Bahaya Tajassus

Ia merupakan istilah yang disebutkan oleh Allah di dalam Al Quran, suatu kegiatan yang dilarang oleh Al Quran demi mengatur dan menata kehidupan soal masyarakat dan tumah tangga agar mereka bisa hidup tenang, bahagia dan tidak disibukkan oleh hal – hal yang tidak bermanfaat bagi mereka, bahkan sering kali membahayakan mereka secara individu mau masyarakat.

Tajassus di zaman moderen ini sudah sangat bervariasi, istilahnya juga sudah mengalami perubahan, sarananya dan kemudahannya sudah sangat luar biasa.

Kata Tajassus hanya disebutkan satu kali saja di dalam Al Quran yaitu dalam surat Al Hujarat, makna Tajassus ialah saling memata – matai dan mencari cari kesalahan orang lain, dengan tujuan untuk mencari aib dan keburukan orang, perihal larangan Tajassus disebutkan oleh Allah dalam surat Al Hujarat, ayat :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ (12)

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS Al Hujarat: 12).

Menafsirkan ayat ini Imam Ibnu Jarir Ath Thabari berkata:
Janganlah kalian mencari – cari aib dan kesalahan orang di antara kalian, dan jangan pula mencari – cari rahasia orang lain, dengan tujuan mencari aib dan kesalahan, cukuplah yang kalian ketahui saja dan tidak perlu mencarinya lebih mendalam.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata:
Ayat ini melarang seseorang untuk mencari cari aib dan kesalahan orang lain.

Melakukan Tajassus kepada kaum muslimin dilarang dan haram hukumnya, bahkan Ibnu Hajar Al Haitsami mnganggap Tajassus bagian dari dosa besar, sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Hujarat di atas.

Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الأَسْلَمِيِّ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الإِيمَانُ قَلْبَهُ لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ ‏”‏ ‏.‏

“Wahai orang yang beriman dengan lisannya. Sementara keimanan belum masuk ke dalam hatinya. Janganlah kamu semua mengguncing orang-orang Islam dan jangan mencari-cari aurat (keasalahnya). Karena barangsiapa yang mencari-cari kesalahan mereka, maka Allah akan perlihatkan kesalahannya. Dan barangsiapa yang Allah perlihatkan kesalahannya, akan dipermalukan (sampai) di rumahnya.” HR. Abu Dawud, no. 4880 dishohehkan oleh Al-Albany.

وعن ابن عباس -رضي الله عنهما- أن رسول الله قال :”مَنْ اسْتَمَعَ إلى حديث قَوْمٍ وَهُمْ له كَارِهُونَ أو يَفِرُّونَ منه صُبَّ في أُذُنِهِ الْآنُكُ يوم الْقِيَامَةِ “.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata: Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda:
Barangsiapa yang mencuri – curi dengar (nguping) terhadap obrolan orang lain sedangkan mereka tidak sukadengan perbuatan (nguping) itu, maka pada hari kiamat nanti akan ficurahkan timah panas pada telinganya ( karena suka mendengar aib orang). (HR Al Bukhari).

Syaikh Shaleh Al Utsaimin berkata:
Orang yang suka mengintai/ nguping omongan orang sementara orang yang diintai tersebut tidak suka maka pada hari kiamat nanti akan dituangkan timah panas di telanganya karena ia sukan mencari, mengintai dan mendengar aib orang lain. (Syarah Riyadh Shalihin, 6/251-252).

Di atara dampak buruk dari Tajassus ialah
Ia merupakan tanda lemahnya iman, rusaknya akhlaq dan menghabiskan waktu pada sesuatu yang tidak bermanfaat, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah berkata:
Beruntung orang yang menyibukkan diri dengan aibnya sendiri dan tidak sibuk dengan aib dan kesalahan orang lain, celakalah orang yang lupa dengan aibnya sendiri dan sibuk dengan aib orang lain, menyibukkan diri dengan aib diri sendiri adalah tanda manusia suskes di akhirat, menyibukkan diri dengan aib orang adalah tanda ia akan celaka di akhirat.

قال ابن القيم : “طوبى لمن شغله عيبه عن عيوب الناس، وويل لمن نسي عيبه وتفرغ لعيوب الناس، فالأول علامة السعادة، والثاني علامة الشقاوة”.

Tajassus dapat merusak hubungan kemasyarakatan dan menghancurkan ikatan persaudaraan di antar mereka, membuat dada menjadi sesak dan melahirkan kemungkarang – kemungkaran yang pada akhirnya akan merusak kehidupan (Thariq Al Hijratain, hal :271).

Seperti sabda Nabi shallahu alaihi wasallam :

عن معاوية قال:سمعت رسول الله يقول “إنك إن اتَّبَعْتَ عَوْرَاتِ المسلمين أفْسَدْتَهُم، أو كِدْتَ أن تُفْسِدَهُم”.

Dari Mu’awiyah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya engkau apabila mencari – cari aib dan kesalahan orang pasti kamu akan merusak mereka (masyarakat) atau minimal kami hampir saja merusak mereka (HR Abu Dawud, Ibnu Hibban, Thabrani, Baihaqi dan Abu Ya’la).

Di antara dampak buruk Tajassus disebutkan oleh Syekh Shaleh Al Utsaimin sebagai berikut :

Tajassus itu menyiksa, menyiksa orang yang diintai, perbuatan ini akan menimbulkan kebencian, permusuhan, dan membebani diri dengan sesuatu yang tidak perlu, maka kamu akan menemukan orang yang suka mengintai kesalahan orang sekali kamu lihat dia di sini, besok akan pindah ke sana ke sini, Naudzubillah mindzalik, melirik kesana kemari, sebenarnya ia telah melelahkan dirinya sendiri dalam menyakiti orang lain.

عن أبي هريرة أن رسول الله قال: إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَاِنَّ الظَّنَّ اَكْذَبُ الْحَدِيث ، وَلاَتَحَسَّسُوا وَلآتَجَسَّسُوْا وَلآتَحَاسَدُوا وَلآتَدَابَرُوا وَلآتَبَاغَضُوا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا (رواه البخارى).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: Jauhilah sifat berprasangka karena sifat berprasangka itu adalah sedusta-dusta pembicaraan. Dan janganlah kamu mencari kesalahan, memata-matai, janganlah kamu berdengki-dengkian, janganlah kamu belakang-membelakangi dan janganlah kamu benci-bencian. Dan hendaklah kamu semua wahai hamba-hamba Allah bersaudara.” (HR. Al Bukhari).

يقول الإمام ابن حبان : “الواجب على العاقل مباينة العوام في الأخلاق والأفعال، بلزوم ترك التجسس عَن عيوب الناس، لأن من بحث عن مكنون غيره بُحث عن مكنون نفسه، وربما طمَّ مكنونه على ما بحث من مكنون غيره، وكيف يستحسن مسلم ثَلب مسلم بالشيء الذي هو فيه “.

Imam Ibnu Hibban berkata:
Sudah seharusnya orang yang berakal itu menyelisihi orang awam, dari sisi akhlaq dan perbuatan, tidak mengintai mencari – cari kesalahan orang lain, karena barangsiapa yang membongkar kesalahan orang lain maka suatu hari nanti kesahan dia akan dibongkar orang, atau bisa jadi kebobrokan dia terbuka pula saat membuka kebobrokan orang lain, bagaimana mungkin Seorang muslim mencari aib orang lain sedangkan ia juga memiliki aib yang sama dengan mereka (Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala’, Oleh Ibnu Hibban, hal: 128).

الإمام ابن حبان: ” الواجب على العاقل لزوم السلامة بترك التجسس عن عيوب الناس مع الاشتغال بإصلاح عيوب نفسه، فإن من اشتغل بعيوبه عن عيوب غيره أراح بدنه ولم يتعب قلبه، فكلما اطلع على عيب لنفسه هان عليه ما يرى مثله من أخيه، وأن من اشتغل بعيوب الناس عن عيوب نفسه عمى قلبه وتعب بدنه وتعذر عليه ترك عيوب نفسه، وإن من أعجز الناس من عاب الناس بما فيهم وأعجز منه من عابهم بما فيه…”.

Imam Ibnu Hibban berkata lagi:
Wajib bagi orang yang berakal (waras) mencari jalan selamat dengan tidak mencari – cari kesalahan orang lain dan menyibukkan diri dengan memperbaiki aibnya sendiri, karena barangsiapa yang menyibukkan diri dengan aibnya sendiri maka ia telah memberikan ketenangan untuk dirinya sendiri serta tidak melelahkan hatinya sendiri, kalau ia sibuk urus aibnya sendiri maka ia akan merasa ringan (biasa) kalau dia melihat aib yang sama ada pada orang lain, namun siapa saja yang menyibukkan diri dengan aib orang lain maka mata hatinya akan buta, lelah badannya, dan sangat sulit baginya berlepas dari aib yang ia miliki, manusia yang paling lemah ialah manusia yang merendahkan orang lain dengan satu aib sedangkan ia sendiri tidak mampu berlepas dari aib tersebut. Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala’, Oleh Ibnu Hibban, hal: 125).

قال أبو حاتم : التجسس من شعب النفاق كما أن حسن الظن من شعب الإيمان.

Imam Abu Hatim berkata:
Tajassus adalah bagian dari cabang kemunafikan sedangkan husnu zhan (baik sangka) adalah bagian dari cabang iman. (Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala’, Oleh Ibnu Hibban, hal: 126).

Di antara bentuk Tajassus yang sering terjadi adalah seorang suami atau istri salang memata mati satu sama lain, dengan alasan cemburu, dll.

Syekh Husam Affanah berkata dalam fatwanya:

Diharamkan bagi suami atau istri untuk saling melakukan Tajassus, karena Tajassus dan Su’u Zhan (buruk sangka) adalah penyebab kehancuran rumah tangga, merusak hubungan suami istri, efeknya akan hilang rasa percaya, ketenangan dan ketentraman seperti yang di sebutkan Allah ta’ala dalam surat rum ayat 21.

﴿وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

فعن جَابِرٍ رضي الله عنهما قال : (نهى رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَطْرُقَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ لَيْلًا يَتَخَوَّنُهُمْ أو يَلْتَمِسُ عَثَرَاتِهِمْ) رواه البخاري (5243) ومسلم (715) .

Dari Jabir radhiyallahu anhu berkata:
Rasulullah shallahu alaihi wasallam melarang seseorang untuk sengaja pulang malam hari ke rumahnya dengan tujuan mengungkap penghianatan istrinya atau mencari – cari kesalahannya. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Imam Syaukani berkata: Kalimat pada hadits (يتخونهم) mencari atau berharap menemukan penghianatan dan kesalahan dari istrinya.

Di antara bentuk Tajassus ialah memata – matai Handphone teman – teman, mengintai sosmednya, website yang dikunjungi dan sebagainya untuk mencari kesalahan dan kesilapan saudaranya.

Islam mengatur hubungan sesama manusia dengan baik dan memberikan arahan agar manusia tersebut tidak jatuh dalam kesulitan, pertengkaran dan kehancuran, berbaik sangka, bersikap baik adalah ciri pribadi muslim yang baik akhlaqnya baik pula imannya, mudah – mudahan Allah menjauhkan kita dari sifat Tajassus, suu zhan dan berbagai sifat buruk lainnya.

Hakikat Pemuda Dalam Al Quran

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Diantara tema kehidupan yang sangat penting bagi kita semua adalah tema tentang al fityah yaitu pemuda, dimana al Qur’an dan sunnah banyak berbicara tentang pemuda dan perannya dalam kehidupan ini, terutama perannya dalam perjuangan di jalan Allah.

Kenapa kita berbicara tentang pemuda? Jawabannya adalah karena pemuda itu adalah kelompok masyarakat yang paling cepat merespon dakwah, mereka adalah agen perubahan, jadi kalau kita ingin merubah kondisi masyarakat, bangsa, dan negara maka yang dijadikan prioritas adalah perubahan terhadap para pemudanya, maka saking pentingnya keberadaan para pemuda sampai-sampai Bung Karno pernah berkata, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”
maka para pemuda harus menjadi pribadi terdepan dalam merubah tatanan masyarakat menjadi lebih baik, makanya dalam redaksi ayat tersebut yang disebut adalah kata fityah, artinya adalah para pemuda, bukan menggunakan redaksi yang lain. Allah swt berfirman,

(نَّحۡنُ نَقُصُّ عَلَیۡكَ نَبَأَهُم بِٱلۡحَقِّۚ إِنَّهُمۡ فِتۡیَةٌ ءَامَنُوا۟ بِرَبِّهِمۡ وَزِدۡنَـٰهُمۡ هُدࣰى)

“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.”
[Surat Al-Kahfi 13]

Maksudnya adalah Kami akan ceritakan kepadamu dengan rinci wahai Nabi Muhammad kisah mereka yang penting dan menakjubkan itu dengan sebenarnya, tidak ada keraguan maupun kesamaran agar engkau jelaskan kepada orang-orang yang bertanya dan menjadi pelajaran bagimu dan bagi umatmu. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada tuhan mereka dengan keimanan yang benar, tetapi mereka ditindas oleh penguasa pada masanya maka kami kukuhkan iman mereka dan kami tambahkan petunjuk kepada mereka kepada jalan yang benar.
(Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI)

Didalam tafsir al Baghawi diceritakan bahwa pada zaman dahulu ada seorang Raja dan Para rakyatnya yang sama-sama menyembah berhala maka ada sekelompok pemuda yang beriman kepada Allah risih dengan pemandangan tersebut dan berusaha untuk menasehati mereka mencegah perbuatan mereka, namun akibat perbuatan mereka itu mereka malah dimusuhi oleh sang raja dan rakyatnya, dan hal yang membuat takjub, para pemuda yang sebelumnya belum kenal ini disatukan oleh Allah untuk menjadi pribadi yang kuat dalam mempertahankan keimanan mereka, sehingga karena keimanan tersebut Allah selamatkan mereka dari tipu daya dan kejaran sang raja dan para rakyatnya di dalam sebuah gua yang tersembunyi.
Dalam sebuah hadist, Nabi saw bersabda,

الأرواح جنود مجندة ما تعارف منها ائتلف وما تناكر منها اختلف

Ruh-ruh itu seperti pasukan yang dihimpun dalam kesatuan-kesatuan. Yang saling mengenal di antara mereka akan mudah saling tertaut. Yang saling merasa asing di antara mereka akan mudah saling berselisih. (HR Muslim, No 6376)

Dalam syarahnya, Imam An Nawawi menuliskan, “Ruh-ruh itu saling mengenal karena mereka adalah ciptaan Allah yang sejenis dan hakikatnya isi dunia ini hanyalah keimanan atau keingkaran; mereka yang taat pada Allah akan mudah dipertautkan dengan sesama hamba yang taat, dan dipisahkan dengan yang durhaka.”
Begitulah Allah satukan hati para pemuda diatas keimanan dan selamatkan mereka dari ancaman padahal mereka tidak mengenal satu dengan yang lain, akhirnya menjadi saling kenal.

Makanya Ashabul Kahfi mereka adalah fityah, para pemuda. Mereka adalah kelompok paling cepat merespon perubahan. Mereka pemuda yang hanya terdiri 7 orang itu dapat dijadikan contoh keteladanan dalam memperjuangkan keimanan sehingga kisahnya diabadikan dalam Al Qur’an.

Nah, pemuda seperti apakah yang diharapkan agar mampu merubah tatanan suatu masyarakat menjadi lebih baik menurut tinjauan Al-Qur’an,

1. Pemuda yang berlandaskan iman dalam semua sisi kehidupan.

Kenapa demikian? Karena iman itu energi yang luar biasa, tiada energi terkuat melebihi energi keimanan kepada Allah saw, misalnya ketika seseorang sedang merasakan dahaga ditengah ibadah puasa di siang yang sangat terik, lalu dihadapannya ada segelas air dingin yang siap diteguk, dan tidak ada seorang pun yang melihatnya, maka kekuatan apa yang menahan dirinya untuk minum ditengah puasa? Jawabannya adalah kekuatan iman, makanya ketika Allah berbicara tentang perintah puasa dalam surat Al Baqarah 183, bunyi ayatnya adalah ya ayyuhal ladzina amanu, bukan ya ayyuhannas, karena hanya mereka yang mendasari hati mereka dengan keimanan yang mampu melaksanakan ibadah puasa dengan benar, bukan sembarang manusia.
Nah, dalam sebuah hadits ketika Rasulullah saw menjelaskan 7 golongan manusia yang mendapatkan naungan dan pertolongan pada hari kiamat, diantaranya adalah pemuda yang diajak berzina oleh wanita kaya dan cantik, tetapi menolaknya, maka sudah barang tentu energi keimanan yang mampu mencegahnya dari perbuatan keji tersebut. Karena pemuda secara khusus dan manusia secara umum yang tidak memiliki baju keimanan itulah yang yang mudah jatuh dan selalu diposisikan negatif dalam Al Qur’an, misalnya dalam surat al ‘Ashr, manusia disebut rugi oleh Allah,

(وَٱلۡعَصۡرِ ۝ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ)

“Demi masa,sungguh, manusia berada dalam kerugian”
[Surat Al-‘Ashr 1 – 2]
Kemudian manusia diciptakan dalam keadaan lemah, firman Allah swt,

(یُرِیدُ ٱللَّهُ أَن یُخَفِّفَ عَنكُمۡۚ وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَـٰنُ ضَعِیفࣰا)

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.”
[Surat An-Nisa’ 28]

Amanah menjadi terbengkalai karena kebodohan dan kedzaliman manusia, firman Allah swt,

(إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَیۡنَ أَن یَحۡمِلۡنَهَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡهَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَـٰنُۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومࣰا جَهُولࣰا)

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh”
[Surat Al-Ahzab 72]

Padahal manusia itu dijadikan sebagai Khalifah, kenapa kok disandingkan dengan sifat-sifat yang tidak baik sebagaimana dijelaskan diatas? Karena, selama manusia hanya berbekal dengan sifat kemanusiaannya saja tidak diiringi keimanan, maka dia akan lemah walaupun dia seorang tokoh dalam masyarakat nya, ia akan hina walaupun di mata manusia ia terpandang. Namun manusia ketika berbekal dengan keimanan itulah yang direkomendasikan Allah untuk menjadi para pemimpin perubahan dan merekalah yang beruntung sebaliknya mereka yang melepaskan baju keimanan itulah mereka para pecundang dan yang rugi, makanya diawal surat Al Mukminun, Allah mengkaitkan keberuntungan dengan keimanan bukan sifat kemanusiaan, firman Allah,

(قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ)

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman,
[Surat Al-Mu’minun 1]

Jadi, kemenangan para pemuda ketika memiliki senjata paling ampuh yaitu keimanan. Maka mereka akan meraih kemenangan dalam peperangan akhir zaman, terutama peperangan pemuda-pemuda muslim melawan pasukan Yahudi di Baitul Maqdis.
Nabi saw bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : “Kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum Muslimin memerangi Yahudi, lalu kaum Muslimin akan membunuh mereka sampai-sampai setiap orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, tetapi batu dan pohon itu berkata, ‘Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia.’ Kecuali (pohon) gharqad karena ia adalah pohon Yahudi.” (HR Muslim)

Jadi, ini satu dalil bahwa pemuda yang mampu merubah dunia menjadi lebih baik adalah pemuda yang memiliki keimanan, karena keimanan adalah energi yang luar biasa dahsyat nya melebihi energi energi manusia yang lainnya.

2. Pemuda yang arah hidupnya mengikuti petunjuk Allah.

Hidup kita tidak boleh mengikuti selera dan hawa nafsu, Sungguh seluruh ajaran Nabi itu indah dan benar, maka kita tidak boleh memilah milah tema agama tertentu dengan mengesampingkan tema yang lain tujuannya untuk kepentingan hawa nafsu, misalnya maunya bahas tema poligami dan nikah tapi ketika pembahasan itu terkait jihad ia menolaknya, makanya sampai nabi bersabda,

لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به

“Tak akan sempurna iman kalian, hingga hawa nafsu kalian tunduk terhadap risalah yang saya sampaikan.” (HR. Thabrani)

Makanya pemuda pemudi yang dibanggakan dan dimuliakan Allah adalah mereka yang seleranya islam secara kaffah, bukan islam yang mengikuti selera mereka, selama mereka mampu mengikuti petunjuk Allah, maka selama itu pula mereka akan diberi kekuatan untuk merubah tatanan dunia lebih baik lagi.

Begitu pentingnya petunjuk Allah, walaupun kita seorang muslim, tapi kita diperintahkan untuk selalu meminta petunjuk kepada Allah, sebagaimana dalam surat Al Fatihah yang sering kita baca berulang-ulang dalam shalat kita, firman Allah

(ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَ ٰ⁠طَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ)

Tunjukilah kami jalan yang lurus
[Surat Al-Fatihah 6]

Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud petunjuk dalam ayat tersebut adalah petunjuk mengikuti al Qur’an, As-Sunnah dan islam. Tak ada ulama yang mengatakan ikuti petunjuk guru atau syaikh saya. Karena guru bisa benar bisa salah, sementara islam pasti benar, karena kalau kita mengikuti petunjuk kebenaran islam itu namanya kita mendapatkan petunjuk hidayah, tetapi kalau kebenaran disandarkan pada guru tertentu maka kita terjebak dalam sifat fanatik. Dan sifat itu sangat berbahaya karena terkadang akan memunculkan sifat ujub atau merasa paling benar.

