Jumat Berkah, Indahnya Berbagi Sedekah di Masjid Ummu Kultsum

Masjid Ummu Kultsum Kebitan Manisrenggo Sragen tidak puas berhenti begitu saja dengan rutinitas yang ada. Kini kegiatan berbagi pun digalakkan sebagai bentuk pelayanan kepada para jamaah usai shalat Jum’at. Salah satunya melalui program Jum’at berkah dengan berbagi nasi / makanan yang selalu siap dibagikan kepada jama’ah usai shalat Jum’at berjamaah.

Alasan pihak Takmir melakukan kegiatan ini pada hari Jumat ujar Habib karena bagian dari cara pelayanan memakmurkan jama’ah masjid dan waktu sedekah yang paling utama yakni di hari Jumat. “Kami memilih hari Jumat untuk membagikan sedekah ini karena bertepatan dengan hari raya jamaah sholat Jum’at,” ujar Habib akrab dipanggilnya.

Memang setiap hari Jumat, pihak takmir menyiapkan menu lengkap dengan lauknya yang disesuaikan sesuai kemampuan yang ada sekaligus dengan minumnya secara cuma-cuma. Menu masakanya pun beragam salah satunya ialah menu soto spesial.

‘’Awalnya, hanya sekitar puluhan porsi saja namun sampai saat ini mencapai 150-an porsi dengan biaya dari pihak masjid dan sumbangan dari warga sekitar sini. Tapi setelah banyak yang tahu, semakin banyak yang menyumbang bahkan dari luar dusun Kebitan,” jelas Mardi salah satu pengurus Masjid.

Gerakan berbagi ini sangat menginspirasi dan menambah semangat para jama’ah untuk lebih memakmurkan masjid sehingga beriringan waktu membuat jumlah peserta shalat rawatib dan shalat Jumat semakin meningkat. Di masjid lainya pun ikut tergerak untuk mengikuti program masjid Ummu Kultsum sedemikan rupa.

‘’Ternyata yang berpartisipasi ingin berbagi untuk ikut bersedekah pun banyak, buktinya porsi makanan yang disediakan makin hari bertambah jumlahnya juga tak sedikit orang yang menitipkan bahan makanan kepada kami selalu ada saja tanpa disangka-sangka. Semoga saja, kegiatan ini bisa istiqomah dan dirasakan manfaatnya bagi kemaslahatan ummat khususnya para jama’ah,” harap Salim menambahkan selaku pengurus takmir masjid setempat.

“Berbagi ini sudah berjalan beberapa bulan setelah adaptasi kebiasaan baru usai pandemi, dan akan terus kami lakukan,” ujar pria yang juga tenaga pendidik di TPQ Raudhatul Jannah itu.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Ketika Allah Menegur Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Al Qur’an Al Karim adalah Kitabut Tarbiyah (Kitab Pendidikan) yaitu mendidik umat islam agar menjadi Khaira Ummah (ummat yang terbaik) sehingga layak ditampilkan untuk seluruh umat manusia, makanya Allah ta’ala berfirman,

(كُنتُمۡ خَیۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ )

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah
[Surat Ali ‘Imran 110]

Begitupula Al-Quran mendidik umat islam agar menjadi umat yang adil, bersikap pertengahan, sehingga mampu memimpin dunia, dipercaya oleh dunia untuk menjadi saksi kebenaran, Allah berfirman ta’ala berfirman,

(وَكَذَ ٰ⁠لِكَ جَعَلۡنَـٰكُمۡ أُمَّةࣰ وَسَطࣰا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَاۤءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَیَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَیۡكُمۡ شَهِیدࣰاۗ)

Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.
[Surat Al-Baqarah 143]

Umat islam dididik oleh Al Qur’an agar umat ini menjadi pemimpin-pemimpin yang diridhai oleh Allah, yang mengayomi masyarakatnya, memproduksi kebaikan-kebaikan, pemimpin dengan seluruh kesibukannya, tapi tetap mendirikan shalat dan menunaikan zakat, pemimpin walaupun diberikan kekuasaan yang luas tapi mereka tidak memperbudak manusia, justru mengajak mereka untuk menjadi budaknya Allah ta’ala, firman Allah Ta’ala,

(وَجَعَلۡنَـٰهُمۡ أَىِٕمَّةࣰ یَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا وَأَوۡحَیۡنَاۤ إِلَیۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَیۡرَ ٰ⁠تِ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِیتَاۤءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ وَكَانُوا۟ لَنَا عَـٰبِدِینَ)

Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.
[Surat Al-Anbiya’ 73]

Nah, Bagaimana kita menjadi umat islam yang terbaik, bersifat adil dan menjadi pemimpin dunia, yang notabenya faktanya sekarang menjadi lemah, tertindas bahkan terjajah dalam negerinya sendiri? Bagaimana cara Al Qur’an tetap menjadikan kita menjadi umat terbaik?

Diantara caranya adalah dengan metode Al- ‘Itaab (teguran). Al-Quran menegur pemimpin umat islam terbaik yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ini cara Al Qur’an menjadikan kita pribadi-pribadi yang berkualitas, ketika berumah tangga menjadi rumah tangga yang terbaik, ketika kita bermasyarakat memiliki masyarakat terbaik. Nah seperti apa saja teguran Allah kepada Nabi kita shallahualaihiwasallam?
Mari kita lihat teguran Allah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, hal ini penting untuk kita semua, supaya kita mudah untuk menerima nasehat, manusia yang maksum dan sempurna itu saja masih ditegur oleh Allah, apalagi kita sebagai manusia biasa. Dan teguran itu bukan berarti menurunkan derajat, bahkan mengangkat derajat beliau disisi Allah ta’ala.

a. Nabi pernah ditegur oleh Allah dalam kehidupan rumah tangganya. Rumah tangga Nabi adalah rumah tangga yang terbaik dan ideal, maka suatu saat Nabi akan mengambil sikap yang kurang ideal maka segera turun ayat Al-Quran kepada beliau, meluruskan agar Nabi tetap menjadi teladan terbaik termasuk dalam rumah tangganya. Sebagaimana kisah beliau yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Nah Kenapa nabi ditegur? Karena beliau teladan. Kalau tidak ditegur kehidupan berumah tangga kita akan mengalami permasalahan karena kita kehilangan solusi dari orang yang dijadikan sebagai teladan yaitu Rasulullah shallallahualaihi wasallam. Maka ketika Nabi berada dirumah istri beliau yang bernama Zainab binti Jahsy radhiallaahu anha, beliau disuguhi madu, dan beliau memang senang madu, begitu nabi menikmati madu tersebut ternyata berita ini sampai kepada istri yang lain, yaitu Aisyah dan Hafsah Radhiyallahu anhuma, lalu Hafsah dengan perasaan marah mengatakan wahai Rasulullah ini bau apa? Apakah ini bau maghafir (minuman yang aromanya tidak sedap dan rasanya asam) padahal yang diminum oleh beliau adalah madu. Maka Nabi shallahualaihiwasallam, beliau sedikitpun tidak ingin menyakiti istri beliau, sehingga dalam rangka menyenangkan istrinya beliau bersumpah rela meninggalkan minuman madu yang penting istrinya senang, dalam suasana tersebut, Allah menurunkan ayat yang berisi teguran, Firman Allah Ta’ala,

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّبِیُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَاۤ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكَۖ تَبۡتَغِی مَرۡضَاتَ أَزۡوَ ٰ⁠جِكَۚ وَٱللَّهُ غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ)

Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(At-Tahrim: 1)
(Tafsir Ibnu Katsir)

Nabi shallallahu alaihi wasallam saja seorang kepala rumah tangga terbaik saja masih ditegur oleh Allah, apalagi kita yang tentunya kehidupan rumah tangga kita banyak sekali kekurangan, Nah, ini cara Allah mendidik nabi dan umatnya agar menjadi manusia terbaik dalam segala hal. Oleh karena itu ketika rumah tangga kita dirundung masalah, agar menjadi sakinah mawaddah warrahmah maka solusi nya adalah siap menerima teguran Allah, walaupun suami maupun istri adalah pribadi terbaik.

b. Begitu pula istri-istri nabi juga mendapatkan teguran dari Allah bahkan tegurannya lebih keras dari pada Nabi shallahualaihiwasallam, kita bisa lihat dalam surat At-Tahrim ayat 5, Allah berfirman,

