Bazar Pakaian Layak Pakai Tanmia Sukses, Pakaian Terserap Hampir 100%

Wakaf pakaian layak pakai memang susuatu yang sangat diperlukan untuk kondisi – kondisi berat dan sulit pada saat masyarakat tertentu mengalami musibah atau hal lainnya.

Kegiatan ini adalah bagian dari ta’awun saling tolong menolong sesama, seyogyanya barang yang disumbangkan adalah yang masih bagus, baru atau bekas namun masih sangat layak untuk digunakan, sehingga saudara – saudara kita yang mendapatkan kesulitan dapat memanfaatkannya dengan baik dan dengan senang hati, bukan pakaian yang tidak layak sehingga menambah kesedihan mereka yang menerimanya.

Barangkali dari pihak donatur, pakaian baik baru maupun layak pakai tersebut sudah dipersiapkan dengan rapi, bersih bahkan wangi saat dikirim ke lokasi bencana atau lainnya namun panitia di lapangan barangkali kurang cerdik dalam melakukan proses distribusinya, sehingga panitia hanya meletakan karung – karung pakain itu di atas tanah atau di tempat umum tanpa atap sehingga warga yang membutuhkan satu persatu menarik pakaian itu mencari mana yang sesuai dengan dia, anak atau sanak saudaranya, pakaian pun berhamburan keluar dari wadahnya, pakaian yang sudah berhamburan itu akhirnya menjadi tumpukan besar diinjak – injak, menjadi kotor akhirnya ditinggalkan begitu saja, dari pengamatan kami pakaian yang ditinggalkan dipinggir jalan itu bukanlah pakaian buruk atau tidak layak pakain lagi namun siapa yang mau mengambil pakaian yang begitu tampilannya?!

 

Warga yang datang belakangan melihat pakaian yang sudah berhamburan itu tak lagi berminat hilang sudah selera, barangkali melihatnya saja sudah membuat bulu kuduk berdiri karena geli dan jijik, padahal pakaian yang diambil baru 10% saja dari total yang tersedia, bisa jadi biaya kirim dari donatur/ yayasan penampung pakaian itu ke tempat bencana memerlukan uang yang tidak sedikit, namun sayang seribu sayang manfaat tidak sebanding dengan biaya yang sudah dikeluarkan, di sini panitia di lapangan mesti melihat fenomena ini dengan baik, mesti berusaha sebaik mungkin meminimalisir tindakan tabdzir dan berupaya agar manfaatnya maksimal.

Memang kalau yang dibagikan itu pakaian baru maka peminatnya sangat banyak dan in sya Allah tidak ada yang terburai berantakan di pinggir jalan, mudah-mudahan para donatur diberikan Allah rizki yang melimpah sehingga suatu hari nanti dapat berdonasi dengan pakaian baru, meskipun alhamdulillah sudah ada beberapa yang memberikan pakaian baru.

Yayasan tanmia alhamdulillah berhasil mengirimkan pakaian dari donasi sebanyak 2,5 ton untuk gelombang pertama, demi meminimalisir pakaian terbuang tidak bermanfaat maka kami membuat pakaian tersebut tersusun rapi seakan di dalam toko, kami meminjam sebuah toko dari warga lalu kami buatkan gantungan, pakaian-pakaian itu kita gantung dengan hanger layaknya di toko baju, lalu kita buatkan tulisan yang bersifat himbauan agar setiap orang mengambil baju seperlunya tidak mubazir dan tidak rebutan, kami memerlukan tiga hari untuk persiapan bazar pakaian gratis ini dengan 5 orang kru yang bertugas, memilih pakaian laki-laki, wanita dan anak-anak, menggantung baju, menjaga bazar serta melayani bila ada pengunjung, kebetulan para kru anak-anak pesantren yang sedang menghadapi banjir juga.

Para pengunjung bazar sangat antusias memilih pakaian, bazar selalu ramai dari hari pertama dibuka, keluar bazar para pengunjung menenteng kresek masing-masing yang berisi baju hasil pilihan mereka, kru sering kwalahan mengadapi para peminat yang begitu banyak namun mereka bahagian karena telah banyak memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menyelenggarakan bazar pakaian seperti ini sangat besar manfaatnya, meminimalisir pakaian terbuang, para peminat tidak merasa malu memilih pakaian karena suasananya seperti mereka berbelanja di toko pakaian, pakaian yang mereka terima juga bersih lengkap dengan kresek belanjanya.

Memang hal ini memakan biaya, tenaga dan tempat namun demi menyampaikan amanah dengan baik, memaksimalkan manfaat wakaf donatur serta mengangkat derajat para penerima wakaf pakaian tentu kegiatan ini tidaklah berlebihan dan barangkali acara seperti sangat diperlukan untuk penyaluran pakaian wakaf.

Tim Tanmia

rumah tersapu kayu banjir aceh

Banjir Bandang Mengambil Segalanya Kecuali Keikhlasan

rumah rusak akibat banjir bandang aceh tamiang

Saya kira beliau sedang bercanda.
Nada suara takmir masjid ini begitu tenang, bahkan sambil tersenyum kecil.

“Alhamdulillah ustadz, banjir bandang kali ini saya nggak perlu repot bersihkan rumah.”

Saya ikut bersyukur, tanpa curiga apa-apa.

“Alhamdulillah, bapak nggak kena banjir, pak?”

Beliau menatap sebentar ke arah genangan air dan lumpur tebal di sekeliling Masjid Asy-Syuhada Gampong Benua Raja.

“Kena, ustadz,” katanya pelan.
“tapi alhamdulillah rumah saya dan semuanya sudah hanyut dibawa air, sudah nggak ada lagi.”

Kalimat itu mengalir begitu saja, tanpa nada mengeluh.

“Jadi nggak ada yang perlu saya bersihkan, ustadz. Semua sudah Allah ambil dibawa air.”

lanjutnya, seolah sedang bercerita tentang hal biasa.