Jadi setiap kita shalat kita diperintahkan untuk minta petunjuk, padahal kita seorang muslim kenapa demikian? Maka para ulama menjelaskan karena kebutuhan kita terhadap islam bukan hanya sebatas ketika kita awal masuk islam tetapi harus kontiniu sesuai dengan kontiniutas ajaran islam, kita butuh islam tidak hanya di masjid saja, dalam kehidupan rumah tangga, politik, ekonomi, berbangsa dan bernegara bahkan sepanjang hayat kita juga butuh islam, karena kalau kita tidak melandaskan keislaman dalam sendi kehidupan kita maka kita bisa jatuh ke sifat ekstrem kanan maupun kiri, ini dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an melalui firman-Nya,

(وَأَنَّ هَـٰذَا صِرَ ٰ⁠طِی مُسۡتَقِیمࣰا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِیلِهِۦۚ ذَ ٰ⁠لِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ)

Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.
[Surat Al-An’am 153]

Didalam tafsir Ibnu katsir disebutkan bahwa maksud ayat ini telah dijelaskan melalui sabda Nabi saw yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud ra,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ -هُوَ ابْنُ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -قَالَ: خَطَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا بِيَدِهِ، ثُمَّ قَالَ: “هَذَا سَبِيل اللَّهِ مُسْتَقِيمًا”. وَخَطَّ عَلَى يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: “هَذِهِ السُّبُل لَيْسَ مِنْهَا سَبِيلٌ إِلَّا عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ”. ثُمَّ قَرَأَ: {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

Abdullah bin Mas’ud Ra., berkata, “Rasulullah Saw, membuat sebuah garis dengan tangannya (di tanah), kemudian bersabda, ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau saw. membuat garis di sebelah kanan dan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini jalan-jalan lain, tiada suatu jalan pun darinya melainkan terdapat setan yang menyerukan kepadanya.’ Kemudian Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: ‘dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan­Nya’.” (QS. Al-An’am: 153)

Makanya pemuda yang mampu merubah tatanan dunia menjadi lebih baik adalah pemuda yang diberi hidayah oleh Allah swt. seorang pemuda kalau tidak mengikuti petunjuk Allah, maka dipastikan ia ikut jalannya syetan. Mudah-mudahan kita senantiasa dijaga Allah dari godaan setan yang terkutuk!

3. Pemuda yang memiliki semangat dan kekuatan.

Kenapa demikian? Karena kalau kita urai lafadz al-fityah yang berarti pemuda secara bahasa berasal dari kata al-futuwwu artinya kekuatan, maka sebagian ulama mengatakan bahwa pemuda itu ukurannya bukan hanya sekedar umur dari tahun sekian ke sekian, tapi pemuda adalah ukuran nya semangat dan kekuatan untuk berjuang membangun tatanan dunia lebih baik, walaupun secara angka ia dikategorikan tua. Kekuatan apa yang harus pemuda miliki? Ini dijelaskan dalam firman Allah swt,

(وَأَعِدُّوا۟ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةࣲ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَیۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمۡ وَءَاخَرِینَ مِن دُونِهِمۡ لَا تَعۡلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ یَعۡلَمُهُمۡۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَیۡءࣲ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ یُوَفَّ إِلَیۡكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تُظۡلَمُونَ)

Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizhalimi (dirugikan).
[Surat Al-Anfal 60]

Dalam ayat itu perintah bersiap-siap untuk berjuang di jalan Allah menghadapi orang kafir yang berbuat zalim hukumnya adalah wajib dan persiapan itu terbentuk dalam berbagai macam kekuatan (karena redaksi Quwwah dalam ayat tersebut berbentuk nakirah yang bermakna umum) meliputi kekuatan fisik, aqidah, ekonomi dan sebagainya. Mengenai pentingnya menjadi pribadi mukmin yang kuat, khususnya kuat dalam fisiknya didalam sebuah hadits nabi bersabda,

المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف (رواه مسلم)

Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah”.(HR.Muslim).

Maka contohlah nabi, beliau adalah sosok yang kuat seolah olah bumi itu dilipat untuknya saking cepatnya nabi berjalan, beliau pernah mengalahkan Rukanah, jagoan gulat yang terkenal di Makkah. Makanya didalam islam segala makanan atau perkara yang buruk bagi kesehatan dilarang oleh Allah, karena berpotensi membahayakan fisik kita, sebagaimana sabda nabi yang sudah kita hafal bersama,

لا ضرر ولا ضرار

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.”

Maka seorang pemuda harus rajin menjaga kekuatan dan kesehatan dengan mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, jangan sampai mengkonsumsi rokok atau hal-hal yang buruk lainnya, karena itu membahayakan dirinya dan orang lain. Maka pemuda harus kuat karena diantara makna pemuda itu adalah Al -Quwwah (Kekuatan).

Nah diantara sosok pemuda islam yang namanya harum terukir dalam tinta emas sejarah, karena kekuatannya yang disegani baik itu kekuatan fisik, akal, maupun mentalnya adalah,

a. Usamah bin Zaid (18 tahun). Memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu.
b. Zaid bin Tsabit (13 tahun). Penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penterjemah Rasul saw. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an.
e. Muhammad Al Fatih (22 tahun). Menaklukkan Konstantinopel ibu kota Byzantium pada saat para jenderal agung merasa putus asa.
f. Mu’adz bin Amr bin Jamuh (13 tahun) dan Mu’awwidz bin ‘Afra (14 tahun). Membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin, pada perang Badar.
g. Muhammad Al Qasim (17 tahun). Menaklukkan India sebagai seorang jenderal agung pada masanya. Dan banyak sekali semisal mereka.

4. Mampu lolos melewati berbagai tantangan dan ujian, terlebih lagi, di zaman modern ini tantangan para pemuda islam semakin berat, diantara tantangan mereka adalah,

a. Teknologi

Di dalam islam tidak ada larangan untuk memakai kecanggihan teknologi masa kini, hanya saja hukum pemakaian teknologi tergantung pada illat atau kegunaan nya, kalau digunakan untuk ketaatan bernilai ibadah, sebaliknya kalau digunakan maksiyat bernilai dosa, maka hendaknya kecanggihan teknologi hendaknya diperuntukkan sebagai sarana untuk berjuang di jalan Allah swt.

b. Hiburan.

Ketika orang tua kita zaman dulu kalau mau nonton hiburan, mereka biasanya pergi ke gedung bioskop, pertunjukan wayang kulit dan lain sebagainya. Namun hiburan zaman sekarang sudah ada dalam rumah kita masing-masing. Kita diperangi oleh musuh Allah bukan hanya diluar tetapi dalam rumah kita juga diperangi lewat tayangan hiburan TV yang tidak mendidik, konten-konten video yang tak bermoral
Nah, di dalam Muktamar Yahudi Internasional ketika membahas tentang strategi untuk menghancurkan islam, ada seorang pemimpin dari mereka berkata, “sungguh seonggok biduan wanita dan secangkir minuman keras untuk menghancurkan umat islam lebih dahsyat dari pada bom atom yang diledakkan di Hirosima dan Nagasaki. Dan terutama fitnah wanita memang sangat dahsyat dampaknya. Fitnah dahsyat yang menghancurkan bani Israel setelah fitnah harta adalah fitnah wanita. Maka untuk mengkonter fitnah-fitnah yang berbahaya tersebut hendaknya setiap penghuni rumah harus disuplai dengan nutrisi Al-Qur’an dan kebutuhan agama yang benar, makanya kita dianjurkan ketika memasuki rumah baru untuk membaca Az Zahrawain yaitu surat Al Baqarah dan Ali Imran supaya tidak diganggu oleh setan jin maupun setan manusia.

c. Jauh dari kehidupan perjuangan

Karena para pemuda banyak yang tergoda dengan hiburan dalam rumah, sehingga mereka mulai malas untuk bergerak dan berjuang, mereka kehilangan sosok yang bisa dijadikan keteladanan karena kesibukan mereka dengan dunia mereka, sehingga tidak sempat untuk mempelajari kehidupan salafus shalih yang berisi tentang perjuangan dan dakwah mereka, maunya malas-malasan dan bersantai ria dirumah, tidak siap bahkan tidak mau mengemban dakwah perjuangan. Beruntung lah orang tua yang memiliki anak-anak muda yang shalih dan shalihah, hidupnya dihabiskan di masjid, menghadiri satu kajian ke kajian keislaman yang lain. Sehingga dengan berkumpul dengan kawan kawan yang shalih langkah kaki kita akan diringankan dalam bergerak dan berjuang di jalan Allah, namun sebaliknya apabila perjuangan dilakukan sendiri, maka akan ia cenderung gagal dalam perjuangan karena mudah diganggu oleh setan, sabda Rasulullah saw,

عليكم بالجماعة ، وإياكم والفرقة ، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد .من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة .من سرته حسناته وساءته سيئاته فذلكم المؤمن

“Berpeganglah pada Al Jama’ah dan tinggalkanlah perpecahan. Karena setan itu bersama orang yang bersendirian dan setan akan berada lebih jauh jika orang tersebut berdua. Barangsiapa yang menginginkan bagian tengah surga, maka berpeganglah pada Al Jama’ah. Barangsiapa merasa senang bisa melakukan amal kebajikan dan bersusah hati manakala berbuat maksiat maka itulah seorang mu’min” (HR. Tirmidzi)

Perbedaan Orang Baik Dengan Penyeru Kebaikan

Sekedar jadi ORANG BAIK pasti bisa BANYAK TEMAN & bagi PENYERU KEBAIKAN malah bisa jadi BANYAK MUSUHnya.

ما الفرق بين الصالح والمصلح ؟

Apa bedanya Orang Baik (Shalih) dan Penyeru Kebaikan (Mushlih)..?

الصالح خيره لنفسه والمصلح خيره لنفسه ولغيره.

Orang Baik (Shalih), melakukan kebaikan untuk dirinya,
sedangkan Penyeru Kebaikan (Muslih) mengerjakan kebaikan utk dirinya dan orang lain..

الصالح تحبُه الناس. والمصلح تعاديه الناس .

Orang Baik dicintai manusia…
Penyeru Kebaikan dimusuhi manusia..

الحبيب المصطفى(صلى الله عليه وسلم) قبل البعثة أحبه قومه لأنه صالح .

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebelum diutus, Beliau dicintai oleh kaumnya karena beliau adalah Orang Baik…

ولكن لما بعثه الله تعالى صار مصلحًا فعادوه وقالوا ساحر كذاب مجنون.

Namun ketika ALLAH TA’ALA mengutusnya sebagai Penyeru Kebaikan, kaumnya langsung memusuhinya dengan menggelarinya : Tukang Sihir, Pendusta, Gila..

ما السبب؟ لأن المصلح يصطدم بصخرةأهواء من يريد أن يصلح من فسادهم .

Apa sebabnya..?
Karena Penyeru Kebaikan ‘menyikat’ batu besar nafsu angkara dan memperbaikinya dari kerusakan..

ولذا أوصى لقمان ابنه بالصبر حين حثه على الإصلاح لأنه سيقابل بالعداوة.

Itulah sebabnya kenapa Luqman menasihati anaknya agar BERSABAR ketika melakukan perbaikan, karena dia pasti akan menghadapi permusuhan…!

يا بني أقم الصلاة وأمر بالمعروف وانهَ عن المنكر واصبر على ما أصابك

Hai anakku, tegakkan sholat, perintahkan kebaikan, laranglah kemungkaran, dan bersabarlah atas apa yg menimpamu.

قال أهل الفضل والعلم : مصلحٌ واحدٌ أحب إلى الله من آلاف الصالحين.

Berkata ahli ilmu:
Satu Penyeru Kebaikan lebih dicintai ALLAH TA’ALA daripada ribuan Orang Baik…

لأن المصلح يحمي الله به أمة ،والصالح يكتفي بحماية نفسه.

Karena melalui Penyeru Kebaikan itulah, ALLAH AZZA WA-JALLA jaga umat ini…
Sedang Orang Baik hanya cukup menjaga dirinya sendiri !

فقد قال الله عزَّ و جلَّ في محكم التنزيل :

ALLAH Subhanahu wa ta’alaa berfirman :

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُون َ.

“Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan 1 negeri dengan dzalim padahal penduduknya adalah Penyeru Kebaikan (Muslih).

ولم يقل صالحون

ALLAH TA’ALA tidak berfirman dg memakai istilah Orang Baik (Sholih).

كونوا مصلحين ولا تكتفوا بأن تكونوا صالحين.

Maka jadilah PENYERU KEBAIKAN (MUSLIH), jangan merasa puas hanya sebagai ORANG BAIK

Kehidupan Yang Baik Dalam Perspektif Al Quran

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Allah swt berfirman,

(مَنۡ عَمِلَ صَـٰلِحࣰا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنࣱ فَلَنُحۡیِیَنَّهُۥ حَیَوٰةࣰ طَیِّبَةࣰۖ وَلَنَجۡزِیَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ)

Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
[Surat An-Nahl 97]

Saudaraku yang budiman, pada kesempatan kali ini kita akan sama sama menunaikan satu kewajiban kita terhadap Al Qur’an yaitu Al-Mu’ayasyah ma’al Qur’an (mantadabburi Makna Al Quran) yang semoga kita diberikan kemudahan untuk mengamalkan isi kandungan Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Kenapa kita mengambil tema Al Hayah At- Thayyibah fil Quran atau kehidupan yang baik dalam Al-Qur’an? Apa urgensi nya?

1. Tema ini adalah tema yang diulang ulang didalam Al Qur’an, kata Thayyib, Thayyibun, Thayyibat, adalah kata-kata yang sering diulang-ulang dalam Al-Qur’an Al-Karim, dan yang harus kita pahami tidak, tidak mungkin al Qur’an menyebut kata secara berulang-ulang kalaulah tidak penting, makanya ulama tafsir mengatakan, kalau ada kata atau kalimat disebut secara berulang-ulang dalam Al -Quran itu menunjukkan akan pentingnya kata atau kalimat tersebut untuk direnungi.

2. Dalam rangka melihat realitas kita pada hari ini, dimana dalam satu sisi nikmat keislaman ini perlu kita syukuri, karena jumlah kaum muslimin sekitar 1,7 miliar, logikanya kalau kaum muslimin baik-baik semua seharusnya dunia ini menjadi aman dan baik, karena mereka tampil menjadi orang yang baik-baik, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran sebagaimana pujian Allah terhadap mereka termaktub dalam Al-Qur’an, firman Allah swt,

(كُنتُمۡ خَیۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ )

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.
[Surat Ali ‘Imran 110]

Tidak sedikit penduduk negara mayoritas islam yang Khabits, kotor, buruk kadangkala lebih dominan dari pada yang Thayyib, maka orang-orang yang beriman harus tampil merubah tatanan dunia menjadi lebih baik, makanya dalam kitab Maa dzaa Khasira dunya bin khithathi al muslimin karya Abu Hasan An-Nadawi Sebuah kitab yang berisi peran islam dalam memimpin dan menguasai dunia, beliau katakan “kalau umat islam mengendor, tidak bergerak maka dunia akan akan rusak” makanya hari-hari ini kita dihebohkan sejenis virus yang menular dan mematikan yaitu virus corona, itu awalnya dikarenakan manusia menerjang larangan Allah swt yaitu mengkonsumsi kelelawar dan sejenisnya yang merupakan makanan yang khabits, padahal perkara itu sudah diingatkan oleh Allah,

“….Yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka…,” [ Al-A’raf 156]

Maka tema kehidupan yang baik perlu kita bahas agar kehidupan kita dijauhkan dari perkara yang kotor.

3. Kehidupan yang baik itu penjelasannya diperinci didalam Al Quran, bukan hanya dijelaskan secara global, maka ini menunjukkan urgensi tema ini untuk dibahas,
Maka kata Thayyib didalam al Qur’an disandarkan dengan perkara yang mulia, diantara contohnya adalah, kalimat thayyibah laa ilaha illa Allah sementara kata khabits disandarkan oleh Allah dengan perkara yang buruk, sebaliknya didalam Al-Qur’an segala tindakan yang buruk, yang bertentangan dengan hukum dan aturan Allah disebut Kalimat khabitsah, maka kita bisa lihat didalam Al-Qur’an Alllah swt berfirman,

(أَلَمۡ تَرَ كَیۡفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلࣰا كَلِمَةࣰ طَیِّبَةࣰ كَشَجَرَةࣲ طَیِّبَةٍ أَصۡلُهَا ثَابِتࣱ وَفَرۡعُهَا فِی ٱلسَّمَاۤءِ ۝ تُؤۡتِیۤ أُكُلَهَا كُلَّ حِینِۭ بِإِذۡنِ رَبِّهَاۗ وَیَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ یَتَذَكَّرُونَ ۝ وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِیثَةࣲ كَشَجَرَةٍ خَبِیثَةٍ ٱجۡتُثَّتۡ مِن فَوۡقِ ٱلۡأَرۡضِ مَا لَهَا مِن قَرَارࣲ ۝ یُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ بِٱلۡقَوۡلِ ٱلثَّابِتِ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا وَفِی ٱلۡـَٔاخِرَةِۖ وَیُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلظَّـٰلِمِینَۚ وَیَفۡعَلُ ٱللَّهُ مَا یَشَاۤءُ)

Tidakkah kamu memperhatikan bagai-mana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat, Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. [Surat Ibrahim 24-27].

Jadi bagi seorang mukmin harus menjadi pribadi yang thayyib sebagaimana pohon yang akarnya kuat dan rantingnya menjulang tinggi ke langit, maka ia akan senantiasa memberikan manfaat berupa buah dan keteduhan sepanjang masa, maka demikianlah seorang mukmin sehingga kebaikan yang ia produksi akan muncul setiap saat untuk dirinya, keluarganya dan masyarakat nya. Bukan sekedar kebaikan yang bersifat musiman. dan Ini adalah petunjuk Al-Qur’an.

Maka mari kita lihat realitas kehidupan manusia sekarang ini, kita lihat ada sebagian kaum muslimin rajin shalat berjamaah, sedekah, puasa, qiyamul lail hanya dilakukan pada bulan Ramadhan, namun setelah itu ia meninggalkan semua ibadah tersebut pada bulan-bulan lain, maka kebaikan yang kita lakukan harus setiap saat, bukan hanya musiman.

Namun sebaliknya, Syirik dan kufur itu diperumpamakan sebagai kalimat yang kotor, diibaratkan sebagai pohon kering yang tumbang sehingga mengganggu perjalanan seseorang, bahkan dalam ayat yang lain dikatakan sebagai sesuatu yang najis, sebagaimana firman Allah swt,

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ إِنَّمَا ٱلۡمُشۡرِكُونَ نَجَسࣱ فَلَا یَقۡرَبُوا۟ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِهِمۡ هَـٰذَاۚ وَإِنۡ خِفۡتُمۡ عَیۡلَةࣰ فَسَوۡفَ یُغۡنِیكُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۤ إِن شَاۤءَۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِیمٌ حَكِیمࣱ)

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis (kotor jiwa), karena itu janganlah mereka mendekati Masjidilharam setelah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin (karena orang kafir tidak datang), maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”
[Surat At-Taubah 28]

Maka aneh kalau ada seorang yang mengaku mukmin mesra terhadap kafir padahal ia najis disisi Allah, tapi justru keras terhadap saudaranya sesama mukmin hanya karena beda pandangan.
Dalam berumah tangga, kita mendoakan pasangan yang telah menikah dengan doa keberkahan dengan harapan agar keluarga yang ia bangun meraih berbagai kebaikan dan kebahagiaan tapi jangan berharap memiliki rumah tangga yang thayyib, kalau suaminya tidak thayyib, istrinya tidak thayyibah, maka tidak ada jaminan orang mukmin yang ibadahnya baik, namun dalam kehidupan rumah tangga belum tentu thayyib, makanya ketika Aisyah ra dituduh berzina oleh orang-orang munafik, maka Al-Qur’an turun membebaskan tuduhan keji tersebut, Nah bagaimana redaksi ayat tersebut? Allah berfirman,

(ٱلۡخَبِیثَـٰتُ لِلۡخَبِیثِینَ وَٱلۡخَبِیثُونَ لِلۡخَبِیثَـٰتِۖ وَٱلطَّیِّبَـٰتُ لِلطَّیِّبِینَ وَٱلطَّیِّبُونَ لِلطَّیِّبَـٰتِۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا یَقُولُونَۖ لَهُم مَّغۡفِرَةࣱ وَرِزۡقࣱ كَرِیمࣱ)

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”
[Surat An-Nur 26]

Maka rumah tangga kita hendaknya kita perhatikan, anak-anak kita harus kita didik menjadi generasi yang thayyib, anak perempuan kita harus kita didik sehingga menjadi anak yang thayyibah dengan harapan akan mendapatkan jodoh yang thayyib, sehingga tercipta keluarga yang bahagia dunia dan akhirat, karena surga tidak menerima kecuali yang thayyib.
Dan tidak mungkin rumah tangga itu akan thayyib kecuali aqidahnya harus benar.

3. Thayyib didalam aspek makanan, minuman, rumah dan segala aspek kehidupan manusia. Jadi makanan dan minuman yang haram itu memiliki efek yang negatif bagi tubuh manusia, terutama diakhirat nanti, Nabi saw bersabda,

كل لحم نبت من حرام فالنار أولى به

“Setiap daging yang tumbuh dari hal yang haram maka dia lebih pantas untuk api neraka” (HR. Baihaqi)

Makanya didalam pengadilan Rasulullah saw pernah berkata, bisa jadi saya memutuskan hukum peradilan bisa salah, karena saya manusia hanya menghukumi yang zahir saja, karena si fulan pandai bersilat lidah dan beragumen sehingga dia memenangkan peradilan meskipun ia yang bersalah karena makan hak saudaranya, tapi walaupun ia menang, pada dasarnya ia telah makan api neraka.

Maka kita harus menjadi generasi amar ma’ruf nahi munkar, karena kalau kita diam, membiarkan kemungkaran merajalela disekitar kita maka, dampak buruknya tidak hanya menimpa orang-orang yang buruk saja tetapi yang baik mereka juga kena imbasnya, makanya Allah swt telah ingatkan didalam Al-Qur’an,

(وَٱتَّقُوا۟ فِتۡنَةࣰ لَّا تُصِیبَنَّ ٱلَّذِینَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمۡ خَاۤصَّةࣰۖ وَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِیدُ ٱلۡعِقَابِ)

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.”
[Surat Al-Anfal 25]

Jadi Azab itu akan menimpa kepada seluruh manusia, tidak peduli apakah ia baik ataukah buruk. Kapan itu terjadi? Ketika masyarakat membiarkan kemungkaran merajalela disekitarnya, tidak peduli untuk mencegah agar kemungkaran hilang ditengah kehidupan mereka.
Makanya dalam satu pepatah arab dikatakan,

فاقد الشئ لا يعطيه

Orang yang kehilangan sesuatu tidak bisa memberi sesuatu tersebut.
Maka kehilangan sifat adil itu tidak bisa memberikan keadilan, kehilangan sifat baik tak biasa mendatangkan kebaikan dan seterusnya.