(عَسَىٰ رَبُّهُۥۤ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن یُبۡدِلَهُۥۤ أَزۡوَ ٰ⁠جًا خَیۡرࣰا مِّنكُنَّ مُسۡلِمَـٰتࣲ مُّؤۡمِنَـٰتࣲ قَـٰنِتَـٰتࣲ تَـٰۤىِٕبَـٰتٍ عَـٰبِدَ ٰ⁠تࣲ سَـٰۤىِٕحَـٰتࣲ ثَیِّبَـٰتࣲ وَأَبۡكَارࣰا)

Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh jadi Tuhan akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu, perempuan-perempuan yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang beribadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.
[Surat At-Tahrim 5]

Ayat ini menyebutkan bahwa teguran Allah kepada istri-istri Nabi sampai tingkat perceraian? Ulama tafsir mengatakan karena kemelut internal rumah tangga yang ada dalam keluarga pemimpin, dalam hal ini nabi itu lebih berbahaya dari pada tantangan ancaman dari luar. Dalilnya adalah rumah tangga Nabi goncang gara-gara madu, maka Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu bertanya kepada Umar, karena Umar adalah Ayahnya Hafsah,

فقال قد حدث اليوم أمر عظيم قلت ما هو أجاء غسان قال لا بل أعظم من ذلك وأهول طلق النبي صلى الله عليه وسلم نساءه

“Umar berkata “Telah terjadi masalah besar, Aku bertanya “Wahai Umar! Apa itu? apa datang serangan dari Ghassan? Ghassan adalah Kabilah Arab yang ada di Syam tetapi berafiliasi dengan Romawi. Umar menjawab, tidak bahkan lebih bahaya dari pada serangan Ghassan dan lebih mengerikan, yaitu Rasulullah shallallahualaihi wasallam telah menceraikan istrinya”
(Fathul Bari, Kitab Nikah, Bab Nasehat Ayah kepada Putrinya di saat menikah, hadits no. 4895)

Sehingga kemelut masalah intern seorang pemimpin, Dai, tokoh masyarakat itu lebih bahaya dari pada serangan dari luar, makanya Belanda yang hanya merupakan kekuatan yang kecil mampu menjajah Indonesia selama 3,5 abad karena banyak pribumi (masyarakat intern) yang menjadi pengkhianat dan antek penjajah Belanda, mereka memata-matai para Kiai, Tokoh Perjuangan dan para pahlawan sehingga banyak dari mereka yang gugur akibat perbuatan para pangkhianat bangsa ini, sejatinya musuh dalam selimut inilah yang lebih berbahaya dari pada musuh dari luar.
Nah, apa hikmah kenapa nabi dan istrinya masih ditegur oleh Allah ta’ala.

Tidak ada manusia di dunia ini yang lebih militan dan bersabar dalam jalan dakwah ini melebihi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tapi kenapa juga masih ditegur oleh Allah? Supaya beliau tidak Ghurur, merasa paling hebat dalam dakwah, supaya dakwah beliau tetap konsisten dan tajarrud (totalitas) untuk Allah, pertimbangan sikapnya adalah berdasarkan wahyu samawi, bukan hawa nafsu, selera maupun kecocokan.

c. Begitupula, suatu saat Nabi berdakwah di Makkah mendakwahi para elite Quraisy dan suatu saat ditengah kesibukan beliau mendakwahi mereka datanglah sahabat beliau Abdullah bin Ummi Maktum yang buta dan berkata Ya Rasulullah! Ajarilah aku dari sebagian yang Allah telah ajarkan kepadamu! Nabipun diam dan tidak memperhatikan permintaannya, lalu permintaannya pun diulang lagi namun juga tidak ditanggapi oleh beliau sehingga hal tersebut membuat nabi tidak senang sehingga sampai beliau bermuka masam dan berpaling, sehingga atas perbuatannya itu beliau ditegur oleh Allah dalam surat Abasa,

(عَبَسَ وَتَوَلَّىٰۤ ۝ أَن جَاۤءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ ۝ وَمَا یُدۡرِیكَ لَعَلَّهُۥ یَزَّكَّىٰۤ ۝ أَوۡ یَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰۤ)

Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling,karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum).Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa),atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya?
[Surat ‘Abasa 1 – 4]
(Tafsir Ibnu Katsir)

Sehingga para ulama mengatakan bagaimanapun cerdasnya manusia dan tingginya kedudukan ia dimata mereka, tetap mereka harus tunduk terhadap timbangan wahyu, maka logika manusia manapun akan membenarkan tindakan nabi berdakwah terhadap elite Quraisy, dengan mengesampingkan Ibnu Ummi Maktum karena memang beliau butuh dukungan dakwah dari para Pembesar dan logikanya kalau Pembesar nya masuk islam diharapkan anak buahnya juga masuk islam. Secara logika memang sangat menguntungkan, tapi ingat wahyu Allah diatas logika manusia. Makanya dalam perkembangannya muncullah sebuah kaidah,

لا اجتهاد في مورد النص

“Tidak boleh ada Ijtihad sementara ada Nash dalam Al-Qur’an maupun Sunnah”
Secerdas apapun manusia dalam berijtihad dan menganalisa masalah tidak boleh sampai hasilnya bertentangan dengan Wahyu.

d. Begitupula suatu saat ketika perang orang-orang munafik meminta izin kepada nabi untuk tidak turut serta berperang bersama beliau, maka Nabi pun memberikan izin kepada mereka dengan beberapa alasan yang dibuat-buat, diantaranya adalah faktor berat meninggalkan keluarga. Nah ketika beliau mengabulkan izin mereka itu, akhirnya beliau ditegur oleh Allah ta’ala dalam Al-Quran,

(عَفَا ٱللَّهُ عَنكَ لِمَ أَذِنتَ لَهُمۡ حَتَّىٰ یَتَبَیَّنَ لَكَ ٱلَّذِینَ صَدَقُوا۟ وَتَعۡلَمَ ٱلۡكَـٰذِبِینَ ۝ لَا یَسۡتَـٔۡذِنُكَ ٱلَّذِینَ یُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡیَوۡمِ ٱلۡـَٔاخِرِ أَن یُجَـٰهِدُوا۟ بِأَمۡوَ ٰ⁠لِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡۗ وَٱللَّهُ عَلِیمُۢ بِٱلۡمُتَّقِینَ ۝ إِنَّمَا یَسۡتَـٔۡذِنُكَ ٱلَّذِینَ لَا یُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡیَوۡمِ ٱلۡـَٔاخِرِ وَٱرۡتَابَتۡ قُلُوبُهُمۡ فَهُمۡ فِی رَیۡبِهِمۡ یَتَرَدَّدُونَ)

Semoga Allah memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar (berhalangan) dan sebelum engkau mengetahui orang-orang yang berdusta?. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin (tidak ikut) kepadamu untuk berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu (Muhammad), hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguan.
[Surat At-Taubah 43 – 45]
(Tafsir Ibnu Katsir)

Nah diantara Fiqih dalam memberikan teguran, kalau kita menjadi orang tua, suami guru, direktur ketika kita menegur orang yang menjadi tanggungjawab kita, maka diantara adab menegurnya adalah harus dengan cara yang halus diantaranya dengan mendahului teguran dengan ucapan “semoga Allah memaafkanmu!”

