Keutamaan Memberi Makan Orang Yang Berbuka Puasa

oleh : Kholid Mirbah, Lc

Sifat dermawan adalah salah satu sifat terpuji, ia merupakan salah satu sifat yang dapat mengundang kecintaan Allah dan Rasul-Nya yang merupakan salah satu sebab pemilik nya meraih segala kemudahan di dalam sendi Kehidupan, mudah rizkinya, mudah meraih kesembuhan, mudah meraih jalan keluar dalam menghadapi persoalan hidup.
Sebaliknya sifat kikir dan pelit dalam kebaikan adalah sifat yang mendatangkan kebencian dari Allah dan Rasul-Nya, menyumbat aliran rizki serta dapat memutuskan rantai keberkahan yang Allah turunkan untuknya.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما من يوم يصبح العباد فيه إلا ملكان ينزلان فيقول أحدهما اللهم أعط منفقا خلفا ويقول الآخر اللهم أعط ممسكا تلفا

Artinya: “Tidak satu hari pun dimana seorang hamba berada padanya kecuali dua Malaikat turun kepadanya. Salah satu di antara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang kikir.” (H.R. Bukhari).

Ketika berbicara tentang kedermawanan Nabi saw, sahabat Anas ra pernah bercerita,

مَا سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الإسْلامِ شَيْئًا إلا أعْطَاهُ. قَالَ: فَجَاءَه رَجُلٌ (وفي رواية : سأل النبي صلى الله عليه وسلم غنما بين جبلين) فَأعْطَاهُ غَنمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ، فَرَجَعَ إلَى قَوْمِهِ، فَقَالَ: يَاقَوْمِ، أسْلِمُوا، فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِى عَطَاءً لا يَخْشَى الْفَقر،وإنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إلا الدُّنْيَا، فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ الإسْلامُ أحبَّ إلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا

“Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diminta sesuatu –demi untuk masuk Islam- kecuali Rasulullah berikan. Maka datang seseorang (dalam riwayat yang lain : Orang ini meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kambing sepenuh lembah diantara dua gunung) maka Nabi memberikan kepadanya kambing sepenuh lembah, lalu iapun kembali kepada kaumnya dan berkata, “Wahai kaumku, masuklah kalian ke dalam Islam, sesungguhnya Muhammad memberi pemberian tanpa takut kemiskinan sama sekali, Sungguh seseorang masuk Islam tujuannya hanyalah untuk mendapat harta duniawi, maka tidaklah ia masuk Islam hingga akhirnya Islam lebih ia cintai daripada dunia dan seisinya” (HR. Muslim).

Begitu pula para Sahabat Nabi saw, meskipun mereka mendapatkan jaminan surga, mereka adalah generasi terdepan di dalam kebaikan terutama dalam memiliki Sifat kedermawanan.

Dikisahkan bahwa Thalhah bin Ubaidillah menceritakan suatu hari datang pembagian harta dari Hadhramaut sebesar 700 ribu dirham (senilai 70.000 dinar/29,75 Kg emas). Malam itu, Thalhah tidak bisa tidur karena gelisah. Melihat kondisi Thalhah, sang istri Ummu Kultsum binti Abu Bakar Al-Shiddiq bertanya, “Ada apa denganmu?”

“Sejak tadi malam aku berpikir dan berkata kepada diriku sendiri. Apa pikiran hamba kepada Tuhannya, jika malam ini dia tidur dengan harta sebanyak ini ada di rumahnya? Jawab Thalhah.

“Bukankah engkau memiliki banyak saudara. Jika pagi telah terbit, letakkan harta tersebut di atas nampan dan wadah, lalu bagikan,” kata sang istri memberikan jalan ke luar.
“Engkau benar, Muwafiqah binti Muwafiq, semoga Allah merahmatimu.”
Maka ketika pagi menjelang, Thalhah pun membagi-bagikan harta tersebut kepada kaum Muhajirin dan Anshar.
Subhanallah begitu luar biasa para Sahabat Nabi saw, ketika mereka mendapatkan kelebihan harta, mereka tidak memperkaya diri sendiri, justru mereka ingat bahwa dalam harta mereka terdapat hak bagi yang membutuhkan untuk di salurkan.

Khususnya bulan Ramadhan ini kita dianjurkan untuk menjadi pribadi yang dermawan, dan diantara bentuk dari sifat kedermawanan adalah memperbanyak Sedekah makanan bagi orang orang yang buka puasa.

Begitu banyak pintu-pintu kebaikan di bulan Ramadhan, dan tidak ada sedekah terbaik yang lebih agung dibulan suci ini selain memberi makan orang yang berbuka puasa, khusunya bagi kalangan fakir dan orang-orang yang membutuhkan. Oleh karenanya, Allah swt memotivasi kita untuk memperbanyak panen kebaikan dengan cara banyak bersedekah di bulan Ramadhan, karena diantara karakteristik bulan ini adalah bulan cinta dan kasih sayang.
Mengenai keutamaan memberi makanan berbuka puasa Rasulullah saw bersabda :

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا) . صححه الألباني في صحيح الترمذي .

“Siapa yang memberi makan berbuka kepada orang yang sedang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikitpun juga.” (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Tirmizi)

Hadits ini berlaku umum, baik yang berpuasa itu orang kaya atau miskin, termasuk apakah dia kerabat atau selainnya.(Faidhul Qadir, Al-Munawi, penjelasan hadits no. 8890.)

Dan memang memberi makan kepada pihak yang membutuhkan memiliki kedudukan yang tinggi di dalam islam. Allah menjadikan amalan memberi makan merupakan salah satu cara penebusan kaffarat dan bentuk pembayaran fidyah, maka orang sakit yang tidak dapat diharapkan kesembuhannya, Orang yang berusia lanjut yang tidak mampu berpuasa maka ia wajib membayar fidyah dengan cara memberi makan orang miskin disetiap harinya. Sebagai mana firman Allah :

وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين

“Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” (Al Baqarah 184).

Begitu pula melakukan hubungan intim suami istri di siang hari bulan Ramadhan, maka pelakunya wajib membayar kaffarat dengan cara memberi makan 60 orang miskin jika ia tak mampu menebus nya dengan puasa dua bulan berturut-turut, dan juga kaffarat sumpah palsu diantara bentuk tebusan nya adalah memberi makan sepuluh orang miskin atau memberi pakaian untuk mereka.
Bahkan memberi makan kepada orang lain salah satu amalan yang memudahkan seseorang masuk ke dalam surga. Nabi Saw bersabda :

يا أيها الناس أفشوا السلام أطعموا الطعام وصلوا الأرحام وصلوا بالليل والناس نيام تدخلوا الجنة بسلام

Wahai manusia, tebarkalah salam, dan berikanlah makan, sambung tali Rahim, sholat malamlah ketika manusia tidur, maka engkau pun kan masuk surge dengan keselamatan (HR. Tirmidzi)

Dan diantara keutamaan memberi makan orang lain adalah bahwa ia termasuk amalan yang paling dicintai Allah swt. Nabi Saw bersabda :

عن عبد الله بن عمرو أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه وسلم : أي الإسلام خير ؟ قال : ” تطعم الطعام وتقرأ السلام على من عرفت ومن لم تعرف ” .

Artinya: Dari Abdullah bin Amr, bahwa seorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Islam yang bagaimana yang lebih utama? Maka beliau menjawab, “Memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal. (HR. Bukhari).

Dan yang paling penting diantara keutamaan memberi makan kepada orang lain adalah memperoleh keselamatan dari malapetaka di hari kiamat. Allah swt ingatkan hal tersebut di dalam Al-Quran.

(وَیُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسۡكِینࣰا وَیَتِیمࣰا وَأَسِیرًا إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِیدُ مِنكُمۡ جَزَاۤءࣰ وَلَا شُكُورًا إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا یَوۡمًا عَبُوسࣰا قَمۡطَرِیرࣰا فَوَقَاهُمُ ٱللَّهُ شَرَّ ذَ ٰ⁠لِكَ ٱلۡیَوۡمِ وَلَقَّاهُمۡ نَضۡرَةࣰ وَسُرُورࣰا)

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan,(sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.Sungguh, kami takut akan (azab) Tuhan pada hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan.
Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan.” (Surat Al-Insan 8-11)

Dan diantara potret kehidupan Salafus Shalih di dalam kebaikan adalah mereka generasi yang bersemangat di dalam memberi sedekah makanan kepada orang lain, khususnya di bulan suci ramadhan, bahkan diantara mereka ada yang mendahulukan kebutuhan makanan saudaranya dibanding kebutuhan makanan pribadinya sendiri, padahal ia sendiri sangat membutuhkan nya, mereka lakukan hal itu semata mata mengharap ridho dan pahala dari Allah swt.

Diantara mereka adalah Abdullah ibnu Umar, Malik bin Dinar, Ahmad bin Hanbal, bahkan Ibnu Umar ra tidaklah mau berbuka kecuali bersama anak-anak yatim dan orang-orang miskin bahkan bisa jadi tak mau berbuka jika keluarganya menolak mereka pada malam itu. (Ibnu Rajab dalam kitab Ikhtiyarul Aula fi syarhi haditsi ikhtishamil mala’il a’la, 78)

Diantara mereka ada yang ada yang berbuka bersama pembantu pembantu mereka dan memberikan keringanan beban pekerjaan kepada mereka khusus di bulan Ramadhan, diantara nya adalah Hasan dan Abdullah Ibnu Mubarak. (Tadzkirotul Ikhwan bi Hadyi an-Nabi saw was Salaf fi Ramadhan, 21).

