Hari Relawan : Imanlah Yang Memanggil Para Insan Relawan Untuk Selalu Berbuat

Sebenarnya jadi pengungsi itu bukan keinginan siapapun dan tidak ada seorang pun menginginkanya. Tapi itulah jalan pilihan yang harus dipilih dalam suasana darurat dan penuh duka.

Keprihatinan itu tak kunjung instan sekejap berangsur sirna. Itulah gambaran yang sekilas menyelimuti para korban gempa dan tsunami Kampung Muara Kelurahan Boya Donggala. Selain puluhan rumah tenggelam juga betapa banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarga tercintanya.

Tim Tanmia Foundatiom sudah lewat sebulan bertahan pada masa transisi darurat pasca bencana. Itu tidak lain karena ijin Allah semua bisa dilalui dengan segala daya dan upaya.

Dua hari berturut-turut (4-5/12/2018) Tim Relawan Tanmia Foundation masih menyisir lokasi-lokasi target untuk mendistribusikan bantuan ke keluarga-keluarga yang masih luput dan minim dari survei bantuan. Sebanyak 50 paket logistik diserahkan langsung ke warga Kampung Muara Donggala yang menghuni “Rumah Haluan Prihatin”.

Sebanyak 45 Jiwa dalam 15 KK menghuni shelter berukuran 4×4 meter yang berada di kawasan pelabuhan Donggala. Shelter “Rumah Hunian Prihatin” ini adalah bangunan semi permanen yang berasal dari bantuan kemanusiaan rakyat Malaysia yang didirikan baru-baru ini.

“Kami yang tinggal disini adalah para saksi hidup, yang telah kehilangan para anggota keluarganya, balita bernama Farel usia 2 tahun 7 bulan adalah anakku yang ikut hanyut diterjang tsunami yang hingga kini belum ditemukan jasadnya”, ungkap Ibu Fla (38 th) dengan raut sedih bersama air mata kepada relawan yang datang membagikan bantuan.

Ibu Hayati (78 th) berkata “bukanlah banyak atau sedikit nilai pemberian itu yang kami kagumi, tetapi yang kami sangat kagum ialah kepedulian dan keprihatinan saudara-saudara kita dari jauh yang terus turut bahu membantu kami di Sulawesi Tengah yang dilanda gempa ini.”

Masih bisa memberi walau dalam kesusahan itu contoh bersyukur yg luar biasa. Tak lupa peran para muhsinin donatur dan semua pihak sudah memberi sumbangsih yang terbaik untuk meringankan beban derita saudaranya yang duka terkena bencana. Ini adalah cara Allah menggerakan hati setiap hambaNya menumbuhkan kecintaan untuk saling membantu karena panggilan keimanan.

Tak perlu menjadi siapapun untuk memberi karena tidak ada satu orang pun yang jatuh miskin karena memberi. Dunia pun ramai kemarin, 5 Desember adalah ditetapkanya hari relawan internasional dimana dunia memberi apresiasi pada semua insan relawan. Padahal siapapun relawan sejatinya imanlah yang memanggil para insan relawan untuk selalu berbuat bukan hanya urusan kemanusiaan saja tapi bukti iman yang nyata adalah perhatian untuk membantu meringankan beban saudaranya yang kesusahan. Untuk para relawan… Berdoalah, doamu dikabulkan karena sekecil apapun menanam kebaikan akan mengantarkan pada musim panen kebahagiaan. InshaAllah

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Palu Sulteng

Saatnya Bangkit Bersama Umat Membangun Pedalaman Donggala

Menyatu dalam suasana pemulihan bencana ( recovery ) di daerah pedalaman bukan hal mudah bagi sebagian orang, terlebih bagaimana membayangkanya bila itu juga suasana pengungsian di wilayah terisolir. Inilah gambaran Balaesang Tanjung. Akan tetapi Balaesang Tanjung selalu menggelayutkan kebahagiaan bagi para relawan yang masih siap bertahan.

Tetap bertahan adalah pilihan agar bangkit, membangunkan kembali harapan dan menyemai semangat agar menyemarakkan ibadah dan bagaimana syi’ar Islam agar terasa di tengah-tengah umat yang jauh berada di pedalaman.

2 Desember 2018 ini bisa jadi menjadi hari paling haru bagi semua orang di semua penjuru nusantara, hari dimana semua umat islam bersatu padu, membuang ego demi menyatukan hati, menguatkan ukhwah, membela umat yang dinista terus berulang.