Oleh karena itu siapapun itu ketika ia berstatus manusia pasti pernah melakukan kesalahan, karena adanya sisi kemanusiaannya itulah terkadang dia tidak luput dari kesalahan dan berhak mendapatkan teguran dan nasehat. Secerdas-cerdasnya Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafii dengan kehebatan logika dan kedalaman ilmunya, beliau tetap tawadhu’ sampai pernah mengatakan,

قولي صواب يحتمل الخطأ وقول غيري خطأ يحتمل الصواب

“Pendapatku benar tapi mungkin ada salahnya, pendapat orang lain salah tapi mungkin ada benarnya”.

e. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditegur oleh Allah karena ia lebih memilih tebusan dari 70 pembesar orang-orang musyrik yang ditangkap di perang Badar seperti yang diusulkan sebagian besar sahabat, termasuk Abu Bakar as-Shiddiq dan tidak mengeksekusi mereka seperti yang diusulkan Umar radhiyallahu anhu. Maka seketika itu turun ayat yang menegur beliau,

(مَا كَانَ لِنَبِیٍّ أَن یَكُونَ لَهُۥۤ أَسۡرَىٰ حَتَّىٰ یُثۡخِنَ فِی ٱلۡأَرۡضِۚ تُرِیدُونَ عَرَضَ ٱلدُّنۡیَا وَٱللَّهُ یُرِیدُ ٱلۡـَٔاخِرَةَۗ وَٱللَّهُ عَزِیزٌ حَكِیمࣱ)

Tidaklah pantas, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.
[Surat Al-Anfal 67]
(Tafsir Ibnu Katsir)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memutuskan hal tersebut dengan beberapa pertimbangan, diantaranya,
1. Masyarakat Islam di Madinah kala itu butuh kekuatan ekonomi untuk menguatkan stabilitas keamanan dan dan kekuatan negara mereka dari ancaman musuh, sehingga beliau lebih memilih tebusan dari pada mengeksekusi mereka.
2. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam masih senantiasa berharap keislaman mereka dan keislaman keturunan mereka. Oleh karena itu beliau lebih memilih tidak mengeksekusi mereka.

Sementara itu, Allah ta’ala menghendaki Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memilih untuk mengeksekusi mati mereka. Yang demikian itu karena dengan terbunuhnya pembesar-pembesar musyrikin, kekuatan Islam akan ditakuti, kalimat Allah ta’ala tinggi berkibar tidak terkalahkan, dan mencegah musuh Islam berpikir yang kedua kalinya untuk melakukan invasi militer. Olehnya itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditegur Al-Qur’an karena ijtihad beliau menyalahi apa yang sepatutnya di ambil dalam kasus tersebut.

f. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditegur oleh Allah ta’ala karena menyembunyikan berita Allah ta’ala yang memberitakan bahwa beliau akan menikahi Zainab setelah ditalak suaminya, Zaid bin Haritsah yaitu anak angkatnya sendiri. Yang demikian itu takut dicela musuhnya yang mengharamkan orang tua angkat menikahi istri anak angkat yang telah ditalaknya sesuai dengan adat jahiliah yang berlaku pada saat itu. Namun, ijtihad Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ini langsung ditegur oleh Allah dalam Al-Qur’an, Firman Allah ta’ala,

(وَإِذۡ تَقُولُ لِلَّذِیۤ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ وَأَنۡعَمۡتَ عَلَیۡهِ أَمۡسِكۡ عَلَیۡكَ زَوۡجَكَ وَٱتَّقِ ٱللَّهَ وَتُخۡفِی فِی نَفۡسِكَ مَا ٱللَّهُ مُبۡدِیهِ وَتَخۡشَى ٱلنَّاسَ وَٱللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخۡشَىٰهُۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَیۡدࣱ مِّنۡهَا وَطَرࣰا زَوَّجۡنَـٰكَهَا لِكَیۡ لَا یَكُونَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ حَرَجࣱ فِیۤ أَزۡوَ ٰ⁠جِ أَدۡعِیَاۤىِٕهِمۡ إِذَا قَضَوۡا۟ مِنۡهُنَّ وَطَرࣰاۚ وَكَانَ أَمۡرُ ٱللَّهِ مَفۡعُولࣰا ۝ مَّا كَانَ عَلَى ٱلنَّبِیِّ مِنۡ حَرَجࣲ فِیمَا فَرَضَ ٱللَّهُ لَهُۥۖ سُنَّةَ ٱللَّهِ فِی ٱلَّذِینَ خَلَوۡا۟ مِن قَبۡلُۚ وَكَانَ أَمۡرُ ٱللَّهِ قَدَرࣰا مَّقۡدُورًا)

Dan (ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya, “Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engkau takuti. Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab) agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi.
Tidak ada keberatan apa pun pada Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah Allah pada nabi-nabi yang telah terdahulu. Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.
[Surat Al-Ahzab 37 – 38]
(Tafsir Ibnu Katsir)

Dalam hal ini Rasululllah shallahualaihiwasallam seharusnya memberitahu Zaid apa yang telah diwahyukan Allah kepada beliau, tanpa menunda pemberitaan tersebut hanya karena didasari pertimbangan di atas.
kisah teguran ini menanamkan pelajaran-pelajaran besar terhadap umat islam di antaranya:

1. Ayat teguran ini membatalkan adat jahiliah yang memberikan anak angkat hak-hak nasab, seperti: hak waris, hukum nasab, dan yang diakui hanyalah nasab sah yang jelas.

2. Keistimewaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di sini, Zainab radhiyallahu anha dinikahinya tanpa akad dan mahar karena yang menikahkannya dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah Allh ta’ala secara langsung dari langit.

g. Allah menegur Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang tidak mengucapkan in syaa Allah saat menjanjikan sesuatu.
Sebelumnya, penduduk Makkah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan maksud mencoba menguji kebenaran risalah beliau, tentang masalah ruh, kisah Ashabul Kahfi dan kisah Zulqarnain, untuk menjawab pertanyaan mereka, Nabi Muhammad shallahualaihiwasallam pun berkata, Saya akan menceritakannya kepada kalian besok, tanpa memakai kata-kata In sya Allah”. Maka Alla tegur beliau dengan firman-Nya,

(وَلَا تَقُولَنَّ لِشَا۟یۡءٍ إِنِّی فَاعِلࣱ ذَ ٰ⁠لِكَ غَدًا ۝ إِلَّاۤ أَن یَشَاۤءَ ٱللَّهُۚ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِیتَ وَقُلۡ عَسَىٰۤ أَن یَهۡدِیَنِ رَبِّی لِأَقۡرَبَ مِنۡ هَـٰذَا رَشَدࣰا)

Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi,
kecuali (dengan mengatakan), “In sya Allah.” Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini.”
[Surat Al-Kahfi 23 – 24]
(Tafsir Al Baghawi)

Tentu saja, firman Allah ta’ala tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi segenap kaum Muslimin tentang pentingnya bersandar pada kehendak-Nya, dengan mengucapkan kalimat `In sya Allah’, ketika menjanjikan sesuatu.

Sumur Harapan Untuk Kemakmuran Masjid Ummu Kultsum Manisrenggo, Klaten

Pihak Takmir Masjid Ummu Kultsum Dusun Kebitan Brajan Manisrenggo Klaten mulanya terus melakukan berbagai upaya untuk menambah debit sumber air bersih dengan penambahan pembangunan instalasi sumur bor. Penambahan ini karena seiring dengan kegiatan masjid yang mulai padat dan debit air yang ada tidak mencukupi sehingga salah satu solusinya menambah titik sumur bor baru dan menambah bak penampungan.

Pada saat yang bersamaan atas derma wakaf para muhsinin yang terhimpun melalui inisiasi Tanmia Foundation dapat menyelesaikan paket pembangunan wakaf sumur bor untuk masjid Ummu Kultsum yang sehari-hari digunakan untuk sekitar 40-an jama’ah. Kegiatan masjid pun cukup beragam sejak dibangun total sejak 2014. Semula masjid Ummu Kultsum bernama Al-Muttaqin namun karena syarat dan ketentuan harus dirubah namanya sesuai dengan kesepakatan muwakif pembangunya sebelum direhab. Selain kegiatan shalat berjamaah kegiatan lain seperti pengajian anak-anak TPQ, majelis taklim ibu-ibu dan bapak-bapak juga disemarakkan dengan kegiatan remaja masjid. Biasanya kegiatan makan bersama usai shalat Jum’at menjadi hal yang sangat menguatkan ukhuwah antar sesama jama’ah lainya.

“Dusun Kebitan memiliki warga sejumlah 45 KK yang termasuk dalam wilayah Desa Nangsri Kecamatan Manisrenggo”, jelas Nur Salim selaku Ketua RT warga setempat.

Proses pembangunan wakaf sumur bor Tanmia Foundation tergolong termasuk dalam kategori pembuatan sumur bor dangkal dibawah kedalaman 20 meter.

“Untuk pengeboran sumur di titik Kebitan Nangsri mencapai kedalaman 18 meter dengan menggunakan pipa ukuran 18 inchi kemudian air disedot dengan pompa semijet untuk ditampung dalam tandon penampungan yang dipasang diatas menara air setinggi 3 meter kemudian siap untuk dialirkan untuk digunakan”, jelas Kandar pemilik mesin bor usai melakukan pengeboran.