Abu Siwar Al Adawi berkata : Ada beberapa orang dari bani Adi yang sholat di masjid, salah seorang dari mereka tidak mau berbuka sendirian, kecuali ia berbuka bersama orang lain, atau ia orang lain berbuka bersamanya. (Ibnu Rajab, Ikhtiyar Aula fi syarhi haditsi ikhtishamil mala’il a’la, 79)

Yunus bin Yazid berkata : Dulu Ibnu Shihab Az-Zuhri ketika tiba bulan Ramadhan maka aktivitasnya hanya membaca Al-Quran dan memberi makan orang berbuka. (Ibnu Abdil Bar dalam kitab At-tamhid, 6/111)

Dulu Imam Hammad bin Sulaiman (Guru Abu Hanifah) biasa memberikan makanan iftar dibulan Ramadhan sebanyak 500 orang, dan ketika tiba hari raya idul fitri beliau memberi sedekah setiap dari mereka sebanyak 100 dirham. (Siyar alam Nubala 5/334)

Dan perlu diingat bahwa sedekah yang kita keluarkan tadi tidak akan mengurangi harta kita, bahkan diganti Allah dengan harta dan pahala yang berlipat ganda, karena
terkadang Allah membuka pintu rizki yang luas dari harta yang disedekahkan. Sebagaimana terdapat dalam hadits,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim).

Maksud hadits di atas sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah:

1) Harta tersebut akan diberkahi dan akan dihilangkan berbagai dampak bahaya padanya. Kekurangan harta tersebut akan ditutup dengan keberkahannya. Ini bisa dirasakan secara inderawi dan kebiasaan.

2) Walaupun secara bentuk harta tersebut berkurang, namun kekurangan tadi akan ditutup dengan pahala di sisi Allah dan akan terus ditambah dengan kelipatan yang amat banyak. (Syarh Shahih Muslim, 16: 128).

Mudah-mudahan kita diberikan kemudahan oleh Allah swt untuk mendermakan sebagian harta kita dibulan Ramadhan, khususnya dalam memberikan sedekah makanan bagi orang yang sedang berbuka, dengan harapan kita pahala dan surga di sisi Allah swt.

Cibubur, 1 Mei 2020

Ramadhan-Quran

Keadaan Salafus Shalih Di Bulan Ramadhan

Oleh Al Ustadz Khalid, Lc Hafidzahullah.

Allah swt memberikan banyak sekali keutamaan dan kebaikan di bulan Ramadhan. Karena bulan Ramadhan adalah bulan taubat, pengampunan, penyucian jiwa, penghapusan dosa dan kesalahan, pembebasan dari siksaan neraka, terbukanya pintu-pintu surga, tertutupnya pintu-pintu neraka, terbelenggunya setan, terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu malam, bulan penuh dengan kebaikan, kedermawanan dan doa doa yang terkabul.

Oleh karena itu, para salafus shalih tidak menyia-nyiakan musim kebaikan tersebut, sehingga mereka berlomba lomba beribadah dan bersungguh sungguh dalam beramal shalih dalam rangka untuk meraih ridho dan pahala dari Allah swt.

Sebelum kita membahas tentang keadaan salafus shalih di bulan Ramadhan maka alangkah baiknya kita terlebih dahulu menilik keadaan Qudwah kita dan Qudwah Salaf Shalih yaitu Baginda kita Nabi Muhammad saw di bulan Ramadhan. Al Imam Ibnu Qayyim berkata “Diantara sebagian petunjuk Nabi saw di bulan Ramadhan adalah memperbanyak variasi ibadah, dulunya Jibril as gemar mengajari Nabi saw Al Quran dibulan Ramadhan, dan Jibril mendapati Nabi saw lebih dermawan dari angin yang berhembus, beliau adalah sosok yang paling dermawan dibanding yang lain, terlebih lagi di bulan Ramadhan, beliau memperbanyak Sedekah, berbuat baik, membaca Al – Quran, shalat, zikir dan I’tikaf, beliau sangat mengistimewakan bulan Ramadhan dengan semangat ibadah dibanding bulan bulan yang lain, sehingga tidak terlewatkan sedetikpun waktu siang dan malam beliau kecuali diisi dengan ibadah (Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Juz 2/30).

Salafus Shalih kita begitu sangat memperhatikan bulan Ramadhan, mereka bersungguh sungguh untuk mengisi hari hari mereka dengan berbagai ketaatan dan amal shalih. Mereka adalah generasi terdepan didalam kebaikan, terdepan dalam bertaubat kepada Allah swt.

Nah, Bagaimana kesungguhan Salafus Shalih dalam aktivitas ibadah di bulan Ramadhan?

1. Salafus Shalih bersama Al -Quran di bulan Ramadhan.

Kita telah dapati pemandangan yang sangat menakjubkan bagaimana interaksi mereka terhadap Al Quran selama bulan Ramadhan, mereka adalah sosok yang menaruh perhatian yang besar terhadap Al Quran Khusus nya dibulan Ramadhan.
Lihatlah Imam Bukhari ra ketika tiba malam pertama bulan Ramadhan, beliau menjadi Imam shalat bersama Sahabat-sahabat nya, lalu beliau membaca 20 ayat disetiap Rakaat nya sampai mengkhatamkan Al-Quran. Beliau membaca Al Quran di waktu Sahur antara sepertiga sampai setengah Al Quran, sampai beliau menghatamkannya ketika datang waktu berbuka disetiap harinya. Lalu beliau berkata : Setiap selesai Khataman Al Quran terdapat doa yang mustajab (Sifatus Shafwah Juz 4/170).

Diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i Menghatamkan Al Quran di bulan Ramadhan sebanyak 60 Kali selain yang beliau baca dalam shalatnya. Sebagaimana hal itu disampaikan imam Ar-Rabi’ bin Sulaiman (Sifatus Shafwah Juz 2/255).

Terkadang kita mendapati kerancuan karena adanya riwayat dari Nabi tentang larangan bagi orang yang mengkhatamkan Al Quran kurang dari 3 hari, Kenapa mereka malah menyelisihi larangan tersebut?

Maka Ibnu Rajab Al Hanbali menjawab bahwa larangan tersebut berlaku apabila dilakukan terus menerus, adapun di waktu waktu yang agung seperti bulan Ramadhan terkhusus malam 10 terakhir ramadhan yang didalamnya terdapat malam Lailatul Qadar atau di tempat tempat yang agung seperti memasuki kota makkah maka ini sangat dianjurkan memperbanyak khataman Al Quran sebagai bentuk penghormatan terhadap waktu dan tempat yang suci tersebut.

2. Salafus Shalih ketika menghidupkan Qiyam Ramadhan.

Qiyamul lail adalah tradisi orang-orang shalih, perniagaan orang-orang beriman dan amalan orang-orang yang beruntung. Di malam hari seorang mukmin berkhalwat bersama Tuhannya, berdoa, bermunajat serta mengadukan permasalahan hidup kepada sang Khaliq.

Al-hafidz Imam Az Zahabi bercerita tentang Muhammad Al Labban :
“Beliau pernah mendapati bulan Ramadhan di tahun 427 H di Baghdad, beliau sholat tarawikh bersama orang-orang dalam setiap malamnya selama sebulan penuh. Dan beliau jika sudah selesai sholat, maka senantiasa beliau sholat hingga waktu subuh. Jika sudah sholat subuh, maka beliau melanjutkannya dengan membuka majlis bersama sahabat-sahabatnya. Beliau pernah berkata, “ Aku tidak pernah meletakkan pinggangku untuk tidur selama sebulan ini baik siang atau pun malam “.[Tarikh al-Islam : juz 1/3145].

Diriwayatkan oleh Saib bin Yazid bahwasanya Khalifah Umar bin Khattab ra memerintahkan Ubay bi Ka’ab dan Tamim Ad-Dari untuk membangunkan orang-orang supaya Qiyam Ramadhan, lalu sang Imam pun membaca surat surat miun (yang ayatnya berjumlah 100 lebih), sampai saking letihnya kami dari lamanya berdiri, kamipun sampai berpegangan tongkat, kamipun baru selesai darinya ketika menjelang subuh (Riwayat Imam Baihaqi dalam Sunan-nya).

Diriwayatkan dari Malik dari Abdullah bin Abu Bakar berkata, bahwasanya aku mendengar ayahku berkata : Kami selesai menunaikan Qiyam Ramadhan, maka pembantu kami tergesa gesa memasakkan kami makanan khawatir tiba waktu subuh. (Al- Muwatta’ karya imam Malik).

Diriwayatkan oleh Daud bin Hushain dari Abdurrahman bin Hurmuz, beliau berkata : Imam shalat Kami Mengimami kami 8 rakaat dengan membaca surat Al Baqarah, ketika ia mengimami kami 12 rakaat dengan bacaan yang sama, maka orang-orang menganggap bahwa sang Imam meringankan beban mereka.(Riwayat Imam Baihaqi dalam Sunannya).

Oleh karena itu mari kita pergunakan kesempatan bulan Ramadhan ini untuk menuai pahala sebanyak-banyak nya dengan kesungguhan ibadah dan memperbanyak amal shalih jangan sampai kita sia-siakan kesempatan emas ini karena belum tentu kita bisa bertemu ramadhan tahun depan, bahkan bisa jadi ini bulan Ramadhan terakhir kita, makanya Al Imam Ibnu Qayyim mengingatkan betapa bahayanya perbuatan menyia-nyiakan waktu

إضاعة الوقت أشد من الموت لأن إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة والموت يقطعك عن الدنيا وأهلها

Menyia-nyiakan waktu itu lebih dahsyat dari kematian, karena menyia-nyiakan waktu memutuskan mu dari Allah dan negeri akhirat sedangkan kematian hanya memutuskan mu dari dunia dan penghuninya.

Semoga Allah menerima seluruh ibadah yang kita tunaikan selama Ramadhan ini dan mudah-mudahan Allah swt jadikan bulan Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan terbaik dalam hidup kita

Teladan Generasi Hebat Dalam Membaca Al Quran

Alquran memiliki hubungan erat dengan bulan suci Ramadhan karena Alquran pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan (QS al-Baqarah: 185). Keutamaan suatu hari atau bulan biasanya disebabkan adanya peristiwa yang terjadi pada hari atau bulan tersebut.

Oleh sebab itu, Rasulullah lebih sering dan lebih banyak membaca Alquran pada bulan ini dibandingkan bulan-bulan lainnya. Bahkan, Malaikat Jibril pun turun langsung untuk me-murajaah atau mengecek bacaan Alquran beliau.

