Ketika Kayu-Kayu Itu Menjadi Saksi: Alam Yang Berbicara, Manusia Yang Lalai

banjir-bandang-aceh

Perjalanan kami menuju Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, menyuguhkan pemandangan yang menggugah nurani. Sepanjang jalur, tampak tumpukan kayu gelondongan dengan ukuran yang beragam, seakan terdiam, namun menyimpan pesan mendalam.

Sebagian kayu memiliki diameter sekitar 30–40 cm, kira-kira seukuran paha orang dewasa. Ada pula yang mencapai 60–80 cm, setara lingkar badan orang dewasa. Bahkan tidak sedikit kayu raksasa berdiameter ±150–200 cm, sebanding dengan tiga hingga empat badan orang dewasa yang berdiri sejajar. Ukuran-ukuran ini menunjukkan bahwa kayu tersebut berasal dari pohon-pohon besar yang telah tumbuh puluhan bahkan ratusan tahun.

Fakta Media: Dugaan Penyebab Kayu Gelondongan

 

kayu glondongan banjir

Mengutip pemberitaan KASTANANEWS.COM (6 Januari 2026), Bareskrim Polri tengah mengusut keberadaan kayu gelondongan yang diduga menjadi salah satu penyebab bencana alam di Aceh Tamiang.
Irhamni menyampaikan bahwa penyelidikan mengarah pada aktivitas pembukaan lahan di kawasan hutan lindung, hutan lindung serbaguna dan hutan lindung Simpang Jernih.

Penyelidik berupaya mengumpulkan bukti dan informasi guna menaikkan perkara ke tahap penyidikan.
Selain itu, Bareskrim juga mendalami dugaan sedimentasi yang memperparah dampak bencana. Sedimentasi tersebut diduga terjadi karena ketidaktaatan terhadap prosedur lingkungan, khususnya tidak adanya dokumen UKL-UPL.
Dalam ketentuan UKL-UPL ditegaskan bahwa lahan dengan kemiringan di atas 40 derajat dilarang dibuka, karena berisiko tinggi menyebabkan longsor ketika hujan, memicu sedimentasi, dan menimbulkan bencana alam besar.

kayu glondongan banjir

Refleksi Qur’ani: Bisa Jadi Pohon Itu Tidak Ingin Ditebang

Pohon-pohon yang kini menjadi kayu gelondongan sejatinya telah memberi manfaat besar: menguatkan tanah, menahan air, mencegah longsor, dan menjaga keseimbangan alam. Dalam pandangan iman, alam bukan benda mati tanpa makna.
Allah ﷻ berfirman:

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ

“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka.”
(QS. Al-Isrā’: 44)

Ayat ini menegaskan bahwa seluruh makhluk—termasuk pepohonan—memiliki tasbih kepada Allah, meskipun manusia tidak memahami bahasa mereka.

Hadits Pelepah Kurma dan Ibārat Imam an-Nawawi

Rasulullah ﷺ pernah melewati dua kuburan, lalu bersabda bahwa penghuninya sedang disiksa. Beliau kemudian membelah pelepah kurma menjadi dua dan menancapkannya di atas masing-masing kubur, seraya bersabda:

“Semoga diringankan azab keduanya selama pelepah ini belum kering.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, Imam an-Nawawi menjelaskan ibārat-nya sebagai berikut (makna penjelasan):
Bahwa pelepah kurma selama masih basah senantiasa bertasbih kepada Allah, dan tasbih tersebut menjadi sebab diringankannya azab.

Dari sini dipahami bahwa setiap makhluk hidup memiliki bentuk tasbih dan ketaatan, meskipun tidak dapat dipahami oleh manusia.
Ibārat ini menunjukkan, bahwa:
Tasbih makhluk hidup bernilai di sisi Allah,
Tumbuhan bukan sekadar benda mati,
Selama ia hidup dan basah, ia berada dalam keadaan dzikrullah.