Maka, bagaimana cara agar kita, keluarga kita, masyarakat kita meraih kehidupan yang baik?

1. Dengan beriman dan beramal shalih.

Ini adalah janji Allah, siapa yang beriman dan beramal shalih pasti meraih kehidupan yang baik. Allah berfirman,

(مَنۡ عَمِلَ صَـٰلِحࣰا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنࣱ فَلَنُحۡیِیَنَّهُۥ حَیَوٰةࣰ طَیِّبَةࣰۖ وَلَنَجۡزِیَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ)

Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
[Surat An-Nahl 97]

Al Imam At-Thabari ra didalam kitab tafsirnya ketika menjelaskan makna Hayatan Thayyibatan (kehidupan yang baik) beliau mengutip pendapat para ahli tafsir, memiliki banyak arti,
a. Allah hidupkan mereka didunia dengan rizki yang halal
b. Allah karuniakan mereka sifat qanaah terhadap pemberian Allah swt
c. Hidup dalam keadaan beriman kepada Allah serta patuh terhadap setiap perintah-Nya
d. Kehidupan yang bahagia
e. Kehidupan di surga

Namun perbedaan makna diatas sifat nya hanya variatif, bukan perbedaan yang bersifat saling bertolak belakang, intinya adalah kehidupan yang baik itu adalah kehidupan yang bahagia dunia akhirat karena Allah memberi kecukupan rizkinya sehingga ia dapat totalitas beribadah untuk Allah dan mentaati semua perintah-Nya.

Nah, pembaca yang budiman! Barometer keshalihan didalam islam itu ada dua, yaitu beramal nya karena Allah dan beramal nya benar dan kebenaran itu syarat nya harus mengikuti Rasulullah saw, dalam ayat tersebut diredaksikan dalam bentuk jumlah ismiyah yaitu terdiri dari mubtada’ dan khabar, nah dalam kajian ilmu tafsir jumlah ismiyah itu memiliki makna ats Tsubut wa ad-Dawam yaitu tetap dan terus menerus, artinya keimanan dan keshalihan harus diproduksi dan diperbarui setiap saat, agar ia terus merasakan kehidupan yang baik, sehingga ia benar-benar meraih kebahagiaan hidup hakiki di dunia dan di akhirat.

2. Kebaikan kita itu semata-mata dilakukan karena Allah.

Jangan sampai ketika kita melakukan kebaikan semata mata ingin mendapatkan pujian dari orang lain, Allah ingatkan kita agar beramal kebaikan termasuk menyantuni orang yang membutuhkan dengan makanan harus disertai sifat ikhlas, semata-mata ingin meraih ridha Allah swt. Dalam Al Qur’an Allah berfirman,

(إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِیدُ مِنكُمۡ جَزَاۤءࣰ وَلَا شُكُورًا)

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.”
[Surat Al-Insan 9]

Karena siapa saja ketika berbuat baik karena mengharap pujian dari manusia, pasti kecewa. Makanya para Ulama memberikan satu nasehat penting,

اتق شر من احسنت اليه

Takutlah kalian kejahatan orang yang kamu telah berbuat baik kepadanya.

Misalnya, terkadang anak-anak yang kita didik dan sekolahkan sampai sarjana lalu menjadi sosok yang mapan bahkan menjadi sukses, terkadang dipuncak kesuksesan nya itu mereka lupa terhadap kita, bahkan berani membangkang terhadap perintah kita.

3. Ketika dijauhkan dari neraka dan dimasukkan dalam surga, maka itu adalah puncak kebaikan dan kebahagiaan hidup tertinggi.

Ketika manusia dimasukkan ke surga maka ia telah menapaki kebahagiaan yang hakiki, tidak ada kebahagiaan apapun yang bisa menandingi kebahagiaan di surga Allah swt. Kebahagiaan yang abadi takkan pernah sirna, sehingga kebahagiaan seperti inilah yang sama sama kita harapkan agar bisa diraih.
Allah swt berfirman,

(كُلُّ نَفۡسࣲ ذَاۤىِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَكُمۡ یَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ وَمَا ٱلۡحَیَوٰةُ ٱلدُّنۡیَاۤ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلۡغُرُورِ)

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.
[Surat Ali ‘Imran 185].

Waspada Penyakit Futur Setelah Ramadhan

oleh : Kholid Mirbah, Lc

Kenyataannya, kondisi ibadah umat Islam setelah Ramadhan tidak berbanding lurus dengan semangat ibadah di bulan Ramadhan. Semangat ibadah di bulan Ramadhan tidak berlanjut di luar Ramadhan.
Kenapa ini terjadi? Karena mereka keliru dalam memahami tujuan disyariatkannya puasa adalah agar dilatih menjadi pribadi yang bertakwa.
Ramadhan telah berlalu. Artinya kita bersiap-siap merealisasikan hasil pelatihan selama sebulan itu di sebelas bulan yang akan datang.
Maka,jangan sampai Penyakit futur menjangkiti diri kita, sebab sangat berbahaya dan merusak semangat ibadah kita.

Nah apa itu futur? Futur secara bahasa bermakna pecah, lemas, dan lemah. (Al-Mukhtasr As-Shihah, Bab fatara). Menurut Ar-Raghib dalam Al-Mufradat fi Gharibil Qur’an (hlm. 731), Futur artinya putus setelah tersambung, lembut setelah keras, dan lemah setelah kuat.

Maka hakikat futur adalah lemah setelah bersemangat, terputus setelah kontiniu, dan malas setelah rajin dan bersungguh-sungguh.
Penyakit futur ini muncul dari rasa malas, enggan, dan lamban dalam melakukan kebaikan, yang mana sebelumnya seseorang rajin dan bersemangat melakukannya. Futur adalah penyakit yang sering menyerang sebagian ahli ibadah, para da’i, dan penuntut ilmu. Sehingga seseorang menjadi lemah dan malas, bahkan terkadang berhenti sama sekali dari melakukan suatu aktivitas kebaikan.

Sebetulnya pasang surut ibadah itu adalah fase yang amat sangat wajar pada diri manusia. Hanya saja perbedaannya ialah seorang mukmin akan merasa sedih dan gelisah mana kala semangat ibadannya surut dan segera menyadari akan hal tersebut.

Allah swt berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa kepada Allah apabila mereka diwas-wasi oleh setan sehingga melakukan dosa kesalahan, mereka akan segera ingat akan Allah Ta’ala dan segera tersadarkan.” [QS Al-A’raf: 201]

Dan biasanya surutnya semangat ibadah bisa disebabkan karena dosa. Sebagaimana kisah Imam Hasan Al Bashri dibawah ini.

جاء رجل إلى الحسن البصري رحمه الله فسأله قائلًا: يا أبا سعيد، إني أبيت معافى، وأحب قيام الليل، وأعد طهوري، فما بالي لا أقوم؟، فقال: “ذنوبك قيدتك

Pernah suatu kesempatan ada orang yang mengadu kepada Abu Sa’id Al-Hasan Al-Bashri, “Abu Sa’id, sesungguhnya diriku ketika malam dalam kondisi sehat, aku suka kalau mengerjakan shalat malam, dan wudhupun sudah kupersiapkan, tapi kenapa aku tak juga bangun malam?”
“Dosamu lah yang mengikatmu,”jawabnya.

Begitupula Imam An-Nawawi pernah berkata:

حرمت قيام الليل مرة بذنب أذنبته

“Pernah suatu saat aku nggak mengerjakan shalat tahajud karena dosa yang kulakukan.”

Apa saja dampak negatif yang ditimbulkan dari penyakit futur itu?

1. Sifat futur menghalangi kecintaan kita dari Allah swt.

Karena hakikatnya amal shalih kita menjadi menurun dan berkurang baik itu dari segi kualitas maupun kuantitas, padahal ketika semangat ibadahnya itu naik maka itu pertanda kecintaan Allah swt akan ia raih. Dalam sebuah hadits qudsi Nabi saw bersabda, yang beliau riwayatkan dari Allah swt,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ- رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ : » إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَُّّه « رواه البخاري

“Dari Abu Hurairah radhiallaahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘ Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka sungguh! Aku telah mengumumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri dengan beribadah) kepada-Ku dengan sesuatu, yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Ku-wajibkan kepadanya, dan senantiasalah hamba-Ku (konsisten) bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya; bila Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang digunakannya untuk mendengar, dan penglihatannya yang digunakannya untuk melihat dan tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakannya untuk berjalan; jika dia meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberikannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku akan melindunginya”. (H.R.al-Bukhâriy)

Maka Kita akan terhalang dari kebaikan kebaikan yang nabi saw sampaikan dalam hadits diatas jikalau kita terjangkiti penyakit futur dalam beribadah.

2. Menghambat kita meraih derajat tinggi disurga.

Bila penghuni neraka memiliki rasa penyesalan karena perbuatannya ketika didunia menyebabkan mereka dimasukkan kedalam neraka. Ternyata penduduk surga pun memiliki rasa penyelasan. Apa yang disesali oleh penduduk surga?
Dalam sebuah hadits Nabi saw bersabda

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَيْسَ يَتَحَسَّرُ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلا عَلَى سَاعَةٍ مَرَّتْ بِهِمْ لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيهَا. رواه الحكيم ، الطبرانى والبيهقى فى شعب الإيمان الديلمى. قال الحافظ الدمياطي: إسناده جيد.

“Mu’adz bin Jabal berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Tidak pernah menyesal penduduk surga kecuali karena satu waktu yang mereka lalui, sedangkan mereka tidak mengisinya dengan dzikir kepada Allah.” (HR. al-Hakim al-Tirmidzi (4/106), al-Thabarani [182], al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman [513], dan al-Dailami [5244]. Al-Hafizh al-Dimyathi berkata: sanad hadits ini jayyid.

Dalam hadits diatas membuktikan bahwa penduduk surga sekalipun akan menyesali diri di dalam surga. Mereka menyesal, mengapa tidak menyibukkan diri dengan ibadah.
Mereka menyesal tidak disibukkan dengan urusan-urusan akhirat, kerja-kerja positif, ibadah, serta hal-hal kebaikan yang menyebabkan mereka terhalang dari derajat surga yang lebih tinggi. Mereka beranggapan, mereka telah meremehkan akhirat yang saat itu mereka rasakan betapa besar nilainya.

Hadis ini juga menunjukkan, betapa besar nilai sebuah zikir di hadapan Allah dan mendapat ganjaran yang besar. Dalam hadis lain disebutkan,
dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, beliau bersabda,

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan, dan disukai Ar Rahman yaitu “Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung). (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694)

Begitupula Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun alaihimas salam agar tidak lupa banyak berzikir, agar diberikan kemenangan dalam berjuang di Jalan Allah swt, Pesan Allah itu tertuang dalam Al-Qur’an,

(ٱذۡهَبۡ أَنتَ وَأَخُوكَ بِـَٔایَـٰتِی وَلَا تَنِیَا فِی ذِكۡرِی)

“Pergilah engkau Musa beserta saudaramu dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan)-Ku, dan janganlah kamu berdua berzikir untuk mengingat-Ku;
[Surat Tha-Ha 42]

Ibnul Qayyim rahimahullah menceritakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sesekali pernah shalat Shubuh dan beliau duduk berdzikir pada Allah Ta’ala sampai beranjak siang. Setelah itu beliau berpaling padaku dan berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’.

Setelah kita paham tentang hakikat futur, apakah penyakit ini sudah menjangkiti kita atau belum, yang terkadang tidak kita sadari, maka kita harus mengetahui indikasi- indikasi seseorang terjangkiti penyakit futur.

Ada beberapa indikasi yang nampak dalam diri kita ketika kita terjangkiti futur, apa saja itu?

1. Malas dalam ibadah dan ketaatan.

Saking bahayanya sifat ini, sampai-sampai Nabi saw meminta perlindungan dari sifat malas, dalam doa yang sering beliau baca, yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra berkata bahwa Rasulullah saw biasa membaca do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)

Kenapa nabi saw sampai berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari sifat malas? Karena malas merupakan sifat yang sangat berbahaya dalam kehidupan seorang muslim, segala aktivitas ibadah dan pekerjaan akan terbengkalai jika disertai dengan sifat malas, bahkan karakter malas merupakan salah satu tanda orang munafik, sebagaimana Allah mengungkap kebusukan orang-orang munafik dalam Al-Qur’an, Allah berfirman,

(إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ یُخَـٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَـٰدِعُهُمۡ وَإِذَا قَامُوۤا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ یُرَاۤءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا یَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِیلࣰا)

“Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.”
[Surat An-Nisa’ 142]

Maka jangan sampai kita mendapati kemalasan dalam diri kita ketika beribadah, ketika membaca mushaf sebentar terasa ngantuk tapi ketika nonton sinetron tv bisa betah berjam-jam, maka ini adalah salah satu tanda futur yang menyebabkan seseorang mendapatkan vonis sebagai munafik.

2. Meninggalkan sesuatu setelah kita terbiasa merutinkannya.

Perlu diketahui bahwa ibadah tidak semestinya dilakukan hanya sesaat di suatu waktu. Seperti ini bukanlah perilaku yang baik. Para ulama pun sampai mengeluarkan kata-kata pedas terhadap orang yang rajin shalat –misalnya- hanya pada bulan Ramadhan saja. Sedangkan pada bulan-bulan lainnya amalan tersebut ditinggalkan. Para ulama kadang mengatakan, “Sejelek-jelek orang adalah yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang yang sholih adalah orang yang rajin ibadah dan rajin shalat malam sepanjang tahun”. Ibadah bukan hanya dilakukan pada bulan Ramadhan, Rajab atau Sya’ban saja. Sebaik-baik ibadah adalah yang dilakukan sepanjang tahun.
Terkadang ketika hanya di bulan Ramadhan kita rajin membaca al quran, sering bersedekah, namun setelah Ramadhan sudah tidak lagi. Maka kalau kita mengalami hal itu hati kita terjangkiti futur.

Perlu diketahui bahwa tanda diterimanya suatu amalan adalah apabila amalan tersebut membuahkan amalan ketaatan berikutnya. Di antara bentuknya adalah apabila amalan tersebut dilakukan secara kontinu (rutin). Sebaliknya tanda tidak diterimanya suatu amalan, apabila amalan tersebut malah membuahkan kejelekan setelah itu.
Kata para ulama,

إنّ مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”
(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/417,)

3. Menganggap remeh maksiyat dan dosa.

Apakah maksiyat melalui mata, kaki, tangan, atau tulisannya. Sebagian orang menganggap enteng hal tersebut dengan berkata “Ah itukan hanya nonton aja, itukan hanya tulis status aja cuman bercanda kok ga serius, yang pentingkan dapat banyak like” padahal disisi Allah dosa tersebut sangat berat, betapa beratnya dosa seseorang mengolok ngolok ayat Allah walaupun niatnya hanya sekedar bercanda. Sebagaimana ini yang dilakukan oleh orang-orang munafik ketika mengomentari keadaan Nabi dan para Sahabatnya, mereka berkata;

ما رأينا مثل قرائنا هؤلاء ، أرغبَ بطونًا ، ولا أكذبَ ألسنًا ، ولا أجبن عند اللقاء!

“Aku belum pernah melihat orang yang seperti para qari [pembaca Al Qur’an] kami, mereka paling suka makan, suka berdusta dan pengecut ketika berhadapan dengan musuh.”
Lalu ketika mereka diinterogasi atas perbuatannya oleh Rasulullah saw mereka menjawab,

يا رسول الله ، إنما كنا نخوض ونلعب!

Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.
Maka setelah kejadian itu turunlah firman Allah mengenai ancaman mereka, Allah swt berfirman,

(وَلَىِٕن سَأَلۡتَهُمۡ لَیَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَایَـٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ ۝ لَا تَعۡتَذِرُوا۟ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِیمَـٰنِكُمۡۚ إِن نَّعۡفُ عَن طَاۤىِٕفَةࣲ مِّنكُمۡ نُعَذِّبۡ طَاۤىِٕفَةَۢ بِأَنَّهُمۡ كَانُوا۟ مُجۡرِمِینَ)

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu (karena telah tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (selalu) berbuat dosa.”
[Surat At-Taubah 65 – 66]

Menghina Islam sebagai agama teroris, menghina Rasulullah saw serta melecehkan kehormatan beliau, kemudian ketika diciduk aparat mereka berkata kami hanya bercanda. Mereka menganggap perkara itu adalah dosa ringan Mengolok agama allah termasuk dosa besar, maka para ulama sepakat orang yang mengolok-olok agama Allah itu hukumnya murtad alias keluar dari islam dan konsekwensinya adalah dihukum mati.
Para Salafus shalih sangat khawatir dengan sekecil apapun terhadap dosa mereka, Makanya sampai-sampai Ibnu Mas’ud ra mengatakan,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ

“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut longsor dan akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya.

Kenapa perumpamaan nya adalah gunung yg longsor?, karena musibah-musibah lain masih ada kesempatan untuk menyelematkan diri, tapi kalau musibah itu gunung longsor kemana ia hendak melarikan diri, seperti itulah kekhawatiran seorang mukmin dalam melihat dosanya sekecil apapun dosa tersebut.

4. Tidak marah ketika larangan Allah di langgar.

Maka Nabi menyebut para lelaki yang menjadi pemimpin untuk keluarganya dan ia tidak punya rasa cemburu dan tidak punya rasa malu disebut sebagai dayyuts,
Yang dimaksud tidak punya rasa cemburu dari suami adalah membiarkan keluarganya bermaksiat tanpa mau mengingatkan. Bentuknya pada masa sekarang adalah:
a. Merelakan anggota keluarga perempuan ber-khalwat –berdua-duaan- dengan laki-laki bukan mahram.
b. Ketika anaknya sibuk bermain sementara sudah tiba waktunya shalat, dan ia tidak menegurnya sehingga anaknya lalai dari shalatnya.

Orang yang membiarkan kemungkaran disekitar nya disebut dayyus atau nama lainnya adalah setan akhras (bisu). Nabi mewanti-wanti hal demikian dalam sebuah hadits,

ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالْدَّيُّوثُ الَّذِى يُقِرُّ فِى أَهْلِهِ الْخُبْثَ

“Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui perkara keji pada keluarganya.” (HR. Ahmad 2: 69. Hadits ini shahih dilihat dari jalur lain)

Nah, para pembaca yang budiman, Apa saja sebab seseorang terjangkiti penyakit futur dalam kehidupan,
Diantaranya adalah,

1. Cinta dunia.

Cinta kepada dunia adalah inti dari segala dunia, makanya dalam sebuah hadits dikatakan,

حب الدنيا رأس كل خطيئة

“Cinta dunia adalah pangkal dari segala kejahatan”

Maka dari segala penyimpangan dari segala aspek kehidupan penyebabnya utamanya adalah cinta dunia, dalam dunia ekonomi orang rela menipu dalam transaksi jual beli karena motifnya cinta dunia. Ada orang korupsi padahal ia sudah kaya, kenapa ia masih korupsi? motifnya adalah cinta dunia, dalam dunia militer ada negara dituduh menyimpan senjata pemusnah masal lalu dibikin huru-hara permusuhan sesama warga negara supaya mereka mudah dibinasakan, lagi-lagi motifnya karena cinta dunia.

Dalam kitab al Bidayah wan Nihayah, karya Ibnu Katsir disebutkan tentang kisah yang terjadi pada zaman sahabat yaitu kisah Rajjal bin Unfuwah, dia (Rajjal bin Unfuwah) telah berhijrah kepada Nabi saw membaca Al-Quran dan memahami dien. Maka, Nabi saw mengutusnya sebagai pengajar penduduk Yamamah, supaya mereka menentang Musailamah dan bersikap keras terhadap urusan umat Islam.”

Jadi pada awalnya, Rajjal bin Unfuwah mendapat tugas untuk mengajar penduduk Yamamah khawatir terpengaruh sesatnya Musailamah, untuk menentang Musailamah dan menggagalkan usaha Musailamah untuk diakui menjadi nabi disamping Nabi Muhammad saw.

Akan tetapi, di tengah jalan, Ar-Rajjal bin Unfuwah terpengaruh dan lalai dari tugasnya. Karena tamak, tergiur dengan banyak nya harta Musailamah dan cintanya kepada dunia malah ia bertindak sebaliknya, dia menjadi pembela eksitensi Musailamah Al Kadzab sebagai nabi palsu, sehingga mati dalam keadaan murtad.
Maka benar apa yang dikatakan Imam Ghazali bahwa, Sifat tamak terhadap dunia merupakan pintu gerbang setan masuk kedalam hati manusia.

Begitu pula peristiwa seperti ini terjadi pada generasi Tabi’in yaitu kisah Abdah bin Abdurrahman, seorang pemuda hafidz Al Qur’an yang murtad gara-gara wanita Romawi, bagaimana kisahnya? Para sahabat Abdah berkisah tentangnya,

“Kami memasuki negeri Romawi. Bersama rombongan kami ada seorang pemuda (Abdah) yang selalu melewati siang dalam kehidupannya dengan membaca al-Quran dan berpuasa. Sedangkan waktu malam ia lewati dengan melakukan qiyaamul lail. Pemuda ini termasuk orang yang paling berilmu tentang hukum warisan dan fiqh.

Suatu saat kami melewati suatu benteng yang sebenarnya kami tidak diperintah untuk berhenti di sana. Pemuda itu kemudian menuju sudut benteng, turun dari kudanya dan kencing. Ia kemudian melihat ke atas ada seorang wanita cantik yang menawan hatinya.

Pemuda itu pun berkata kepada wanita itu dalam bahasa Romawi: Bagaimana caranya untuk bisa mendapatkanmu.