Imam Azzuhri mengatakan, “Amalan yang afdhal pada bulan Ramadhan setelah amalan puasa adalah tilawatul Quran.” Atas dasar hubungan inilah, umat Islam sejak zaman Nabi SAW sampai sekarang mengkhususkan sebagian besar waktunya pada Ramadhan untuk tilawatul Quran.

Utsman bin Affan radiyallahuanhu mengkhatamkan Alquran setiap hari, sebagian sahabat lainnya mengkhatamkannya dalam tiga hari. Ada yang mengkhatamkannya setiap 10 hari sekali. Qatadah selalu, mengkhatamkannya dalam sepekan selama Ramadhan setiap tahun.

Imam Syafii mengkhatamkannya 60 kali selama Ramadhan, selain bacaan dalam shalat. Imam Malik kalau sudah memasuki bulan Ramadhan meninggalkan membaca hadis dan mengkhususkan untuk memperbanyak tilawatul Quran.
Demikian juga Sufyan ats-Tsauri mengkhususkan membaca Alquran dan mengurangi ibadah-ibadah sunah lainnya.

Maka moment Ramadhan hendaknya mari kita jadikan sebagai Syahrul Quran, kita perbanyak berinteraksi dengan Al Quran di dalamnya agar predikat ketaqwaan mudah kita raih.

Dan ini sebagian potret kegiatan santri kami di Ma’had Al Itqan Islamic Boarding School, meski sedang menjalani masa liburan, Santri kami Abdullah Al Harits (Fajar Munawwar) sedang terlihat asik membaca dan menghayati untaian demi untaian kalam ilahi bersama kawan kawan nya di masjid di kampung halamannya, terdengar lirih merdu lantunan ayat Al-quran yang dibaca. Mudah mudahan kita dan keluarga kita, Allah jadikan sebagai Hamba hamba-Nya yang selalu dekat dengan Al Quran dengan harapan meraih syafaat-Nya pada hari kiamat nanti.

 

Oleh: Ust Khalid Mirbah, Lc

Menunggu Anak Bulan Ramadhan Lahir

Suhu panas sudah mulai terasa, bau – bau musim panas sudah pun mulai terendus dari teriknya cahaya matahari yang setiap hari menguras keringat badan, sebagai tanda musim panas akan segera tiba, sekaligus memberi isyarat Ramadhan akan datang, secara lafziyah Ramadhan berarti pula Panas yang menyengat, menggugurkan dan menghilangkan dosa.

Detik – detik menegangkan itu kelihatannya akan segera dirasakan banyak orang, bahkan sebahagian orang jauh – jauh hari sudah mulai persiapan, untuk menunggu detik – detik bulan melahirkan anaknya yang kian dinantikan kaum muslimin seluruh dunia, sebagian orang telah standby mengamati dari berbagai tempat, dari bukit yang tinggi hingga tepi laut sudah siaga dengan berbagai alat yang cukup canggih, benar – benar kelahiran yang sangat istimewa, kelahiran yang dapat merubah keadaan masyarakat dunia, berikut pula lahir dan batin manusia.

Bahagianya hati tidak tertahankan begitu anak bulan yang mungil nampak jauh di ufuk itu dikabarkan telah benar – benar lahir, beragam ekspresi manusia dalam menunjukkan kebahagiaan itu, dengan sujud syukur, syukran keluarga dengan makan bersama, hingga bakar mercon dan kembang api, namun bila berlebihan hingga mubadzir tentu lah tidak dianjurkan.

Nabi Shallahu alaihi wasallam memberi kabar gembira ini kepada para sahabatnya bila bulan Ramadhan telah tiba

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi. (HR Ahmad dalam Al-Musnad (2/385). Dinilai shahih oleh Al-Arna’uth dalam Takhrijul Musnad (8991).

Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan,
“Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan). Latha’if Al-Ma’arif hlm. 148.

Kebahagiaan kali bukan karena urusan dunia yang hendak dicapai atau keuntungan yang diharapkan melainkan janji pahala berlipat ganda berikut ampunan untuk sekian tumpukan dosa yang telah menggunung pun akan diampunkan, inilah janji Allah untuk mereka yang berpuasa dan beribadah di bulan Ramadhan.

Dalam sebuah Hadits Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ –صلى الله عليه وسلم- قَالَ: يَقُولُ الله عَزَّ وَجَلَّ: الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِي وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ ، وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ الله مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ .

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Al – Bukhari dan Muslim).

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah di Lathaif Al-Ma’arif mengatakan, “Sebagaimana pahala amalan puasa akan berlipat-lipat dibanding amalan lainnya, maka puasa di bulan Ramadhan lebih berlipat pahalanya dibanding puasa di bulan lainnya. Ini semua bisa terjadi karena mulianya bulan Ramadhan dan puasa yang dilakukan adalah puasa yang diwajibkan oleh Allah pada hamba-Nya. Allah pun menjadikan puasa di bulan Ramadhan sebagai bagian dari rukun Islam, tiang penegak Islam”.

Rasa bahagia dengan syarat Allah ini semoga menjadi salah satu bukti kebenaran iman kita kepada Allah, semoga Allah memberikan kesempatan bagi kita semuanya untuk bertemu dengan bulan Ramadhan, serta memberikan kemudahan untuk beribadah kepadaNya, barakallahu fiekum.

Penolakan Pasien dan Korban Virus Corona, Grand Syekh Al-Azhar: Haram Menurut Syariat

Siapa yang tidak ingin ketika meninggal, jasadnya diurus dengan sebaik-baiknya oleh orang sekitar? Semua pasti memimpikan hal tersebut, bukan? Manusia adalah makhluk sosial, saling membutuhkan satu sama lain. Bahkan ketika mati sekalipun, setidaknya kita membutuhkan satu dua orang untuk memandikan, menshalati, memikul, menggali kubur, sampai menguburkan jasad kita.

Karena sampai saat ini, belum ada satupun kasus mayit melakukan semua hal tersebut sendiri, dan tidak akan pernah terjadi.
Semakin bertambahnya jumlah orang yang terjangkit dan banyaknya jiwa yang berguguran, membuat sebagian orang panik dan merugikan sekitar. Tidak hanya panic buying dan pengusiran tim medis Corona saja yang terjadi. Kabar kurang sedap lain juga sedang beredar belakangan ini. Tidak hanya di Indonesia, di Mesir pun hal tersebut terjadi, tepatnya di Timur Laut Delta Nil, Ad-Daqahliyah. Kabar yang dimaksud adalah kabar penolakan pemakaman pasien terinveksi virus Corona atau Covid 19 oleh masyarakatnya sendiri. Bentrokan pun tidak dapat dihindari, hingga kemudian berujung kepada penahanan.

Merespon hal tersebut, para ulama pun turut bersuara, di antaranya adalah Grand Syekh Al-Azhar, Syekh Prof. Dr. Ahmad Muhammad Ahmad At-Thayyib. Seperti yang dimuat youm7 pada tanggal 12 April 2020, di antara pernyataan beliau adalah, “Menolak memakamkan atau mengejek orang yang meninggal karena Corona hukumnya haram menurut syariat.” Selain haram menurut syariat, beliau juga menegaskan bahwa hal tersebut merupakan seburuk-buruknya akhlak. “Tidak boleh hukumnya baik secara syar’i maupun kehormatan, seseorang mengejek dan merendahkan orang lain yang terjangkit wabah ini atau mati karenanya,” tegasnya.

Selain grand Syekh Al-Azhar, Mufti Besar Lembaga Fatwa Mesir (دار اللإفتاء المصرية), Syekh Prof. Dr. Syauqi Abdul Karim ‘Allam juga mengeluarkan fatwa yang serupa dan dimuat di Facebook resmi darul ifta’ pada tanggal 11 April 2020, yang inti dari fatwa tersebut adalah sebagai berikut:
1. Allah ta’ala memuliakan seluruh manusia. Penghormatan ini Allah ta’ala berikan kepada manusia bahkan sampai setelah kematiannya. Tidak ada perbedaan antara muslim atau yang lainnya, antara yang miskin atau yang kaya, antara orang yang sehat atau yang sakit.
2. Di antara bentuk penghormatan yang paling penting kepada manusia setelah ruh keluar dari jasadnya adalah dengan segera memandikannya, menshalatinya, mengantar jenazahnya ke pemakaman lalu menguburkannya. Ini adalah konsesnsus umat Islam sejak zaman nabi Muhammad shallahu alaihi wasallam sampai hari ini. Imam salaf, Ayyub As-Sakhtiyani rahimahullah mengatakan, “Pemuliaan Mayit adalah dengan menguburkannya.” Hal ini didukung oleh apa yang telah diriwayatkan Al-Baihaqi di dalam Sya’bul Iman, dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu dia telah berkata, aku telah mendengar Nabi shallahu alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian meninggal, maka janganlah kalian menahannya dan segeralah menguburkannya.”
3. Oleh karena itu, tidak dibolehkan untuk siapapun menghalangi saudaranya sesama manusia untuk mendapatkan hak tersebut.
4. Tidak boleh dengan alasan apapun mem-bully pasien Corona.
5. Tidak boleh melakukan provokasi seperti menolak pemakaman korban virus Corona, di mana penolakan seperti ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan nilai-nilai agama dan moral kita.
6. Orang yang meninggal karena virus Corona, dalam agama kita mereka dikatagorikan sebagai mati syahid karena telah merasakan sakit, capek, dan menderita, hingga meninggal dalam keadaan sabar. Terlebih apabila mereka adalah para dokter dan tim medis yang setiap waktunya menghadapi kematian untuk keselamatan orang lain, maka memuliakan dan memenuhi haknya adalah wajib.
7. Wajib kifayah hukumnya atas setiap muslim yang di lingkungannya terdapat korban meninggal dunia karena virus Corona, untuk segera menguburkannya sesuai tuntuna syariat, dengan mengikuti prosedur kesehatan.

Bukan hanya tokoh dan lembaga keagamaan di Mesir saja yang berpandangan demikian. Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan pendapat yang serupa. Pernyataan mereka sudah banyak diberitakan dan disebar luaskan media tanah air.

