Distribusi buku Wakaf untuk Dai diresmikan di Dusun Sonyo, Kulonprogo

Bicara soal Dakwah di pedalaman Kulon Progo tentu biacara tentang ust Farozi, meski beliau baru tiga tahun berada di balik Gunung yang berbalut indahnya pepohonan dan udara segar itu namun peran beliau di sana cukuplah penting, beliau berasal dari lamongan, Jawa timur, bertugas tiga pekan di lokasi selanjutnya pekan terakhir beliau pulang ke lamongan, karena anak dan istri beliau tidak dibawa ke Kulonprogo.

Saat kami tiba pada malam hari di masjid tempat beliau bertugas, menjadi imam sekaligus guru bagi mereka, kami melihat beberapa orang bapak dan ibu serta anak – anak sedang asyik mengaji di hadapan guru mereka, dari informasi yang kami terima ternyata ibu-ibu yang belajar mengaji tersebut datang dari tempat yang cukup jauh dari tempat mereka tinggal, berjalan kaki di malam hari menelusuri bukit dan hutan, jalan setapak sudah menjadi amalan mereka setiap kali ingin belajar membaca kitab Allah itu.

Posisi rumah masyarakat yang berada di lereng dan lembah gunung membuat akses menuju masjid cukup sulit, hanya ada jalan setapak, sebagian masih menggunakan kerikil atau bahkan masih ada yang tanah biasa, namun semangat mereka untuk belajar islam sangat patut diacungi jempol, masjid yang mereka gunakan untuk shalat 5 waktu dan belajar mengaji berdiri di atas sebidang tanah milik sesepuh di sana yang beliau wakafkan kepada ummat islam, beliau juga sebagai kepala dusun di sana, saat itu beliau masih beragama budha, kasihan melihat orang islam tidak memiliki tempat ibadah beliau ikhlaskan tanahnya untuk dibangunkan masjid di atasnya, pembangunan masjid tersebut kemudian dibangun dengan dana swadaya masyarakat dan donatur dari berbagai daerah, barangkali ini adalah salah satu pintu hidayah dari Allah buat beliau, tidak lama setelah itu beliau pun mengikrarkan shayadat untuk berislam, karena posisi masjid tepat berada di hadapan rumah beliau maka apabila ada tamu dari luar daerah untuk tujuan dakwah, Mahasiswa, maka rumah beliau siap dijadikan sebagai tempat menginap.

Di tempat ini adalah pusat kegiatan dakwah pedalaman untuk wilayah kulon progo, untuk meresmikan program distribusi buku referensi untuk Dai maka pada malam itu juga kami lakukan serah terima satu paket buku untuk ust farosyid yang bertugas di sana, in syaa Allah nanti ada enam paket lagi yang akan dikirim ke wilayah pedalaman ini, semoga donatur yang telah itu berpartisipasi dalam program ini diberikan keberkahan pada harta dan keluarganya, program ini in syaa Allah akan berlangung hingga akhir February, Alhamdulillah hingga saat ini sudah terkumpul 50 paket dari 100 paket yang direncanakan, 50% dari target awal sudah dapat, semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk memenuhi hingga tercapai 100%, atas partisipasinya kami sampaikan Jazakumullah khairan.

Perjalanan Dakwah Tanmia di Hutan Gunung Kulonprogo Yogyakarta

Jam tiga dini hari 5 February 2018 kami bersiap dan melaju kendaraan menuju Kulonprogo, Wates, Yagyakarta, setelah menginap di salah satu basecamp kami di tambun, jalanan cukup sepi meski hujan rintik – rintik setia menemani kami hingga keluar toll cipali.

Berbekal informasi dari yayasan Baitul Maqdis jakarta, kami dihubungkan dengan seorang tokoh dakwah yang bertugas di Kulonprogo yogyakarta, dia adalah Ust Hariyono, tokoh sepuh yang sudah berusia 60 tahun lebih ini aktif berdakwah di kalangan masyarakat pegunungan yang mayoritas mereka adalah muallaf dari agama budha.