Wanita itu berkata: Mudah. Jadilah seorang Nashrani. Aku akan bukakan pintu untukmu dan aku menjadi milikmu.

Pemuda itu pun melaksanakan perintah wanita tersebut. Ia pun masuk ke dalam benteng. Kami pun sangat bersedih dengan kesedihan yang sangat. Jika dibandingkan seandainya itu terjadi pada anak kandung kami sendiri, kesedihan akibat sikap (murtad) pemuda itu akan lebih besar. Kami pun menyelesaikan pertempuran kami kemudian kami pulang.

Tidak berapa lama kami pun keluar untuk pertempuran yang lain. Kami melewati benteng itu. Kami melihat pemuda itu sedang melihat keluar bersama kaum Nashara. Kami berkata kepadanya: Wahai fulan, apa yang terjadi dengan bacaan Quranmu?! Apa yang terjadi dengan puasa dan sholatmu?! Pemuda itu berkata: Aku telah lupa dengan seluruh ayat alQuran kecuali hanya (2) ayat, yaitu:

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ (2) ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (3)

Orang-orang kafir akan berharap duhai seandainya dulu mereka adalah muslim. Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang serta dilalaikan oleh angan mereka, sungguh nantinya mereka akan mengetahuinya (Q.S al-Hijr ayat 2-3)

( Tarikh Dimasyq karya Ibnu ‘Asaakir (37/378) dan lafadz sesuai dalam Tarikh Dimasyq, Syu’abul Iman karya al-Baihaqiy (4/54)), al-Muntadzham karya Ibnul Jauziy (5/130))

Maka saking khawatir nya Nabi terjerumus dalam penyakit cinta dunia beliau sampai berdoa, sebuah doa yg diajarkan untuk diri nabi dan sahabatnya,

وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا…

“Dan janganlah Engkau jadikan musibah dalam agama kami,
dan jangan Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita kami terbesar..(Hadist hasan, diriwayatkan oleh Tarmizi. no hadist 3502.)

2. Menyibukkan diri perkara yang mubah.

Perkara Mubah itu dikerjakan atau ditinggalkan itu boleh boleh saja, nonton tivi, browsing Internet dan lain sebagainya tapi terlalu lama sibuk dengan perkara mubah khawatir terjerumus kedalam perkara yang haram. Umar bin Khattab ra pernah berkata,

” كنـا قوما ندع تسعة أعشار الحلال مخافة أن نقع في الحرام “

“ Kami adalah masyarakat yang meninggalkan sembilan persepuluh yang halal (mubah) karena kami khawatir terjatuh ke dalam yang haram”

Dari sini terlihat jelas bahwa generasi terbaik sepanjang masa selalu produktif dalam mencetak kebajikan-kebajikan dan waktunya tidak terbunuh oleh cengkraman perbuatan yang mubah apalagi yang syubhat dan haram.

3. Taswif wat tamanni artinya menunda-nunda.

Allah mengingatkan kepada Rasulullah saw

(وَلَا تَقُولَنَّ لِشَا۟یۡءٍ إِنِّی فَاعِلࣱ ذَ ٰ⁠لِكَ غَدًا)

“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi,”
[Surat Al-Kahfi 23]

Khawatir kalau suka menunda-nunda amal shalih menyebabkan ia tidak jadi melakukannya, karena ia tidak bisa menjamin apakah dia besok masih menghirup nafas kehidupan atau tidak, karena yang hanya mengetahui batasan umur manusia adalah Allah, maka orang itu akan menyesal ketika berjumpa kepada Allah, sedangkan ia tidak sempat melakukan kebaikan semacam sedekah di dalam hidup nya.
Allah swt berfirman,

(وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقۡنَـٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن یَأۡتِیَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَیَقُولَ رَبِّ لَوۡلَاۤ أَخَّرۡتَنِیۤ إِلَىٰۤ أَجَلࣲ قَرِیبࣲ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِینَ)

Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang shalih.”[Surat Al-Munafiqun 10]

4. Lingkungan yang buruk.

Maksudnya adalah kawan, tetangga, orang-orang sekitar yang jahat, betapa banyak orang yang awalnya baik tapi karena berkumpul dengan komunitas yang jahat maka sedikit banyak akan mewarnai kehidupan nya sehingga dia menjadi pribadi yang jahat, karena sedikit banyak lingkungan akan merubah watak dan sikap seseorang. Dalam Al-Qur’an siti
Asiyah istrinya Fira’un berdoa kepada Allah swt,

(وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلࣰا لِّلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱمۡرَأَتَ فِرۡعَوۡنَ إِذۡ قَالَتۡ رَبِّ ٱبۡنِ لِی عِندَكَ بَیۡتࣰا فِی ٱلۡجَنَّةِ وَنَجِّنِی مِن فِرۡعَوۡنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِی مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّـٰلِمِینَ)

“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir‘aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim,”
[Surat At-Tahrim 11]

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengatakan, bahwa redaksi seperti ini adalah redaksi susunan kalimat dalam doa tersebut bentuknya tak lazim, dalam ayat tersebut Allah swt mendahulukan kata عندك yang dalam bahasa Arab berbentuk ظرف مكان atau keterangan tempat baru setelah itu disebut مفعول به atau obyek, yaitu kata الجنة, padahal urutan susunan kata yang familiar dalam bahasa arab adalah (kata kerja, Subyek, Obyek dan keterangan waktu atau tempat) kenapa didahulukan kata keterangan diatas obyek?Apa rahasianya? Ayat tersebut menunjukkan pentingnya lingkungan sebelum rumah, (الجار قبل الدار) maka penting sebelum kita pindah rumah melihat lingkungan yang akan tinggali terlebih dahulu. Karena lingkungan dapat mempengaruhi kehidupan manusia, sampai-sampai dalam pepatah Arab disebutkan المرء ابن بيئته (manusia itu anak lingkungannya).
Maka Nabi dalam hal ini memerintahkan kita untuk selektif dalam mencari lingkungan, terutama kawan orang yang tinggal dekat dengan kita, Nabi saw bersabda,

المرء على دين خليله فلينظر احدكم من يخالل

“Seseorang itu berada pada agama teman karibnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapakah yang dia jadikan teman karibnya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad)

5. Berlebihan dalam beragama (Ghuluw)

Dalam al Qur’an Allah melarang Ahlu kitab untuk berlebihan dalam beragama, karena bisa berakibat tersesat dari kebenaran. Firman Allah swt,

(قُلۡ یَـٰۤأَهۡلَ ٱلۡكِتَـٰبِ لَا تَغۡلُوا۟ فِی دِینِكُمۡ غَیۡرَ ٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوۤا۟ أَهۡوَاۤءَ قَوۡمࣲ قَدۡ ضَلُّوا۟ مِن قَبۡلُ وَأَضَلُّوا۟ كَثِیرࣰا وَضَلُّوا۟ عَن سَوَاۤءِ ٱلسَّبِیلِ)

“Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah tersesat dahulu dan (telah) menyesatkan banyak (manusia), dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus.”
[Surat Al-Ma’idah 77]

Begitupula Nabi melarang umatnya melakukan ghuluw dalam beragama, Sabda Nabi,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap ghuluw (melampaui batas) dalam agama. Sesungguhnya perkara yang membinasakan umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw mereka dalam agama.”

Ini dikuatkan juga dengan hadist Abdullah bin Amru ra bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, supaya tidak berlebihan dalam beribadah:

فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“Dan sesungguhnya pada jasadmu ada hak atas dirimu, dan pada matamu ada hak atas dirimu, dan pada isterimu ada hak atas dirimu dan pada pengunjungmu ada hak atas dirimu.” ( HR. Bukhari )

6. Meninggalkan Jamaah kaum muslimin.

Kita disuruh oleh Allah dan nabi untuk berjamaah, shalat berjamaah, ngaji berjamaah, karena setan itu mudah menggoda orang ketika sendirian, dalam hadits Rasulullah saw bersabda,
“Barangsiapa yang memecahbelah, maka ia bukan daripada kalangan kami. Rahmat Allah berada bersama-sama dengan jamaah, dan sesungguhnya serigala hanya memakan kambing yang menyendiri” (HR. Tabrani)

Jamaah secara bahasa berarti perkumpulan (persatuan), yaitu perkumpulan beberapa orang yang memiliki pemahaman yang sama dalam hal ini pemahaman yang sama mengenai syariat Islam dengannya akan mampu melawan kebathilan dan kejahiliyahan yang melanda dunia ini.

Mudah-mudahan kita dijauhkan dari penyakit futur ini, dengan harapan semangat terus membara sehingga kita senantiasa istiqamah dalam beribadah dan beramal shalih.

(Disarikan dari Kajian online Subuh dengan tema Tazkiyatun Nafsi di Masjid Al Bilad, TKN Cibubur oleh Ustadz Mohammad Aniq, Lc, M.Pd)

Bodohnya Manusia Dalam Tinjauan Surat Al Ahzab

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Al Quran hadir dalam kehidupan manusia diantara tujuannya adalah melahirkan masyarakat yang cerdas dan berperadaban, dan diantara caranya adalah menghilangkan kebodohan, maka mempelajari ilmu pengetahuan merupakan sebuah kewajiban yang mendapatkan kedudukan yang tinggi di dalam islam.
Allah mengingatkan kita dalam al- Qur’an jangan melakukan pemborosan potensi, oleh karenanya, kita tidak diperkenankan bertanya sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia, pertanyaan tersebut diantaranya adalah seputar hari kiamat, karena yang tau jawabannya adalah hanya Allah swt. Maka bertanya seperti itu pada hakikatnya adalah pemborosan.
Sebagaimana Allah berfirman,

(یَسۡـَٔلُكَ ٱلنَّاسُ عَنِ ٱلسَّاعَةِۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ ٱللَّهِۚ وَمَا یُدۡرِیكَ لَعَلَّ ٱلسَّاعَةَ تَكُونُ قَرِیبًا)

Manusia bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat. Katakanlah, “Ilmu tentang hari Kiamat itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat waktunya.
[Surat Al-Ahzab 63]

Di dalam tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa manusia bertanya kepadamu (wahai Rasul) kapan datangnya Kiamat, sebagai wujud pendustaan dan pengingkaran. Katakanlah kepada mereka, “Ilmu tentang Kiamat hanyalah di sisi Allah.” siapa tahu (wahai Rasul) bahwa waktu terjadinya Kiamat itu sudah dekat saatnya?
(Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia)

Mari kita kupas sebagian lafadz di dalam ayat tersebut,
Pertama kata An-Naas, Allah tidak menggunakan redasi Al-Mu’minun atau Alladzina Amanu, hal itu memberikan pemahaman kepada kita bahwa manusia dengan tabiat kemanusiaan saja itu tidak akan cerdas, makanya pasti dia terjatuh kebodohan, jangankan kita, para Nabi dan Rasul saja juga tidak mengetahui tentang kapan terjadinya hari kiamat, makanya dalam dialog panjang antara Nabi dengan Malaikat Jibril as, ketika Nabi ditanya oleh Jibril as tentang kapan terjadinya hari kiamat, Nabi saw bersabda,

( ما المسؤول عنها بأعلم من السائل… )

“Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya….” (HR. Muslim)

Maka yang menjadi tanggungjawab kita adalah kesiapan kita menghadapi hari kiamat dengan bekal iman dan amal shalih, bukan tentang waktu terjadinya hari kiamat, karena itu adalah urusan Allah, kita tidak akan ditanyai tentang hal tersebut pada yaumul Hisab nanti, Bahkan kalau kita amati begitu manusia itu meninggal dunia sesungguhnya telah tiba hari kiamatnya, makanya Allah katakan kiamat itu dekat, bahkan sangat dekat dengan kehidupan kita. Jangan sampai ada yang mengkiritisi kata nya kiamat dekat kok sampai sekarang belum terjadi, ini pertanda kalau dia tidak faham hakikat kiamat.

Nah, para pembaca yang budiman Potensi manusia berupa akal, perasaan, hati, anggota badan harus digunakan untuk memproduksi kebaikan demi kebaikan. Jangan sampai terjebak pada rekreasi intelektual yang mandul, yaitu yang tidak melahirkan produktivitas kerja. Maka para ulama mengatakan dilarang bertanya yang tidak ada kaitannya dengan kerja, karena itu pemborosan, karena hakikat pemborosan itu bukan hanya terkait materi seperti harta, tapi program, tenaga, kerangka berfikir dan juga pertanyaan yang tidak bisa dilogika itu juga bagian pemborosan. Maka Allah melarang segala bentuk pemborosan, karena orang-orang yang boros itu dipersaudarakan dengan setan, firman Allah swt,

(إِنَّ ٱلۡمُبَذِّرِینَ كَانُوۤا۟ إِخۡوَ ٰ⁠نَ ٱلشَّیَـٰطِینِۖ وَكَانَ ٱلشَّیۡطَـٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورࣰا)

“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.”
[Surat Al-Isra’ 27]

Bagaimana akhir perjalanan orang orang yang bodoh? Ini ada kaitannya dengan pembuka surat al-Ahzab dan penutupnya, diawal surat Allah menjelaskan larangan praktek tradisi jahiliyah sementara diakhir surat dijelaskan akibat bagi yang masih terjerumus dalam tradisi jahiliyah tersebut, terkadang menurut perspektif manusia menganggap orang yang tidak lulus SD, atau SMP atau yang tidak lulus di perguruan tinggi disebut sebagai jahiliyah, bukan itu definisi jahiliyah dalam islam. Akan tetapi jahiliyah dalam islam adalah kondisi mental seseorang dimana pada kondisi itu dia selalu menolak islam, apapun yang berbau islam ditolak, pendidikan yang berlabel islam ditolak, politik islami ditolak, ekonomi yang berbau islam diprotes, lain sebagainya.
Nah orang seperti itu sudah terjangkit virus jahiliyah.

Nah, bagaimana akhir perjalanan serta akibat yang terjadi pada mereka yang bodoh, yang selalu menentang segala hal yang datang dari islam?
Diantaranya adalah,

1. Allah melaknat mereka.

(إِنَّ ٱللَّهَ لَعَنَ ٱلۡكَـٰفِرِینَ)

“Sungguh, Allah melaknat orang-orang kafir”

[Surat Al-Ahzab 64]
Apa itu laknat? Para ulama tafsir mengatakan bahwa,

اللعنة هو الإبعاد والطرد من رحمة الله

Laknat itu ketika seseorang dijauhkan dari rahmat Allah, maka dalam ayat itu secara tersirat menjelaskan bahwa hakikat orang kafir itu bodoh, meskipun orang kafir dulunya di dunia kaya dan berkuasa, apa gunanya hidup tanpa hidayah nanti di akhirat ia di laknat oleh Allah swt, sehingga tidak mendapatkan ganjaran surga di sisi-Nya.

2. Allah menyediakan bagi mereka neraka Sa’ir, Allah swt berfirman;

(وَأَعَدَّ لَهُمۡ سَعِیرًا)

“Dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka)”
[Surat Al-Ahzab 64]

Allah menyediakan mereka neraka Sa’ir, neraka yang sangat panas tidak ada padanya di dunia, dari segi kualitas dan lamanya karena satu hari di neraka sama saja 1000 tahun di dunia.
Firman Allah,

(وَیَسۡتَعۡجِلُونَكَ بِٱلۡعَذَابِ وَلَن یُخۡلِفَ ٱللَّهُ وَعۡدَهُۥۚ وَإِنَّ یَوۡمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلۡفِ سَنَةࣲ مِّمَّا تَعُدُّونَ)

“Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”
[Surat Al-Hajj 47]

3. Orang yang bodoh, diakhirat nanti tidak ada (wali) pelindung dan (nashir) penolong, sehingga ketika mereka disiksa selama-lamanya di akhirat tidak ada kekuatan yang mampu melindungi mereka, kemudian muka mereka akan di jungkir-balikkan sembari terpanggang dalam panasnya api neraka, padahal muka itu merupakan simbol kehormatan manusia, karena itulah dalam dunia pendidikan akademik kita tidak boleh memukul muka karena ia bagian anggota tubuh yang paling dihormati namun orang kafir yang sewaktu di dunia walaupun wajahnya ganteng dan cantik karena menolak kebenaran islam, di akhirat nanti wajah mereka akan hancur terpanggang dalam panasnya api neraka, Allah berfirman,

(خَـٰلِدِینَ فِیهَاۤ أَبَدࣰاۖ لَّا یَجِدُونَ وَلِیࣰّا وَلَا نَصِیرࣰا ۝ یَوۡمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمۡ فِی ٱلنَّارِ یَقُولُونَ یَـٰلَیۡتَنَاۤ أَطَعۡنَا ٱللَّهَ وَأَطَعۡنَا ٱلرَّسُولَا۠)

“Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong. Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, “Wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.”
[Surat Al-Ahzab 65 – 66]

Nah, Para pembaca yang budiman, Kita tahu seluruh tubuh kita sakit ketika terkena sengatan api, terlebih lagi api neraka, tetapi kenapa yang disebut muka? Ini memberikan pemahaman kepada kita betapa hinanya orang yang suka menolak islam, karena muka adalah lambang kehormatan, kalau muka saja di siksa apalagi anggota tubuh yang lainnya. Dalam ayat ini juga terdapat isyarat tafsir ilmi, bahwa meskipun kulit kita akan terasa sakit jika terkena sengatan api, tetapi kulit muka itu lebih dahsyat sakitnya. Kulit muka lebih sensitif, makanya yang disebut dalam ayat tersebut adalah muka.

4. Rugi dan Menyesal,

Orang-orang yang bodoh akibatnya akan menyesal dihari dimana hari penyesalan tidak ada gunanya, sampai-sampai penyesalan mereka diabadikan oleh Allah swt dalam ayat berikutnya,

(یَوۡمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمۡ فِی ٱلنَّارِ یَقُولُونَ یَـٰلَیۡتَنَاۤ أَطَعۡنَا ٱللَّهَ وَأَطَعۡنَا ٱلرَّسُولَا۠ ۝ وَقَالُوا۟ رَبَّنَاۤ إِنَّاۤ أَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاۤءَنَا فَأَضَلُّونَا ٱلسَّبِیلَا۠ ۝ وَقَالُوا۟ رَبَّنَاۤ إِنَّاۤ أَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاۤءَنَا فَأَضَلُّونَا ٱلسَّبِیلَا۠ ۝ رَبَّنَاۤ ءَاتِهِمۡ ضِعۡفَیۡنِ مِنَ ٱلۡعَذَابِ وَٱلۡعَنۡهُمۡ لَعۡنࣰا كَبِیرࣰا)

“Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, “Wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.”Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.”
[Surat Al-Ahzab 66 – 68]

Mereka menyesal kenapa sewaktu di dunia mereka tidak taat kepada Allah swt dan Rasul nya justru ketaatan mereka diperuntukkan kepada para pembesar atau pemimpin mereka yang justru menyesatkan mereka dari jalan Allah dan Rasul-Nya. Bahkan dalam ayat tersebut Allah swt mengabarkan kepada kita perseteruan antara Aimmatul Kufr (Pemimpin-pemimpin yang kufur) dengan pengikut mereka dimana Allah berfirman:

“Para pengikut Aimmatul Kufr berkata, wahai Rabb kami sungguh kami telah mentaati pemimpin dan pembesar kami maka mereka pun menyesatkan kami”.[Al-Ahzab 67]

Syaikh Abdul Aziz ath-Thuwaili’i ra dalam risalah berjudul “Faqatilu Aimmatal Kufr”, beliau berkata ketika mendefenisikan makna Aimmatul Kufr dari kalangan penguasa dan orang yang berkedudukan:

هم السادة والكبراء والحكام والأمراء الذين يحكمون بغير شرع الله ويدعون إلى غير دينه ويصدون عن سبيله

“Mereka adalah para pembesar, pemimpin dan penguasa yang berhukum dengan selain Syariat Allah dan menyerukan untuk berhukum kepada selain Agama Allah serta menghalang-halangi manusia dari jalan-Nya”.
Mudah-mudahan kita dijauhkan tipu daya para penguasa seperti ini.

5. Menyakiti Rasulullah saw.
Ketika ia melakukan perbuatan demikian, maka sungguh dia adalah orang yang bodoh, karena diantara tanda orang-orang bodoh, meskipun sebagian orang mengatakan ia cerdas dan cendekiawan, mereka adalah yang menyakiti Rasulullah saw baik itu melalui ucapan maupun perbuatan. Sebaliknya, manusia yang cerdas adalah manusia yang yang cinta dan menghormati kepada pemimpin dan suri tauladan nya yaitu Rasulullah saw, Maka Allah swt mewanti-wanti kita jangan sampai seperti Bani Israil yang tega melecehkan kehormatan Nabi mereka, sebagaiman firman Allah,

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ لَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِینَ ءَاذَوۡا۟ مُوسَىٰ فَبَرَّأَهُ ٱللَّهُ مِمَّا قَالُوا۟ۚ وَكَانَ عِندَ ٱللَّهِ وَجِیهࣰا)

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan. Dan dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.”
[Surat Al-Ahzab 69]

Dalam Shahih Muslim, Abu Hurairah meriwayatkan,

كَانَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَام رَجُلًا حَيِيًّا قَالَ فَكَانَ لَا يُرَى مُتَجَرِّدًا قَالَ فَقَالَ بَنُو إِسْرَائِيلَ إِنَّهُ آدَرُ قَالَ فَاغْتَسَلَ عِنْدَ مُوَيْهٍ فَوَضَعَ ثَوْبهُ عَلَى حَجَرٍ فَانْطَلَقَ الْحَجَرُ يَسْعَى وَاتَّبَعَهُ بِعَصَاهُ يَضْرِبُهُ ثَوْبِي حَجَرُ ثَوْبِي حَجَرُ حَتَّى وَقَفَ عَلَى مَلَإٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَنَزَلَتْ
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللَّهِ وَجِيهًا }

“Nabi Musa adalah orang yang pemalu dan tidak pernah terlihat auratnya. Orang-orang bani Israil menuduhnya bahwa terdapat cacat pada auratnya. Abu Hurairah berkata; Pada suatu ketika, Nabi Musa mandi di sebuah sungai. Ia letakkan pakaiannya di atas sebuah batu. Tetapi batu itu hanyut dibawa air. Lalu Musa mengejarnya untuk menggapainya dengan menggunakan tongkat seraya berkata; Pakaianku hanyut terbawa batu! Pakaianku hanyut terbawa batu! Hingga akhirnya dia berhenti di sekelompok orang-orang Bani Israil. Lalu turunlah ayat Al Qur’an yang berbunyi: Hai orang-orang yang beriman, Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Sesungguhnya Musa adalah orang yang mempunyai kedudukan yang terhormat dan mulia di sisi Allah. [QS Al Ahzab: 69].”