Penutup

Jika pelepah kurma saja memiliki tasbih yang membawa keringanan azab, maka pohon-pohon besar yang ditebang tanpa tanggung jawab bisa jadi menjadi saksi atas kelalaian manusia. Kayu-kayu gelondongan itu seakan mengingatkan bahwa alam bukan hanya objek eksploitasi, tetapi amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.
Ketika keseimbangan dilanggar, alam pun berbicara—meski manusia sering kali tidak memahami bahasanya.

Reportase:
Iqbal Subhan Nugraha
Aceh Tamiang, Rabu, 28 Januari 2026

Bazar Pakaian Layak Pakai Tanmia Sukses, Pakaian Terserap Hampir 100%

Wakaf pakaian layak pakai memang susuatu yang sangat diperlukan untuk kondisi – kondisi berat dan sulit pada saat masyarakat tertentu mengalami musibah atau hal lainnya.

Kegiatan ini adalah bagian dari ta’awun saling tolong menolong sesama, seyogyanya barang yang disumbangkan adalah yang masih bagus, baru atau bekas namun masih sangat layak untuk digunakan, sehingga saudara – saudara kita yang mendapatkan kesulitan dapat memanfaatkannya dengan baik dan dengan senang hati, bukan pakaian yang tidak layak sehingga menambah kesedihan mereka yang menerimanya.

Barangkali dari pihak donatur, pakaian baik baru maupun layak pakai tersebut sudah dipersiapkan dengan rapi, bersih bahkan wangi saat dikirim ke lokasi bencana atau lainnya namun panitia di lapangan barangkali kurang cerdik dalam melakukan proses distribusinya, sehingga panitia hanya meletakan karung – karung pakain itu di atas tanah atau di tempat umum tanpa atap sehingga warga yang membutuhkan satu persatu menarik pakaian itu mencari mana yang sesuai dengan dia, anak atau sanak saudaranya, pakaian pun berhamburan keluar dari wadahnya, pakaian yang sudah berhamburan itu akhirnya menjadi tumpukan besar diinjak – injak, menjadi kotor akhirnya ditinggalkan begitu saja, dari pengamatan kami pakaian yang ditinggalkan dipinggir jalan itu bukanlah pakaian buruk atau tidak layak pakain lagi namun siapa yang mau mengambil pakaian yang begitu tampilannya?!

 

Warga yang datang belakangan melihat pakaian yang sudah berhamburan itu tak lagi berminat hilang sudah selera, barangkali melihatnya saja sudah membuat bulu kuduk berdiri karena geli dan jijik, padahal pakaian yang diambil baru 10% saja dari total yang tersedia, bisa jadi biaya kirim dari donatur/ yayasan penampung pakaian itu ke tempat bencana memerlukan uang yang tidak sedikit, namun sayang seribu sayang manfaat tidak sebanding dengan biaya yang sudah dikeluarkan, di sini panitia di lapangan mesti melihat fenomena ini dengan baik, mesti berusaha sebaik mungkin meminimalisir tindakan tabdzir dan berupaya agar manfaatnya maksimal.

Memang kalau yang dibagikan itu pakaian baru maka peminatnya sangat banyak dan in sya Allah tidak ada yang terburai berantakan di pinggir jalan, mudah-mudahan para donatur diberikan Allah rizki yang melimpah sehingga suatu hari nanti dapat berdonasi dengan pakaian baru, meskipun alhamdulillah sudah ada beberapa yang memberikan pakaian baru.

Yayasan tanmia alhamdulillah berhasil mengirimkan pakaian dari donasi sebanyak 2,5 ton untuk gelombang pertama, demi meminimalisir pakaian terbuang tidak bermanfaat maka kami membuat pakaian tersebut tersusun rapi seakan di dalam toko, kami meminjam sebuah toko dari warga lalu kami buatkan gantungan, pakaian-pakaian itu kita gantung dengan hanger layaknya di toko baju, lalu kita buatkan tulisan yang bersifat himbauan agar setiap orang mengambil baju seperlunya tidak mubazir dan tidak rebutan, kami memerlukan tiga hari untuk persiapan bazar pakaian gratis ini dengan 5 orang kru yang bertugas, memilih pakaian laki-laki, wanita dan anak-anak, menggantung baju, menjaga bazar serta melayani bila ada pengunjung, kebetulan para kru anak-anak pesantren yang sedang menghadapi banjir juga.