Karenanya, mengejek dan memprovokasi massa untuk menolak dan merendahkan korban corona sama sekali tidak dibenarkan, baik secara syariat maupun akhlak dan moral. Waspada boleh, sangat dianjurkan malah. Tapi tidak dengan panik yang dapat merugikan orang lain. Agama kita indah, sempurna. Mulia dan memuliakan. Semoga Allah ta’ala menjaga kita semua dari wabah ini dan dari penyakit yang lain. Semoga wabah ini segera diangkat, sehingga kita segera dapat kembali menghirup udara segar tanpa rasa khawatir dan beraktifitas seperti biasa. Aamiin.

 

Oleh: Ahmad Ahmad Hakiki

Virus Korona: Siapakah Hari Ini Yang Merasa Aman?

Wahai Ummat Manusia, Siapakah hari ini yang merasa aman?

Mereka yang meyakini bahwa proses alam terjadi secara tabiat, dan tidak meyakini adanya Tuhan, Hari ini, mereka hidup dalam keadaan sangat ketakutan.

Secara tabiat, alam ini menciptakan virus yang mematikan dan menghancurkan (Baca; Corona Virus). Virus tersebut mampu membunuh setiap jiwa-jiwa yang bernapas, dan menghancurkan kehidupan manusia hanya dalam hitungan hari. Pada saat itu pula, kehancuran pasti akan tiba.

Mereka yang meyakini hal demikian adalah termasuk orang-orang yang tidak aman.
Adapun mereka yang meyakini bahwa di balik bencana ini, terdapat suatu oknum yang kejam dan dzalim yang ingin menghancurkan alam semesta ini dengan tujuan tertentu, mereka memiliki kekuasaan di muka bumi ini, dan mereka mampu melakukan apapun untuk memenuhi hawa nafsunya,
Hari ini, mereka hidup dalam  keadaan sangat ketakutan.

Tatkala oknum tersebut mengumumkan, bahwa mereka telah menyebarluaskan virus mematikan, menghancurkan setiap penduduk negeri dan memporak-porandakan setiap bangsa, dengan tujuan menciptakan tatanan dunia baru. Pada saat itu pula, kehancuran pasti akan tiba.

Mereka yang meyakini hal demikian adalah termasuk orang-orang yang tidak aman.
Sedangkan mereka yang meyakini adanya Tuhan, yang menciptakan alam semesta ini, Yang Maha Kuasa dan Maha Segala-galanya. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah baik yang di langit maupun di bumi, ketika Dia berkehendak akan sesuatu, Dia hanya berfirman “Jadilah!”, maka jadilah sesuatu itu. Milik-Nyalah  kunci-kunci perbendaharaan baik di langit maupun di bumi, dan Rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, tak ada satupun yang mampu menandingi-Nya.

Mereka yang meyakini hal demikian, dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, Maka ketahuilah, sungguh mereka adalah termasuk orang-orang yang aman.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam surat Al-An’am [6]: 82, yang berbunyi,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Artinya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.”

*Penerjemah: Muhammad Munib,
Mahasiswa Al Azhar, Kairo

Dari status bahasa Arab “Muhammad Nedhal”.

Makhluk Kecil Itu Menyadarkan Kita

Malam ini masih sama seperti malam kemarin, sepi dan lengang. Tidak lagi terlihat dan terdengar ramainya malam Ibu Kota Mesir, Kairo. Tidak ada lagi terdengar teriakan kondektur bus atau supir tramco mencari penumpang. Tidak ada lagi terlihat iringan mahasiswa berangkat ke tempat pengajian. Bahkan, kafe-kafe pun sudah terlihat layaknya ruangan kosong tak berpenghuni. Iya. Kota ini telah berubah sejak makhluk kecil itu menyerang. Tidak. Tapi bukan kota ini saja, melainkan hampir seluruh kota di penjuru dunia.

Korban tentu saja masih terus berjatuhan. Para pemimpin dunia dan tenaga medis dibuat kwalahan. Hingga saat ini, sudah lebih dari satu juta orang yang terjangkit, dan lebih dari 80 ribuan jiwa yang meninggal. Tentu bukan angka yang kecil. Hal tersebut kemungkinan besar akan masih terus bertambah, entah sampai kapan.

Selain kematian, ada banyak hal yang ditimbulkan oleh makhluk kecil yang dikenal dengan Corona atau Covid-19 ini. Kita tidak berbicara tentang turunnya omset yang didapatkan pengusaha. Kita juga tidak berbicara tentang susahnya mahasiswa di rantau orang yang harus bersusah payah mencari pinjaman atau meminimalisir pengeluaran, hanya untuk tetap bisa makan paling tidak sekali sehari dikarenakan naiknya nilai dolar dan berhentinya kiriman dari kampung.

Masih ada kaum papa yang jauh lebih menderita dari mereka, yang di hari normal saja tidak ada rumah untuk berteduh dan makanan untuk mengganjal rasa lapar.
Ada satu hal yang diajarkan Islam untuk disadari, diperhatiakan dan diambil dari setiap kejadian dan peristiwa, yaitu hikmah dan pelajaran. Termasuk hikmah dan pelajaran dari peristiwa mewabahnya makhluk kecil ini. Iya, Virus Corona ata Covid-19 yang bahkan tenaga medis pun banyak bertumbangan karenanya. Bukan hanya rakyat biasa dan tenaga medis, akan tetapi juga para petinggi negara, politikus, pengusaha, olahragawan, hingga para pemuka agama pun tidak luput dari serangannya.

Di antara hikmah dan pelajaran yang patut untuk diperhatikan dan direnungkan dari peristiwa ini adalah, makhluk ini telah menyadarkan kita yang selama ini lalai, kalau kita adalah makhluk lemah yang tidak akan mampu melakukan apa pun kecuali atas izin Allah ta’ala.

Dulu, begitu mudahnya kita bersikap pongah, seolah-olah kita tuhan yang tidak membutuhkan siapapun. Cukup dengan makhluk kecil ini, ia telah dapat mengembalikan kesadaran kita untuk kembali percaya kekuasaan Allah ta’ala, dan membuat kita sadar akan jati diri kita yang lemah tak berdaya, bahkan untuk menghadapi makhluk kecil sekali pun yang tidak tampak kasat mata, yang memaksa kita harus berserah diri dan berdoa memohon perlindungan kepada Allah ta’ala.

Makhluk kecil ini juga telah menyadarkan kita kalau kesehatan, keselamatan dan kehangatan keluarga jauh lebih berharga dan lebih penting dari tumpukan materi yang selama ini dikejar. Makhluk kecil ini telah mampu mengumpulkan semua anggota keluarga untuk bersatu lagi di rumah mereka setelah sekian lama berpisah dan terpisah karena berbagai kesibukan.

Dia juga menyadarkan pentingnya menjaga kebersihan diri hingga peduli akan lingkungan dan sekitar, Makluk ini juga telah menyadarkan kita yang barang kali selama ini banyak lupa dan lalai, bahwa apapun yang ada pada kita saat ini merupakan titipan dari Allah ta’ala yang bisa diambil sewaktu-waktu, tanpa menunggu kita sudah siap atau belum. Salah satunya adalah kesempatan. Kesempatan memperbaiki hubungan bersama keluarga, orang sekitar, kesempatan mencari pendapatan yang halal, hingga kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah ta’ala .

Sesuatu yang paling jauh bukanlah jarak antara Kutub Utara dan Kutub Selatan. Bukan, bukan itu. Sesuatu yang jauh itu adalah masa lalu, kesempatan yang telah berlalu.  Ia akan terus melaju, tidak peduli kita berlari atau berhenti. Perihal ini, nampaknya kita belum benar-benar menyadari, bahwa ada sekian kesempatan yang telah terlewati.

“Ah, males ah, masih banyak kerjaan. Capek nih, ntar aja deh. Nanti kan masih bisa. Tahun depan kan masih bisa,” pikir kita saat Ramadan tahun lalu, tanpa menyangka kalau Ramadhan tahun ini terancam tanpa tarawih, kajian, iktikaf, hingga salat ied dan rangkulan hangat saat lebaran.

Akhir-akhir ini juga mungkin sering terjadi memasang, mendengar alarm, lalu dimatikan. Lebih memilih untuk melanjutkan tidur. Coba kita pikir sejenak, membuka mata saja masih ditunda-tunda, apa lagi dengan hal besar lainnya?

Kini, masjid-masjid sudah ditutup. Lafaz azan berubah. Tidak ada lagi himbauan shalat berjamaah di masjid, melainkan shalat di rumah sendiri-sendiri. Mekah sepi, Madinah lengang. Kedua kota suci itu kini menutup diri. Umroh disetop, haji tahun ini terancam dibatalkan. Kumpulan massa, sekalipun untuk kajian keagamaan kini telah dilarang.

Barangkali ini adalah peringatan dari Allah ta’ala bagi kita. Barangkali Allah ta’ala mengirim makhluk kecil itu untuk menyadarkan kita yang selama ini lalai, agar mulai memperbaiki kualitas hidup dan ibadah kita yang barangkali selama ini masih ‘kosong’. Dia Allah kirimkan untuk memaksa kita kembali menyerahkan diri kepada-Nya. Bukan pada dinding ka’bah, tidak di dalam masjid, bukan di dalam thawaf, tidak di majelis-majelis taklim, melainkan pada kesendirian dan keterisolasian kita, dengan memperbanyak muhasabah.

Hari ini, kita dapat menyadari bahwa kita hanyalah sekumpulan makhluk lemah tak berdaya tanpa bantuan-Nya. Kita tidak dapat lagi mengandalkan logika biasa ataupun kecanggihan teknologi manusia tanpa pertolongan dan bantuan dari Allah ta’ala, karena makhluk kecil itu telah menyadarkan kita….

Oleh: Ahmad Akbar Hakiki
Mahasiswa Al Azhar, Kairo

Peran Turast  (Al Quran dan Sunnah) Dalam Perkembangan Islam

Bagaikan mentari yang terbit setelah alam diliputi kegelapan malam , mungkin seperti  itulah gambaran ketika Nabi Muhammad ﷺ datang membawa Islam ke Arab Jahiliah, dengan Kenabian yang ada dalam diri beliau dan Al quran yang menjadi pedoman beliau bahkan menjadi mukjizat terbesar ummat ini, Akhirnya kegelapan dan kebodohan yang mengakar di lingkungan Arab jahiliah, tersingkirkan oleh cahaya keislaman yang Allahﷻ anugrahkan untuk pengikut Nabi Muhammad ﷺ.

