjir bandang aceh desember

Di sepanjang jalan, warga terdampak banjir bandang berdiri menunggu uluran tangan. “Kami lapar, Pak… ada nasi?” teriak mereka dengan suara lirih. Kondisi ini sangat menguras emosi para relawan. Terutama bagi warga di wilayah pedalaman, mereka harus keluar ke jalan raya agar bantuan bisa sampai. Namun keterbatasan membuat relawan hanya mampu memberikan bantuan sekadarnya demi bertahan hidup.

dapur umum banjir aceh

Apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh korban banjir bandang yang rumahnya roboh dan hancur lebur? Jawabannya adalah segala kebutuhan dasar. Satu sendok, satu piring, gelas, pakaian shalat, hingga makanan—apa pun yang diberikan pasti sangat berarti dan diterima dengan penuh syukur.

Trauma pascabencana masih jelas terlihat di wajah para korban banjir bandang Aceh Tamiang. Selama hampir satu bulan, banyak warga hanya mengonsumsi makanan instan seperti mi dan ikan kaleng. Meski penting dalam kondisi darurat, konsumsi jangka panjang makanan instan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, dan beberapa warga mulai merasakan dampaknya.

dapur umum banjir aceh tamiang 2025

 

Melihat kondisi tersebut, Tanmia membuka dapur umum sebagai upaya meringankan beban warga terdampak banjir bandang sekaligus mengurangi risiko penyakit. Menu makanan sehat dan layak disajikan setiap hari. Sambutan masyarakat sangat luar biasa—kebahagiaan terpancar dari wajah mereka, disertai doa tulus untuk para donatur:
“Semoga panjang umur, murah rezeki, sehat selalu, dan mendapatkan balasan berlipat ganda.”

Alhamdulillah, Dapur Umum Tanmia berhasil membantu lebih dari 2.000 warga terdampak banjir bandang. Bantuan makanan siap saji didistribusikan baik di lokasi dapur umum, ke tempat pengungsian, maupun langsung ke rumah-rumah warga.

dapur umum banjir aceh tamiang makan bersama

Terima kasih kepada seluruh donatur dan panitia dapur umum yang telah berpartisipasi membantu saudara-saudara kita korban banjir bandang. Semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan dengan pahala terbaik.

Tim Tanmia

titik-banjir-aceh-tamiang3

Tragedi Banjir Aceh Tamiang: 111 Rumah di Rimba Sawang Hanyut Terbawa Arus

titik-banjir-aceh-tamiang

Desa Rimba Sawang: Titik Terparah Dampak Banjir

Sebuah pemandangan memilukan terlihat saat tim relawan mengunjungi Desa Rimba Sawang, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang pada 24 Desember 2025. Desa yang terletak di perbukitan tengah hamparan perkebunan sawit ini menjadi salah satu wilayah paling terdampak akibat banjir besar yang melanda kawasan tersebut.

Meskipun lokasinya cukup jauh dari jalan lintas Medan-Banda Aceh, dampak banjir di sini sangat masif. Hingga saat ini, beberapa dusun di Desa Rimba Sawang masih terisolir akibat akses yang terputus.

titik-banjir-aceh-tamiang6

Data Kerusakan: 111 Rumah Hilang Dibawa Banjir

Dalam pertemuan singkat dengan Datok Penghulu (Kepala Desa) Rimba Sawang, Sayyid Arrajali Al Habsi, terungkap data kerusakan yang sangat memprihatinkan. Desa ini kini ditetapkan sebagai zona merah oleh pemerintah karena tingkat kerusakannya yang ekstrem.

Berikut adalah rincian kerusakan bangunan akibat terjangan banjir:

  • Rumah Hilang/Hanyut: 111 unit

  • Rusak Berat: 54 unit

  • Rusak Sedang: 47 unit

  • Rusak Ringan: 54 unit

Ketinggian air banjir dilaporkan mencapai 7 meter dan merendam pemukiman selama sepekan penuh. Beruntung, keberadaan bukit di sekitar desa menjadi penyelamat bagi warga untuk mengevakuasi diri saat air mulai naik dengan cepat.

titik-banjir-aceh-tamiang7

Kondisi Terkini Pengungsi dan Penyaluran Bantuan

Meski air telah surut di beberapa titik, penderitaan warga belum berakhir. Hingga hari ini, banyak warga yang masih bertahan di tenda-tenda darurat di pinggir jalan. Kondisi diperparah dengan:

  1. Aliran listrik yang masih padam total.

  2. Krisis bahan makanan karena akses logistik yang sulit.

  3. Kehilangan tempat tinggal bagi ratusan kepala keluarga.

titik-banjir-aceh-tamiang2

Merespons kondisi tersebut, relawan telah menyalurkan bantuan logistik darurat berupa 1,5 ton beras, 300 kg gula, dan 300 kg minyak goreng. Datok Sayyid Arrajali Al Habsi menyampaikan apresiasi mendalam kepada para donatur yang telah peduli terhadap nasib korban banjir di Rimba Sawang.