Kali ini jutaan manusia menyemut tanpa sekat memenuhi Monas dalam rangka menguatkan tauhid bersama elemen umat tapi hal demikian tidak untuk muslim pedalaman Donggala yang masih perlu banyak perhatian juga sarat dengan keterbatasan.

Akses jalan tanah bebatuan yang terjal bertebing dan sulit dijangkau menemani sepanjang perjalanan sampai lokasi Pomolulu Balaesang Tanjung. Disini untuk menemukan para juru dakwah adalah hal yang sangat langka.

Oleh karena itu, posko bersama relawan kemanusiaan Tambu bersama-sama tim da’i lokal berinisiatif terjun ke umat dalam rangka recovery di masa transisi. Harus ada yang siap dimasa-masa transisi ini berdakwah memenuhi panggilan umat di pelosok-pelosok.

Agar wilayah-wilayah yang masih memprihatinkan, dapat merasakan manisnya ibadah pasca bencana terjadi berangsur pulih.

Alhamdulillaah kegiatan pengajian Ahad untuk warga Dusun Mapaga Labean berjalan dengan lancar, sekitar 150 warga menghadirinya beserta anggota keluarga dan anak-anaknya.

Acara ini berhasil terselenggara atas gagasan tim relawan bersama pihak Dusun Delapan Mapaga Labean sejak beberapa hari sebelumnya.

“Kami atas nama warga dusun Mapaga sangat berterimakasih atas dilaksanakanya acara pengajian dan bantuan distribusi logistik untuk warga yang masih mengungsi di gunung”, tutur Bagus perangkat dusun setempat.

Sekitar 200 paket berhasil dibagikan untuk warga dusun Mapaga Labean yang terdampak bencana. “Mapaga adalah daerah pesisir yang pernah terjadi tsunami pada tahun 1968 yang menewaskan ratusan korban.

Hari-hari penat lelah berlalu dengan melihat ganti kebahagiaan terpancar dari raut muka para jamaah yang datang memenuhi mushola Al Ikhlas Kampung Nelayan Mapaga Labean.

Bersama berbagi untuk korban bencana adalah bagian ikhtiar dan tugas para relawan dalam menyalurkan amanah dari para donatur. Lelah pun pasti terasa tapi janganlah menyerah karena kesabaranlah semua menjadi indah pada akhirnya. Momen doa bersama menyudahi acara sore ini sembari menanti senja syahdu di Mapaga Labean. Barakallahufiekum.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Palu Sulteng

Menemani Belajar Malam bersama anak-anak Pengungsi Donggala

Gempa dan Tsunami yang terjadi di Donggala bukan saja menjadi pemandangan memprihatinkan bagi para korban tapi juga menimpa anak-anak sekolah.

Fasilitas pendidikan yang ada juga terdampak musibah gempa bumi dan tsunami di Donggala sehingga menjadikan kegiatan belajar mengajar di sekolah sempat tersendat lumpuh beberapa pekan.

Melihat hal tersebut, Tanmia Foundation bersama-sama dengan tim relawan pesantren mahasiswa Liwaul Haq yang berada di lingkungan Universitas Tadulako mendistribusikan logistik untuk berbagi di pengungsi Tondo Kota Palu . Di waktu yang sama, bersama Posko Kemanusiaan bersama Tambu Balaesang juga berinisiatif membuka kelas belajar malam dengan mengadakan program belajar ceria sebagai wadah anak-anak tetap dapat belajar, sampai nantinya sekolah mereka normal berdiri kembali.

Sejak dibukanya posko dan beroperasi pertama kali, posko bersama kemanusiaan ini membuka kegiatan belajar anak-anak, dengan materi yang bervariatif dari pelajaran diniyah (agama), bahasa inggris, matematika dan kreativitas seni lainya.
“Alhamdulillah, kegiatan belajar malam ceria sampai saat ini telah membersamai anak-anak,” imbuh Eko pengelola posko Tambu Balaesang.

“Ini adalah bagian dari bagian program utama dan prioritas di masa transisi selain penyaluran logistik pangan Tanmia Foundation bersama posko kemanusiaan Tambu, karena kami sadar bahwa anak-anak adalah generasi penerus dan aset yang harus terus belajar agar menjadi lebih baik dengan ilmu. Oleh karena itu, kita mengadakan program belajar malam setiap habis maghrib bersama anak-anak yang terkena dampak ” jelas Nirsam salah satu relawan pengajar di posko Tambu.