Kurang lebih setelah 13 tahun Rasulullah ﷺ berdakwa di negri makkah dan madinah, dakwah yang diawali secara diam-diam ini atau lebih dikenal dengan sebutan dakwah sirriah, hingga kemudian turunlah perintah kepada Rasullah ﷺ untuk menyerukan dakwahnya secara terang2an (Dakwah jahriah)  kepada penduduk Makkah, dimulai dari kerabat dan keluarga beliau. Perintah ini tersirat dalam surat  Asy Syu’ara  ayat : 214, Allah ﷻ berfirman :
‎وَأَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الأَقْرَبِيْنَ
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.

Maka mulailah Islam tersebar kependuduk Makkah yang kemudian setelah Rasullah ﷺ berhijarah ke negri Madinah, mulailah pula Rasullah ﷺ mengirim surat ke raja-raja diluar jazirah Arab. di antaranya Raja Heraclius, Penguasa Romawi Timur, kemudian Raja Negus, Penguasa Abessinia, juga ke Raja Muqauqis, Penguasa Koptik Agung Mesir, dan Rasullah ﷺ juga mengirim surat ke Raja Kisra Penguasa Persia dan penguasa-pengua di sekitar semenanjung Arab. Setelah Rasullah ﷺ berpulang ke hariban Allah ﷻ terjadilah peluasan dakwah yang dilakukan oleh Khulafaurrasyidin yang memberi dampak sangat besar dalam perkebangan agama islam juga peluasan kekuasaan islam yang sudah memiliki Tatanan Sendiri, yang tidak lain warisan dari Rasulullah ﷺ yang beliau dirikan di kota Madinah.

Tidak berhenti sampai disini, bagaikan panah yang melesat dari busurnya, islam makin melejit ke pelosok-pelosok negri ditangan para penguasa-penguasa dinasti islamiyah, diantaranya dinasti-dinasti besar seperti Umawiyah kemudian Abbasiah dan Utsmaniah. dinasti yang berdiri  setelah berakhirnya masa khilafaurrosyidin.

Semua kejayaan yang islam raih dari masa ke masa tidak lepas dari berpegang teguhnya kaum muslimin dengan 2 penyokong utama agama ini. Al qur’an dan Hadits. dari dua sumber inilah para ulama menyerap bermacam-macam  fan keilmuan, dari ilmu duniawi sampai ilmu yang berkaitan dengan akhirat, semua terangkum rapi dalam kalam suci yang Allah sematkan kedalam dada sang Baginda Rasulullah ﷺ.

Pada masa dinasti Abbasiah, masa dimana islam berada dipuncak kejayaannya, masa dimana ummat islam mengukir prestasi yang gemilang, masa dimana ummat islam melahirkan ilmuan-ilmuan yang menyumbang peradaban Dunia. lahirlah 5 ilmuan Abbasiah yang bisa dikatakan menjadi pelopor ilmu pengetahuan yang kedepannya sangat berdampak pada perkembangan pengetahuan manusia dibidang ilmu pengetahuan seperti Astronomi, kedokteran, kimia, matematika dan filsafat. Mereka adalah ; Musa Ibrahim Al-Farazi seorang ahli astronomi yang memiliki karya bernama Al-magest, sebuah naskah astronomi yang beliau terjemahkan dari india yang berjudul Brahmasoutrasidanta. Kemudian ada Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina.

Tentu namanya tidak asing lagi ditelinga kita, beliau adalah bapak pengobatan modern, seorang ilmuan muslim yang memiliki keahlian dalam bidang kedokteran. Karyanya yang termasyhur adalah al-qonun fi Thibb atau yang lebih masyhur dikalangan ilmuan barat dengan sebutan the canon of medicine. Karya ini menjadi rujukan pengobatan oleh ilmuan-ilmuan modern. Selanjutnya ada Abu Musa Jabir bin Hayyan. Salah satu tokoh dari ilmuan Abbasiah yang memiliki keahlian dalam bidang kimia. Salah satu karyanya yang berjudul al-kimya diterjemahkan kedalam bahasa inggris yang berjudul The Book of the Composition of Alchem.

Ilmuan berikutnya adalah ilmuan Matematikawan sekaligus penemu angka nol dan penemu Al jabar; dia adalah Abu Walid Muhammad bin Musa al-Khawarizmi, pastinya tidak terbayang bagaimana ribetnya menjumlah jika tidak ada angka nol. Dan yang kelima dari lima ilmuan hebat dinasti abbasiah adalah; Abu Walid Muhammad bin Muhammad Ibnu Rusyd.

Seorang tokoh filsafat dam memiliki karya besar dibidangnya, yaitu Kitab Mabadi al-Falsafah. Tentunya masih banyak lagi ilmuan-ilmuan muslim yang telah menorehkan karyanya ke langit peradaban dunia. Seperti ibnu Firnas seorang cendikiawan muslim spanyol, sekaligus pencipta dan perintis penerbangan, manusia pertama yang terbang di langit cordoba dengan sayap ciptaannya, walaupun ciptaanya ini belum sempurna tapi menjadi bahan pelajaran dan kaji bagi ilmuan-ilmuan berikutnya.

Jikalau dibidang ilmu pengetahuan islam memiliki sumbangsi peradaban, maka tentunya tak diragukan lagi dalam ilmu agama islam itu sendiri. Ada ratusan dan mungkin ribuan buku2 turats karya para ulama yang sangat berpengaruh dalam perkembangan islam, contoh yang paling dekat adalah,  4 madzhab yang dipelopori oleh 4 imam yang tak diragukan lagi tsarwah keilmuannya.

dengan ijtihad-ijtihad yang telah mereka tuangkan dalam pemikiran-pemikiran mereka, akhirnya memudahkan kaum muslimin  dalam mengetahui hukum2 islam. Bahkan imam syafi’I menaruh pondasi dalam ilmu ushul fiqhi di kitabnya yang bernama Arrisalah yang kelak sangat membantu para ulama-ulama dalam berijtihad dan mengeluarkan hukum dalam permasalahan-permasalahan ummat yang kian bermunculan dengan bertambahnya zaman.

Tak terlupakan juga jasa para ulama hadits termasuk didalamnya para ulama kutubu sittah ( Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Abu daud, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Annasa’I), dengan hadits-hadits yang mereka kumpulkan dalam buku-buku mereka, terutama kitab shahi Bukhori dan Muslim yang sudah dijamin kesahihannnya, membuat ummat ini mudah dalam menemukan hadits-hadits Rasullahﷺ , juga menghilangkan keraguan dalam mengamalkannya.

Ini hanya segelintir contoh dari pengaruh ulama dan turats mereka dalam perkembangan islam, tentunya masih banyak lagi jasa-jasa mereka yang tak bisa tertuliskan oleh tinta-tinta emas sejarah, bahkan disebutkan bahwa ketika Mongol datang menyerang Kota Baghdad  yang saat itu menjadi icon kejayaan islam, dan membabat habis seluruh kota termasuk buku-buku karangan cendikiawan muslim. sungai yang ada dibaghdad berubah menjadi tinta hitam, yang menunjukkan bahwasanya begitu banyak karangan ulama muslim yang jika sampai ke ummat setelahnya akan memberikan perkembangan untuk agama ini bahkan untuk kemajuan dunia dengan segala perkembangannya.

Terbuktilah bagaimana hebatnya turats kita dan jeniusnya cendikiawan-cendikiawan muslim terdahulu, lantas apakah mereka hanya akan menjadi buah bibir generasi ummat ini atau hanya menjadi cerita yang tertutup rapat dibuku-buku yang kita pun jarang membukanya. Tentunya tidak, warisan yang mereka tinggalkan tidak lain dan tidak bukan untuk dikembangkan dan diteruskan oleh generasi setelahnya, terkhusus generasi pemuda islam yang menjadi tonggak kemajuan ummat.

Wallahu a’lam bishowab

Dzul Fajri
Kairo, Mesir.

Al Qur’an Tekuk Hantu Laut Maldive

Siapa yang tidak kenal dengan Maldive, sebuah negara yang sangat terkenal dengan pula – Pulau indah dan pemandangan yang menyihir para turis yang datang ke negeri yang dataran tingginya paling rendah di dunia, dataran tertinggi di negeri tersebut hanya 2,3 (mdpl) meter di atas permukaan air laut.

Maladewa adalah sebuah negara kepulauan yang terdiri dari kumpulan Pulau – pulau di Samudra Hindia, Maladewa terletak di sebelah selatan-barat daya India, sekitar 700 km sebelah barat daya Sri Lanka, Keadaan ekonomi Maladewa bergantung pada dua sektor utama, yaitu pariwisata dan perikanan.

Negeri di tengah Samudra ini Alhamdulillah pendiduknya 100% muslim, padahal sebelumnya seluruh masyarakat di tempat ini menyembah berhala dan roh nenek moyang, berawal dari kunjungan Seorang Alim Hafizh Quran dari Maroko ke maladewa, negeri ini memang sudah sering dikunjungi oleh para pelaut wa bil khusus pelaut dari negeri Arab atau India, dialah Abul Barakat Yusuf Al Barbary yang datang ke Malawa dalam perjalananya yang pertama kali ke wilayah tersebut.

Abul Barakat berasal dari Suku Amazigh yang berarti manusia merdeka, populasi suku amazigh banyak menyebar di wilayah Afrika Utara seperti Maroko, Al Jazair, Tunisia, Libia, Mauritania, hingga negeri piramid Mesir, banyak tokoh – tokoh muslim hebat dari suku Amazigh seperti Tariq bin Ziyad (Sang penakluk Andalusia), Abbas bin Firnas (manusia terbang pertama dunia), Ibnu Rusyd (sang ulama dan filosof), Ibnu Battutah, Omar Mukhtar dari Libia, Yusuf bin Tasyifin dari Maroko, Abdul Karim Al Khataby dari Maroko, hingga pesebak bola tersohor dunia Zinedine Zidane (Zainuddin Zaidan). Namun orang barat lebih suka menyebut orang – orang Amazigh dengan istilah Barbar.