Kalimat yang diucapkan membuat dada saya terasa sesak.
Tak ada rumah, tak ada tempat pulang.
Yang tersisa hanya kalimat alhamdulillah yang terucap untuk bisa tetap tegak berdiri.

Saya ingin berkata sesuatu,
tapi hanya bisa menunduk, sambil menahan mata ini agar tidak berkaca-kaca apalagi meneteskan air mata.

Sungguh hebatnya seorang mukmin yang masih bisa bersyukur ketika seluruh hidupnya disapu habis oleh banjir.

Beliau melanjutkan,

“Kalau semuanya Allah ambil, saya ikhlas.”

Lalu suaranya sedikit turun.

“Cuma kadang malam kepikiran juga, besok mau tidur di mana?”
ungkapnya sambil tertawa.

Di situlah butiran kaca di mata ini tak bisa tertahan.
Bukan karena rumah yang hanyut, tapi karena ketegaran yang lahir dari kehilangan total.

Saya menunduk.
Tak ada kalimat yang pantas selain doa untuknya dan untuk saudara2 lainnya di Tamiang, doa yang mampu menembus langit.

Dan saat itulah hati ini benar-benar terenyuh, bukan sekadar sedih,
melainkan remuk melihat keikhlasan mereka yang sedang diuji paling berat.


Renungan Hadits

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Perkara seorang mukmin itu sungguh mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain seorang mukmin, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.”
(Shahih Muslim 5318)


Khairul Hikmah, S.S., MCE (Relawan Tanmia).
(Kisah ini dikutip di sela-sela distribusi sumber air bersih di Masjid Asy-Syuhada, Gampong Benua Raja, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang)

dapur umum banjir aceh tamiang

Dapur Umum Tanmia Bantu 2.000 Warga Terdampak Banjir Bandang di Aceh Tamiang

banjir bandang

Banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang meninggalkan luka mendalam bagi ribuan warga. Bencana alam ini tidak hanya menghancurkan rumah dan harta benda, tetapi juga mengguncang kondisi psikologis masyarakat yang terdampak. Hampir seluruh isi rumah rusak, perabotan hancur, dan kasur-kasur terpaksa diletakkan di pinggir jalan karena tidak lagi bisa digunakan.

Dampak banjir bandang Aceh Tamiang terasa begitu dahsyat. Sawah dan ladang rusak, tempat usaha lumpuh, bahkan sebagian warga kehilangan sanak saudara. Hingga kini, banyak korban masih terlihat linglung dan belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan pahit akibat bencana tersebut.

banjir bandang aceh desember

Di sepanjang jalan, warga terdampak banjir bandang berdiri menunggu uluran tangan. “Kami lapar, Pak… ada nasi?” teriak mereka dengan suara lirih. Kondisi ini sangat menguras emosi para relawan. Terutama bagi warga di wilayah pedalaman, mereka harus keluar ke jalan raya agar bantuan bisa sampai. Namun keterbatasan membuat relawan hanya mampu memberikan bantuan sekadarnya demi bertahan hidup.

dapur umum banjir aceh

Apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh korban banjir bandang yang rumahnya roboh dan hancur lebur? Jawabannya adalah segala kebutuhan dasar. Satu sendok, satu piring, gelas, pakaian shalat, hingga makanan—apa pun yang diberikan pasti sangat berarti dan diterima dengan penuh syukur.

Trauma pascabencana masih jelas terlihat di wajah para korban banjir bandang Aceh Tamiang. Selama hampir satu bulan, banyak warga hanya mengonsumsi makanan instan seperti mi dan ikan kaleng. Meski penting dalam kondisi darurat, konsumsi jangka panjang makanan instan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, dan beberapa warga mulai merasakan dampaknya.

dapur umum banjir aceh tamiang 2025

 

Melihat kondisi tersebut, Tanmia membuka dapur umum sebagai upaya meringankan beban warga terdampak banjir bandang sekaligus mengurangi risiko penyakit. Menu makanan sehat dan layak disajikan setiap hari. Sambutan masyarakat sangat luar biasa—kebahagiaan terpancar dari wajah mereka, disertai doa tulus untuk para donatur:
“Semoga panjang umur, murah rezeki, sehat selalu, dan mendapatkan balasan berlipat ganda.”

Alhamdulillah, Dapur Umum Tanmia berhasil membantu lebih dari 2.000 warga terdampak banjir bandang. Bantuan makanan siap saji didistribusikan baik di lokasi dapur umum, ke tempat pengungsian, maupun langsung ke rumah-rumah warga.

dapur umum banjir aceh tamiang makan bersama

Terima kasih kepada seluruh donatur dan panitia dapur umum yang telah berpartisipasi membantu saudara-saudara kita korban banjir bandang. Semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan dengan pahala terbaik.

Tim Tanmia

titik-banjir-aceh-tamiang3

Tragedi Banjir Aceh Tamiang: 111 Rumah di Rimba Sawang Hanyut Terbawa Arus

titik-banjir-aceh-tamiang

Desa Rimba Sawang: Titik Terparah Dampak Banjir

Sebuah pemandangan memilukan terlihat saat tim relawan mengunjungi Desa Rimba Sawang, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang pada 24 Desember 2025. Desa yang terletak di perbukitan tengah hamparan perkebunan sawit ini menjadi salah satu wilayah paling terdampak akibat banjir besar yang melanda kawasan tersebut.

Meskipun lokasinya cukup jauh dari jalan lintas Medan-Banda Aceh, dampak banjir di sini sangat masif. Hingga saat ini, beberapa dusun di Desa Rimba Sawang masih terisolir akibat akses yang terputus.

titik-banjir-aceh-tamiang6

Data Kerusakan: 111 Rumah Hilang Dibawa Banjir

Dalam pertemuan singkat dengan Datok Penghulu (Kepala Desa) Rimba Sawang, Sayyid Arrajali Al Habsi, terungkap data kerusakan yang sangat memprihatinkan. Desa ini kini ditetapkan sebagai zona merah oleh pemerintah karena tingkat kerusakannya yang ekstrem.