Para pengunjung bazar sangat antusias memilih pakaian, bazar selalu ramai dari hari pertama dibuka, keluar bazar para pengunjung menenteng kresek masing-masing yang berisi baju hasil pilihan mereka, kru sering kwalahan mengadapi para peminat yang begitu banyak namun mereka bahagian karena telah banyak memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menyelenggarakan bazar pakaian seperti ini sangat besar manfaatnya, meminimalisir pakaian terbuang, para peminat tidak merasa malu memilih pakaian karena suasananya seperti mereka berbelanja di toko pakaian, pakaian yang mereka terima juga bersih lengkap dengan kresek belanjanya.

Memang hal ini memakan biaya, tenaga dan tempat namun demi menyampaikan amanah dengan baik, memaksimalkan manfaat wakaf donatur serta mengangkat derajat para penerima wakaf pakaian tentu kegiatan ini tidaklah berlebihan dan barangkali acara seperti sangat diperlukan untuk penyaluran pakaian wakaf.

Tim Tanmia

rumah tersapu kayu banjir aceh

Banjir Bandang Mengambil Segalanya Kecuali Keikhlasan

rumah rusak akibat banjir bandang aceh tamiang

Saya kira beliau sedang bercanda.
Nada suara takmir masjid ini begitu tenang, bahkan sambil tersenyum kecil.

“Alhamdulillah ustadz, banjir bandang kali ini saya nggak perlu repot bersihkan rumah.”

Saya ikut bersyukur, tanpa curiga apa-apa.

“Alhamdulillah, bapak nggak kena banjir, pak?”

Beliau menatap sebentar ke arah genangan air dan lumpur tebal di sekeliling Masjid Asy-Syuhada Gampong Benua Raja.

“Kena, ustadz,” katanya pelan.
“tapi alhamdulillah rumah saya dan semuanya sudah hanyut dibawa air, sudah nggak ada lagi.”

Kalimat itu mengalir begitu saja, tanpa nada mengeluh.

“Jadi nggak ada yang perlu saya bersihkan, ustadz. Semua sudah Allah ambil dibawa air.”

lanjutnya, seolah sedang bercerita tentang hal biasa.

Kalimat yang diucapkan membuat dada saya terasa sesak.
Tak ada rumah, tak ada tempat pulang.
Yang tersisa hanya kalimat alhamdulillah yang terucap untuk bisa tetap tegak berdiri.

Saya ingin berkata sesuatu,
tapi hanya bisa menunduk, sambil menahan mata ini agar tidak berkaca-kaca apalagi meneteskan air mata.

Sungguh hebatnya seorang mukmin yang masih bisa bersyukur ketika seluruh hidupnya disapu habis oleh banjir.

Beliau melanjutkan,

“Kalau semuanya Allah ambil, saya ikhlas.”

Lalu suaranya sedikit turun.

“Cuma kadang malam kepikiran juga, besok mau tidur di mana?”
ungkapnya sambil tertawa.

Di situlah butiran kaca di mata ini tak bisa tertahan.
Bukan karena rumah yang hanyut, tapi karena ketegaran yang lahir dari kehilangan total.

Saya menunduk.
Tak ada kalimat yang pantas selain doa untuknya dan untuk saudara2 lainnya di Tamiang, doa yang mampu menembus langit.

Dan saat itulah hati ini benar-benar terenyuh, bukan sekadar sedih,
melainkan remuk melihat keikhlasan mereka yang sedang diuji paling berat.