Mari terus kirimkan doa dan dukungan terbaik kita untuk saudara-saudara kita di Aceh Tamiang yang tengah berjuang bangkit pasca bencana banjir ini.

titik-banjir-aceh-tamiang5

Relawan Tanmia

banjir bandang

Banjir Bandang Aceh Tamiang 2025: Bencana yang Berbeda Dari Biasanya

Warga Aceh Tamiang sejatinya tidak asing dengan banjir. Setiap musim hujan tiba, wilayah ini kerap mengalami genangan akibat curah hujan tinggi. Namun, banjir bandang Aceh Tamiang kali ini sangat berbeda dari banjir tahunan yang biasanya hanya berlangsung 2–3 hari dan kemudian surut dengan sendirinya.

Pada kondisi normal, banjir yang terjadi hanyalah limpahan air hujan dengan debit lebih besar dari biasanya. Sementara banjir besar diyakini warga datang setiap sekitar lima tahun sekali, tetap dengan karakter banjir air hujan. Namun banjir bandang Aceh Tamiang 2025 menghadirkan ancaman yang jauh lebih serius dan mematikan.

banjir aceh tamiang 2025


Kemiripan Banjir Bandang Aceh Tamiang 2025 dengan Tragedi 2007

Banjir bandang kali ini mengingatkan warga pada peristiwa tragis tahun 2007, di mana banjir bandang Aceh Tamiang menelan banyak korban jiwa. Pola bencananya hampir serupa: kayu-kayu gelondongan dari kawasan hutan gunung hanyut menyusuri Sungai Tamiang hingga ke laut lepas, dengan jarak sekitar 30 kilometer dari hulu hingga muara.

Pada banjir bandang 2007, pemulihan berlangsung relatif cepat. Dalam tujuh hari, aktivitas penangkapan kayu hanyut sudah kembali terlihat. Perahu bermesin menyusuri Sungai Tamiang, mengumpulkan kayu-kayu gelondongan untuk dibawa ke kilang-kilang kayu di sepanjang bantaran sungai, kemudian dipotong dan dijual.

banjir bandang


Dugaan Praktik Berbahaya di Balik Banjir Bandang Aceh Tamiang

Di tengah masyarakat berkembang asumsi bahwa kayu-kayu dari gunung tersebut sengaja dihanyutkan dan dijegat di kawasan Kuala Simpang untuk menghemat biaya angkut. Jika benar, praktik ini sangat berbahaya dan menjadi salah satu faktor penyebab banjir bandang Aceh Tamiang yang merusak.

Akibatnya sangat fatal: rumah warga, sekolah, masjid, hingga harta benda hancur, bahkan merenggut korban jiwa. Keuntungan segelintir pihak dibayar mahal oleh penderitaan masyarakat luas.

banjir aceh tamiang


Kondisi Korban Banjir Bandang Aceh Tamiang Belum Pulih

Hampir satu bulan pasca bencana, kondisi korban banjir bandang Aceh Tamiang masih sangat memprihatinkan. Dari pantauan lapangan, sekitar 90% masyarakat belum pulih. Banyak warga belum bisa kembali ke rumah karena tertutup lumpur tebal atau bangunan yang hancur tak berbentuk.

Sebagian warga masih menanyakan kebutuhan paling dasar: tikar untuk tidur karena semua peralatan hanyut, sepatu boot untuk melindungi kaki dari lumpur bercampur benda tajam, kelambu karena nyamuk yang sangat banyak, serta kebutuhan sembako untuk bertahan hidup.

banjir bandang aceh


Jeritan Kemanusiaan di Tengah Banjir Bandang Aceh Tamiang

Pemandangan pilu terlihat di sepanjang wilayah terdampak. Banyak warga berdiri di pinggir jalan, meminta makanan sambil berteriak, “Kami lapar, Pak.” Kondisi ini menyayat hati siapa pun yang melihatnya.