Berikut adalah rincian kerusakan bangunan akibat terjangan banjir:

  • Rumah Hilang/Hanyut: 111 unit

  • Rusak Berat: 54 unit

  • Rusak Sedang: 47 unit

  • Rusak Ringan: 54 unit

Ketinggian air banjir dilaporkan mencapai 7 meter dan merendam pemukiman selama sepekan penuh. Beruntung, keberadaan bukit di sekitar desa menjadi penyelamat bagi warga untuk mengevakuasi diri saat air mulai naik dengan cepat.

titik-banjir-aceh-tamiang7

Kondisi Terkini Pengungsi dan Penyaluran Bantuan

Meski air telah surut di beberapa titik, penderitaan warga belum berakhir. Hingga hari ini, banyak warga yang masih bertahan di tenda-tenda darurat di pinggir jalan. Kondisi diperparah dengan:

  1. Aliran listrik yang masih padam total.

  2. Krisis bahan makanan karena akses logistik yang sulit.

  3. Kehilangan tempat tinggal bagi ratusan kepala keluarga.

titik-banjir-aceh-tamiang2

Merespons kondisi tersebut, relawan telah menyalurkan bantuan logistik darurat berupa 1,5 ton beras, 300 kg gula, dan 300 kg minyak goreng. Datok Sayyid Arrajali Al Habsi menyampaikan apresiasi mendalam kepada para donatur yang telah peduli terhadap nasib korban banjir di Rimba Sawang.

Mari terus kirimkan doa dan dukungan terbaik kita untuk saudara-saudara kita di Aceh Tamiang yang tengah berjuang bangkit pasca bencana banjir ini.

titik-banjir-aceh-tamiang5

Relawan Tanmia

banjir bandang

Banjir Bandang Aceh Tamiang 2025: Bencana yang Berbeda Dari Biasanya

Warga Aceh Tamiang sejatinya tidak asing dengan banjir. Setiap musim hujan tiba, wilayah ini kerap mengalami genangan akibat curah hujan tinggi. Namun, banjir bandang Aceh Tamiang kali ini sangat berbeda dari banjir tahunan yang biasanya hanya berlangsung 2–3 hari dan kemudian surut dengan sendirinya.

Pada kondisi normal, banjir yang terjadi hanyalah limpahan air hujan dengan debit lebih besar dari biasanya. Sementara banjir besar diyakini warga datang setiap sekitar lima tahun sekali, tetap dengan karakter banjir air hujan. Namun banjir bandang Aceh Tamiang 2025 menghadirkan ancaman yang jauh lebih serius dan mematikan.

banjir aceh tamiang 2025


Kemiripan Banjir Bandang Aceh Tamiang 2025 dengan Tragedi 2007

Banjir bandang kali ini mengingatkan warga pada peristiwa tragis tahun 2007, di mana banjir bandang Aceh Tamiang menelan banyak korban jiwa. Pola bencananya hampir serupa: kayu-kayu gelondongan dari kawasan hutan gunung hanyut menyusuri Sungai Tamiang hingga ke laut lepas, dengan jarak sekitar 30 kilometer dari hulu hingga muara.

Pada banjir bandang 2007, pemulihan berlangsung relatif cepat. Dalam tujuh hari, aktivitas penangkapan kayu hanyut sudah kembali terlihat. Perahu bermesin menyusuri Sungai Tamiang, mengumpulkan kayu-kayu gelondongan untuk dibawa ke kilang-kilang kayu di sepanjang bantaran sungai, kemudian dipotong dan dijual.

banjir bandang


Dugaan Praktik Berbahaya di Balik Banjir Bandang Aceh Tamiang

Di tengah masyarakat berkembang asumsi bahwa kayu-kayu dari gunung tersebut sengaja dihanyutkan dan dijegat di kawasan Kuala Simpang untuk menghemat biaya angkut. Jika benar, praktik ini sangat berbahaya dan menjadi salah satu faktor penyebab banjir bandang Aceh Tamiang yang merusak.

Akibatnya sangat fatal: rumah warga, sekolah, masjid, hingga harta benda hancur, bahkan merenggut korban jiwa. Keuntungan segelintir pihak dibayar mahal oleh penderitaan masyarakat luas.

banjir aceh tamiang


Kondisi Korban Banjir Bandang Aceh Tamiang Belum Pulih

Hampir satu bulan pasca bencana, kondisi korban banjir bandang Aceh Tamiang masih sangat memprihatinkan. Dari pantauan lapangan, sekitar 90% masyarakat belum pulih. Banyak warga belum bisa kembali ke rumah karena tertutup lumpur tebal atau bangunan yang hancur tak berbentuk.

Sebagian warga masih menanyakan kebutuhan paling dasar: tikar untuk tidur karena semua peralatan hanyut, sepatu boot untuk melindungi kaki dari lumpur bercampur benda tajam, kelambu karena nyamuk yang sangat banyak, serta kebutuhan sembako untuk bertahan hidup.

banjir bandang aceh


Jeritan Kemanusiaan di Tengah Banjir Bandang Aceh Tamiang

Pemandangan pilu terlihat di sepanjang wilayah terdampak. Banyak warga berdiri di pinggir jalan, meminta makanan sambil berteriak, “Kami lapar, Pak.” Kondisi ini menyayat hati siapa pun yang melihatnya.

Selain sebagai takdir Allah SWT, banjir bandang Aceh Tamiang juga menjadi akibat dari ulah manusia yang serakah—eksploitasi alam tanpa mempertimbangkan keselamatan dan masa depan orang banyak.

banjir bandang aceh


Peran Pemerintah dalam Mencegah Banjir Bandang Aceh Tamiang Terulang

Pemerintah harus bertindak tegas terhadap semua pihak yang melakukan eksploitasi hutan dan tambang secara ilegal. Jika tidak, banjir bandang Aceh Tamiang dan bencana serupa akan terus berulang di berbagai daerah Indonesia.