Renungan Hadits

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Perkara seorang mukmin itu sungguh mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain seorang mukmin, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.”
(Shahih Muslim 5318)


Khairul Hikmah, S.S., MCE (Relawan Tanmia).
(Kisah ini dikutip di sela-sela distribusi sumber air bersih di Masjid Asy-Syuhada, Gampong Benua Raja, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang)

dapur umum banjir aceh tamiang

Dapur Umum Tanmia Bantu 2.000 Warga Terdampak Banjir Bandang di Aceh Tamiang

banjir bandang

Banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang meninggalkan luka mendalam bagi ribuan warga. Bencana alam ini tidak hanya menghancurkan rumah dan harta benda, tetapi juga mengguncang kondisi psikologis masyarakat yang terdampak. Hampir seluruh isi rumah rusak, perabotan hancur, dan kasur-kasur terpaksa diletakkan di pinggir jalan karena tidak lagi bisa digunakan.

Dampak banjir bandang Aceh Tamiang terasa begitu dahsyat. Sawah dan ladang rusak, tempat usaha lumpuh, bahkan sebagian warga kehilangan sanak saudara. Hingga kini, banyak korban masih terlihat linglung dan belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan pahit akibat bencana tersebut.

banjir bandang aceh desember

Di sepanjang jalan, warga terdampak banjir bandang berdiri menunggu uluran tangan. “Kami lapar, Pak… ada nasi?” teriak mereka dengan suara lirih. Kondisi ini sangat menguras emosi para relawan. Terutama bagi warga di wilayah pedalaman, mereka harus keluar ke jalan raya agar bantuan bisa sampai. Namun keterbatasan membuat relawan hanya mampu memberikan bantuan sekadarnya demi bertahan hidup.

dapur umum banjir aceh

Apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh korban banjir bandang yang rumahnya roboh dan hancur lebur? Jawabannya adalah segala kebutuhan dasar. Satu sendok, satu piring, gelas, pakaian shalat, hingga makanan—apa pun yang diberikan pasti sangat berarti dan diterima dengan penuh syukur.

Trauma pascabencana masih jelas terlihat di wajah para korban banjir bandang Aceh Tamiang. Selama hampir satu bulan, banyak warga hanya mengonsumsi makanan instan seperti mi dan ikan kaleng. Meski penting dalam kondisi darurat, konsumsi jangka panjang makanan instan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, dan beberapa warga mulai merasakan dampaknya.

dapur umum banjir aceh tamiang 2025

 

Melihat kondisi tersebut, Tanmia membuka dapur umum sebagai upaya meringankan beban warga terdampak banjir bandang sekaligus mengurangi risiko penyakit. Menu makanan sehat dan layak disajikan setiap hari. Sambutan masyarakat sangat luar biasa—kebahagiaan terpancar dari wajah mereka, disertai doa tulus untuk para donatur:
“Semoga panjang umur, murah rezeki, sehat selalu, dan mendapatkan balasan berlipat ganda.”

Alhamdulillah, Dapur Umum Tanmia berhasil membantu lebih dari 2.000 warga terdampak banjir bandang. Bantuan makanan siap saji didistribusikan baik di lokasi dapur umum, ke tempat pengungsian, maupun langsung ke rumah-rumah warga.

dapur umum banjir aceh tamiang makan bersama

Terima kasih kepada seluruh donatur dan panitia dapur umum yang telah berpartisipasi membantu saudara-saudara kita korban banjir bandang. Semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan dengan pahala terbaik.

Tim Tanmia

bendera putih aceh

Angkat Bendera Putih Untuk Aceh

bendera putih aceh

Awan kelabu masih gelap menggantung dilangit Aceh Tamiang. Begitu juga mendung sendu kelabu masih gelap menggelayut diatas awan berkumpul di langit Kecamatan Banda Mulia, tepatnya di ibukotanya Telaga Meuku, Tanjung Keramat.  Di rumah kediaman Tengku Abdul Mu’id dimana Posko Tanmia Foundation dibuka untuk merespon penanggulangan bencana Banjir Alam yang melanda Aceh Tamiang pada tanggal 25 November beberapa pekan lalu.