Kisah Abul Barakat Yusuf Al Barbary ini dilaporkan langsung oleh penjelajah Muslim yang sangat hebat yang konon katanya beliau juga telah menapakkan kakinya di Nusantara ini, siapa lagi kalau bukan Ibnu Battutah, kisah ini disebutkan oleh Ibnu Battutah dalam Kitab Tuhfatu Annazzhar fie gharaib al amshar wa ‘ajaib al asfar (Hadiah Bagi Para Pemerhati Negeri-Negeri Asing dan Pengalaman-Pengalaman Ajaib), kitab ini banyak menceritakan keajaiban dan keunikan yang memang dihadapi oleh penulis selama beliau keliling dunia dalam kurun waktu 30 tahun berpetualang.

Ibnu Battutah menceritakan bahwasanya Abul Barakat Al Barbary datang ke Pulau Maladewa berjalan mengitari Pulau tersebut yang saat itu seluruh penghuninya beragama hindu, hingga beliau melihat seorang wanita tua yang sedang menangis di gubuk reotnya seakan ada kemalangan besar terjadi di sana, Abul Barakat bertanya mencari informasi apa gerangan kesedihan menyelimuti mereka, wanita tua itu menjelaskan masalah mereka namun sayang Abu Barakat tidak faham maksud sang wanita tua itu, hingga di datangkan lah seorang penterjemah yang bisa faham bahasa arab, melalui lisan penterjemah didapat lah informasi bahwasanya di Maladewa ini terjadi ritual aneh sekaligus seram tiap bulannya, yaitu mempersembahkan seorang anak gadis cantik untuk Jin penguasa laut, masyarakat tentunya tidak ada yang bersedia mengorbankan buah hatinya untuk setan jahat itu, namun bila hajat setan itu tidak dipenuhi maka masyarakat yang melaut mencari ikan akan diganggu setan, padahal salah satu mata pencaharian utama masyarakat adalah menjual hasil laut.

Sangat sulit mencari orang tua yang ingin mengorbankan putri cantiknya maka mereka sepakat untuk melakukan undian sebagai solusi, nama yang keluar suka tak suka harus dikorbankan untuk hantu laut demi keamanan dan keselamatan masyarakat banyak, begitulah pemahaman masyarakat maladewa kala itu.

Jin itu akan datang setiap bulannya keluar dari laut, seakan jin itu berada di dalam sampan besar dan dikelilingi cahaya terang, masyarakat apabila telah melihat Jin itu seakan tidak mampu untuk monolak kehendak hasrat jahat sang Jin, bila malam datang putri cantik itu akan diletakkan di dalam gubuk dekat laut dalam kondisi sudah dihias bak penganten, lalu jin akan datang mengambil wanita itu untuk dibunuh dan dicabik – cabik tubuhnya, di pagi hari masyarakat akan datang untuk melihat kondisi tubuh yang telah harcur berantakan itu kemudian mereka bakar sesuai adat hindu yang berlaku di sana.

Wanita tua yang tak berdaya itu menangis tiada henti karena putri satu – satunya itu telah kena undian untuk diberikan kepada Jin laut, Abul Barakat merasa iba mendengar kabar tersebut, tanpa ragu ia menawarkan diri untuk menggantikan putri wanita tua itu agar ia yang dipersembahkan untuk jin laut, tangisan histeris wanita tua itu berhenti seketika, ternyata ada manusia yang berbaik hati menggantikan putri tercintanya.

Begitu matahari menyembunyikan dirinya di sebelah barat malampun tiba dengan menarik tirai gelapnya, sisa – sisa mega merah masih nampak berserakan di ufuk – ufuk, suasana hening pesisir pantai dengan tiupan angin sepoi – sepoi menghiasi malam yang sangat mendebarkan itu, namun hati sudah mantap Abul Barakat jalan perlahan menuju gubuk tempat yang biasanya dijadikan warga sana untuk mempersembahkan tumbal.

Abul Barakat sudah mengambil air wudhu, sepanjang malam itu beliau isi dengan bacaan Al Qur’an, Hantu Laut yang sudah tidak sabar ingin mengambil jatah bulanannya sudah pun lirak – lirik dari jendela gubuk ingin segera meraih sang tumbal, namun hantu laut itu kaget bukan kepalang ternyata sang tumbal sedang membaca Al Qur’an, upaya untuk mendekati sang tumbal pun terus dilakukan namun apa daya kekuatan Al Qur’an dan perlindungan Allah membentengi Abul Barakat dengan sangat kokoh, tiada kuasa meraih tumbal, Hantu Laut itu lari ketakutan dan masuk ke dalam laut kembali.

Pagi hari warga sudah sangat penasaran tak sabar ingin melihat apa kejadian di dalam gubuk itu, pemandangan seram yang rutin mereka saksikan tiap bulannya ialah tubuh manusia yang tidak lagi bernyawa tergeletak dalam kondisi tercabik – cabik hancur berantakan oleh Hantu laut, namun kali ini sang tumbal tampil beda, ia masih hidup dengan senyum lebar lagi menawan menemui warga yang sudah penasaran berat ingin tau bagaimana keadaan sang tumbal, keluar dari gubuk itu dalam keadaan sehat wal afiat tanpa kurang sedikit pun membuat warga sangat keheranan, semua orang terkesima, bingung bercampur kagum bagaimana ia bisa selamat dari keganasan Hantu laut yang selama ini tidak ada yang dapat mengalahkannya, Abul Barakat pun dengan semangat menceritakan peristiwa semalam kepada masyarakat dengan jelas.

Tanpa menunggu lama kejadian ini mendadak viral seantero Maladewa hingga memancing penasaran raja Syanuraza yang menguasai Maladewa kala itu, undangan ke istana raja pun sampai kepada Abu Barakat melalui petugas istana yang isinya sang raja ingin sekali berjumpa dengan Abul Barakat, tidak menolak Abul Barakat langsung digandeng menuju istana raja, tiba di istana rupanya sang raja tak kuasa menahan penasaran bagaimana cara menghadapi Hantu laut yang sudah sekian lama menghantui mereka tiap bulannya, Abul Barakat menjelaskan bahwa yang melindungi dirinya adalah Allah yang menciptakan seluruh makhluq, yang dia baca hanyalah firman Allah yang sangat kuat mukjizatnya yang membuat Hantu laut lari terbirit birit, memanfaatkan kondisi ini Abul Barakat tanpa malu – malu menawarkan Islam kepada sang raja, memberikan motivasi serta menceritakan keindahan – keindahan islam.

Sang raja sangat penasaran dengan kesaktian Abul Barakat, tapi ajakan beliau kepada raja untuk masuk islam belum bisa dipenuhi, namun sang raja memberikan syarat, Abul Barakat harus tinggal di Maladewa minimal satu bulan, bila dalam satu bulan itu dia tidak apa- apa dan hantu Laut itu tidak mampu menyakitinya maka sang raja siap masuk islam, tanpa seujung kuku pun keraguan Abul Barakat deal dengan syarat yang diajukan raja, menunggu hari bulan berjalan beliau isi hari-hari dengan Tilawah Al Qur’an, Alhamdulillah belum sampai sebulan sanga raja sudah pun jatuh hati pada islam, agama yang dipeluk oleh Abul Barakat, ikrar syahadat pun berlangsung disaksikan banyak orang, kemudian seluruh anggota keluarga beliau pun ikut bersyahadat, Abul Barakat memberikan nama baru buat sang raja dengan Muhammad bin Abdillah seperti nama Rasulullah shallahu alaihi wasallam, islam terus menyebar pesat di sana hingga sang raja memerintahkan untuk mengirim utusan kepada masyarakat yang tinggal di pulau – pulau terpencil agar disampaikan islam kepada mereka, wal hasil seluruh Maladewa masuk islam melalui persntaraan syekh Abul Barakat Yusuf Al Barbary.

Sang raja meminta Abul Barakat agar menetap di Maladewa untuk mengajarkan islam kepada mereka, sang raja meminta agar kisah islam sang raja diabadikan pada prasasti dalam bahasa arab, yang kemudian prasasti tersebut dinilai oleh para ilmuwan ukiran prasasti tersebut adalah paling tua di Samudra hindia dengan menggunakan aksara arab.

Sang raja memerintahkan untuk menghancurkan seluruh berhala dan tempat- tempat persembahan tumbal lalu diganti dengan masjid, kemudian didirikanlah masjid dengan nama sang raja, juga masjid Abul Barakat Al Barbary yang hingga hari ini masih ada di ibu kota Maladewa Male, menjadi salah satu destinasi kunjungan turis dari belahan Dunia.

Berterima kasih pada Abul Barakat sang raja membuat aturan bahwasanya sepertiga dari hasil bumi mereka akan diberikan kepada para musafir yang datang ke negeri mereka karena rasa syukur mereka mendapatkan islam dan kebahagiaan melaui tangan para musafir seperti Abul Barakat, mereka sangat menghormati para musafir terlebih dari Maroko tempat asal Abul Barakat, menghormati orang maroko bagi warga Maladewa berlaku hingga hari ini.

Masyarakat Maldive rutin Tilawah Al Quran sehingga hantu laut itu tidak lagi berani mengganggu masyarakat baik di daratan maupun di lautan, semoga Allah menjadikan kita sebagai ummat yang berpegang teguh pada Al Quran, membaca, mentadabburi, mempelajari tafsirnya, mengamalkan serta mendahwahkannya.

Hindari Pakaian Syuhrah

Mengenakan pakaian dan menutup aurat merupakan salah satu aturan syariat islam, yang apabila kita laksanakan akan mendapat pahala, meninggalkannya (tidak menutup aurat) akan berdosa, aturan syariat berupa menutup tubuh dengan pakaian adalah salah satu kemuliaan islam, yang telah mengatur tata cara berpakaian demi kebahagiaan ummatnya.