Bila tsunami Aceh 2004 saja membuat negara kewalahan hingga membutuhkan bantuan internasional, maka banjir kali ini yang berdampak pada tiga provinsi tentu memiliki kerusakan yang tidak kalah besar dan kompleks.


Ajakan Bersama Membantu Korban Banjir Bandang Aceh Tamiang

Mari kita bahu-membahu membantu saudara-saudara kita yang terdampak banjir bandang Aceh Tamiang. Semoga Allah SWT menerima setiap amal kebaikan yang kita lakukan dan melindungi kita semua dari berbagai musibah di masa mendatang.

 

bendera putih aceh

Angkat Bendera Putih Untuk Aceh

bendera putih aceh

Awan kelabu masih gelap menggantung dilangit Aceh Tamiang. Begitu juga mendung sendu kelabu masih gelap menggelayut diatas awan berkumpul di langit Kecamatan Banda Mulia, tepatnya di ibukotanya Telaga Meuku, Tanjung Keramat.  Di rumah kediaman Tengku Abdul Mu’id dimana Posko Tanmia Foundation dibuka untuk merespon penanggulangan bencana Banjir Alam yang melanda Aceh Tamiang pada tanggal 25 November beberapa pekan lalu.

Sampai saat tulisan ini ditulis sisa-sisa material banjir masih pecah berserak di setiap sudut jalanan. Lumpur pekat yang terbawa arus banjir masih banyak tertinggal dalam rumah-rumah warga, sekolah, masjid, meunasah (mushola) dan tak sedikit yang makin mengeras bila tak segera dibersihkan. Material Banjir yg menerjang masih tertinggal begitu saja dimana-mana kian menambah parahnya situasi yang tak kunjung membaik sampai hari yang ke-22 pada hari ini, Rabu 17 Desember 2025.

bendera putih aceh

Aliran listrik masih padam dan jaringan sinyal seluler pun masih hilang sehingga susah untuk berkomunikasi. Tiang listrik dan jaringan internet yg bertumbangan berantakan dimana-mana ini yg kian menyulitkan warga masyarakat untuk  berkomunikasi alih-alih menghubungi relawan untuk membantu bergotong-royong bahu membahu warga.

Begitu juga air bersih menjadi sangat urgen kebutuhannya ditunggu-tunggu mendesak untuk keperluan konsumsi sehari-hari. Air seperti kebutuhan yg sangat mendesak untuk konsumsi dapur untuk keperluan masak memasak maupun keperluan MCK yang tak bisa ditunda lagi berlama-lama. Sebagaimana kata warga,”untuk sekedar minum pun kami kesulitan apalagi untuk mencuci”,tutur warga yang banyak kami jumpai.

bendera putih aceh

Pasca banjir yang dahsyat kondisi saluran air PDAM lumpuh mati total dan belum ada tanda-tanda kapan bisa mengalir seperti semula. Sumur warga pun masih terendam lumpur yang tebal sampai 1 meter. Dg perlengkapan seadanya warga hanya menunggu bisa bertahan dengan apa yang mereka butuhkan dan mereka miliki dengan jerigen air yang mereka bisa dapatkan dg membeli air bersih atau mengais air-air berlumpur yang sekedarnya bisa digunakan.

Banjir bandang memang menghapus kenangan segalanya, tapi tidak dengan solidaritas. Ketika hendak memasuki Aceh Tamiang maka siapapun terlebih relawan harus siap untuk berjalan dalam gelapnya lorong-lorong kampung yg masih becek dg kubangan lumpur, berjam-jam dalam sunyinya malam yang gelap tanpa listrik. Sunyi sepi bak seperti perkampungan yang hilang dari riak tawa anak-anak bermain-main

bendera putih aceh

Duka warga belumlah berlalu, warga harus bertahan hidup dg mengolah bahan makanan apa yang ada dirumah selama putus sementara mata pencaharian. Hampir berhari-hari mie instan menjadi makanan yg sering dimakan. Ia sebagai bahan makanan pengganti nasi demi bertahan hidup. Bahkan banyak warga yg memilih mengkonsumsi ubi dan singkong ketika tak terjangkau bantuan seperti di beberapa titik terisolir yg jauh dari jangkauan dan terputus aksesnya. Karena berdasarkan kondisi lapangan Aceh Tamiang, kerusakan hampir merata 95 % dengan jumlah pengungsi hampir 290.000 jiwa. Yang tersebar di 12 Kecamatan dari ujung Tamiang Hulu di Babo Bandar Pusaka hingga di Pesisir Telaga Meuku Kecamatan Banda Mulia dan Pesisir Batang Lawang Kecamatan Bendahara.

Semalam bingkisan paket yang berisi sekerat roti dan secuil bingkisan kami semoga dapat mengobati doa dalam harapnya,  Semoga bantuan segera sampai itulah doa yang ditunggu-tunggu para penyintas dan muhsinin melalui langkah tertatih kami mengantarkan bantuan yg diamanahkan lewat Tanmia Foundation ke titik-titik penyintas yang luput dari jangkauan bantuan. Semoga meringankan dan panjang umur kebaikan membantu rakyat Aceh cepat pulih dan bangkit. [ Ali Azmi ]

bantuan bencana aceh tamiang

Tanmia Peduli Sudah Menyalurkan Lebih Dari Dua Ton Beras

bantuan bencana aceh

Musibah dan bencana adalah ketentuan Allah sebagaimana usia dan rezeki. Namun sebagaimana rezeki terikat dengan upaya dan ikhtiar, maka musibah dan bencana pun sejatinya tidak berdiri sendiri. Ia terikat dengan hukum sebab akibat. Alam tidak merusak dirinya sendiri, namun alam merespon kerusakan yang dibuat manusia pada dirinya. Ini bukan tentang bencana alam, namun tentang bencana kerusakan manusia yang dilakukan pada alam.