Jam 4 sore kami sampai di rumah beliau, setelah menikmati jamuan, mandi dan istirahat sejenak, habis shalat magrib kami jalan menuju lokasi, Meski usia beliau tidak lagi muda namun semangat dakwah dan perjuangannya layak membuat malu anak muda, jalan munuju lokasi Dusun Sonyo terbilang benar – benar tidak mudah.

Dari kota ke lokasi, jarak perjalanan kira-kira 20 KM dengan jalanan terjal, berbatuan dan lumpur, di samping kiri jalan adalah jurang dalam dan hutan lebat, ust Haryono mendapat jadwal 2 kali satu bulan ke tempat ini, beliau tergolong dai yang pantang menyerah, meski hujan lebat dan angin kencang tidak surut semangatnya berdakwah, dari pengakuan beliau beberapa kali terjatuh dari motornya di tengah hutan pada malam gelap gulita itu, namun hal itu tidak membuat dirinya jera.

Mudah – mudahan Allah menjaga beliau agar tetap istiqamah dalam dakwah, semoga Allah memberi keberkahan pada beliau dan keluarga beliau.

Dalam perjalanan ini yayasan islam Attanmia mendistribusikan Al Quran wakaf dari para jamaah sebanyak 400 exemplar, semoga Allah menerima amal tersebut dan menjadikannya sebagai amal jariyah bagi para pewakaf dan seluruh yang terlibat dalam pendistribusiannya. Aamiin yaa rabbal alamin.

Daurah Tanmia di Labuhan Bajo

Ragam kegiatan dan acara di Labuhan bajo membuat team tanmia menikmati perjalanan dakwah ini, sehingga team tidak merasa jenuh karenanya, di antara kegiatan yang dilaksanakan di Labuhan Bajo adalah Daurah Syar’iyah, semacam penataran guru dan dai dengan ilmu syar’i di sana.

Para peserta cukup antusias mengikuti kegiatan tersebut yang kami laksanakan di Madrasah Islam Swasta (mis) desa Nggorang, Labuhan Bajo, kegiatan daurah ini membawa beberapa materi penting, seperti Tata Cara Shalat, Wudhu dan Thaharah, Fikih Dakwah tahap I, urgensi Tahfizh Al Quran untuk usia dini dan pemaparan metode baca Al Quran “tsaqifa” metode untuk orang tua atau dewasa.

Alhamdulillah kegiatan ini terhitung sukses dan in syaa Allah memberikan manfaat dan percerahan bagi dai – dai dan guru ngaji di berbagai wilayah.

Peserta Daurah datang dari tempat yang jauh, di antara mereka ada yang menempuh perjalanan hingga 6 jam untuk menuju lokasi daurah karena rumah mereka sangat jauh di dalam hutan yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan apapun termasuk sepeda motor, sehingga mereka harus berjalan kaki hingga 3 jam menelusuri bukit dan hutan agar dapat keluar ke jalan raya, yang kemudian dilanjutkan dengan menaiki kendaraan umum selama 3 jam menuju lokasi.

Peserta yang seperti ini ada beberapa orang, demi untuk menghadiri majlis ilmu dan menambah khazanah ilmu yang akan mereka tularkan kepada anak didik dan ummat yang mereka bina di kampung mereka masing – masing, mereka harus berkorban tenaga dan uang tentunya untuk menghadiri majlis tersebut.

Badan yang begitu lelah dan bahkan bau keringat belum lagi hilang dari badan mereka namun hal itu sirna saat mereka bisa hadir dalam majlis ilmu tersebut dan bertemu dengan dai – dai tanmia yang membimbing mereka, rasa bahagia terlihat jelas dari wajah dan sikap mereka, mereka menganggap kehadiran team tanmia adalah hiburan dan semangat baru bagi mereka, bahkan ada salah seorang peserta yang mengungkapkan isi hati mereka dengan mengatakan, “Ustadz hari ini kami dapat hiburan dan semangat baru dengan kehadiran para ustadz dari jakarta, kalau tidak kepala kami pusing menghadapi masalah di wilayah kami masing – masing” tentu dengan logat khas NTT yang masih sangat sulit untuk kami tirukan….