Dia menjelaskan, untuk sumur bor yang berada di wilayah Manisrenggo berbeda-beda semua kedalamannya namun biasanya berada diatas kedalaman 15 meter dengan tingkat kesulitan yang berbeda.

“Pengeboran biasanya akan terkendala dengan adanya batu keras yang sulit ditembus dengan pisau mata bor dan biasanya harus dimasukan bentonite agar bisa meluluhkan batu yang menghalanginya sehingga bor bisa mulus berjalan tanpa ada halangan. Itu yang biasa kita gunakan selama ini”, tambah Kandar.

Bentonit adalah bahan galian yang banyak mengandung mineral yang merupakan salah satu kelompok mineral ( mirip tanah lempung ) yang kaya akan kandungan Na.Kegunaan bentonit juga cukup banyak, antara lain sebagai bahan campuran kosmetik, campuran semen, campuran pembuatan pupuk, sebagai lumpur untuk pengeboran dan masih cukup banyak lain lagi kegunaannya.

Pembangunan wakaf sumur Tanmia Foundation kali ini tergolong lancar meskipun sempat terhenti beberapa saat karena dijumpai batu. Proses pengeboran memakan waktu 6 jam dan ditambah lagi 2 jam untuk proses pembilasan penjernihan usai finishing proses pemasangan pipanisasinya kedalam lubang sumur.

“Kami mengucapkan syukur Alhamdulillah dan bahagia yang luar biasa dengan adanya pembangunan wakaf sumur bor ini sehingga akan lebih membantu kegiatan masjid yang selama ini sudah berjalan”, ungkap Nur Salim dan Sumardi selaku Imam dan Pengurus Takmir Masjid Ummu Kultsum pada pihak Tanmia Foundation dilokasi.

“Harapan jama’ah pun akhirnya terpenuhi dengan dinantikanya sumur bor baru sebagai penambah debit air tambahan. Biasanya air dalam jumlah besar akan sangat dibutuhkan juga ketika pelaksanaan shalat Jum’at yang sekaligus diadakan makan nasi berkah Jum’at kemudian bersih-bersih perabot usai makan bersama. Juga untuk keperluan kegiatan hajatan seperti pernikahan dan acara pengajian akbar yang kerap rutin diadakan. Namun karena pandemi urung dilaksanakan kembali,” pungkas Salim usai serah terima wakaf sumur bor.

Tanmia Foundation sampai saat ini juga melalui program wakaf sumurnya tentu atas dukungan para muhsinin dari berbagai kalangan terus melakukan pembangunan wakaf sumur seperti belum lama ini di Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur juga wilayah lainya yang termasuk dalam kategori daerah-daerah rawan dan masih kesulitan air bersih.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Tanmia Bagikan Pakaian Layak Pakai ke Warga Parumaan Pulau Dambila

Penggerak Dakwah sekaligus pemerhati da’i dan masyarakat pedalaman wilayah daratan Flores Timur yang tergabung dalam Komunitas persaudaraan antar Masjid yakni Haenul Rashid mendistribusikan Wakaf pakaian layak pakai dari Tanmia Foundation kepada masyarakat pulau Dambila Sikka Maumere Nusa Tenggara Timur. Selasa (17/11/2020 ).

“Kegiatan dakwah dan sosial ini merupakan bentuk peduli atas keprihatinan para da’i terhadap kondisi masyarakat pulau Dambila yang masih dalam taraf jauh dari layak, sehingga wakaf pakaian ini bagian dari peduli urusan sandang yang dibutuhkan oleh warga Dambila yang berada di kampung pesisir pulau-pulau sekitar Sikka Maumere,” Rashid pada Tanmia pada Rabu (18/11/2020).

Pulau Dambila merupakan bagian pulau yang bisa ditempuh selama 1- 2 jam dari pelabuhan kota Maumere yang didalamnya terdiri dari beberapa dusun perkampungan salah satunya ialah Dusun Parumaan. Jika dibandingkan dengan wilayah desa lain, dusun Parumaan C Desa Dambila masuk dalam wilayah Kecamatan Alok Timur Kabupaten Sikka yang berada di Pulau Dambila yang tergolong masih kurang mendapatkan perhatian dan penghidupan yang layak. Untuk sekedar sandang saja mereka masih serba kekurangan.

“Sebagian besar masyarakat Kampung Parumaan merupakan warga pribumi yang terdiri dari Suku Maumere, Suku Bajo dan Bugis yang mayoritas notabenenya ialah nelayan tradisional dan bertani ala kadarnya seperti jagung dan kacang serta umbi-umbian. Adapun untuk persawahan padi memang tidak ada sama sekali sehingga laut menjadi ladang mereka sebagai mata pencahariannya biarpun pasang surut hasilnya,” tutur Rashid panjang lebar menggambarkan kondisinya.

Sementara untuk hasil laut biasanya hanya cukup untuk memenuhi makan sehari-hari sehingga untuk kebutuhan sandang mereka terkadang masih membutuhkan uluran tangan pihak lain bahkan sangat memprihatikan bila harus menjelaskan sebagaimana mestinya.

Sementara itu, Alwi selaku tokoh kampung setempat bersama warga lainya yang menyaksikan warganya menerima bantuan pakaian layak pakai dari Tanmia Foundation di Masjid Al-Fatah Dambila ( berdiri tahun 1998 ) seraya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas perhatiannya dan kepedulianya masih mau memberikan perhatian atas sebagian masalah kesulitan yang dialami warga.

“Ada sekitar 45 KK warga dusun Parumaan C Pulau Dambila yang masih hidup dalam lingkungan keluarga sangat sederhana ala nelayan pesisir”, ungkap Rashid yang menyerahkan serah terima wakaf Tanmia Foundation di lokasi.

“Bapak-bapak Ustadz dan imam masjid begitu peduli dengan kondisi lingkungan sekitar kami, terlebih bantuan pakaian yang diberikan sangat membantu meringankan beban dan membuat kebahagiaan yang tak terkira rasanya bagi warga desanya,” katanya.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Jauh Dari Sumber Mata Air, Masjid Ammar Yaafi Mrombok Terima Wakaf Sumur Bor

Saat musim hujan tiba tahun ini hampir tiap rumah warga di Kampung Mrombok Desa Golo Bilas Kecamatan Komodo memasang penampungan air hujan yang turun dari talang untuk digunakan keperluan rumah tangga masing-masing dirumahnya.

Begitu juga dengan datangnya hujan juga sangat membantu keberadaan debit penampungan air Masjid Ammar Yaafi untuk digunakan keperluan beribadah. Seperti beberapa tahun sebelumnya Alhasil, terpaksa pihak Takmir mengambil air bersih dari sumber mata air untuk keperluan masjid dengan menyambung mengalirkan pipa mata air sekitar 500 meter dari perbukitan.

“Saluran pipa dari mata air seringnya tersendat-sendat bahkan putus baik tersumbat karena lumpur maupun terinjak ternak sapi”, pungkas Umar Said selaku Imam Masjid.

Pihak Takmir Masjid Ammar Yaafi beroleh wakaf Sumur atas dukungan para muhsinin dari Tanmia Foundation untuk melakukan kegiatan pengeboran sumur guna mengatasi kendala kesulitan air selama ini. Muhammad Ramli selaku da’i setempat menyebut, program wakaf sumur akan sangat membantu usaha memakmurkan kegiatan jama’ah yang melakukan sholat tiap adzan berkumandang tiba. Ada sekitar satu sampai dua shaf shalat yang dipenuhi oleh 10 sampai 18 jama’ah tiap tiba waktunya sholat.

“Setidaknya wakaf sumur ini dapat dimanfaatkan untuk warga dusun kami sejumlah 40 KK dengan kisaran 90-an jiwa lebih berada di dusun Mrombok sebagai penerima manfaat wakaf sumur yang ditujukan untuk kemakmuran jama’ah masjid ini,” kata Abdul Rahmat salah satu tokoh setempat yang mengungkapkan pesan do’a rasa terimakasihnya pada pihak Tanmia di lokasi ( Senin, 16/11/2020 ).