Hingga hari ini, tim Tanmia peduli telah menyalurkan lebih dari dua ton beras kepada warga terdampak bencana banjir bandang Aceh Tamiang berikut minyak goreng, gula snack roti/makanan ringan dan lilin sebagai penerangan darurat. Bantuan lainnya seperti pakaian layak pakai sebagian sudah datang dan telah disalurkan dan sebagian lagi masih di perjalanan. Sedangkan pengadaan air bersih masih sedang dalam proses belanja material dan penyiapan tempat dan lokasi.

Nampaknya kebutuhan bahan makanan pokok ini akan menjadi problem yang berkepanjangan bagi warga, mengingat mata pencaharian mereka yang sebagian besar petani ladang dan tambak terputus akibat banjir yang melanda. Hewan ternak mereka, baik sapi, kambing ataupun ayam banyak yang hanyut oleh banjir yang airnya mulai naik dari petang dan sampai pada puncaknya dini hari hingga ketinggian bervariasi antara 3-5 meter.

bantuan bencana aceh tamiang

Putusnya mata pencaharian mereka itu diperparah dengan terputusnya akses air bersih karena sumur-sumur yg dipenuhi lumpur serta pasokan air PDAM yang berhenti. Juga rusaknya alat transportasi yang menjadi kendaraan mereka sehari-hari untuk mobilitas dan juga pekerjaan mengais rezeki.
Hari ini (senin/17/12) kami kembali menyalurkan bantuan bahan makanan ke kampung-kampung yang lokasinya terpelosok dan agak menjauh dari jalan raya.

Ini artinya bantuan yang sampai ke mereka tentunya tidak semasif yg ada dipinggiran jalan raya atau aksesnya masih tidak terlalu jauh dari jalan raya.
Kami mendatangi desa Marlempang dan Paya Rahat yg kondisinya nyaris sama dengan awal-awal banjir mulai surut. Endapan lumpur diluar rumah yg belum dibersihkan, kondisi berantakan dari barang-barang yang rusak terkena banjir, baik yang sedang dijemur atau yang sudah jadi sampah adalah pemandangan yang kami jumpai sepanjang lintasan mobil operasional kami.

bantuan bencana aceh tamiang

Untuk bantuan, Alhamdulillah sudah masuk dan mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Mereka juga sudah bisa tertawa dan bercanda sekalipun masih berduka. Untuk beberapa hari kedepan, mereka bisa bernafas lega karena kebutuhan makan mereka tercukupi, namun entah setelah itu. Barangkali, harapan akan datangnya bantuan-bantuan selanjutnya itulah yang masih tetap menyisakan harapan walaupun hal itu tidak bisa di prediksi juga. Namun yang jelas, butuh waktu yang agak panjang agar mereka bisa bekerja lagi seperti biasa, memanfaatkan lahan yang menjadi mata pencaharian untuk mengais rezeki sehingga tidak tergantung lagi pada bantuan.

Kegiatan hari itu kami akhiri sore hari menjelang malam dengan singgah di sebuah masjid di perkampungan Batang Janeng untuk melaksanakan shalat maghrib. Dalam perjalanan pulang, kami melewati perkampungan dengan kondisi gelap gulita nyaris di sepanjang jalan. Hanya sesekali dijumpai rumah yang menyala lampunya dengan genset, namun penerangan yang ala kadarnya dengan lilin atau lampu minyak kelapa di rumah-rumah warga itulah yang paling banyak menjadi teman setia untuk melewati malam hari.

Ust M Rofiq, Lc

banjir aceh

Kelangkaan BBM Masih Menghantui Masyarakat Aceh Tamiang dan Aceh Timur

bencana banjir

Pagi di hari kedua diwarnai dengan hujan rintik-rintik setelah semalaman hujan dengan intensitas sangat tinggi mengguyur pemukiman tempat posko kami. Kami melakukan rapat kecil untuk membagi tim, sebagian ada yg mulai membersihkan Meunasah yang masih dipenuhi lumpur sejengkal. Dan sebagai lainnya belanja kebutuhan pokok dan langsung menyalurkannya ke warga terdampak.

Saat perjalanan menuju kota Langsa, kami sengaja melewati desa-desa yang terdampak untuk memetakan distribusi bantuan agar tepat sasaran.

Di kota Langsa kami belanja beras sekitar 430 kg dengan kemasan 5 kg dan 10 kg disesuaikan dengan kapasitas mobil kami sebagai langkah awal distribusi bantuan ke masyarakat terdampak.

banjir aceh

Kondisi masyarakat masih belum bisa bekerja karena lahan sawah dan tambak mereka terendam banjir, alat-alat transportasi seperti mobil dan sepeda motor rusak terendam lumpur, sekolah-sekolah masih diliburkan untuk jangka waktu yang belum ditentukan dan untuk membersihkan rumah, mereka kesusahan mendapatkan air bersih.

Banyak bantuan yang datang disalurkan lewat posko-posko setempat, namun kami sengaja salurkan secara langsung ke tangan masyarakat terdampak bencana banjir bandang dengan mendatangi lokasi dan berdialog secara langsung dg mereka. Beberapa rumah terlihat sudah mulai memasang bendera putih sebagai tanda darurat pangan.

banjir aceh 2025

Mereka yang kami temui mengeluhkan bantuan yang hanya ramai di jalan raya sehingga mereka yang tinggal di daerah yang jauh dari jalan raya dan ingin dapat bantuan, terpaksa harus keluar ke jalan raya padahal mereka juga harus segera membersihkan tempat tinggal mereka dari sampah, lumpur dan kotoran-kotoran lain.