Harapan para dai dan guru ngaji di sana acara seperti ini tidak hanya sekali ini saja, namun hendaknya dilakukan dan di-program untuk adanya tahap lanjutan, agar mereka mendapatkan tambahan ilmu dan pengalaman serta keahlian baru sebagai bekal untuk kegiatan dakwah mereka di kampung halaman masing – masing, kami bisa memahami kebutuhan mereka kepada ilmu, namun kami hanya bisa mengatakan in syaa Allah kami akan datang lagi pada waktu yang tepat, kami berharap para guru dan dai di sana mendoakan kami agar Allah memberikan kemudahan kepada kami untuk mengadakan acara daurah jilid dua di sana dan dengan kehadiran guru dan dai yang lebih banyak serta pada tempat yang lebuh baik dan lebih luas.

Pasar Labuhan Bajo

Salah satu target distribusi Al Quran dan Iqraa kali ini adalah pasar ikan Labuhan Bajo, tempat di mana banyak orang berkumpul, menjual atau membeli ikan untuk kebutuhan harian keluarga mereka.

Hari pertama kami membagikan Al Quran dan Iqraa di sana tanggapan masyarakat cukup bagus, banyak orang yang meminta Al Quran namun sedikit diantara mereka yag mendapatkannya karena stock yang kami bawa hanya sedikit, terlihat dari wajah mereka rasa kecewa karena tidak kebagian Mushaf Al Quran.

Namun kami menjanjikan kepada mereka bahwasanya esok hari kami akan kembali ke pasar ini dan membawa Al Quran lebih banyak lagi untuk dibagikan kepada mereka.

Pagi – pagi buta, sehabis shalat subuh dan dilanjutkan dengan kuliyah subuh dari teman team Tanmia yang memang sudah digilir setiap kali subuh, sehabis itu kami langsung berangkat menuju pasar ikan Labuhan Bajo untuk membagikan Al Quran, kali ke dua ini tidak kurang dari 300 Al Quran dan seratusan buku Iqraa yang kami bawa, Al Quran sudah kami siapkan sehari sebelumnya di Labuhan agar lebih mudah untuk dibagikan esok harinya.

Masyarakat sangat antusias menunggu pembagian tersebut, bahkan karena tidak sabar menunggu mereka siap berebut mengambil Al Quran dan buku Iqraa,
suasana sangat meriyah seperti orang berebut sembako gratis, ini menunjukkan semangat masyarakat untuk belajar islam sangat tinggi, namun sarana belajar seperti Al Quran dan buku Iqraa sangat minim, sehingga pada saat ada yang membagikannya apalagi gratis mereka berduyun – duyun ikutan antre ingin mendapatkan Al Quran, semoga Allah memberikan taufiq dan istiqamah kepada kaum muslimin di NTT.

Masjid Uswatun Karimah NTT padat Kegiatan

Ust Ramli adalah tokoh yang tidak asing lagi di wilayah Warsawe tempat SMP Muhammadiyah berada, risau melihat anak – anak di kampungnya tidak ada guru yang mengajar mereka maka ia siap pasang badan untuk mengajar anak – anak itu, meskipun sebenarnya ia ingin merantau lagi untuk mengadu nasib ke kota besar, namun melihat kenyataan ini beliau mengurungkan niatnya tersebut, karena rata – rata anak kaum muslimin sekolah di sekolah katolik, padahal dahulu ia sempat merantau ke pulau jawa hingga ia berhasil mempersunting putri magelang sebagai permaisuri untuk mendampinginya di medan dakwah.

Rasau hatinya melihat kenyataan itu ia katakan pada istrinya bahwa ia akan mengajar mereka apapun resikonya, sang istri pun mendukung niat dakwah suaminya dengan mantab.

Salah satu bidang garap yayasan Ust Ramli adalah masjid Uswatun Karimah yang berarada tidak begitu jauh dari SMP Muhammadiyah Warsawe, di masjid ini belajar sekitar 50 anak – anak TPQ putra dan putri kaum muslimin.

