Kelangkaan BBM Masih Menghantui Masyarakat Aceh Tamiang dan Aceh Timur

Pagi di hari kedua diwarnai dengan hujan rintik-rintik setelah semalaman hujan dengan intensitas sangat tinggi mengguyur pemukiman tempat posko kami. Kami melakukan rapat kecil untuk membagi tim, sebagian ada yg mulai membersihkan Meunasah yang masih dipenuhi lumpur sejengkal. Dan sebagai lainnya belanja kebutuhan pokok dan langsung menyalurkannya ke warga terdampak.
Saat perjalanan menuju kota Langsa, kami sengaja melewati desa-desa yang terdampak untuk memetakan distribusi bantuan agar tepat sasaran.
Di kota Langsa kami belanja beras sekitar 430 kg dengan kemasan 5 kg dan 10 kg disesuaikan dengan kapasitas mobil kami sebagai langkah awal distribusi bantuan ke masyarakat terdampak.

Kondisi masyarakat masih belum bisa bekerja karena lahan sawah dan tambak mereka terendam banjir, alat-alat transportasi seperti mobil dan sepeda motor rusak terendam lumpur, sekolah-sekolah masih diliburkan untuk jangka waktu yang belum ditentukan dan untuk membersihkan rumah, mereka kesusahan mendapatkan air bersih.
Banyak bantuan yang datang disalurkan lewat posko-posko setempat, namun kami sengaja salurkan secara langsung ke tangan masyarakat terdampak bencana banjir bandang dengan mendatangi lokasi dan berdialog secara langsung dg mereka. Beberapa rumah terlihat sudah mulai memasang bendera putih sebagai tanda darurat pangan.

Mereka yang kami temui mengeluhkan bantuan yang hanya ramai di jalan raya sehingga mereka yang tinggal di daerah yang jauh dari jalan raya dan ingin dapat bantuan, terpaksa harus keluar ke jalan raya padahal mereka juga harus segera membersihkan tempat tinggal mereka dari sampah, lumpur dan kotoran-kotoran lain.
Tampak raut wajah sumringah mereka sambil berucap Alhamdulillah saat menerima bantuan yang tidak seberapa tanda kesyukuran yg tetap bisa mereka lakukan di tengah ujian bencana yang mendera.

Sore harinya kami kembali belanja lagi beras dan bahan sembako lainnya untuk persiapan distribusi esok hari. Namun BBM mobil operasional perlu diisi untuk antisipasi agar esok tidak kehabisan bahan bakar. Saat kami mendekati ke SPBU, Kami mendapati pemandangan barisan mobil dan sepeda motor yang antri mengular hingga mencapai hampir satu kilometer untuk mendapatkan BBM.
Matahari terbenam tanda malam menjelang tidak membuat surut antrian malah semakin panjang padahal kondisi gelap gulita karena lampu di SPBU yang menggunakan genset dimatikan dan baru akan dinyalakan pada jam 7 malam.

Kami mendapati info bahwa pemandangan seperti itu adalah rutinitas harian sejak bencana banjir bandang Aceh Tamiang melanda karena kepanikan masyarakat akan langkanya BBM yg sangat vital menunjang aktivitas mereka.
Mobilitas masyarakat sangat tergantung dg suplai BBM yang jika itu terputus dipastikan akan semakin memperparah keadaan dan menambah suasan mencekam.
Ust Rofiq, Lc
Tim Tanmia