Sampai saat tulisan ini ditulis sisa-sisa material banjir masih pecah berserak di setiap sudut jalanan. Lumpur pekat yang terbawa arus banjir masih banyak tertinggal dalam rumah-rumah warga, sekolah, masjid, meunasah (mushola) dan tak sedikit yang makin mengeras bila tak segera dibersihkan. Material Banjir yg menerjang masih tertinggal begitu saja dimana-mana kian menambah parahnya situasi yang tak kunjung membaik sampai hari yang ke-22 pada hari ini, Rabu 17 Desember 2025.

bendera putih aceh

Aliran listrik masih padam dan jaringan sinyal seluler pun masih hilang sehingga susah untuk berkomunikasi. Tiang listrik dan jaringan internet yg bertumbangan berantakan dimana-mana ini yg kian menyulitkan warga masyarakat untuk  berkomunikasi alih-alih menghubungi relawan untuk membantu bergotong-royong bahu membahu warga.

Begitu juga air bersih menjadi sangat urgen kebutuhannya ditunggu-tunggu mendesak untuk keperluan konsumsi sehari-hari. Air seperti kebutuhan yg sangat mendesak untuk konsumsi dapur untuk keperluan masak memasak maupun keperluan MCK yang tak bisa ditunda lagi berlama-lama. Sebagaimana kata warga,”untuk sekedar minum pun kami kesulitan apalagi untuk mencuci”,tutur warga yang banyak kami jumpai.

bendera putih aceh

Pasca banjir yang dahsyat kondisi saluran air PDAM lumpuh mati total dan belum ada tanda-tanda kapan bisa mengalir seperti semula. Sumur warga pun masih terendam lumpur yang tebal sampai 1 meter. Dg perlengkapan seadanya warga hanya menunggu bisa bertahan dengan apa yang mereka butuhkan dan mereka miliki dengan jerigen air yang mereka bisa dapatkan dg membeli air bersih atau mengais air-air berlumpur yang sekedarnya bisa digunakan.

Banjir bandang memang menghapus kenangan segalanya, tapi tidak dengan solidaritas. Ketika hendak memasuki Aceh Tamiang maka siapapun terlebih relawan harus siap untuk berjalan dalam gelapnya lorong-lorong kampung yg masih becek dg kubangan lumpur, berjam-jam dalam sunyinya malam yang gelap tanpa listrik. Sunyi sepi bak seperti perkampungan yang hilang dari riak tawa anak-anak bermain-main

bendera putih aceh

Duka warga belumlah berlalu, warga harus bertahan hidup dg mengolah bahan makanan apa yang ada dirumah selama putus sementara mata pencaharian. Hampir berhari-hari mie instan menjadi makanan yg sering dimakan. Ia sebagai bahan makanan pengganti nasi demi bertahan hidup. Bahkan banyak warga yg memilih mengkonsumsi ubi dan singkong ketika tak terjangkau bantuan seperti di beberapa titik terisolir yg jauh dari jangkauan dan terputus aksesnya. Karena berdasarkan kondisi lapangan Aceh Tamiang, kerusakan hampir merata 95 % dengan jumlah pengungsi hampir 290.000 jiwa. Yang tersebar di 12 Kecamatan dari ujung Tamiang Hulu di Babo Bandar Pusaka hingga di Pesisir Telaga Meuku Kecamatan Banda Mulia dan Pesisir Batang Lawang Kecamatan Bendahara.