Ayat yang memberikan pemahaman kita agar kita sebagai seorang muslim jangan sampai seperti bani Israel yang tidak pandai bersyukur kepada Allah swt berupa di berikan anugerah berupa diutusnya Nabi Musa as ditengah tengah mereka, tetapi mereka menyakiti musa, Allah swt menyebutkan bentuk bagaimana mereka menyakiti musa dengan tuduhan-tuduhan yang tidak benar, maka ayat tersebut juga mengisyaratkan kepada kita pada makna menyakiti secara umum, sehingga seorang mukmin tidak boleh menyakiti Nabinya baik itu dengan ucapan maupun perbuatannya, jangan sampai ada orang beriman mengatakan Muhammad itu cocoknya memimpin Arab saja, tidak pantas memimpin dunia, Ia tidak cocok dijadikan teladan untuk zaman kekinian, nauzubillah min dzalik, Sungguh Ucapan yang tidak Pantas keluar dari lisan seorang mukmin! Bukankah Allah berfirman,

(وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا رَحۡمَةࣰ لِّلۡعَـٰلَمِینَ)

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.
[Surat Al-Anbiya’ 107]

Jangan sekali kali kita menyakiti Rasulullah! Karena Allah swt akan timpakan adzab yang pedih bagi mereka yang berbuat seperti itu. Allah mengkategorikan orang-orang yang menyakiti Rasulullah saw mereka adalah orang-orang munafik, Firman Allah

(وَمِنۡهُمُ ٱلَّذِینَ یُؤۡذُونَ ٱلنَّبِیَّ وَیَقُولُونَ هُوَ أُذُنࣱۚ قُلۡ أُذُنُ خَیۡرࣲ لَّكُمۡ یُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَیُؤۡمِنُ لِلۡمُؤۡمِنِینَ وَرَحۡمَةࣱ لِّلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمۡۚ وَٱلَّذِینَ یُؤۡذُونَ رَسُولَ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِیمࣱ)

“Dan di antara mereka (orang munafik) ada orang-orang yang menyakiti hati Nabi (Muhammad) dan mengatakan, “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.” Katakanlah, “Dia mempercayai semua yang baik bagi kamu, dia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu.” Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah akan mendapat azab yang pedih.”
[Surat At-Taubah 61]

Nah, Pertanyaannya, bagaimana agar kita semua agar selamat dari kebodohan-kebodohan tersebut, termasuk kebodohan dalam bentuk menyakiti Rasulullah?
Maka diantara caranya adalah,

1. Takwa

Cara yang pertama adalah takwa,
dan inilah yang disebut oleh Allah dalam ayat berikutnya,

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوۡلࣰا سَدِیدࣰا)

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar,
[Surat Al-Ahzab 70]

Orang yang bertakwa, berarti dia takut kepada Allah, maka tidak mungkin ia berani menyakiti Rasulullah dan para sahabatnya, kalau ada yang mengaku beriman tapi ia menyakiti nabi dan sahabatnya maka dia adalah seorang munafik, hanya sekedar pengakuan tanpa dibarengi bukti yang nyata, karena seorang mukmin pasti akan membela nabi dan para sahabatnya.

2. Al-Qoul As-Sadid,

Perintah untuk memiliki Al-Qoul As-Sadid ditekankan oleh Allah melalui firman-Nya,

وَقُولُوا۟ قَوۡلࣰا سَدِیدࣰا

Dan ucapkanlah perkataan yang benar,
[Surat Al-Ahzab 70]

Makna Sadid itu bukan hanya sekedar artinya benar (As-Shidq) tetapi juga memiliki makna ucapan yang tepat (As-Shawab) Sebagaimana yang dijelaskan Said Hawa di dalam kitab tafsirnya Al-Asas fit Tafsir, karena terkadang ada ucapan benar tetapi tidak tepat, contohnya orang ingin ceramah atau menasihati saudara-saudaranya tapi pada waktu tengah malam, jam-jam orang sedang istirahat, nah amalan menasihati seorang mukmin adalah amalan yang benar, hanya saja dilakukan pada tengah malam, maka ini tidak tepat. Maka kita harus tau waktu, maka Rasulullah tidak suka ceramah lama-lama dikhawatirkan bosan, maka bicara itu harus benar dan tepat, maka orang yang ucapannya benar dan tepat tidak mungkin menyakiti Rasulullah saw.
Sehingga orang yang mampu memiliki tekad kuat untuk selalu berprinsip takwa menjadi jalan hidupnya serta memiliki Al-Qoul as-Sadid dalam tutur katanya maka ia berhak meraih janji Allah swt yang dijelaskan dalam ayat berikutnya,

(یُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَـٰلَكُمۡ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن یُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِیمًا)

Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.
[Surat Al-Ahzab 71]

3. Amanah

Amanah serta korelasi dengan kelemahan dan kebodohan manusia dijelaskan dalam penutup surat ini.
Allah swt berfirman tentang Amanah.

(إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَیۡنَ أَن یَحۡمِلۡنَهَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡهَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَـٰنُۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومࣰا جَهُولࣰا
لِّیُعَذِّبَ ٱللَّهُ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ وَٱلۡمُنَـٰفِقَـٰتِ وَٱلۡمُشۡرِكِینَ وَٱلۡمُشۡرِكَـٰتِ وَیَتُوبَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتِۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورࣰا رَّحِیمَۢا)

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh. Sehingga Allah akan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, orang-orang musyrik, laki-laki dan perempuan; dan Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
[Surat Al-Ahzab 72-73]”

Para Ahli tafsir berbeda pendapat di dalam menafsirkan kata amanah pada ayat di atas:

a) Imam Al-Aufi dari Ibnu Abbas ra berkata, “Yang dimaksud dengan al-amanah adalah, ketaatan yang ditawarkan kepada mereka sebelum ditawarkan kepada Adam ‘Alaihissalam, akan tetapi mereka tidak menyanggupinya. Lalu Allah berfirman kepada Adam, ‘ Sesungguhnya Aku memberikan amanah kepada langit dan bumi serta gunung-gunung, akan tetapi mereka tidak menyanggupinya. Apakah engkau sanggup untuk menerimanya?’ Adam menjawab, ‘Ya Rabbku, apa isinya?’ Maka Allah berfirman, ‘Jika engkau berbuat baik maka engkau akan diberi balasan, dan jika engkau berbuat buruk maka engkau akan diberi siksa’. Lalu Adam menerimanya dan menanggungnya. Itulah maksud firman Allah, ‘Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh’.”

b) Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas ra berkata, ‘Amanah adalah kewajiban-kewajiban yang diberikan oleh Allah kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Jika mereka menunaikannya, Allah akan membalas mereka. Dan jika mereka menyia-nyiakannya, maka Allah akan menyiksa mereka. Mereka enggan menerimanya dan menolaknya bukan karena maksiat, tetapi karena ta’zhim (menghormati) agama Allah kalau-kalau mereka tidak mampu menunaikannya.” Kemudian Allah Ta’ala menyerahkannya kepada Adam, maka Adam menerimanya dengan segala konsekwensinya. Itulah maksud dari firman Allah:

“Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh,” yaitu pelanggar perintah Allah.

c) Imam Malik meriwayatkan bahwa Zaid bin Aslam berkata, “Amanah itu ada tiga: shalat, zakat, dan mandi junub.”

d) Imam Al-Qurthubi berkata: amanah meliputi semua tugas agama menurut pendapat yang paling kuat. Sebagaimana ia berkata dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ هُمْ لأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun:8)
(Tafsir Ibnu Katsiir)

Pada hakikatnya, amanah meliputi segala hal termasuk janji bagian dari amanah, orang yang diberi amanah harus menunaikan amanahnya. Karena Allah memerintahkan menunaikan amanah kepada pemiliknya, dan melarang berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta melarang mengkhianati semua amanah mereka. Dan Dia menjadikan di antara sifat orang-orang yang beruntung adalah bahwa sesungguhnya mereka menjaga janji dan amanah mereka.
Maka tentang perintah menjaga amanah ini, Nabi saw pernah berpesan,

أَدِّ اْلأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ وَلاَتَخُنْ مَنْ خَانَكَ

“Tunaikanlah amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah engkau berkhianat kepada orang yang berkhianat kepadamu.” (HR. Abu Dawud)

Kenapa dalam ayat diatas manusia di vonis sangat dzalim dan bodoh ? Artinya apa bahwa ketika manusia tidak memegang amanah dan tidak melaksanakannya maka ia divonis oleh Allah bahwa dia sangat dzalim dan bodoh, sehingga karena kebodohan dan kedzalimannya yang membuat ia tersungkur ke dalam jurang api neraka. Nauzubillah min dzalik!.

menghafal al quran

Metode Mudah Menghafal Al Quran

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Sesungguhnya kegiatan menghafal Al-Qur’an merupakan sebuah nikmat yang paling agung dan ibadah yang paling mulia. Bagaimana tidak? Allah menitipkan Kalam-Nya, agar tersimpan rapat di dalam dada para hamba-Nya yang terpilih. Sebagaimana dalam literatur hadits, Nabi saw bersabda,

عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عَمْرٍى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَرَأ القُرآنَ فَقَدِ اسْتَدْرَجَ النُّبُوَّةَ بَيْنَ جَنْبيْهِ غَيْرَ اَنَهُ لَا يُوْحى اِلَيهِ لَا يَنْبَغِىْ لِصَاحِبِ القُرآنِ اَنْ يَجِدَ مَعَ مَنْ وَجَدَ وَلَا يَجْهَلَ مَعَ مَنْ جَهِلَ وَفيْ جَوْفِه كَلَامُ اللهِ. (رواه الحاكم وقال صحيح الأسناد).

Dari Abdullah bin Amr r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa membaca al Qur’an, maka ia telah menyimpan ilmu kenabian diantara kedua lambungnya, sekalipun wahyu tidak diturunkan kepadanya. Tidak pantas bagi hafizh Al-Qur’an memarahi seorang pemarah dan bertindak bodoh terhadap orang bodoh, sedang Al-Qur’an berada dalam dadanya.”

Maka hakikatnya, para penghafal Al-Qur’an telah menyimpan seluruh ilmu kenabian, hanya saja wahyu tidak diturunkan kepada mereka, maka ini adalah satu keutamaan yang harus kamu raih, maka bersungguh sungguhlah kamu, jangan kamu pelit dalam menggunakan waktumu untuk Al-Qur’an, karena Allah pasti akan memberikan keberkahan terhadap ilmumu, waktumu, kesehatanmu, masa mudamu, dan segala sisi kehidupanmu, bahkan Allah swt pula akan menurunkan keberkahan terhadap rumah yang kamu tinggali, karena selalu kamu menghafalkan Al-Qur’an di dalamnya.
Makanya seorang Alim Ahli Qur’an Masa kini, Dr. Aiman Rusydi Suwaid mengatakan,

من لزم المبارك صار مباركا

“Barang siapa yang gemar berinteraksi dengan Al-Mubarak (Al-Qur’an) maka ia akan diberkahi”

Maka bersungguh-sungguhlah kamu, jauhkan diri dari sifat malas, peganglah erat Al-Qur’an di tanganmu dengan satu cita-cita dan harapan besar, dan ketahuilah bahwa menghafal Al-Qur’an adalah sebuah amalan yang agung, amalan generasi salaf dan orang-orang shalih, amalan para tokoh dan pembesar yang nama serta jasa mereka terukir dalam sejarah, hidup mereka diawali dengan menghafal Al-Qur’an sebelum menghafal dan belajar ilmu yang lain, sehingga Allah mengangkat derajat mereka, meninggikan kedudukan mereka dan menyebarluaskan ilmu mereka ke seluruh penjuru dunia.
Dalam sebuah hadits Umar bin Khattab ra, Rasulullah saw bersabda,

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ . (رواه مسلم)

Diriwayatkan dari Umar bin Khattab r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah akan mengangkat suatu kaum dengan Al-Qur’an dan menjatuhkan kaum yang lain juga dengan Al-Qur’an”. (H.R. Muslim).

Suatu kaum akan ditinggikan kedudukannya dengan sebab mereka perhatian terhadap Al-Qur’an, mengikuti dan mengamalkan kandungannya. Sebaliknya suatu kaum yang mengabaikan Al-Qur’an dan mengingkari kebenarannya akan jatuh derajat dan kedudukan mereka.

Rasulullah pernah mengangkat seorang pemuda sebagai pemimpin di tengah kelompok yang terdapat orang yang lebih tua karena memiliki hafalan Al-Qur’an terbanyak yang salah satunya surah Al-Baqarah.

Demikian pula dalam pemakaman para syahid/korban perang Uhud Rasulullah mendahulukan mereka yang terbanyak hafalan Al-Qur’annya. Begitu pula kalau ada ada yang ingin menghafalkan Al-Qur’an apapun titel pendidikan dan pekerjaannya pasti ia akan pergi belajar kepada Ahlul Quran, ini bukti Allah memuliakan ahlu Qur’an di dunia, terlebih lagi di Akhirat, Allah swt telah menyiapkan baginya sebuah kemuliaan yang agung yaitu kedudukan yang agung di surga-Nya, sebagaimana Rasulullah saw bersabda,

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ ». (رواه الإمام أحمد وابن ماجه)

Sesungguhnya Allah s.w.t. mempunyai keluarga dari manusia”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah keluarga Allah itu?” Rasulullah saw menjawab: “Para penghafal Alqur’an itu adalah keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Nah, bagaimana metode dan cara mudah hafal seluruh Al-Qur’an seperti mudahnya menghafal Surat Al-Fatihah?
Sebenarnya cara yang dibahas disini hanya sekedar salah satu metode standar menghafal, bukan bersifat pembatasan, artinya tekadang orang-orang mendapatkan metode menghafal yang lebih baik dan lebih mudah sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.
Nah, diantara cara mudah menghafalkan Al-Qur’an,

1. Mengkhususkan satu mushaf tertentu untuk menghafal, jangan berganti-ganti mushaf Al-Quran, dan lebih utama menggunakan mushaf Al-Madinah Al-Munawwaroh.

2. Mengkhususkan satu halaman baru untuk dihafal dalam satu hari, begitupula seterusnya, jangan lebih dari satu halaman, walaupun sebelumnya halaman tersebut pernah dihafal.

3. Sebelum memulai hafalan, bacalah halaman yang akan dihafal secara perlahan-lahan sebanyak 20 kali, dan fokuskan bacaan pada lafadz-lafadz dan tanda baca dalam Al-Qur’an (fathah, dhammah dan kasrah) dan jikalau terdapat kesulitan pengucapan pada suatu lafadz pada ayat yang dihafal, maka dengarkan lafadz tersebut dari kaset atau rekaman dari para Masyayikh dan Qurra’ yang sudah diakui kualitas bacaan mereka, semacam Syaikh Muhammad Ayyub, Syaikh Al-Minsyawi dan lain sebagainya secara berulang-ulang. Kalau seandainya kamu berguru kepada seorang Syaikh atau Ustadz yang Ahli dalam bidang Al-Quran, maka hal itu lebih utama kamu bisa memintanya untuk memperbaiki bacaanmu berulang-ulang, sampai lisanmu benar-benar lihai dan mudah mengucapkan lafadz yang sulit tersebut. Maka kamu dianjurkan untuk banyak mengulang-ulang hafalan tersebut dengan tujuan supaya agar hafalan itu terpatri dalam benakmu, sehingga tidak ada kesalahan dalam hafalan, karena hafalan yang salah itu terjadi karena awal kesalahan ketika belajar menghafal Al-Qur’an, dan ketika hal itu terjadi, maka sangat susah untuk diperbaiki.

4. Mulailah dengan menghafal pada ayat di baris pertama pada mushaf, setelah dirasa telah hafal, maka ulangi hafalan ayat tersebut sebanyak 10 kali, sampai benar-benar mutqin di benakmu, kemudian pindah ke ayat selanjutnya pada baris kedua, lalu mulailah menghafal dan ulangilah ayat tersebut sebanyak 10 kali juga sampai benar-benar hafal, kemudian setelah selesai dari hafalan baris pertama dan kedua, ulangi kembali hafalan pada baris pertama dan kedua sebanyak 10 kali, begitupula seterusnya sampai selesai satu halaman. Setelah itu kamu baca satu halaman tersebut tanpa melihat mushaf sebanyak 10 kali. Jikalau terdapat kesulitan pada salah satu lafadz di dalam halaman tersebut, maka lihatlah letak posisi lafadz tersebut, kemudian ulangi lagi hafalan pada halaman tersebut, lalu agar lebih meyakinkan lagi, mintalah salah satu keluarga mu atau kawanmu untuk menyimak hafalanmu dihadapan mereka supaya hafalanmu dapat dikoreksi dengan benar.

5. Pada hari berikutnya, mulailah menghafal halaman baru dengan cara yang telah disebutkan diatas, setelah selesai, ulangi kembali hafalan pada halaman sebelumnya dan halaman yang sedang dihafal tanpa melihat mushaf sebanyak 10 kali, kemudian mintalah temanmu atau saudaramu untuk menyimak hafalanmu sebanyak dua halaman, yaitu halaman yang dihafalkan sebelumnya dan yang dihafalkan sekarang. Jika hafalanmu kurang sempurna, maka ulangi lagi sebanyak dua atau tiga kali sampai benar-benar mutqin dan sama sekali tidak ada kesalahan.

Perhatian

Tidak boleh pindah ke halaman yang baru selama-lamanya sebelum dipastikan kamu benar-benar hafal pada halaman sebelumnya.

6. Dengan berjalannya hari, maka hafalanmu semakin banyak, surat demi surat, juz demi juz akan kamu lewati, maka tugas selanjutnya adalah kamu jaga hafalanmu dengan cara mengulangi hafalan-hafalan yang lalu, misalnya ketika kamu sudah hafal 15 halaman, maka setiap hari harus diulangi sejumlah itu pula setelah menyelesaikan hafalan baru, seandainya kamu sudah hafal satu juz, maka setiap hari kamu harus mengulanginya sebanyak itu pula setelah menambah hafalan pada halaman baru dengan cara yang kami sebutkan pada poin keempat, kemudian kamu ulangi lagi hafalan pada halaman-halaman baru tadi pada juz selanjutnya ditambah murojaah satu juz yang sudah dihafal. Lakukanlah hal tersebut hingga kamu menyelesaikan dua juz kemudian tiga juz, lalu kamu harus memuroja’ah tiga juz disetiap harinya setelah menambah hafalan baru.

7. Setelah kamu menyelesaikan hafalan 4 juz, maka kamu mulai memurojaah 3 juz sebelumnya setiap hari setelah menambah hafalan baru, maksudnya adalah kamu memurojaah lagi pada hari itu setelah menambah hafalan baru misalnya muroja’ah juz satu, dua, tiga, dan pada hari selanjutnya kamu memurojaah juz empat, satu dan dua setelah menambah hafalan baru. Begitupula pada hari berikutnya setelah menambah hafalan baru kamu memurojaah juz tiga, empat, dan satu. Dan jangan lupa biar tambah yakin, kamu datang kepada seorang Hafidz untuk menyetorkan hafalanmu.

8. Ketika hafalanmu sudah mencapai lebih dari 16 juz, maka hendaknya kamu memurojaah setiap hari 3 juz tanpa melihat mushaf dengan cara yang kami sebutkan pada poin ke tujuh, dan kamu minta agar temanmu menyimak hafalanmu dan begitu seterusnya.. maksudnya misalnya jika sekarang kamu sudah hafal 15 juz maka, 15 dibagi 3 sama dengan 5, sehingga kamu akan memurojaah hafalan mu sebanyak 15 juz dalam 5 hari dan seterusnya, dan jangan lupa kamu minta kawanmu untuk menyimak hafalanmu.

9. Ditengah aktivitas mu memurojaah hafalan-hafalan lama, terkadang kamu lupa atau ragu pada suatu ayat pada halaman tertentu, maka hendaknya kamu melihat ke mushaf, dan amati baik-baik ayat tersebut, lalu kamu memurojaah lagi halaman tersebut sebanyak minimal dua kali tanpa melihat mushaf sampai benar-benar mutqin, lalu kamu tandai posisi ayat tersebut dalam catatan khusus, supaya kesalahan ini tidak terulang lagi pada kesempatan yang lain.