Saat mendengar berita bahwa team Tanmia ingin datang ke tempat mereka, mereka sudah menanti nanti kesempatan itu, tidak hanya mereka bapak – bapak dan ibu – ibu pun tidak ketinggalan ingin ikut hadir, setelah kami bagikan buku Iqraa dan Al Qu’an kepada mereka, mereka menyambutnya dengan antusias dan kesyukuran.

Setelah itu pengurus yayasan berbagi cerita kepada kami tentang kegiatan mereka di sana, pengurus pula menceritakan kebutuhan mereka untuk menunjang dakwah dan ibadah, hal yang sangat mendesak ialah Lampu penerang masjid.

Karena posisi masjid di dalam hutan lebat, berbukit dan jurang, dari jalan utama kurang lebih 10 KM akibatnya tempat mereka tidak sampai listrik, masyarakat dan anak – anak mengaji tanpa penerangan, sedangkan anak TPQ hanya bisa mengaji pada malam hari, pagi mereka sekolah, siang hingga sore membantu orang tua bertani, malam hari-lah waktu mereka mengaji.

Pernah ada orang yang membatu penerangan masjid mereka dengan Genset namun biaya operasionalnya besar, yayasan tidak mampu untuk menutupi biaya genset tersebut, ditambah membawa bahan bakar ke tempat itu juga terhitung tidak mudah, pada akhirnya yayasan mengharapkan ada bantuan Listrik tenaga matahari yang dinilai cukup hemat, sudah ada beberapa masjid di pedalaman yang menggunakannya wal hasil dianggap cukup sukses memberikan penerangan untuk masjid. Kami mencoba untuk menanyakan berapa kira – kira harganya untuk yang kapasitas sedang, beliau menyebutkan angkanya sekitar Rp 9.000.000, untuk satu unitnya, sedangkan mereka membutuhkan 2 unit, yang satunya untuk sekolah, totalnya adalah Rp 18.000.000,-.

Yang kedua yang mereka membutuhkan Pagar masjid, sudah maklum di sekitar mereka tinggal banyak sekali komunitas kristen, mereka biasa memelihara atau berternak babi, babi di tempat ini banyak beredar, tidak jarang babi – babi itu bermain di masjid atau di pelataran masjid, tentu hewan najis lagi haram ini sangat mengganggu dan menyesakkan hati kaum muslimin di sana, namun apa boleh buat orang islam minoritas di sana, maka adanya pagar masjid akan sangat membantu kebersihan dan kesucian rumah Allah serta menentramkan hati kaum muslimin.

Masjid Uswatun Karimah ini tergolong unik, bagaimana tidak masjid yang berukuran 8 X 8 itu padat kegiatan, selain TPQ di sana ada pula anak – anak yatim yang dikumpulkan oleh Ust Rusli dari berbagai wilayah untuk menjaga aqidah mereka, karena bila ayah si anak telah wafat sedang keluarga besarnya adalah non muslim sangat riskan anak ini dimurtadkan.

Anak – anak yatim itu tinggal di asrama yang sangat sederhana, bagunannya semi permanen, atap dan dindingnya terbuat dari seng, sedangkan tempat tidur mereka hanya papan yang beralaskan tikar, mudah – mudahan Allah memberikan istiqamah dan kemudahan kepada mereka, bila bapk dan ibu ingin membantu mereka dapat menghubungi yayasan islam Attanmia, 085215100250, kemudian bantuan in sya Allah akan disampaikan kepada mereka.

SMP Muhammadiyah Warsawe NTT

Akad nikah dilangsungkan di samping rumah bapak Abdurrahman tempat kami menginap selama kegiatan di NTT, salah seorang team kami Ust M Aniq Lc, MPd diundang untuk mengisi ceramah khutbah Nikah, acaranya cukup meriyah, tamu datang dari berbagai penjuru, hadir tokoh – tokoh masyarakat, seperti Camat, kepala dinas pendidikan, ketua MUI dan tokoh agama, dll, mendengar penceramah datang dari Jakarta membuat para tamu undangan semakin terpukau dengan isi ceramah dan nasehat perkawinan yang disampaikan.