Pada zaman dahulu orang yang paling baik pakaiannya yang bermaksud paling menutup anggota badannya (auratnya) dikenal sebagai kaum bangsawan, paling maju cara berfikirnya, cendikia, dan paling dihormati di tengah masyarakatnya.

Sehingga kelihatan kontras dengan mereka yang tidak berpendidikan, bahkan sering kali ada dugaan mereka yang tidak sempurna dalam berpakaian adalah kaum budak, para budak yang dijual belikan di pasar, budak sering kali terlihat tidak berpakaian dengan baik, baik laki – laki maupun perempuan, para budak ini kemudian disuruh oleh tuannya untuk berkerja, membantu bahkan bernyanyi dengan pakaian seadanya.

Sedangkan yang menonton mereka bernyanyi adalah para saudagar, warga istana, raja, bagsawan, dan lain – lain, tuan putri dan istri – istri raja dan istri menteri berpakaian sangat sempurna, bahkan sering kali rok tuan putri atau ratu harus diangkat oleh para pelayan saat mereka berjalan, yang menunjukkan pakaian sempurna adalah pakain para ratu, saudagar, bangsawan dan kaum cendikia, sedangkan pada zaman itu pakaian minim adalah pakaian mereka dari masyarakat kelas bawah, terbelakang atau budak hamba sahaya. pakaian ratu, permaisuri, istri bangsawan seperti ini bukanlah dari satu negeri saja, namun seluruh negeri dari Arab, cina, india, eropa, amerika semua mereka berpakaian sempurna, karena itu adalah identitas mereka sebagai kaum terhormat.

Gaya berpakaian sempurna bak ratu dan istri bagsawan sering kali ditiru oleh mereka yang ingin menjadi ratu sehari dalam upacara pernikahan mereka, sehingga mempelai wanita dihias dan diberikan pakaian layaknya seorang ratu, roknya yang pajang hingga terseret – seret bila mereka berjalan, tak mau kalah dengan para ratu mempelai wanita juga minta tolong pada pengawal penganten untuk mengangkat ujung rok mereka agar mirip dengan pakaian para ratu, karena penganten pasti ingin dihias bak raja dan ratu walau hanya sehari saja.

Namun islam telah menganjurkan bagi penganutnya untuk berpakaian sempurna sejak awal matahari islam terbit di Makkah, pakaian yang bersih dan sempurna bukan pakain kaum terbelakang yang tidak mengerti cara berpakaian atau budak, lihat firman Allah dalam surat Al Muzammil yang dikatakan oleh para ulama adalah termasuk di antara ayat yang pertama – tama kali turun.

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
dan pakaianmu bersihkanlah (QS Al Muddatsir:4).

Ibnu Jarir Ath thabary berkata: ayat ini turun setelah proses turun wahyu pertama kali di gua hira, takut dengan peristiwa yang terjadi di gua hira itu beliau shallahu alaihi wasallam langsung pulang ke rumahnya dalam kondisi menggigil karena ketakutan, meminta sang istri untuk menyelimuti beliau, dalam kondisi seperti itu Allah turunkan ayat di atas, yang menjelaskan bahwa pentingnya menjaga pakaian dan kebersihannya.

Ayat di atas sekaligus memberikan isyarat bahwasanya pakaian di dalam islam sangatlah penting serta mendapat perhatian yang besar, setelah ayat pertama yang memerintahkan untuk membaca guna mendapatkan ilmu lalu setelah itu langsung turun ayat yang memerintahkan untuk berpakaian yang bersih, ini jelas – jelas perhatian yang sangat besar dari syariat soal pakaian, bahkan di dalam ayat yang lain Allah berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ

 “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31) yakni setiap kali shalat.

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (QS Al A’raf: 26).

Pakaian adalah perhiasan hidup manusia, dengan pakaian itu manusia akan tampak indah, rapi, menawan sehingga penampilan semakin mantap, islampun menganjurkan hal tersebut, hanya saja saat membelinya harus menghindari tabdzir (boros/berlebihan), dan saat mengenakannya harus berhias dengan sifat tawadhu’ serta menghindari sifat angkuh dan sombong.

وفي حديث عن معاذ بن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا»[[15]- (رواه الترمذي: [2405] – [9/21]، وحسّنه الألباني برقم: [6145] في صحيح الجامع).

“Dari Mua’adz bin Anas Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi shallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang meninggalkan (menjauhkan diri dari) suatu pakaian (yang mewah) dalam rangka tawadhu’ (rendah hati) karena Allah, padahal dia mampu (untuk membelinya / memakainya), maka pada hari kiamat nanti Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluq, lalu dia dipersilahkan untuk memilih perhiasan / pakaian (yang diberikan kepada) orang beriman, yang mana saja yang ingin dia pakai” (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Shahih Al-Shahih).

Hadits ini memberikan bimbingan kepada kita agar sederhana dalam berpakaian dan penampilan meskipun kita mampu untuk membeli pakaian yang mewah dengan harga yang tinggi, imbalannya ialah Allah akan memberikan hadiah istimewa pada mereka di hari kiamat, hadiah tersebut diberikan oleh Allah di hadapan seluruh makhluq, bukan sembarang pakaian namun pekaian Iman, sebagai bukti bahwa iman kita benar.

Hal yang harus dihindari pula dalam berpakaian ialah pakaian syuhrah, pakaian popularitas, pakaian yang dikenal orang sebagai pakaian mewah yang berbeda dengan pakaian umum yang dipakai kebanyakan orang, sehingga akan menarik perhatian orang, orang yang melihat pakaian tersebut akan terpukau, si pemakai pakaian tersebut pun akan merasa bangga diri, sombong dan takabbur.

Ibnu Al Atsir berkata: Maksud dari kata syuhrah ialah ‘tampak’ bermakna pakaian tersebut tampak populer di tangah manusia karena corak dan warnanya berbeda dengan yang umumnya dipakai orang, sehingga orang – orang kagum melihatnya, yang menggunakan pakaian akan merasa ujub (bangga diri) dan (takabbur) sombong.

Hadits – hadits Nabi shallahu alaihi wasallam tentang hal ini sangat banyak, kami akan sebutkan sebahagian di antaranya sebagai berikut:

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِي الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa memakai baju (untuk) kemasyhuran (syuhrah) di dunia, kelak di hari kiamat Allah Subhanahu wata’ala akan memakaikan kepadanya baju kehinaan, kemudian Allah Subhanahu wata’ala mengobarkan api di dalamnya.” (HR. Ibnu Majah no. 3606—3607 dan ini adalah lafadz beliau, Abu Dawud no. 4029, dengan sanad yang tsiqah seperti yang disebutkan oleh Imam Syaukani dalam kitab Nailul Authar.

وعن أبي ذر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” ما من عبد لبس ثوب شهرة إلا أعرض الله عنه حتى ينزعه، وإن كان عنده حبيباً “. قال الحافظ العراقي في تخريج الإحياء: رواه ابن ماجه من حديث أبي ذر بإسناد جيد .

Dari Abu Dzar radhiyallahu anhu, dari Nabi shallahu alaihi wasallam bersabda:
Tidaklah seorang hamba yang memakai pakaian syuhrah kecuali Allah akan berpaling dari manusia tersebut hingga ia melapaskannya (HR Ibnu Majah, Al Hafizh Al Iraqy dalam takhrij hadits al ihya’ berkata: sanad hadits ini Jayyid (baik).

Al-Imam asy- Syaukani rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan haramnya memakai pakaian kemasyhuran (syuhrah). Namun, hadits ini tidak hanya berlaku untuk pakaian yang mewah. Bisa jadi terjadi pada seseorang yang memakai pakaian orang fakir yang berbeda dengan umumnya pakaian orang, supaya dipandang oleh orang lain sehingga takjub dengan pakaiannya dan meyakini (kezuhudan)nya. Demikian yang dijelaskan oleh Ibnu Ruslan rahimahullah.”.

Apabila memakai pakaian tersebut bertujuan agar terkenal (masyhur) di tengah-tengah masyarakat, tidak ada perbedaan antara pakaian mewah dan pakaian jelek, baik pakaiannya sama dengan pakaian masyarakat secara umum maupun pakaian yang berbeda dengan mereka. Sebab, keharaman tersebut bertumpu pada niat kemasyhuran. Yang dianggap ialah maksud (niat) nya walaupun tidak sama dengan kenyataannya.” (Kitab Nailul Authar 2/111).

Maka sudah semestinya bagi seorang Muslim untuk berpakaian yang sesuai dengan sunnah Nabi shallahu alaihi wasallam, beliau sederhana dalam berpakaian, tawadhu dalam penampilan jauh dari kesombongan, sehingga beliau shallahu alaihi wasallam bersabda:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «كُلُوا وَاشْرَبُوا، وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا، فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ»؛

“ Makanlah kalian, dan minumlah kalian, dan berpakaianlah kalian, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan tidak sombong.” (HR Ahmad, Nasai, Ibnu Majah, Hakim, Imam Suyuthi berkata hadits ini shahih).

Pakaian adalah perhiasan, memakainya adalah melaksanakan syariat, hindari tabdzir, syuhrah, sombong dll.

Halal dan Haram Adalah Bentuk Kasih Sayang Allah Kepada Manusia

Halal dan haram adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada manusia dan lingkungan, Rabb yang Maha Tahu itu memberikan informasi kesehatan kepada manusia di dalam kitab Al Quran atau melaui lisan Nabi shallahu alaihi wasallam di dalam Sunnah agar mereka dapat hidup dengan baik, sehat, cerdas, sehat fisik, ruh dan akalnya, Allah ta’ala tidak rela membiarkan manusia hidup di dalam keburukan apalagi harus menderita karena salah dalam pola makan dan hidup, bentuk kasih sayang seperti ini adalah bentuk kasih sayang yang sangat besar.

Betapa manusia yang hidup dalam keadaan sangat minim fasilitas Kesehatan di gurun sahara 14 abad yang lalu, buta huruf, berpindah -pindah bahkan lingkungan yang bercuaca extrim sekalipun mereka mampu bertahan hidup dan bahkan mereka diberikan usia yang cukup panjang, keberkahan dalam mengikuti ajaran islam dalam kehidupan termasuk dalam masalah konsumsi adalah hal yang sangat penting bagi manusia.