Program sinergi bersama posko kemanusiaan ini memberikan kegembiraan tersendiri bagi anak-anak. Alhamdulilaaah, ujian kesulitan tidak menghalangi mereka untuk tetap belajar. Bantu mereka senyum kembali untuk belajar.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Palu Sulteng

Jangan lupakan korban Gempa dan Tsunami Donggala dalam Doa Kita

Ratusan Tenda masih memenuhi padang tenda di pengungsian Gunung Balai Banawa Donggala. Mereka adalah para pengungsi korban gempa dan tsunami yang semula tinggal di pesisir Donggala mulai dari Kabonga hingga Labuan Bajo Tanjung Karang Donggala. Diperkirakan sekitar ratusan KK dengan jumlah ribuan jiwa masih bertahan untuk menunggu hunian sementara. Di sekitaran area perkantoran kabupaten Donggala mereka bertahan seadanya sampai sekarang.

“Sudah empat kali kami berpindah-pindah lokasi pengungsian sejak bencana terjadi”,tutur Jamil salah satu korban tsunami asal kampung muara yang kehilangan kedua anaknya Nizam (7 th) dan Altaf (3 th).

Sore jelang maghrib itu (28/9/2018) bersama ketiga anaknya ( Chika (9th), Nizam (7th), Althaf (3th) ) sedang berada di dalam rumah. Dalam waktu bersamaan juga Anggeriana istri Jamil sedang mengantar makanan di rumah bapaknya yang hanya berjarak 100 meter dari rumahnya. Allahu Akbar…sontak tiba-tiba gempa dahsyat menggoyang rumahnya hingga berhamburan semua orang tetangga-tetangganya yang menghuni pesisir Kampung Muara. Tanpa fikir panjang Jamil bersama ketiga anaknya langsung segera keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Apa dikata sebelum keluar jauh dari rumah tanah di terbelah lebar-lebar sepanjang jalan, hingga menangis histeris semua anak-anaknya ketakutan. Tak berselang lama perlahan air laut keluar dari belahan-belahan bongkahan tanah bersamaan dengan terjangan gelombang tsunami yang diperkirakan beberapa meter melebihi atap rumah ketika itu.

“Saya menggendong ketiga anak saya ( Chika,Nizam dan Althaf) keluar rumah, tapi semua terlepas ketika air menghantam hingga kami terkapar hanyut masing-masing, selang berapa jam saya terdampar di TPI Labuan Bajo yang berjarak 2 KM dari pesisir saya tinggal dan anak-anak belum tahu kabarnya ketika itu”, ungkap Jamil dengan haru berat menceritakan pada relawan di tendanya.

Alhamdulillaah dengan ijin Allah putri sulung saya Chika ( 9 th ) selamat dan bertemu waktu itu hampir tengah malam”, tutur Anggeraeni istri Jamil.

Chika ( 9 th ) sempat hanyut dibawa air laut berjam-jam tapi kehendak Allah lain masih menyelamatkanya, ia bisa berpegangan dengan sebuah ranting kayu yang entah darimana asal muasal datangnya.

“Adik Chika terdampar di pesisir pantai jelang tengah malam dan dibawa tetangga bertemu Ibu mengungsi di gunung”, cerita Chika yang sedang bermain mainan di sekitar tendanya.
Gempa dan tsunami yang terjadi 28/9/2018 lalu juga menyisakan kesedihan yang sangat bagi Ibu Aini ( 75 th ) dan bersama kakaknya Hayati ( 78 th ) yang juga masih kerabat dengan Jamil. Di umur yang sudah senja keduanya harus mengungsi seadanya di atas gunung berhari-hari sejak gempa disusul tsunami terjadi.

“Bencana yang terjadi kali ini lebih dahsyat dibanding dengan tsunami yang terjadi di Mapaga Labean Donggala beberapa puluh tahun silam”, jelas Aini yang ditemui di rumah putranya dekat Masjid Raya Donggala. “Ketika itu belum ada nama tsunami orang tua dulu menamainya gelombang susun tiga” tutur Hayati yang waktu itu masih usia 25 tahun.