Tampak raut wajah sumringah mereka sambil berucap Alhamdulillah saat menerima bantuan yang tidak seberapa tanda kesyukuran yg tetap bisa mereka lakukan di tengah ujian bencana yang mendera.

banjir aceh

Sore harinya kami kembali belanja lagi beras dan bahan sembako lainnya untuk persiapan distribusi esok hari. Namun BBM mobil operasional perlu diisi untuk antisipasi agar esok tidak kehabisan bahan bakar. Saat kami mendekati ke SPBU, Kami mendapati pemandangan barisan mobil dan sepeda motor yang antri mengular hingga mencapai hampir satu kilometer untuk mendapatkan BBM.

Matahari terbenam tanda malam menjelang tidak membuat surut antrian malah semakin panjang padahal kondisi gelap gulita karena lampu di SPBU yang menggunakan genset dimatikan dan baru akan dinyalakan pada jam 7 malam.

banjir aceh

Kami mendapati info bahwa pemandangan seperti itu adalah rutinitas harian sejak bencana banjir bandang Aceh Tamiang melanda karena kepanikan masyarakat akan langkanya BBM yg sangat vital menunjang aktivitas mereka.

Mobilitas masyarakat sangat tergantung dg suplai BBM yang jika itu terputus dipastikan akan semakin memperparah keadaan dan menambah suasan mencekam.

Ust Rofiq, Lc
Tim Tanmia

Banjir aceh tamiang4

Tamiang Masih Kekurangan Air Bersih

Banjir aceh tamiang4

“Kebanyakan rumah di kuala simpang keadaannya seperti ini, lumpur di dalam rumah msh blm bisa dibersihkan”

Kami melakukan perjalanan dari bandara soetta dg rute CKG – Medan yg menempuh perjalanan sekitar dua jam setengah dengan salah satu maskapai penerbangan dan tiba jam 10 di bandara Kualanamu Medan, karena pesawat mengalami keterlambatan penerbangan kurleb 45 menit dari waktu yg dijadwalkan.

Dengan menyewa mobil rental, kami menuju Aceh Tamiang yang perjalanan memakan waktu lebih lama dari biasanya dikarenakan jalan yang padat oleh kendaraan bantuan dan dan kendaraan dari Medan ke arah Aceh, juga dibanyak titik sedang dilakukan perbaikan sebab jalan yang longsor atau berlubang.

Banjir aceh tamiang

Perjalanan kami melambat saat mulai memasuki lokasi bencana di Kuala Simpang dan pemandangan yang memilukan kami saksikan sepanjang jalan. Jalanan dipadati para korban dampak bencana yang berjajar, baik anak-anak atau orang dewasa untuk meminta bantuan dari truk-truk pengangkut bantuan atau dari mobil-mobil pribadi/relawan yang datang dari arah Medan.

Kondisi jalan yang berdebu dan sebagian lagi becek ditambah sampah yang berserakan dan mobil-mobil yang berselimut lumpur dipinggiran jalan, kian menambah suasana semakin mencekam apalagi saat malam tiba. Akses listrik yg terputus, sinyal hape yang tak kunjung pulih menjadikan Kuala Simpang mirip kota zombie kata sebagian orang.

Banjir aceh tamiang2

Kekurangan akses air bersih menambah panjang perjuangan masyarakat disana untuk recovery dari situasi bencana. Ini tantangan yang butuh perhatian lebih dari instansi terkait dan juga banyak pihak, yaitu penyediaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari dan membersihkan rumah-rumah mereka.

Banjir aceh tamiang

Sebenarnya masyarakat secara mandiri barangkali bisa segera membersihkan dan merapikan rumah serta mencuci pakaian mereka jika akses listrik dan PDAM menyala.
Namun nampaknya butuh waktu lebih untuk bersabar agar itu bisa terealisasi sehingga suasana becek dan berlumpur masih akan terus mewarnai kota ini dan itu akan berubah menjadi sangat berdebu di siang hari saat terpapar matahari.

By Ust M Rofiq, Lc

banjir bandang sumtaera aceh

Derai Air Mata Tak Bisa dibendung Untukmu Aceh

banjir bandang aceh

Tampak diam dalam raut yg lelahnya disembunyikan dalam-dalam. Tatapan raut mukanya terasa membersamai rakyat Aceh yang masih berkalung duka saat ini. Ada setia dalam hati sebagai pemimpin yang disegani rakyatnya.

Dialah Muzakir Manaf atau lebih dikenal Mualem Gubernur Nangroe Aceh Darussalam tiba-tiba tak kuasa menahan isak tangis keringat air mata sedihnya saat sesi wawancara dg jurnalis senior Najwa Shihab saat bertanya belum ditetapkanya Aceh sebagai Bencana Nasional.

Apa jawab Mualem sosok Gubernur yang nampak dingin pendiam itu.
“Saya hanya bisa berusaha dan berdo’a ,”kata Mualem , yang sejak terjadi bencana siang malam tanpa lelah menjenguk rakyatnya.

banjir bandang aceh 2

Hari-harinya tanpa jeda harus berkeliling mengunjungi rakyatnya yang masih patah luluh lantah, salah satunya ketika helikopter yg dia gunakan mendarat di Aceh Tamiang beberapa hari lalu.

Tak akan berhenti berderai air mata ini setiap melihat langsung kondisi di lapangan tentang setiap hati yang sedang perih dirundung lara.

Hati yang patah berkeping-keping bukan saja tentang apa yg dimiliki hilang lenyap dalam sekejap, dari harta, nyawa, bahkan sanak keluarga dari orang-orang tersayang terdekat dengan kita selama ini.

Setiap langkah kaki siapapun yang masih terpanggil hatinya ia akan kembali untuk menginjakkan kaki di Bumi Rencong Aceh pasca banjir bandang dan longsor yang terjadi dahsyat akhir 26 November 2025 ini.

Mereka yg berdatangan dari berbagai penjuru tanah air ke Aceh bukan hanya untuk sekedar relawan dan sukarela membawa bantuan tapi panggilan jiwa layaknya saudara setubuh yang satu sama lain saling merasakan apalagi saudaranya dirundung sakit maka yang lain ikut merasakan sakit pula. Tak bisa dipisahkan.