Sementara itu, berdirinya Masjid Ammar Yaafi bagi 40 KK warga setempat sangat membantu kegiatan masyarakat di kampung tersebut baik dalam menjalankan ibadah setiap waktu maupun juga tiap kegiatan shalat Jum’at yang dimanfaatkan oleh para siswa Tsanawiyah yang jaraknya berdekatan saja hanya 100 meter dari Masjid. Bak masjid pun menjadi sarana penampungan air ketika datangnya musim kering tiba yang menyebabkan warga kesulitan mendapatkan air bersih. Ia menambahkan, masjid bukan tidak berusaha menampung air dari mata air dan bisa digunakan untuk keperluan masing-masing warga yang membutuhkan. Tapi karena jarak saluran mata air yang lumayan jauh dan seringkali terkendala berbagai hal menjadikan kesulitan selama ini.

“Lokasi mata air jauh dengan masjid pemukiman warga, membutuhkan biaya yang cukup besar untuk pengadaan pipa dan alat lainnya. Warga hanya menggunakan selang seadanya dengan iuran swadaya. Pernah juga melakukan upaya pengajuan pipanisasi dan pengadaan sumur bor ke pihak pemerintah setempat, namun sampai saat ini belum juga ada realisasi,” pungkasnya.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Tanmia Foundation Salurkan Wakaf Pakaian di Beberapa Pulau Pedalaman Sikka Maumere NTT

Tanmia Foundation bersama elemen pegiat dakwah di daratan Flores Timur terus berupaya menghadirkan kebahagiaan untuk masyarakat di daratan pedalaman Flores Timur. Kali ini wilayah yang dituju ialah Pulau Koja Besar, Pulau koja Kecil, Pulau Dambila, Kampung Paga (daratan-Maumere ) yang sebelumnya masuk dalam daftar assessment daerah yang diprioritaskan untuk pendistribusian paket wakaf pakaian Tanmia Foundation.

“Alhamdulillah, Rabu  (11/11) Paket Wakaf Pakaian dan Mushaf Qur’an kembali ke pedalaman, tepatnya di beberapa titik di Sikka Maumere, mulai dari Kampung Paga menuju Pulau Koja Besar dan Pulau Koja Kecil. Selanjutnya disusul ke Pulau Dambila,” terang Ketua Penggerak Komunitas Dakwah Kompak, Hainul Rashid dalam rilis yang diterima pihak Tanmia.

Ia menambahkan, karena jarak yang membentang cukup jauh, penyaluran wakaf pakaian dan Iqra’ -mushaf Qur’an ini akan berlangsung selama satu – dua pekan di awal bulan November 2020.

Paket wakaf pakaian yang terdiri dari pakaian anak-anak, dewasa dan wanita dikemas rapi dalam kemasan karton dari Tanmia Foundation ini menjadi kebahagiaan dan kesyukuran bagi tokoh setempat atas kepedulian dan perhatianya terhadap para masyarakatnya yang hidup jauh dari kata layak masih berjuang di pedalaman.

“Alhamdulillah, kami atas nama warga dusun Sagandona Paga Barat bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Tanmia Foundation atas wakaf dan bantuanya yang sangat membantu kondisi kami. Kami do’akan semoga Allah memberikan amanah ini terus mendapat kepercayaan oleh umat khususnya para muhsinin dan dermawan atas kegiatan dan program pelayanan peduli umat yang dijalankan oleh Tanmia Foundation. Maju dan sukses terus Tanmia Foundation, semoga terus memberikan manfaat dan mashlahat. Aamiin,” ungkap Tokoh Da’i sekaligus Takmir Masjid Baiturrahman Paga, Muhammad Marjan.

Perlu diketahui bahwa Dusun Sagandona Paga Barat memiliki Masjid Baiturrahman yang sudah berdiri sejak tahun 1980 yang dapat memfasilitasi untuk sekitar 70 KK warga setempat. Umat muslim pada umumnya di wilayah Kecamatan Paga terdiri dari pribumi pendatang Jawa, Madura, Bugis, Buton, dll yang sudah berinteraksi bertahun-tahun secara alamiah dengan menjaga toleransi yang tinggi dengan keyakinan masing-masing dengan warga pribumi non muslim. Kendati demikian mereka tetap bergandengan tangan dalam hal muamalah apapun dan aktif dalam kegiatan gotong royong maupun bidang kemasyarakatan.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Kisah Perjuangan Da’i Dan Santri Pedalaman Suku Dani Papua di Hari Pahlawan

Da’i sering kali disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dan penghargaan. Jasa mereka untuk mengemban misi dakwah demi membawa dan mencerdaskan ummat untuk segenap elemen bangsa layak diacungi jempol. Berkat wasilah para da’i banyak ilmu dan cahaya hidayah tersebar hingga pelosok-pelosok negeri. Misi ilahi untuk membangun ummat rabbani yang bertaqwa pada Rabbnya adalah tugas suci abadi. Itu semua demi mencari keridhaan Allah semata sebagai tugas mulia yang jariyahnya tak akan pernah ada putus-putusnya. Namun apakah perjuangan para da’i tidak luput dari badai ujian yang lantas mengernyitkan nyali untuk tetap bertahan diatas kebenaran ? bahkan keberadaan mereka pun sering terpaut jarak yang sangat berjauhan dan hanya ruh keikhlasan dari sanubari hatilah yang masih menyala sehingga mendarah daging untuk setia berkhidmat berdakwah di segala sikon pedalaman.

Salah satu kisah da’i yakni Ustadz Abim Habibi dan Ustadz Zubaidi keduanya alumnus Pesantren Banyuanyar Pamekasan yang sudah bertahun-tahun mengajar di pesantren Istiqomah di pedalaman distrik Welesi Wamena Papua.

Berikut sekelumit kisah ketika perjumpaan kami dengan Ustadz Abim Habibi di Jogjakarta beberapa waktu lalu. Pondok Pesantren Al-Istiqomah Walesi Wamena Papua salah satu-satunya pesantren tua yang didirikan pada tahun 1983 oleh YAPIS ( Yayasan Pendidikan Islam ) yang berpusat di Jayapura.

Lokasi pesantren berada di Distrik Welesi yang berjarak 8 KM dari pusat kota Wamena dan 15 KM dari pusat bandara Wamena satu-satunya akses yang mudah bisa ditempuh untuk menuju ke Pesantren hingga saat ini. Adapun perjalanan darat dari ibukota Jayapura ke Wamena bisa memakan waktu seminggu bahkan puluhan hari tergantung kondisi medan jalanan rimba. Karena medan rimba liar belantara yang terjal seringkali labil untuk ditembus dan meleset dari prediksi waktu perjalanan yang direncanakan.

Kini pesantren Istiqomah yang sudah berjalan dengan jenjang pendidikan yang sudah ada dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah masih menginduk ke wilayah Jayawijaya dengan jumlah sekitar 70-an santri dengan pengasuh 5 orang asatidz.

Uniknya asal santri-santri cukup beragam sekalipun masih asli Papua. Yakni Suku Assolipelema, Welesi ,Okilik , Tulima, Apenas , Yagara , Hitigima.

Menjadi da’i di pedalaman Papua setidaknya menjadi refleksi perjuangan yang tidak mudah apalagi dengan segala kompleks kesulitan maupun keamanannya di pedalaman. Inilah refleksi perjuangan yang luar biasa yang mungkin tidak dijumpai di sebagian wilayah khalayak umum perkotaan.

Sejak 2012 lalu menjadi pembuktiannya Abim Habibi sebagai da’i muda sekaligus bak pahlawan muda yang turun gunung menuju pedalaman Wamena untuk mencerdaskan anak-anak Suku Dani yang sebagian besar adalah santri di Distrik Walesi.

Walesi adalah sebuah wilayah yang terletak di Wamena yang terletak di Lembah Baliem. Lembah Baliem lebih terkenal di dunia luar sehingga banyak orang menyebutnya Lembah Baliem karena identik khasnya dengan Jayawijaya atau Wamena.

“Berangkat dari keprihatinan mengenai kondisi pendidikan dan dakwah di Indonesia timur terutama Papua pada khususnya, kami yang masih seumur jagung dan belum masih terpikirkan pada waktu itu saya ditempatkan untuk menjadi guru, di daerah pedalaman. Kami mengabdi sebagai khidmat alumni pesantren untuk mengajar di pedalaman Wamena sejak 2012,” ujar Abim bersemangat menceritakan kisahnya sejenak pada kesempatan pertemuan malam itu di dekat kampusnya di Jogjakarta.