Dua kali menjadi saksi hidup ketika tsunami yang terjadi di Donggala menjadikan lebih bersyukur dan menguatkan iman bahwa seisi alam hanya Allah lah satu-satunya yang berkuasa. Alhamdulillah dipenghujung akhir membesuk para korban dan sekaligus silaturahim Tanmia Foundation menyampaikan amanah para donatur dan mendistribusikan logistik bahan pangan hingga hari menjelang senja di Donggala.

Kedatangan para relawan kemanusiaan belumlah mampu menghapus semua kedukaaan yang ada. Hanya imanlah yang menguatkan hati dan menentramkan semua keadaan yang ada. Semua kebaikan dan amal shalih para muhsinin dan donatur adalah cara Allah menggerakan setiap jiwa untuk meringankan duka yang menimpa hambanya. Duka Donggala masih teringat di doa-doa kita. Aamiin.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Palu Sulteng

Melukis Harapan Bersama-sama Anak-Anak Pengungsi Tsunami di Wani Dua Tanantovea Donggala

Relawan Tanmia Peduli menyalurkan bantuan berupa paket logistik dan sembako kepada pengungsi pesisir di Wani Dua Donggala. Terlihat ceria bersama anak-anak di pengungsian yang akrab ceria bermain di teras masjid yang datang ketika shalat tiba.

“Kak, saya minta buku untuk mengaji, klo ada juga berasnya, untuk ibu saya…” senyum Maulana bersama teman-temanya, berjalan malu-malu mendekati tim kami siang kemarin, dia adalah salah satu anak di pengungsian dekat Masjid Al Amin Malambora Wani Tanantovea.

Hari Ahad, 25 Nopember 2018, tim bersama Bapak Jaodar Syarif, Imam Masjid Al Amin Malambora bercengkerama dan berbagi bersama juga anak-anak pengungsi yang masih polos sederhana rupanya. Masjid adalah menjadi satu-satunya tempat yang ramah untuk mereka bermain.

Pasalnya Masjid Al Amin Malambora yang masih kokoh selamat ini adalah satu-satunya masjid yang ada dan tertua di Donggala. Bertiang kayu Ulin sejak ratusan tahun lalu ini adalah jejak masjid tertua yang mulai dibangun sejak tahun 1906. Inilah situs peninggalan islam yang masih ada di Sulawesi Tengah sampai sekarang.

“Air tsunami masuk hanya membasahi lantai saja dan sebentar saja langsung keluar ” jelas Jaodar yang sudah 10 tahun menjadi imam bercerita saat kejadian bencana waktu itu. Padahal pemukiman rumah tetangga Masjid semua luluh lantak. Ada 4 anggota keluarganya yang juga meninggal saat itu seketika terseret tsunami. Sejumlah puluhan KK hingga kini masih bertahan berada di pengungsian tersebut, mereka kebanyakan berasal dari pesisir yang selamat dari gelombang tsunami, tetapi rumah mereka hanyut terbawa air.

Anak-anak hanya bisa sesekali menengok sekolahnya karena termasuk sekolahnya runtuh, sementara buku, seragam, tas dan sepatu sekolah mereka hanyut tanpa sisa.

Ahad akhir pekan ini, tumpah berkah kami bisa berbagi keceriaan untuk mereka. Merajut kembali semangat agar mereka kembali untuk belajar dan bersekolah lagi. Melukis harapan mereka untuk mengarungi masa depan yang cerah lebih baik. Kesuksesan mereka adalah bagian harapan umat yang dinantikan. InshaAllah.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Palu Sulteng

Jejak Tsunami di Warung Lestari Kabonga Donggala

Donggala — Awan tebal menutup langit teluk Palu. Merah senja urung menghiasi Pantai Talise, Sabtu 24 November 2018. Namun, mendung tak menghalangi sejumlah relawan dan pengunjung untuk singgah istirahat untuk menikmati kacang rebus dan minum kopi di kawasan itu.

Salahsatunya kami singgah di Warung Lestari yang menawarkan sensasi menyeruput kopi di atas gasebo terapung tepi pantai, juga memberi gairah bagi warga pesisir Kabonga Kecil tak jauh bersebelahan dengan Kampung Muara Donggala yang hilang tenggelam.

Lestari mungkin memiliki filsafat yang unik untuk sebuah nama tempat makan, daya tarik view warung yang berada diatas laut dan terbuat dari material kayu bangunanya semakin indah menghiasi warkop tetap kokoh.