Catatan penting..

a. Memurojaah hafalan-hafalan lama tidak boleh dilakukan kecuali selesai menghafal pada halaman baru secara mutqin. Dan hendaknya kamu menentukan satu waktu khusus, entah itu ba’da subuh atau habis ashar dan lain sebagainya untuk memurojaah hafalan-hafalan lama. Dan ketahuilah bahwa muroja’ah hafalan itu lebih baik dari pada menambah hafalan baru!
Saking pentingnya menjaga hafalan dengan cara muroja’ah ini, sampai Nabi saw bersabda,

تَعَاهَدُوا القُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الإِبِلِ فِي عُقُلِهَا

“Jagalah (hafalan) Al-Qur’an itu, maka demi Dzat, jiwaku di kekuasaan-Nya, sungguh ia (Al-Qur’an) lebih cepat lepasnya daripada unta dari ikatannya” (HR Bukhari)

b. Penting sekali kamu untuk mencari rekan yang dapat diajak setoran hafalan secara bergantian bisa itu ayah, ibu, saudara, istri, teman dekat dan lain sebagainya untuk memastikan hafalanmu benar.

c. Hari jumat adalah hari istirahat untukmu dalam satu pekan, maka dihari itu jangan kamu menambah hafalan baru, dan jangan pula mengulang hafalan lama, rehatkan sejenak diri dan pikiran mu, sehingga pada hari sabtu kamu kembali sudah siap dengan energi dan semangat baru untuk menambah hafalan baru.

d. Jadwal hafalan baru yang sudah ditentukan setiap hari adalah satu halaman mushaf, jikalau pada hari itu terdapat uzur, karena kesibukan pekerjaan atau hajat tertentu, maka kamu bisa menggantinya pada hari berikutnya, sehingga jumlah hafalan baru menjadi dua halaman, ditambah memurojaah hafalan-hafalan sebelumnya.

e. Pada setiap akhir pekan, usahakan kamu meminta rekanmu untuk mengetes seberapa mutqin hafalanmu, misalnya dengan beberapa soal sambung ayat, atau tebak surat dan nomor ayat atau yang lainnya, karena biasanya dengan cara ini sangat ampuh untuk menguatkan hafalan Al-Qur’an seseorang, sehingga dengan izin Allah swt hafalan tersebut akan terpatri dalam ingatannya untuk selama-lamanya.

(Dinukil dari kitab Ihfadzil Qur’an Kama tahfadzul Fatihah karya Syaikh Duraid Ibrahim al-Mushili)

Kebutuhan Manusia Terhadap Ulama

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

(وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَىِٕمَّةࣰ یَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُوا۟ۖ وَكَانُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا یُوقِنُونَ)

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.
[Surat As-Sajdah 24]

Alhamdulilah, Allah swt memberikan kesempatan kita untuk melaksanakan rangkaian ibadah dan amal shalih, nah bersambungnya rangkaian ibadah demi ibadah dan amal shalih yang kita lakukan itu pertanda bahwa semua amalan ibadah dan amal shalih yang kita tunaikan di terima oleh Allah swt, sebagaimana kata imam Hasan Al-Bashri,

إذا قبل الله أعمال العبد يوفقه في الطاعات ويصرفه عن المعاصي

Ketika Allah swt menerima amalan-amalan hamba-Nya maka ia akan memberikan kemudahan untuk melaksanakan rangkaian ketaatan dan menjauhkan nya dari segala maksiyat.

Sebuah tema yang penting untuk kita pelajari mengingat kita menyaksikan fenomena-fenomena bagaimana kurangnya adab para murid terhadap guru pada hari ini, sangat jauh dari keteladanan yang diajarkan oleh salafus shalih kita dahulu. Ulama salaf kita sangat perhatian sekali pada masalah adab dan akhlak. Mereka pun mengarahkan murid-muridnya mempelajari adab sebelum menggeluti suatu bidang ilmu dan menemukan berbagai macam perbedaan ulama. Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata,

بالأدب تفهم العلم

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Ibnu Sirin berkata,

كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم

“Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.”

Abdullah ibnu Mubarok berkata,

تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين

“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Maka kita bisa saksikan potret keteladanan para sahabat nabi dalam adab memuliakan guru mereka, diantara mereka adalah Abdullah bin Abbas dan Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhuma,

Selepas menshalati jenazah sang ibunda, Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu pulang menaiki bighal. Saat akan menunggangi hewan peranakan kuda dan keledai itu, Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu tiba-tiba menghampirinya lalu memegang tali kendali tunggangan tersebut. Abdullah hendak menuntunnya sebagai bentuk penghormatan.

Keduanya adalah sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Zaid merupakan ulama di kalangan para sahabat. Ia dipercaya oleh Rasulullah sebagai penulis wahyu dan di masa Abu Bakar dan Utsman ia diangkat sebagai ketua penulisan dan kodifikasi Al-Qur’an.

Sedangkan Abdullah bin Abbas, Ia adalah lautan ilmu, ahli tafsir, dan banyak meriwayatkan hadits Rasulullah. Meskipun lebih muda dari Zaid bin Tsabit, ia juga menjadi tempat bertanya para sahabat senior karena keluasan ilmunya.

Namun kali ini, Abdullah bin Abbas menunjukkan tawadhu’nya. ia memegang tali kekang kendaraan Zaid bin Tsabit lalu menuntunnya. Zaid merasa sungkan diperlakukan seperti itu oleh keluarga Rasulullah itu. “Lepaskanlah, wahai anak paman Rasulullah!” kata Zaid.

Abdullah bin Abbas enggan melepasnya. “Beginilah kami memperlakukan ulama,” jawab Abdullah sembari memuji Zaid sebagai ulamanya umat Islam.

Zaid tidak mau kalah, ia meraih tangan Abdullah lalu mencium tangannya. “Beginilah kami diperintahkan dalam memperlakukan keluarga Nabi,” katanya. Kerendahan hati Abdullah bin Abbas dibalas dengan kerendahan hati oleh Zaid bin Tsabit.
Subhanallah !!, lihatlah bagaimana ketawadhu’an para sahabat terhadap guru mereka!
Di masa tabiin, Abu Hanifah rahimahullah beliau senantiasa mendoakan kebaikan untuk gurunya imam Hammad bin Abi Sulaiman setiap selesai shalat, kemudian tradisi ini diteruskan oleh murid seniornya yaitu Imam Abu Yusuf, setiap selesai shalat beliau senantiasa mendoakan Imam Abu Hanifah sampai akhir hayatnya. Inilah adab yang luar biasa seorang murid terhadap guru, yaitu selalu mendoakan kebaikan untuk gurunya. Disebutkan didalam Thabaqat Syafiiah Imam Ahmad bin Hanbal senantiasa mendoakan kebaikan untuk gurunya Imam Syafii selama 40 tahun di setiap selesai shalatnya, beliau berdoa kepada Allah swt,

اللهم اغفرلي ولوالدي ولمحمد بن إدريس

Ya Allah ampunilah dosaku, dosa kedua orangtuaku dan dosa guruku Muhammad bin Idris (Imam Syafii).

Adab seperti ini hilang dari generasi kita, adab ini telah banyak hilang baik itu di dunia nyata maupun dunia maya, ada santri mlototi ulama sambil berteriak-teriak dihadapannya dan itu disaksikan secara live di televisi hanya karena beda pandangan, ada siswa yang melaporkan gurunya ke polisi hanya karena tidak terima ia ditegur karena tidak shalat zuhur berjamaah, atau hanya karena beda pendapat ia tega meninggalkan majelis gurunya, terlebih lagi didunia maya banyak sekali kita dapati cacian, hinaan, komentar buruk kepada para ulama.

Nah bagaimana kebutuhan manusia terhadap ulama?

Kebutuhan mereka persis seperti kebutuhan Umat terdahulu terhadap para Nabi yang di utus kepada mereka. Membawa risalah yang benar, yang mengajarkan bagaimana menciptakan hubungan yang harmonis dengan Allah dan sesama manusia, menggandeng mereka menuju hidayah Allah untuk mencapai keselamatan dunia dan akhirat, membimbing mereka menuju tatanan kehidupan masyarakat yang diridhai Allah swt, sehingga tercipta sistem kehidupan manusia yang harmonis, berkepribadian yang luhur dan beradab.
Imam Al Ajiri dalam kitabnya Akhlaqul Ulama membuat permisalan yang unik tentang kebutuhan manusia terhadap ulama, beliau mengatakan,

“مثل العلماء ومثل الناس بهم وبدونهم كمثل قوم ساروا في ليلة مظلمة في وادٍ مسبع، فيه سباع ووحوش وأشجار وحيات وعقارب، في ظلام دامس، يسيرون لا يدرون على ما يطئون، وما يواجههم، ولا إلى أين يتجهون؟ فجاءهم شخص بيده مصباح فأنار لهم الطريق حتى أخرجهم من هذا الوادي المظلم، يعني هؤلاء هل هم بحاجة إلى صاحب المصباح؟ بحاجة ماسة

Perumpamaan Para Ulama dengan manusia yang bersama mereka adalah bagaikan suatu kaum yang berjalan dalam kegelapan malam di lembah liar, di dalamnya terdapat binatang bertaring, buas, pepohonan, ular dan kalajengking, mereka berjalan serta tidak tahu dimana kaki mereka sedang menginjak, apa yang mereka hadapi dan kemana mereka akan tuju? Lalu datang seseorang membawa lentera, lalu ia pun menerangi jalan tersebut hingga membawa mereka keluar dari lembah yang gelap, maka apakah mereka butuh lentera tersebut? Tentu saja sangat butuh”

Kenapa demikian? Karena Ulama itu pewaris para Nabi, disebutkan dalam hadits, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun menegaskan:

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Artinya: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sungguh para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (H.R. At-Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Kenapa di dalam hadits ini disebut kata pewaris, tidak menggunakan redaksi yang lain?
Imam al-Munawi dalam kitab Faidul Qadir mengatakan,

لأن الميراث ينتقل إلى الأقرب وأقرب هذه الأمة بنسبة هذا الدين العلماء

Karena warisan itu berpindah kepada manusia yang terdekat, dan manusia yang terdekat ditinjau dari agama ini adalah para ulama.

Maka kalau kita ingin benar dalam beragama, benar dalam berakidah dan bermuamalah, maka bergurulah kepada para ulama, karena mereka adalah pewaris para Nabi.

Mengenai pentingnya keberadaan ulama dalam kehidupan manusia adalah awal musibah terbesar di dunia akan terjadi bila manusia meninggalkan ulama mereka, sebagaimana dalam hadits Rasulullah saw bersabda

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا

“Sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu dan merebaknya kebodohan dan diminumnya khamer serta praktek perzinahan secara terang-terangan”
[HR. Bukhari No. 78]

Hancurnya tatanan kehidupan manusia diawali dengan hilangnya ilmu dari kehidupan manusia dan cara Allah swt menghilangkan ilmu dari kehidupan mereka adalah dengan mewafatkan para ulama, sebagaimana Nabi saw bersabda,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِنَّ الله لا يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعَاً يَنْتَزِعُهُ من العِبادِ ولَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ حتَّى إذا لَمْ يُبْقِ عَالِمٌ اتَّخَذَ الناس رؤسَاً جُهَّالاً ، فَسُئِلوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا(رواه البخاري)

Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menggengam ilmu dengan sekali pencabutan, mencabutnya dari para hamba-Nya. Namun Dia menggengam ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga, jika tidak disisakan seorang ulama, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Maka mereka tersesat dan menyesatkan. (HR. Bukhari)

Al Munawi menjelaskan bahwa yang dimaksud ilmu di sini adalah ilmu untuk makrifatullah dan iman kepada-Nya serta ilmu mengenai hukum-hukum Allah, karena ilmu hakiki adalah ilmu yang berkenaan dengan hal ini. Dengan wafatnya para ulama maka proses mengajar akan berhenti, sehingga tidak ada yang menggantikan ulama-ulama sebelumnya.

Tatkala ulama diangkat maka sekedar buku saja tidak bisa menggantikan kedudukan mereka, sebagaimana Imam Ahmad menyebutkan bahwa hadits ini disampaikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika haji wada’. Di riwayat lain disebutkan bahwa seorang badui bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,”Wahai Nabi Allah, bagaimana ilmu diangkat sedangkan ada pada kami mushaf-mushaf, dan kami telah belajar darinya apa yang ada di dalamnya dan kami mengajarkan istri-istri, anak-anak dan para pembantu kami?”

Maka, Rasulullah saw mendongakkan wajah dan beliau marah lalu bersabda,”Ini orang-orang Yahudi dan Nashrani ada pada mereka lembaran-lembaran, mereka tidak mempelajari darinya mengenai apa yang datang kepada mereka dari para nabi mereka”.

Al Munawi menyatakan bahwasannya hadits di atas menunjukkan bahwa adanya buku-buku setelah ilmu diangkat dengan meninggalnya para ulama, buku-buku itu tidak berguna apapun bagi orang yang bodoh. (Faidh Al Qadir, 2/274)

Imam As Syatibi juga menyatakan bahwa di masa lalu, ilmu itu di dada para ulama, kemudian berpindah ke buku-buku, namun kuncinya masih di tangan para ulama. (Al Muwafaqat, 1/31)

Makanya kita patut bersedih ketika ulama diwafatkan oleh Allah, karena ini tanda Allah ingin mempercepat terjadinya hari kiamat.

Nah, pada hakikatnya kedudukan ulama sangatlah agung di sisi Allah dan di tengah kehidupan manusia, sampai sampai ketika Al Imam Ibnu Qayyim mensifati kedudukan ulama beliau katakan,

العلماء هم في الأرض بمنزلة النجوم في السماء؛ بهم يهتدي الحيران في الظلماء، وحاجةُ الناس إليهم أعظمُ من حاجتهم إلى الطعام والشراب”

Kedudukan para ulama di bumi bagaikan bintang-bintang di langit, dengan adanya mereka orang-orang yang kebingungan arah dalam kegelapan mendapatkan petunjuk, maka kebutuhan manusia terhadap para ulama lebih besar dari pada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman (I’lamul Muwaqi’in)

،قال ابن المبارك: “مَن استخفَّ بالعلماء ذهبتْ آخرتُه، ومَن استخف بالأمراء ذهبتْ دنياه، ومن استخف بالإخوان ذهبتْ مروءتُه”.

“Barangsiapa meremehkan ‘ulama niscaya hilang (kebahagiaan) akhiratnya, barangsiapa meremehkan para penguasa niscaya hilang (kebahagiaan) dunianya, dan barangsiapa meremehkan saudara-saudaranya (se-iman) maka niscaya akan hilang kewibawaannya”
(Siyarul A’laam Wan-Nubalaa, Jilid 15 Hal: 425)

Dari mana kita bisa membaca quran memahami tafsirnya, mengetahui benar dan salah, membedakan ibadah dan maksiyat semuanya kalau tidak dari para ulama.

Maka wafatnya ulama itu lebih dahsyat bahayanya dari pada bencana alam sekalipun, karena ketika terjadi bencana manusia masih memiliki kesempatan untuk bertahan hidup, namun ketika ia tidak sempat bertanya dengan ulama maka ia tidak akan selamat walaupun hanya sesaat saja, bahkan dapat mengantarkan kepada kematian, sebagaimana kisah yang diriwayatkan Jabir ra

عَنْ جَابِرٍ قَالَ خَرَجْنَا فِي سَفَرٍ فَأَصَابَ رَجُلاً مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فِي رَأْسِهِ ثُمَّ احْتَلَمَ فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ فَقَالَ هَلْ تَجِدُونَ لِي رُخْصَةً فِي التَّيَمُّمِ فَقَالُوا مَا نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَأَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى الْمَاءِ فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُخْبِرَ بِذَلِكَ فَقَالَ قَتَلُوهُ قَتَلَهُمْ اللَّهُ أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ

Dari Jabir ra, beliau berkata, “Kami berangkat dalam satu perjalanan lalu seorang dari kami tertimpa batu dan melukai kepalanya. Kemudian orang itu mimpi “basah” lalu ia bertanya kepada para sahabatnya, ‘Apakah kalian mendapatkan keringanan bagiku untuk tayammum ?” Mereka menjawab, “Kami memandang kamu tidak mendapatkan keringanan karena kamu mampu menggunakan air.” Lalu ia mandi kemudian meninggal. Ketika kami sampai dihadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, peristiwa tersebut diceritakan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau bersabda, “Mereka telah membunuhnya. Semoga Allâh membalas mereka. Tidakkah mereka bertanya jika tidak mengetahui ? Karena obat dari tidak tahu adalah bertanya. Sesungguhnya dia cukup bertayammum [HR Abu Daud dalam sunannya dan dinilai shahih oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’ , no. 4362]

Dalam sebuah riwayat di kitab Al Ba’its ala inkaril Bida’ karya Abi Syamah hal 1755 disebutkan,

 

– قال الإمام مالك:
” بكى ربيعة يوما بكاء شديدا فقيل له:
أمصيبة نزلت بك؟ فقال:
” لا ! ولكن استفتي من لا علم عنده وظهر في الإسلام أمر عظيم ”
الباعث على إنكار البدع لأبي شامة (ص 1755)

Imam Malik bercerita: “Imam Rabiah suatu hari menangis tersedu-sedu, maka muridnya iba dan bertanya “Apa Musibah yang menimpamu wahai Ustadzi? Beliau menjawab “Tidak ada musibah yg menimpa diriku tapi aku bertanya masalah kepada orang yang tak berilmu, ternyata dampaknya sangat dahsyat dalam agama.”

Maka tidak ada musibah yang lebih besar melebihi musibah yang menimpa pada agama seseorang, yaitu ketika ilmu tidak diserahkan pada ahlinya, atau ilmu hanya digunakan untuk meraih popularitas dan kedudukan disamping penguasa. Maka bahaya sekali kalau fatwa agama itu dituntut menyesuaikan kehendak penguasa politik, dalam sebuah kisah disebutkan, Di zaman Ahmad bin Hanbal berkembang paham jahmiyah menganggap al Quran makhluk, mengingkari nama dan sifat Allah, bahkan paham ini diamini para penguasa pada waktu itu, lebih dari itu para ulama dipaksa untuk mengimani Al Quran sebagai makhluk, sehingga sebagian ulama karena takut ada yang berpura-pura, namun Imam Ahmad teguh pendirian ia meyakini Al Quran adalah Kalamullah bukan makhluk. Lalu karena menolak beliau mendapatkan siksaan bertubi tubi, kepada ulama yang berpura-pura dan tidak berani menyampaikan kebenaran beliau berbicara kepada mereka tentang kisah Khabbab bin Arats, yang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tak tahan dengan penderitaan yang dialami dalam berdakwah. Ketika itu beliau sedang berbantalkan sorbannya di bawah lindungan Ka’bah. Kemudian kami bertanya, ‘Apakah engkau tidak memintakan pertolongan untuk kami? Apakah engkau tidak mendoakan untuk kebaikan kami?’

Beliau bersabda, ‘Orang-orang yang sebelum kamu itu ada yang ditanam hidup-hidup, ada yang digergaji dari atas kepalanya sehingga tubuhnya terbelah dua, dan ada pula yang disisir dengan sisir besi yang mengenai daging dan tulangnya, tetapi yang demikian itu tidak menggoyahkan mereka dari agamanya.
Beliau mengajak para ulama lain untuk bersabar umtuk menghadapi ujian berat pada hari itu.

Meskipun kedudukan ulama sangat penting hari ini. Maka penting hari ini kita untuk mengetahui sifat dan karakteristik ulama berdasarkan Al Quran dan Sunnah. Ada Sebagian orang menganggap ulama itu yg punya santri yang banyak, sebagian memahami ulama adalah yang bisa berbahasa Arab dan baca kitab kuning, sebagian berpendapat ulama adalah yang dapat menangkap jin lalu memindahkannya ke botol, sebagian memahami ulama itu yang berpakaian gamis dan bersorban dan kemana mana membawa tasbih di tangannya, maka masyarakat mendapati kerancuan mengenai definisi ulama, karena mereka tidak mengembalikan istilah ulama sesuai Al Quran dan sunnah.

Nah, Apa saja sifat-sifat atau Muwashafat ulama itu?

1. خشية الله في السر و العلانية

(Takut kepada Allah swt dalam kondisi tersembunyi maupun terang-terangan)

Dalam Al Quran Allah swt berfirman,

إِنَّمَا یَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰۤؤُا۟ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِیزٌ غَفُورٌ)

Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.
[Surat Fathir 28]

Maka ulama sejati itu yang semakin berilmu menyebabkan semakin takut kepada Allah, sebagaimana falsafah padi semakin berisi semakin merunduk
Maka Syaikhul Islam ketika mengomentari ayat tersebut beliau berkata,

” وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ كُلَّ مَنْ خَشِيَ اللَّهَ فَهُوَ عَالِمٌ . وَهُوَ حَقٌّ ، وَلا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ كُلَّ عَالِمٍ يَخْشَاهُ ” انتهى من [“مجموع الفتاوى” (7/539) ]

“Ini menunjukkan bahwa pasti setiap orang yang takut kepada Allah adalah alim, dan tidak menunjukkan bahwa setiap orang yang alim itu takut kepada Allah swt (Majmu Fatawa 7/539)”

Sahabat Abdullah bin Mas’ud berkata:

«لَيْسَ الْعِلْمُ لِلْمَرْءِ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ وَلَكِنَّ الْعِلْمَ الْخَشْيَةُ»

“Ilmu bagi seseorang itu tidaklah ditentukan dengan banyaknya hafalan riwayat (hadits) akan tetapi ilmu itu yang mengantarkan kepada al-Khasyah (rasa takut kepada Allah)
dan rasa takut itu letaknya di dalam hati Makanya Allah menyebut ilmu itu dengan sebutan Nur atau cahaya, Allah swt berfirman,

(وَكَذَ ٰ⁠لِكَ أَوۡحَیۡنَاۤ إِلَیۡكَ رُوحࣰا مِّنۡ أَمۡرِنَاۚ مَا كُنتَ تَدۡرِی مَا ٱلۡكِتَـٰبُ وَلَا ٱلۡإِیمَـٰنُ وَلَـٰكِن جَعَلۡنَـٰهُ نُورࣰا نَّهۡدِی بِهِۦ مَن نَّشَاۤءُ مِنۡ عِبَادِنَاۚ وَإِنَّكَ لَتَهۡدِیۤ إِلَىٰ صِرَ ٰ⁠طࣲ مُّسۡتَقِیمࣲ)

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus,
[Surat Asy-Syura 52]

Ilmu adalah cahaya yg menerangi kehidupan manusia dengan bimbingan dan arahan kebaikan yg membuat seseorang takut kepada Allah.
Sehingga Imam malik ketika melihat kecerdasan muridnya yaitu Imam Syafii, maka beliau berkomentar,

“إني أرى الله قد ألقى على قلبك نورا، فلا تطفئه بظلمة المعصية”

“Sungguh, aku melihat Allah telah menancapkan cahaya (ilmu) di dalam hatimu, maka jangan engkau padamkan cahaya tersebut dengan gelapnya maksiyat”

Nah, Pada suatu hari Imam Syafii kehilangan cahayanya, ia lupa pada suatu hafalannya, Padahal Imam Syafi’i sebenarnya orang yang hafalannya sungguh amat luar biasa. Diriwayatkan dari Imam Asy Syafi’i, ia berkata, “Aku telah menghafalkan Al Qur’an ketika berumur 7 tahun. Aku pun telah menghafal kitab Al Muwatho’ ketika berumur 10 tahun. Ketika berusia 15 tahun, aku pun sudah berfatwa.” (Thorh At Tatsrib, 1: 95-96). Sungguh luar biasa hafalan beliau rahimahullah. maka suatu saat terjadi masalah dalam ingatan hafalannya, lalu ia mengadu kepada gurunya imam Waki bin Jarrah.

شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).

Maka kalau ada seorang pelajar kehilangan atau rusak hafalannya itu penyebab utamanya adalah maksiyat kepada Allah.

Imam Syafi’i pun merenung, ia merenungkan keadaan dirinya, “Apa yah dosa yang kira-kira telah kuperbuat?” Beliau pun teringat bahwa pernah suatu saat beliau melihat seorang wanita tanpa sengaja yang sedang menaiki kendaraannya, lantas tersingkap pahanya [ada pula yang mengatakan: yang terlihat adalah mata kakinya]. Lantas setelah itu beliau memalingkan wajahnya.

Maka Imam Syafi’i tak sengaja melihat betis wanita itu saja bisa merusak hafalan, maka jangan-jangan ilmu yg kita pelajari selama ini tidak berbekas pada ingatan kita itu karena dosa dosa yang selama ini tak sadari.

2. عالم بعلمه وعامل به

Mengetahui pokok pokok persoalan agama, sekaligus ia amalkan, ia menjiwai ilmu tersebut lalu mempraktekannya dalam kehidupan sehari hari. Kita bisa lihat keteladanan imam Hasan al Bashri dalam masalah ini, ketika didatangi oleh para budak.

Suatu waktu, serombongan budak mengunjungi ulama besar ini di rumahnya. Tujuan mereka, Imam Hasan mau menyampaikan materi tentang keutamaan memerdekakan budak di majelisnya. Dengan penyampaian itu, mereka berharap majikannya berkenan membebaskan mereka.

Imam Hasan hanya menjawab, “Insya Allah…”

Keesokan harinya, Imam Hasan pun berceramah. Namun, tidak sedikit pun menyinggung materi pesanan rombongan budak yang bertamu ke rumah beliau.

Mendengar materi ceramah Imam Hasan yang tidak menyinggung keutamaan memerdekakan budak, para hamba sahaya itu pun kembali menemui Imam Tabi’in tersebut, dan menyampaikan permintaan serupa.

Namun, kejadian itu berulang lagi, hingga 3 kali.

Hingga suatu hari, Imam Hasan menyampaikan ceramah dengan materi yang sesuai dengan permintaan para budak tersebut. Para jemaah pun langsung beramai-ramai memerdekakan hamba sahaya yang mereka miliki.

Setelah kejadian itu, rombongan budak kembali menemui Imam Hasan. Di antara mereka ada yang berkata, “Seandainya saja engkau menyampaikan materi itu dari kemarin-kemarin, maka kami pun tidak perlu menunggu lama untuk menjadi manusia merdeka.”

Imam Hasan pun menjawab, “Sejak kemarin kalian memintaku untuk memerdekakan budak, sebenarnya aku belum pernah melakukan hal tersebut. Aku pun berada dalam kondisi tidak memiliki budak untuk dimerdekakan saat itu. Aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli budak dari orang lain.”

“Beberapa hari kemarin, aku menabung. dan tepat hari ini aku baru memiliki uang yang cukup untuk membeli budak, lalu memerdekakannya, maka baru hari ini pula, aku memiliki keberanian dan pengetahuan yang cukup untuk menyampaikan materi tersebut.
Aku takut termasuk manusia yang diancam oleh Allah melalui firman-Nya dalam Al Quran,

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفۡعَلُونَ)

Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
(Surat Ash-Shaf 2 – 3)”

3. معلم

Mau mengajarkan ilmunya, bukan hanya duduk manis dikantor, cuman tanda tangan, tidak pilih pilih tempat maunya di tempat yang elit manja, maunya berangkat di jemput pulang diantar, tapi juga mau terjun ke masyarakat ke daerah daerah pedalaman, maka kita harus miris melihat keadaan seperti ini. Ada seorang ikhwah bercerita disuatu daerah pedalaman ada seorang minisionaris yang rela tinggal di pedalaman selama bertahun tahun, ia meninggalkan kehidupannya dikota ketika ditanya kenapa kau melakukan hal ini? Ia menjawab “Aku rela tinggal disini selama bertahun-tahun, mempelajari bahasa mereka, memahami karakter kehidupan dan lingkungan mereka supaya aku bisa menerjemahkan Injil kedalaman bahasa mereka.
Imam Qutaibah ketika ditanya tafsir Rabbaniyyun dalam Al-Qur’an Allah berfirman,

(مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن یُؤۡتِیَهُ ٱللَّهُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحُكۡمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ یَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا۟ عِبَادࣰا لِّی مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَـٰكِن كُونُوا۟ رَبَّـٰنِیِّـۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَـٰبَ وَبِمَا كُنتُمۡ تَدۡرُسُونَ)

Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah yan Rabbani, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!”
[Surat Ali ‘Imran 79]

Maka beliau menjawab,

هم العلماء المعلمون
“Mereka adalah Ulama yang mau mengajar”

3. عدم الإغترار بالدنيا و ما فيها

Tidak mudah ketipu dunia dan apa yang ada di dalamnya

Makanya Allah sampaikan dalam Al Quran,

(وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَىِٕمَّةࣰ یَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُوا۟ۖ وَكَانُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا یُوقِنُونَ)

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.
[Surat As-Sajdah 24]

Didalam ayat diatas ada dua syarat yang harus dipenuhi agar seorang tokoh itu benar dan mendapat petunjuk Allah, yaitu memiliki sifat sabar dan yakin, dan kedua sifat ini harus ada dalam diri para ulama, agar dia selamat dari fitnah-fitnah yang menjerumuskan nya dari hal-hal yang dibenci oleh Allah swt.

Ibnu Qayyim dalam kitabnya Rasail ila ahadi ikhwanihi mengatakan, bahwa fitnah yang menimpa ulama dan para tokoh agama itu ada dua macam.

1. Fitnah Syahwat, yaitu syahwat jabatan, kekayaan dan popularitas maka untuk menghadapi fitnah ini harus dihadapi dengan sabar, sabar terhadap fitnah dunia. Bukan disebut ulama kalau masih tergiur dengan dunia, karena hakikat ulama itu idealisme mereka tidak mudah berubah hanya karena iming-iming dunia.

2. Fitnah syubhat, kita dapati banyak syubhat dalam islam yang digaungkan oleh ulama-ulama su’ ada ulama yang mengatakan jilbab itu tidak wajib hukumnya, syubhat boleh nya kepemimpinan non muslim bagi kaum muslimin dan lain sebagainya. Bahkan syubhat seperti ini yang pernah meluluhlantakkan kota Baghdad pada waktu itu yang menjadi pusat peradaban islam disebutkan dalam Kitab Al-Adab As-Sulthaniyah wa Ad-Duwal Al-Islamiyah yang ditulis Ibnu Ath-Thoqthoq, setelah meluluhlantakkan Kota Baghdad dan menenggelamkan kitab-kitab yang dikarang oleh para ulama ke Sungai Dajlah, saat itu pasukan Tatar yang dipimpin panglima kafir yang dikenal bengis Hulagu Khan kemudian mengumpulkan para tokoh dan ulama.

Untuk mencari legitimasi kekuasaan dan demi meraih simpati rakyat Baghdad, Hulagu Khan kemudian bertanya kepada mereka, mana yang lebih baik pemimpin kafir tapi adil atau pemimpin muslim tapi dzalim? Maka dijawablah dengan lantang oleh seorang pemuka ulama Syiah Radhiuddin Ali bin Thawus;

الحاكم العادل الكافر أفضل على المسلم الجائر، ذلك بأن لنا عدل الكافر العادل عندما يحكم وعليه وزر كفره لوحده بينما لنا ظلم المسلم الجائر إذا حكم، وله لوحده إسلامه الذي يثاب عليه

“Pemimpin kafir yang adil lebih baik daripada pemimpin muslim yang dhalim. Karena keadilan pemimpin kafir untuk rakyatnya dan dosa kekafirannya untuk dirinya sendiri. Sedangkan kedzaliman pemimpin muslim yang dzalim adalah untuk rakyatnya, sedangkan islamnya pahalanya untuk dirinya sendiri.”

Syubhat ini hanya bisa dilawan dengan sikap yakin terhadap kebenaran melalui ayat-ayat Allah.

Potret Salafus Shalih Ketika Berpisah Dengan Ramadhan

Oleh: Kholid Mirbah, Lc

Tinggal menunggu hitungan jam, kita akan berpisah dengan Ramadhan, bulan suci itu akan pergi meninggalkan kita, kita tidak tahu apakah tahun depan kita bisa kembali bertemu lagi bulan Ramadhan. Setiap detik hari-harinya begitu berharga, setiap hembusan nafas kita bernilai kebaikan di sisi Allah swt, menjaga amalan yang sunnah meningkat status pahalanya seperti menjaga amalan yang wajib, dan banyak sekali manfaat yang kita raup, serta pahala Allah yang dapat kita raih jikalau kita maksimal beribadah di dalamnya. Telah berakhir Bulan Shiyam dan Qiyam, berakhir pula bulan penuh rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka, berakhir pula nikmat yang sangat agung dalam hidup ini, yang belum tentu bulan suci tersebut kembali ke pangkuan kita. Sungguh datangnya bulan tersebut merupakan kabar gembira bagi para pendosa untuk meraih ampunan, pengabulan doa, pembebasan api neraka serta curahan kasih sayang Allah begitu terasa pada bulan tersebut.

Sungguh, berpisah dengan Ramadhan meninggalkan kesedihan dalam hati, duka serta nestapa yang mendalam, Bagaimana tidak sedih? Seseorang berpisah dengan kekasihnya untuk selama-lama nya, dan ia tidak tahu apakah nanti akan berjumpa lagi dengannya. Seolah-olah kepergiannya menjadi musibah besar sehingga tak jarang ia merasa sedih, pilu dan kehilangan.
Apakah kita sambut perpisahan itu dengan sikap futur dan malas atau kita sambut perpisahan tersebut dengan sikap yang dicontohkan oleh manusia-manusia terbaik, mereka adalah para salafus shalih kita, generasi terdepan di dalam kebaikan, mereka adalah generasi yang menyelaraskan antara kesungguhan amal dengan ilmu dan perhatian agar diterimanya amal setelah itu serta khawatir jikalau amalan mereka tertolak.

Maka, para salafus shalih telah menunjukkan sebuah kepribadian yang istimewa serta semangat yang membara tatkala mereka memasuki bulan Ramadhan, diantara buktinya sebagaimana yang di jelaskan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali ra,

كانوا يدعون الله ستة أشهر أن يبلغهم شهر رمضان، ثم يدعون الله ستة أشهر أن يتقبله منهم

Enam bulan sebelum Ramadhan menjelang, mereka berdoa dengan giat agar disampaikan kepada bulan agung ini. Sedangkan enam bulan sesudahnya, mereka sangat gigih berdoa agar segenap amalan mereka diterima Allah Subhanahu Wata’ala (Lathâ`ifu al-Ma’arif, 209).

Sungguh mereka menunjukkan kesedihan dan duka yang mendalam ketika ramadhan berada di penghujung bulan, mereka berusaha saling menasehati agar tidak kendor dalam ibadah dan senantiasa istiqomah diatas ketaatan pada bulan-bulan setelahnya, karena semua bulan di sepanjang tahun bagi setiap mukmin adalah musim-musim ibadah, bahkan seluruh umur kita adalah musim-musim untuk melaksanakan ketaatan.

Disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali ra, ketika berkisah tentang kesedihan para salafus shalih yang akan berpisah dengan Ramadhan,

خرج عمر بن عبد العزيز -رحمه الله- في يوم عيد فطر، فقال في خطبته: “أيها الناس، إنكم صمتم لله ثلاثين يومًا، وقمتم ثلاثين ليلة، وخرجتم اليوم تطلبون من الله أن يتقبل منكم”. وكان بعض السلف يظهر عليه الحزن يوم عيد الفطر، فيقال له: إنه يوم فرح وسرور. فيقول: صدقتم، ولكني عبد أمرني مولاي أن أعمل له عملاً، فلا أدري أيقبله مني أم لا؟

Suatu saat, Umar bin Abdul Aziz RA keluar rumah di hari Idul Fitri. Dalam khutbahnya beliau menandaskan, “Wahai rakyatku sekalian! Kalian telah berpuasa karena Allah Subhanahu Wata’ala selama tiga puluh hari. Demikian juga telah menunaikan shalat malam tiga puluh hari. Hari ini kalian keluar untuk memohon kepada Allah agar semua amalan diterima.” Pada momen demikian, ada seorang salaf yang menampakkan kesedihan. Kemudian ia ditanya, “Bukankah ini hari kegembiraan dan kesenangan?” Ia menjawab, “Benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba yang Allah perintahkan melakukan amalan. Sedangkan aku tidak tahu apakah amalan itu diterima atau tidak? Itulah yang membuatku sedih.”

ورأى وهب بن الورد قومًا يضحكون في يوم عيد، فقال: إن كان هؤلاء تقبل منهم صيامهم فما هذا فعل الشاكرين، وإن كان لم يتقبل منهم صيامهم فما هذا فعل الخائفين. وعن الحسن قال: إن الله جعل شهر رمضان مضمارًا لخلقه يستبقون فيه بطاعته إلى مرضاته، فسبق قوم ففازوا، وتخلف آخرون فخابوا، فالعجب من اللاعب الضاحك في اليوم الذي يفوز فيه المحسنون، ويخسر فيه المبطلون.

Fenomena lain yang tak kalah menarik, ketika Wahab bin al-Warad melihat suatu kaum yang tertawa di hari Idul Fitri, ia berkomentar, “Jika puasa mereka diterima, bukan seperti ini kondisi orang yang bersyukur. Jika tidak diterima, maka bukan demikian perbuatan orang yang takut.”
Diriwayatkan dari Al-Hasan ia berkata :”Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadhan sebagai Arena Pacuan, siapa saja yang finish duluan dia yang menang, sedangkan yang tertinggal mereka pasti kalah, maka sangat mengherankan peserta lomba yang hanya tertawa dihari kemenangan bagi orang-orang yang baik dan kekalahan bagi orang-orang jahat.”

Bayangkan! Tertawa di bulan kemenangan saja, menjadi aib tersendiri bagi ulama salaf. Bagi mereka, Idul Fitri bukanlah momentum untuk meluapkan kegembiraan, justru untuk evaluasi diri apakah amalan sepanjang Ramadhan diterima Allah Subhanahu Wata’ala.

Beliau melanjutkan,

وروي عن علي رضي الله عنه أنه كان ينادي في آخر ليلة من شهر رمضان: يا ليت شعري من هذا المقبول فنهنِّيه، ومن هذا المحروم فنعزِّيه! وعن ابن مسعود أنه كان يقول: من هذا المقبول منا فنهنِّيه، ومن هذا المحروم منا فنعزيه، أيها المقبول، هنيئًا لك! أيها المردود، جبر الله مصيبتك”

Khalifah Keempat Ali RA memiliki kebiasaan unik. Pada akhir malam bulan Ramadhan beliau berseru, “Duhai, siapakah yang diterima amalnya lalu kita beri ucapan selamat kepadanya. Siapa pula yang tidak diterima amalnya, lalu kita berkabung untuknya.”
Begitupula Ibnu Mas’ud berkomentar “siapakah orang yang diterima amalnya lalu kita ucapkan selamat kepadanya? Dan siapa yang tidak diterima amalnya lalu kita berkabung untuknya. Wahai orang yang diterima, selamat dan sukses untuk kalian. Wahai orang yan tertolak? Allah telah memperbaiki musibah kalian.” (Lathaiful Ma’arif, Ibnu Rajab Al-Hanbali, 209, 210).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa saat Ramadhan berakhir, mereka merasa sangat kehilangan. Mereka berada dalam kondisi harap-harap cemas apakah amalan-amalan selama Ramadhan diterima Allah. Di samping itu, akhir Ramadhan dijadikan momentum introspeksi diri dan wahana untuk saling menasehati agar tetap beramal kebaikan walau di bulan-bulan lain. Wallâhu a’lam

Tiga Macam Kelompok Manusia Di Bulan Ramadhan

Allah swt memberikan kemuliaan yang begitu besar kepada bulan Ramadhan, makanya didalam bulan tersebut disyariatkan berbagai macam ibadah dan ketaatan, termasuk puasa dengan harapan manusia mencapai derajat takwa. Namun, tetap saja di bulan ini ada beberapa golongan manusia yang tidak sesuai dengan tujuan puasa, setidaknya ada tiga kelompok manusia di bulan Ramadhan.

Ahli tafsir Imam Qatada, seperti yang dinukil oleh Imam At-Thabari, menjelaskan bahwa manusia itu terbagi ke dalam tiga kelompok, baik di dunia, ketika meninggal dunia, dan nanti diakhirat. Di dunia manusia terbagi ke dalam kelompok mukmin, munafik dan musyrik. Sedangkan ketika meninggal dunia maka sesuai dengan firman Allah SWT:

فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ فَسَلامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ فَنزلٌ مِنْ حَمِيمٍ وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ

“Adapun jika Dia (orang yang mati) Termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezki serta jannah kenikmatan, dan Adapun jika dia termasuk golongan kanan, maka keselamatanlah bagimu karena kamu dari golongan kanan, dan adapun jika dia termasuk golongan yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam Jahannam”. (QS. Al-Waqiah: 88-94)

Adapun diakhirat, maka manusia juga terbagi kedalam tiga kelompok sesuai dengan firman Allah SWT:

فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ

“Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu, dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu, dan orang-orang yang beriman paling dahulu”. (QS. Al-Waqiah:8-10)

Menurut Imam At-Thabari, penjelasan Imam Qatadah ini lebih mengarah kepada sebuah kesimpulan bahwa orang-orang yang termasuk dalam katagori zholim pada ayat QS. Fathir: 32 itu tempatnya di neraka. Namun kita juga tidak menutup mata bahwa ada juga yang berpendapat bahwa orang-orang zholim tetap berada di syurga selagi mereka tidak mensyirikkan Allah SWT, ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dan selainnya walau keberadaannya di surga bisa jadi setelah sebelumnya diadzab dulu di neraka, demikian kesimpulan dari Imam At-Thabari pada akhirnya.

Sehingga sikap seorang muslim yang moderat seharusnya terdepan dalam kebaikan, dia harus menjadi pribadi yang terbaik dan menjadi qudwah hasanah dalam melaksanakan perintah Allah, jangan sampai menganggap ibadah adalah beban hidup yang hanya dikerjakan sebatas agar gugur dari tanggungannya, dan lebih menyedihkan lagi apabila dia tidak peduli lagi dengan perintah dan larangan Allah, maka ia termasuk pribadi yang zalim, maka Allah membagi jenis manusia dalam kaitannya menyambut seruan Allah swt di dalam Al Quran menjadi tiga kelompok.
Allah berfirman dalam Surat Fatir ayat 32:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Artinya:

”Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS. Fatir: 32)

Maka dalam kaitannya dengan ibadah Ramadhan, jika kita analogikan dengan ayat diatas, Ada tiga golongan manusia dalam menyikapi bulan Ramadhan sebagaimana dijelaskan Ustaz Muhammad Saiyid Mahadhir dalam bukunya “Bekal Ramadhan dan Idul Fithri (1): Menyambut Ramadhan”, diantara mereka:

1. Kelompok Zhalim.

Mereka ini adalah orang-orang yang kurang sekali perhatiannya terhadap bulan Ramadhan. Bagi mereka kedatangan Ramadhan dianggap biasa-biasa saja dan dianggap sebagai beban. Kelompok ini menyamakan bulan Ramadhan dengan bulan-bulan yang lainnya.

Mereka berpuasa, tapi hanya sebagian saja, lalu sebagian lainnya mereka tinggalkan bukan karena alasan yang diperbolehkan.

Sehingga kewajiban berpuasa tidak dijalankan dengan sempurna. Bisa jadi mereka berpuasa penuh selama satu bulan, namun hari-hari mereka meninggalkan salat fardhu, banyak tidur. Inilah kezhaliman mereka untuk diri masing-masing.

Di akhirat kelak nasibnya akan menyedihkan, walaupun kita tetap berharap ampunan dan kasih sayang Allah. Orang-orang seperti ini harus diingatkan dan diajak dengan baik agar menyadari pentingnya beramal saleh di bulan Ramadhan.

2. Muqtashid (Pertengahan).

Mereka adalah orang-orang yang bergembira menyambut hadirnya bulan Ramadhan. Rasa gembira itu semakin menjadi-jadi karena setelah itu bakal ada libur panjang. Ada kesadaran bergama bahwa di Ramadhan waktunya untuk menghapus dosa dan mengambil banyak pahala untuk bekal di akhirat kelak. Namun, padatnya aktivitas dan kurang mantapnya iman, membuat mereka lalai mengerjakan ibadah-ibadah sunnah.

Kelompok pertengahan ini terkadang meninggalkan ibadah salat tarawih dan witir ataupun salat rawatib qabliyah dan badiyah. Dalam satu hari itu ada rasa malas untuk membaca Al-Qur’an, sehingga target bacaan Al-Qur’an tidak tercapai. Mereka juga full berpuasa, namun ada di antara mereka yang kesehariannya terlalu banyak tidur. Amalan-amalan sunnah Ramadhan tidak begitu diperhatikan.