Ujian dahsyat bak tsunami kedua bagi Aceh, melihat terjangan lautan banjir yg memporak-porandakan bangunan bercampur hantaman gelondongan kayu yang berserak berhamburan yang tak terhitung lagi jumlah nilai jutaan kubiknya dan tonasenya mampu dihalau.

banjir bandang aceh sumtaera

Air mata siapa yang mampu ditahan bila setiap kali menatap setiap wajah-wajah masyarakat yang sedang susah bingung berkecamuk hebat. Tatapan kosong yang disana terkenang segala apa yang pernah dilewati musnah hilang dalam sekejap. Keluh air mata warga yg tak bisa dibendung lagi disembunyikan dalam-dalam.

Tatapan yang telah menceritakan segalanya, dari lenyapnya harta, kebingungan yang merajalela, hati pikiran beradu berkecamuk dan jiwa yang terguncang hebat tak bisa lagi diceritakan berulang kecuali hanya mengundang rasa pilu air mata yang deras mengalir terus tertumpah bercucuran.

banjir bandang sumtaera aceh

“Kita hanya berserah diri kepada Allah, apa yang ada kita terima dan kita usaha. Kalau kita bergantung ke manusia, kita kecewa. Tapi kalau kita bergantung kepada Allah, ya kita terima semua apa adanya”, tegas Mualem

Pecah tangis Mualem malam itu bukan hanya tangis seorang gubernur. Melainkan itu adalah tangis seorang anak Aceh yg melihat tanah tumpah lahirnya terluka parah, tapi mencoba terus memilih berdiri tegar, memeluk setiap harapan tanpa berhenti menyerah berusaha dan berdo’a dg kesungguhan sebaiknya-baiknya.

banjir bandang aceh sumtaera

Banjir bandang dahsyat yg terjadi memang bukan keinginan dan inilah ujian takdirNya yang pasti banyak hikmahnya. Inilah ujian agar jangkar iman ini harus kuat tertambat di hati tak boleh luluh dan hanyut biarpun seolah langit kehilangan kesabaran menahan gumpalan setiap awan gelap yang sudah berhari-hari menggantung di atas kepala untuk turun menghanyutkan seluruh harta dan nyawa tanpa sisa. Dan apapun yg disapu bersih tanpa sisa di hamparan bumi milikNya semoga Allah ganti dengan berlipat-lipat pengganti yang lebih baik.

banjir bandang aceh sumtaera

Mengawali jalanan ke Aceh hari ini semoga belum terlambat untuk membasuh setiap luka dengan segenap hati yang pilu dan masih patah.

Setiap raut wajah-wajah sedihmu masyarakat Aceh, sedihmu terasa sampai kesini mengiringi sepanjang perjalanan kami menuju Aceh Tamiang. Aceh cepatlah pulih, janganlah menangis lagi. Ayo tolong bantu kuatkan Aceh bangkit kembali. [ Relawan Tanma, Ali Azmi ]

jembatan putus akibat banjir

Mencekam Terisolir Total, Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Terjadi Penjarahan Akibat Kelaparan

banjir aceh

Kondisi Wilayah terdampak Banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh masih terisolir sehingga masih luput dari perhatian khalayak. Distribusi terhambat, banyak akses jalan terputus total sehingga jalan tidak bisa dilewati. “Satu-satunya cara mengirimkan logistik yang adalah lewat udara dengan kondisi sangat langkanya sembako dan pasokan BBM,” jelas Mahlizar Safdi relawan setempat yang tergabung dalam pos Gabungan Relawan Bencana Gayo, saat dapat dihubungi Tanmia dini hari tadi, Kamis ( 4/12/2025 ).

Wilayah yang dikenal daerah dingin dataran tinggi Takengon ( Aceh Tengah), Bener Meriah dan Gayo Lues sepenuhnya terisolir total, bahkan jalur akses satu-satunya masuk dan keluar terhalang longsor dan jembatan putus sejak bencana melanda Kamis ( 27/12/2025 ).

banjir bandang aceh 2025
Kondisi kian memburuk seiring dengan makin habisnya bahan sembako, bahan makanan, bahan bakar minyak ( BBM ), gas elpiji, listrik yang padam dan memicu terjadinya aksi kriminal penjarahan yang tak bisa dielakan di beberapa toko ritel modern seperti Indomart dan Alfamart sejak Senin ( 1/12/2025 ).

Warga tidak bisa melaporkan situasi terkini karena terhambat jaringan internet yang masih terputus hanya bisa mengandalkan akses starlink milik pemerintah itu pun dengan perjuangan berat harus berdesak-desakan di waktu tengah malam dimana jaringan bisa digunakan.

Kondisi rakyat semakin terjepit menjerit dengan kondisi yang sangat sulit, dan pemerintah setempat pun nyaris angkat tangan tidak tahu harus berbuat solusi apa,” ujar warga. Warga banyak nyaris kelaparan akut dan bertahan dengan bahan pangan yang ada sangat terbatas.

banjir aceh tamiang

Di lansir dari media lokal Bupati Gayo Lues, Suhaidi, menggambarkan kondisi terkini yang sangat terjepit kelaparan memprihatinkan. Ia menyebutkan bahwa lima kecamatan masih terisolasi total, yakni Putri Betung, Pining, Tripe Jaya, Rikit Gaib, dan Pantan Cuaca. Daerah-daerah tersebut belum mendapatkan suplai sembako sama sekali sejak 7 hari terakhir. Empat kecamatan — Putri Betung, Tripe Jaya, Pining, dan Rikit Gaib — menjadi wilayah paling parah terdampak, dengan banyak warga kehilangan rumah karena hanyut dibawa arus banjir yang dahsyat.