Subhanallah.. terjangan tsunami memang masuk ke warung hingga peralatan dapur berserakan, namun ajaibnya mushola tidak basah, sajadahnya pun masih tetap rapi, beras di karung pun tetap kering seperti biasanya di dapur menurut Ani pegawai pramusaji. “Beberapa ikat kangkung sempat mengelantung diatas langit-langit seng, itu yang membuat kami heran tersenyum dan tak kuat menahan haru atas kuasa Allah-lah menyelamatkan kami sekeluarga”,ungkap Haryani pemilik warung yang sudah 20 tahun berjualan. Baru kali ini ia mengalami gempa dan tsunami yang hebat yang telah meluluh-lantakkan kawasan pesisir Donggala pada Jum’at 28 September 2018.

Kini warga yang masih selamat masih gotong royong membersihkan puing-puing yang berhamburan ke daratan. Nampak beberapa perahu yang tak lagi utuh menghiasi pesisir.

Duka menyelimuti Donggala belumlah usai, tapi Haryani tak ingin berlama-lama tinggal di tenda pengungsian, hanya bergantung pada bantuan. Kini saatnya bangkit bersyukur dengan apa yang ada dan bisa membantu para tetangganya pulihkan keadaan.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Palu Sulteng

 

Pengungsi Bone Oge Ujung Donggala Menanti Kebahagiaan Datang

Puluhan Tenda yang dihuni ratusan jiwa masih juga ditemui di Bone Oge Tanjung Karang Donggala. Mereka adalah korban gempa dan tsunami yang semula tinggal di pesisir. Sudah hampir 2 bulan mereka mengungsi dan mendiami terpal-terpal tenda di atas gunung di daerah Tanjung Karang. “Ada 40 KK dengan jumlah sekitar 120 jiwa, jelas Umar salah satu pengungsi asal Bone Oge. Wilayah Bone Oge berada diujung wilayah bagian barat teluk Palu yang bisa ditempuh 50 KM dari pusat kota Palu dan berada di ujung Banawa Donggala.

Cara door to door adalah cara yang efektif meski memakan waktu lumayan, tapi inilah yang sedari awal kami pakai saat distribusi bantuan di wilayah prioritas yang terkena bencana di Sulteng saat transisi darurat. Sejak pagi menyisir pesisir desa Bone Oge Kabupaten Donggala dari tenda ke tenda. Semoga lebih adil, lebih merata karena terbatasnya kemampuan kami.
“Alhamdulillah mas bantuannya bisa naik sampai sini, biasanya nyangkut duluan di bawah”, ungkap Ibu Nirma sambil menerima bantuan logistik di tendanya.

Ya Alloh…seperti ini ya rasanya.. Pemandangan kelu dan rasa bercampur aduk di pengungsian yang entah sampai kapan batas waktunya. Tanmia Foundation sudah mendekati sebulan sejak masa transisi darurat 27/10. Distribusi logistik masih diprioritaskan terutama bahan pangan ke daerah-daerah prioritas untuk kantong-kantong pengungsian di wilayah Palu-Sigi-Donggala yang terkena dampak bencana.

Mari bersama-sama kita bantu para korban bencana Gempa dan Tsunami Palu, Sigi, dan Donggala. Terus peduli menabung kebaikan memanen benih-benih pahala dunia-akhirat kelak. Barakallahufiekum.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Palu Sulteng

Kampung Muara Donggala Hilang Dan Berubah Menjadi Lautan Yang Dalam

Belum usai sedih betapa ngerinya gempa di disusul likuifaksi kampung yang ditelan bumi di Petobo, Jono Oge, Sibalaya dan Balaroa dalam benak kita. Kali ini Kampung Muara di Kab Donggala Sulteng ini, ditenggelamkan ke dalam air laut. Berdasarkan pengakuan beberapa warga yang selamat masih banyak rumah-rumah masih utuh tenggelam di bawahnya.

Relawan Tanmia Foundation bersama tim relawan lokal singgah di kampung Tenggelam, Kampung Muara, RT 03/RW 04 Kelurahan Boya Kec. Banawa Kabupaten Donggala pada ( 21/11/2018 ) .
“Di sini (Kampung Muara) saat gempa terjadi, sekitar 38 rumah hilang dihantam ombak pasang atau tsunami, sementara penghuni rumah itu skitar 40-an KK,” ungkap Ade yang tiap hari buruh lepas di pelabuhan Donggala berdekatan dg Kampung Muara.