Bersama juga rekannya yakni Ust Zubaidi yang sampai saat ini masih mengabdi di Walesi juga banyak pengalaman lika-likunya menemukan hal-hal inspiratif maupun yang memilukan hati.

“Saya bisa melihat semangat yang besar dari anak-anak untuk belajar dan bermimpi tentang cita-cita mereka kelak. Anak-anak disana jauh dari orang tuanya, kondisi fisiknya kuat, perjalanan jauh pun tanpa alas kaki menyusuri jalanan rimba dan hebatnya berani berpendapat bahkan kerap kali berebut bacaan ketika datang buku bacaan baru bahkan untuk maju ke depan kelas,” ceritanya Zubaidi dengan senang hati.

“Tanggapan masyarakat terhadap pesantren al hamdulillah sangat positif dan masyarakat sangat setuju dan mendukung adanya pendidikan di pelosok”, jelas Zubaidi dalam tutur lengkap harapanya sebagai pengasuh pesantren.

Sehingga jangan salah, letupan api semangat justru datang dari anak-anak pedalaman yang sudah rela datang jauh-jauh melewati rimba liar pegunungan Papua meski dalam kondisi yang amat terbatas, nyatanya semangat anak-anak ini bisa melampaui batas perkiraan.

Ia pun mengisahkan sebuah kisah inspiratif dalam perjuangan santri-santrinya baik ketika sebelum dan setelah masuk pesantren. Tentang perjuanganya anak kecil dari suku Dani asal Kabupaten Nduga yang mulanya masih non muslim berbeda keyakinan namun akhirnya dengan ijin kehendak Allah Alhamdulillah hatinya terbuka saat melihat anak-anak santri memakai pakaian rapi dan busana muslim, akhirnya pun anak tersebut yang masih berusia 7 tahun itu memberanikan diri pergi ke tempat kami ke Distrik Walesi dengan menempuh jalan kaki dengan jarak 130 KM selama 4 hari 4 malam. Allahu Akbar Hasbunallah wanikmalwakiil.

“Ini merefleksikan betapa pentingnya sebuah komitmen hingga mampu mengantarkan ketakutan menjadi sebuah kekuatan besar. Anak yang ingusan masih kecil itu akhirnya masuk Islam dan saat ini sudah menjadi Muadzin di tempat kami, dialah si kisah Muhammad Musthofa Asal Nduga”, pungkas cerita Ust Zubaidi.

Begitu juga kisah santri bernama Alfandra yang berasal dari Suku Yelipele dari pedalaman Apenas Wamena yang merupakan keturunan Suku Dani pribumi dan pendatang sejak tahun 2000 harus sudah menjadi anak yatim dengan sepeninggal orang tuanya pasca konflik etnis terjadi.

Hidup pun terus berputar dan kisahnya terus berjalan dengan kesemangatan keluarganya ia mampu dibesarkan dengan rasa cinta dan akhlaq yang luar biasa. Anak satu ini mampu menghafal Al Qur’an dengan cepat dan mempunyai suara yang khas ketika melantunkan Al Qur’an.

Kisah da’i maupun santri di ujung pedalaman dan perbatasan memang sangat bermakna dan jiwa pengorbananya. Ada kebahagiaan bercampur keprihatinan yang mengharukan itu muncul mengetuk pintu empati keimanan dan jiwa naluri kemanusiaan. Dengan kondisi seadanya mereka tetap berjuang untuk mencerdaskan generasi santri anak bangsa demi masa depan ummat pedalaman yang lebih baik. Selamat berjuang para da’i, sang pendidik santri harapan ummat untuk kemajuan bangsa.

Banyak orang hebat sederhana di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Hiduplah pesantren agar menjadi pendidikan pilihan Utama. [ Barakallahufiekum ]

 

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Semangat Memakmurkan Masjid Ar-Razzaq Gunungbang Gunung Kidul

Gema lantunan ayat suci Alquran sudah menggema dibalik gelapnya jalanan menuju Dusun Gunungbang Desa Bejiharjo Karangmojo Gunung Kidul.

Awan malam bertabur bintang bersama suasana ceria menjadi saksi penyerahan Wakaf Qur’an dan Iqra’ dari Tanmia Foundation untuk segenap anak-anak TPQ dan para jama’ah Masjid Ar-Razzaq pada ( 7/11/2020 ).

Tiap maghrib tiba menjadi saksi bersama anak-anak, kaum bapak dan ibu orang tua mulai mendekat dan meramaikan masjid yang belum lama ini dibangun sejak Muharram 1441 H / September 2019 hingga peresmiannya pada Rabiul Akhir 1441H / Desember 2020.

Sebelum keberadaan berdirinya Masjid Ar-Razzaq warga hanya menggantungkan untuk beraktivitas ibadah di masjid lain yang berada di dusun sebelah yang berjarak kurang lebih 1 km.

“Sudah bertahun-tahun lamanya penantian kami untuk membangun masjid, harapannya bila masjid berdiri nanti akan memberikan kemudahan bagi para warga dusun untuk beraktivitas beribadah akan lebih dekat dan nyaman”, ujar Pardiman selaku Takmir dan penggagas pendirian Masjid Ar-Razzaq Dusun Gunungbang RT 03 RW 17, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul.

Musim pandemi memang memisahkan banyak hal, tak luput kegiatan belajar anak-anak untuk pergi ke tempat mereka sekolah. Kerisauan yang dialami orang tua terhadap kekosongan anak-anak belajar kian memuncak dari hari ke hari, hal inilah yang menjadi panggilan ketulusan niat hati sosok seorang Pardiman untuk mengajar anak-anak mengaji setiap usai shalat Maghrib.

Bersamanya ada puluhan hingga belasan anak-anak yang masih ikut mengaji sekalipun terkadang pasang surut tapi hal tersebut tidak mengurangi semangatnya mengajar dan setia menemani bersama suka duka bagi para jama’ah warga dusun yang berjumlah 36 KK ini.

Tradisi habis maghriban mengaji mungkin masih ada di sebagian besar daerah-daerah pelosok-pelosok. Sekalipun saat ini adalah suasana adaptasi baru dan semuanya pun ikut baru di tengahnya pandemi. Era digital teknologi dengan segenap perkembangan modern canggihnya kian perlahan mengikis keseharian anak-anak untuk mengaji ke masjid atau mushala.

Kondisi inilah yang membuat tergerak hati Pardiman bersama warga untuk mengadakan TPQ anak-anak ala kadarnya dan mengembalikan tradisi mengaji seperti beberapa tahun-tahun lalu sebelumnya. Alhamdulillah perjalanan program ini menjadi sebuah gerakan untuk membangkitkan kembali semangat belajar Al-qur’an dan mendekatkan warga untuk memakmurkan masjid.

“Mengaji ini sangat perlu untuk mengembalikan gairah belajar anak-anak dengan sikon saat ini. Kegiatan ini akan meminimalisir anak-anak yang sekarang lebih akrab dengan gadget/nonton televisi ketimbang ke masjid untuk mengaji,” kata Giyarno salah satu jama’ah Masjid Ar-Rozaq.

Aktivitas usai maghrib mengaji menjadi rutinitas positif sebagai salah satu bagian memakmurkan masjid yang biasanya berisikan kegiatan TPQ, tilawah Qur’an dan hafalan surat pendek dan do’a juga terkadang ceramah agama.

“Semoga pandemi ini segera berlalu dimana harapan kami akan ada banyak lagi para jamaah warga dusun yang memakmurkan masjid disetiap waktu ibadah tiba,” tutup Pardiman dalam ungkapan penutup penuh harapnya.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Wakaf Iqra, Oase Menguatkan Pilar Dakwah dan Pendidikan di Batas Negeri

Dunia dakwah dan pendidikan seyogyanya terus melesat bergerak di tengah ketidakpastian pandemi yang belum kapan selesai ujungnya. Keduanya adalah dua bagian yang tak terpisahkan dari pilar-pilar kokoh pembangunan kemajuan sebuah peradaban bangsa. Ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa berdiri masing-masing.