Sehabis acara nikahan itu kami berangkat ke kampung Warsawe, kecamatan Beliling, Kabupaten Manggarai Barat NTT, perjalanan cukup panjang, dengan medan perbukitan curam dan hutan lebat, hati bertanya apakah ada orang yang tinggal di dalam hutan sana?

Dari awal team lapangan sudah memberi isyarat lampu kuning, sebagai isyarat persiapan dan kehati-hatian bahwa kita akan jalan kaki menuju wilayah sejauh 3 KM dari jembatan rusak, karena mobil tidak bisa masuk ke lokasi, secara umum jarak dari tempat tinggal kami ke lokasi SMP Muhammadiyah Warsawe kira – kira 50 KM.

Setelah meniti jalan cukup panjang, kami tiba di jalan setapak yang kelihatannya kami harus jalan kaki, sepanjang jalan terlihat berdiri megah Gereja dan SD Katolik dan fasilitas keagamaan lainnya, sangat jauh memang perbedaan fasilitas yang dimiliki oleh orang kristen dibandingkan dengan fasilitas yang dimiliki oleh islam yang masih bertahan dalam gubuk reot yang sebagian dindingnya sudah tiada, tidak jarang menjadi tempat menginap kambing di dalamnya.

Sopir kendaraan kami bertanya pada warga dan orang yang lewat di sana perihal jembatan penghubung untuk melintasi sebuah kali yang cukup lebar menuju ke lokasi, apakah jembatan itu sudah diperbaiki? Berita gembira segera kami dapat, jembatan sudah bagus dan siap dilewati mobil, meskipun tumpukan lumpur merah masih menghiasi jembatan baru itu, tidak heran memamg karena ini musim hujan, jalan yang kami lalui pun selalu dihiasi oleh hamparan hujan rintik yang mengiringi perjalanan kami, hingga kami keluar dari wilayah itu.

SMP Muhammadiyah Warsawe tergolong sekolah islam yang sangat memprihatinkan, bagaimana tidak dinding sekolah sebagian sudah runtuh, atapnya seng, pembatas antara ruang kelas hanya beberapa potong kayu yang dipaku sebagai batas tiap ruangan, lantainya hanya tanah, tidak ada bagian gedung itu dibangun dengan semen, ditambah posisi sekolah itu di tengah pemukiman kristen, ada sekitar 50 anak kaum muslimin yang mereka bina di sana, meskipun kondisi sekolah yang sangat memperihatinkan itu sekolah tetap memberikan pendidikan gratis kepada siswanya, dengan pertimbangan agar anak – anak kaum muslimin tidak sekolah di Sekolah Dasar Katolik (SDK).

Namun kondisi yang berat seperti ini harus mereka ambil untuk menjaga kaum muslimin agar terhindar dari pemurtadan yang sangat meraja lela di sana, tentu saja ada pihak yang tidak terperhatikan dengan kadaan seperti ini, yaitu para guru, para guru betul – berkerja keras untuk mempertahankan sekolah dan pendidikan islam ini, di samping mereka juga juga harus mencari nafkah buat keluarga mereka, karena sekolah tidak mampu memberikan gaji guru.

Bapak Ramli sebagai ketua Yayasan memberitahu kami mengenai kondisi para guru, harapan beliau guru – guru yang mengajar di SMP Muhammadiyah Warsawe ini bisa mendapatkan haknya dan bisa hidup lebih layak, meskipun para guru tidak pernah mengeluh namun beliau bisa merasakan kebutuhan para mereka.

Kami dari Yayasan Islam Attanmia yang hadir langsung di lokasi mengajak kaum muslimin secara umum dan organisasi masyarakat Muhammadiyah secara khusus untuk ikut berfikir dan memperhatikan kondisi dan membantu sekolah ini, mengingat ini adalah benteng terakhir ummat islam di sana, bila tidak maka anak – anak itu akan masuk sekolah Katolik semuanya, karena fasilitas pendidikan kaum muslimin tidak mencukupi, semoga Allah menggerakkan hati kita untuk ikut peduli dengan saudara – saudara kita di sana.