Selain sebagai takdir Allah SWT, banjir bandang Aceh Tamiang juga menjadi akibat dari ulah manusia yang serakah—eksploitasi alam tanpa mempertimbangkan keselamatan dan masa depan orang banyak.

banjir bandang aceh


Peran Pemerintah dalam Mencegah Banjir Bandang Aceh Tamiang Terulang

Pemerintah harus bertindak tegas terhadap semua pihak yang melakukan eksploitasi hutan dan tambang secara ilegal. Jika tidak, banjir bandang Aceh Tamiang dan bencana serupa akan terus berulang di berbagai daerah Indonesia.

Bila tsunami Aceh 2004 saja membuat negara kewalahan hingga membutuhkan bantuan internasional, maka banjir kali ini yang berdampak pada tiga provinsi tentu memiliki kerusakan yang tidak kalah besar dan kompleks.


Ajakan Bersama Membantu Korban Banjir Bandang Aceh Tamiang

Mari kita bahu-membahu membantu saudara-saudara kita yang terdampak banjir bandang Aceh Tamiang. Semoga Allah SWT menerima setiap amal kebaikan yang kita lakukan dan melindungi kita semua dari berbagai musibah di masa mendatang.

 

bendera putih aceh

Angkat Bendera Putih Untuk Aceh

bendera putih aceh

Awan kelabu masih gelap menggantung dilangit Aceh Tamiang. Begitu juga mendung sendu kelabu masih gelap menggelayut diatas awan berkumpul di langit Kecamatan Banda Mulia, tepatnya di ibukotanya Telaga Meuku, Tanjung Keramat.  Di rumah kediaman Tengku Abdul Mu’id dimana Posko Tanmia Foundation dibuka untuk merespon penanggulangan bencana Banjir Alam yang melanda Aceh Tamiang pada tanggal 25 November beberapa pekan lalu.

Sampai saat tulisan ini ditulis sisa-sisa material banjir masih pecah berserak di setiap sudut jalanan. Lumpur pekat yang terbawa arus banjir masih banyak tertinggal dalam rumah-rumah warga, sekolah, masjid, meunasah (mushola) dan tak sedikit yang makin mengeras bila tak segera dibersihkan. Material Banjir yg menerjang masih tertinggal begitu saja dimana-mana kian menambah parahnya situasi yang tak kunjung membaik sampai hari yang ke-22 pada hari ini, Rabu 17 Desember 2025.

bendera putih aceh

Aliran listrik masih padam dan jaringan sinyal seluler pun masih hilang sehingga susah untuk berkomunikasi. Tiang listrik dan jaringan internet yg bertumbangan berantakan dimana-mana ini yg kian menyulitkan warga masyarakat untuk  berkomunikasi alih-alih menghubungi relawan untuk membantu bergotong-royong bahu membahu warga.

Begitu juga air bersih menjadi sangat urgen kebutuhannya ditunggu-tunggu mendesak untuk keperluan konsumsi sehari-hari. Air seperti kebutuhan yg sangat mendesak untuk konsumsi dapur untuk keperluan masak memasak maupun keperluan MCK yang tak bisa ditunda lagi berlama-lama. Sebagaimana kata warga,”untuk sekedar minum pun kami kesulitan apalagi untuk mencuci”,tutur warga yang banyak kami jumpai.

bendera putih aceh

Pasca banjir yang dahsyat kondisi saluran air PDAM lumpuh mati total dan belum ada tanda-tanda kapan bisa mengalir seperti semula. Sumur warga pun masih terendam lumpur yang tebal sampai 1 meter. Dg perlengkapan seadanya warga hanya menunggu bisa bertahan dengan apa yang mereka butuhkan dan mereka miliki dengan jerigen air yang mereka bisa dapatkan dg membeli air bersih atau mengais air-air berlumpur yang sekedarnya bisa digunakan.

Banjir bandang memang menghapus kenangan segalanya, tapi tidak dengan solidaritas. Ketika hendak memasuki Aceh Tamiang maka siapapun terlebih relawan harus siap untuk berjalan dalam gelapnya lorong-lorong kampung yg masih becek dg kubangan lumpur, berjam-jam dalam sunyinya malam yang gelap tanpa listrik. Sunyi sepi bak seperti perkampungan yang hilang dari riak tawa anak-anak bermain-main