Apalagi bila dakwah dan pendidikan keduanya hadir keberadaannya di wilayah -wilayah yang secara geografis sangat minim akses maka sejatinya oase kebahagiaannya pun sangat dinantikan untuk menguatkan ummat.

Peranan program wakaf iqra Tanmia Foundation adalah salah bagian penguatan dakwah sentral dalam upaya pembinaan dan memajukan pendidikan generasi, anak-anak dan muallaf di berbagai penjuru pelosok batas negeri.

Layar pun terkembang mencapai tanjung harapan bahwa paket ekspedisi wakaf Iqra Tanmia Foundation sudah sampai di Maumere Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur pada awal bulan November 2020 ini. Titik demi titik lokasi distribusi menjadi rangkaian oase kebahagiaan yang akan terus berputar kebaikanya.

Paket wakaf buku iqra’ salah satunya ditujukan ke Madin Babul Khaer Obamoro Mego dan Madin Al Muhajirin Madawat Alok yang keduanya berada di wilayah Sikka dan beberapa perkampungan kepulauan di Flores Timur.

Tanpa mengurangi rasa kebahagiaan dan keberkahan juga dirasakan oleh pihak Masjid Al Muhajirin Perumnas melalui harapan yang disampaikan oleh H. Abu Bakar Usman.
“Ini adalah bentuk syukur kepada Allah atas perhatiannya dari pihak Tanmia Foundation untuk mendukung kami melalui sarana dan prasarana pendidikan baik buku-buku Islam- Al-qur’an -buku Iqra’ dan sebagainya demi kepentingan da’wah dan kemajuan pendidikan anak-anak di daerah minoritas ini,” jelas H. Abu Bakar.

Tak luput juga bahwa peran -peran penting bahu membahu antar alim ulama baik dari Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, dan lainya turut memajukan keberadaan Madin BabulKhoir Obamoro sejak tahun (1992 ) dan Madin Al-Muhajirin Madawat ( 2014) Kabupaten Sikka yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu.

“Alhamdulillah, santri belajar kami ada 100 anak yang didampingi oleh 7 orang guru sejak berdirinya tahun 2014,” jelas H. Supardi Wahab sebagai pendiri Madin Al Muhajirin saat menerima distribusi wakaf Iqra ( Kamis, 5/11/2020).

Menggerakkan roda kebaikan lewat wakaf Iqra mungkin sepele namun inilah bagian ikhtiar untuk melepas kerinduan amal kebaikan karena seringkali banyaknya suguhan arus informasi pandemi hingga saat ini. Memang sudah terlalu banyak yang terdampak namun bukan berarti untuk terus berhenti berpangku tangan dan larut dalam situasi.

Sejatinya moment saat inilah kebahagiaan untuk berbagi sekecil apapun kepada sesama diuji, karena secuil apapun kebaikan akan menyuntikkan kebahagiaan kepada orang lain.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Serah Terima Wakaf Sumur : Paket Instalasi Filter Air untuk Warga Dusun Sayam Sonyo Jatimulyo Kulon Progo

Hajat hidup akan akan kebutuhan air bersih adalah kebutuhan primer setiap orang. Dimana pun tempat dengan segala situasi dan kondisinya ketergantungan akan air adalah kebutuhan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Alam menyajikan keindahan dengan keberagamaan salah satunya sumber-sumber mata air penduduk di perbukitan Menoreh Kulon Progo khususnya Sayam Sonyo Jatimulyo.
Alam terus berubah seiring kemajuan ilmu dan teknologi begitu pun sumber mata air yang ada juga banyak yang surut menipis bahkan ada juga yang hilang. Dan yang sudah menjadi familiar adalah kandungan kapur yang tinggi di wilayah ini. Untuk keperluan air minum pun harus mengandalkan air dari isi ulang yang rendah kadar kapurnya dari tempat lain tapi tidak dipungkiri karena satu dilain hal masih minimnya tingkat ekonomi sebagian besar dari warga mau tidak mau harus mensiasati dengan merebusnya terlebih dahulu lalu diendapkan beberapa waktu sebelum akhirnya dikonsumsi.

Selain mendesaknya kebutuhan air minum konsumsi yang aman dan layak maka pengadaan wakaf sumur melalui paket instalasi filter air – water treatment diharapkan menjadi solusi yang lebih baik dan jangka panjang.

Hal ini jugalah salah satunya yang melatarbelakangi Tanmia Foundation untuk memasang paket instalasi filter air melalui gerakan program wakaf sumur.

“Betapa penting dan vitalnya sarana air inilah yang selama ini dikeluhkan warga hingga saat ini”, ujar Tono salah satu warga yang ikut membantu dalam pemasangan instalasi.
“Air yang ditampung di Masjid At-Taubah selama ini setidaknya mampu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat juga kegiatan ibadah sepanjang waktu. Sehingga air adalah kebutuhan utama yang tak bisa tergantikan dengan yang lain. Sehingga wakaf sumur melalui paket instalasi filter air dari Tanmia Foundation diharapkan sangat membantu masyarakat,” jelas Ust Nur yang sehari-hari menjadi imam shalat berjama’ah.

Sebelum pemasangan filter air memang bisa dipastikan saluran pipa air yang dipasang sejauh 1,5 KM ini sudah memiliki debit air yang baik dan jernih. Selain untuk kegunaan keperluan ibadah jamaah masjid, air yang telah difilter ini juga diperuntukkan untuk para warga dan jama’ah setempat yang berkisar 30-an KK. Jerigen-jerigen air pun sudah disiapkan untuk digunakan masing-masing warga yang mau mengambil sepuasnya.

Serah terima secara simbolis wakaf sumur melalui paket Instalasi Filter Air – water treatment dari para muhsinin melalui Tanmia Foundation diserahkan langsung kepada Sukamto selaku ketua Takmir pada Jumat (30/10/2020) di Masjid At-Taubah Dusun Sayam Desa Jatimulyo Kecamatan Girimulyo Kabupaten Kulonprogo.

Sekalipun acara sederhana ala kadarnya namun tidak mengurangi semaraknya acara serah terima penyerahan. Bahkan suasana lebih khidmat serasa bahagia dengan hadirnya bapak-bapak, ibu-ibu, remaja dan anak-anak setempat yang tak ingin kalah melewatkan begitu saja acara tersebut berlangsung.

Apresiasinya dan ungkapan terimakasih kepada Tanmia Foundation menggema dari jamaah yang hadir terutama kepada para muhsinin yang telah terketuk pintu hatinya menggerakkan harta dermanya untuk memberikan perhatian lebih pada para jama’ah selama ini.

“Pilihan amal sholeh yang strategis diambil oleh para muhsinin dengan berdonasi melalui wakaf sumur, setidaknya tetesan demi tetesan air yang saat ini sudah beroperasi untuk warga adalah berbalik menjadi tetesan – tetesan pahala yang akan terus mengalir pada pewakifnya seiring aliran berjalannya air dari puncak sumbernya”, ungkap Pairin salah satu tokoh warga setempat sembari mengabadikan moment serah terima simbolis. Instalasi ini memang sudah dinanti-nantikan sehingga terasa bermanfaatnya dan berharap semoga berkelanjutan panjang kemanfaatannya,” harap Pairin dengan mimik ceria bahagianya.

Ali Azmi
Relawan Tanmia

Berburu Mata Air, Setro dan Seliling Dapat Menyuplai Air Bersih Warga Dusun Sayam Sonyo Kulonprogo

Bersama warga Dusun Sayam Sonyo Jatimulyo Kulonprogo menyusuri perbukitan untuk memeriksa celah-celah mata air, baik dari aliran lubang-lubang bebatuan kapur yang merupakan identik sumber air utama di wilayah ini yang biasa digunakan warga. Biasanya setelah mendapatkan sumber mata air yang baik dan debitnya juga cukup selanjutnya akan dialirkan ke bak induk pemukiman warga.

Lokasi Dusun Sayam Sonyo berada di Desa Jatimulyo Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulonprogo adalah wilayah yang langsung perbatasan dengan Kabupaten Purworejo Jawa Tengah yang bisa diakses dengan membelah perbukitan Menoreh dari arah Godean Sleman Yogyakarta maupun Kota Wates Ibukota Kulonprogo.