Masih banyak mayat belum di evakuasi lantaran terjebak di dalam rumah dan berada di dalam air laut. Berkesan, dengan korban yg masih diberi kehidupan, dimana sesuai data ada 32 rumah tenggelam (runtuh ke dalam laut di kedalaman 23-33m), 40(41) korban jiwa, 29 orang jasadnya ditemukan dan 11(12) korban jiwa hingga tulisan ini dicatat belum ditemukan. Mereka yang tewas terdiri anak-anak dan wanita serta lansia, karena saat kejadian banyak kepala rumah tangga yang mayoritas nelayan sedang melaut.

Alhamdulillah, sebanyak 22 jiwa yg terdata masih diberi keselamatan hidup. Meski menyisakan perih luka yang dalam bagi para keluarga yang ditinggal, para relawan kemanusiaan dari berbagai penjuru tetap merasa terpanggil untuk berempati membagi kepedulian dengan segala kemampuan yang ada. Segera pulih bangkit lagi, semangat membara untuk para nelayan. Songsong masa depan dengan wajah baru dengan optimisme keyakinan. Ujian musibah yang telah terjadi menjadi dorongan untuk menambah ketaatan pada Allah Ta’ala Rabb penguasa seluruh alam.

Masyaallah…sungguh kuasa Allah Ta’ala yg pantas menyombongkan atas semuanya, kampung yang indah di pesisir sekarang berubah menjadi lautan biru yang dalam. Semoga menjadi teguran muhasabah diri kita untuk lebih shalih lagi di masa yang akan datang.

Barakallahufiekum

Warga Nelayan Loli Donggala Masih Tertatih Butuh Bantuan

Suasana duka Sulawesi Tengah belumlah berlalu. Cobalah bertahan, datang menyapa menghampiri mereka di pengungsian betapa tersentuh hati untuk terus berbagi meringankan rasa duka untuk mereka. Apalagi ditengah ketidakpastian hanya karena janji imanlah semua bertahan.

Gempa dan tsunami yang menghantam Sulawesi tengah sudah menewaskan ribuan orang. Masih banyak yang hilang terus dicari, foto-fotonya masih ditempel disemua sudut tembok kota, gerangan masih ada keajaiban kuasa Allah terhadap nasib saudara, kerabatnya masih bisa ditemukan bertahan hidup. Sungguh masih duka belumlah berlalu, situasinya tak tergambarkan lagi dalam kata-kata. Hanya tutur doa yang mampu mengikhlaskan atas semua ujian musibah yang terjadi untuk diambil makna hikmahnya.

Tim Tanmia Foundation di masa transisi darurat sejak 27/10 lalu dengan segenap kemampuan yang ada masih bertahan merajut senyum para korban, menguatkan segenggam iman yang masih bisa bangkit untuk menyongsong hari depan yang lebih baik agar negeri barokah berikut impian dan harapan cita-cita kembali ada di Bumi Kaili Palu-Sigi-Donggala.
Pagi menjelang siang ( 17/11 ) melewati masjid terapung Arwam Bab Al Rahman yang menjadi simbol kuasa Allah akan dahsyatnya tsunami ketika itu terjadi. Ajaibnya siapapun yang melihatnya pasti akan akan teringat kejadian yang memilukan itu dan betapa kuat besarnya kuasaIlahi untuk hambanya yang masih rapuh namun dzalim menyombongkan diri. Astagfirullah…

Meneruskan perjalanan bantuan ke Donggala seolah tak pernah habis, karena begitu banyaknya korban dan titik terdampak sementara beberapa pihak lumpuh masih merangkak. Apa yang ada masih belum siap dengan situasi keadaan yang menimpa, hanya iman dan naluri kemanusiaanlah yang terus bergerak bahwa jalan kebaikan selalu terbuka.

Distribusi logistik kali ini menyisir pemandangan tenda warga di Loli dondo, Loli tasiburi, Loli Pesua, Loli Saluran yang terletak di sepanjang pesisir menuju Banawa Kota Donggala. Di gubug tenda-tenda sementara mereka harus memulai kembali hari-hari baru dan membangun asa kehidupan yang lebih baik karena semua harta telah sirna hanya menyisakan puing-puing dan harapan di dada. Bantuan Logistik berupa bahan makanan setidaknya bisa meringankan beban mereka yang rata-rata masih tertatih memulihkan kondisi yang ada.