bendera putih aceh

Duka warga belumlah berlalu, warga harus bertahan hidup dg mengolah bahan makanan apa yang ada dirumah selama putus sementara mata pencaharian. Hampir berhari-hari mie instan menjadi makanan yg sering dimakan. Ia sebagai bahan makanan pengganti nasi demi bertahan hidup. Bahkan banyak warga yg memilih mengkonsumsi ubi dan singkong ketika tak terjangkau bantuan seperti di beberapa titik terisolir yg jauh dari jangkauan dan terputus aksesnya. Karena berdasarkan kondisi lapangan Aceh Tamiang, kerusakan hampir merata 95 % dengan jumlah pengungsi hampir 290.000 jiwa. Yang tersebar di 12 Kecamatan dari ujung Tamiang Hulu di Babo Bandar Pusaka hingga di Pesisir Telaga Meuku Kecamatan Banda Mulia dan Pesisir Batang Lawang Kecamatan Bendahara.

Semalam bingkisan paket yang berisi sekerat roti dan secuil bingkisan kami semoga dapat mengobati doa dalam harapnya,  Semoga bantuan segera sampai itulah doa yang ditunggu-tunggu para penyintas dan muhsinin melalui langkah tertatih kami mengantarkan bantuan yg diamanahkan lewat Tanmia Foundation ke titik-titik penyintas yang luput dari jangkauan bantuan. Semoga meringankan dan panjang umur kebaikan membantu rakyat Aceh cepat pulih dan bangkit. [ Ali Azmi ]

bantuan bencana aceh tamiang

Tanmia Peduli Sudah Menyalurkan Lebih Dari Dua Ton Beras

bantuan bencana aceh

Musibah dan bencana adalah ketentuan Allah sebagaimana usia dan rezeki. Namun sebagaimana rezeki terikat dengan upaya dan ikhtiar, maka musibah dan bencana pun sejatinya tidak berdiri sendiri. Ia terikat dengan hukum sebab akibat. Alam tidak merusak dirinya sendiri, namun alam merespon kerusakan yang dibuat manusia pada dirinya. Ini bukan tentang bencana alam, namun tentang bencana kerusakan manusia yang dilakukan pada alam.

Hingga hari ini, tim Tanmia peduli telah menyalurkan lebih dari dua ton beras kepada warga terdampak bencana banjir bandang Aceh Tamiang berikut minyak goreng, gula snack roti/makanan ringan dan lilin sebagai penerangan darurat. Bantuan lainnya seperti pakaian layak pakai sebagian sudah datang dan telah disalurkan dan sebagian lagi masih di perjalanan. Sedangkan pengadaan air bersih masih sedang dalam proses belanja material dan penyiapan tempat dan lokasi.

Nampaknya kebutuhan bahan makanan pokok ini akan menjadi problem yang berkepanjangan bagi warga, mengingat mata pencaharian mereka yang sebagian besar petani ladang dan tambak terputus akibat banjir yang melanda. Hewan ternak mereka, baik sapi, kambing ataupun ayam banyak yang hanyut oleh banjir yang airnya mulai naik dari petang dan sampai pada puncaknya dini hari hingga ketinggian bervariasi antara 3-5 meter.

bantuan bencana aceh tamiang

Putusnya mata pencaharian mereka itu diperparah dengan terputusnya akses air bersih karena sumur-sumur yg dipenuhi lumpur serta pasokan air PDAM yang berhenti. Juga rusaknya alat transportasi yang menjadi kendaraan mereka sehari-hari untuk mobilitas dan juga pekerjaan mengais rezeki.
Hari ini (senin/17/12) kami kembali menyalurkan bantuan bahan makanan ke kampung-kampung yang lokasinya terpelosok dan agak menjauh dari jalan raya.

Ini artinya bantuan yang sampai ke mereka tentunya tidak semasif yg ada dipinggiran jalan raya atau aksesnya masih tidak terlalu jauh dari jalan raya.
Kami mendatangi desa Marlempang dan Paya Rahat yg kondisinya nyaris sama dengan awal-awal banjir mulai surut. Endapan lumpur diluar rumah yg belum dibersihkan, kondisi berantakan dari barang-barang yang rusak terkena banjir, baik yang sedang dijemur atau yang sudah jadi sampah adalah pemandangan yang kami jumpai sepanjang lintasan mobil operasional kami.

bantuan bencana aceh tamiang

Untuk bantuan, Alhamdulillah sudah masuk dan mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Mereka juga sudah bisa tertawa dan bercanda sekalipun masih berduka. Untuk beberapa hari kedepan, mereka bisa bernafas lega karena kebutuhan makan mereka tercukupi, namun entah setelah itu. Barangkali, harapan akan datangnya bantuan-bantuan selanjutnya itulah yang masih tetap menyisakan harapan walaupun hal itu tidak bisa di prediksi juga. Namun yang jelas, butuh waktu yang agak panjang agar mereka bisa bekerja lagi seperti biasa, memanfaatkan lahan yang menjadi mata pencaharian untuk mengais rezeki sehingga tidak tergantung lagi pada bantuan.