Allah SWT berfirman :

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا  وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

Artinya “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”(QS. Al- Maidah ayat 88).

Ini adalah perintah Allah kepada manusia agar mereka mencari dan mengkonsumsi makan halal dan sehat, karena dampak dari makanan yang dikonsumsi manusia akan berdampak pada kesihatan mereka.

Mungkin kita bertanya kalau Allah memerintahkan kita untuk makan makanan yang halal mengapa ada makanan yang haram?!

Allah ingin menguji manusia, Allah telah menciptakan jutaan makanan halal dan sangat bermanfaat bagi tubuh manusia, namun dengan nikmat makanan halal yang sangat banyak ini adakah manusia masih berusaha mencari yang haram yang sudah pasti berbahaya dan merusak tubuh manusia itu sendiri, bila manusia menggunakan akalnya maka ia akan menjahui makanan haram tersebut.

Allah adalah Maha Tahu sehingga seluruh syariatNya pasti bermanfaat bagi manusia dan seluruh larangannya pastilah berbahaya bagi kehidupan manusia, sudah menjadi kewajiban bagi manusia untuk patuh dan tundak terhadap aturan tuhannya untuk kebaikan manusia itu sendiri.

Sahabat sekaligus paman Nabi Shallahu alaihi wasallam ketika hijrah ke Ethiopia bersama 70 sahabat lainnya bertemu dengan raja Najasyi yang terkenal dengan raja Nasrani yang adil dan membela orang -orang yang terzalimi, ketika sang raja bertanya kepada sahabat Ja’far apa yang diajarkan Nabi mu kepada manusia? Beliau menjawab : ia mengajarkan manusia untuk makan makanan halal dan meninggalkan bangkai, mengajari kami untuk saling meolong, tidak menindas yang lemah dll, informasi yang di dapatkan raja Najasyi tersebut membuat beliau memeluk islam.

Berikut ini kami sebutkan beberapa kaedah (rumus) makanan haram sesuai dengan ayat – ayat Al Quran dan Sunnah Nabi shallahu alaihi wasallam.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ

Artinya
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.”(QS Al Maidah:3).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berhal-berhala, panah-panah (yang digunakan mengundi nasib) adalah kekejian yang termasuk perbuatan setan.maka, jauhilah ia agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al Maidah:90).

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut nama selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang.”(QS Al Baqarah:173).

Akan tetapi Islam memberikan pengecualian terhadap 2 bangkai, yaitu ikan dan belalang, dimana bangkai dari kedua hewan tersebut adalah halal hukumnya. Hal ini sesuai dengan Sabda Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam :

أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ

Artinya “Kami dihalalkan dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati dan limpa.” (HR. Ibnu Majah).

Di antara makanan yang diharamkan ialah hewan yang disembelih bukan atas nama Allah, namun ia disembelih untuk sajen, pesugihan, permintaan setan untuk tumbal dan sebagainya itu juga haram dimakan:

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ  وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ  وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

Artinya
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.  Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (QS. Al- An’am : 121).

Rasulullah shallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda :

نَهَى رسولُ اللهِ عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِّنَ السِّباعِ وعَنْ كُلِّ ذِيْ مِخْلَبٍ مِّنَ الطَّيْرِ

Artinya “Rasulullah shallahu alaihi wasallam telah melarang memakan setiap binatang bertaring dari jenis binatang buas dan setiap jenis burung yang berkuku tajam (untuk mencengkram).” (HR. Muslim).

Bila manusia mengikuti ajaran Al Qur’an dan Sunnah dalam kehidupan maka manusia akan hidup sehat dan bahagia, kelihatannya Allah ingin memperlihatkan mukjizat Al Qur’an dan Sunnah sepanjang masa sehingga setiap saat ada saja bagian dari mukjizat itu yang muncul, seperti mukjizat Al Qur’an yang melarang manusia makan daging babi, hewan buas, hewan bertaring dll, virus corona yang sedang heboh itu dicurigai penyebabnya adalah hewan yang diharamkan untuk dikonsumsi seperti kelelawar, babi dll, belakangan muncul lagi masalah virus babi yang cukup menghebohkan Sumatra Utara sehingga peternak babi meskipun telah melakukan vaksin rutin di kandang babi untuk membunuh virus namun tidak berhasil, efeknya mereka harus memusnahkan ratusan babi lalu membuang bangkainya di sungai. Ini adalah salah satu efek buruk bagi mereka yang melanggar aturan syariat, perbuatan itu berbahaya bukan hanya untuk diri mereka bahkan lingkungan.

Alhamdulillah makanan dan daging halal sekarang menjadi buruan jutaan manusia di berbagai tempat beberapa hari lalu disiatkan di medsos bahwa di Singapura orang rela antri panjang sekedar untuk bisa berbelanja makanan halal di Mustafa Center, mall yang buka 24 jam itu kebanjiran pengunjung, begitu juga di negeri-negeri lainnya.

Ternyata di dalam islam itu hidup sehat murah dan simple sekali, tidak perlu pakai alat – alat canggih, biaya mahal, cukup makan dan minum sesuai aturan syariat maka in syaa Allah manusia akan sehat wal afiat, kasih sayang Allah seperti ini tidak terhingga besarnya kepada makhluq ciptaanNya.

Mudah – mudahan Allah ta’ala memberikan kepada kita keteguhan dan keinginan kuat untuk mengamalkan syariat karena di sana lah kebahagiaan dan keselamatan baik dunia maupun akhirat.

Saat Setan Berpidato

Pidato adalah salah satu cara untuk menyampaikan buah pikiran, himbauan, ancaman, kecemasan hingga pembelaan diri, pidato dinilai sangat efektiv bila disampaikan untuk mendapatkan tujuan – tujuan tertentu yang dinginkan karena para hadirin biasanya sudah siap untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan.

Pidato sering dipakai orang untuk tujuan – tujuan yang ingin dicapainya baik itu tujuan yang baik maupun tujuan yang tidak baik, ternyata setan laknatullah alaihim juga punya kemampuan pidato yang cukup hebat, menurut Imam Al Qurthuby dalam tafsirnya setan naik mimbar di dalam neraka menyampaikan pembelaan dirinya karena semua manusia di neraka menyalahkan setan, akibatnya setan merasa sumpek dan resah, tanpa fikir panjang ia pun naik minbar untuk menyampaikan pembelaan untuk dirinya sendiri, kepanikan setan bukan tak beralasan, ia sudah babak belur diazab di neraka jahannam ditambah lagi semua manusia di neraka mencela dan mencaci maki setan setiap waktu, sehingga penderitaan setan di neraka berlipat lipat rasa sakitnya.

Setan ingin menyudahi cacian dan makian ini semuanya, ingin berlepas diri dari amukan masa di neraka, kejadian yang unik ini dikisahkan oleh Allah ta’ala dalam Al Qur’an, firman Allah:

((وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدتُّكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُم مِّن سُلْطَانٍ إِلاَّ أَن دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلاَ تَلُومُونِي وَلُومُواْ أَنفُسَكُم مَّا أَنَاْ بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ)) سورة ابراهيم آيه (22).

Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih (QS Ibrahim: 22).

Ayat ini secara jelas menceritakan bagaimana ahli maksiat sepakat seiya sekakata untuk komplain kepada setan, pasalnya mereka beranggapan mereka bisa jatuh ke dalam lumpur maksiat penyembabnya tidak lain adalah gangguan setan, setan harus bertanggung jawab kepada mereka, karena setan mereka jadi masuk neraka.

Tidak terima sedikitpun dengan segala tuduhan itu, setan membela diri dalam pidatonya di dalam neraka yang suaranya bisa didengar oleh semua orang di neraka, bila kita buat ringkasan atas pembelaan setan untuk dirinya sendiri itu dapat kita sederhanakan sebagai berikut:

1. Allah telah berjanji kepada kalian untuk mereka yang berbuat kebajikan di dalam kitab yang telah diturunkan melalui para Nabi namun kalian lebih percaya dengan janji – jaji palsuku.
2. Aku hanya mengajak kalian, lalu kalian mau dan menenuhi ajakan ku itu, padahal aku tidak punya kekuasaan memaksa kalian untuk menuruti apa mauku.
3. Karena maksiat yang kalian lakukan adalah keinginan kalian sendiri maka jangan sekali – kali kalian mencela aku, tapi cacilah diri kalian sendiri.
4. Kalian melakukan kesyirikan dan kekufuran sesuai dengan kehendak kalian sendiri, padahal aku sendiri mengingkari kekufuran yang kalian lakukan karena aku percaya Allah sebagai tuhan yang menciptakan.
5. Aku tidak bisa menyelamatkan kalian dari azab Allah oleh sebab itu selamatkanlah diri kalian sendiri, aku tidak peduli dengan kalian.

Di dalam Al Qur’an banyak sekali ayat – ayat yang mengingatkan manusia agar tidak terbuai oleh bujuk rayu setan untuk berbuat maksiat dan kezaliman, setan sering mempercantik kemaksiatan, sehingga perbuatan buruk menjadi bagus dan baik – baik saja dalam pandangan manusia, padahal ia mendatangkan kemurkaan Allah taala.

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ ۖ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka (QS Annisa:120).

Allah memberikan peringatan kepada manusia bahwasanya setan adalah musuh yang harus diwaspadai.

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (QS Fathir: 6).

Allah ta’ala juga mengingatkan bahwasanya setan bukan hanya musuh manusia tapi ia juga musuh para Nabi dan Rasul.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ (112) الأنعام.

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS Al An’am:112).

Semoga Allah menjaga kita dari tipu daya setan, karena tanpa karunia, lindungan dan penjagaan Allah manusia tidak bisa berbuat apa – apa.

Lihat firman Allah ta’ala:

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, pastilah kamu mengikuti syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). ( QS Annisa:83).

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?”       (Q.S. Fushilat : 33)

Mailing form

    Kontak Kami

    Jl. Kranggan Wetan No.11, RT.1/RW.5, Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bks, Jawa Barat 17434

    0852-1510-0250

    info@tanmia.or.id