“Alhamdulillah bersyukur sekali siapa saja yang masih hidup, bisa tersadar untuk kembali taat pada Allah Ta’ala”, ungkap Mama Fitra salah satu warga Loli yang selamat.

Kehidupan masyarakat nelayan kini tinggal di pesisir kenangan. Kapal-kapal pencari ikan banyak yang hanyut entah kemana, puing-puing rumah masih menyelimuti duka lantaran banyak sanak keluarga belum ditemukan. Siapapun yang masih peduli pasti akan diganti karena Allah sebaik-baiknya pemberi pembalasan.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Palu Sulteng

Bantuan Logistik Menyambung Harapan Pengungsi Bertahan di Labuan Bajo Donggala

Hari menjelang sore rombongan mobil distribusi logistik Tanmia Foundation memasuki gerbang kota Donggala.
Kali ini distribusi bantuan logistik sebanyak 100 paket untuk tiga titik shelter pengungsi korban tsunami di Kampung Labuan Bajo Banawa Donggala (15/11). Isi paket terdiri dari beberapa bahan pokok dan kebutuhan sehari-hari. Tiga titik shelter pengungsian ini terdiri 15 – 20 tenda yang berisi 20 KK disetiap shelternya.

“Ada sekitar 200 jiwa yang masih bertahan di tenda pengungsian yang berderet di pinggiran jalan, ini bukan lain karena trauma saja melainkan hanya inilah lokasi yang masih bisa digunakan”, tutur Fahrul Islami kordinator posko labuan Bajo pada relawan.

Wilayah Donggala terbilang cukup unik, sebuah kota tua dengan akses pelabuhan laut yang sudah familiar sejak peninggalan Belanda beratus tahun. Selain pesisir Talise Palu yang menjadi pusat terparah dan menumpuknya tujuan bantuan, pelabuhan kota tua Donggala pun juga tak luput dari hantaman gempa dan tsunami pada 28/9. Bagian pusat kota Donggala dan bagian lainya dipisahkan oleh teluk Palu dan kota Palu sehingga pesisir pantai Donggala sangat panjang. Ini yg menyebabkan minimnya distribusi bantuan ke titik-titik Donggala seringnya terlewatkan.

Titik-titik lokasi terkena dampak gempa dan tsunami di wilayah Donggala memanjang sepanjang pesisir Banawa, Teluk Palu hingga laut luar Tanjung Karang Banawa dan Sirenja di utara. Perjalanan menuju Labuan Bajo Banawa bisa dijangkau dg menempuh jarak 50 KM dari Pombewe Sigi Biromaru pusat posko logistik Tanmia berada.

Bantuan logistik ini adalah bagian dari jawaban dan harapan dari setiap doa para pengungsi yang terus dipanjatkan selama ini. Karena jalan kebaikan selalu mempertemukan para dermawan dan mereka yang masih membutuhkan uluran tangan.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Palu Sulteng

Hari Jum’at Anak-anak Mendadak Riuh Di Kampung Berkah Paneki

Bertahan di kamp pengungsian dalam ketidakpastian waktu berakhirnya menjadi pemandangan yang miris bagi siapapun yang melihatnya. Tetap bertahan tanpa adanya listrik dan pasokan makanan adalah pilihan hidup yang harus diperjuangkan karena inilah ujian. Bagi sebagian kita yang dewasa seperti ini bisa saja, tetapi untuk anak- anak adalah hal yang menyulitkan.

Sejak gempa dan tsunami 28/9 lalu Paneki menjadi wilayah lokasi pengungsian para korban yang selamat akibat gempa yang disusul likuifaksi di Jono Oge Sigi Biromaru.
Jum’at pagi mendadak suasana riuh untuk anak-anak dan pengungsi di kampung berkah Paneki tempat hunian tenda-tenda berdiri. Tanmia Foundation mendistribusikan sebanyak 1 pick up logistik yang 50 paket bahan pokok. Selain itu ada puluhan galon air layak konsumsi juga karena sudah sebulan pasca gempa air minum terganggu akibat banyak saluran dan penampungan air yang tertimbun tidak bisa digunakan lagi.
“Ada 30 anak-anak dan 80 jiwa usia dewasa yang tinggal sejak tanggap darurat dan bertahan sampai waktu yang belum pasti sampai sekarang ini, tutur Ibu Nurahma salah satu warga di Paneki.