Kegiatan hari itu kami akhiri sore hari menjelang malam dengan singgah di sebuah masjid di perkampungan Batang Janeng untuk melaksanakan shalat maghrib. Dalam perjalanan pulang, kami melewati perkampungan dengan kondisi gelap gulita nyaris di sepanjang jalan. Hanya sesekali dijumpai rumah yang menyala lampunya dengan genset, namun penerangan yang ala kadarnya dengan lilin atau lampu minyak kelapa di rumah-rumah warga itulah yang paling banyak menjadi teman setia untuk melewati malam hari.

Ust M Rofiq, Lc

banjir aceh

Kelangkaan BBM Masih Menghantui Masyarakat Aceh Tamiang dan Aceh Timur

bencana banjir

Pagi di hari kedua diwarnai dengan hujan rintik-rintik setelah semalaman hujan dengan intensitas sangat tinggi mengguyur pemukiman tempat posko kami. Kami melakukan rapat kecil untuk membagi tim, sebagian ada yg mulai membersihkan Meunasah yang masih dipenuhi lumpur sejengkal. Dan sebagai lainnya belanja kebutuhan pokok dan langsung menyalurkannya ke warga terdampak.

Saat perjalanan menuju kota Langsa, kami sengaja melewati desa-desa yang terdampak untuk memetakan distribusi bantuan agar tepat sasaran.

Di kota Langsa kami belanja beras sekitar 430 kg dengan kemasan 5 kg dan 10 kg disesuaikan dengan kapasitas mobil kami sebagai langkah awal distribusi bantuan ke masyarakat terdampak.

banjir aceh

Kondisi masyarakat masih belum bisa bekerja karena lahan sawah dan tambak mereka terendam banjir, alat-alat transportasi seperti mobil dan sepeda motor rusak terendam lumpur, sekolah-sekolah masih diliburkan untuk jangka waktu yang belum ditentukan dan untuk membersihkan rumah, mereka kesusahan mendapatkan air bersih.

Banyak bantuan yang datang disalurkan lewat posko-posko setempat, namun kami sengaja salurkan secara langsung ke tangan masyarakat terdampak bencana banjir bandang dengan mendatangi lokasi dan berdialog secara langsung dg mereka. Beberapa rumah terlihat sudah mulai memasang bendera putih sebagai tanda darurat pangan.

banjir aceh 2025

Mereka yang kami temui mengeluhkan bantuan yang hanya ramai di jalan raya sehingga mereka yang tinggal di daerah yang jauh dari jalan raya dan ingin dapat bantuan, terpaksa harus keluar ke jalan raya padahal mereka juga harus segera membersihkan tempat tinggal mereka dari sampah, lumpur dan kotoran-kotoran lain.

Tampak raut wajah sumringah mereka sambil berucap Alhamdulillah saat menerima bantuan yang tidak seberapa tanda kesyukuran yg tetap bisa mereka lakukan di tengah ujian bencana yang mendera.

banjir aceh

Sore harinya kami kembali belanja lagi beras dan bahan sembako lainnya untuk persiapan distribusi esok hari. Namun BBM mobil operasional perlu diisi untuk antisipasi agar esok tidak kehabisan bahan bakar. Saat kami mendekati ke SPBU, Kami mendapati pemandangan barisan mobil dan sepeda motor yang antri mengular hingga mencapai hampir satu kilometer untuk mendapatkan BBM.

Matahari terbenam tanda malam menjelang tidak membuat surut antrian malah semakin panjang padahal kondisi gelap gulita karena lampu di SPBU yang menggunakan genset dimatikan dan baru akan dinyalakan pada jam 7 malam.

banjir aceh

Kami mendapati info bahwa pemandangan seperti itu adalah rutinitas harian sejak bencana banjir bandang Aceh Tamiang melanda karena kepanikan masyarakat akan langkanya BBM yg sangat vital menunjang aktivitas mereka.

Mobilitas masyarakat sangat tergantung dg suplai BBM yang jika itu terputus dipastikan akan semakin memperparah keadaan dan menambah suasan mencekam.

Ust Rofiq, Lc
Tim Tanmia

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id