Tim Tanmia Foundation belum lama sepekan ini menyusuri sumber mata air yang sudah beberapa tahun terakhir ini ditemukan warga, yakni di lokasi Seliling dan Setro dengan berbagai kondisi fisik air. Jaraknya cukup lumayan sekitar 1,5 – 2 Km dari sumber mata air ke lokasi penampungan dengan melewati naik turunnya perbukitan bebatuan dan perkebunan warga. Namun demikian keberadaan mata air Setro dan mata air Seliling sudah tentu menjadi urat nadi penyambung kehidupan sehari-hari warga. Sehingga keberadaan sumber mata air bersih sangat vital apalagi kondisi alam Jatimulyo pada umumnya airnya tinggi kadar kapurnya. Sehingga tidak sedikit saluran-saluran pipa dari mata air terkadang putus atau tersumbat dengan kerak kapur yang menempel didinding-dindingnya. Keberadaan mata air yang sekarang menyuplai air bersih untuk warga juga dimanfaatkan untuk kepentingan kegiatan di Masjid At-Taubah yang berlokasi ditengah-tengah perbukitan. Akses jalan hari ini hanya bisa dilalui dengan setapak jalan kaki dan kendaraan bermotor saja itu pun harus bergantian ketika berpapasan.

Sukamto selaku warga setempat dan pengurus Masjid At-Taubah mengatakan, pihaknya telah mencoba mengalirkan sumber air tersebut dari berbagai jalur dengan berbagai kondisional baik selama menghadapi musim kering maupun musim penghujan. Apalagi diwilayahnya hanya bisa mengandalkan mata air yang berasal dari celah-celah aliran air bebatuan sehingga sulit sekali mendapatkan air bila harus menggalinya dengan melakukan pengeboran. “Sudah bertahun-tahun disini hanya mengalirkan air dari mata air yang berasal dari celah-celah aliran air bebatuan”, jelas Mas Kamto yg akrab dipanggilnya baru-baru ini.

Dengan berbagai latar kondisi demikian
apa boleh buat air tersebut harus tetap mengalir meskipun dengan debit yang kecil dan mengandung kapur karena itu adanya. Hanya bersyukur masih ada air yang bisa digunakan selama ini.

“Alirannya ada, meski kecil tapi kalau musim penghujan seperti sekarang debitnya besar. Namun karena mengandung kapur maka untuk konsumsi kami tetap memprosesnya dengan cara merebus dan mengendapkannya semalaman sebelum benar-benar siap akan digunakan”, jelas Pairin salah satu warga Dusun setempat.

Kendati sebelum dan sesudahnya air yang digunakan selama ini belum diperiksa kadar zat terlarutnya, tapi dengan cara sederhana inilah warga Sayam Sonyo Jatimulyo ini kini dapat bertahan ditengah kerasnya kehidupan perbukitan. Alakullihal seiring berjalannya waktu syi’ar keislaman inilah yang menjadi faktor penting yang akhirnya membawa kemajuan dan membuka tabir betapa sulitnya kehidupan perbukitan perlahan-lahan tersingkap.

 

Relawan Tanmia
Ali Azmi

Wakaf Pakaian Di Tengah Pandemi “Jangan Remehkan Wakaf Sepotong Sajadah Yang Membuka Kebaikan Hingga Pelosok Negeri”

Syi’arkan wakaf terus bersemi di tengah pandemi, satu pick up wakaf pakaian dari berbagai jama’ah para muhsinin pada Tanmia Foundation kembali diberangkatkan ke Pelosok Negeri. Paket wakaf akan ditujukan ke wilayah Flores bagian Timur tepatnya Maumere Kabupaten Sikka yang masuk dalam wilayah daratan timur Flores.

Wakaf pakaian yang terdiri dari berbagai kategori dari hijab, gamis, perlengkapan shalat dan beraneka ragam pakaian anak-anak berhasil dihimpun setelah melewati tahap sortir layak dan packing sebelum akhirnya diberangkatkan.

Syi’ar wakaf dengan pembagian jilbab, gamis dan baju serta alat perlengkapan shalat akan ditujukan kepada ratusan masyarakat yang dipusatkan di sejumlah titik kepulauan-kepulauan kecil yang masih berada di Maumere Sikka yang masih dalam kawasan wilayah daratan Flores bagian timur.

Kegiatan ini memang bukanlah untuk pertama kalinya yang dilakukan Tanmia Foundation dalam mengirimkan paket wakaf pakaian di masa pandemi yang masih berlangsung ini. Kendati demikian tidaklah menghentikan syi’ar dakwah sebagai dedikasi wujud program syi’ar keislaman yang akan langsung menjangkau kaum muslimin di daerah-daerah pedalaman terus berjalan terutama wilayah prioritas pesisir dan pedalaman kepulauan yang sampai saat ini masih terbatas.

Jangka waktu pengiriman akan menghabiskan waktu sekurang-kurangnya sekitar sebulan perjalanan lamanya untuk menuju lokasi pendistribusian tergantung situasi dan kondisi medan perjalanan.

“Inisiatif pembagian jilbab, gamis dan baju serta perlengkapan shalat ditunggu-tunggu untuk menambah ghirah para da’i dan tokoh masyarakat terutama yang masih setia mengabdi berada di pulau-pulau kecil wilayah Sikka bagian perbatasan Flores Timur,” ungkap Rasyid salah satu da’i lokal yang menghubungi pihak Tanmia Foundation usai kordinasi pemberangkatan via telepon selular.

‘’Sambutan masyarakat luar biasa. Apalagi, masyarakat yang menjadi sasaran sebagiannya adalah para dhuafa dan muallaf yang didominasi dari suku Sikka dan Suku Buton yang sudah turun-temurun menghuni pedalaman Sikka”, sambung Rashid menutup pembicaraanya.

Pembagian wakaf pakaian akan dipusatkan di berbagai titik masjid dengan menghimpun para jama’ah setempat lanjut Rashid, yang juga sehari-hari nya sebagai guru madrasah dan pengurus takmir Masjid.

Rashid juga menceritakan seperti sebelumnya ketika mendengar kabar akan ada wakaf pakaian untuk para dhuafa dan muallaf nampak hati yang penuh bahagia dengan mimik raut kegembiraan sekalipun hanya dapat dirasakan dalam suara yang diungkapkan pada pihak Tanmia.

Kebahagiaan yang tak akan tergambarkan bahkan bagi sebagian orang selembar pakaian di wilayah pedalaman masih sangat dibutuhkan dan berharga mengingat lemahnya sisi ekonomi dan sumber daya kemampuan. Untuk ukuran mereka sangat senang dan bahagia sekali. Apalagi, jenis-jenis paket wakaf pakaian dalam kondisi bermacam-macam baik yang masih dalam kondisi baru ataupun masih rapi layak pakai.

“Jangkauan wilayah Flores Timur memang jauh dari pandangan mata ibukota namun setidaknya hanya membutuhkan ketulusan niat dan suara hati sajalah untuk peduli kepada kami hingga akhirnya segenap paket wakaf ditujukan sampai ke lokasi kami, tutur Rashid menyudahi pembicaraanya via telepon.

Terselip harapan dari pembagian paket wakaf pakaian itu lanjut Rashid, bahwa para dhuafa dan muallaf yang baru hijrah itu dapat merasakan betapa indahnya kepedulian dan perhatian sebagai hubungan tali persaudaraan dalam islam.

Apalagi dari sisi syariat perlu diketahui tentang pentingnya hijab dan pakaian syar’i khususnya bagi perempuan adalah kewajiban mutlak yang tidak bisa ditawar lagi. Jadi menutup aurat bagi muslimah adalah kewajiban.

Mudah-mudahan perjalanan wakaf pakaian yang dihimpun oleh Tanmia Foundation dari para muhsinin menjadi pembuka kebaikan untuk menyemai benih dakwah di pelosok batas negeri. Siapa yang menanam maka kelak akan memanenya. Selamat jalan paket wakaf kebaikan kelak pada masanya akan dirasakan buah manisnya oleh siapapun yang ikut andil menanamnya. Biarpun hanya sepotong kain sajadah yang sangat dinantikan oleh para dhuafa untuk tempat sujudnya untuk memohon do’a untuk keshalihan anak-anaknya. Walhasil wakaf itu mengunci kebaikan untuk mengantarkan dari satu pintu kebaikan ke pintu kebaikan selanjutnya. Barakallahufiekum

Ali Azmi
Relawan Tanmi

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id