Riuh teriakkan ceria anak-anak pengungsi itu seolah jadi obat mujarab bagi kami semua. Letih, lelah, dan perasaan bercampur aduk setelah semalaman mempersiapkan logistik dan mendistribusikannya di esoknya, hilang seketika saat mendengar suara-suara lucu mereka.

Sangat indah membahagiakan bagi siapapun yang teringat “tentara-tentara kecil” anak-anak di rumah yang selalu menyambut dengan riang gembira saat pulang beraktivitas kita.Inilah rasa rindu yang terbayar.

“Alhamdulillah..Terima kasih ya Allah.” sorak ramai bersaut si Arga bersama anak-anak lainya berkumpul menghadang kedatangan kami para relawan. Bantuan logistik mungkin tidak seberapa banyaknya namun dimasa transisi recovery pasca bencana sangat berarti bagi mereka.

Kepedulian kita adalah senyum bahagia untuk mereka. Senyuman anak-anak itu takjub bernilai bagi hati kami. Benar-benar sweet moment berharga tak ternilai. Amazing …Precious Moment.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Palu Sulteng

Di Masjid Tua, Sang Ibu Merajut Mimpi Anak-anaknya

Banyak kisah yang selalu kami temui dibeberapa tempat bencana di Palu, Sigi, dan Donggala. Haru rasanya untuk ditahan air mata dan lidah ini kelu untuk menceritakanya. Desiran ombak sore di Pantai Wani Tanantovea kemarin mengingatkan kisah seorang Ibu Nani bersama anak-anaknya yang kami temui sesaat sebelum maghrib matahari tenggelam.

Tepat di seberang Masjid Tua Wani “Al Amin ” Ibu Nani mendirikan gubuk terpal yang ala kadarnya. Dengan sisa-sisa puing tsunami yang masih bisa dimanfaatkan tenda reot berhasil ia dirikan untuk menghalau teriknya siang dan kucuran air karena musim hujan telah tiba.

Ketika tsunami datang Nani bersama sembilan anak-anaknya sudah mengungsi karena ia mendengar suara gemuruh dari tengah laut beberapa saat setelah gempa. Firasat tanda akan datangnya tsunami sudah dirasa karena suaminya juga seorang nelayan ikan di pelabuhan kampung tua yang juga memberi keterangan yang sama kepada kami yang membesuk sore itu. Rumah tinggalnya dan kapal suami Nani yang menjadi alat mencari nafkah kini sudah ditelan gelombang dan kini hanya bisa mengais nafkah dengan buruh nelayan bersama kawan atau kerabat lainya yang masih ada.

Kuasa Allah menyemangati Nani bersama keluarganya yang tegar menaruh harapan pada sang Kuasa karena masih diberi keselamatan. Harta boleh binasa namun iman masih menguatkan bahwa ajal belum tiba menjemputnya.

“Bismillah dengan banyak berdzikir kami kuat,” ucap Ibu Nani disamping sembilan anak-anaknya yang selamat dari terjangan tsunami saat ditemui relawan Tanmia Foundation 13/11.

Alhamdulillaah sudah sebulan pasca gempa dan tsunami, anak-anak sudah mulai sekolah. Duka tak mampu menyurutkan niat-niat mereka dalam merajut setiap asa dan mimpi-mimpi untuk tetap sekolah dan mengaji.

Masjid Al Amin dan Masjid Mujahidin yang tak jauh dari tenda rumahnya sementara waktu untuk sekolah sekaligus mengaji darurat. Di tempat inilah, impian anak-anak itu akan dikobarkan. Berharap suatu hari nanti, anak-anaknya yang akan menjadi harapan kebahagiaan dimasa depan yang amanah. Yang akan mampu membangun kembali tanah kelahirannya. Membangun mimpi dan kesuksesan dunia akhirat atas ijin Allah Ta’ala.

Walhasil Tanmia Foundation tak lelah berikhtiar dalam merajut duka dan menjembatani mimpi segenap kaum muslimin dan anak-anak Palu, Sigi, dan Donggala untuk terus bangkit kembali. Jangan lupakan mereka, dan berharap kitalah salah satu orang yang telah berjasa menerbitkan seutas senyum diwajah-wajah kebahagiaan mereka itu.

Mari tebar kebaikan dan lapangkan kedermawanan kita ringankan beban mereka.

Ali Azmi
Relawan Tanmia
Palu Sulteng

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id

    × Ahlan, Selamat Datang!