Semalam bingkisan paket yang berisi sekerat roti dan secuil bingkisan kami semoga dapat mengobati doa dalam harapnya,  Semoga bantuan segera sampai itulah doa yang ditunggu-tunggu para penyintas dan muhsinin melalui langkah tertatih kami mengantarkan bantuan yg diamanahkan lewat Tanmia Foundation ke titik-titik penyintas yang luput dari jangkauan bantuan. Semoga meringankan dan panjang umur kebaikan membantu rakyat Aceh cepat pulih dan bangkit. [ Ali Azmi ]

banjir aceh

Kelangkaan BBM Masih Menghantui Masyarakat Aceh Tamiang dan Aceh Timur

bencana banjir

Pagi di hari kedua diwarnai dengan hujan rintik-rintik setelah semalaman hujan dengan intensitas sangat tinggi mengguyur pemukiman tempat posko kami. Kami melakukan rapat kecil untuk membagi tim, sebagian ada yg mulai membersihkan Meunasah yang masih dipenuhi lumpur sejengkal. Dan sebagai lainnya belanja kebutuhan pokok dan langsung menyalurkannya ke warga terdampak.

Saat perjalanan menuju kota Langsa, kami sengaja melewati desa-desa yang terdampak untuk memetakan distribusi bantuan agar tepat sasaran.

Di kota Langsa kami belanja beras sekitar 430 kg dengan kemasan 5 kg dan 10 kg disesuaikan dengan kapasitas mobil kami sebagai langkah awal distribusi bantuan ke masyarakat terdampak.

banjir aceh

Kondisi masyarakat masih belum bisa bekerja karena lahan sawah dan tambak mereka terendam banjir, alat-alat transportasi seperti mobil dan sepeda motor rusak terendam lumpur, sekolah-sekolah masih diliburkan untuk jangka waktu yang belum ditentukan dan untuk membersihkan rumah, mereka kesusahan mendapatkan air bersih.

Banyak bantuan yang datang disalurkan lewat posko-posko setempat, namun kami sengaja salurkan secara langsung ke tangan masyarakat terdampak bencana banjir bandang dengan mendatangi lokasi dan berdialog secara langsung dg mereka. Beberapa rumah terlihat sudah mulai memasang bendera putih sebagai tanda darurat pangan.

banjir aceh 2025

Mereka yang kami temui mengeluhkan bantuan yang hanya ramai di jalan raya sehingga mereka yang tinggal di daerah yang jauh dari jalan raya dan ingin dapat bantuan, terpaksa harus keluar ke jalan raya padahal mereka juga harus segera membersihkan tempat tinggal mereka dari sampah, lumpur dan kotoran-kotoran lain.

Tampak raut wajah sumringah mereka sambil berucap Alhamdulillah saat menerima bantuan yang tidak seberapa tanda kesyukuran yg tetap bisa mereka lakukan di tengah ujian bencana yang mendera.

banjir aceh

Sore harinya kami kembali belanja lagi beras dan bahan sembako lainnya untuk persiapan distribusi esok hari. Namun BBM mobil operasional perlu diisi untuk antisipasi agar esok tidak kehabisan bahan bakar. Saat kami mendekati ke SPBU, Kami mendapati pemandangan barisan mobil dan sepeda motor yang antri mengular hingga mencapai hampir satu kilometer untuk mendapatkan BBM.

Matahari terbenam tanda malam menjelang tidak membuat surut antrian malah semakin panjang padahal kondisi gelap gulita karena lampu di SPBU yang menggunakan genset dimatikan dan baru akan dinyalakan pada jam 7 malam.

banjir aceh

Kami mendapati info bahwa pemandangan seperti itu adalah rutinitas harian sejak bencana banjir bandang Aceh Tamiang melanda karena kepanikan masyarakat akan langkanya BBM yg sangat vital menunjang aktivitas mereka.

Mobilitas masyarakat sangat tergantung dg suplai BBM yang jika itu terputus dipastikan akan semakin memperparah keadaan dan menambah suasan mencekam.