Silaturahim dengan tokoh MUI Labuhan Bajo

Hari pertama setelah kedatangan kami di Labuhan Bajo, kami bertemu dengan peserta daurah yang sudah tiga hari menunggu kami, kebahagiaan terlihat jelas dari paras wajah mereka, berbagai ucapan sambutan dari pengurus sekolah tempat kami mengadakan acara tersebut di ucapkan saat itu, dan dari team tanmia pun membalas ucapan sambutan hangat tersebut dengan kebahagiaan yang yang sedikit banyak meruntuhkan dinding kelelahan yang kami rasakan akibat safar.

Pada malam harinya kami silaturahim dengan tokoh – tokoh masyarakat dan tokoh agama di Labuhan Bajo, seperti Ketua MUI, Imam – Imam masjid dll, ketua MUI Labuhan Bajo beliau adalah Ust Sakar Abdul Jangku MPdI beliau adalah putra asli Labuhan Bajo, beliau sempat merantau ke Jogyakarta 20 tahun untuk menuntut ilmu dan menggali berbagai macam pengetahuan dan pengalaman hidup, dari pertemuan itu kami melihat beliau sudah sangat fasih berbicara bahasa jawa.

Malam itu sambutan dari beliau begitu hangat, ditemani teh hangat dan gorengan khas Labuhan Bajo obrolan terus berlanjut menggali pengalaman hidup dan gerakan dakwah beliau selama di Labuhan Bajo, berbagai pengalaman berdakwah di wilayah minoritas muslim, hingga materi dakwah yang dikedepankan adalah dakwah dengan materi kerukunan ummat beragama pun beliau sampaikan.

Ust Sakar begitu panggilan akrab beliau adalah tokoh yang dituakan di Labuhan Bajo, berbagai tugas dan urusan ummat islam beliau tangan di sana, dari urusan agama hingga urusan gali sumur pun tetap referensinya adalah beliau, peran dai yang luar biasa ini beliau perankan sehari hari hingga saat ini, semoga Allah memberikan keberkahan kepada beliau dan keluarga, semoga Allah memberikan kemudahan dalam dakwah kepada dai dai yang bertugas di Labuhan Bajo.

Perjalanan Dakwah ke Labuhan Bajo

Hari senin pagi saat matahari sudah mulai menyapa masyarakat jakarta dengan cahayanya, kami dengan team yang akan berangkat ke NTT sudah standby di pos yang sudah kami rencanakan, kendaraan sewaan kami datang, barang-barang bawaan siap dimuat ke dalam mobil kemudian bertolak menuju bandara halim perdana kusuma.

Perjalanan menuju bandara terbilang cukup singkat meskipun jam menunjukkan 06.30, sudah maklum hari senin adalah hari macet warga jakarta, namun kami sudah antisipasi hal itu.

Tiba di bandara, kami siap – siap check in, barang – barang sudah siap di troley dan antre di depan counter check in, saat kami sudah siap check in, KTP sudah kami kumpulkan untuk proses check in, namun berita yang cukup mengejutkan kami dapatkan dari petugas bandara bahwa seluruh penerbangan dengan tujun Bali dibatalkan akibat letusan gunung Agung di pulau dewata itu, debu vulkanik menutupi sebagian wilayah pulau Bali termasuk Bandaranya, rencana semula perjalan kami adalah Jakarta – Bali, lalu Bali Labuhan Bajo NTT, namun dengan kondisi bandara Bali ditutup berarti kami harus alihkan rute perjalanan ke bandara lain untuk menghindari Bali, ditambah belum ada informasi yang jelas kapan bandara tersebut dapat dibuka kembali.