3. Sabiqun Bil Khairat (Berpestasi).

Kelompok ketiga ini disebut dengan istilah orang-orang berprestasi karena memang mereka adalah orang-orang yang berusaha meninggalkan perkara haram dan makruh. Mereka juga meninggalkan sebagian perkara mubah demi kesempurnaan ibadah puasa yang mereka jalankan.

Mereka ini sebenarnya bukan hanya berprestasi di bulan Ramadhan, namun di luar Ramadhan mereka adalah orang-orang berprestasi. Kerinduan mereka kepada Ramadhan membuat mereka selalu berdoa sepanjang bulan kepada Allah.

Golongan manusia ini disifati oleh Allah sebagi orang yang bertakwa dalam satu ayat:

(كَانُوا۟ قَلِیلࣰا مِّنَ ٱلَّیۡلِ مَا یَهۡجَعُونَ ۝ وَبِٱلۡأَسۡحَارِ هُمۡ یَسۡتَغۡفِرُونَ)

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum Fajar.” (QS. Adz-Dzariyat: 17-18). Kualitas ibadah mereka jangan ditanya.

Salat malam tidak pernah ketinggalan. Ibadah sosial mereka juga sangat kuat. Mereka sangat dermawan di bulan Ramadhan. Seluruh anggota badan mereka berpuasa, mata berpuasa dari melihat hal-hal yang dilarang oleh Allah. Begitu juga dengan telinga, lidah, bibir, tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh lainnya tidak bermaksiat kepada Allah.

(Diringkas dari buku “Bekal Ramadhan dan Idul Fithri (1): Menyambut Ramadhan”, karya Muhammad Saiyid Mahadhir hal 38-47)

Hakikat Ucapan Jazakallah Khairan

Islam tak hanya mengajarkan bersyukur kepada Allah, tetapi juga menuntun untuk mengucapkan terima kasih kepada sesama manusia. Terutama yang berbuat baik. Apalagi jika itu adalah orang tua.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan terima kasih kepada sesama manusia sebagai indikator syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak dikatakan bersyukur pada Allah, siapa yang tidak tahu berterima kasih kepada sesama manusia.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud; shahih)

Lalu bagaimana ucapan terima kasih terbaik ketika ada seseorang yang berbuat baik kepada kita? Apakah ucapan syukran seperti yang kita dengar? Ternyata bukan. Meskipun kata syukran juga boleh dan baik. Namun ada yang lebih baik,
Apa itu? Yaitu kata Jazakallah Khairan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِى الثَّنَاءِ

“Barangsiapa diperlakukan baik oleh orang lain kemudian ia berkata kepadanya jazakallah khairan, maka ia telah memujinya dengan setinggi-tingginya.” (HR. Tirmidzi, Al Albani berkata: “shahih”)

Nah, apa saja keutamaan ucapan Jazakallah Khairan, diantaranya adalah:

1. Ucapan terimakasih terbaik.

Dibandingkan dengan ucapan “terima kasih”, “syukran”, “thank you”, “matursuwun”, dan lainnya, ucapan jazakallah khairan adalah yang terbaik.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِى الثَّنَاءِ

“Barangsiapa diperlakukan baik oleh orang lain kemudian ia berkata kepadanya jazaakallah khairan, maka ia telah memujinya dengan setinggi-tingginya.” (HR. Tirmidzi, Al Albani berkata: “shahih”)

2. Sunnah Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam.

Ucapan terima kasih dengan jazakallah khairan adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau mengajarkan ucapan ini dan para sahabat juga mengamalkannya.

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لأَخِيهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِى الثَّنَاءِ

Jika seseorang berkata kepada saudaranya “jazaakallah khairan” (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka ia telah memujinya dengan setinggi-tingginya. (HR. Thabrani, Al Albani berkata: “shahih li ghairihi”)

3. Ucapan doa

Rasulullah mengajarkan, ketika mendapat kebaikan atau hadiah dari orang lain, hendaklah kita membalasnya dengan kebaikan dan hadiah pula. Namun jika belum bisa, minimal dengan ucapan terima kasih dan mendoakannya.
Ucapan jazakallah khairan, jazakillah khairan dan jazakumullah khairan merupakan ucapan terima kasih sekaligus doa untuk orang yang telah memberi hadiah dan kebaikan untuk kita.

وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

“Dan barangsiapa yang berbuat kepada kalian maka balaslah. Jika ia tidak mendapati sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah ia, sampai kalian melihat bahwa kalian sudah membalasnya.” (HR. Abu Daud)

4. Mendapat doa

Ketika kita berterima kasih dengan cara mengucapkan doa ini, maka kita pun akan mendapatkan jawaban dengan didoakan kembali. Kalaupun tidak dijawab oleh orang tersebut, malaikat yang akan menjawabnya dengan mendoakan kita.

Jawaban Jazakallah Khairan.

Bagaimana jawaban atau balasan jika kita mendapat ucapan jazakallah khairan dan sejenisnya?
Karena ini doa, kita bisa menjawab dengan mengaminkan doa tersebut. Misalnya “aamiin” atau “aamiin ya Rabb.” Kadang pula dijawab dengan “afwan” yang merupakan jawaban dari “syukran”.
Namun yang lebih utama adalah membalas dengan mendoakannya pula. Tidak hanya mengaminkan doanya. Sering kali, jawaban dalam bentuk mendoakan ini dengan ucapan “waiyakum” yang artinya “dan demikian pula bagimu.” Namun ini umum dan ada yang lebih baik lagi, yakni yang kita dapatkan dari hadits.
Dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam An Nasa’i dan Ibnu Hibban, ketika Usaid bin Hudhair mewakili kaum Anshar berterima kasih kepada Rasulullah dengan jazakallah khairan, Rasulullah menjawabnya dengan ucapan:

وَأَنْتُمْ مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ فَجَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا

“Dan kamu sekalian wahai kaum Anshar, semoga Allah juga membalasmu dengan kebaikan.”
Jadi, balasan jazakallah khairan yang dicontohkan Rasulullah adalah:

فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا

Artinya: Semoga Allah juga membalasmu dengan kebaikan
Ucapan di atas sebagai jawaban jika yang mengucapkan jazakallah khairan adalah laki-laki.
Sedangkan untuk perempuan, jawaban untuknya adalah:

فَجَزَاكِ اللهُ خَيْرًا

Artinya: Semoga Allah juga membalasmu dengan kebaikan
Adapun jika yang menyampaikan ucapan terima kasih itu orang banyak atau mewakili orang banyak, jawaban untuk mereka adalah:

فَجَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا

Artinya: Semoga Allah juga membalas kalian dengan kebaikan

I’tikaf di Bulan Ramadhan di Rumah Ditengah Pandemi Virus Corona

Oleh : Kholid Mirbah, Lc

Di tengah pandemi wabah Covid-19 ini kita dituntut untuk melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing, dan begitu pula mayoritas negara-negara di dunia, termasuk indonesia, melarang para warganya untuk mengadakan kegiatan yang mengundang perkumpulan masa dalam rangka untuk memutus rantai penyebaran covid-19, terlebih lagi mereka yang tinggal di zona merah seperti kami yang tinggal di Cibubur, Bekasi dan sekitarnya pun tak lepas dari himbauan ini, termasuk dalamnya dilarang menyelenggarakan ibadah shalat berjamaah bagi kaum muslimin di masjid-masjid, maka kita saksikan pemandangan bulan Ramadhan pada tahun ini dimana banyak masjid-masjid yang kosong dari aktivitas ibadah didalamnya termasuk berjamaah lima waktu, shalat tarawih dan juga kegiatan beritikaf di dalam masjid.

Maka sebagian dari kami berinisiatif untuk melakukan berbagai kegiatan Ramadhan di rumah masing-masing, dengan mengkhususkan satu ruangan tertentu untuk dijadikan sebagai masjid atau dikenal masjid al-bait/mushalla rumah, sehingga dapat digunakan untuk shalat berjamaah, membaca Al-Quran, berzikir termasuk I’tikaf sebagai upaya menghidupkan sunnah-sunnah di bulan Ramadhan. Nah apakah I’tikaf semacam ini diperbolehkan, tentunya dengan mengesampingkan masjid sebagai salah satu syarat sah I’tikaf yang termaktub dalam firman Allah swt

وَلَا تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمۡ عَـٰكِفُونَ فِی ٱلۡمَسَـٰجِدِۗ تِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقۡرَبُوهَاۗ

Te-tapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.
[Surat Al-Baqarah 187]

Nah sebelum kita membahas permasalahan tersebut lebih lanjut, maka alangkah baiknya kita terlebih dahulu mengupas tentang hakikat I’tikaf.

a. Pengertian I’tikaf

I’tikaf secara bahasa adalah al-muktsu wal ihtibas yaitu menahan dan mengekang diri, maksudnya adalah menahan diri untuk mengerjakan aktivitas yang biasa ia lakukan.
Adapun secara istilah fuqaha’, diantaranya sebagaimana yang dikemukakan oleh Syaikh Sulaiman Al-Bajirimi dalam Hasyiatihi ala Syarhi Minhajut Thullab, (2/91)

الإعتكاف هو أن يمكث المسلم في المسجد بنية العبادة

I’tikaf adalah seorang muslim berdiam diri dan menetap di dalam Masjid dengan niat ibadah.

Al-Imam Ibnu Qudamah didalam kitab Al-Mughni (3/186) mendefinisikan I’tikaf secara bahasa adalah,

الإعتكاف في اللغة لزوم الشيئ وحبس النفس عليه برا كان أو غيره

I’tikaf secara bahasa adalah diamnya sesuatu dan menahan diri dari perbuatan baik maupun yang buruk, diantara makna I’tikaf tersebut disebutkan di dalam firman Allah swt,

a. Ketika Nabi Ibrahim as menasehati ayahnya dan kaumnya agar menjauhi berhala,
Allah berfirman,

(إِذۡ قَالَ لِأَبِیهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَـٰذِهِ ٱلتَّمَاثِیلُ ٱلَّتِیۤ أَنتُمۡ لَهَا عَـٰكِفُونَ)

(Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beri’tikaf disamping nya (menyembahnya)?”
[Surat Al-Anbiya’ 52]

b. Kisah Bani Israil yang berniat kembali musyrik setelah diselamatkan oleh Allah swt dari kejaran Firaun dan pengikut nya.

(وَجَـٰوَزۡنَا بِبَنِیۤ إِسۡرَ ٰ⁠ۤءِیلَ ٱلۡبَحۡرَ فَأَتَوۡا۟ عَلَىٰ قَوۡمࣲ یَعۡكُفُونَ عَلَىٰۤ أَصۡنَامࣲ لَّهُمۡۚ قَالُوا۟ یَـٰمُوسَى ٱجۡعَل لَّنَاۤ إِلَـٰهࣰا كَمَا لَهُمۡ ءَالِهَةࣱۚ قَالَ إِنَّكُمۡ قَوۡمࣱ تَجۡهَلُونَ)

Dan Kami selamatkan Bani Israil menyeberangi laut itu (bagian utara dari Laut Merah). Ketika mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala, mereka (Bani Israil) berkata, “Wahai Musa! Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” (Musa) menjawab, “Sungguh, kamu orang-orang yang bodoh.”
[Surat Al-A’raf 138]

Sedangkan secara istilah syariat beliau kemukakan tentang I’tikaf,

الإعتكاف هو الإقامة في المسجد على صفة نذكرها وهو قربة وطاعة

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dalam tujuan yang bersifat mendekatkan diri dan melaksanakan ketaatan kepada Allah swt.

b. Dalil Pensyari’atan I’tikaf

I’tikaf disyari’atkan berdasarkan dalil dari Al Quran, sunnah, dan ijma’. Berikut dalil-dalil pensyari’atannya.

Dalil dari Al Quran

-Firman Allah ta’ala,

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud.” (Al Baqarah: 125).

-Firman Allah ta’ala,

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (Al Baqarah: 187).

Penyandaran i’tikaf kepada masjid dan perintah untuk tidak bercampur dengan istri ketika sedang beri’tikaf merupakan indikasi bahwa i’tikaf merupakan ibadah.

Dalil dari sunnah

-Hadits dari Aisyah ra, beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau.”(HR. Bukhari Muslim)

Dalil Ijma’

Beberapa ulama telah menyatakan bahwa kaum muslimin telah berijma’ bahwa i’tikaf merupakan ibadah yang disyari’atkan. Diantara mereka adalah,
-Imam Muhyiddin An-Nawawi berkata dalam kitab Al-Majmu'(6/475)

فالاعتكاف سنة بالاجماع ولا يجب إلا بالنذر بالاجماع

“Hukum i’tikaf adalah sunnah berdasarkan ijma dan ulama sepakat bahwa i’tikaf tidak berhukum wajib kecuali seorang yang bernadzar untuk beri’tikaf.

c. Hikmah dibalik syariat I’tikaf

Imam As-Shawi dalam kitab Bulghatus Salik li aqrabil Masalik hal. 469 dalam Bab Al-I’tikaf ketika menjelaskan hikmah I’tikaf beliau berkata,

وكان من حكمة مشروعيته تصفية مرآة العقل والتشبه بالملائكة الكرام في وقته، أتبعه بالكلام على الاعتكاف التام الشبه بهم في استغراق الأوقات في العبادات، وحبس النفس عن الشهوات، وكف اللسان عما لا ينبغي“.

Diantara hikmah disyariatkannya I’tikaf adalah untuk Menjernihkan akal dan menyerupai keadaan para malaikat yang mulia, Kesamaan antara orang yang I’tikaf dengan para malaikat adalah didalam totalitas seluruh waktu digunakan untuk beribadah, menahan diri dari syahwat dan menahan lisan dari ucapan yang tak pantas.

Beliau lanjutkan,

“فـالاعتكاف فيه تسليم المعتكف نفسه بالكلية إلى عبادة الله تعالى طلب الزلفى ، وإبعاد النفس من شغل الدنيا التي هي مانعة عما يطلبه العبد من القربى ، وفيه استغراق المعتكف أوقاته في الصلاة إما حقيقة أو حكما ، لأن المقصد الأصلي من شرعية الاعتكاف انتظار الصلاة في الجماعات ، وتشبيه المعتكف نفسه بالملائكة الذين لا يعصون الله ما أمرهم ويفعلون ما يؤمرون ، ويسبحون الليل والنهار لا يفترون”.

“Maka I’tikaf hakikatnya ia berserah diri kepada Allah swt secara totalitas dalam beribadah, menjauhkan diri dari kesibukan dunia, dan didalamnya orang yang sedang I’tikaf menghabiskan waktunya dalam rangka menunaikan shalat, baik itu secara hakikat atau hukum. Karena tujuan utama dari syariat I’tikaf adalah menunggu waktu shalat berjamaah, menyamai kepribadian para malaikat yang tidak pernah bermaksiyat kepada perintah Allah swt, mengerjakan semua yang diperintahkan kepada mereka, senantiasa bertasbih kepada Allah siang malam dan tidak pernah merasa bosan.

d. Hukum I’tikaf

I’tikaf dibulan Ramadhan dan di bulan selainnya hukumnya sunnah, sehingga bagi pelakunya dapat pahala di sisi Allah swt, hanya saja status hukum sunnah ini dapat berubah menjadi wajib karena menjadi nazar bagi pelakunya.
Imam Ibnu Munzir dalam kitab Al-Ijma hal. 7.

وأجمعوا على أن الاعتكاف لا يجب على الناس فرضا إلا أن يوجبه المرء على نفسه فيجب عليه

“Ulama sepakat bahwa i’tikaf tidaklah berhukum wajib kecuali seorang yang bernadzar untuk beri’tikaf, dengan demikian dia wajib untuk menunaikannya.”
Dan itu senada dengan hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, beliau bersabda,

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ

“Barangsiapa bernadzar untuk melakukan ketaatan kepada Allah, dia wajib menunaikannya (HR. Bukhari).

e. Syarat dan rukun I’tikaf

Sebelum melakukan i’tikaf, penting untuk memperhatikan syarat dan rukunnya, antara lain sebagai berikut:

Pertama, niat, dalam i’tikaf harus ada niat sehingga orang yang melakukannya paham apa yang harus dilakukan, tidak melamun, dan pikiran tidak kosong.

نويت الاعتكاف لله تعالى
“Saya niat I’tikaf karena Allah swt”

Kedua, diam di dalam masjid dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak boleh dilakukan oleh orang yang sedang beri’tikaf, sebagaimana firman Allah SWT “…Tetapi, jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS Al-Baqarah: 187).

Orang yang melakukan i’tikaf harus muslim, berakal, suci dari hadas besar (haid, nifas, keluar mani) dan harus di masjid.

f. Waktu I’tikaf

I’tikaf itu disyari’atkan setiap waktu, namun lebih ditekankan lagi di bulan Ramadhan, lebih-lebih lagi di sepuluh hari terakhir dari bulan suci tersebut. Sedangkan bagi seseorang yang berniat itikaf di sepuluh malam terakhir maka hendaklah dia memasuki masjid atau memulai itikafnya sebelum terbenam matahari di malam 21 Ramadhan, sebagaimana pendapat jumhur ulama.

g. I’tikaf bagi wanita.

Para Ulama telah bersepakat tentang sahnya wanita untuk beri’tikaf, hanya saja mereka berbeda pendapat tentang tempat mereka harus beri’tikaf,

-Jumhur ulama mengatakan bahwa wanita diwajibkan I’tikaf di masjid, karena adanya riwayat dari Ibnu Abbas ra ketika beliau ditanya tentang wanita yang bernazar untuk beri’tikaf di rumahnya, maka beliau menjawab, “Bid’ah, dan perbuatan yang paling dibenci oleh Allah adalah membuat bid’ah. Maka, tidak sah I’tikaf kecuali didalam masjid yang didalam nya ditegakkan shalat jamaah, karena rumah tidak sama dengan masjid baik itu secara hakikat maupun hukum, karena dirumah orang yang sedang junub boleh berdiam diri sedangkan di masjid tidak diperbolehkan, seandainya hal itu boleh niscaya istri-istri Rasul saw pasti melakukannya walaupun hanya sekali, namun kita tak mendapatkan riwayat semacam itu.

-Adapun kelompok Hanafiyah dan pendapat imam Syafi’i dalam qoul qadim memperbolehkan wanita untuk I’tikaf di rumahnya (ruangan khusus untuk ibadah di dalam rumah/mushalla rumah), karena memang ruangan itu tempat khusus untuk ia shalat, dan makruh bagi ia untuk I’tikaf di masjid jami’ yang dipakai untuk shalat berjamaah, mereka berpendapat bahwa Rumah itu lebih afdhol baginya dari pada masjid kampungnya, sedangkan masjid kampungnya itu lebih afdhol baginya dari pada masjid kota. Dan tidak diperbolehkan bagi wanita untuk I’tikaf diselain ruangan khusus untuk shalat di rumahnya. Adapun bagi laki-laki seluruh ulama bersepakat bahwa I’tikaf nya harus di masjid, karena masjid adalah salah satu rukun dalam I’tikaf. Sekalipun demikian Ibnu Lubabah Al-Maliki memiliki pendapat berbeda yaitu kebolehan I’tikaf bukan di masjid seperti yang dikatakan oleh Ibnu Bazizi Al-Maliki: “Dan kebanyakan ulama’ berpendapat bahwa I’tikaf yang syar’i tidak sah kecuali di masjid, dan Ibnu Lubabah mengatakan sah di selain masjid”. Begitu pula sebagian ulama Malikiyah memperbolehkan Itikaf bagi lelaki dan wanita di rumah, karena I’tikaf itu hukumnya sunnah, dan perkara yang sunnah lebih baik dilaksanakan di rumah (Raudhatul Mustabin juz 1 hal 548)

h. Bagaimana sikap kita I’tikaf dirumah atau di masjid di tengah pandemi covid-19 ini?

Tidak diragukan lagi bahwa Masjid sebagai bagian rukun dari I’tikaf tidak terbantahkan lagi karena adanya nash dari Al Quran dan Hadits, perbuatan Rasulullah saw dan para sahabatnya, dan memang di masjid lah tercapai tujuan I’tikaf yaitu menahan diri dari syahwat dan totalitas dalam beribadah, adapun I’tikaf seorang lelaki di rumahnya mencegah nya untuk meraih maksud dan tujuan I’tikaf itu sendiri.
Hanya saja karena keadaan yang mendesak kau muslimin untuk tetap tinggal dirumah dalam rangka pencegahan tertular wabah virus covid-19, maka jumhur ulama merajihkan pendapat dari ulama Malikiyah dengan catatan:

a. I’tikaf hanya boleh dilakukan diruangan khusus untuk shalat dan ibadah/mushalla rumah, tidak boleh dilakukan disetiap ruangan yang ada di rumah.
b. Ia harus komitmen I’tikaf di mushalla rumah dengan tidak keluar darinya kecuali karena hal yang sangat mendesak, seperti buang air dan lainnya, adapun ia keluar masuk keliling rumah maka ini bukanlah I’tikaf.
c. Menyibukkan diri dengan berbagai ibadah sewaktu I’tikaf di mushalla rumahnya seperti membaca Al Quran, berzikir, shalat, sehingga dengannya terwujud maksud dan tujuan I’tikaf
d. Ikhtiyar seperti ini dibangun karena menyesuaikan kondisi yang ada, namun ketika uzur ini telah hilang maka kembali kepada hukum asal yaitu I’tikaf harus di masjid, kecuali bagi wanita yang sebagian ulama memperbolehkan I’tikaf di mushalla rumahnya.
e. Pendapat yang mengatakan bolehnya I’tikaf di rumah itu lebih mengacu pada sisi maslahatnya, karena dalam rangka menjaga syiar dibulan Ramadhan, dan dalam Kaidah fiqih dikatakan,

” الإعمال مع سقوط بعض الشروط أولى من الإسقاط بالكلية”

Mengamalkan suatu amalan dengan menggugurkan sebagian syarat-syarat nya itu lebih baik dari pada meninggalkan amalan tersebut secara totalitas.

Wallahua’lam bish Shawab!

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id

    × Ahlan, Selamat Datang!