Akses utama jembatan penghubung Blangkejeren–Aceh Tenggara menjadi jalur vital nadi ekonomi dan masuknya kebutuhan pokok masyarakat Gayo Lues lumpuh total, Rabu (3/12/2025).

jembatan putus akibat banjir

Begitu juga Jembatan Aih Bobo yang merupakan akses utama urat nadi yang menghubungkan satu-satunya Rumah Sakit Umum Muhammad Aki Kasim dan Batalion Sangir pun terputus total sehingga menambah tingkat parahnya kerusakan infrastruktur dan membutuhkan waktu lama untuk diperbaikinya. Saat ini alat berat terus dikerahkan untuk membersihkan akses jalan, tetapi jalur belum bisa ditembus,” kata Suhaidi.

Daerah ini menjadi wilayah paling parah terdampak, dengan banyak warga yang kehilangan rumah. Walaupun tidak mudah melupakan trauma tragedi musibah yang sewaktu-waktu tiba terjadi sekejap, kami berdoa agar Allah SWT segera mengetuk hati para dermawan untuk mengulurkan tangan bantuanya dan bagi para pemimpin dan pengambil kebijakan pemerintah agar segera hadir berjibaku menyelamatkan setiap nyawa dan memberikan solusi nyata untuk rakyatnya yang dilanda krisis kelaparan dapat dicegah secepatnya.[ ]

banjir aceh tamiang

Telaga Meuku Aceh Tamiang Masih Terisolir, Butuh Bantuan Logistik

Persediaan Logistik di daerah Aceh Tamiang masih terisolir bahkan sampai pada titik kritis, pasalnya sejak banjir dahsyat yang melanda Aceh sejak ( Kamis, 27 November 2025 ) sampai hari ini Senin, 1 Desember 2025 bagian jalur ke Aceh Tamiang terputus total. Belum bisa ada akses kendaraan apapun bisa masuk dan dijangkau baik dengan kendaraan darat maupun perahu. Air masih tinggi dan jaringan listrik dan internet masih padam. Hanya satu-satunya pantauan udara helicopter milik aparat gabungan Basarnas dan TNI yang baru menjangkau di titik-titik tertentu saja.

Sampai informasi ini diunggah, berdasarkan informasi jejaring alumni keluarga santri Ma`had Al-Itqan yang berada di lokasi mereka akhirnya memberanikan diri dg sampan perahu kecil warga yang bisa keluar menuju akses yang memungkinkan bisa menjaring sinyal untuk mengabarkan keadaan darurat gentingnya.

banjir aceh tamiang

Berhari-hari sampai hari ke-5 terputus gelap tanpa listik dan jaringan tanpa pasokan makanan memang sangat memprihatinkan. Tapi tekad melawan situasi sulit akhirnya menunjukan tanda-tanda hasil keberuntungan dengan bisa mendapatkan jaringan agar bisa mengabarkan kondisi yang terjadi, hingga informasi ini bisa diunggah.

Dari informasi Furqon, yang merupakan warga setempat” saya sampai hari ini belum dapat menghubungi keluarga”, tuturnya via selular dengan penuh harap. Begitu juga Fajar yang tak jauh dari kampung Telaga Meuku sampai hari ke-7 belum dapat kabar nasib keluarganya. Ada puluhan keluarga santri asal Aceh Tamiang yang masih menunggu harap-harap cemas tentang keluarganya bagaimana kabarnya.

banjir bandang

Tepatnya di Gampong , Telaga Meuku 1 Kecamatan Banda Mulia, Lokasi rumah di depan Masjid Baitul Izzah, warga yang dilaporkan mengungsi dalam 1 rumah lantai 2 berjumlah 50 orang sampai hari ini Senin 1 Desember 2025 masih terisolir tanpa ada bantuan apapun yang masuk.

Kuala Simpang dan Langsa yang menjadi akses masuk ke daerah ini pun masih terendam tinggi air sehingga benar-benar melumpuhkan akses dan bisa dibilang warga perlahan-lahan bisa terjangkit kelaparan hingga kematian. Tanpa hiraukan apapun yang bisa mereka lakukan untuk bertahan hidup mereka tempuh.

banjir bandang 2025

“Saat ini kami butuh bantuan karena logistik sangat minim,” kata salah seorang warga penyintas jama`ah masjid Telaga Meuku 1 saat dikonfirmasi, Jumat (1/12)
Dari Ikatan Alumni Pesantren asal Aceh Tamiang masih menggerakan dukungan untuk mamasok bantuan kepada keluarganya yang terdampak dan sampai saat informasi ini disampaikan masih belum ada tanda-tanda bisa menghubungi pihak keluarga masing-masing. Berharap pihak yang berwenang dapat segera menjangkau dan membuka akses yang sudah berhari-hari terbilang nyaris mati ditenggelamkan perlahan ditelan lautan banjir.

air banjir hingga dada dewasa

Pihak pemerintah dan relawan SAR pun menjelaskan akses transportasi darat menuju Aceh Tamiang masih kesulitan seperti dari jalur utama Medan –KualaSimpang – Tamiang masih terputus dibeberapa titik. Begitu juga ke kabupaten lain Lhokseumawe,Bireuen, Aceh Utara, Aceh Tengah, dan Aceh Timur terputus total. Jalan nasional yang menjadi satu-satunya urat nadi penghubung mengalami longsor dan sejumlah jembatan turut ambruk tak bisa dilewati apapun.

banjir bandang banda mulia

“Keadaan logistik ini menipis yang memicu kelaparan dan tindakan kejahatan karena saking sulitnya terisolasi dan tidak bisa dijangkau dengan informasi maupun kendaran yang ada, inilah sulitnya situasi yang sulit dibayangkan dalam keadaan terisolasi,” ungkap Datok Tanjung Keramat bersama warga jama`ah Masjid Baitul Izzah yang mengungsi di ruko-ruko lantai atas warga dengan kondisi berdesakan karena juga Masjid terendam tak bisa digunakan.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id