Ust Rofiq, Lc
Tim Tanmia

jembatan putus akibat banjir

Mencekam Terisolir Total, Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Terjadi Penjarahan Akibat Kelaparan

banjir aceh

Kondisi Wilayah terdampak Banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh masih terisolir sehingga masih luput dari perhatian khalayak. Distribusi terhambat, banyak akses jalan terputus total sehingga jalan tidak bisa dilewati. “Satu-satunya cara mengirimkan logistik yang adalah lewat udara dengan kondisi sangat langkanya sembako dan pasokan BBM,” jelas Mahlizar Safdi relawan setempat yang tergabung dalam pos Gabungan Relawan Bencana Gayo, saat dapat dihubungi Tanmia dini hari tadi, Kamis ( 4/12/2025 ).

Wilayah yang dikenal daerah dingin dataran tinggi Takengon ( Aceh Tengah), Bener Meriah dan Gayo Lues sepenuhnya terisolir total, bahkan jalur akses satu-satunya masuk dan keluar terhalang longsor dan jembatan putus sejak bencana melanda Kamis ( 27/12/2025 ).

banjir bandang aceh 2025
Kondisi kian memburuk seiring dengan makin habisnya bahan sembako, bahan makanan, bahan bakar minyak ( BBM ), gas elpiji, listrik yang padam dan memicu terjadinya aksi kriminal penjarahan yang tak bisa dielakan di beberapa toko ritel modern seperti Indomart dan Alfamart sejak Senin ( 1/12/2025 ).

Warga tidak bisa melaporkan situasi terkini karena terhambat jaringan internet yang masih terputus hanya bisa mengandalkan akses starlink milik pemerintah itu pun dengan perjuangan berat harus berdesak-desakan di waktu tengah malam dimana jaringan bisa digunakan.

Kondisi rakyat semakin terjepit menjerit dengan kondisi yang sangat sulit, dan pemerintah setempat pun nyaris angkat tangan tidak tahu harus berbuat solusi apa,” ujar warga. Warga banyak nyaris kelaparan akut dan bertahan dengan bahan pangan yang ada sangat terbatas.

banjir aceh tamiang

Di lansir dari media lokal Bupati Gayo Lues, Suhaidi, menggambarkan kondisi terkini yang sangat terjepit kelaparan memprihatinkan. Ia menyebutkan bahwa lima kecamatan masih terisolasi total, yakni Putri Betung, Pining, Tripe Jaya, Rikit Gaib, dan Pantan Cuaca. Daerah-daerah tersebut belum mendapatkan suplai sembako sama sekali sejak 7 hari terakhir. Empat kecamatan — Putri Betung, Tripe Jaya, Pining, dan Rikit Gaib — menjadi wilayah paling parah terdampak, dengan banyak warga kehilangan rumah karena hanyut dibawa arus banjir yang dahsyat.

Akses utama jembatan penghubung Blangkejeren–Aceh Tenggara menjadi jalur vital nadi ekonomi dan masuknya kebutuhan pokok masyarakat Gayo Lues lumpuh total, Rabu (3/12/2025).

jembatan putus akibat banjir

Begitu juga Jembatan Aih Bobo yang merupakan akses utama urat nadi yang menghubungkan satu-satunya Rumah Sakit Umum Muhammad Aki Kasim dan Batalion Sangir pun terputus total sehingga menambah tingkat parahnya kerusakan infrastruktur dan membutuhkan waktu lama untuk diperbaikinya. Saat ini alat berat terus dikerahkan untuk membersihkan akses jalan, tetapi jalur belum bisa ditembus,” kata Suhaidi.

Daerah ini menjadi wilayah paling parah terdampak, dengan banyak warga yang kehilangan rumah. Walaupun tidak mudah melupakan trauma tragedi musibah yang sewaktu-waktu tiba terjadi sekejap, kami berdoa agar Allah SWT segera mengetuk hati para dermawan untuk mengulurkan tangan bantuanya dan bagi para pemimpin dan pengambil kebijakan pemerintah agar segera hadir berjibaku menyelamatkan setiap nyawa dan memberikan solusi nyata untuk rakyatnya yang dilanda krisis kelaparan dapat dicegah secepatnya.[ ]

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id