Keputusan cepat kami ambil, perjalanan kami alihkan dengan rute Halim – Surabaya, Surabaya – Kupang, Lalu Kupang Labuhan Bajo, sore hari menjelang magrib diringi dengan hujan rintik kami sampai di Surabaya, kami istirahat di Surabaya satu malam, pagi menjelang siang kami bertolak ke kupang NTT, namun takdir Allah menentukan pesawat ke kupang datangnya telat 45 menit dari waktu yang telah ditentukan, akibatnya kami telat tiba di kupang hampir satu jam, dampaknya pesawat yang akan membawa kami ke Labuhan Bajo telah melambaikan sayapnya mengucapkan selamat tinggal kepada kami.

Maskapai penerbangan ini bertanggungjawab atas keterlambatan dengan alasan cuaca buruk, fasilitas hotel secara gratis untuk menginap diberikan kepada kami, penumpang dijanjikan terbang kembali ke Labuhan Bajo esok hari, Jam 9.45 kami berangkat dengan pesawat kecil menuju Labuhan Bajo, kami mengira pasawat akan langsung ke Labuhan Bajo karena jaraknya yang cukup dekat namun ternyata ia singgah lagi di bandara kecil “Bajawa” sekitar 15 menit untuk menurunkan dan menaikkan penumpang, lalu bertolak ke Labuhan Bajo, singkat cerita perjalanan expedisi dakwah kali ini dari Halim menuju Labuhan Bajo membutuhkan waktu 3 hari, sungguh perjalanan pajang yang cukup melelahkan.

Muncul pertanyaan dalam hati kecil kami perjalanan yang sulit seperti ini juga dialami oleh orang – orang yang menyebarkan agama lain, mereka bersabar atas kesulitan ini, meskipun mereka berada dalam kebathilan, apalagi kita yang membawa risalah islam, tentu harus lebih kuat dan tegar menghadapi kondisi seperti ini, semoga hal ini dapat menjadi pelajaran dan pengalaman yang bermanfaat bagi Dai yang datang kemudian dan meneguhkan langkah kita dalam dakwah untuk menyebarkan risalah islam hingga ke seluruh penjuru negeri.

Kegiatan Dakwah Tanmia di NTT

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah wa shalatu wa salamu ala Rasulullah.

Setelah seluruh barang – barang wakaf telah dipastikan sudah pun tiba di lokasi daurah di NTT, Maka in syaa Allah hari senin tanggal 27 November 2017 kami dari yayasan islam Attanmia dengan jumlah team 6 orang akan berangkat ke NTT mengadakan beberapa kegiatan dakwah dan sosial di sana, kegiatan ini akan kita laksanakan kurang lebih dua pekan, diatara bentuk kegiatannya adalah sebagai berikut:

  • Distribusi Al Qur’an wakaf
  • Distribusi buku Iqraa
  • Distribusi pakaian layak pakai
  • Training guru-guru ngaji dengan menggunakan metodelogi baca Al Quran Cepat “Tsaqifa”.
  • Daurah ilmu syari kepada guru guru ngaji lokal.
  • Membangun sumur wakaf.
  • Membangun sarana MKC yang layak
  • Dakwah di pulau – pulau kecil.
  • Silaturahim dengan tokoh – tokoh, sekolah dan pesantren islam di sana.

Al hamdulillah hingga saat ini bantuan yang telah terkumpulkan adalah sebagai berikut:

  • Al Quran 2500 Pcs
  • Buku Iqraa 4000 pcs
  • Buku metode baca Al Qur’an “Tsaqifa” 200 pcs.
  • Buku panduan Shalat 1400 pcs
  • Pakaian layak pakai beberapa koli.
  • Sarung dan sorban
  • Dll

Semoga Allah subhanahu taala memberikan kepada kita taufiq dan istiqamah di jalanNya, dan menjadikan ini sebagai amal shaleh bagi kita semuanya,
Atas bantuan dan partisipasi bapak ibu yang telah ikut dalam program ini kami sampaikan Jazakumullah khairan, barakallahu fiekum.

Bukhari Abdul Muid
Ketua yayasan

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id

    × Ahlan, Selamat Datang!